DREAM — #3: Rival ►► IRISH

⁛  DREAM  ⁛

►  Byun Baekhyun x Lee Hyerin  ◄

►  Fantasy x Slight! Mythology x Romance x School-life ◄

►  Chapterred x Teenager(s)  ◄

Vivid Dream(s):

ForewordPrologue ► Baekhyun’s SidePrologue ► Hyerin’s Side#1: Her Problem#2: A Friend — [tonight] #3: Rival

♫ ♪ ♫ ♪

#3 — Rival

In Hyerin’s Eyes…

Pemuda ini mengikutiku lagi. Untuk kesekian kalinya dalam minggu ini. Kenapa dia selalu mengikutiku dan selalu menuntut jawaban dari pertanyaan yang sama? Kenapa dia sangat ingin tahu?

Aku menghentikan langkahku. Kudengar suara langkah cepat mendekatiku. Ia pasti akan menunjukkan senyumnya padaku, berpikir bahwa senyum itu bisa membuatku luluh dan bicara padanya.

Padahal nyatanya dia hanya akan mendapatkan pertanyaan yang sama dariku, dan menjawab dengan kalimat yang sama yang sudah bisa aku hafal. Lalu aku akan marah dan meninggalkannya, jadi dia tidak akan mengikutiku lagi, hari ini.

Oh, ayolah. Sampai kapan keadaan monoton ini akan terjadi? Sangat membosankan.

“Kenapa kau mengikutiku? Kau sudah mengikutiku sejak dari sekolah.” ucapku padanya saat dia sudah sampai di depanku.

“Jadi kau tahu?”

“Kenapa? Untuk apa kau mengikutiku?” pertanyaan yang sama lagi-lagi aku cetuskan untuknya. “Kau pasti sudah tahu untuk apa ‘kan? Aku sudah mengatakannya sejak kemarin.”

“Karena kau bilang kau harus bertemu dengan sahabatku untuk membicarakan hal yang sangat penting dan rahasia. Sudah kukatakan padamu bahwa aku tidak punya teman. Tidak bisakah kau berhenti bertanya soal hal ini padaku?”

“Tidak mungkin. Jika kau jujur, kenapa kau merasa terganggu saat aku terus menanyaimu? Toh kita juga selalu bicara tentang hal yang sama setiap harinya.”

“Kau bicara apa?” ucapku dingin

“Kau benar-benar tidak mau berkata jujur?”

Jujur? Jujur tentang apa? Apa yang sangat ingin diketahuinya dariku? Kenapa dia sangat mendesakku seolah jawaban dariku menentukan nasibnya.

“Aku bahkan tidak mengenalmu, untuk apa aku bicara?”

Aku mulai melangkah meninggalkannya. Dan seperti yang biasa dia akan berhenti mengikutiku jika aku sudah mengakhiri kalimatnya seperti itu. Tapi baru beberapa meter menjauh, langkahku terhenti. Sekarang aku memikirkan kenapa dia begitu ingin tahu apa aku punya teman atau tidak? Jika aku punya teman, apa hubungannya dengannya?

Aku berbalik, pemuda bodoh itu sudah melangkah menjauh. Aku heran bagaimana dia sudah berada di blok yang berbeda denganku padahal rasanya tadi aku tidak berjalan terlalu tergesa-gesa.

Dengan terpaksa aku menaiki sepedaku, dan mengayuhnya cepat untuk menyusul pemuda itu. Aku menghentikan sepedaku beberapa meter darinya. Tindakanku pun membuat langkahnya terhenti.

Aku turun dari sepedaku, memandangnya yang sekarang tengah berdiri dengan tatapan tak percaya. Kenapa? Karena aku menyusulnya tanpa alasan? Karena dia pikir aku akan menyerah?

“Ada apa Hyerin?” tanyanya.

“Kenapa kau sangat ingin tahu apa aku punya teman atau tidak? Apa hubungannya denganmu? Kenapa harus aku yang kau tanyai? Masalah apa yang akan kau bicarakan dengannya?”

Aku mencecarnya dengan pertanyaan, dan dia sendiri terdiam. Keningnya berkerut, aku sungguh tahu dia sekarang sedang berpikir keras.

“Manusia butuh 0,11 sampai satu detik untuk bicara spontan tanpa berpikir, yang artinya juga tanpa kebohongan. Kau bilang aku harus menjawab dengan jujur padamu, sekarang… kenapa pembicaraan jujur ini tidak di mulai darimu?” lagi-lagi aku mencecarnya.

“Apa maksudmu?” ia memandangku bingung

“Kau jawab pertanyaanku dengan jujur dan lengkap, baru aku jawab pertanyaanmu. Kalau kau tidak mau tidak, jangan mengikutiku. Karena aku tidak akan bicara sepatah katapun padamu. Sampai bertemu.” ucapku sebelum aku melangkah naik ke sepedaku, dan mengayuhnya.

Jika sudah begini kami sama-sama impas bukan? Dia harus bicara jujur padaku dulu, baru aku akan bicara.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Baekhyun’s Eyes…

Aku berdiri mematung, hampir tidak berkedip memandang sosok gadis yang sekarang sudah tidak ada dalam pandangannya.

“Gadis itu… Pemikirannya…” aku segera menggeleng cepat, sekarang berpikir keras. Aku harus mengarang cerita sebaik mungkin supaya dia bisa percaya aku berkata jujur. Aih… Seharusnya aku memikirkan rencana yang lebih baik sebelum ini, sekarang aku terjebak di peryataanku sendiri.

Pernyataanku untuk mendesaknya mengatakan kejujuran.

Dan sekarang dia mendesakku dengan pernyataan yang sama. Seharusnya aku sadar bahwa aku tidak sedang berurusan dengan gadis biasa. Walaupun Hyerin seorang manusia, tapi dia punya intelegensi yang tinggi dan tidak bisa kuremehkan.

Sekarang, aku tidak tahu harus berkata apa untuk bisa mengelabui gadis itu.

Aku tidak bisa menganggap remeh pernyataan Hyerin saat nyatanya dia benar-benar tidak bicara sepatah kata pun padaku saat keesokan harinya aku mengikutinya saat pulang. Aku tahu dia tidak bercanda soal apa yang dikatakannya.

Itu artinya aku harus bicara lebih dulu padanya?

Bahkan rasanya aneh saat dia sama sekali tidak merasa terusik ketika aku mengikutinya sampai ke ujung perumahannya. Biasanya pembicaraan lucu di antara kami akan terjadi, tapi sekarang—

—Ia menganggapku tidak ada dan terus menuntun sepedanya dari sekolah sampai ke rumahnya. Heran sekali kenapa Hyerin repot-repot membawa sepeda itu padahal dia hanya menuntunnya pulang.

Jungha juga bilang dia tidak bisa mendapatkan informasi apapun dari benak gadis itu karena dia sangat jarang berpikir. Seperti apa gadis ini sebenarnya? Kenapa ia punya kepribadian yang sangat unik? Dan sebenarnya apa hubungannya dengan targetku?

Argh. Semuanya begitu memusingkan. Aku bahkan tidak bisa mengerti satupun jalan pikirannya. Dan Kyungsoo juga sama sekali tidak mau mengatakan apapun. Atau goyah dari pendiriannya.

Haruskah aku membawa pertolongan dari Akademi?

Tidak. Tidak. Guru kami bisa sangat marah karena aku tidak bisa menyelesaikan tugas kelompokku ini. Dan juga, Jungha pasti akan marah. Bahkan dengan kefrustasiannya karena tidak bisa membaca pikiran targetnya, Jungha masih berusaha untuk mendekati targetnya itu. Kenapa aku tidak bisa?

Aku adalah anak pemilik Akademi. Dan aku sudah ada di Akademi sejak kecil. Seharusnya aku bisa bersikap lebih dewasa dan professional daripada Jungha yang baru menempati Akademi selama lima tahun.

Benar. Kau pasti bisa Byun Baekhyun… Kau pasti bisa.

Aku hanya perlu memikirkan satu cara yang bisa membuat Hyerin mengatakan kebenaran, dan Kyungsoo juga dengan terpaksa akan—tunggu dulu. Mereka saling mengenal bukan? Akan sangat heboh jika seisi sekolah tahu tentang ini.

Dan juga, dari apa yang aku dengar, Hyerin adalah murid terpintar di sekolah ini. Dan dia sangat membenci orang-orang yang berusaha menyainginya. Kurasa…

Ah! Benar! Ini bisa jadi ancamanku untuknya!

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Jungha’s Eyes…

“Ayolah Jungha-ya. Ini satu-satunya cara supaya dia mau bicara.”

Aku menutup telingaku rapat-rapat. Tidak mau mendengar satu kata pun yang Baekhyun ucapkan. Jika tidak dengan cara ini dia tidak akan mau bicara apapun. Dan tugas kita akan gagal. Kau mau tidak lulus ujian?

“Cukup!” bentakku kesal membuat Baekhyun segera bungkam.

“Aku tidak mau menggunakan cara curang seperti ini. Itu sama saja dengan kita membuat hidupnya berada dalam ancaman. Dan kita akan di diskualifikasi dari ujian. Kau mau huh?”

Seongsaengnim tidak akan tahu jika kau tidak memberitahunya.” ucap Baekhyun.

“Lalu bagaimana jika orang tuamu tahu huh? Kau mau aku di bantai hidup-hidup olehnya?!” Baekhyun dengan cepat membekapku begitu aku mulai meninggikan suara. “Sst! Kau jangan berisik Jungha-ya. Ada aku di sini, kau lupa? Orang tuaku pasti tidak akan memarahimu. Bagaimana?”

“Aku tidak mau terlibat, ancam saja dia sendiri kalau kau mau!”

“Baiklah. Tapi kau harus janji untuk tidak memberitahu guru kita.”

Aku menatap Baekhyun tak percaya. Berulang kali aku satu kelompok dengannya, dan aku tidak tahu jika dia bisa berani menggunakan ancaman. Padahal sudah jelas dia melanggar—oh ayolah, dia anak pemilik Akademi, tidak akan ada hal buruk yang bisa menimpanya jika ketahuan.

“Asal jangan kau ungkit aku jika kau ketahuan.” tandasku.

Deal.”

Deal.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Lee Hyerin!”

Hyerin mengehentikan langkahnya, dan berbalik. Memandang pemuda yang sekarang berlari kecil menghampirinya.

“Ada apa?”

Baekhyun mengatur nafasnya, kemudian ia menatap Hyerin. “Aku mau bicara.” dengan santai Hyerin mengedikkan bahu. “Bicara saja.” ujarnya.

Baekhyun lantas memandang gadis itu sejenak, sebelum bibirnya membuka. “Kudengar kau selalu ada di ranking pertama sekolah ini. Benarkah itu?”

Hyerin menyernyit.

“Ini tidak ada hubungannya dengan masalah yang kita seharusnya bicarakan.” ucap Hyerin singkat. “Aku tahu. Aku hanya mencoba bicara tentang hal lain padamu.”

Hyerin diam. Gadis itu mulai melangkah lagi, membuat Baekhyun dengan cepat menyusul langkahnya. “Dan kudengar juga, kalau kau tidak suka jika ada yang berusaha menyaingi nilaimu, benarkah?”

Hyerin terus berjalan, mengabaikan pemuda itu.

“Aku yakin ucapanku benar.” ucap Baekhyun membuat Hyerin menghentikan langkahnya. “Lalu kenapa?” ucap Hyerin segera melahirkan sebuah senyum di wajah Baekhyun.

“Aku mau memberimu penawaran.”

“Penawaran?”

“Kau jawab pertanyaanku, nanti setelah itu aku jawab pertanyaanmu. Bagaimana?”

“Tidak.” ucap Hyerin singkat.

“Jika kau tidak setuju…,” Hyerin menghentikan langkahnya, memandang Baekhyun yang sekarang tampak memandang lapangan kosong di depannya. “…, aku akan rebut gelar juara pertamamu.”

“Apa kau sedang mengancamku?” ucap Hyerin, tertawa sinis.

“Ya. Aku mengancammu.” sahut Baekhyun tegas. Hyerin tampak berpikir, tapi kemudian gadis itu mendongakkan wajahnya memandang Baekhyun masih dengan tatapan dingin khas miliknya.

“Silakan saja. Kita lihat apa murid pertukaran bisa menyaingiku.” ucap Hyerin singkat sambil kemudian melangkah meninggalkan Baekhyun. Baekhyun membuka telapak tangannya, memandang Elf mungil yang sedari tadi mendengar ucapannya.

“Bagaimana tadi? Menurutmu dia akan takut?”

Elf mungil itu menggeleng.

“Jadi dia tidak akan takut?”

Anggukan kecil dari Elf itu membuat Baekhyun segera berdecak kesal. Ia memandang ke arah Hyerin yang sudah berjalan menjauh.

“Aku harus bagaimana supaya dia mau bicara…”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Aku tidak tahu jika kau masih berani mengikutiku. Tidakkah peringatanku cukup jelas?”

Langkah Jungha terhenti. Gadis itu tersenyum tipis memandang ke arah pemuda jangkung di depannya. “Aku tidak mengikutimu, aku hanya memastikan bahwa kau akan aman.” sahut Jungha ringan.

“Aman? Hah. Sedari dulu aku sudah menjaga diriku sendiri. Pergilah. Kembalilah ke tempat asalmu.”

“Apa kau tidak merasa sedikitpun penasaran tentang alasanku mengikutimu terus?” tanya Jungha kesal karena sikap dingin pemuda di hadapannya. “Tidak tertarik. Aku sudah bisa hidup lebih manusiawi di sini.”

“Tidak ingin hidup bersama orang-orang yang sama seperti kita? Tidakkah kau takut kekuatanmu akan berkurang jika kau terlalu lama berada di tempat ini?”

“Tidak.”

Jungha memutar bola matanya kesal. “Park Chanyeol. Kau harus ikut denganku ke Akademi. Tidak mau tahu apa kau suka atau tidak. Kau tidak seharusnya ada disini. Dan kau harus aku bawa. Tidak boleh ada penolakan.”

Chanyeol menyernyit memandang gadis di hadapannya, tidak mengerti kenapa gadis itu bisa bicara begitu terus terang padahal sudah jelas Chanyeol tidak akan mau.

“Aku tidak mau.”

“Untuk apa kau terus ada disini huh!? Kau juga tidak menyukai manusia, tidak punya keluarga! Ish!” ucapan Jungha langsung membuat Chanyeol bungkam. “Aku tidak bisa ikut. Walaupun aku sangat ingin ikut kesana, aku tidak bisa.” ucap Chanyeol membuat Jungha kini bingung pada perubahan cara bicara pemuda itu.

“Maksudmu? Apa kau menyukai manusia di sini? Atau kau punya urusan lain?”

“Aku harus menjaga seseorang di sini. Jika aku pergi, dia mungkin akan terjebak dalam bahaya. Aku tidak mau membuatnya berada dalam bahaya.” ucap Chanyeol segera mengirimkan lebih banyak lagi pertanyaan di benak Jungha.

“Jadi kau suka pada manusia? Begitu?”

“Aku tidak menyukai manusia. Aku… hanya merasa bersalah pada seseorang. Dan aku rasa aku harus bertanggung jawab pada kehidupannya. Memastikan dia akan aman. Itu saja. Jangan paksa aku untuk ikut bersama kalian, aku tidak bisa.” Chanyeol menuturkan.

Pemuda itu kemudian melangkah meninggalkan Jungha yang masih berdiri tak percaya. Tidak mengerti pada maksud yang di katakan Chanyeol, juga tidak mengerti masalah apa yang membuat pemuda itu berkeras tidak ingin pergi dari bumi.

“Kurasa aku harus menggunakan ancaman yang sama seperti yang Baekhyun gunakan.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Hyerin.”

Hyerin mendongak, menyernyit memandang Jungha yang tiba-tiba saja menyapanya. Tidak seperti biasanya saat mereka saling mengabaikan.

“Ada apa?”

“Apa kau sudah bertemu rekanku?”

“Siapa? Pemuda penguntit itu? Sudah. Kenapa? Kau mau mengancamku seperti caranya mengancamku juga? Silakan saja. Aku tidak takut. Aku tidak peduli pada ancaman bodoh murid pertukaran seperti kalian.”

Jungha mengerjap cepat. Ia paham jika Hyerin salah menangkap maksud ucapannya. Gadis itu dengan cepat berusaha mengoreksi kalimatnya. “Bukan itu maksudku, aku mau berta—”

“—Aku tidak mau bicara padamu. Atau pada rekanmu itu.” tandas Hyerin membuat Jungha berdecak kesal. “Baiklah. Kalau begitu aku juga akan merebut gelarmu itu.”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Jungha’s Eyes…

“Siapa yang bisa mengerjakan soal ini?”

“Saya!”

Tentu saja Hyerin akan mengacung. Dia bergerak maju, dan mengerjakan soal di papan dengan cepat. Kuakui dia memang terlihat sangat pintar, walaupun kelakuannya itu sangatlah menyebalkan.

“Bagus sekali Hyerin.” ucap guru kelas kami.

“Aku bisa mengerjakannya dengan cara yang lebih simpel seongsaengnim!” ah, ya. Sunmi juga mulai terlihat menonjol di kelas. Sepertinya dia berniat untuk merebut gelar juara pertama.

“Benarkah? Coba maju nak.”

Aku bisa melihat jelas tatapan kebencian Hyerin, tapi gadis itu dengan pasrah duduk di tempatnya. Memperhatikan dengan sangat teliti setiap tulisan yang Sunmi buat.

“Wah. Benar-benar cara yang simpel. Bagus sekali, nak.” ucap seongsaengnim, menulis sesuatu di lembar absensinya. Jelas Sunmi mendapat poin tambahan.

“Kita akan lihat siapa yang akan jadi juara pertama kelas kita untuk bulan ini.” ucapku pelan, aku tahu Hyerin mendengarku, dan ia sekarang pasti sedang menatapku dengan sangat tajam.

Seongsaengnim, bukankah ada cara yang lebih simpel dari itu?” ucapku sambil mengacungkan tangan.

Persaingan ini akan jadi berat untuk Hyerin.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Hyerin tidak tampak baik akhir-akhir ini…”

“Ya, dia tidak pernah tidur di kelas, dan selalu berkutat dengan buku…”

“Tidakkah kau lihat dia jadi tambah pucat? Sepertinya dia sangat kaget karena kepintaran Sunmi yang mendadak itu.”

“Bukan hanya Sunmi. Murid pertukaran itu juga.”

“Oh. Benar, sepertinya mereka berdua juga berusaha merebut juara pertama.”

“Kau sudah dengar soal murid pertukaran yang ada di kelas lain itu?”

“Pemuda keren itu? Memangnya dia kenapa?”

“Kudengar dia juga sangat pintar di kelasnya!”

Whoah. Sepertinya Hyerin punya banyak saingan untuk semester ini.”

Gumaman sangat pelan itu bahkan bisa kutangkap saat aku masih di luar kelas. Hyerin pasti sudah ada di dalam kelas, seperti biasanya. Aku melangkah masuk. Tatapanku langsung tertuju pada Hyerin. Ia tampak sangat serius mencoret-coret bukunya.

Aku sekali lagi melemparkan pandanganku ke arah Hyerin. Ia tampak memandang ke arah Sunmi, dengan tatapan penuh kebencian khas miliknya. Ia meremas kertas coretan yang ada di tangan kirinya, lalu kembali fokus pada bukunya.

Kurasa seperti itulah sifat asli Hyerin. Keras seperti batu, tidak ingin disaingi oleh siapapun. Kurasa dia benar-benar bersemangat untuk mengalahkan Sunmi. Berulang kali Hyerin dan Sunmi berdebat hanya karena sebuah soal di papan. Dan waktu pelajaran kami habis hanya karena satu soal itu.

Aku tidak merasa jika Hyerin menganggapku saingan beratnya, kurasa dia dan Sunmi sudah punya masalah sebelum ini. Lebih seperti… mereka sudah lama bersaing. Dan dari pemikiran logis yang Hyerin kemarin pikirkan, dia tidak menganggapku maupun Baekhyun sebagai saingan beratnya karena kami hanyalah murid pertukaran pelajar.

Dan nilai baik kami tidak akan terlalu berpengaruh baginya. Sebenarnya pemikirannya benar juga, tapi entah kenapa aku masih berusaha untuk menyainginya di kelas, mungkin karena di Akademi aku sama sekali tidak punya kesempatan untuk bersaing sedikit pun.

“Kau tidak bisa begitu saja menyilangkan persamaan vektor ini!” bantah Hyerin.

“Kenapa tidak? Persamaan itu bisa di sederhanakan dengan cara ini.” ucap Sunmi tak mau kalah. “Vektor punya atura—”

“—Omo!”

“Astaga!”

“Apa yang terjadi pada Hyerin?”

Ucapan Hyerin terhenti. Ia segera menutupi hidungnya. Dengan jelas kami semua melihat darah mengalir keluar dari hidung gadis itu.

“Aku izin ke toilet seongsaengnim.” ucap Hyerin cepat, segera berlari keluar kelas. Sunmi lah yang tampak sangat senang akan apa yang terjadi. Ia tampak tersenyum, seolah hal inilah yang sudah dia harapkan dari Hyerin.

Tapi aku merasa panik. Kenapa Hyerin jadi seperti itu? Apa dia benar-benar belajar nonstop?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku melangkah cepat ke ruang kesehatan saat bel panjang tanda pelajaran berakhir berbunyi. Tapi langkahku segera tersendat karena ada Baekhyun di depan kelas. Oh ya, beberapa hari ini dia sering ada di kelas kami hanya untuk menunjukkan kepintarannya di depan gadis-gadis di kelas dan membuat Hyerin berulang kali lebih kesal.

“Kau mau kemana?” tanya Baekhyun.

“Sesuatu yang gawat terjadi pada Hyerin.” ucapku membuat Baekhyun terbelalak. “Apa? Apa yang terjadi padanya?” tanpa menjawab pertanyaan Baekhyun, aku segera melangkah ke ruang kesehatan. Aku tahu Baekhyun mengikutiku, dan dia pasti sangat penasaran pada keadaan gadis yang merupakan jalan utama Baekhyun untuk bisa mendekati targetnya itu.

Langkah kami terhenti saat aku melihat Chanyeol di ujung koridor ruang kesehatan. Ia tampak mengintip ke dalam ruang kesehatan, beberapa kali, raut wajahnya tampak sangat khawatir. Beberapa saat dia berdiri di sana, sampai aku melihat—

“—Kenapa dia ke sana?” gumam Baekhyun saat targetnya berjalan masuk ke dalam ruang kesehatan. Melihat masuknya pemuda itu ke dalam ruang kesehatan, Chanyeol segera melangkah pergi. Seolah menghindari pemuda itu.

“Dia targetmu ‘kan?” ucap Baekhyun.

“Ya. Dan targetmu juga ada di ruang kesehatan. Ayo cepat, sepertinya mereka berdua ada hubungannya dengan Hyerin.” ucapku, menarik lengan Baekhyun untuk segera melangkah ke ruang kesehatan.

Baekhyun menyentuh punggung tanganku tanpa kukomando. Dan aku bisa mendengarkan apa yang dua orang—Hyerin dan target Baekhyun—itu bicarakan.

“…belajar terlalu keras?”

“Tidak.”

“Lalu bagaimana bisa sampai begini?”

“Aku baik-baik saja.”

“Kau sudah makan?”

 “Hyerin? Apa ayahmu masih seperti dulu?”

Hening selama beberapa saat.

“Kembalilah ke kelasmu sebelum ada yang melihat.”

“Tsk, ini, makanlah. Aku yakin kau belum makan seharian.”

“Aku akan makan nanti.”

“Nanti? Kapan? Kau mau menunggu tubuhmu pingsan? Hyerin-ah, apa kau tidak pernah berkaca? Jadi seperti apa sekarang tubuhmu? Bagaimana bisa kau tidak peduli pada keadaanmu huh?”

Nada bicara pemuda itu terdengar marah. Dan Hyerin hanya menyahutinya dengan erangan pelan. “Aku sungguh baik-baik saja. Kau selalu menganggapku seperti anak kecil.” terdengar bagaimana pemuda bernama Kyungsoo itu menghela nafas panjang.

“Melihat keadaanmu seperti ini membuatku merasa bersalah Hyerin-ah…”

“Untuk apa? Kau tidak salah apa-apa.”

“Karena aku kau jadi harus—”

“—Aku ingin istirahat Kyungsoo, kumohon..”

Hening sebentar.

“Baiklah. Tapi kau harus makan ini, mengerti? Aku kembali dulu ke kelas.”

Ankylophsyra…”

Baekhyun sudah hafal begitu banyak spelling. Dan sangat mudah baginya untuk melafalkan kata-kata itu demi keselamatan kami. Seperti sekarang saat dia membuat kami tidak terlihat ketika Kyungsoo berjalan keluar ruang kesehatan.

“Kurasa dia sudah baik-baik saja.” ucapku pada Baekhyun.

Baekhyun tampak terdiam. Membuatku iseng berusaha menembus pikirannya.

…jika dia sakit bagaimana? Aish… Tapi ini bukan salahku. Aku mengancamnya untuk membuatnya bicara, lagipula, dia lebih kesal pada teman sekelasnya itu kan?

“Kau benar. Dia tidak kesal sama sekali pada kita. Dia kesal pada Sunmi.” aku menyahuti ucapan Baekhyun, dan sontak saja tindakanku membuat Baekhyun berdecak.

“Tukang intip pikiran.”

“Terjadi begitu saja, aku tidak berniat mengusik pikiranmu.” sanggahku. Dia hanya memutar bola matanya, kemudian menghela nafas pelan.

“Aku tetap khawatir.”

“Ayolah, sejak kapan anak manja sepertimu bisa khawatir pada keadaan orang lain huh? Kurasa orang-orang akan kaget karena perubahanmu selama beberapa hari di bumi.” godaku membuat Baekhyun terkekeh pelan.

“Kau bicara apa? Aku bilang aku hanya khawatir. Itu saja. Tidak berarti aku berubah.” ucapnya mengelak. “Lalu? Kenapa kau khawatir padanya?” tanyaku penasaran.

“Karena dia sepertinya ada hubungannya dengan target kita.”

Aku dan Baekhyun sama-sama tersadar pada kebetulan yang aneh ini. Bagaimana bisa Hyerin mengenal dua orang itu? Padahal sikap mereka seolah menunjukkan mereka tidak saling mengenal? Apa ada sesuatu yang pernah terjadi diantara mereka?

“Kurasa… Ini saatnya kita mengguna—”

“—Chronopshyra.” Baekhyun memotongku dengan cepat. Segera saja aku mengangguk mengiyakan, setuju pada perkataannya.

“Benar. Tapi bukankah mesin itu hanya ada di Akademi? Apa kita perlu membawa Hyerin ke Akademi?”

Aku menggeleng. “Tidak bisa. Kau tahu ‘kan pengamanan di Akademi itu seperti apa? Kita bisa langsung dikenakan poin.”

“Tidak ada cara lain. Harus dengan alat itu.”

Aku segera memutar otakku. “Tapi, jika membawa Hyerin ke Akademi, itu artinya kita harus menceritakan semuanya padanya? Tentang jati diri kita? Dan tentang tujuan kita untuk meminta bantuannya?”

“Dan kita harus jelaskan bahwa kita akan melihat semua yang terjadi di masa lalunya.” Baekhyun menambahkan.

Aku terdiam. Membayangkan seorang manusia seperti Hyerin untuk tahu tentang keberadaan kami saja sudah membuatku merinding, dan sekarang dia harus tahu segalanya tentang kami, baru kami bisa mendapatkan bantuan darinya.

“Tenang saja, aku akan urus itu, kau urus saja Akademi. Kau /kan lebih pintar bicara pada mereka.” dengan entengnya Baekhyun menyusun rencana, tanpa meminta persetujuanku.

Hey! Kau tahu seperti apa mereka yang menjaga Chronophsyra?” ucapan tidak terimaku segera membuat Baekhyun tersenyum lebar, lantas ia menepuk puncak kepalaku beberapa kali.

“Kau ‘kan mengenal Sehun.”

“Oh. Kau benar! Baiklah. Aku yang urus Akademi. Kau urus Hyerin.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Hyerin masuk ke kelas siang ini. Ia membolos dua pelajaran setelah kejadian tadi. Dan seperti biasanya, dia tampak tenang. Seolah tidak terjadi apapun sebelum itu. Mengingat aku harus mengurus keadaan di Akademi sekarang membuatku tahu jika aku harus meninggalkan sekolah ini selama beberapa waktu.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku pada Hyerin. Walaupun aku tidak ingin terlihat terlalu akrab dengannya, tetap saja dia teman semejaku untuk sementara ini. Dan juga, dia akan membantuku, jadi kurasa aku harus peduli pada keadaannya.

Hyerin hanya menanggapi dengan anggukan samar. Wajah Hyerin masih tampak pucat, dan tanpa sadar, aku jadi memperhatikan Hyerin. Hyerin beberapa senti lebih tinggi dariku, tapi tubuhnya sangat kurus, dan kulitnya juga pucat. Itulah kenapa dia terlihat semakin aneh dengan rambutnya yang berwarna sangat kontras.

Dan juga, Hyerin selalu menggerai rambutnya, membuatnya terlihat seperti tipikal gadis nakal. Di Akademi, murid setipe Hyerin mungkin sudah terkena hukuman berat. Sayangnya dia ada di dunia manusia, dan karena kepintarannya, guru-guru pasti berpikir dua kali untuk berani menegur Hyerin.

Mengingat bahwa dia akan segera masuk ke dalam Chronopshyra, aku jadi berandai-andai tentang seperti apa sosok Hyerin di masa lalu. Apakah dia sudah jadi seperti ini sejak dulu? Atau tidak? Jika dia dulu tidak seperti ini, apa alasan yang membuatnya jadi seperti ini?

“Kenapa kau memandangku terus?” tanya Hyerin membuatku tersadar.

“Tidak, tidak ada apa-apa.” ucapku sambil kemudian fokus pada bukuku.

Apa keadaan Hyerin sekarang ada hubungannya dengan targetku dan Baekhyun? Ah. Sekarang aku jadi tidak sabar untuk bisa mengintip masa lalu Hyerin.

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

Alhamdulillah, aku bisa menyapa kalian di tahun yang baru ini dengan chapter ke-tiga dari Dream. Ini entah kenapa, aku agak-agak kzl sendiri sama cerita ini karena setelah aku baca sampai akhir kok aku kzl kenapa banyakan bagiannya Jungha-Baekhyun ketimbang Hyerin-Baekhyun.

Gini ini aku yang jadi pembaca di tahun 2018 (iya, soalnya aku udah lupa sama cerita ini dan baru inget pas ada niatan buat direvisi, lololol) merasa kzl sama ceritanya dan jadi kepengen ngebuat Baekhyun sama Jungha aja gitu, enggak usah sama Hyerin. LOLOL.

Tapi yah, enggak greget kalau sahabat jadi cinta, dimana-mana yang menikung itu yang bakal diinget dan bakal bikin ceritanya jadi semakin ngeselin. Jadi enggak apa-apa, anggep aja di sini Hyerin itu seorang perusak hubungan ‘sahabat-jadi-cinta’ yang seharusnya bertumbuh kembang di antara Baekhyun-Jungha. Wkwkwkwkwk. Kan suka-suka authornya, gituloh.

Okay, jadi karena Februari yang disebut sebagai bulan penuh cinta hanya sekedar mitos aja karena nyatanya setelah lewat hari kasih sayang pun masih banyak jones di Indonesia, aku mah lebih milih untuk jadi orang gila kerja aja di Februari.

So, see you when i see you! Salam kecup, Irish.

kontak saya  Instagram  Wattpad  WordPress

12 tanggapan untuk “DREAM — #3: Rival ►► IRISH”

  1. Oh Chanyeol jangan” gamau pergi ke akademi krn si Hyerin kah? xD kalo bener, adaapa sebenarnya? Knpa Chanyeol merasa bersalah sampe mau ngejagain Hyerin? ❤

    uhu makin kepo serius ka Irish xD dan si Baekhyun juga bisa aja nh ngancemnya wkwk.. Terlebih lagi si Baekhyun sosok yg gemesin T.T huhuhuh

  2. Hayy baby..gmna tanganny??masih suka kram kah??mumpung long weekend mari kita bersantaaaaiiiiiiii hihihihihihi
    Rada2 gemes sndri ihh baca yg disini..tp bkal beda bgt ga sih rish sma yg udah dpost di satuny??
    Ahhh selamat hari bergila kerjaaaaaaaa jgn kecapekan yessss *kecupkecupirish* paaiiiii auhtornim tercintakuuuuu

  3. Makin lama aku makin penasaran sama masa lalunya hyerin
    Ku tebak,author jones ya di bulan penuh kasih sayang ini?
    Kalau bener aku berarti punya indra ke 1*semua orang juga punya kale
    Lanjut thor ceritanya~!

    Fighting!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s