[EXOFFI FREELANCE] – Universe in His Eyes (Chapter 1)

Title                 : UNIVERSE IN HIS EYES – Chapter 1

Author             : Arifia Pahlawan

Length             : Chapter

Genre              : Drama, Friendship, Romance, School-life.

Rating              : Teen

Main cast        :

  • Oh Serin (oc)
  • Do Kyungsoo
  • Byun Baekhyun
  • Park Chanyeol

Additional cast:

  • Oh Sehun

Summary         : Serin tak pernah menyangka bahwa mata itu telah membuat dirinya tergelitik rasa penasaran untuk mencari tahu apa yang tersembunyi di baliknya. Ia juga tak pernah menyangka bahwa mata itu pula yang mampu meninggalkan bekas luka yang begitu dalam untuknya.Disclaimer       : Cerita ini hanyalah fiktif belaka dan murni dari pemikiran author. Apabila terdapat kesamaan pada nama (kecuali pada cast EXO) maka itu hanyalah kebetulan semata. Fanfiksi ini sudah diterbitkan di akun Wattpad author dengan user ‘arifiart’ (tanpa tanda petik). Go check this out!Author’s note  : Ini merupakan fakfiksi pertama author yang akan dipublish. Jika terdapat banyak kekurangan dalam penulisan dan jalan cerita, mohon dimaklumi. Trims ❤

 

 

 

CHAPTER 1

-Park Chanyeol-

 

 

“MATI AKU!”

Serin lompat dari kasurnya terkejut ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Malang sekali nasibnya di semester ini, hampir semua kelas yang ia ambil mendapat jadwal kelas pagi sehingga ia harus seperti ini tiap pagi. Ia langsung lari terbirit-birit menuju kamar mandi. Suasana rumah pagi ini riuh sekali karenanya.

“Biasaan sekali anak itu.” kata ibunya sambil mengangkat roti dari panggangan.

“Eomma, aku pakai selai stroberi saja.” ujar Sehun senyam-senyum sambil menunjuk toples selai dekat ibunya.

“Andwae, hari ini eomma akan memberikan sarapan yang sangat bergizi untukmu.” Ibu memasukkan telur goreng serta sayuran berisi tomat dan selada segar ke dalam roti panggang tersebut.

Sehun mendengus kesal, “Aah, selada itu-” ia merengek menggoyang-goyangkan tubuhnya. “-singkirkan selada itu, ah eomma~ lagipula kenapa pagi ini harus sarapan sandwich? Memangnya kita bule?”

“Yah! Memangnya bule saja yang boleh sarapan sandwich? Sana bercermin, coba kau piker darimana kau mendapatkan tubuh tinggi seperti itu? Tentu saja karena eomma selalu rajin memberikan nutrisi untukmu, tahu!” jawab ibunya bangga. “Lagipula kau ini sudah kelas tiga, aku harus memberi makan otakmu supaya bisa masuk universitas.”

“Padahal itu karena aku memang ditakdirkan untuk dilahirkan menjadi tinggi dan tampan-” ujar Sehun pelan sambil bebisik sendiri. Untung saja Ibu tidak mendengarnya. “Ne…” jawab Sehun akhirnya pasrah-pasrah saja dengan tingkat kepercayaan diri yang luar biasa dari ibunya.

Tiba-tiba saja Serin datang dari arah belakang dan langsung menyambar segelas susu di meja dan menghabiskannya dengan terburu-buru.

“Ah! Nuna!!!” Sehun terperanjat sambil memegang dadanya terkejut sekali melihat sang kakak muncul tiba-tiba.

“Terima kasih untuk makanannya. Eomma, aku pergi dulu!” pamit Sehun yang sudah selesai dengan sarapannya dan langsung mengambil tas ranselnya menuju keluar rumah.

Serin masih melanjutkan sarapannya dengan terburu-buru. Tenggorokannya terasa begitu kering saat menelan makanan karena tenggorokannya belum diisi setetespun air putih sejak bangun tidur tadi. Aah, kelas pagi sungguh menyebalkan. Aku jadi harus kerepotan seperti ini setiap pagi. Serin terus mengeluh dalam hatinya.

“Uhuk! Uhuk!”

Mendengar putrinya yang tersedak karena menelan makanan dengan terburu-buru, ibunya langsung menepuk-nepuk pundak Serin.

“Yah- pelan-pelan saja, kau tidak akan mati jika datang terlambat.”

Beberapa menit setelah kepergian Sehun, Serin segera menyelesaikan makanannya dan ikut menyusul pergi, “Aku juga pergi, eomma!” katanya cepat dan lari terburu-buru. Ibunya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak perempuannya itu.

Sesampainya di depan rumah, Serin bingung melihat adiknya masih berdiri di depan rumah dan bukannya segera berangkat sekolah. Ia melangkah mendekat kemudian sadar bahwa adiknya sedang berbicara dengan seorang pria tinggi yang wajahnya sangat familiar sedang duduk di atas sebuah motor sport.

“Park Chanyeol?”

Lelaki tinggi itu pun menoleh, “Oh, Serin-ah.” sapanya tersenyum melihat sosok Serin.

Menyadari kakaknya yang datang, Sehun dengan terburu-buru langsung duduk di jok belakang motor Chanyeol. Lelaki Park itu ikut menoleh ke arah Sehun bingung, “Ngapain?”

“Ayo kita berangkat hyuuung~” kata Sehun sambil memeluk manja Chanyeol.

Serin mendekat dan menjitak adiknya, “Ya! Minggir! Aku sudah terlambat, tahu!” bentaknya sambil melotot ke arah Sehun.

Sehun mengusap kepalanya pelan dengan wajah cemberut, “Jahat sekali! Tidak perlu sampai memukul kan?” ia tidak melanjutkan kata-katanya setelah Serin berpura-pura hendak meninjunya. “Lagipula kenapa Chanyeol hyung selalu menjemput nuna, sih? Memangnya kau itu supir pribadinya, hah?” katanya kepada Chanyeol. Lelaki Park itu hanya tersenyum memamerkan deretan giginya yang banyak.

“Sudah, sudah, ayo kita berangkat.” Chanyeol memberikan helm kepada Serin. Gadis itu pun langsung duduk di jok belakang dan mengeratkan pegangannya ke pinggang Chanyeol.

“Dah, Sehun!” pamit Chanyeol sambil menutup kaca helmnya. Sehun hanya membalas dengan mengangkat telapak tangannya.

Pagi ini lumayan dingin, Serin medekatkan kepalanya ke punggung Chanyeol karena tidak kuat menahan angin yang langsung menerpa wajahnya. Aah sepertinya aku bakal masuk angin, kelas pagi sungguh menyiksa, pikir Serin.

Lelaki yang sedang berada di hadapannya ini adalah Park Chanyeol, sahabat Serin sejak SMA. Sebelumnya ia bersekolah di luar negeri dan tinggal bersama paman dan bibinya selama lima tahun sebelum akhirnya kembali ke Korea bersama orang tuanya.

Lelaki ini dulu biang keroknya sekolah. Lelaki ini sebenarnya sangat temperamen dan kasar. Hobinya berkelahi dan selalu membuat keributan di sekolah. Serin akrab dengannya karena rumah mereka berdekatan dan orang tua mereka saling mengenal dengan baik. Oleh karena itu, Chanyeol juga tidak berani untuk mengganggu Serin. Selain itu, Serin juga tidak pernah terlihat takut ketika berada di dekat Chanyeol, malah lelaki itu akhirnya selalu melindungi Serin dari teman-teman yang sering menganggunya.

Karena hubungan mereka yang dekat itulah lama-lama jadi tidak ada yang berani mencari gara-gara dengan Serin. Kalau ada yang coba menyentuh Serin, maka ia bisa langsung dihabisi oleh Chanyeol. Terkadang ia bisa menjadi musuh sekaligus sahabat yang bisa melindungi.

Walaupun Chanyeol menyeramkan untuk sebagian orang, tapi ia sebenarnya sangat baik. Ia mungkin selalu kasar, tapi ketika sudah bertemu Serin, ia bisa berubah menjadi seperti seorang kakak yang perhatian. Tidak jarang mereka juga suka bertengkar, bahkan untuk hal-hal kecil. Hampir tidak mungkin dalam sehari ia tidak pernah tidak berbicara dengan kasar kepada Chanyeol. Mungkin karena perawakannya Chanyeol yang kasar dan Serin yang juga tidak pernah takut untuk melawannya. Kadang tingkah mereka seperti anak kecil, sama-sama keras kepala.

“Yah, jangan tidur kau! Kalau sampai tertidur dan terjatuh, aku tak akan menolongmu.” seru Chanyeol setelah menyadari Serin menyandarkan badannya di punggung Chanyeol selama perjalanan. Serin tidak mengubah posisinya, ia justru makin bersandar ke tubuh Chanyeol.

Aah, gadis ini benar-benar, apakah dia tidak sadar tubuhnya itu berat? Main nyender saja. Gerutu Chanyeol dalam hati.

“Ani- aku tidak tidur, kok.” jawab Serin memejamkan matanya dan tidak melepaskan kepalanya yang masih menempel di punggung Chanyeol.

 

Chanyeol memarkirkan motor sportnya di depan gedung fakultas seni.

“Wah, kau benar-benar jahat, Park Chanyeol!” Serin melipat tangannya sambil memerhatikan Chanyeol yang sedang melepas atribut berkendaranya. “Bisa-bisanya kau tidak mengantarkan aku ke gedung fakultasku.”

Ia terus mengomel karena biasanya Chanyeol akan menurunkan Serin di depan gedung kampusnya. Tapi entah kenapa si lelaki bertelinga lebar ini malah membawanya lebih jauh. Ia sudah hampir terlambat dan pria ini justru membuatnya harus berjalan lagi menuju gedung kampusnya.

Chanyeol hanya menatapnya datar. “Apa sih,” ia memalingkan wajahnya sesaat sambil melepas sarung tangannya. “kau ini manja sekali. Gedung kita kan bersebelahan, kau hanya tinggal jalan kaki sebentar. Ini masih pagi, jalan kaki itu sehat.”

Mereka berdua memang satu universitas, hanya saja mereka mengambil jurusan yang berbeda. Chanyeol merupakan mahasiswa jurusan seni di kampus, sedangkan Serin kuliah di jurusan sastra. Beruntung Chanyeol berkendara agak ngebut sehingga Serin masih memiliki waktu sebelum kelas dimulai.

“Ya sudah, aku antar. Jalan kaki saja tapi, ya.”

Baru beberapa meter mereka berjalan, tiba-tiba terdengar suara langkah orang sedang berlari ke arah mereka.

“Serin-ah!” sebuah suara yang tidak asing menyapa mereka dari belakang. Suaranya tidak seberat Chanyeol dan sedikit agak serak. Kemudian pemilik suara itu datang dan dan memeluk Serin dari belakang.

Pemilik suara itu adalah seorang pria.

 

 

-To Be Continued-

4 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] – Universe in His Eyes (Chapter 1)”

  1. Annyeong, authornim! 🙂
    salam kenak, saya new reader., dan nemu ff ini yang ternyata belum lama dimulai..
    baca chapter 1 udah penasaran sama kelanjutan ceritanya..
    izin baca ke selanjutnya yaa, thor.. 😀

    1. Halo, salam kenal juga. Iya, FF ini baru publish sejak dua bulanan yang lalu. FF-ku sekarang sudah sampai chapter 12 loh, jangan sampai ketinggalan yaa hehe ^^
      Btw terima kasih banyak sudah baca FF ini. Wish you always have a great day! XOXO

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s