DREAM — #4: Chronopshyra ►► IRISH

⁛  DREAM  ⁛

►  Byun Baekhyun x Lee Hyerin  ◄

►  Fantasy x Slight! Mythology x Romance x School-life ◄

►  Chapterred x Teenager(s)  ◄

Vivid Dream(s):

ForewordPrologue ► Baekhyun’s SidePrologue ► Hyerin’s Side#1: Her Problem#2: A Friend#3: Rival — [tonight] #4: Chronopshyra

♫ ♪ ♫ ♪

#4 — Chronopshyra

In Jungha’s Eyes…

Keadaan Hyerin semakin hari semakin buruk. Sekarang gadis itu sama sekali tidak pernah tidur di sekolah. Dan tidak makan atau minum apapun. Dia terlihat sangat pucat. Terutama karena penampilannya terlihat semakin acak-acakkan.

Ujian juga semakin dekat, dan persaingan nilai di kelas kami jadi semakin menakutkan. Terutama bagi murid lain yang tidak pernah melihat Hyerin mengerjakan soal di papan tulis dengan cara yang kejam—karena dia terus mematahankan kapur saat berhenti menulis, membuatku dan mungkin beberapa yang lainnya, yakin jika gadis itu sangat emosi saat mengerjakan soal.

Juga, aku tidak bisa menghitung Sunmi sebagai saingan yang ringan bagi Hyerin. Entah karena apa, guru kami sering meminta Sunmi untuk mengerjakan soal, dan menolak Hyerin.

Karena Hyerin terlalu sering mengambil semua soal selama ini? Guru kami bahkan memintaku untuk mengerjakan walaupun sebenarnya aku tidak mau—bukan karena Hyerin, tapi karena aku terlalu sibuk untuk memikirkan kata-kata yang akan aku ucapkan nanti saat aku muncul di Akademi.

Keadaan Hyerin yang berubah drastis, juga karena Baekhyun yang masih dengan kekanak-kanakkannya berusaha menyaingi pamor Hyerin hanya dengan cara memamerkan kepintarannya yang menurutku sangat tidak sinkron.

Tentu saja kami punya tingkat intelegensi yang jauh lebih tinggi daripada manusia biasa. Aku menghitung masuk Hyerin dalam kategori manusia biasa disini walaupun dia memang sangat jenius. Tapi tetap saja, rasanya sangat kekanak-kanakkan ketika Baekhyun terus bersikap seperti itu dan… menurutku malah memperparah keadaan Hyerin.

Ini sudah keterlaluan.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Baekhyun. Kita harus bicara.”

Aku berucap siang ini, menarik Baekhyun dari kerumunan murid yang tadinya tengah di ajari Baekhyun, entah sejak kapan dia jadi tutor dadakan di kelas ini.

“Ada apa?” ucapnya saat aku sudah menariknya cukup jauh dari kelas. “Tidak bisakah kau hentikan tindakanmu itu?” tanyaku.

“Maksudmu?”

“Jangan ke kelasku lagi. Jangan jadi sok pintar lagi. Kau hanya akan membuat Hyerin marah. Kita membutuhkan bantuannya, ingat?”

“Aku tahu. Aku hanya mau membuktikan ucapanku padanya.” ucap Baekhyun.

Tsk. Kau sama sekali tidak mengerti!” aku berkata dengan marah, segera aku menyentuh bahu Baekhyun, dia akan bisa mendengar pikiran Hyerin yang beberapa hari ini aku dengar.

kenapa semuanya begitu tiba-tiba seperti ini?

aku tidak suka saat banyak orang berusaha merebut posisiku. Aku tidak suka!

Sunmi, Jungha, dan pemuda itu Semuanya begitu membencikan. Kenapa mereka semua berusaha merebut posisiku? Apa mereka pikir empat orang akan bisa jadi posisi yang pertama di sekolah?

jika salah satu di antara mereka bisa mengalahkankuBagaimana?

aku masih bisa di sini kan?

“Kenapa kau menunjukkan ini padaku?” ucap Baekhyun membuatku tersadar dan tidak lagi mengirimkan pikiran Hyerin padanya. “Kau memperparah keadaannya. Apa kau tidak lihat keadaan Hyerin seperti apa? Dia sudah seperti orang penyakitan!” ucapku kesal setengah mati

Baekhyun diam. Aku hanya ingin dia memperhatikan bahwa aku ada Bukan mengabaikanku

“Tidak seperti ini caranya Baekhyun. Kau tidak harus membuatnya marah untuk membuatnya memerhatikanmu.” ucapku berusaha menjaga nada bicaraku. Baekhyun mendongak, lalu mengalihkan pandangannya. Aku mengerti Baekhyun sangat tidak terbiasa untuk tidak diperhatikan. Karenanyatanya di Akademi dia adalah orang paling berpengaruh.

Anak pemilik Akademi, dan tidak ada satu orang pun berani macam-macam padanya. Dan secara otomatis semua keinginan Baekhyun pasti terpenuhi dengan mudah. Termasuk jika dia ingin diperhatikan. Walaupun di sini, nyatanya dia masih mendapatkan banyak perhatian, aku tidak mengerti kenapa ketidak pedulian Hyerin pada keberadaannya membuat Baekhyun begitu terusik.

Karena dia selama ini selalu diperhatikan? Dan dia tidak bisa menerima jika ada satu orang yang tidak peduli padanya? Dan apa hal itu bisa dijadikan Baekhyun sebagai alasan untuk membuat keadaan Hyerin semakin parah.

Lagipula, jika Baekhyun mengatakan bahwa Hyerin tidak memerhatikannya, dia jelas salah. Gadis itu selalu berpikir marah saat melihat Baekhyun muncul. Bukankah itu salah satu bukti bahwa Hyerin memerhatikan bahwa Baekhyun ad—tunggu. Apa perhatian yang dimaksud oleh Baekhyun bukanlah perhatian yang aku maksud?

“Baekhyun, apa kau menyuka—”

“—Tidak. Aku akan kembali ke kelas. Beberapa hari lagi kita mulai ujian, dan aku harus dapatkan posisi pertama. Dan juga, aku akan bicara pada Hyerin tentang rencana kita, setelah ujian sebaiknya kita siap-siap berangkat.” Baekhyun memotong ucapanku.

Apa Baekhyun memahami apa yang aku mau bicarakan? Atau moodnya berubah karena aku terdiam terlalu lama dan jelas sangat tampak berpikir tentang keadaannya sekarang?

Aish… Sekarang aku punya masalah baru.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Sudah beberapa hari ini Baekhyun tidak muncul di kelas Hyerin. Dan hal ini membuat Jungha panik, berpikir jika Baekhyun marah pada perkataannya. Tanpa gadis itu tahu, Baekhyun sebenarnya ingin memerhatikan reaksi Hyerin saat dia tidak muncul. Tapi, seperti yang Baekhyun duga, gadis itu tampak seolah tidak ada yang berubah.

Ekspresi gadis itu sama saja. Seolah ketidak munculan Baekhyun selama beberapa hari, maupun kemunculan pemuda itu selama jam istirahat di kelasnya tidak pernah terjadi. Dan sekarang, Baekhyun tengah memandang diam gadis yang tengah sibuk dengan bukunya. Diam-diam pemuda itu menghela nafas panjang.

“Benarkah aku membuat keadaannya tambah parah…” gumam Baekhyun, memerhatikan Hyerin yang sekarang menutup bukunya, dan tampak memejamkan mata.

Tampak jelas gadis itu kelelahan. Tapi Hyerin kembali membuka matanya, dan mengusap-usap pipinya, seolah berusaha menghilangkan kelelahan yang terlihat jelas di wajah gadis itu.

“Aku harap Hyerin yang jadi posisi pertama.”

“Aku juga, rasanya kasihan saat Hyerin belajar sampai seperti itu,”

“Lagipula, Sunmi ‘kan selama ini selalu ada di bawah Hyerin, tidak mungkin dia bisa mengalahkan Hyerin.”

“Benar. Jika Hyerin ada di posisi pertama, dia pasti tidak akan belajar sampai seperti ini lagi.”

“Ah, ya, dan mungkin setelah ini dia bisa memikirkan sedikit keadaankulitnya, lihat? Wajah Hyerinkusut sekali, aigoo, untung saja aku tidak seperti Hyerin yang mati-matian berusaha mendapatkan nilai sempurna, aku pasti tidak akan punya waktu untuk merawatkulitku.”

Ya! Kau bicara begitu, lihat saja badan Hyerin, kau pikir dia kurus kering begitu bukan karena terus belajar? Dia pasti sangat jarang makan.”

“Oh! Benar! Apa sebaiknya kita buat perayaan jika nanti Hyerin dapat posisi pertama?”

Sstt. Sudah ayo, sebentar lagi bel masuk.”

Baekhyun memandang diam tiga orang gadis yang tadi sibuk bicara soal Hyerin. Dan sekarang sudah melangkah masuk ke dalam kelasnya, membuat tatapan Baekhyun kembali tertuju pada Hyerin.

Pemuda itu terkesiap saat nyatanya Hyerin tengah menatap ke arahnya. Baekhyun segera mengalihkan pandangannya, dan memutuskan untuk beranjak dari kelas itu. Beberapa langkah menjauh, Baekhyun memutar badannya—sedikit menjorokkan tubuh untuk melihat Hyerin.

Pemuda itu terpaksa menelan kekecewaan saat Hyerin sudah tidak memandang ke arahnya. Gadis itu malah menunduk dan fokus pada bukunya. “Mungkin tadi dia tidak melihat ke arahku. Aku saja yang berharap dia melihatku. Ish…”

Bagi pemuda itu, rasanya aneh saat dia tidak bisa mendapatkan perhatian dari manusia di bumi ketika ia bahkan mendapatkan banyak perhatian dari bangsanya di Akademi. Bagi pemuda itu, sikap dingin Hyerin berhasil membuatnya frustasi dan sangat ingin gadis itu memerhatikannya.

Tapi seolah Hyerin adalah manusia pertama yang diciptakan untuk tidak memerhatikan keberadaan Baekhyun, gadis itu tidak pernah sedikit pun memerhatikan keberadaan Baekhyun, bahkan nama pemuda itu saja Hyerin tidak tahu.

Kembali, hal itu membuat Baekhyun semakin frustasi. Kenapa gadis itu tidak mau memerhatikannya? Kenapa gadis itu tidak mau menganggapnya ada? Kenapa gadis itu tidak takut sedikit pun pada ancamannya?

Dan seperti bertanya pada batu, pertanyaan Baekhyun itu seolah tidak akan pernah menemukan jawaban. Karena sampai beberapa hari selama Baekhyun muncul di hidup gadis itu dan berusaha mendapatkan perhatiannya, selama itu juga lah gadis itu sama sekali tidak terpengaruh oleh keberadaannya.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Dari sini kita berpisah, nanti temui aku jika kau sudah dapat tanggal pasti kapan Chronopshyranya bisa di pakai. Mengerti?”

“Bukannya seharusnya aku yang bilang begitu?”

“Apa maksudmu?”

“Temui aku jika Hyerin sudah mau menolong kita.”

Konversasi kecil tercipta antara satu tim yang terdiri dari dua orang itu. Baru saja, Baekhyun mengutarakan rencananya tentang perjalanan Jungha untuk kembali ke Akademi dan meminjam Chronopshyra—alat yang hendak mereka gunakan untuk melihat memori Hyerin—saat Jung mengutarakan kekhawatirannya mengenai keadaan Hyerin.

“Benar. Aku akan mengabarimu jika nanti Hyerin mau membantu kita.” ucapnya mengulang sebagian pernyataan Jungha.

“Baekhyun.”

“Ya?”

“Kau tidak marah?”

“Soal apa?” Baekhyun menyernyit bingung. “Perkataanku hari itu.” jawab Jungha, harap-harap cemas pada jawaban yang akan Baekhyun berikan kepadanya.

Baekhyun tersenyum tipis, lalu menggeleng.

“Tidak masalah. Sudah sana berangkatlah.”

“Jangan mengancam Hyerin lagi, mengerti?”

“Aku tahu.”

“Baiklah. Aku berangkat, sampai jumpa.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Aku penasaran tentang siapa yang akan jadi peringkat pertama di sekolah.”

Langkah Hyerin terhenti. Ia memandang Baekhyun yang berdiri tak jauh di depannya, bersandar di tembok, memandang lurus ke depan dan bicara seolah tak ada Hyerin di sana padahal nyatanya pemuda itu bicara pada Hyerin.

“Kau tidak terlihat di kelas beberapa hari ini.” ucap Hyerin berhasil membuat sikap cuek Baekhyun berubah. Tanpa bisa menyembunyikan kekagetannya, Baekhyun sedikit terlonjak, dan langsung melangkah mendatangi Hyerin.

“Kau tahu aku tidak muncul di kelasmu?” tanyanya. Hyerin memandang pemuda itu. “Tentu saja. Tidak ada yang berisik di kelas, aku merasa lebih tenang saat belajar.” ucap Hyerin dengan nada sinis, namun entah mengapa berhasil membuat senyum muncul di wajah Baekhyun.

“Aku kira kau tidak pernah memerhatikan keberadaanku.” ucap Baekhyun pelan. “Siapa bilang aku tidak memerhatikan keberadaanmu? Suara bernada tinggimu itu sangat mengganggu pendengaran.” sahutan Hyerin sekarang berhasil membuat Baekhyun tertawa pelan, tapi kemudian tawa pemuda itu hilang, dan bergantikan dengan wajah serius.

“Hyerin, aku ingin bicara.” Baekhyun kemudian berucap.

“Bicara apa?”

“Bisa kita tidak membicarakannya di sini?”

Hyerin menyernyit, gadis itu melangkah meninggalkan Baekhyun, membuat Baekhyun dengan cepat menyusul langkah gadis itu.

Ya! Hyerin! Lee Hyerin!”

Seolah tak mendengarm Hyerin masih melangkah, dan dengan tak sabar, Baekhyun menarik lengan gadis itu.

“Kau pikir kau mau pergi kemana huh?” tanya Baekhyun.

“Mencari tempat untuk bicara.” Hyerin berucap, gadis itu memandang tangan Baekhyun yang ada di lengannya, membuat Baekhyun dengan segera melepaskan cekalannya.

“Tidak usah bicara jauh-jauh, di sini saja.” Baekhyun berusaha mengalihkan perhatian Hyerin. “Baiklah. Terserah kau saja.” ucap Hyerin sambil kemudian duduk di depan salah satu kelas. Dengan kaku Baekhyun mengikuti gadis itu, duduk di bangku yang sama, tapi berjauhan dari tempat Hyerin duduk.

“Kau mau bicara apa?” tanya Hyerin membuat Baekhyun tersadar dari lamunannya. “Umm, soal… permintaan tolongku.” Baekhyun memulai.

“Oh. Jadi kau mau menjawabku sekarang?”

“Apa?”

“Kenapa kau sangat ingin tahu apa aku punya teman atau tidak? Apa hubungannya denganmu? Kenapa harus aku yang kau tanyai? Masalah apa yang akan kau bicarakan dengannya?”

Baekhyun tertawa pelan.

“Kau benar-benar pintar, bisa mengingat pertanyaan itu dengan sempurna.” ucap Baekhyun. “Kau tidak menjawab pertanyaanku.” Baekhyun terdiam sebentar. Sampai akhirnya pemuda itu memberanikan diri untuk bicara setelah dia berulang kali meyakinkan dirinya.

“Aku sangat butuh bantuanmu. Aku… semua masalah ini ada hubungannya denganmu, dan aku hanya bisa minta tolong padamu.”

“Masalah apa? Apa hubungannya denganmu? Apa yang membuat masalah itu berhubungan denganku?”

Baekhyun menyernyit. Tampak berpikir lagi. Tak lama, Baekhyun mendengar suara tawa pelan Hyerin. “Kau bahkan belum menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang sebelumnya. Dan pertanyaan yang sekarang juga belum kau jawab. Apa kau benar-benar akan bicara jujur?” ucap Hyerin sambil kemudian berdiri, dan melangkah pergi.

Baekhyun memandang gadis itu, sampai akhirnya pemuda itu kehilangan kontrolnya untuk menahan diri dan menyusun kata-kata. “Kau mengenal Kyungsoo dan Chanyeol bukan?” ucap Baekhyun berhasil membuat langkah Hyerin terhenti.

Gadis itu berbalik, memandang Baekhyun.

“Memangnya kenapa?”

“Mereka berdua sama sepertiku, dan seperti Jungha juga. Mereka bukan manusia. Kami adalah Aviopshyra. Manusia yang punya kelainan genetik. Dan kami tidak seharusnya ada disini, ada Akademi yang khusus di buat untuk bangsa kami. Dan aku maupun Jungha, harus membawa dua orang itu ke Akademi tempat kami berasal, supaya mereka bisa hidup seperti Aviopshyra lainnya.”

Baekhyun memerhatikan ekspresi Hyerin. Pemuda itu menyernyit bingung saat melihat sudut bibir Hyerin sedikit terangkat membentuk senyuman, lalu gadis itu kembali menunjukkan raut dinginnya, dan melangkah mendekati Baekhyun.

“Lalu?” tanya Hyerin sambil duduk di bangku tempat dia tadi awalnya duduk..

“Kebanyakan manusia yang tahu jika kami berbeda, menganggap kami sebagai sesuatu yang harus di musnahkan. Jadi mereka menciptakan Aviatopshyra, yang bekerja untuk memusnahkan bangsa kami. Itu juga jadi ancaman bagi Kyungsoo dan Chanyeol jika mereka tetap ada disini.”

“Hmm… Apa hubungannya semua yang kau ucapkan itu denganku?”

“Apa kau pernah tahu kejadian penghancuran kota empat tahun lalu?” tanya Baekhyun, dan dijawab dengan anggukan pelan oleh Hyerin. Gadis itu tampak ragu-ragu untuk mengangguk.

“Di hari itu, ada banyak kesalah pahaman di bangsa kami. Dan di hari itu, salah seorang pimpinan Aviopshyra, menghancurkan kota. Dan membuat pandangan semua orang jadi negatif terhadap keberadaan kami.”

“Apa kau bicara soal Ayah Kyungsoo?”

Baekhyun tersentak. Ia memandang gadis itu tak percaya.

“Kau tahu?”

“Ya. Aku tahu Kyungsoo bukan manusia. Aku hanya tidak tahu dia makhluk apa. Apa kau bicara soal Ayah Kyungsoo? Beliau yang empat tahun lalu membuat kota ini rusak, kata Kyungsoo, Ayahnya marah karena ditipu oleh bangsanya.” ucap Hyerin

“Kami tidak menipu Ayah Kyungsoo… Dia—”

“—Aku tidak mengerti soal hal itu. Dan sebaiknya jangan kau jelaskan. Jelaskan saja kenapa kau meminta bantuanku.” potong Hyerin cepat. “Aku meminta bantuanmu karena kau mengenal Kyungsoo, dan karena… di hari itu, mungkin ada orang yang berpikir jika hancurnya kota itu bukanlah hal yang buruk.”

Hyerin menyernyit bingung.

“Aku tidak mengerti.” ucapnya membuat Baekhyun menghela nafas panjang. “Aku membutuhkan bantuanmu karena aku memerlukan ingatanmu. Tentang kejadian selama empat tahun ini. Supaya aku dan Jungha bisa membuat Kyungsoo dan Chanyeol ikut bersama kami. Sudah jelas?”

Hyerin mengangguk pelan. “Jadi, aku sudah menjelaskannya, sekarang, aku jelaskan masalah utamanya.”

“Apa itu?”

“Tidak semua orang berpikir jika kejadian empat tahun lalu itu adalah kejadian yang mengenakkan. Dan di antara beberapa orang yang masih sangat mengingat jelas kejadian itu, ada satu orang yang pasti menilai kejadian itu sebagai hal yang bagus.”

“Siapa?”

“Temanmu. Dia teman dekatmu. Dan juga dekat dengan Kyungsoo. Jungha melihat di pikiran Kyungsoo, dan tahu jika Kyungsoo selalu memikirkan temanmu itu, dan Kyungsoo bilang hanya temanmu itu yang berpikir jika keberadaan mereka adalah sebuah keajaiban.”

Hyerin diam. Memandang kosong ke arah lantai, membuat Baekhyun memandang gadis itu khawatir.

“Kau baik-baik saja, Hyerin?”

“Jadi, kau membutuhkan ingatan temanku itu untuk membuat Kyungsoo ikut bersama kalian?”

“Bukan hanya itu. Kami membutuhkan ingatan itu untuk mengubah pandangan beberapa orang yang berpikir bahwa keberadaan kami adalah ancaman.” Baekhyun kembali harus memandang ke arah Hyerin saat gadis itu tak kunjung bicara apapun.

“Hyerin?”

“Hm?” Hyerin tersadar dari lamunannya. “Kau memikirkan apa?” tanya Baekhyun penasaran. “Tidak ada. Hanya itu saja yang kau mau ceritakan?”

“Ya. Tidak ada yang lain. Aku sudah memberitahumu semuanya. Sekarang giliranmu.” Hyerin mengangguk-angguk pelan. Tapi gadis itu masih tidak bicara.

“Hyerin? Kau baik-baik saja?”

“Bisakah, aku mengatakannya padamu setelah hasil ujian keluar?” tanya Hyerin membuat Baekhyun menyernyit. “Kenapa? Kenapa tidak sekarang?”

Hyerin tampak berpikir. Kemudian gadis itu menghela nafas pelan.

“Kumohon…” ucapnya, membuat Baekhyun tersentak, dan seketika itu juga kehilangan kata-katanya. “Ah. Ya. Asal kau janji kau akan mengatakannya.”

“Ya. Aku pasti mengatakannya.” Hyerin berkata, gadis itu terdiam sebentar, tapi kemudian dia memandang Baekhyun. “Aku harus pulang sekarang, jangan ikuti aku lagi.” Hyerin memperingati Baekhyun, ucapannya pun di balas dengan anggukan oleh Baekhyun.

Pemuda itu masih duduk mematung saat Hyerin sudah melangkah menjauhinya.

BRUGK!

“Hyerin!”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Jungha’s Eyes…

Aku sampai di Akademi saat hari masih larut. Tentu saja waktu di bumi dan di Akademi berbeda. Aku memandang berkeliling, memastikan apa ada orang yang terbangun, terutama Tim Pengawas yang biasanya muncul dan berkeliling di jam-jam ini.

Aku segera menyelinap ke arah timur, tempat Chronopshyra berada. Aku menyelipkan diriku serapat mungkin di tembok, berusaha tidak menimbulkan suara apapun karena tidak boleh ada yang tahu jika aku kembali ke Akademi sebelum tenggang waktu ujianku.

Aku berjalan melewati beberapa lorong menuju ke Akademi, di gua saat seperti ini tidaklah terlihat mengancam, tapi saat tiba di Akademi, aku akan melihat bagaimana orang-orang yang tidak butuh istirahat di sini begitu banyak berkeliaran dan akan membahayakanku.

Itulah kenapa aku memilih langsung mengambil jalan melewati gua untuk pergi ke lorong timur. Supaya aku bisa menghindari Ballroom dan dengan cepat bisa melihat keadaan di sekitar tempat Chronopshyra, juga mengawasi siapa yang berjaga disana.

Ah!

Beruntunglah aku karena di sana orang yang aku kenal tengah berjaga. Dengan langkah sedikit cepat aku berlari kecil menghampirinya.

“Sehun!”

Sehun tersentak. Ia terbelalak memandangku. “Kau sudah menyelesaikan tugasmu!?” ucapnya tak percaya. “Ssstt. Aku kembali diam-diam.”

“Apa jangan-jangan kau sama seperti—”

BRUGK!

“Sehun!”

“Astaga.”

“Apa yang terjadi?” ucapku bingung saat mendengar suara gedebum dari dalam tempat Chronopshyra berada. Dengan cepat aku mengikuti langkah Sehun, dan tercengang saat melihat Suho ada di dalam ruangan, bersama dengan Kai!

Kai! Bukankah dia juga sedang ujian sepertiku? Apa jangan-jangan dia juga menggunakan cara yang sama sepertiku dan Baekhyun?

“Jungha?” Suho sekarang memandangku kaget.

“Nah, sekarang kita kedatangan dua orang yang sedang curang di ujian mereka.” ucap Sehun membuatku langsung melotot ke arahnya.

“Cepat bawa Kai keluar, dia tiba-tiba ambruk disini.” ucap Suho.

Aku hanya diam saat melihat Sehun dan Suho membopong Kai keluar dari ruangan, membawanya ke sisi Pos Penjagaan yang lebih aman dan tidak terlihat oleh yang lainnya.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Seharusnya aku yang bertanya padanya nanti.” Suho menjawab.

“Apa kau kesini dengan tujuan yang sama seperti Kai?” tanya Suho sambil memandangku. Aku segera tersenyum tipis. Berharap Suho akan sedikit berpihak padaku untuk kali ini. Setidaknya kali ini saja.

“Kenapa dengan targetmu huh?” tanya Suho.

“Targetku dan target Baekhyun tidak mau ikut kesini. Dan aku tidak bisa membaca pikiran targetku.” aku menjelaskan.

“Lalu? Kenapa kau butuh Chronopshyra?”

“Karena ada seorang manusia yang punya hubungan sangat dekat dengan dua orang itu. Dan juga, target Baekhyun adalah Kyungsoo, anak dari—”

“—Oh. Ya, aku tahu.” potong Sehun.

“Diam.” Suho memperingati dengan nada sedikit kesal.

“Ya. Dia adalah target Baekhyun, dan sepertinya, ada sesuatu yang terjadi empat tahun lalu, saat penghancuran itu. Dan berhubungan dengan manusia yang aku tahu itu. Aku membutuhkan Chronopshyra untuk melihat kehidupannya selama empat tahun ini, jadi aku bisa membuat targetku dan target Baekhyun mau ikut.”

“Memangnya apa hubungan antara targetmu dan manusia itu?”

“Aku tidak tahu. Yang jelas, targetku pernahku lihat memerhatikan keadaan manusia itu. Ah! Susah menjelaskannya. Yang jelas aku butuh alat itu. Titik.”

dasar tukang memaksa Saat dia ujian dia mau curang, saat aku ujian aku tidak di bolehkan curang

untung saja dia satu kelompok dengan Baekhyun, jadi curang pun tidak akan kena poin besar karena sekelompok dengan Baekhyun

“Aku akan mengizinkanmu untuk curang di ujian selanjutnya Suho—dan kau Sehun, ini bukan karena aku sekelompok dengan Baekhyun, tapi ini karena aku dan Baekhyun benar-benar tidak punya pilihan lain selain ini.” ucapku meluruskan pemikiran buruk mereka.

“Baiklah, baiklah. Tapi kau harus menggunakannya setelah Kai. Kai sudah memintaku untuk meminjamkan alat ini lebih dulu.” Suho akhirnya menyerah.

“Memangnya apa alasan Kai?” tanyaku penasaran. Suho baru saja akan menjelaskan saat Kai terbangun, dan membuat pembicaraan kami terhenti. “Ambilkan makanan dan minum.” Suho berkata pada Sehun.

Dengan cepat Sehun menghilang, sementara Suho memeriksa keadaan Kai. “Kau baik-baik saja?” tanya Suho. “Kepalaku sedikit pusing.”

“Kau kenapa? Dunia manusia tidak menyenangkan huh?” dengan sedikit gurauan Suho bertanya. “Aku tidak tahu kenapa tadi rasanya pusing sekali,” ucap Kai sambil duduk bersandar. “Jungha? Kenapa kau disini?” sambungnya saat menyadari kehadiranku.

“Dengan alasan yang sama denganmu.”

“Apa?” Ia menyernyit. “Apa alasanmu mau memakai Chronopshyra?” cecarku langsung. “Jungha!” sergah Suho membuatku merengut.

“Alasanmu sendiri apa?” tanya Kai.

“Aish, aku malas menjelaskannya.”

“Aku juga malas.” balas Kai tak mau kalah.

Hey!”

“Apa?”

“Jelaskan!”

“Kau dulu yang jelaskan, kau ini bodoh atau apa? Tidak melihat keadaanku sekarang?” tanyanya kesal. Aku pun tersenyum penuh kemenangan. “Ada seorang manusia yang mengenal targetku dan juga target Baekhyun, dia juga sepertinya tahu tentang kejadian empat tahun lalu, dan dia sekarang bersikap seolah tidak mengenal dua orang target kami itu. Jadi kami membutuhkan Chronopshyra, alasanmu?”

Kai mengangguk-angguk. Ia kemudian mulai bicara. “Ada seorang manusia yang dekat denganku, dan mengenal baik targetku. Tapi dia adalah adik dari seorang Aviatopshyra.” ucap Kai membuatku menganga tak percaya.

“Tidak mungkin!”

“Untuk apa aku berbohong?” tanyanya, mengerjap cepat karena ketidakpercayaanku.

Sepertinya untuk kasus ini Kai lebih membutuhkan Chronopshyra dibandingkan aku.  “Kapan kau akan membawanya kesini?” tanyaku pada Kai.

“Aku tidak mau mengambil resiko dengan bersikap curang. Jadi, aku akan membawanya kesini di hari terakhir ujian. Kita punya waktu dua hari jika sampai di deadline kita belum bisa membawa target kan?” ucap Kai membuatku segera teringat.

“Oh! Berarti aku juga tidak perlu curang. Kau gunakan alat itu jam berapa?” tanyaku. “Pergantian waktu manusia. Pagi hari. Artinya malam hari di tempat kita.” ucap Kai.

Aku mengangguk-angguk paham.

“Baiklah. Aku akan gunakan alatnya di pagi hari kita.” ucapku.

“Baiklah. Setuju.”

“Kalian berdua, memangnya aku akan setuju?” pertanyaan dari Suho membuatku dan Kai sadar bahwa sedari tadi Suho menjadi pendengar dalam diam. “Kau pasti setuju. Kau juga pasti senang karena akhirnya bisa melihat bagaimana masa lalu seseorang, bukan?” tanya Kai membuatku tergelak.

Benar. Selama ini kami hampir tidak pernah tahu bagaimana rasanya menjelajah ingatan manusia. Dan karena Chronopshyra hanya digunakan untuk penyusup, kami tidak tahu bagaimana keadaan di dalam ruangan itu.

“Tidak juga. Aku pernah tahu, sekali.” bantah Suho.

“Memangnya kau pernah melihat ingatan manusia?” tanyaku membuat Suho akhirnya berpikir keras. …benar, hanya dua kali ini saja. Aish, berbahaya sekali kalau sampai ketahuan

“Tidak akan ketahuan. Baekhyun ada di pihak kita.”

“Aku menyerah.” Suho mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, kemudian dia memandang ke arah Sehun yang datang dengan membawa nampan.

“Kau lama sekali.”

“Maaf, tadi Petugas bertanya kenapa aku mencari makanan malam-malam.” ucap Sehun sambil meletakkan nampan di meja. “Nah, makanlah Kai. Kau butuh energi untuk kembali ke bumi.” ucap Suho tapi di balas dengan gelengan pelan oleh Kai.

“Aku tidak lapar.” Kai menolak. “Kau tidak makan berhari-hari kan? Bukankah kau tidak makan di tempat manusia?” tanya Suho tak mengerti.

“Aku tidak makan. Tapi, aku tidak merasa lapar sekarang.” ucap Kai. “Tetap saja, kau harus makan.” Suho berkeras.

“Aku kenyang. Sungguh.”

Tsk, dasar. Ya sudah, kalian berdua, kembalilah ke bumi. Jangan sampai ada yang tahu jika kalian ada di sini. Bisa berbahaya buatku.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

Well, mau enggak mau aku harus menyapa kalian dengan double-updates dari fanfiksi yang sama dengan kemarin. Fanfiksi sebelah—yang seharusnya ngisi slot Jum’at sama Minggu—lagi sakit, lebih tepatnya: plotnya lagi aku rombak jadi aku harus perbaikin draft di sana sini. Jadi, biarlah Dream menyapa kalian lagi.

Terutama karena aku pengen ngelarin fanfiksi-fanfiksi berchapter aku di akhir Mei, aku harus ngebut banget ngegarap semua fanfiksi yang masih aku anggurin dengan chapter terakhir yang udah lamaaa banget enggak aku updates.

Tolong bersabar, pahamilah kalau kinerja otak aku terbatas dan ada banyak hal yang harus aku kerjakan dalam satu waktu jadi aku enggak bisa berfokus sama satu project aja. Jari tangan aku cuma sepuluh, dengan kecepatan ketik sekitar 90-98 kpm, enggak bisa akutuh dipaksa buat bikin beberapa cerita dalam sehari, huhu. Ide juga sering muncul-tenggelem kayak ingus balita, susah diniatinnya.

Belum lagi kalau lagi pekan writer’s block kayak gini, rasanya males banget mau nyentuh laptop, apalagi mikir storyline. Deadline akhir Mei juga jadi beban, mending beban jadi jomblo deh daripada beban ngelarin fanfiksi, ciyus.

Ya udah deh, diriku enggak mau banyak berceloteh ria karena ngetik celotehan ini makan waktu, wkwk. Sampai ketemu lagi! Salam, Irish.

kontak saya  Instagram  Wattpad  WordPress

12 tanggapan untuk “DREAM — #4: Chronopshyra ►► IRISH”

  1. Sumpah ya ka Irish 😂 aku suka Baekhyun disini xD dia itu kaya penguasa krn pemilik akademi 😂 dan Jungha juga tmn yg baik nih 😂 tapi jangan” dia punya rasa nh sama si Baek ;”v

    Baek juga maunya di perhatiin :’v apa banget sih loh Baek yaampun dahhh 😂
    Dan.. buat si Chanyeol sama Kyungsoo masih penasaran nh sama merek ;” dan ada tokoh baru lagi nongol, si Sehun, Suho, sama Kai 😴

    Ditunggu kelanjutannya ka Irish 💞 keep writing and keep healthy!!

  2. Take your time baby..yg ptg mah kamu selalu sehat..apdetny suka2 km ajaaa…q ttep setia nungguin kok…q lbh deg2an nungguin apdetanmu drpd kbar lakiq..hebatkan?hahabahahahahha
    Di otakku ada 3 ff yg menunggu akhirny..ga pgn brakhir tp penasaran kan konyol…
    Klo yg dream ini udh q baca d tmpat apdetan sbelah jd q msh brsabar ngguny hahahahahhaha
    Fighting irish!!!

  3. Sudahlah baek kayaknya kamu naksir sama hyerin. Apa hyerin sama kai ada hubungannya yah ? Soalnya kan waktu mau pergi hyerin pingsan dan kai juga pingsan ? Ahh, aku gak tau tunggu kelanjutannya aja deh

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s