[EXOFFI FREELANCE] Tell Me What Is Love (Chapter 10)

PicsArt_12-08-08.10.28_resized

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance.

Poster by erinaael.

Kim Joonmyeon (Suho Exo), Park Chorong (Apink), Rion.

Kim Minseok (Xiumin Exo), Zhang Yixing (Lay Exo), Park Chanyeol (Exo), Bae Johyun (Irene Red velvet)

Chapter 10

Suara riuh para suporter bergema di seluruh penjuru aula. Namun hal tersebut tidak menghilangkan kegugupan bagi sebagian orang di tengah ruangan sana.

“Kau gugup?” tanya seorang pria yang sudah lengkap menggunakan seragam tempurnya.

“Tentu saja! Kau pikir kau tidak huh? Bahkan dari tadi aku melihatmu bolak balik ke toilet” hardik sang gadis.

“Ey, Chorong-a. Kau tau sendiri bukan jika aku gugup maka perutku menjadi bermasalah. Itu sudah menjadi ritwalku dalam bertanding” pria tersebut yang ternyata Eunkwang berujar seoalah itu adalah kebanggaan untuknya.

“Heol, terserah apa katamu” Chorong meninggalkan Eunkwang lebih dulu berjalan menuju arena.

“Ya! Kau ini. Tunggu aku” Eunkwang mengejar Chorong mensejajarkan langkahnya.

“Apa kekasihmu datang?” tanya Eunkwang menyelidik.

“Aku tak peduli” ujarnya.

“Ck, sebenarnya kalian pacaran atau tidak sih, atau jangan-jangan kau masih belum bisa move on dari dia” tebak Eunkwang.

Deg

“Kau ini cerewet sekali, satu lagi. Jangan pernah menyebutkannya lagi” mood Chorong tirun drastis akibat perkataan Eunkwang. Benarkah ia masih belum bisa melupakannya?

“Kau yang bernama Chorong?” tanya seorang wanita. Sepertinya salah satu lawan mereka nanti, melihat dari seragam yang dikenakannya itu merupakan salah satu lawan terberat mereka.

“Ya, dan ada perlu apa denganku?”

“Hanya sekedar menyapa dan melihat seseorang yang akan ku kalahkan nanti. Ah dan semoga wajahmu nanti akan baik-baik saja” ia menepuk bahu Chorong dan melewatinya. Chorong mengerenyit. ‘Apa yang dikatakannya tadi? Kalah. Heol, tak semudah itu’.

“Hey, jaga ucapanmu! Lihat saja nanti huh!” teriak Chorong penuh emosi. Sedangkan sang objek teriakannya hanya melambaikan tangannya tanpa berbalik.

“Chorong-a, entah mengapa aku mempunyai firasat buruk” ujar Eunkwang.

“Ck, kau berlebihan. Ayo! Pelatih sudah menunggu. Tak akan ku maafkan dia karena meremehkanku” Chorong mengepalkan tangannya kuat.

“Semoga saja firasatku salah” Eunkwang menghela nafasanya dan berjalan mengikuti Chorong.

Seseorang yang bersembunyi di balik salah satu lorong tersenyum menyeramkan. “Kita lihat saja Park Chorong. Ini akan menjadi tontonan yang menarik”.

***

“Apa pertandingannya masih lama Nonna?” tanya Chanyeol pada gadis di sampingnya. Ia sudah menggunakan ikat kepala dan membawa balon panjang di kedua tangannya.

“Sepertinya sebentar lagi” Irene melihat jam tangannya. “Yeol, apa penampilanmu tak berlebihan. Ini pertandingan Taekwondo bukan bola”  ujar Irene.

“Ey, ini masih tak ada apa-apanya dibandingkan ayah dan ibuku nanti” ujar Chanyeol.

Irene mengerenyit, apa keluarga temannya ini ada yang normal. Tapi apa pedulinya itulah keunikan mereka dan Irene suka. “Lalu dimana ayah dan ibumu?” tanya Irene.

“Mereka akan menyusul” Irene hanya mengangguk. Chanyeol mengedarkan pandanganya. “Hyung sebelah sini!” ia melambaikan tangannya. Irene melihat arah pandang Chanyeol.

“Apa belum dimulai?” tanyanya setelah berada di hadapan Irene dan Chanyeol.

“Sepertinya sebentar lagi, ah halo sunbae” sapa Chanyeol ketika melihat Xiumin. Irene pun ikut menyapa.

“Panggil hyung saja agar akrab. Dan kai boleh memanggilku Xiumin jika mau” ujar Xiumin pada Chanyeol dan Irene. Mereka mengangguk.

“Tapi apa kalian melihat Yixing?” tanya Xiumin.

“kami belum melihatnya” Chanyeol dan Irene menggeleng.

“Aneh sekali, bukankah dia yang lebh dulu masuk” ujar Suho.

***

“Permisi permisi” seorang pria dengan bawaan yang cukup banyak berjalan melewati para penonton.

Setelah menemukan tempat yang pas ia duduk di tempat itu. “Apa pertandingannya sudah mulai?” ia bertanya pada orang di sampingnya.

Yang ditanya hanya menggeleng.

“Baguslah. Tapi kemana Umin hyung dan Joonmyeon?” Yixing melihat sekeliling kemudian mengedikan bahu. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. “Bisa kalian pegang ini?” pinta Yixing. Beberapa orang yang heran dengan kelakuan Yixing hanya menurut tanpa berkata apapun. Yixing kembali mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan mengikatnya dikepala dengan tulisan ‘Zhang selalu mendukungmu’. Dan kembali mengeluarkan sesuatu. Ia mencoba alat itu “tes tes” dia mengangguk yakin.

“Bentangkan!” ujar Yixing. Semua mengerenyit. “Ayo bentangkan apa yg kalian pegang” titahnya. Mereka yang dimaksud Yixing menurutinya dan terpangpanglah tulisan “Park Chorong Fighting!!!” dengan gambar Yixing membawa pom pom.

“Park Chorong Fighting!” teriaknya menggunakan toa.

“Permisi” ujar seseorang disebelahnya.

“Apa? Kau tak lihat aku sedang sibuk. Jika ingin berkenalan nanti saja” ujar Yixing dan kembali meneriaki Chorong.

“Bukan itu” orang tersebut menahan kesal.

“Lantas apa? Menyatakan cinta? Maaf tapi aku tak suka padamu kita baru bertemu” tutur Yixing.

“Ya!” habis sudah kesabaran orang itu. “Aku hanya ingin mengatakan KAU SALAH TEMPAT, SUPORTER SEKOLAHMU DISEBRANG SANA! INI SEKOLAH LAWANMU! AISH JINJJA”. Yixing mengerejapkan matanya.

“Aish, harusnya aku sudah menduga ini. Yixing ayo, kau salah tempat. Maaf semua. Permisi permisi” Xiumin dan Suho segera membawa Yixing dari sana sebelum semua orang menyerangnya.

***

“Memalukan” gumam Chorong dari arah arena ketika melihat kejadian tadi.

“Hahaha Park aku kira tadi orang tuamu, ternyata kau membawa suporter baru haha” Eunkwang tertawa terpingkal.

“Berhentilah tertawa atau kau akan terkena usus buntu” hardik Chorong.

“Kalian siap? Kita akan memulainya” ujar pelatih.

“Nde~” koor semua anak.

***

“Haha Lay hyung kau benar-benar haha” Chanyeol menghapus air matanya, bahkan perutnya sakit menertawakan Lay.

“Dasar  bodoh” ujar Irene. Sedangkan Lay hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya.

“Giliran Chorong kapan?” tanya Suho pada Chanyeol.

“Setelah ini, aku harap dia tak akan terluka terlalu parah” Chanyeol menatap kedepan. Fokusnya hanya pada sang kakak yang sedang menunggu gilirannya di tengah sana.

“Ku harap juga begitu” namun entah mengapa Suho memiliki firasat lain dan ini terasa sangat buruk.

“Apa ayah dan ibu terlambat?” tanya nyonya Park.

“Tidak bu, nonna baru akan mulai setelah ini” ujar Chanyeol.

“Syukurlah, mari kita mulai” tuan Park mengeluarkan sesuatu.

“Woah, ahjushi kau membawa itu juga” teriak Lay. Tuan Park melihat orang yang bicara tadi. “Kau pendukung anakku. Baiklah mari lakukan bersama” tuan park sudah membentangkan spanduk bersama Lay dan nyonya Park. Bahkan mereka mulai berteriak heboh.

Xiumin dan Suho yang melihat hanya bisa melebarkan mulutnya, “Biasakanlah, ini akan sering terjadi” Ujar Irene. “Benar bukan apa yang ku katakan tadi Nonna” Ujar Chanyeol pada irene.

***

Chorong mengikat kuat sabuk seragamnya. Ia berjalan menuju tengah arena.

“Kalian Siap?” tanya sang wait.

“Kapanpun” ujar lawannya dengan angkuh.

Mereka membungkuk memberi salam dan membuat kuda-kuda. “Mulai!” ujar sang wasit.

Pukulan dan tendangan dilancarkan. Beberpa ada yang bisa di tepis ada pula yang tidak sehingga menghasilkan poin bagi keduanya.

Entah sengaja atau tidak tapi lawan dari Chorong mengenai bagian yang dilarang sehingga membuat Chorong sedikit meringis. Entah sang wasit tak melihat atau apa tapi itu tidak menjadi pelanggaran.

Serangan kembali dilayangkan pada Chorong, kali ini tendangan dan itu mengenai samping wajahnya membuat tubuhnya tersungkur dan lawan mendapatkan point.

“Ugh” Chorong kembali bangkit, ia melayangkan pukulan dan kali ini mengenai lawannya. Ia tersenyum puas point ia dapat.

Suho menyatukan kedua tangannya dan berdoa di dalam hati. Entah mengapa ia sangat gusar.

“Hyung, percayalah nonna itu kuat” Chanyeol menenangkan.

“Aku tau, hanya saja . .”

“Argh!!!” teriak seseorang dari tengah arena. Suho membulatkan matanya. “Nonna!” teriak Chanyeol.

Chorong merintih sambil memegang kakinya. Entah apa yang terjadi tp wasit menganggap itu bukan pelanggaran. Suho semakim cemas. Lain halnya dengan seseorang di belakang sana yang sedang tersenyum puas.

“Rasakan itu Park, Sudah ku katakan jauhi milikku atau kau tau sendiri haha”.

Suho ingin berlari kesana tapi ditahan Chanyeol. Ia menatap tajam Chanyeol seolah berkata ‘Kenapa kau menahanku?!’ namun Chanyeol menunjuk pada arena pertandingan. Suho melihat itu, Chorong kembali bangkit.

“Akan ku balas kau” gumam Chorong ketika bangkit dengan menahan rasa sakitnya.

“Wah wah, kenapa tak menyerah saja? Agar kau tak terluka huh” ejek lawannya.

“Tutup mulutmu!” Chorong mengepalkan tangannya.

“ups maaf haha “

“Kau tak apa?” Chorong mengangguk. “Mulai”.

Kali ini Chorong tak bisa menahannya. Ia kerahkan seluruh tenaganya. Serangan pukulan dan gerkan lainnya yang ia pelajari ia lakukan. Membuat sang lawan sedikit kepayahan. Dengan sekuat tenaga ia melakukan tendangan terakhir dan . .

Buagh

Lawan tumbang dihadapannya. Tak sampai pingsan hanya tal bisa bangkit.

Wasit memberi tanda dan Chorong dinyatakn sebagai pemenangnya. “Ups maaf” ujar Chorong pada lawannya.

“Dasar tak berguna! Ayo pergi!” gadis dengan wajah oriental melempar umpatan dan pergi meninggalkan gedung diikuti beberpa bodyguardnya. Tanpa menyadaro sepasang mata malailat yang berubah menjadi iblis “Rion” ia mengepalkan tangannya.

***

Dengan kemenangan Chorong maka team putri dimenangkan oleh sekolahnya. Sedangkan untuk pria mereka harus puas berada di posisi ke dua.

Setelah serah terima mendali semua orang mengerubunginya.

“Nonna!!”

“Chorongie”

“Chorong-ah”

“wah wah kalian benar-benar datang?” sapa Chorong.

“Anak ayah kau hebat sekali” Tuan park memeluk anaknya. “Akh” “Astaga maafkan ayah jika sakit. Mana yang sakit?” sang ayah memeriksa anaknya. “Haha aku tak apa appa” ujarnya bohong.

Semua tertawa terkecuali Joonmeyon. Wajahnya sangat datar.

“Myeonie, setidaknya katakan sesuatu” Xiumin mendorong adiknya mendekati Chorong.

“Kau datang?” ujar Chorong. Tak ada jawaban. “Bahkan aku sudah bilang tak perlu” lanjutnya.

“Tumben sekali kau menjadi pendiam. Baguslah” Chorong masih bersikap biasa saja.

“Apa sakit?” Suho akhirnya membuka suara.

“Apa maksudmu? Aku baik-baik .. “ tubuh Chorong sedikit oleng. Bahkan keringat sudah bercucuram di pelipisnya. Jika Suho tak menahannya maka Chorong akan jatuh bebas ke lantai.

“Kau bohong” Suho merengkuh Chorong.

“Aku hanya tak kuat lagi”

Brugh

“Chorong!”

“Nonna!!!”

Chorong dan Suho terjatuh. Suho masih menahan tubuh Chorong sedangkan sang gadis sudah tak sadarkan diri.

To be continue . .

Huahhhh . . alur apa ini . . !!!

Aku belum punya ide lagi. Mohon bersabar.

Tidak susah bukan meninggalkan jejak komentar dibanding membuat cerita (^^).

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s