Vēnor [Prologue] by Heena Park

VENOR

a FanFiction by Heena Park

.

x Han Leia

x Alexander Maximilian de Frankai [Kim Jongin]

x Lee Taeyong

x Richard Tyroon Alcender [Park Chanyeol]

x Stephen Davon Alardo [Oh Sehun]

x etc

.

FantasyRomance // PG-15 // Chaptered

.

Summary; 

Alexander Maximilian de Frankai, seorang Dewa Laut—putra Poseidon—diusir dari Olympus ke Bumi karena dituduh berusaha membunuh putra Zeus, Stephen Davon Alardo sang Dewa Petir dan Cuaca.

Untuk bisa kembali ke Olympus, Alexander harus menemukan keberadaan El Dorado, lalu mengambil sebuah pedang emas milik Kronos dan mendapatkan sesuatu yang paling murni di dunia. Di mana pada akhirnya hal ini mampu menunjukkan takdir dan siapa dia sebenarnya.

.

ps : Nanti mereka bakal tetep make nama Kim Jongin, Park Chanyeol, dll kalau sudah di bumi. Kalau sebagai Dewa mereka tetap menggunakan nama Dewa masing-masing.

.

 

 

“Alexander, berhenti!”

Alexander memutar tubuhnya ke belakang, Richard masih mengejarnya bahkan sampai mereka berada di bumi. Ia berhenti di atas laut, kedua lengannya masih menumpu tubuh gadis itu. Ellena, satu-satunya gadis yang selama ini dicintai Alexander.

“Kembalilah ke neraka! Apa yang kau harapkan? Aku akan membawa tubuh Ellena ke Olympus!” elak Alexander.

Ia marah! Tentu saja, siapa yang rela jika kekasihnya mati? Begitupula Alexander. Ia sangat kecewa pada keputusan Zeus yang menetapkan Ellena sebagai tersangka atas kekacauan yang terjadi di Olympus dan berakhir dengan mengakhiri hidup gadis itu.

“Apa kau sudah gila? Zeus akan membunuhmu jika kau bersikeras membawa tubuh Ellena ke Olympus!” Richard berhenti sebentar. Tangannya mengepal. “Alexander, bagi Zeus, Ellena adalah seorang pengkhianat. Jika kau membawa tubuhnya kembali, bukan hanya kau yang akan dihukum, tetapi juga Poseidon, ayahmu!”

Alexander terdiam sejenak, terjadi pergelakkan batin dalam dirinya. Ia tidak ingin menyelakai Poseidon dan mati dibunuh Zeus, tapi Ellena… ia tidak bisa menerima keputusan Zeus yang dirasa hanya sepihak dengan menjadikan Ellena sebagai tersangka.

“Aphrodite pasti sedih melihatmu seperti ini, dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk merelakan Ellena…”

Lagi-lagi ucapan Richard benar adanya. Alexander tidak bisa bersikap egois, membawa tubuh kaku Ellena ke Olympus hanya akan menimbulkan masalah. Ia terlalu dikuasai amarah dan kesedihan.

Lelaki itu menutup kedua matanya selama beberapa detik sebelum akhirnya memandang tubuh kaku dalam gendongannya. Tubuh Ellena yang sudah tak bernyawa, seorang Dewi Cinta yang berhasil merebut hatinya, seorang wanita yang selama lebih dari dua ratus tahun bersamanya.

“Apa aku benar-benar harus merelakanmu?”

Alexander terus memandang wajah pucat Ellena, hatinya sakit, sangat sakit. Terlalu menyakitkan untuk dijelaskan sampai-sampai Alexander tak tahu bagaimana caranya untuk melanjutkan hidup.

Ia mengela napas panjang, tanpa mengangkat kepala, Alexander kembali berucap, “Bakar tubuhnya di sini. Aku akan menebarkan abunya di laut agar selalu bisa mengenangnya.” Suaranya mengecil, “Agar aku bisa mengingat bahwa dia bersamaku sampai akhir hidupnya.”

Richard mengangguk perlahan, hanya ini yang bisa dia lakukan untuk Alexander. Lelaki itu mengangkat tangannya dan mengeluarkan api dari telapaknya, kemudian membakar tubuh Ellena hingga menjadi abu.

Namun, bukannya abu hitam yang mereka dapatkan, melainkan abu perak. Dalam kepercayaan mereka, abu perak berarti orang yang baik. Saat menyadari hal itu Alexander tak bisa menahan diri, tangisannya pecah. Dari awal ia tahu jika Ellena tidak bersalah! Andai saja Zeus melihat ini, andai saja dia tahu jika abu Ellena bewarna putih.

“Itu… abu perak?” gumam Richard tanpa sadar.

Ia tidak bisa membiarkan kebohongan terus terjadi. Alexander mengikat abu Ellena menjadi tiga butir mutiara dan akan membawanya ke Olympus untuk ditunjukkan pada Zeus. Ia juga bertekad untuk menemukan siapa pelaku sebenarnya di balik kejadian yang hampir menyelakai penghuni Olympus tempo hari.

Setelah menggenggam ketiga mutiara perak dari abu Ellena dalam tangannya, emosi Alexander kembali memuncak. Amarah akan ketidakadilan yang dilakukan Zeus membuat kekuatannya keluar begitu saja.

Ombak menggumpal, laut beriak tak tenang, kapal terombang-ambing di atas air tanpa tahu harus bagaimana. Badai besar tiba-tiba datang di seluruh laut Asia. Tubuh Alexander dikelilingi ombak, matanya menyala, tangannya mengepal.

“Aku akan membunuh siapapun yang menjebak Ellena!” teriaknya kencang yang disusul oleh gumpalan ombak menghantam pesisir pantai.

Richard tidak bisa membiarkan ini terus berlangsung. Emosi Alexander bisa menghancurkan seluruh permukaan bumi, mengingat lebih dari setengah bagian bumi adalah perairan.

“Alexander, kontrol emosimu! Kau bisa menghancurkan bumi!”

Bukannya reda, Alexander malah melebarkan kedua tangannya, pancaran sinar yang keluar dari matanya semakin terang, menandakan emosinya yang semakin memuncak. Badai terus mengulum, bersamaan dengan tangan Alexander yang bergerak ke atas.

“Alexan—“

“Ibu!”

Tiba-tiba teriakan seorang anak kecil menembus telinga Alexander. Bukan, ia bukannya sensitif pada suara anak itu, melainkan kata ‘ibu’ yang disebutkan.

Lantas Alexander menghentikan gerakannya, matanya menelusuk ke seluruh bagian laut, telinganya berusaha kembali mencari suara tadi, sampai akhirnya suara anak itu kembali terdengar.

Tanpa mengulur banyak waktu, Alexander segera menenggelamkan diri dalam lautan dan mencari titik suara tadi, ia meninggalkan Richard yang masih berada di belakang sana.

Dari bawah, nampak seorang gadis kecil dan wanita berusia tiga puluhan terombang-ambing oleh ombak. Kelihatannya mereka adalah sepasang ibu dan anak, di mana sang ibu berusaha menyelamatkan anaknya yang tenggelam, namun keduanya malah terperangkap besarnya ombak yang diciptakan Alexander.

Tidak lama kemudian, kedua orang tersebut berhenti bergerak dan tenggelam dalam lautan. Alexander tidak tinggal diam, ia membawa kedua orang itu ke pesisir pantai. Kebetulan badai yang ia ciptakan membuat orang-orang meninggalkan pantai, sehingga ia bisa aman menapakkan diri di bumi.

Alexander bergeming selama beberapa saat sembari memandang dua tubuh lemas di hadapannya.

“Apa yang telah kulakukan?” tanyanya pada diri sendiri.

Ia menempelkan jari telunjuk dan tengahnya di leher wanita yang lebih tua, berusaha mencari tahu apakah nadinya masih berdenyut, namun nihil, seperti yang ditebak, wanita itu sudah tewas bahkan sejak mereka terombang-ambing di laut.

Kenyataan berbeda didapatkan Alexander ketika memeriksa denyut nadi gadis kecil di sampingnya. Meskipun begitu lirih, tapi ia bisa merasakan masih adanya kehidupan di sana. Seandainya tadi Alexander telat beberapa detik saja membawa gadis itu ke permukaan, mungkin ia sudah tewas sekarang.

Meskipun nadinya masih berdenyut, bukan tidak mungkin keadaan gadis itu makin melemah. Hal ini pula lah yang akhirnya membuat Alexander berpikir haruskah ia menyelamatkan hidup gadis itu atau membiarkannya seperti ini saja?

Tapi bukankah kematian ibu gadis itu adalah kesalahannya?

Ia tak boleh mengulangi kesalahan yang sama. Dibukanya kepalan tangan kiri yang menggenggam tiga butir mutiara dari abu Ellena lalu menaruh salah satu mutiara di atas dada gadis kecil itu. Sebuah mutiara perak dari hasil abu seorang Dewa maupun Dewi bisa memberikan kekuatan bagi makhluk lain.

Tidak lama kemudian, mutiara tersebut masuk ke tubuh sang gadis, bersamaan dengan itu, Alexander bisa merasakan semakin menguatnya denyut nadi gadis kecil di depannya. Ia tersenyum simpul, setidaknya Alexander berhasil menyelamatkan salah satu dari mereka.

Detik berlalu, perlahan gadis kecil itu membuka matanya. Alexander belum beranjak, ia hanya ingin memastikan bahwa gadis itu benar-benar selamat. Sontak, setelah melihat gadis itu membuka mata, Alexander kembali menarik kedua ujung bibirnya.

Ia berhasil!

Gadis itu selamat!

“Aku senang berhasil menyelamatkanmu, gadis kecil,” ujar Alexander tanpa bisa ditahan.

Namun gadis kecil di depannya tidak membalas, ia sepertinya kebingungan pada apa yang barusan terjadi dan Alexander pun tidak berniat menjelaskan.

Tugasnya sudah selesai sekarang. Sebelum orang-orang kembali ke pantai dan melihat keberadaannya, Alexander harus segera pergi. Ia harus mencari Richard dan kembali ke Olympus.

Ia bangkit, kemudian kembali berucap pada gadis kecil itu, “Jaga mutiara dalam dirimu baik-baik, gadis kecil. Aku pergi dulu,” gumamnya lalu berbalik dan menghilang.

15 tanggapan untuk “Vēnor [Prologue] by Heena Park”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s