[Twelveblossom] Dear Husband: I’m Okay Even It’s Hurt

20180222_130634_0001

Twelveblossom (Twelveblossom.wordpress.com) | Sehun, Nara, Liv, dan Chanyeol | Romance, Marriage Life & Friendship | Wattpad: twelveblossom | Line@ @NYC8880L

Previous:

The day When I Meet You –  Taken By The Past – Marriage Scenario – Somtimes He’s Angel – The Way I Love You

“I’m missing you, even if you hate me. I don’t wanna just a memory to you.” –Missing U, Lee Hi

 

-oOo-

Nara benar-benar membenci Sehun. Pria yang selisih usianya terpaut dua belas tahun itu mengombang-ambingkan Nara. Kini Nara serupa menaiki perahu yang terkena ombak dari berbagai sisi, membuatnya pusing. Lebih gawatnya lagi, Nara tak tahu sampai kapan dia terjebak dalam lautan luas yang disebut urusan percintaan.

Setiap hari selama sepekan belakang ini, si gadis mengutuk Sehun dan kepergian pria itu ke London. Setelah mencium Nara, Sehun tak melakukan ganti rugi yang berarti. Sehun pergi begitu saja meninggalkan Nara yang membeku serupa bongkahan esbahkan Nara terancam meleleh sebab seluruh badanya panas. Rupanya, hanya dunia Nara yang jungkir balik. Sehun nyatanya kelihatan baik-baik saja di sanawell, meskipun Nara sama sekali tak mendengar kabar soal dirinya.

Nara malah terjebak di Seoul bersama Daniel yang tampaknya hanya berminat pada kucing. Daniel pun  menemui Nara hampir setiap hari dengan membawa topik yang sama soal kucingnya minta dicarikan jodoh. Nara kesal sekali, ia merasa mempunyai profesi baru sebagai konsultan percintaan kucing.

“Kang Daniel, bisa tidak kau membicarakan yang lain?” Nara memotong penjelasan Daniel mengenai silsilah keluarga kucing-kucingnya. “Apa kau benar-benar tak punya pekerjaan yang membuatmu sibuk? Setiap siang kau datang ke kantorku membawakan makanan,” keluh Nara.

Daniel tersenyum lebar. Ia menyeruput milkshake cokelatnya sebelum menjawab Nara. “Aku suka lobi kantormu yang luas dan datang ke sini adalah salah satu pekerjaanku. Noona, wajahmu tampak murung. Banyak kerutan di dahimu.”

Nara menghela napas panjang. Ia menyentuh parasnya. “Benarkah? Aku stress akhir-akhir ini. Mungkin karena Liv dan Chanyeol sudah kembali dari bulan madu. Aku sering sekali memergoki mereka sedang bercengkerama. Apa ini resiko tinggal bersama pengantin baru?” oceh Nara.

Daniel mengangguk. “Mungkin itu bisa jadi salah satu penyebabnya,” timpal pemuda yang kini mengenakan setelan jas hitam. “Apa kau tidak berencana pindah?” sambung Daniel.

Nara menggeser duduknya. Ia merapikan dress abu-abu selutut itu. “Aku ingin sekali pindah, tapi kau tahu diriku punya banyak kelemahan. Aku tidak dapat berada di ruangan gelap karena bisa membuatku terkena serangan jantung.” Ia mengetuk dagu.

Daniel berdeham. “Aku tahu tempat yang tak pernah gelap.”

“Mana ada yang seperti itu? Kalau listriknya mati bagaimana

Apartemen Hyung yang berada di dekat The Evenue Park memiliki pengaturan yang membuat lampu-lampunya menyala bahkan saat mati listrik,” potong Daniel.

Nara memutar bola mata. “Tolong jangan sebut nama laki-laki itu,” dia memperingatkan.

“Kenapa? Apa karena kau merindukannya?” Daniel bertanya jahil, senyum miring pun muncul pada wajahnya.

“Rindu? Yang benar saja, bahkan aku sudah lupa padanya,” Nara menyahut dengan sengit.

Daniel mendengus. “Benarkah? Kalau begitu syukurlah

Kenapa? Apa dia sudah lupa padaku?” Nara menimpali. Ia mengerucutkan bibir. “Apa dia berkencan dengan gadis Inggris yang lebih cantik dariku?”

“Memangnya kenapa kalau dia berkencan? Kau kan tidak merindukannya,” ujar Daniel yang langsung membuat Nara menelan kembali bantahannya. Daniel tertawa melihat Nara yang kini terlihat salah tingkah.

“Aku tidak merindukannya. Aku hanya simpati padanya sebab dia sudah menolongku dua kali.”

“Baiklah, anggap saja aku pura-pura percaya karena jam makan siangmu sudah hampir habis,” Daniel berucap, dia melihat arlojinya. Pemuda itu berdiri. “Sampai jumpa, Noona. Oh ya, kemarin Sehun hyung telepon. Dia berkata, kabar Park Ryujinadikmu dan ibumu baik-baik saja,” tutup Daniel sambil pergi dan melambaikan tangan pada Nara.

Nara tertegun sebentar, pikirannya sedang memperoses hal yang baru saja dikatan oleh Daniel. Apa Sehun bertemu keluargaku? Apa dia tidak ke London? Batin Nara bertanya-tanya.

Nara tidak tahu apa yang dilihatnya nyata atau tidak. Wanita yang selama ini dirindukan ada di sanaduduk di ruang tamu Keluarga Parkmengenakan gaun selutut berwarna hitam. Nara memang telah belasan tahun tak bertemu dengan sang ibu, kendati demikian paras Han Haera yang mulai menua tidak membuat putrinya lupa.

Nara mempercepat langkahnya menuju mereka. Chanyeol dan ibunya duduk sembari membicarakan sesuatu yang serius. Mereka bahkan baru menyadari kehadiran Nara saat si gadis berada di samping kursi Chanyeol.

“Ibu,” bibir Nara berucap pelan membuat wanita berusia pertengahan lima puluhan itu mendongak. Ada raut terkejut di sana, namun segera sang ibu mengubahnya menjadi ekspresi dingin.

“Jung Nara, kau sudah pulang,” Chanyeol menepuk tempat duduk di sebelahnya. Pria yang beberapa hari lalu baru kembali dari bulan madunya itu menarik Nara.

Nara melepaskan pegangan Chanyeol dengan sedikit kasar. “Ibu, kenapa baru datang sekarang?” tanya Nara, gadis itu menahan airmatanya sebab ia enggan menangis. “Ini sudah hampir empat belas tahun. Aku merindukanmu,” Nara melanjutkan. Gadis itu hendak mendekati ibunya, namun Han Haera tidak memberikan raut hangat.

“Jangan merengek seperti anak kecil, Jung Nara,” ujar HaeraIbu Nara, tangannya menyerahkan dokumen. “Aku ke sini karena terpaksa harus membujukmu menikah. Lakukan apa saja yang tertulis pada dokumen itu, jika kau memang putriku dan apabila ingin membuatku dan Ryujin tenang. Hanya dengan menuruti keputusan dewan perusahaan, mereka tidak akan lagi mengganggu keluarga kita,” jelas Haera. Wanita itu sangat pintar menyembunyikan perasaan, bahkan dirinya enggan menunjukkan rasa sayang ataupun rindu pada putrinya yang sudah lama tak bertemu dengannya.

“Ibu, kita akan membicarakan ini pelan-pelan,” bujuk Chanyeol. “Nara duduklah dulu, dengarkan baik-baik,” imbuh Chanyeol.

“Bagaimana bisa aku hanya mendengarkan? Wanita ini datang setelah sekian lama hanya agar aku menuruti perkataannya,” kata Nara.

“Aku harus menyelesaikan semuanya hari ini juga karena Ryujin tidak dapat ditinggalkan terlalu lama,” timpal Haera.

“Semua demi Ryujin,” Nara tertawa hambar. “Kau menjadikan Ryujin sebagai alasan. Ryujin bahkan sangat sehat. Apa Ibu juga tidak ingin mempertemukan aku dengan adikku? Aku sudah kehilangan Ahra

Hentikan jangan membicarakannya,” potong Haera. Dia berusaha menarik napas menenangkan emosinya sebab nama putri pertamanya selalu menjadi pisau yang tajam bagi dirinya.

“Apa aku yang menjadi penyebab Ahra meninggalkan kita? Apa aku membunuh Ahra sehingga ibu tidak ingin bertemu diriku lagi?” Nara mulai emosional, satu-persatu airmatanya turun membasahi paras cantiknya. “Maafkan aku karena terlahir sakit. Maafkan aku karena menerima jantung Ahra. Maafkan aku karena tidak mengingat kejadian saat itu. Tapi, tolong jangan menghilang lagi, Ibu. Aku sangat-sangat merindukanmu.” Nara mendekati Haera, gadis itu berlutut di hadapan ibunya. Jari-Jari Nara menggenggam tangan Haera.

Pada akhirnya, pertahan itu runtuh.

Mata Haera mulai berkaca-kaca.

Kendati demikian, keinginan Haera untuk menjalani hukumannya lebih kuat. Haera memalingkan wajah. Ia menepis tangan putrinya kasar. “Aku tidak bisa di sini terlalu lama, Chanyeol. Buat adikmu menyetujui  hal-hal yang ada di dokumen itu. Jika dia merasa bersalah, gantikan Ahra untuk menikahi Sehun,” ucap Haera, lalu begitu saja meninggalkan Nara yang tersedu.

“Nara jangan murung lagi. Apa kau tidak bangun waktunya pergi ke kantor?” ucap Chanyeol pada pagi berikutnya. Pria itu beberapa kali mengetuk kamar Nara, namun tidak ada jawaban. Ia menggunakan kunci duplikat untuk membuka kamar tidur sang adik karena Chanyeol cemas dengan keadaan Nara.

Chanyeol duduk di sudut ranjang, meletakkan gelas susu yang dibawanya di nakas. Ia menatap punggung Nara. Adiknya itu membelakangi Chanyeol. Si pria membelai surai Nara lembut. Demi apa pun pemuda itu enggan melihat Nara yang berduka.

“Ibu sebenarnya juga merindukan dirimu, tapi dia masih belum dapat memaafkan dirinya sendiri,” Chanyeol berujar. “Jangan terlalu sedih. Kau harus lebih sabar lagi menunggunya,” imbuh pria itu.

“Aku lelah sekali, Chanyeol,” gumam Nara. “Aku ingin ibuku. Ambil jantung Ahra lagi, tapi kembalikan ibuku padaku,” katanya.

Chanyeol meraup wajah ketika mendengarkan ucapan adiknya. Chanyeol sedih mendengar Nara mengatakan itu. “Hei, jangan bicara seperti itu lagi.” Chanyeol menarik napas dalam-dalam. “Ibu menyalahkan dirinya sendiri karena pada saat kecelakaan itu terjadi, Ahra sebenarnya belum meninggal. Ahra mati otak. Namun, dokter menjelaskan, jika jantung Ahra berhenti terlebih dahulu sebelum transplantasidia tidak dapat meberikannya padamu,” jelas Chanyeol.

Nara membalik tubuhnya. “Apa ibu mengijinkan dokter untuk membunuh Ahra?”

“Bukan membunuh Nara. Tak ada harapan utuk Ahra ketika itu

Seharusnya mereka menunggu. A-aku tidak pantas sembuh karena kematian orang lain,” Nara terduduk ia menangis hingga tersedu-sedu. Gadis itu memegangi dadanya yang nyeri. Napasnya semakin tersengal.

Chanyeol panik. Ia merangkum paras Nara. “Nara tenangkan dirimu. Okay? Semuanya baik-baik saja. Bernapas Nara,” ujar Chanyeol sembari menelepon asistennya untuk membantunya membawa Nara ke rumah sakit.

“Bagaimana keadaanya?” Daniel bertanya pada Chanyeol. Mereka berada di depan ruang inap Nara. Daniel segera menuju rumah sakit setelah mendapatkan kabar dari Liv.

“Dia sudah tenang. Dokter mengatakan jika Nara terlalu stres,” jawab Chanyeol kepada Daniel.

“Aku sudah mengabari Sehun hyung. Dia akan tiba di Seoul besok.” Daniel memberikan jeda. “Beberapa minggu lalu, Nara sempat mengalami serangan jantung ringan saat menginap di apartemen Ahra.”

Chanyeol mengernyitkan alis. “Kenapa Sehun tidak bilang lebih awal?”

“Nara yang melarang. Dia tidak ingin merusak bulan madumu.”

“Berengsek,” umpat Chanyeol. “Nara tidak boleh terkena serangan jantung lebih dari dua kali dalam satu bulan,” jelas pria itu. Chanyeol terburu-buru menuju ruang dokter yang menangani Nara.

Sehun mengawasi gadis yang kini terbaring lemah di ranjang pasien. Pria itu tampak kacau. Ia baru saja datang dari London setelah berada di pesawat selama belasan jam. Semua yang terjadi sesuai prediksinya. Kedatangan Han Haera yang tiba-tiba di hadapan Nara akan membawa dampak yang besar. Namun, sesuatu yang tak dapat diperkirakan sebelumnya justru menyerang Sehun. Perasaan khawatir yang ia dapatkan menghantam Sehun begitu keras hingga membuatnya tak dapat berpikir jernih.

Sehun justru masuk dalam perangkap yang ia racik sendiri. Netra pria itu seolah melihat Ahra yang sedang kesakitan dan Nara yang terbaring lemah, dua senjata yang cukup memberikan kegundahan pada Sehun.Namun, bukan Sehun namanya apabila dia tidak mampu menunjukkan raut datar seolah Nara bukan urusannya.

“Kau masih punya nyali untuk berdiri di sini, Oh Sehun,” kata Chanyeol yang baru memasuki ruang inap Nara. Chanyeol enggan menyembunyikan amarah yang sudah tersulut sejak adiknya terbaring tak berdaya. “Aku tahu Haera datang ke mari bukan tanpa sebab. Kau yang mengancamnya,” lanjut Chanyeol. Ia menyengkram bahu Sehun membuat sahabat karibnya tersebut berbalik. Tanpa menunggu aba-aba, Chanyeol melayangkan pukulan pada Sehun.

Sehun menerima pukulan tersebut tanpa melawan. Ia mundur beberapa langkah. Pria itu menghapus darah yang keluar dari ujung bibirnya.

“Aku mengijinkanmu mendekati Nara karena percaya padamuaku yakin kau akan melindunginya seperti caramu melakukannya pada Ahra. Tapi kau justru merencanakan semuanya. Kau membawa Nara ke tempat Ahra. Kau sengaja membangkitkan kenangan Ahra pada diri Nara.”

“Kau memintaku mencintai Nara,” balas Sehun datar. “Aku sudah melakukannya.” Ia menatap Chanyeol.

Chanyeol meraih kerah kemeja Sehun. “Sekali lagi kau membuatnya sakit. Aku akan benar-benar melenyapkanmu,” ancam Chanyeol.

“Astaga, kenapa kalian bertengkar di sini?” sergah Liv yang sangat terkejut melihat pemandangan tersebut. Ia baru saja menemui dokter untuk mendengarkan hasil pemeriksaan Nara. “Ada orang sakit, kalian malah berisik,” timpal Liv, Ia berusaha melepaskan cengkraman Chanyeol pada kerah Sehun.

Chanyeol mengatur napas. Ia menatap Liv beberapa sekon, memberikan pesan yang hanya dimengerti pasangannya. Chanyeol keluar dari ruang inap itu menyisakan Liv dan Sehun.

“Chanyeol sedang dalam keadaan tertekan karena melihat Nara sakit. Kau tahu dia sangat menyayangi adiknya. Maaf Sehun,” kata Liv.  Wanita itu mendekat ke arah Sehun yang kembali sibuk menatap Nara. “Kau masih melihat Ahra dalam diri gadis itu bukan?” Tak ada jawaban dari Sehun, kemudian Liv pun melanjutkan, “Mereka sangat berbeda Sehun. Aku tahu kau belum melupakan Ahra. Tapi, bisakah kau menjaga Nara? Karena jantung Ahra berdetak di dalam raga Nara. Kalian ditakdirkan untuk bersama, tolong buat dia bahagia ketika kalian menikah nanti.”

“Aku tidak akan menikahi Nara karena perjanjian keluarga kami, Liv. Aku akan menikah dengannya saat Nara memintaku bertindak demikian. Aku enggan memaksakan kehendakku pada gadis ini lagi,” jawab Sehun menutup percakapan mereka malam itu.

“Kang Daniel,” bibir pucat Nara mengucapkan nama itu saat ia sadar. Ia pelan-pelan menangkap siluet pemuda yang kini tertidur di kursi samping ranjangnya. Kepalanya masih sedikit pusing ketika pemilik nama yang ia panggil tadi terbangun.

Nyawa Daniel memang masih baru terkumpul separuh, saat ia mendengar suara yang dinantikannya terdengar. Daniel segera menegakkan tubuh. Ia tersenyum lega melihat Nara membuka mata. “Noona, kau siuman. Sebentar aku panggil dokter dulu,” ujar Daniel tergesa.

“Mana kakakku?” tanya Nara mencegah Daniel yang sudah siap berlari.

“Chanyeol hyung harus ke kantor dia sudah membolos empat hari untuk menjagamu,” balas Daniel kemudian meluncur ke luar ruangan.

Nara tertegun sejenak. Berarti empat hari lamanya ia dirawat di rumah sakit.

Apa Sehun sudah mendegar kalau aku sakit? benak Nara mengoarkan pertanyaan. Ia berharap jika Sehun berada di sini untuk menegoknya atau mengkhawatirnya barang sebentar saja.

Malam harinya tepat jam tujuh malam, Chanyeol mengunjungi Nara. Pria itu membawakan buket mawar merah kesukaan adiknya. Ia juga tak lupa membelikan boneka beruang cokelat yang tingginya satu meter. Dua hadiah itu langsung mendapatkan cengiran dari Nara yang waktu itu sedang berjuang menghabiskan makan malamnya. Liv tak kalah heboh memberikan hadiah lima pasang piama tiduryang bertujuan agar Nara tidak bosan memakai baju rumah sakit. Sementara Daniel pulang ke apartemennya sebab ia sudah dua malam tidur di kamar inap Nara.

“Aku kasihan pada Daniel, dia pasti bosan sekali menjagaku seharian,” kata Nara pada Liv yang kini membantu Nara mengupas jeruk.

Liv melejitkan bahu. “Dia senang melakukan itu katanya kau meningatkannya pada anak kucing yang sedang sakit.”

Nara mengangguk, menurutnya alasan Daniel lumayan masuk akal. Toh pemuda itu memang sangat menyukai hewan berbulu tersebut. “Liv, apa tidak ada orang yang menjengukku selain kau dan Chanyeol?” tanya Nara ragu. Ia berharap Liv menyebut nama Sehun.

“Ada, teman kantor kita. Lihat ada banyak bingkisan di sana semuanya dari mereka,” jawab Liv. Ia menyuapkan potongan jeruk pada Nara.

“Selain itu?”

Liv enggan langsung menjawab, ia mencuri pandang pada Chanyeol yang duduk di kursi tengah ruangan tampaknya pria itu membawa pekerjaan ke rumah sakit. “Mungkin kau ingat, Park Chanyeol siapa saja yang datang?” ucap Liv pada akhirnya.

“Tidak ada yang lain,” timpal Chanyeol datar.

“Baiklah,” kata Nara kecewa. Ia merebahkan kembali tubuhnya ke ranjang, menarik selimut. “Aku ingin tidur, kalian bisa pulang sekarang,” lanjut Nara.

“Kami akan menginap di sini, Nara,” sergah Liv.

“Jangan, aku tidak ingin merepotkan kalian, pulanglah.”

Chanyeol yang dapat menangkap nada sedih si adik pun segera bangkit menuju ranjang Nara. Pria itu membelai surai Nara. “Kau tidak pernah merepotkan, Nara. Kita keluarga, tak ada hal seperti itu,” rayu Chanyeol. Ia menghela napas panjang, berusaha sabar ketika mendengar suara parau Nara. “Apa kau menginginkan Sehun berada di sini?” tebak Chanyeol.

Awalnya Nara enggan merespons tapi nama dari pria itu sanggup membuat Nara berdebar. “Apa dia sama sekali tidak menanyakan kabarku?” tanya Nara.

“Apa kau merindukannya?” Chanyeol membalikkan pertanyaan.

Nara terdiam.

“Apa kau mulai mencintainya, Jung Nara?” tanya Chanyeol, setelah tak mendapatkan jawaban dari Nara. “Apa kau sadar, rasa sakit seperti apa yang akan kau dapatkan jika bersama Sehun?” Chanyeol mengimbuhkan.

“Park Chanyeol, jangan sekarang,” sela Liv.

“Dia tidak akan pernah benar-benar mencintaimu sebesar yang kau berikan padanya. Apa kau siap bersama pria yang hanya dapat kau miliki raganya namun tidak dengan hatinya seumur hidupmu, Jung Nara?” Chanyeol tetap melanjutkan tanpa mendengar peringatan Liv.

Nara membuang muka. Bahkan Nara sungguh tidak peduli dengan segalanya apabila itu menyangkut Sehun. Nara tak dapat memilih dengan siapa ia jatuh cinta. Andai saja Nara bisa mengendalikan hatinya, tentu saja ia memilih untuk pergi dan menjaga dirinya dari rasa sakit akibat luka itu. Akan tetapi, Nara telah terlalu dalam terjatuh. Ia tak sanggup mundur dan kembali.

“Jika kau sudah siap menerima segala resikonya, aku hanya dapat menjadi penonton. Jangan pernah menyesal dengan pilihanmu,” kata Chanyeol. Ia membelai puncak kepala Nara lalu mengecupnya. “Aku sudah mengenal Sehun hampir seumur hidupku. Dia bukanlah pria yang jahat. Sehun ialah pria yang kehilangan gadisseseorang yang menjadi pusat dunianya.”

Nara bangun dari tidurnya. Ia memeluk Chanyeol. “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Aku hanya punya kau dan Liv di dunia ini,” ucap Nara tanpa mampu membendung airmatanya.

-oOo-

a/n:

Terma kasih sudah membaca. :D. Cerita selanjutnya dapat dibaca di sini >>>  If You Were Me

n/b:

Kalian juga dapat membaca ceritaku melalui akun Wattpad usernamenya Twelveblossom atau add Line@: @NYC8880L (menggunakan @)

Iklan

Satu respons untuk “[Twelveblossom] Dear Husband: I’m Okay Even It’s Hurt

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s