[EXOFFI FREELANCE] Young Alan (Chapter 2)

YA'

Young Alan Sehun (EXO), Kim Laura (OC), Kris, Kai (EXO), Krystal (Fx) Romance, Sad, Drama, Knowledge PG Chapter By : Devboomer

Discalimer : Mohon tinggalkan jejak J

“Every creature needs love. You doesn’t have to find a great love. But find a great one.”

 header YA

Suara gesekan dari penghapus itu terdengar untuk yang terakhir kalinya ketika Prof. York sampai di papantulis ketiga. Kemudian ia membalikkan badan dan meraih sebuah buku di mejanya. Larik mata yang berada di balik kacamata itu bergulir mengikuti beberapa angka yang ada di sana. Ia memilih-milih mana yang sebaiknya ia berikan kepada mereka.

“…yang mendapatkan nilai A adalah 10 orang dari mahsiswa tahun ke 1, 8 orang dari mahasiswa tahun ke 2 dan 5 orang mahasiswa tahun ke 3. Bila seorang mahasiswa dipilih secara acak ,berapakah peluang dia untuk mendapatkan nilai A?”

Pertanyaannya berhenti sampai disana. Mereka yang sudah mendengar apa yang Prof. York katakan sudah mengisi kertas mereka dengan rumus-rumus Teorema Bayes. Ada beberapa dari mereka yang mengerti dan mencoba menyelesaikan, ada juga yang tak mengerti tapi masih mencoba. Ada juga seorang laki-laki di barisan ketiga yang diam saja. Pikirannya sedang tak ada pada tempatnya dan melayang-layang masih ke suatu potongan kejadian tadi pagi.

Sehun, nama laki-laki yang sedang melamun itu. Ia bukan tak mengerti apa yang disampaikan oleh wanita yang rambutnya sudah memutih itu, hanya saja otaknya masih membeku di suatu tempat dan belum bisa ia cairkan. Pandangannya itu bergerak ke sekitar, melihat lusinan mahasiswa yang sudah lama menggoreskan tinta mereka ke atas lembar kerja. Jelas sekali Sehun hadir dan nyata ada di kelas itu. Tapi pikirannya itu mengarah ke sesuatu yang membuat dirinya gusar, dan itu semua adalah yang Prof. Donovan katakan di gereja.

“Tidak ada yang mau menjawab?”

“23 per 75 Profesor York. Jawabannya 23 per 75.” Laki-laki yang ada di satu tingkat meja di atas Sehun itu mengangkat tangan dan menjadi yang pertama menuntaskan soal tersebut. Mungkin memang sudah menjadi adat dan tradisi di kelas Prof. York. Kalau seandainya Sehun tak bisa menjawab atau kalah cepat, makan laki-laki satu itu yang akan menggantikannya.

“Tepat sekali, Kris. Aku kira Sehun yang akan merebut jawaban itu lebih dahulu. Ya, kelas sudah berakhir, jangan lupa masing-masing mengumpulkan artikel yang kemarin ke meja. Kris, tolong bawakan artikel itu ke ruanganku.”

Hanya kalimat pertana ‘bubar’ itu yang Sehun hiraukan. Sehun akhirnya membuat pergerakkan dan menyusun barang-barangnya kedalam tas. Kemudian ia bangkit dari kursinya dan menuruni anak tangga dengan tempo yang lambat. Ia melihat ada tumpukan artikel di meja dosen dan mengikut sertakan artikelnya. Tak lama laki-laki yang berhasil menjawab pertanyaan tadi ikut menumpukan artikelnya. Laki-laki itu melihat ke arah tas Sehun, dan melihat ada gulungan kertas yang bagian atasnya tidak dapat masuk ke dalam tas.

“Jadi gulungan itu tidak hilang? Padahal aku sudah sengaja tidak membawa pulang gulunganmu. Apa kau temukan tadi pagi? Atau kau kembali lagi tadi malam?”

Tak ada kalimat balasan yang ia dengar dari lawan bicaranya itu. Yang ia lihat hanyalah wajah kakunya yang terlihat kusut hari ini. Wajah yang terpampang jelas selama kelas berlangsung. “Ohh, pasti tentang proyek itu kan? Sudah aku bilang orang payah sepertimu tidak akan berhasil. Aku heran kenapa Profesor Donovan tidak langsung memilihku saja? Apa kau sudah menyogoknya? Dasar gagap.”

Tangannya yang panjang langsung membopong tumpukan artikel yang sudah terkumpul di atas meja. Kali ini ada yang berbeda dari hari-hari biasanya. Kebiasaan Sehun untuk tidak menghiraukan dan meninggalkan Kris di tengah percakapannya itu tidak terjadi kali ini. Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Yang kali ini lebih dulu meninggalkan ruangan adalah laki-laki yang membopong artikel itu. “Jangan kira karena kau pintar maka kau akan dianggap spesial, Sehun.”

Kemudian Sehun yang tersisa sendirian di kelas itu mulai beranjak dari sana. Dari koridor ia berjalan perlahan menuju pelataran College. Di sana, yang larik matanya dapatkan adalah hamparan rumput hijau dengan beberapa jalur aspal sebagai tempat untuk menapak. Kakinya lanjut berjalan di pelataran tersebut dengan larik matanya yang masih memerhatikan sekitar. Dan tanpa sengaja, ia melihat sesuatu dari ujung matanya. Sesuatu yang membuat ja teringat kalau ternyata ia punya janji di sore ini. Sesorang itu sedang duduk di bangku taman dengan earphone yang menggantung di telinganya.

“Sejak kapan kau di sini?.” Sehun datang mendekati gadis itu dengan tangannya yang menarik earphone di telinga gadis itu. Jelas gadis yang sedang hanyut dalam dunianya itu tersentak ketika satu telinganya mendengar hal yang berbeda dengan telinga yang satunya.

“Astaga! Kau itu tiba-tiba saja datang seperti itu.”

“Apa kau sudah lama di sini?”

“Yaa, sepertinya. Sebentar biar aku lihat dulu. Oh, sekitar hampir 2 jam.”

“2 jam? K-kenapa menunggu selama itu?”

“Karena kau tidak bilang aku harus datang jam berapa. Kau hanya bilang kita bertemu nanti sore. Lain kali, jangan membuat wanita menunggu selama itu. Itu bukan sesuatu yang wanita suka.”

“Ya, baiklah. Sekarang ikut aku.”

Starbucks

Cafe?

Mereka sampai di suatu tempat yang didominasi oleh warna coklat. Mulai dari tembok eksterior dan frame jendela yang menyuguhkan bagian dalam interior juga berwarna coklat. Ruangannya tak seberapa luas, tapi sangat nyaman bagi mereka yang ingin meregang sehabis sehari suntuk bertugas. Kemudian mereka masuk ke dalam dan mulai menunggu di antrean yang cukup panjang. Saat mengantre, gadis itu bisa menghirup wangi khas dari biji kopi yang baru dihancurkan. Tak ada gambaran lain selain gambaran kebun dengan wangi tanah yang terlintas ketika aroma biji kopi itu menelusup ke indera penciumannya.

“Satu espresso macchiato, dan chocolate muffin.”

Sehun telah lebih dulu menyebutkan pesanaannya, sedangkan gadis yang ia ajak kemari masih sibuk mencari menu di papan hijau yang menggantung di dinding. Laura sangat senang dengan aroma biji kopi, tapi sayang sekali dirinya tidak diciptakan untuk dapat menikmati kopi. Seandainya ia mampu, sudah dipastikan gadis itu akan menjadi pengikut komunitas kopi yang fanatik.

“Dari semua menu.. mana yang tidak terbuat dari kopi?” Ia benar-benar tak tahu apa saja yang tertulis di papan hijau itu. Ia tak tahu apa yang disebut dengan macchiato, cortado, ia tak tahu bedanya latte dengan espresso, bagaimana rasanya cappucino dan mochacino. Jadi, mau tak mau ia yang justru harus bertanya kepada sang barista—yang berpakaian seperti karyawan magang.

“Kalau tidak suka kopi, kau bisa pesan teh atau mungkin creame frappucino.”

“..hmm. Satu strawberries frappucino dan.. fruit toast.”

Akhirnya ada juga yang ia pesan setelah sekian lama ia termenung dan membuat panjang antrean. Ia menyebutkan menu berbahan utama buah-buahan—yang mungkin menjadi alternatif bagi mereka yang bukan penikmat kopi tapi tetap memaksakan diri untuk datang ke café. Kemudian pesanan mereka telah memasuki proses pembuatan, dan Sehun memilih untuk duduk di sebuah kursi karyu berwarna coklat muda yang ada di dekat jendela. Semuanya berwarna coklat dan kayu di sini, dengan beberapa tambahan warna hijau dari beberapa tanaman di dalam vas. Sebuah perpaduan yang laki-laki itu suka.

“Kau biasa datang ke sini? Kalau terlihat seperti penikmat kopi.”

“Ya, tentu. Memangnya kau tidak pernah ke sini?”

“Untuk apa aku pergi ke café? Aku saja tidak bisa minum kopi. Aromanya memang enak untuk dihirup, sampai aku pernah nekat untuk minum secangkir kopi. Alhasil? Jantungku tidak bisa berhenti berdebar.”

“Apa? Kenapa kau tidak b-bilang? Seharusnya kita ke tempat lain kalau kau tidak suka kopi.”

“Yasudahlah, tidak apa-apa.”

Tak lama kemudian, sunyilah yang kini menggeluti mereka dan menciptakan atmosfer kecanggungan. Laura tak tahu ingin membahas apa dan Sehun pun juga tak tahu harus mulai dari mana. Sampai akhirnya barista tadi menyebutkan nama mereka untuk mengambil pesanan. Usai mengambil pesanan, mereka berdua kembali ke tempat semula. Kembali duduk di samping jendela dan bertatap muka. Si gadis menatap wajah yang ada di depannya. Wajah dari seorang laki-laki yang masih belum juga memulai pokok permasalahan.

“Apa kita ke sini hanya untuk makan?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, harus mulai dari mana? Kalau hanya diam begini aku tidak bisa membantumu.”

Ya, benar juga. Percuma saja kalau mereka hanya berdiam diri sampai malam nanti. Kemudian si laki-laki akhirnya mulai membuat pergerakan. Ia melihat ke samping kanannya dan mendapati ada sebuah meja panjang yang tak bertuan. Sebuah meja yang lebih luas dibandingkan meja bundar yang mereka tempati.

“Kita pindah ke sana.” Hidangan-hidangan di atas meja bundar itu segera dipindah-tempatkan ke meja panjang yang terbuat dari kayu ramin. Meja yang seharusnya di isi oleh 4 orang justru ‘dihak-milik’ oleh 2 orang yang menggelar sebuah gulungan di atas meja.

“Proyekku adalah membuat sebuah mesin kriptanalisis.. se-seperti Mesin Turing. Mulai dari algoritma, statiska, semuanya sudah aku coba selesaikan. Tapi, masalahnya adalah aku ti-tidak menegerti konsep Data trainingnya.”

“…” Laura terdiam untuk beberapa saat. Apa yang ia lihat di gulungan itu, adalah sesuatu yang tak pernah ia bayangkan akan menjadi permasalahannya kali ini. Ia tak mengira kalau gulungan yang ia temukan kemarin akan menjadi ladang bermainnya kali ini. Laura mendampingi seorang 10 besar mahasiswa Computer Science untuk olimpiade. Seperti sesuatu yang tak mungkin.

“Kau bilang kau dapat  Distinction dalam mata kuliah Machine Learning. Jadi, aku harap kau bisa membantu.”

Mereka yang mendapat perdikat Distinction dalam mata kuliah, adalah mereka yang termasuk kedalam kalangan yang harus diperhitungkan. Karena Distinction adalah peringkat paling atas diatas peringkat Merit, Pass dan Fail. Kalau kau membutuhkan nilai 60-70 untuk mendapatkan predikat Merit, itu berarti kau butuh nilai di atas 70 untuk mendapatkan Distinction. Tapi mendapatkan nilai 70 tidak semudah kau mendapatkan nilai sempurna dalam pelajaran bahasa. Karena mereka yang mendapat predikat pass saja sudah bersyukur karena tidak gagal dalam mata kuliah.

“Ya, baiklah. Mungkin aku bisa memisahkan dataset untuk validasinya. Dan lain kali kita akan membangun model terbaiknya.”

“Lakukan di sini saja. Apa kau bawa laptop? Oh, aku bawa laptop.”

Si laki-laki berkacamata itu meraih tas yang ia taruh di atas meja dan kemudian merogoh sebuah laptop di dalamnya. Kemudian ia keluarkan benda kotak berwarna silver itu dan menyuguhkannya kepada si gadis seperti menyuguhkan hidangan terbaik di kota.

“Pertama, aku akan membagi dataset mejadi 2 bagian, 80% untuk training model dan sisanya unutk validasi… lalu gunakan teknik 10-fold cross validation untuk melakukan estimasi akurasi.. Yang ini, adalah rasio dari jumlah prediksi yang benar dibagi dengan jumlah instance dari dataset dikali dengan 100 untuk hasil dalam betuk presentase.”

Entah harusnya bagaimana, tapi Sehun tak bisa mengalihkan pandangannya dari semua yang gadis itu lakukan. Mulai dari gestur tubuhnya, semua yang diucapkan olehnya, larik matanya, dan apa yang tertuang di layar tersebut, semuanya diperhatikan dengan seksama. Melihat gadis itu mengajarinya tentang sesuatu, terlihat lebih menarik dibandingkan semua Dosen dan Profesor yang pernah mengajar kelasnya.

                Hidangan di meja panjang itu sudah habis tanpa menyisakan jejak. Bahkan cangkir kopi yang barusan diteguk kembali oleh Sehun, sudah menjadi cangkir kedua sampai saat ini. Di luar jendela, ia melihat jejeran lampu jalan yang sudah menyala cukup lama. Saat laki-laki itu melihat benda yang melingkar di tangan kirinya, jam menunjukan hampir pukul 8 malam. Artinya mereka sudah hampir 3 jam berada di sini. Untung saja mereka bukanlah seorang pembeli gila yang datang tanpa membeli apa-apa dan menetap sampai lupa waktu.

“Ini sudah malam. Kita bisa lanjutkan di lain waktu.”

“Besok?”

“Mungkin lusa. Kita bertemu di College saja. Sampai nanti.”

Laki-laki itu telah lebih dulu meninggalkan café dan berkendara kembali ke tempat asalnya. Sedangkan Laura masih belum bergerak dari tempatnya. Ia masih menyangkal kebodohannya karena mengira kali ini laki-laki itu akan berbaik hati dan mengantarnya pulang. Ia masih tak percaya, Sehun si laki-laki introvert itu tega meninggalkan seorang gadis untuk berjalan pulang seorang diri. Sekarang, barulah ia tahu kenapa laki-laki yang tampan dan sepintar itu tidak di kerubungi oleh gadis-gadis yang ada college.

Itu semua karena ia ‘terlalu pintar’ sehingga ia juga memerhitungkan cinta.

– ÷ –

Capital Gate Lodge

Suasana malam ini lebih ramai dari biasanya. Malam ini ruang TV dipenuhi oleh para penyewa. Ada Samuel yang sedang menantang si jago catur, ada Kai dan Jeff yang sedah berduel dengan playstation mereka. Tapi ada satu penyewa yang kurang di sini. Laki-laki yang biasanya akan duduk di sofa itu bersama buku-bukunya yang ia baca. Lantas di mana laki-laki itu? Kalau ramai seperti ini, laki-laki itu lebih memilih untuk mengasingkan dirinya bersama tumpukan tugasnya di ruang kerja.

“Sehun masih bertapa di ruangannya?”

“Ya, sebentar lagi dia pasti akan keluar dengan keadaan botak, Samuel.”

“Tidak, Jeff. Sebentar lagi pasti dia akan keluar dari sana dan meminjam rautan ke salah satu di antara kita.”

Masing- masing dari mereka tengah menerka-nerka apa yang sedang Sehun lakukan saat ini. Apakah ia benar-benar sedang bergulat dengan proyeknya atau ia hanya senang menyendiri di sana. Tak ada yang benar-benar tahu apa saja yang ia lakukan di ruangan itu maupun di kamarnya. Karena kalau yang lain akan beristirahat ketika sudah sampai di kasur, maka kamar Sehun akan menjadi salah satu yang masih menyala di malam hari selain Eric.

Dan seperti tak ada yang bisa menganggunya kalau Sehun sudah mengurung diri di balik pintu itu. Karena mereka yang ingin masuk ke dalam ruang kerjanya haruslah mengetuk pintu terlebih dahulu. Tapi meskipun begitu Sehun tetap akan berteriak mengatakan “Apa passowrdnya?”. Tak ada yang bisa menjawab password yang Sehun pasang sebagai syarat bagi mereka yang ingin masuk ke dalam. Semua benda, binatang, ilmuwan, nama dosen, semua sudah mereka sebutkan dan hanya mendapat balasan “Masih salah.”

“Bagaimana menurutmu, Samuel? Apa yang ia lakukan di dalam?”

“Kalau ia benar-benar orang yang tak terduga. Mungkin ia sedang membuka situs porno di dalam sana. Wah, Eric lain kali kau harus meretas laptopya.”

“Tidak tidak tidak. Kalian semua tidak ada yang benar. Yang jelas, beberapa menit lagi pasti si sabun akan keluar untuk mandi.”

“Ya, mungkin Kai benar. Setiap kali Kai bilang kalau Sehun akan mandi, pasti terjadi.”

Kemudian semua kegiatan di ruang TV itu terhenti seketika. Samuel dan Eric sudah tak lagi mengadu pion-pion mereka. Kai dan Jeff sudah tak lagi melanjutkan duel Guitar Hero mereka. Mereka berempat kini menatap lekat pintu putih itu dengan tebakan yang mendengung di kepala masing-masing. Kali ini, siapa yang akan memenangkan permainan dan membawa hadiah pulang?

Sudah hampir 5 menit, tapi tak ada pergerkan dari dalam ruangan itu. Mereka menunggu sampai bosan dan mengecap diri sendiri sebagai orang gila yang hanya menunggu seorang laki-laki keluar dari ruangan.

“Is he dead?”

“Mungkin pingsan.”

Pada akhirnya para penebak itu menyerah untuk menunggu Sehun keluar dari kamarnya. Mereka memilih untuk melanjutkan apa yang tadi sempat tertunda hanya untuk menentukan tebalan siapa yang benar kali ini. Tapi tiba-tiba saja kenop pintu itu berputar dan daun pintunya terbuka. Membuat sosok laki-laki berkaus hijau tua itu terlihat. “Hei, Sehun what are you doing?”

“Sehun, apa kau mau pinjam rautan?”

“Apa kau habis melihat situs porno?”

“..Aku mau mandi.”

Ternya Kai yang kali ini memenangkan permainan. Dan hadiahnya adalah predikat Mr. Know Anything. Sehun sudah menghabiskan harinya dengan bersemayam di balik pintu itu untuk melanjutkan Data training yang kemarin diajarkan oleh gadis itu. Dan sudah 3 kali ia memustuskan menyegarkan pikirannya dengan cara membersihkan tubuhnya. “Again?”

“Sudah kubilang. Ia pasti mandi lagi. Hei, Sehun, kau sudah mandi 3 kali hari ini. Apa masih kurang?”

“Dia jelas-jelas ingin memecahkan rekor, Kai.”

“Ya, seandainya Kai yang mandi 3 kali sehari, mungkin tagihan air kita akan meningkat drastis.”

– ÷ –

Christ Church Library

Ruangan itu menjadi ruangan yang cukup besar di sini. Sebuah tempat yang luas namun tak cukup lapang karena di penuhi oleh barisan rak buku. Suasananya kadang senyap, kadang terdengar suara beberapa orang yang berbicara, kadang terdengar suara langkah kaki yang berlari dari rak buku ke rak yang lain. Laki-laki bernama Sehun itu tengah berlari di antara rak-rak yang tinggi menjulang. Kadang ia menepuk-nepuk sejumlah buku yang terlapis debu dan membuat debu itu berterbangan layaknya kepulan asap mobil.

“Hey, jangan membuatku berlari mengikutimu.”

“Kalau begitu jangan ikuti aku. Kenapa tidak bantu cari di rak lain?”

Setelah ia memanjat sebuah tangga dan meraih sebuah buku— yang bersampul kukit coklat dan juga terlapis debu itu­—ia masih lanjut berlari dengan tangan kanan jenjangnya yang menunjuk-nunjuk buku yang ia lewati. “Cari buku Statistika di rak yang kedua dekat tempat kita tadi.”

Si gadis yang sedari tadi mengikuti laki-laki yang sudah seperti induknya itu kini sudah berbelok arah. Ia tak lagi mengikuti Sehun yang masih lanjut berlari di koridor. Kini ia menuju rak dekat tempat mereka duduk tadi. Tempat yang mereka gunakan untuk menghabiskan 2 jam terakhir melakukan revisi final proyek mereka. Laura menggerakkan jemarinya, menyentuh permukaan sampul buku berdebu yang berderet di rak itu. Kemudian di barisan keempat ia menemukan apa yang ia cari.

“Sudah kau dapatkan?”

“Ya, sudah. Di sini Teorema Bayes mengatakan, jika suatu data X tidak ada dalam data latih, maka data X tidak dapat diklasifikasikan. Sudah kubilang kau harus memasukka datanya, Sehun.”

Mereka yang tadi berlari diantara rak buku yang menyerupai labirin itu sudah kembali ketempat semula. Mereka kembali melanjutkan sesuatu yang sudah seharusnya rampung sebagai bahan presentasi besok. Laura kembali membolak-balik buku Statistika itu dengan Sehun yang masih mencoba menyempurnakan desain mesinnya.

Masing-masing dari mereka tengah dipusingkan oleh jutaan huruf yang tertuang kedalam buku kuno maupun cetakan baru yang ada di atas meja. Panah terkecil yang berpusat di tengah itu masih terus berputar dan membuat suara detakan setiap satu detik ia berputar. Sampai panah terkecil itu sudah berputar lebih dari 3600 kali, melingkar di atas pergelangan laki-laki berkulit putih yang membuatnya terlihat sangat kontras dengan jam tangan hitam yang ia kenakan.

“Apa menurutmu s-semua letaknya sudah benar?”

“…. mungkin kau bisa meletakkan rotor itu di sini. Tapi tak masalah kalau tidak kau ubah.”

“Itu berarti.. kita sudah selesai. Ki-kita..kita.. Astaga, kita selesai memecahkan Statistikanya, Laura!”

Nafasnya dilepas menyusuri rongga hidungnya dengan perasaan sangat lega. Sehun menyandarkan tubuhnya yang kelelahan. Ia menyandarkan tubuhnya dengan perasaan tenang dan kerutan di dahinya yang perlahan menghilang. Ini meruapakan perasaan yang sangat ringan di 3 minggu terakhir ini. Dan Laura yang berada tepat di depan laki-laki itu tanpa sengaja merekahkan senyumnya. Melihat laki-laki itu melepas kacamatanya dan berhenti memijat keningnya yang tadi berkedut, membuat syaraf-syaraf gadis itu ikut mengendur dan menciptakan sebuah senyum.

Kemudian gadis itu melihat ada yang masuk ke dalam perpustakaan. Segerombolan laki-laki yang saalah satunya seperti ia kenal. Laki-laki di tengah itu, yang paling tinggi memakai cashmere biru tua. Hanya itu yang ia kenal dari mereka berempat.

“Siapa mereka? Yang datang bersama Kris itu.”

“Itu temanku di kelas Profesor York.”

“Teman? Kau punya teman? Apa harus aku panggil mereka kemari?”

“Oh tidak.. tidak. Bukan teman..”

“Hello, Sehun’s friends!”

“Astaga, Laura. Sudah kubilang bukan teman.”

Ternyata Sehun sudah salah menyebut mereka sebagai teman. Mereka berempat tak akan pernah menjadi teman baginya, apalagi si laki-laki tinggi yang memakai cashmere biru tua disana. Dan Laura ternyata terlalu cepat percaya dan terlanjur menyampaikan salamnya. Salam itu sudah sampai ke telinga mereka berempat, membuat mereka menoleh ke arah sumber suara dan melihat siapa yang berbicara. Laki-laki tinggi itu ikut menoleh dan mendapati siapa yang berbicara di sana. Seorang laki-laki—yang ia kenal betul—sedang duduk di depan gadis yang membuat ia menoleh.

Laki-laki yang Laura sebut sebagai Kris itu datang menghampirinya begitu laki-laki itu tahu bahwa pemilik suara yang terdengar ringan itu adalah seorang gadis yang ia kenal. Dari sisi yang berseberangan dan hanya dipisahkan oleh meja mahoni yang dilapisi pernis coklat tua, ada Sehun yang kini tertunduk memandangi lantai perpustakaan. Ini menarik. Melihat Sehun berada di perpustakaan bersama seorang gadis, merupakan hal yang hanya terjadi sekali seumur hidup.

“Ternyata si gagap ini sudah mengerti apa itu definisi ‘cantik’, ya?” Tukas Kris sambil memberikan tatapan kepada Laura. “katakan padaku, apa laki-laki ini sedang menyandera dan memaksamu untuk melakukan apa yang ia perintahkan? Asal kau tahu..Laura, laki-laki ini pasti sudah menjanjikanmu sesuatu yang sangat berharga tapi nyatanya dia hanya memanfaatkanmu untuk proyek—”

“—olimpiadenya? Ya, dia memang ‘sedikit’ memaksa. Tapi jangan khawatir… Kris, laki-laki ini tidak berhutang satu janjipun padaku. Karena kami satu tim.”

Sehun memiliki tim? Aku kira ia merupakan seorang independen garis keras. Kris sempat tergemap ketika telinganya mendengar kata tim yang baru saja gadis itu sebut lantang-lantang. Tidak penting apakah dia seorang diri atau membentuk sebuah tim. Sudah tak penting lagi kenapa Profesor Donovan menempatkannya dalam olimpiade. Yang penting adalah ‘kenapa harus Laura?’

Tunggu dulu, ia menyebut namaku.

“Kalau begitu selamat.” Kris berusaha menutupi semua yang sudah ia sebutkan tentang Sehun yang masih menatap lantai mengkilap perpustakaan. “aku kira gadis sepertimu sedang terperangkap oleh laki-laki yang minta dikasihani ini. Bagaimana, Tuan Egerton? Apa kau sudah menyimpan nomor gadis ini? Kalau boleh, kusarankan untuk menyimpan nomornya, karena itu akan sangat berguna, kau tahu?”

Di balik meja mahoni itu, Sehun masih diam dan semakin lekat menatap lantai vinyl yang mengkilap dan memantulkan cahaya lampu—yang menggantung di langit-langit. “Baiklah, aku tidak mau mengganggu.” Mereka bertiga sempat terdiam tak bersuara sampai pada akhirnya Kris menyerah untuk membuat Sehun membalas kalimatnya—yang pada dasarnya Kris sudah tahu seperti apa Sehun itu. Kemudian laki-laki yang terbalut cahsmere biru itu mengurungkan niatnya untuk menjadi orang ketiga diantara mereka dan memilih untuk bergabung kembali bersama teman-temannya yang mengambil tempat di dekat jendela.

Dari lantai vinyl yang mengkilap itu, Sehun dapat menyaksikan bayangan hitam laki-laki itu sudah pergi meninggalkannya. Dia menyerah juga rupanya. Bayangan hitam itu berjalan menuju arah yang berlawanan dengan arah saat ia datang kemari. Kemudian, dengan segenap rasa malas untuk melihat sosok laki-laki itu, Sehun memastikan kursi mana yang Kris akhirnya tempati. Ternyata laki-laki itu bergabung bersama geromobolannya yang berada di belakang Laura.

“Kenapa kau lakukan itu?” Itu kalimat pertama dari Sehun, setelah sekian lama ia memalingkan wajahnya menatap lantai perpustakaan. “u-untuk apa kau memanggil mereka?”

“Ya..tapi.. setidaknya yang datang hanya Kris, kan?”

“Justru kalau bisa ti-tidak usah ada yang datang.”

Memangnya separah apa hubungan mereka? Entah apa yang dilakukan gadis itu benar-benar buruk atau hanya Sehun yang melebih-lebihkan suasana, yang jelas laki-laki yang ada dihadapan Laura—yang tak lagi berkacamata—sudah merubah raut wajahnya kembali menjadi raut wajah yang tak mengenakkan seperti saat keningnya berkedut.

“..Dia menyukaimu.”

“Apa?” Setelah beberapa saat Sehun kembali memijat keningnya yang tegang, ia mulai bersuara lagi, dan kalimatnya cukup membuat gadis yang sedang menyaksikannya memijat kening itu terkesiap dengan apa yang disampaikan. “Dari mana kau tahu?”

“Aku ini seorang laki-laki. Sudah pasti aku tahu tanda-tandanya.”

“Memangnya apa tanda-tandanya?”

“…Seorang laki-laki akan terus mem-memandangi apa yang ia suka. Kalau ia orang yang bodoh, maka ia akan memandangimu secara terang-terangan.”

“Kalau begitu sudah pasti kau si laki-laki bodoh. Apa sekarang lantai vinyl  itu sudah resmi menjadi kekasihmu?”

Ternyata Sehun sudah dicap sebagai laki-laki bodoh akibat perkataannya sendiri. Memang apa yang ia katakan barusan tidak bisa dispekulasikan dan disejajarkan dengan benda mati. Tapi, benar juga apa yang dituduh oleh Laura. Kalau ia bilang laki-laki terus memandangi apa yang ia suka, kalau begitu Sehun sudah pasti memiliki perasaan dengan lantai itu. Tidak masuk akal, tapi kenyataannya memang hanya lantai vinyl itu yang sudah Sehun pandangi selama lebih dari 5 menit tanpa mengalihkan perhatian.

“Sudahlah, aku mau istirahat.” Saat Sehun memeriksa kembali benda hitam yang melingkar di pergelangannya, jarum jam itu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Esok masih ada seleksi yang menanti untuk dimenangkan. Jadi akan jauh lebih baik kalau kedua manusia—yang tergabung kedalam satu tim itu—pulang dan merebah sampai esok datang.

Laura menyusun buku catatan bersampul kuning dan lusinan kertas yang berserakan di atas meja. Ia memasukkan barang-barangnya dan menyadari kalau buku-buku perpustakaan itu belum sepenuhnya dikembalikan ke rak asal mereka. Tak ada pilihan lagi, Laura mengambil tumpukan buku itu dan menyusun kembali ke dalam deretan rak yang seharusnya. Setelah itu ia tak lagi melihat Sehun berada di kurisnya, laki-laki itu sudah menghilang seperti dugaannya. Yang dapat ia lihat hanyalah punggung lebar Kris yang terbalut dengan cashmere biru yang membelakanginya.

Kemudian gadis itu keluar dari ruangan perpustkaan melewati daun pintu yang terbuka dan berlari ketika ia sampai di koridor. Sampai di pelataran kampus ia dapat melihat ada lusinan mahasiswa berlalu lalang di jam malam ini. Ia berjalan di jalan setapak diantara hamparan rumput pelataran yang meluas. Ia masih berjalan lurus sampai ia harus berjalan agak membelok ketika sebuah air mancur tepat berada di depannya. Kemudian dari situ ia berjalanan lurus lagi sampai ke gerbang, kepalanya tertunduk kebawah menatapi detail bebatuan kecil yang ada.

“Aku rasa ada yang butuh tumpangan.”

– ÷ –

Capital Gate Lodge

 

                Sepasang roda itu terus berputar membuat motor itu berkendara menembus udara malam. Rasanya udara tak kasat mata itu telah menyapu seisi kota dengan hawa dingin yang datang bersama ketika menerpa kulit tubuh. Di belakang sana, Laura merasa sangat bodoh karena hanya menutupi tubuhnya dengan jaket parka yang tak seberapa tebal, sedangkan ia tak mengira kalau malam ini ia akan diterpa angin sekencang ini bila menggunakan sepeda motor.

Dan seseorang yang membawanya menerjang angin malam, laki-laki itu sudah terlihat aman dengan setelan hari-harinya. Sweater hangat yang ditutupi lagi oleh mantel cokelat. Dari jok belakang itu Laura dapat melihat bahu lebar seorang Sehun yang tak ia sangka sedang membawanya berkendara. Dan dari spion sebelah kiri adalah pantulan wajahnya dengan rambut coklat gelap—yang berterbangan—yang sialnya hari ini tak ia ikat.

Beberapa meter sebelum sampai, ia menunjuk dimana Sehun harus berhenti. Sebuah gedung berlantai 5 dengan nuansa kontemporernya yang sangat kentara.

“Terimakasih. Kali ini untuk tumpangan yang benar-benar berguna. Tidak kusangka ternyata kau masih punya empati kepada wanita.”

“Jadi kau ini berterimakasih sekaligus menyinggung?”

Mendengar kalimat itu juga membuat sebuah senyum tercetak sederhana di wajah Laura. “Kamar yang menyala di lantai paling atas itu, itu adalah kamarku.” Gadis itu mengangkat tangan kirinya dan menunjuk tepat ke arah kamar yang ia bicarakan. Sebuah kamar di lantai 5 dengan jendela yang masih terbuka dan angin yang meniup-niup gorden kelabu.

“Kenapa kau biarkan jendelanya terbuka?”

“Tidak, bukan aku. Teman sekamarku. Dia memang suka dengan angin malam. ‘Sama seperti kekasihnya’ dia bilang.”

“Di rumahku juga ada laki-laki seperti itu. Laki-laki hitam bernama Kai.” Laura tergemap ketika Sehun menyebutkan sebuah nama yang setiap hari ia dengar dari teman sekamarnya. “Kai? Kim Kai? Oh, Astaga! Ternyata dunia ini sudah terlalu sempit rupanya.”

“Ada apa? Jangan bilang.. teman sekamarmu itu kekasih Kai?”

Laura kembali tersenyum. Senyum ketiga yang ia tak sengaja suguhkan hari ini. Membuat sepasang lengkungan bulan sabit tercipta di mata yang sesungguhnya lelah itu. Dan laki-laki yang sudah kembali berkacamata itu sudah tiga kali pula menerima senyuman itu. Senyuman yang tanpa ia sadari ada karena dirinya.

Penuh energi positif.

Sapuan angin malam itu kembali datang dan menerbangkan surai coklat gelap itu. Hawa dingin musim gugur kembli merayap ditubuh mereka dan merambat di rongga hidung. “Ya, aku harus segera masuk. Aku akan berdo’a selama yang aku bisa untuk hasil seleksi esok.”

Laura sudah melangkah mundur sedikit demi sedikit. Sesekali ia menoleh kebelakang sebagai simbol sopan santun karena dirinya berterimakasih untuk kebaikan si pemilik sepeda motor.

“Hey, Laura. Jangan hanya berdo’a untuk hari esok saja. Berdo’alah bahwa masing-masing dari kita mendapatkan apa yang pantas kita dapatkan. Baiklah, selamat malam.”

Dari depan pintu lodge, Laura berdiri dan menyaksikan si pemilik motor yang akhirnya memberikan tumpangan itu telah melaju perlahan. Laki-laki itu memutar arah sepeda motornya dan ketika arahnya sudah benar, ia menambah kecepatannya sampai membuat aspal-aspal begetar karena suara yang meredam.

Tentu saja aku akan mengharapkan yang terbaik. Untuk esok. Dan seterusnya.

 

˹ T · B · C ˼

– Ө –

So?

Gimana? FYI FF ini bukan tipikal yang ringan buat dibaca, dan karakter Sehun di sini pun saya buat beda sama tipikal karakter Bad Boy ataupun Agresif yang biasanya ada. Jadi, untuk penokohannya tolong dipahami lagi yaa.

Dan kalo ada saran buat tempat-tempat bagus yang ada di Oxford atau sekitarnya, bisa comment aja dibawah. Ataupun ada masukan tentang FF ini. Karena saya juga masih perlu BANYAK belajar dari pembaca..

– SEE YOU –

 

6 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Young Alan (Chapter 2)”

  1. Seneng baca ff ini, emang beda dr ff lain..
    kayakny author bener2 riset ya.. sampe nemu teori2 bgtu..
    Ditunggu update nya thor~

  2. Wow…beda dari yang lain…keren…
    Ff ini banyak unsur scientific-nya terus cara author menggambarkan latarnya tuh ugh keren banget…
    Seakan-akan kita liat langsung setiap plot dari cerita ini…walaupun masih ada sedikit typo but overall it’s excellent…fighting Thor ditunggu chapter selanjutnya

  3. Sehun dg rambut panjang yg bisa diikat??betapa seksehny itu… ingin ku meliat menjadi nyata hiks hiks
    Ini karakter sehun paling ribet kayaknya dr smua ff sehun yg udah ku baca..sekali kali lah sehun ga jadi ceo tampan playboy hhahahahahhahaha
    Fighting!!!!:)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s