[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 9)

Tittle    : Secret Wife Season 2

Author    : Dwi Lestari

Genre     : Romance, Friendship, Marriage Life

Length     : Chaptered

Rating    : PG 15

Main Cast :
Park Chanyeol, Kim Soah (Aiko)

Support Cast :

Oh Sehun, Min Aera, Kim Nara, all member EXO and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Soah terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan artis papan atas Park Chanyeol, demi menghindari kutukan keluarganya. Meski sebenarnya dia tak pernah percaya jika kutukan itu masih berlaku.

Disclaimer    : Cerita ini murni buatan saya. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note    : Sekedar mengingatkan, jika ini berbeda dengan SECRET WIFE yang pertama. Ini bukan kelanjutannya. Cerita ini berdiri sendiri. Tapi akan ada beberapa hal yang sama. Dijamin tidak kalah seru. Maaf jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komentarnya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 9

(Lost)

Perasaan yang masih membekas ini

Akan menjadi kenangan yang menyakitkan

Back song: Super Junior D&E – 너는 나만큼 (Growing Pains)

“Sekretaris Min. Hwejangnim, datang”, ucap pria bernama Yoon Jaewoon tersebut.

Sekretaris Min yang sibuk berdiskusi dengan staffnya menoleh. “Hwejangnim?”, ulangnya kembali. Mencoba memastikan jika dia tak salah dengar.

Pria itu mengangguk.

“Iya, aku mengerti. Terima kasih Yoon timjangnim. Kau bisa kembali”, jelas sekretaris Min.

Pria itu menunduk hormat sebelum pergi.

“Kalian bisa melanjutkannya. Aku akan pergi menemui hwejangnim”. Sekretaris Min berjalan meninggalkan staffnya. Dia mengambil nafas dalam sebelum melanjutkan langkahnya.

“Selamat datang Hwejangnim”, sambut sekretaris Min. Dia menunduk memberi salam.

“Bagaimana pemotretannya?”, tanya wanita itu. Dia masih terlihat cantik meski usia sebenarnya sudah di pertengahan empat puluhan. Bahkan jika dilihat sekilas, dia tampak seperti wanita yang berusia di awal tiga puluhan.

“Semua berjalan lancar. Sesuai dengan apa yang telah kita rencanakan”, jawab sekretaris Min kembali. Dia terlihat sedikit gugup. Ya, selalu seperti itu. Meski sebenarnya dia sudah bekerja saat wanita itu masih menjabat sebagai CEO. Aura wanita itu selalu membuatnya terintimidasi.

“Kerja bagus”, ucap wanita itu.

“Mari, kearah sini”, ucap sekretaris Min. Dia mengajak wanita itu utuk melihat hasil pemotretan.

Wanita itu mengikutinya dengan senang hati. Mengangguk setuju kala mendengar penjelasan sekretaris Min yang sesuai seleranya. Dia juga tak ragu melayangkan protes kala mendapati sesuatu yang tak pas menurutnya. Pandangannya ia edarkan ke penjuru ruang. Seperti mencari seseorang.

“Aku tak melihat Soah. Dimana dia?”, tanya wanita itu.

Sekretaris Min menelan kasar salivanya. Apa yang harus dikatakannya? Tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya kan. Dia tahu jika bosnya sedang pergi dengan lelaki yang dulu menjadi kekasihnya, meski itu pertama kali dia bertemu dengan lelaki tersebut.

“Dia bukan tipe gadis yang suka meninggalkan pekerjaan. Kecuali fakta jika dia benci bekerja di hari jum’at”, ucap wanita itu kembali.

“Sekretaris Min”, wanita itu kembali memanggil karena sekretaris Min tak kunjung menjawab. “Dimana Soah?”.

“Sebenarnya…..”, sekretaris Min tak melanjutkan kalimatnya. Dia masih bingung, harus menceritakannya atau tidak.

Wanita itu tersenyum miring. Dia tahu jika sekretaris Min tak akan menjawab pertanyaannya. “Yoon Jaewoon”, panggil wanita itu pada lelaki yang sibuk berdiskusi dengan rekannya.

“Iya, hwejangnim. Ada yang bisa saya bantu?”, ucap pria itu lantang.

“Dimana Soah?”.

“Dia pergi”, jawab pria yang dipanggil Yoon Jaewoon tersebut.

Sekretaris Min menatapnya tajam seolah berkata jangan. Namun sepertinya pria itu tak mengerti maksud sekretaris Min.

“Tadi dia disini?”, tanya wanita itu.

“Iya”, jawab pria itu kembali disertai anggukan.

“Kemana?”, wanita itu selalu bertanya intinya. Seperti yang pria itu ingat.

“Aku tak yakin, tapi dia pergi dengan seorang pria tadi”.

Sekretaris Min membuang muka kala mendengar penjelasan pria yang dipanggil  pria yang dipanggil Yoon Jaewoon tersebut. Dia memejamkan matanya sebentar. Sial, ini akan menjadi situasi yang buruk untuk Soah.

“Pria?”, wanita itu mengangkat alisnya.

“Iya. Ini kali pertama aku melihat pria itu”, jelas Yoon Jaewoon.

“Apa dia bernama Jackson?”, ucap wanita itu.

“Aku juga tak yakin. Tapi daepyonim memanggilnya dengan sebutan Jack”.

“Aku mengerti, kau bisa kembali”.

Pria itu menunduk hormat sebelum meninggalkan wanita yang dipanggil hwejangnim olehnya.

Wanita itu kembali tersenyum miring. “Apa mereka masih menjalin hubungan?”, pertanyaan itu kini ia tujukan untuk sekretaris Min.

Dengan cepat sekretaris Min menggeleng. “Ini pertama kalinya aku melihat daepyonim bersama pria itu”.

“Kau yakin?”, wanitu itu terlihat tak terima dengan penjelasan sekretaris Min.

“Iya”, jawab sekretaris Min disertai anggukan. Dia benar-benar gugup kali ini.

Wanita itu merogoh tasnya. Mencari keberadaan ponselnya. Menghubungi seseorang. Tersenyum kecut kala yang menjawab adalah suara operator. “Dia bahkan mematikan ponselnya”, ucap wanita itu kemudian.

Wanita itu mengambil nafas dalam. “Katakan pada Soah jika dia datang nanti, suruh dia menemuiku”, wanita itu berlalu pergi setelah mengatakannya.

Sekretaris menunduk hormat meski wanita itu sudah berlalu dari hadapannya. Tepat setelah dia tak melihat keberadaan wanita itu, dia berjalan cepat menemui pria bernama Yoon Jaewoon. “Yoon timjangnim”, panggil sekretaris Min.

“Iya”, pria itu berjalan cepat menemui sekretaris Min. “Ada yang bisa saya bantu sekretaris Min”.

“Kenapa kau memberitahu hwejangnim? Bukankah aku sudah memberimu isyarat untuk tidak mengatakannya”, sekretaris Min terlihat marah.

“Aku tidak mengerti tadi, maafkan aku”. Pria itu terlihat menyesal. Dia juga menunduk meminta maaf.

Sekretaris Min mengepalkan tangannya kuat. Dia juga memejamkan matanya. Seperti sedang menahan amarah. Dia mengambil nafas panjang beberapa kali untuk meredakannya. “Ini bukan salahmu, kau bisa bekerja kembali”, ucapnya kemudian.

Sekretaris Min berlalu. Dia mencoba menghubungi seseorang. Tidak berhasil, suara operator lah yang menjawabnya. “Sebenarnya kau ada dimana daepyonim?”, ucapnya entah pada siapa. Ya, terhitung sudah dua jam Soah meninggalkan tempat itu.

-o0o-

Soah melambaikan tangan pada pria yang sudah mengantarnya. Dia tersenyum hangat melihat kepergian pria itu. Dengan langkah mantap, dia berbalik hendak masuk ke perusahannya. Namun langkahnya terhenti kala melihat wanita itu. Ya, bibinya sudah berdiri di belakangnya. Melihat apa yang baru saja dilakukannya.

“Kau darimana?”, tanya wanita itu.

Soah menggenggam kuat coatnya. Menatap sebentar bibinya, sebelum menunduk memberi salam.

“Ada yang harus kita bicarakan”, ucap wanita itu kembali. Dia menarik lengan Soah memasuki area perusahannya.

Soah hanya pasrah mengikuti kemanapun wanita itu membawanya. Dia tahu, jika ini adalah salahnya. Bukan, ini bukan sepenuhnya salahnya. Sebagian adalah salah wanita yang tengah menarik lengannya. Jika saja wanita itu mau memberikan restu untuknya, semuanya tidak akan menjadi serumit ini.

Wanita itu melepaskan tangan Soah di lorong yang sepi. Dia meantap tajam keponakannya, seolah gadis muda itu telah membuat kesalahan yang fatal. “Jadi selama ini kalian masih memiliki hubungan?”.

“Iya”, jawabnya. Soah berkata bohong. Ini bahkan kali pertama dia bertemu dengan pria itu semenjak dia pulang ke Korea.

“Soah, sudah berapa kali aku bilang, berhentilah menjalin hubungan dengan pria itu. Sampai kapanpun aku tidak akan merestui hubungan kalian”, wanita itu terlihat sedang menahan amarah.

Waeyo?”.

“Tidak bisakan kali ini kau hanya menuruti permintaanku”.

“Kapan aku tidak memenuhi permintaan imo? Imo menyuruhku pergi ke Paris, aku juga juga melakukannya. Imo menyuruhku masuk ke ESMOD, aku juga melakukannya. Meski kau tahu jika aku ingin kuliah di kedokteran. Kau menyuruhku pulang ke Korea, aku juga melakukannya. Meski aku tahu itu hanya caramu memisahkan kami. Aku juga memenuhi permintaan imo, untuk menjadi CEO. Meski aku tidak menyukainya. Dan juga aku memenuhi permintaaanmu untuk menikah, meski aku juga tidak menyukainya”, jelas Soah. Matanya mulai berkaca-kaca.

Wanita itu terdiam. Memang benar apa yang dikatakan keponakannya. Gadis itu selalu menuruti permintaannya, meski dia tak menyukainya.

Imo selalu menyuruhku menjauhinya. Setidaknya beri aku alasan, kenapa aku harus melakukannya”, ucap Soah kembali.

Wanita itu masih terdiam.

“Kenapa imo diam? Katakan, kenapa aku harus melakukannya?”, ucap Soah lagi. Setetes cairan bening, meluncur begitu saja melewati pipinya. “Imo bahkan sudah tahu seberapa besar aku mencintainya”.

“Tidak ada dokter yang mengencani pasiennya”, wanita itu tersenyum miring.

“Aku bukan lagi seorang pasien. Aku sudah sembuh, imo tidak lupa itukan. Dan lagi, memang apa salahnya jika seorang dokter menyukai pasiennya? Selama mereka serius, tidak akan jadi masalah bukan. Aku tidak akan terima jika alasan imo menolak hubungan kami karena itu”.

Soah mengepalkan kuat tangannya. Setetes cairan bening kembali melewati pipinya. Dia masih menatap tajam bibinya. Masih menginginkan jawab dari apa yang dilakukannya.

Wanita itu membuang muka. Mengambil nafas dalam. Mencoba mereda emosinya. Bukannya dia tak ingin bercerita, hanya saja rasanya berat membuka masa lalunya.

“Katakan imo”, Soah masih belum menyerah. Dia masih ingin mendengar alasan pasti mengapa bibinya menolak hubungan dengan pria itu. Dia masih mencoba menahan laju air matanya. Meski kini sudah memenuhi pelupuk matanya. Matanya juga sudah terlihat berkaca-kaca.

“Baiklah, jika imo memilih diam. Aku juga tidak akan memenuhi permintaan imo”, susah payah Soah mengatakannya. “Aku pergi”, dia berbalik. Masih menahan diri untuk tidak kembali mengeluarkan air mata. Juga masih berharap jika bibinya akan membuka suara.

Satu langkah, dua langkah, dan dilangkahnya yang ketiga, Soah bisa mendengar suara bibinya.

“Karena aku mencintai ayahnya”, jelas bibi Soah. Cukup lirih namun masih dapat didengar.

Soah menghentikan langkahnya. Masih terdiam. Detik kemudian dia berbalik. Menatap bibinya kembali. Mencoba memastikan jika dia tak salah dengar. Bibinya mencintai ayah dari kekasihnya dulu.

“Ya, aku mencintainya. Aku mencintai Park Sungin, ayah dari kekasihmu itu”, jelas bibinya kembali.

“Bagaimana bisa imo mengenalnya?”, tanya Soah. Dada sedikit sesak mendengarnya.

“Dia adalah dokter keluarga kita sebelumnya”, jelas bibi Soah lagi. Dia membuang pasrah nafasnya. “Aku pernah hampir membunuh istrinya, dulu. Karena itu appeoji memintanya pindah ke luar negeri. Dan aku tidak tahu jika mereka pindah ke Paris. Jika aku tahu dari awal, aku tak akan menyuruhmu pindah kesana”.

Wanita itu kembali mengambil nafas dalam. Dia mencoba menata diri. Membuka luka lama yang ingin dilupakannya, memanglah hal sulit. Dia berjalan mendekati Soah. Memegang kedua sisi bahunya. “Karena itu, jangan buat imo menjadi orang jahat lagi Soah. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan pada keluarga mereka jika kami benar-benar bertemu”, jelas wanita itu. Dia juga meneteskan beberapa air mata.

Soah benar-benar menangis sekarang. Rasanya begitu sesak mendengar penuturan bibinya. Dia terisak. Sungguh, rasanya begitu nyeri. Tubuhnya hampir limbung ke lantai jika bibinya tak menahannya. Jika waktu bisa diulang, dia akan memilih tak pernah mengenal pria itu.

Wanita itu menarik Soah ke dalam dekapannya. Mengusap pelan surai panjangnya. Mencoba memberi kekuatan, meski dia juga merasakan sakit. “Maafkan imo, sayang”, ucapnya kemudian.

Soah masih terisak. Dia masih belum bisa menjawab. Kenyataan yang didengarnya, membuatnya bertambah sakit. Bahkan lebih sakit ketika dia terpaksa harus berpisah dengan pria itu.

Wanita itu membiarkan Soah menangis dalam dekapannya. Karena hanya dengan itu, rasa sakit yang dirasakan keponakannya bisa berkurang. Meski tidak sepenuhnya.

Wanita itu melepaskan pelukannya ketika Soah sudah terdiam dari isakannya. Menatap wajah keponakannya. Menghapus jejak air mata yang masih tertinggal disana. “Untuk kali ini, imo benar-benar memohon padamu Soah. Jauhi dokter itu”, ucapnya kemudian. Dia juga memegang bahu Soah.

Soah hanya terdiam. Dia masih enggan menjawab.

Imo tidak akan memaksamu untuk melanjutkan pernikahanmu dengan Chanyeol. Semua keputusan ada ditangannmu. Setidaknya kau sudah memenuhi permintaan terakhir ayahmu”, jelas wanita itu kembali.

Soah juga masih terdiam. Dia hanya menatap datar wanita itu. Wajahnya tanpa ekspresi. Karena itu, tidak ada yang bisa menyimpulkan apa yang sedang dirasakannya.

Imo pergi. Maafkan imo”, wanita itu mengusap pelan kepala Soah sebelum pergi melangkahkan kakinya.

Soah masih terdiam menatap punggung bibinya yang semakin menjauh. Dia memejamkan matanya beberapa kali. Mengambil nafas dalam beberapa kali. Mencoba menenangkan dirinya.

Dia tak sadar, jika seorang pria berdiri di balik dinding di belakangnya. Pria itu baru keluar dari toilet. Dia mendengarnya, meski tidak semua. Pria itu bermaksud mendekat, namun langkahnya terasa berat. Dia hanya bisa memandang punggung Soah yang masih berdiri dalam diam.

Tangan Soah terulur menyentuh dinding. Dia mencoba mencari pegangan. Tubuhnya terasa lemas. Berkali-kali dia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. Dia hanya bisa mengambil nafas dalam.

Dengan perlahan Soah mencoba berjalan. Langkahnya terlihat sempoyongan. Dia bahkan hampir terjatuh jika tidak berpegangan pada dinding.

Pria itu mengikuti langkah Soah. Dia hampir berlari saat melihat Soah hampir terjatuh, namun dia tahan. Dia tak ingin membuat gadis itu salah paham jika dirinya muncul begitu saja. Jadi, yang hanya bisa dilakukannya hanyalah mengikuti kemanapun gadis itu pergi.

Dia fikir jika gadis itu akan pergi dari perusahaannya. Namun dugaannya salah, gadis itu berbelok menuju ruang pemotretan. Dia dapat melihat jika gadis itu menarik nafas dalam sebelum memasuki ruang tersebut.

Pria itu kembali mengikuti Soah. Dia memang harus menyelesaikan sesi pemotretan untuk katalog perusahaan gadis tersebut. Setelah memasuki ruang itu, pandangannya tak lepas dari Soah. Gadis itu benar-benar luar biasa menurutnya. Dia bisa bersikap biasa, seolah tak terjadi sesuatu. Jika dia jadi gadis itu, pasti dia sudah melakukan hal-hal yang akan membuatnya melupakan kejadian tadi. Minum alkohol misalnya.

-o0o-

“Terima kasih untuk kerja kerasnya”, Soah menunduk hormat kepada para personil EXO. Ya, mereka telah menyelesaikan sesi pemotretan untuk katalog perusahannya.

“Iya”, jawab Suho sang leader.

“Kami permisi dulu, Kim daepyo”, ucap sang manajer.

“Iya. Hati-hati di jalan”, jawab Soah. Dia membalas salam hormat dari manajer EXO tersebut.

Para personil EXO tersebut berjalan meninggalkan Soah menuju mobil yang akan membawa mereka pergi dari tempat itu.

“Ai-chan”.

Soah yang sudah berbalik menoleh kembali. “Sudah berapa kali aku bilang untuk tidak memanggilku dengan nama itu”.

“Aku tidak mau”, jawab Sehun.

Soah hanya berdecak kesal. “Ada apa?”.

“Kau ada acara malam nanti?”.

“Sepertinya tidak”, jawab Soah.

“Sehun-ah ayo. Kita masih punya jadwal lain”, teriak salah seorang dari mereka. Para personil EXO yang lain memang sudah memasuki mobil.

“Iya hyung, sebentar”, jawan Sehun. “Aku akan menelfonmu nanti. Aku pergi dulu”. Dia mengacak pelan rambut Soah sebelum melangkah pergi.

Soah hanya membuang pasrah nafasnya melihat kepergian Sehun. “Sehun-ah”, teriaknya sebelum pria itu memasuki mobil.

Sehun menoleh. “Iya”.

“Hati-hati”.

Sehun tersenyum. “Eoh”, jawabnya. Dia juga melambaikan tangan pada Soah.

Pria itu masih mengawasi Soah dari kaca mobil. Gadis itu benar-benar pandai menyimpan masalah, pikirnya. Dia masih terus melihat, bahkan saat mobil yang ditumpanginya bergerak menjauh.

Soah masih berdiri mengamati mobil itu yang semakin menjauh. Dia berbalik ketika mobil itu sudah tak terlihat dipandangannya. Sekretarisnya masih berdiri di belakangnya. Dia berjalan pelan meninggalkan halaman perusahaannya. Namun, baru tiga langkah pandangannya mulai mengabur. Dia menggelengkan kepala mencoba memperjelas pandangannya. Nihil, kepalanya justru terasa sakit sekarang. Pandangannya juga semakin mengabur hingga semuanya menjadi gelap. Tubuhnya limbung jatuh ke tanah.

Daepyonim”, teriak sekretarisnya.

-o0o-

“Sehun-ah. Apa Kim daepyo sudah menikah?”, tanya pria itu.

“Ku rasa belum. Dia memang pernah bercanda soal menikah, tapi aku pikir itu memang hanya candaan”, jelas Sehun.

Pria itu mengangguk paham. Dia diam setelahnya. Menikmati perjalanannya menuju tempat tinggalnya.

“Apa menurutmu, Kim daepyo baik-baik saja”, ucap pria itu lagi setelah lama terdiam.

“Tentu saja. Dia masih ramah seperti biasa. Senyumnya juga masih manis seperti biasa”, jawab Sehun. “Kenapa memangnya?”.

“Aku pikir sebaliknya. Dia tak terlihat baik-baik saja”, ucap pria itu lagi.

Hyung, sejak kau kembali dari toilet kau terlihat aneh. Pandanganmu tak lepas dari Kim daepyo. Dan sekarang kau bahkan membicarakannya. Kau tidak benar-benar menyukainya kan?”, kini Kai yang bersuara.

“Jika aku membicarakannya bukan berarti aku menyukainya kan”, jawab pria itu.

“Semua berawal dari pembicaraan. Semakin sering kau membicarakannya, semakin besar pula kemungkinan kau menyukainya”, DO yang biasanya diam, kini ikut bersuara.

“Baekhyun-ah, kau baik-baik saja. Kau benar-benar terlihat aneh ya”, kini Chen yang bersuara.

“Aku baik-baik saja”, jawab pria itu.

Mereka diam setelahnya. Sibuk dengan dirinya masing-masing. Ya, setelah pemotretan yang mereka jalani mereka merasa sedikit lelah.

Pria itu mengamati Chanyeol yang diam sejak tadi. Lebih tepatnya sedang sibuk dengan ponselnya.

“Chanyeol-ah. Kau mengenal Kim daepyo”, pria itu kembali membuka suara.

“Emmh. Dia CEO dari Hera Fashion”, jelas Chanyeol. Dia masih sibuk dengan ponselnya.

“Maksudku, selain fakta jika dia CEO dari Hera Fashion”, jelas pria itu kembali.

“Emmh, aku sering ke rumahnya dulu”, ucap Chanyeol.

Mwo?”, ucap Sehun kaget. Pandangannya kini ia alihkan pada Chanyeol. Bukan hanya Sehun, para personil EXO yang lain juga menatapnya aneh.

Chanyeol mengedipkan matanya beberapa kali, melihat tatapan aneh dari rekan-rekannya. “Ayahnya teman baik ayahku”, ucapnya lagi. Namun pandangan aneh masih dia dapat. “Aku berteman baik dengan kakaknya”, ucapnya lagi.

“Jadi kau mengenal Hyunmin hyung, hyung”, tanya Sehun.

“Emmh”, ucap Chanyeol.

“Jadi, kau dekat dengannya”, pria itu masih bertanya.

“Tidak. Aku dekat dengan kakaknya bukan berarti dekat dengan adiknya juga kan. Lagipulan aku tak yakin apa dia masih mengingatku. Bukankah begitu, Sehun-ah”, ucap Chanyeol kembali.

“Iya. Soah bukan tipe gadis yang mau mengingat nama teman-teman kakaknya”, jelas Sehun.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”, Chanyeol kini kembali bersuara.

“Aku hanya berfikir jika kalian dekat”, ucap pria itu.

“Jawaban macam apa itu”, ucap Chanyeol kembali.

“Berapa banyak warga Korea yang bernama Chanyeol?”, tanya pria itu kembali.

Yak, Baekhyun-ah. Kau kenapa sebenarnya? Kau semakin aneh ya”, Chanyeol menggelengkan kepalanya. “Tentu saja yang bernama Chanyeol itu banyak. Bukan aku saja”, lanjutnya.

“Benar juga sih”, jawab pria itu pasrah pada akhirnya.

-o0o-

Soah membuka matanya setelah sekitar tiga jam tak sadarkan diri. Dia mencoba memperjelas pandangannya dengan memejamkannya beberapa kali. Rasanya asing melihat tempatnya terbaring sekarang. Ini bukan kamarnya, pikirnya. Dia bisa melihat selang infus menancap di tangan kirinya. Dia menghela nafasnya. Dia ada di rumah sakit sekarang.

Daepyonim, kau sudah sadar”, suara khas sekretarisnya menggema di ruang tersebut. “Syukurlah. Aku akan panggilkan dokter”, lanjutnya.

Tak lama setelahnya seorang dokter dan perawat datang. Dengan cekatan dokter tersebut memeriksa keadaan Soah. “Apa yang anda keluhkan nona?”, tanya dokter tersebut.

“Kepalaku pusing”, jawab Soah.

“Bagaimana keadaannya dokter?”, tanya sekretaris Min.

“Untuk malam ini biarkan dia istirahat disini. Besok, jika keadaannya sudah membaik dia bisa pulang”, jelas dokter tersebut. “Saya permisi dulu”, dokter itu menunduk memberi salam pada mereka.

“Iya. Terima kasih dokter”. Sekretaris Min menunduk hormat membalas salam dokter tersebut.

“Sebenarnya, aku kenapa?”, tanya Soah setelah mendengar pintu ruangan itu tertutup.

“Kelelahan karena stress. Sebenarnya apa yang anda bicarakan dengan hwejangnim?”, jelas sekretaris Min disertai pertanyaan. Raut wajahnya menggambarkan kekhawatiran.

Soah tersenyum miring. Dia menertawakan dirinya sendiri. Ini bukan kali pertama. Selalu seperti itu, jika dia punya masalah besar dan mencoba meyakinkan diri jika dia akan baik-baik saja tubuhnya bereaksi lain. Seolah tak kuat menanggungnya.

“Bukan apa-apa”, ucap Soah kemudian. “Kau tak memberitahu imo kan?”.

“Belum”.

“Jangan beritahu dia”.

“Iya”.

Soah membuang muka. “Kau juga tak memberitahu Chanyeol-ssi kan”, tanya Soah kembali.

Sekretaris Min menghela nafasnya. “Aku belum menghubungi siapapun setelah anda pingsan”, jelasnya.

“Syukurlah. Jangan beritahu siapapun”.

“Kau baik-baik saja”, tanya sekretaris Min.

Soah mengangguk. “Aku baik-baik saja”.

Sekretaris Min tersenyum mengejek. “Kau selalu berkata baik-baik saja. Tapi tubuhmu bereaksi lain”, protesnya tak terima dengan jawaban Soah.

Soah membuang muka. Dia hanya bisa mendesah pasrah. Memang benar yang dikatakan sekretarisnya.

Sekretaris Min beranjak. Dia memilih duduk di sofa.

Deringan ponsel terdengar menggema di ruang itu. Sekretaris Min mengambil ponsel yang tergeletak di meja. “Daepyonim, ponselmu berdering”, ucapnya sambil berjalan mendekat.

“Dari siapa?”.

“Sehun”.

“Bisakah kau mengangkatnya untukku. Jangan beritahu keadaanku. Bilang saja jika aku sudah tertidur karena kelelahan”.

“Iya”. Sekretaris Min melakukan apa yang diperintahkan Soah untuknya. Dia terpaksa harus berbohong demi kebaikan. Dia merasa bersalah saat mendengar nada kecewa dari orang yang tengah menghubungi bosnya. Dia meletakkan kembali ponsel tersebut. Bukan di meja, tapi dimasukan dalam kantung coat milik bosnya. Dia beranjak menuju kamar mandi.

Eonni”, panggil Soah setelah memastikan jika sekretarisnya sudah keluar dari kamar mandi.

“Iya, kau butuh sesuatu”, tanya Sekretaris Min. Dia beranjak mendekati Soah.

“Aku lapar”, ucap Saera sambil tersenyum.

Sekretaris Min ikut tersenyum. “Kau mau makan apa?”.

Soah tampak berfikir. Menimang sesuatu yang enak untuk mengisi perut kosongnya.

“Kau harus makan makanan yang bergizi. Tunggu ya, aku akan membelikannya untukmu. Jangan kemana-mana”, jelas Sekretaris Min. Dia mengambil coat dan tasnya sebelum meninggalkan ruang inap Soah.

“Hati-hati”, ucap Soah sebelum sekretarisnya menutup pintu. Dia mendesah pasrah. Mengalihkan pandangannya melihat pemandangan yang tersaji lewat jendela. Langit yang tadinya biru kini sudah berganti menjadi gelap.

Matanya terpejam. Dia mendengar suara-suara aneh. Tidak, dia bisa mendengarnya lagi. Nafasnya memburu. Pandangannya kosong.

Dengan cekatan di menarik selang infus dari tangannya. Berjalan meninggalkan ranjangnya. Menyambar coatnya. Berjalan kembali meninggalkan kamarnya. Dia berusaha menutupi telinganya, namun suara-suara aneh itu masih memenuhi pendengarannya.

Dia berjalan tak tentu arah. Tetesan darah juga mengalir dari tangannya akibat selang infus yang ditarik paksa olehnya. Dia seperti orang linglung. Tak disangka jika kini dia sudah berada di jalan depan rumah sakit.

“Taksi”, panggilnya kala melihat taksi melaju ke arahnya.

Nafas Soah masih memburu saat dia masuk dalam taksi tersebut.

Aghassi, anda baik-baik saja”, tanya sang supir.

Soah mengangguk, meski keadaannya berbanding terbalik. “Paradise Hotel”, ucapnya kemudian.

“Iya”, sang supir melajukan taksinya meski tak yakin.

Soah kembali berjalan linglung memasuki area hotel tersebut. Sepanjang perjalannya dia mendapat tatapan aneh. Bagaimana tidak, dia masih memakai pakaian khas pasien rumah sakit. Dan lihatlah penampilannya, terlihat seperti pasien yang kabur dari rumah sakit.

Dia memencet tombol salah satu kamar hotel tersebut. Nafasnya masih memburu. Pandangannya juga masih terlihat kosong.

Seorang pria jakung membuka pintu kamar tersebut. “Aiko”, ucapnya melihat Soah berdiri mematung di depan kamarnya.

Tanpa ba bi bu, Soah memeluk erat pria itu. “Jack. Aku takut”, ucapnya disela-sela pelukannya.

Pria itu bisa merasakan tubuh bergetar Soah. Nafas gadis itu juga memburu. Keringat dingin juga keluar daru tubuh gadis itu. Dia membulatkan matanya. Mencoba mencerna situasi yang dialaminya. “Aiko, kau mendengar suara itu lagi?”, tanyanya.

Soah yang masih memeluk pria itu mengangguk. Nafasnya masih memburu.

“Masuklah”, pria itu berjalan pelan mengajak Soah memasuki kamarnya.

to be continue……..

Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.

Untuk chapter selanjutnya aku password. Karena ada beberapa hal yang memang harus diprivasi. Jika kalian ingin mendapatkan passwordnya pastikan kalian memenuhi syaratnya.

Bagaimana mendapat passwordnya?

  • Pastikan kalian meninggalkan komentar di setiap chapter sebelumnya. Tidak semua tidak apa-apa sih, minimal separo dari chapter yang sudah terbit. Karena ini sudah sampai chapter sembilan, jadi pastikan kalian meninggalkan komentar minimal di lima chapter berbeda.
  • Invite pin BB ku:       DBE4D675
  • Minta saja disana, jangan lupa sertakan id komentar kalian.

Maaf agak ribet. Ini untuk memastikan kalian adalah pembaca setia ffku.

See you next time.

Dan terima kasih sudah setia menemani perjalananku menulis ff ini.

38 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 9)”

  1. Aku kira soah sukanya sama sehun ternyata dia sukanya sama jack bahkan hampir menikah, kapan soah mulai suka dengan chanyeol

  2. suara2 aneh yg dimaksud itu apa ya thor? Jadi penasaran
    Oia thor, aku gapunya bbm jadi aku add line author aja ya buat minta passwordnya 🙏
    Gasabar pengen baca next chap, buat author semangat terus ya nulisnya 😊

    1. Tunggu saja next chapter….
      Id line ku ganti ya, karena hp ku eror, jadi aq buat lagi…
      Ini id-nya: @tari_dwi23

      Terima Kasih banyak ya…. 😁😁😁

  3. ehm maaf ya author klo aku minta password nya dari WA gimana soalnya semua akun aku lg bermasalah semua,author kirim aja ke WA aku 082214953671.kalo boleh sih..:)

  4. Hai” ketemu lg, seneng deh ternyata km bales setiap komen dr readers, emmm jd terharu akunya. Oh ya aku gak ada BBM, lewat fb bisa ..?
    Udah ah segitu aja takut km bosen bacanya:D:D hehe…
    Ok makasih buat chap 9 nya, semangat terus..

    1. Aku memang selalu berusaha untuk membalas setiap komentar yg reader tulis….
      Seneng aja, karena itu tandanya mereka menghargai karyaku…. Jadi aq selalu berusaha balas meski kadang aq hanya bales emoji,

      Aq jg ada fb kok: Siti Dwi Lestari (lestarigirls75@yahoo.co. id)

      Nyarinya pakai e-mailnya aja biar ketemu, soalnya namaku pasaran, jd banyak yg namanya itu…….

      Terima kasih ya…..
      Fighthing…. 💪💪💪

  5. Untuk para reader semua, maaf ya… BBM ku yg itu error, kalau mau dpt password bisa lewat akunku yg lain….

    E-mail: lestaridwi8395@gmail.com
    Line: @tari_dwi22
    IG: @tari_dwi22

    Ini pinku yg baru: DB698F1
    Terima kasih sudah jd reader setia…. 😘😘😘

  6. ahh…. sbnrnya apa yg telah terjadi dgn Soah. apakah soah punya sebuah trauma?
    ahh eonni. semakin kesini semakin bikin penasaran..

  7. Ada apa dengan masa lalu Soah..? Jack adalah dokter pribadinya Soah dulu sekaligus mantan pacarnya (Soah),, lantas apakah alasan bibinya hanya karena kenangan masa lalu..? Atau ada suatu hal yang lain.. Apa yang sebenarnya dialami Soah terdahulu..? Bagaimana sikap Baekhyun setelah dia tidak sengaja mendengar pembicaraan Soah dan Bibinya..? Lantas Chanyeol..? Apakah baik2 saja..?

    1. Sampai bingung mau jawab apa….
      Ditunggu saja di cahpter selanjutnya, pasti bakalan terjawab deh……
      😁😁😁

      Terima kasih banyak….

  8. Jd yg denger pembicaraan soah sama imo.y itu baekhyun.Aku kira chanyeol.Dan kaya’ny baekhyun agak curiga deh ama chan.Gimana reaksi baek klw tau chan udah nikah ya? Terus soah itu sakit ap sih.Penasaran jd.y.D tunggu next chap.y ya fighting 😊
    Aku nggak pake BBM, jd cara dapetin password.y gimana dong?

    1. Iya itu emang abang Baek…. Kita lihat saja nanti gimana reaksinya….
      Kalau nanya apa penyakit Soah, next chapter bakalan terjawab….

      Kalau mau dpt password, aq ada line, idnya: @tari_dwi22
      IG jg ada: @tari_dwi22
      E-mail jg boleh: lestaridwi8395@gmail.com

      Ditunggu saja….
      Terima kasih banyak…..

  9. Yg denger pembicaraan soah sama bibinya itu baekhyun pantes ceye b aja pas bibinya ngomong klo soah mau tidak meneruskan pernikahannya gpp….
    Bibinya juga punya gangguan psikologis yaaa???

    1. Iya, itu memang abang Baek…..

      Bibi Soah baik-baik aja kok, cuman kan dia saking cintanya ma tu dokter… Jadi dia bakalan lakuin apapun buat dapetin tu orang……
      Ditunggu saja ya….
      Terima kasih banyak……

  10. Ini mah namany cinta sedemikian rupa..nambah aja lagi co nya..kurang kah dikasih yeol n sehun??mesti gtu dtambah si cabe lgi…bagi2 lah buat yg lain thor…mubajir mreka dikasih k so ah smua hahahahhahahahahahaha
    Kirain td yg keluar dr wc t yeol trnyata cabe..mw blg cabe suka tp msh diawal bgt..blg tertarik mngkin lbh bner yaa??hihihihi
    Etapi si soah emg pernah dirawat sma psikiater gt kah?jd s jack it dokter apa??

    1. Semuanya masih abu-abu kan….
      Untuk yang nanya siapa jack, bakalan terjawab di next chapter……..
      Ditunggu saja……
      Terima kasih……

  11. jdi jack ini dokternya soah?? kayanya dokter psikologi yak?? soah emang sakit apa?
    jadi yg merhatiin itu baekhyun, kirain chanyeol,pantes chan sibuk sndri…yahh ketahuan deh
    kalo gk pake BBM gimana? WA bisa? ato DM??
    yahh alamat gk tahu password ini

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s