[EXOFFI FREELANCE] Cruel (Bab 5: Takdir Baik atau Sebaliknya)

CRUEL

BAB 5: Takdir Baik atau Sebaliknya?

Written by: Audrey_co

Genre: Melodrama-Romantic

Length: Chapter

Rate: Teen

Starring by: Xi Luhan and Shin Yeeun

Summary: Sebuah misteri tentang Iblis bernama Fogoh begitu menggemparkan masyarakat Korea Selatan, khususnya di distrik Gwangju. Para anak-anak yang mengalami kejadian buruk dalam hidupnya memilih untuk menjadi Iblis di tangan seorang penyihir tua. Namun berbeda dengan Luhan, ia harus menjadi Fogoh karena alasan yang berbeda. Setelah bertahun-tahun ia larut dalam kesedihan karena menjadi Iblis, tiba-tiba tuannya membawa pulang seorang gadis muda bernama Byun Sungrin. Gadis itu benar-benar membawa perubahan bagi hidup Luhan. Tapi, apakah manusia dan Iblis bisa bersatu? Apa bisa perasaan cinta ada di antara dua makhluk berbeda in?

Disclaimer: Seluruh cast milik Tuhan Yang Maha Esa, saya hanya meminjam nama mereka. Isi cerita murni hasil pemikiran saya. Seluruh adrgan dalam cerita hanya fiksi belaka demi hiburan semata. NO PLAGIAT dan silahkan komentar jika menurut kalian cerita ini perlu dikomentari.

BAB 1: Fogoh | BAB 2: Rusa Pemikat Hati | BAB 3: Penjelasan Yang Mengejutkan | BAB 4: Jangan Menghilang Dariku

※Cruel※

 

Tiga tahun berlalu begitu saja. Sungrin menjalani kehidupannya seperti biasa. Setelah dirinya meminta maaf pada Seorim, orangtuanya langsung memindahkannya ke Seoul untuk melanjutkan studi di sana. Sekarang ia bersekolah di Hanyang High School, sekolah menengah atas terbaik ketiga di kota Seoul. Bukanlah sebuah keberuntungan ia bersekolah di sana, tentu saja ia mengandalkan otak pintarnya itu.

 

Ah, pasal buku hariannya. Sungrin tak menemukan buku itu dimana-mana. Ia sudah mengikhlaskan buku itu hilang. Lagi pula, isinya juga tak penting. Pikir Sungrin.

 

“Sudah lama menunggu, ya?” Celetuk seseorang tak terduga, membuat Sungrin yang tadinya tengah melamun kini tersadar.

 

“Tidak, Chan. Itu buatku, ya?”

Lelaki bernama Chanyeol itu menganggukkan kepalanya dan memberi segelas minuman dingin pada gadis itu. “Soda terlalu enak untuk dilewatkan,” ujarnya sembari terkekeh pelan.

 

“Kau benar. Hari ini panas sekali,” kata Sungrin sembari meneguk isi minuman itu.

 

Tak terasa, musim mulai berganti. Saat ini tengah musim panas, sekolah diliburkan. Seharusnya kedua orang ini menikmati liburan bersama keluarga, bukan? Tapi, mereka malah memilih kursus bahasa Jepang selama liburan ini.

 

Lagi pula, jika ia di rumah, apa ia akan menghabiskan liburannya bersama dua orang dewasa itu?

 

Jawabannya: Tidak.

 

Halte bus yang terlihat bersih juga burung-burung liar yang berkicauan, sungguh mendukung suasana menyenangkan ini. Sungrin menggoyangkan kakinya ke depan-belakang, sekadar menghilangkan rasa gundah yang dilandanya. Tak bertahan semenit, ia teringat akan sesuatu.

 

“Semalam, kau bilang ingin mengatakan sesuatu.” Sungrin mengingat-ingat isi pesan singkat mereka semalam. Dan memang benar, Chanyeol ingin mengatakan sesuatu pada gadis itu.

 

“Ah, itu. Sebenarnya, aku ingin mengungkapkan perasaanku.”

 

Byurr

 

Sungrin menyemburkan minumannya. Baiklah, soda kini menyentuh rok juga kakinya. Gadis itu buru-buru mengeluarkan sapu tangannya dan mengusap bibirnya cepat. “Apa tadi kau bilang? Perasaanmu?” Ulangnya sekali lagi. Berharap bahwa ia salah dengar.

 

Chanyeol yang speechless hanya mengangguk patah-patah, masih terkejut dengan kejadian tadi.

 

“A-Aku, maksudku… kurasa kau salah—”

 

“Cinta tidak pernah salah, Sung.” Potong pria itu tak setuju. Sungrin terdiam. Ada bagian dari hati kecilnya tak mengijinkan dirinya untuk menerima pria ini.

 

“Tapi Chanyeol, aku sudah nyaman jika hanya berteman denganmu. Kau juga satu-satunya temanku di sekolah—”

 

“Jadi, kau menolakku?” Potong Chanyeol lagi.

 

Gadis itu lagi-lagi terdiam. Insane. Sungguh ia tak suka suasana seperti ini.

 

“Hah, kau pikir aku berteman denganmu untuk apa? Tentu saja untuk menjadikanmu pacarku!” Mulut Sungrin mengaga, ia tak percaya jika kalimat itu keluar dari mulut Chanyeol—temannya sejak kelas 10.

 

“Lagi pula, mereka tidak ingin berteman denganmu karena kau itu aneh.” Lanjutnya santai sembari meminum soda-nya. Sungrin menundukkan kepalanya, ia sungguh tidak percaya ini. Sakit hati yang dirasakannya serta nafas yang tersengal membuat emosinya sedikit bergejolak.

 

“Jadi, kau terpaksa? Sekarang ku tanya, kau benar menyukaiku?” Tanya gadis itu berturut-turut. Chanyeol menatapnya tajam kemudian menyeringai tipis.

 

“Aku terpaksa. Kau ku jadikan pacar hanya untuk senang-senang. Selama ini berada dekat denganmu membuatku sial, asal kau tahu.” Perkataan tanpa belas kasih juga rasa tega itu keluar begitu saja dari mulut Chanyeol. Tak tahukah ia kalau gadis itu kini menahan amarahnya?

 

“Brengsek!” Lirihnya kesal, membuat Chanyeol tertawa mendengarnya. “Itu memang julukanku, Nona Byun.” Pria itu kemudian beranjak dari duduknya.

 

“Tak ada gunanya lagi aku bersamamu. Cih, aku sangat bersyukur ini berakhir. Lupakan saja! Kau sama sekali tidak menyenangkan dan juga sok naif.” Chanyeol tertawa remeh lalu membalikkan badannya meninggalkan Sungrin yang menggenggam kaleng minuman erat.

 

Tuk

 

Akh! Yak!” Teriak pria itu tak terima. Sebuah kaleng minuman mengenai kepalanya dan itu sungguh sakit.

 

Sungrin—si pelaku utama—mengikuti gaya senyum remeh milik Chanyeol dan berujar dengan lantang. “Rasakan itu, brengsek!”

 

Sebelum mendapat cercaan lebih, gadis itu segera berlari ke arah yang berlawanan sembari menyematkan earphone di telinganya. Ia kemudian tertawa senang karena tindakan beraninya. Sialan! Jangan harap ia bisa diperlakukan mudah seperti itu oleh pria brengsek seperti Chanyeol.

 

Mungkin ia berlari terlalu jauh. Kakinya tanpa aba-aba membawanya ke sebuah tempat sepi di daerah Gangnam. Merasa lelah, ia kini merehatkan dirinya sejenak di bawah atap gedung mini market. Iris legamnya memperhatikan sekeliling, jalanan yang cukup renggang untuk distrik tersibuk ini sungguh mengherankan. Yah, bagi Sungrin, sih.

 

“Eoh? Byun Sungrin?” Panggil seorang gadis tinggi dengan sekumpulan kantung belanjaan di tangannya. Senyuman lebarnya membuat Sungrin takut, orang itu tahu namanya dari mana? Dari name tag? Mungkin saja. Sungrin melepas earphone yang sejak tadi tak mengeluarkan suara.

 

“Siapa kau?” Ujarnya, membuat gadis yang tadi menyapanya kini menepuk jidatnya.

 

“Ah, dia ‘kan lupa ingatan.”

 

“Ya?”

 

“A-ah, tidak ada! Tidak ada apa-apa. Hehehe.” Cicit gadis itu seraya tertawa garing.

 

“Aneh,” lirihnya pelan. Tak mau ambil pusing, Sungrin segera meninggalkannya tanpa pamit.

 

Gadis asing itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Dia sedikit berubah,”

 

“Ayo, Lucy! Kurasa sudah cukup belanjanya hari ini,” ucap seorang pria yang baru saja keluar dari mini market. Gadis bernama Lucy itu awalnya terkejut lalu mengangguk dan memberikan semua bawaannya pada pria itu.

 

“Kau yang bawa semuanya, Luhan.”

 

Pria itu melotot tidak percaya, “Yak! Bawa saja itu! Kau tidak lihat bawaanku juga banyak?”

 

Lucy menggeleng cepat, “Aku beli es krim dulu. Kau pulanglah, aku akan menyusul.” Ia menyematkan seluruh kantong belanjaan di tangan pria itu kemudian mendorong tubuh Luhan untuk segera pergi.

 

“Dasar gadis licik!” Lucy hanya tertawa mendengar cercaan Luhan.

 

Luhan membawa semua belanjaan dengan susah payah. Ditambah suhu udara yang semakin panas membuat emosinya naik saja. Jika saja Lucy seorang pria seperti Kris, mungkin ia sudah menendang bokongnya keras.

 

Eihh… bagaimana caranya supaya aku membawa semua ini dengan mudah?” Keluhnya kesal. Terdengar helaan nafas setelahnya. Mau tak mau ia harus sampai di rumah dengan keadaan rempong seperti ini.

 

※Cruel※

 

“Aku pulang.”

 

Luhan berseru lemas dan menatap malas sekeliling. Kakinya dengan cekatan melepas sepatu skets dan menggantinya dengan sandal rumah. Kedatangannya sudah ditunggu oleh dua pemuda juga dua gadis yang sedang asik memakan es krim seraya menonton TV.

 

“Oh… begitu ya? Kalian santai-santai sambil makan es krim dan membiarkanku kesusahan sendiri?” Sungut Luhan kesal. Kakinya melangkah lebar menuju dapur guna menaruh belanjaan di dalam kulkas.

 

“Hehehe. Maaf, Luhan. Habisnya aku tak menemukanmu, jadi aku ber-teleportasi ke sini.”

 

Luhan yang tengah membuka bungkusan sawi menghela nafas gusar. “Kita bukan makhluk yang punya kekuatan seperti itu, Lucy.”

 

“Maksudmu ‘Belum punya’. Kau lupa soal bulan purnama itu?”

 

“Aku ingat, tapi aku masih tidak percaya. Bukannya Minseok belum mendapatkan kekuatan setelah dia bersanding?”

 

Suara kekehan terdengar menginterupsi, “Eih, kau selalu saja kaku. Dia hanya bercanda, Luhan.” Lerai Junmyeon yang mulai mencium adanya adu mulut antara Lucy dan Luhan.

 

“Aku hanya lelah, maaf Junmyeon. Juga, maaf memarahi mate-mu, Baekhyun.” Baekhyun yang sedang asik menonton tv tak begitu peduli dengan konversasi yang sedang terjadi.

 

“Kau tidak ingin minta maaf padaku?”

 

“Tidak. Aku sedang tidak mood denganmu,”

 

Cih, dasar!”

 

Yang lain hanya bisa menggeleng samar karena perdebatan unfaedah(?) dari Luhan dan Lucy. Mereka semua kembali dalam kegiatan masing-masing.

 

Lucy menanggalkan stik es krim yang sudah habis dimakannya. Matanya bergerak-gerak ragu, ia ingat kejadian saat di mini market tadi. Dengan perasaan cemas, ia menoleh ke arah Luhan dan menyerukan nama pria itu sekali. Setelah berhasil mendapat atensinya, ia diam.

 

“Hey, Lucy! Kau mau bilang apa? Aku sedang sibuk—”

 

“Aku tadi melihat Sungrin!”

 

Hening

 

Semua orang yang sedang menonton kini terdiam membisu. Mendengar nama orang yang sudah lama tak diketahui kabarnya membuat mereka flashback pada kejadian tiga tahun lalu. Tangan Luhan menggantung di udara, tadinya ia ingin mengambil sesuatu dari dalam kantung belanjaan dan meletakkannya dalam kulkas. Pandangannya turun ke bawah, menatap lekat-lekat meja makan berwarna putih di depannya.

 

“Gadis itu masih hidup rupanya…” lirih Luhan yang kini menatap nanar meja makan. “Wonsungi…”

 

“Y-Yak! Kau yakin itu Sungrin? Bisa saja kau salah orang,” Sarah—mate Junmyeon—yang bersuara pertama kali. Mencoba menolak kalimat yang dikatakan Lucy barusan.

 

“Aku bersungguh-sungguh, Sarah! Dia itu Byun Sungrin! Wajahnya tidak berubah, rambutnya bahkan masih seperti dulu. Hanya saja, ia terlihat kurus dari yang terakhir kali kita lihat.”

 

“Kau melihatnya dimana?” Tanya Baekhyun.

 

“Di depan mini market. Aku juga terkejut saat melihatnya berdiri seorang diri di situ. Saat aku memangil namanya, ia berbalik dan bertanya siapa aku. Aku baru ingat kalau dia itu amnesia,” Lucy memainkan buku jarinya. Kecemasannya semakin menjadi saat Luhan yang terlihat mengerutkan keningnya tanda ia sedang berpikir.

 

‘Amnesia? Tak ada yang bilang padaku kalau gadis itu amnesia.’ Luhan membatin bingung.

 

“Jangan percaya dia, Luhan. Kau tahu ‘kan Lucy suka berkhayal?”

 

“Aku serius, Baekhyun! Apa kau meragukan mate-mu ini?” Lucy menghembuskan nafasnya kasar. Apa tak ada seorang pun yang percaya dengan kata-katanya?

 

Junmyeon yang mencurigai gerak-gerik Luhan kini tersentak pelan, “Jangan bilang, kau ingin menemuinya?” Tebakan Junmyeon membuat Luhan mempertahankan keheningan yang tercipta. Apa pria itu membenarkan ucapan Junmyeon?

 

“Yak! Kau sudah dilarang untuk menemuinya, Luhan! Pikirkan itu,” ujar Sarah mewanti-wanti.

 

“Aku,” Luhan menggantung ucapannya.

 

“Apa? Kau benar mau menemuinya?” Desak Baekhyun. Luhan mendongak, menatap keempat orang itu seraya tersenyum paksa.

 

“Tidak. Lagi pula, dia tidak mengingatku.” Terdengar kalimat putus asa dari bibir Luhan. Keempatnya kembali bungkam dan melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda, menonton TV.

 

Luhan menatap sebuah kentang di tangannya. Seakan mencoba berkomunikasi, ia menatap lekat-lekat kentang itu dan memasukkannya ke dalam kulkas. Tidak bisa. Ia tidak bisa seperti ini. Sungrin hanyalah bagian dari masa lalu. Sekarang, mereka berada di kapal yang berbeda. Lagi pula, Luhan tak berniat untuk bertemu dengan gadis pecinta hujan itu. Ia berusaha mementingkan kepentingan umum daripada masalah pribadinya.

 

Luhan sudah memantapkan hatinya, ia takkan berurusan lagi dengan gadis bernama Byun Sungrin.

 

Benarkah, Luhan? Kau yakin itu?

 

TBC

Hai hai! Aku balik lagi, guys. How ’bout this chapter?

 

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s