Le Dernier Arret [Chapter 6]

LDA

Le Dernier Arret

Minseok / Sehun / Reen / Runa

AU / lil!Comedy / Fantasy / Friendship / Romance / Sad / Teen

anneandreas & l18hee

We own the plot and OC

.

.

Hanya manusia kolot yang tidak sadar jika vampir benar-benar ada di sekitar mereka

.

⇓ PREVIOUS ⇓

Teaser – Chapter 1 – Chapter 2 Chapter 3 Side Story 1 “Ahn Chi” [1/2] – Side Story 1 “Ahn Chi” [2/2]Chapter 4 Chapter 5

.

= Chapter 6 =

.

.

Yang Chanyeol lihat selanjutnya adalah Runa yang menarik tangan Reen untuk menjauh. Meninggalkan dirinya yang mengacak rambut setengah frustasi, menggumam umpat dalam hati.

“Park Chanyeol, apa yang kau lakukan?!”

-0-

Deru napas Runa masih menggebu, bahkan ketika dirinya dan Reen sudah berjalan jauh meninggalkan Chanyeol yang tampak setengah frustasi. Runa baru mau berhenti ketika Reen menghentakkan tangannya seolah memberi kode agar keduanya menghentikan langkah.

“Maaf, sungguh,” gumam Reen pelan sementara Runa masih mengatur napas.

“Seharusnya aku tidak mengikutimu, seharusnya aku….” lanjut Reen terbata.

“Seharusnya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri dulu, baru meminta maaf padaku,” potong Runa lalu kembali menggandeng tangan Reen, mengajak gadis tersebut untuk berteduh di bawah pohon tidak jauh dari sana.

Kalimat Runa membuat Reen bungkam dan menunduk, namun ia patuh mengikuti. Dia merasa kesal dan malu pada dirinya sendiri. Seharusnya ia membiarkan saja karibnya itu pergi, seharusnya ia tidak terlalu mencampuri urusan pribadi Runa alih-alih alasan peduli. Sementara Runa mengambil losion dari dalam tasnya lalu mengusapnya lembut ke permukaan kulit Reen yang sudah merah layaknya terbakar, Reen sedang berusaha keras untuk menahan air matanya tidak tumpah.

“Lain kali jangan lupa memakai losion.” Kalimat dari Runa yang bermaksud memecahkan kebisuan itu membuat rasa sesak di dada Reen memuncak dan akhirnya sebuah isakan pelan keluar dari bibirnya, lengkap dengan air mata yang bercucuran. “Runa… ma… af..” disela isak tangisnya Reen mengucap, membuat air matanya menular pada si karib yang langsung memeluknya erat. “Jangan minta maaf, Reen bodoh.”

“Kau yang bodoh. Kenapa merelakan perasaanmu pada manusia itu demi aku. Bodoh.” sahut Reen membalas sama eratnya pelukan dari si karib.

Sekon-sekon berikutnya masih berlanjut dengan kedua karib itu saling menangis dalam pelukan, ketika keduanya telah merasa lega Runa yang lebih dulu melepas pelukan, mengusap air matanya kasar lalu tertawa, “Kita sama-sama bodoh, ya?” ucapnya membuat Reen ikut tertawa sambil mengangguk.

-0-

Chanyeol berjalan terburu di sepanjang koridor sekolah yang mengarah ke ruang laboratorium. Apalagi tujuannya selain bertemu dengan Junmyeon? Sejak kejadian losion sialan di akhir Minggu itu, kepala Chanyeol rasanya tak berhenti memikirkan cara untuk membuktikan kevampiran Reen, atau makhluk apa pun ia sebenarnya, yang pasti Chanyeol sudah sangat yakin bahwa Reen bukan manusia seperti dirinya. Terlebih kemarin, ketika Chanyeol diam-diam mengikuti Reen dengan kulit lengannya yang setengah terbakar dan Runa yang mengumpatnya lalu pergi begitu saja, Chanyeol melihat Runa mengoleskan losion sialan itu ke lengan Reen lalu mereka berdua menangis sambil berpelukan cukup lama. Entah apa yang merasuki Chanyeol sehingga dirinya sangat meyakini ada sesuatu di balik losion sialan dan kulit lengan yang nyaris terbakar akibat paparan sinar matahari itu, dan ia berharap dapat menemukan jawabannya lewat Junmyeon.

Sementara Chanyeol sedang berjalan tergesa ke arah laboratorium, Reen yang berada di dalam kelas sedang duduk termangu sambil menggenggam dua kotak jus di tangannya. Runa hari ini absent karena dirinya harus pergi ke kantor pusat, vampir bungsu itu memang memiliki tanggung jawab yang besar di balik tubuh mungil dan suara cerianya. Sedangkan Minseok–empunya salah satu kotak jus yang ia genggam saat ini–sedang mengurus surat-surat persiapan ujian kelulusan yang akan diikutinya di akhir tahun ajaran nanti.

Setelah menghabiskan beberapa sekon termangu cuma-cuma, akhirnya Reen memutuskan untuk pergi duduk di kursi taman belakang sekolah. Ah, sebelumnya ia telah mengirim pesan singkat pada Minseok untuk segera menyusulnya setelah laki-laki itu menyelesaikan segala urusan surat-menyurat khas manusia yang menyusahkan itu.

.

.

.

Taman kecil dengan pohon di tengahnya dan barisan kursi dari semen yang terletak di belakang sekolah ini memang menjadi salah satu tempat paling sepi di sekolah, Reen menerka alasannya karena taman ini terletak di belakang ruang laboratorium yang berada di ujung koridor. Singkatnya, taman ini cukup jauh dijangkau meskipun masih dalam lingkungan sekolah.

Reen mulai duduk di salah satu kursi semen tersebut, menatap pohon dan membelakangi pintu kaca yang menghubungkan taman ini dengan koridor laborat. Sejenak menunggu Minseok membuatnya bosan, jadi ia berusaha menelepon Runa–namun tidak diangkat. Kemudian Reen mendengar suara langkah–sepertinya lebih dari satu orang, kemudian diikuti pintu kaca yang terbuka.

“Kau di sini rupanya, hobae. Kebetulan sekali.”

Sebuah sapaan dengan intonasi yang sangat tidak Reen sukai menyambangi rungunya. Sebenarnya ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara menyebalkan itu, Reen tahu benar bagaimana suara Chanyeol. Namun kali ini manusia menyebalkan tersebut tidak sendiri, ia bersama murid laki-laki lain yang belum Reen kenal, mengenakan papan nama bertuliskan Kim Junmyeon yang tersemat di almamaternya.

“Kami baru saja datang ke sini untuk membicarakanmu, Reen-ssi. Dan lihat, kami malah bertemu denganmu secara langsung. Jadi, daripada membicarakanmu diam-diam bukankah lebih baik jika kami langsung mengutarakan pertanyaan padamu. Iya ‘kan, hobae?” kalimat Chanyeol mengintimidasi, membuat Reen harus berusaha sekuat tenaga membuat raut wajahnya tetap tenang, meski ia menyembunyikan tangannya yang gemetar dengan meremas kotak jus dan handphone yang masih ada di tangannya. Reen bangkit dan menghadap Chanyeol, “Untuk apa kalian membicarakanku, Park Chanyeol sunbae?”

Sungguh ia berharap gemetar dalam nada suaranya tak tertangkap oleh Chanyeol, namun sepertinya tidak. Lihat saja dengusan berat yang baru saja dengan sengaja diperdengarkannya, benar-benar membuat Reen sebal juga gusar. Lagipula mengapa kedua laki-laki ini berada di sini? Bukankah mereka saat ini seharusnya ada di ruang guru, mengurus surat-surat kelengkapan ujian akhir seperti Minseok? Cepat-cepat Reen menghapus pikiran tidak penting itu, toh ia takkan tahu jawabannya, kecuali Reen membiarkan dirinya bertanya ‘Mengapa sunbae tidak pergi ke kantor guru dan mengurus surat kelengkapan ujian? Apakah surat-surat sunbae sudah lengkap?’  yang sudah pasti tidak akan ditanyakannya, mereka tidak sedekat itu.

“Tentu saja untuk mencari jawaban atas kecurigaanku selama ini.” Kalimat intimidasi Chanyeol lagi-lagi menginterupsi Reen. Namun belum sempat ia merespon, Chanyeol melangkah maju lalu menarik tangan si gadis dengan kasar, membuat handphone dan dua kotak jus miliknya berserakan di taman. Reen memekik sesaat sebelum sadar bahwa dirinya ditarik persis ke tengah-tengah taman, tempat dimana sinar matahari menyorot tanpa terhalangi apa pun.

“Kau … vampir, kan?” Suara bariton rendah ini bersirat penasaran. Setan, memangnya dengan mengetahui identitas Reen yang sebenarnya akan memberi efek menakjubkan bagi lelaki tersebut?

“Kau terus bertingkah aneh.” Sebisa mungkin Reen membalas tatap tajam milik Chanyeol. Dia ingin menarik tangannya kembali, sayang cengkraman si lelaki lebih kuat. “Tinggalkan aku sendiri, Park Chanyeol. Tidak ada gunanya kau bertingkah seperti ini,” lanjutnya. Ingin sekali Reen berteriak kesal. Sudah tidak tahan dengan segala hal yang Chanyeol lakukan padanya sampai detik ini.

“Junmyeon, ambil sedikit darahnya,” Titah gila yang Chanyeol utarakan menarik atensi Reen untuk beralih pada lelaki berjas putih tadi. “Kau gila?!” Tidak ada yang bisa mencegah nada suara Reen yang meninggi. Di sisi lain Chanyeol mengartikannya sebagai kode panik yang itu artinya ada hal yang memang sang gadis sembunyikan.

“Darah manusia dan vampir tentu bisa dibedakan, bukan?” Satu alis Chanyeol terangkat. Sungguh seperti seorang psikopat. Sementara itu Junmyeon memandang kedua sosok di depannya dengan ragu. Menyingkirkan rasa penasarannya pada kaum vampir, Junmyeon pikir apa yang Chanyeol lakukan terlalu gegabah dan memaksa. Seolah-olah Reen memang seratus persen memiliki darah vampir.

“Chanyeol, kurasa ini terlalu berlebihan.” Bagaimanapun juga Junmyeon tidak tega melihat wajah setengah-ketakutan-setengah-marah yang Reen pasang.

“Lakukan saja. Lagipula hanya sedikit darah, tidak akan membuatnya mati,” Chanyeol beralih kembali memandang Reen, “Kau tidak menderita hemofilia, kan? Ah, jika kau benar-benar vampir maka lukamu akan cepat sembuh. Jadi tidak perlu khawatir.”

“Kalian gila! Menjauh dariku!” Memaksa, Reen menarik tangannya. Jelas tak berhasil. Ia lantas memberontak sekuat yang ia bisa, memukul-mukul Chanyeol dengan segenap tenaganya.

“Junmyeon! Kubilang ambil darahnya. Hanya sedikit. Aku janji gadis ini tidak akan mengalami hal parah.” Seraya mengeratkan genggamannya pada Reen, Chanyeol membuat Junmyeon berada dalam titik bimbang. Berselang sekian detik kemudian, Junmyeon berseru tertahan, “Ah, persetan! Ini tanggung jawabmu, Park Chanyeol!” Dia melangkah maju, lurus ke tempat Reen berdiri.

“Jangan sentuh aku! Dasar busuk! Kalian psikopat!” Habis sudah. Reen sudah tak dapat memikirkan cara lain untuk kabur selain mengaktifkan kekuatannya. Namun keraguan penuh langsung membelenggu hatinya. Junmyeon akan mengecek darahnya atau dirinya sendiri menggunakan kekuatan, bukankah akan berakhir sama? Ini sama saja mengakui bahwa dirinya adalah kaum vampir.

“Jika kau memang manusia, tenang saja.” Senyum yang Chanyeol gores nyatanya sama sekali tak memberi efek tenang.

Keparat.

.

.

.

Berkas-berkas memusingkan yang digenggam Minseok saat ini hanya menambah pikiran saja. Minseok benar-benar tidak suka dunia manusia yang memusingkan. Apa-apa dibuat susah. Padahal katanya ingin menyejahterakan warga. Bah, ada saja.

“Lapar.” Ah, dia baru ingat belum dapat jus. Hari ini Runa mengurus beberapa hal di kantor pusat, jadi mungkin Reen masih menunggunya di suatu tempat dengan dua kotak jus. Memikirkannya sudah membuat Minseok tak dapat menahan senyum. Setidaknya ada seseorang yang dapat membangkitkan suasana hatinya ke arah yang lebih positif.

Usai mengeluarkan ponsel, bukannya langsung memencet panggilan cepat ia malah mendapat panggilan dari kantor pusat. “Jangan-jangan berita manusia yang curiga pada Reen sudah terendus sampai ke sana.” Alisnya bekerja sama membentuk siku-siku, lalu diangkatnya panggilan telepon tadi.

“Reen bersamamu?”

“Runa?” sejenak Minseok terkejut, namun segera ia menambahi, “tidak, aku baru akan menemuinya. Ada hal penting?”

“Kantor mengeluarkan SP1 untuknya. Dan dari tadi aku tidak bisa menghubunginya. Bagaimana ini?” suara Runa terdengar sedih, sepertinya sudah mau menangis. Ah, anak ini.

“Sudah, sudah, tidak apa-apa. Biar aku yang mencarinya,” sahut Minseok, kali ini sedang menjadi sosok yang lebih mengayomi. Dia berpikir sebentar, tak ingin menunjukkan kebingungan pada Runa. “Kau selesaikan saja urusanmu di sana. Nanti malam ajak Sehun untuk berkumpul di apartemen dan membahas hal ini bersama.”

“Aku takut ada sesuatu buruk yang akan terjadi. Firasatku tidak baik.”

“Tidak apa-apa, semuanya akan berakhir baik. Aku akan menemui Reen dulu, kututup, ya?” sambungan segera diputus sepihak. Minseok mengecek ponsel demi mendapati pesan dari Reen di sana. Rupanya gadis itu tengah menunggu di taman. Pantas baunya lumayan menguat.

Kemudian Minseok memacu langkah secepat yang ia bisa. Entah karena ingin segera bertemu atau tak ingin perasaan tak enaknya berubah menjadi realita.

Yang ada, maniknya langsung terbelalak begitu mendapati keadaan di taman belakang. Gadis yang ia cari tengah memberontak di sela cengkraman tangan besar milik Park Chanyeol. Satu lagi lelaki di sana, baru akan berjalan mendekat.

YAA!” Sedetik setelah Minseok berteriak, lelaki ini sudah mendorong Junmyeon terlebih dahulu. Karena ia pikir Reen memang ingin menjauhkan diri dari jangkauan Junmyeon. Akibatnya lelaki itu terlempar lumayan jauh, dengan punggung membentur kursi semen yang semula Reen duduki. Sialan, Minseok lepas kendali akan kekuatannya.

“Kim Minseok! Sudah kuduga kau vampir!” Chanyeol berseru keras. Baru saja ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri seberapa cepat gerakan Minseok―pun tenaga yang dikeluarkan. “Jadi? Membantu pacarmu, huh? Apa dia vampir juga?” satu alis Chanyeol terangkat, sama sekali tak takut pada Minseok yang sudah beralih memandangnya tajam.

“Aku baik-baik saja. Jangan urusi lelaki ini,” suara Reen menginterupsi. Begitu saja Minseok menggenggam tangan Reen, sementara tangan lainnya meraih krah seragam Chanyeol.

“Kau bisa dihukum, Kim Minseok! Kita pergi saja.” Reen sudah khawatir sepenuhnya semenjak menyadari Junmyeon sudah terduduk dengan rintihan di sudut sana. Khawatir akan apa yang akan Minseok terima nanti. Gadis ini merasakan tangan Chanyeol mengendur, secepatnya ia beralih memeluk lengan Minseok, “Kita pergi saja. Tidak ada gunanya.”

Sayangnya Minseok lebih suka menyambung konversasi yang sempat terjeda di antara ia dan Chanyeol, “Bukankah sudah kubilang jangan mendekatinya?” Tinggi yang tak seimbang bukan sebuah halangan bagi Minseok untuk mengangkat lelaki di depannya. Kaget, Chanyeol tak menyangka ada kekuatan besar seperti mencekiknya. Namun, begitu sombongnya ia berkata, “Vampir sepertimu akan hidup dalam ketakutan selamanya. Memangnya keberadaan vampir sudah diakui oleh dunia?” Dia terkekeh remeh beberapa saat, “Kalian kaum buangan. Jangan kotori dunia manusia.” Segala emosi yang ia pendam, entar bagaimana menguar bersamaan.

Tanpa menunggu lagi, Minseok melampiaskan emosinya dengan membiarkan Chanyeol terlempar dan menabrak dinding beberapa meter di depan dengan bedebum keras. Beberapa pot pecah di sudut sana, satu dari atas mengenai bahu Chanyeol. Seruan sakit tertahan terdengar―milik Chanyeol, tentu.

Tak ada kalimat, lantas Minseok seakan-akan membiarkan kekuatannya lepas tak terkontrol untuk membuat ia dan Reen menghilang dalam hitungan sepersekian sekon.

-0-

Runa baru saja keluar dari kantor pusat untuk pulang ke apartemen ketika handphonenya menampilkan panggilan dari Sehun. Ia berdiam sebentar, Runa enggan menjawab panggilan Sehun mengingat pertengkaran yang terakhir kali terjadi pada dirinya dan laki-laki itu. Namun sebersit perasaan khawatir tiba-tiba muncul di benaknya, bagaimana bila panggilan Sehun ini penting? Tapi apakah Runa sanggup mengangkat panggilan itu begitu saja seperti tidak pernah ada masalah sebelumnya?

Ah, persetan dengan perasaan Runa. Angkat saja dulu teleponnya.

“Apa kau sedang bersama dengan Reen dan Minseok sekarang?” Sebuah kalimat tanpa basa-basi dari pihak Sehun terlontar, membuat perasaan khawatir yang tadi hanya ada sebersit kini membukit. “Tidak, ada apa?” Runa menjawab, sebagian dirinya merapal doa semoga tidak ada hal buruk yang terjadi.

“Ayahku menelepon, Minseok dan Reen akan ditangkap.”

Dan Runa menyadari bahwa hal buruk itu terlanjur terjadi.

.

.

.

Sehun dan Runa sampai hampir bersamaan di apartemen Minseok. Segera mereka menaiki tangga menuju lantai tempat di mana lelaki bermarga Kim tersebut tinggal. Keduanya yakin Minseok dan Reen ada di sana, sebab bau vampir tercium kuat berjejal di indra penciuman, bahkan sangat kuat.

Ketika keduanya sampai di ambang pintu apartemen yang terbuka, kaki mereka berhenti melangkah. Sebab sudah ada empat orang petugas berseragam hitam yang berada di dalam apartemen, dua petugas sedang memborgol Reen dan Minseok masing-masing, sedang dua yang lain menggeledah apartemen seolah tempat ini adalah markas kejahatan.

Sehun dan Runa masih mematung, hingga ketika Reen menyadari kehadiran mereka lalu menoleh. Sejenak tatapannya bertabrakan dengan manik Runa, Reen hanya mampu tersenyum sekilas namun Runa justru menjatuhkan air matanya. Hendak melangkahkan kakinya masuk ke apartemen, namun Sehun lebih dulu mencengkram lengannya, “Kau tahu kita dilarang masuk ketika petugas hukum sedang melakukan tugas.”

Runa beralih menatap Sehun, dengan aliran air mata yang masih telihat jelas di pipinya. “Bagaimana aku bisa diam? Sahabatku diborgol!”

Sehun bergeming, pun tangannya masih mencengkram lengan Runa.

Sementara empat petugas berseragam hitam itu pun tampak tak memedulikan keberadaan Sehun dan Runa, meskipun jelas-jelas mereka mengenal orang tua kedua vampir yang berdiri di ambang pintu tersebut. Ketika akhirnya ke empat petugas itu telah menyelesaikan tugas, mereka berkumpul di tengah, memegang lengan Minseok dan Reen lalu menghilang begitu saja dari dalam ruangan apartemen.

Bau mereka hilang.

Sehun baru melepas cengkramannya dari lengan Runa setelah apartemen itu kosong, dan segera gadis itu beringsut di lantai. Menyembunyikan kepalanya dibalik lipatan lutut, dan memperdengarkan suara isakan dari dalam sana. Pun Sehun ikut bersila di samping Runa, sebelah tangannya terangkat dan mengelus puncak kepala si gadis, “Nangis dulu sampai puas, setelah itu kita ke kantor pusat menyusul Minseok dan Reen.”

Beberapa waktu berlalu didominasi oleh suara tangisan Runa, sementara Sehun setia menemani dalam diam. Setelah si gadis tenang, mereka bersiap pergi ke kantor pusat. Sebelum melangkah meninggalkan apartemen, Sehun menyodorkan tangan sembari berkata, “Genggam tanganku. Kau terlihat pucat. Aku takut kau pingsan di tengah jalan.”

Tanpa banyak bicara dan tak disangka-sangka, Runa menurut. Ia menyambut tangan Sehun dan membiarkan laki-laki itu menuntun langkah keluar dari apartemen menuju kantor pusat.

-0-

Suasana kantor pusat terlihat sibuk setibanya mereka di sana. Koridor didominasi oleh petugas berseragam hitam. Runa menarik tangannya membuat Sehun menghentikan langkah dan menatap si gadis yang tampak semakin pucat itu. “Kenapa? Sakit?”

Runa menggeleng, sebisa mungkin menyembunyikan cemas, “Hanya … sedikit takut.”

Sehun mengarahkan sebelah tangannya merangkul Runa, menepuk-nepuk pelan bahu si gadis sambil kembali meniti langkah. Namun langkah si gadis lagi-lagi berhenti ketika sebuah panggilan dengan suara lembut yang sangat dikenal menyambangi rungunya. Suara ibunya.

Runa berlari ke pelukan Nyonya Kwon dan kembali menangis di pelukan ibunya itu. Tahu benar apa yang membuat putrinya menangis, Nyonya Kwon berkata, “Reen baik-baik saja. Ia dan Minseok sedang bersiap untuk sidang sebentar lagi.”

“Langsung diadakan sidang?” Sehun menyela.

Nyonya Kwon mengangguk sambil merenggangkan pelukannya pada Runa, “Kau mau melihat sidang Reen?”

Runa mengangguk pelan sambil melepaskan pelukan ibunya. Setelah mengusap puncak kepala Runa sebentar, Nyonya Kwon beralih pada Sehun, “Dampingi Runa. Aku harus kembali ke laborat.”

Sepeninggal Nyonya Kwon, Sehun kembali merangkul Runa dan membimbing langkah si gadis menuju ruang sidang. Sehun merasakan langkah Runa bergetar ketika dirinya menuruni tangga ruang sidang yang menuju ke tempat duduk penonton sidang. Tidak lama setelah mendudukkan dirinya di sana, masuklah Tuan Oh –ayah Sehun– dengan pakaian hakim diikuti dua orang lainnya lalu duduk di kursi yang berada di panggung sidang. Disusul dengan Minseok dan Reen yang berjalan masuk ke ruang sidang lalu duduk di kursi terdakwa dengan borgol di tangan masing-masing.

.

.

to be continued.

APOLOGIZE n AUTHORS NOTE

Chapter 5 dipost 29 Juli 2016, dengan dalih sibuk sama Event Xoulmate berjanji untuk ngepost Chapter 6 secepatnya. Namun tidak terasa waktu telah berlalu 1 tahun 6 bulan 25 hari baru chapter selanjutnya dipost.
HA. HA. HA. lempari saja kami dengan batu.
Anne dan Nida dengan tulus meminta maaf kepada seluruh reader Le Dernier Arret yang mungkin awalnya nungguin sampe lupa kalo FanFic ini pernah ada. *bow

Dan sekarang akhirnya Chapter 6 UP UP UP
Lalu spoiler, Le Dernier Arret akan tamat di chapter selanjutnya
Yeay!

Untuk yang lupa sama cerita sebelumnya, boleh baca ulang. Jangan lupa like dan komen ya. Wakwakwak.

.anne&nida.

9 tanggapan untuk “Le Dernier Arret [Chapter 6]”

  1. welcome back, dah lmyn bnyk yg lupa tp sudah ter-resfresh lg thanks to potongan2 scene yg lalu2. dah bc chptr ni dr bbrp hr lalu di kreta wkt otw ke/dr Malang tp blm ninggalin jejak, br skrg bs review dr kntr. sblm/stlh bc chptr ni smpt bc webtoon orange marmalade ttg anak sma yg vampir & minum darah babi yg dikemas di tetrapack/disamarkan sbg tomato juice ky disini jg. feel dr chptr sblm’ny dah menguap sih krn klamaan chptr lnjtn’ny muncul, tp gpp bs tau gmn klanjutan’ny smp bnr2 tamat, ga menggantung tnp kejelasan. thx ya u/ update’an-ny

    1. sebenernya aku malu mau bales, karna ini ff ajaib banget kependingnya sampe setaun kak haha tapi gak sih gak malu deng, biasa aja /apasi gajelas nid
      makasih ya kakniin, udah tetep sudi baca ff aku sama kaknean yang iniii, maaf nih updatenya lama banget huhu tapi makasihhh ❤ sayang deh

  2. aku masih inget dari cuplikan pertama nyebutin nama runa sma reen trus chanyeol..langsung ngeh aja…
    cuma ya kebangeten ini udah lama gk update, baru update trus blng chap selanjutnya langsung end aja…hhuuuaaaaaa
    tapi penasaran putusan sidang minseok reen… penasaran hubungan runa-sehun-chanyeol jg… nasib chanyeol jg gimana setelah tau keberadaan vampir

    1. iya emang kebangeten sumpah, aku aja gak ngerti wkwkwk /tabok
      sebenernya rencana end di chap segini itu udah dari awal, tapi kebetulan kepending lama banget gegara beberapa hal sih :’)
      btw thakns banget masih inget dan masih mau mampirrrr ❤ big luvvv ❤ ❤ ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s