[EXOFFI FREELANCE] Vanilla Ice Cream (Chapter 3)

Tittle/judul fanfic        : Vanilla Ice Cream

Author                : Park Rin

Length                : Chaptered

Genre                : Romance, Family, Friendship, Angst

Rating                : PG-13

Main Cast&Additional Cast    : Byun Baekhyun

                 Arin (OC)

                 Park Chanyeol

                 All EXO’s Members

                 Ect.

Summary    : dia benar-benar mengangguku… siapa dia?

Disclaimer            : FF ini murni buatan author sendiri, dengan terinspirasi dari film dan cerita yang pernah author bacam. Baca juga FF ini di blog milik author https://parkrin98.wordpress.com/. Happy Reading!

Arin menggores-goreskan pensilnya di atas kertas putih itu, tak lama ia meremas kertas itu dan melemparnya ketempat sampah. Pikirannya benar-benar kacau.

    “Hah!” teriak Arin frustasi, membuat wanita seumuran dengannya sedikit kaget dan menoleh kearahnya.

“Kau kenapa?” tanya sahabatnya, Jihye.

“Aku rasa aku akan gila,” jawab Arin heboh.

Jihye terkekeh, kemudian menarik kursi mendekat ke arah sahabatnya. “Apa Chanyeol membuatmu kesal lagi?”.

“Jangan ditanya lagi, Ji. Setiap saat ia memang membuatku kesal,” ucap Arin malas.

“Lalu?”

“Itu, teman segrupnya Chanyeol,” ucap Arin kesal.

“Ah… kau sudah bertemu mereka?” tanya Jihye gugup.

Arin menangguk, “Ya, aku sudah bertemu mereka. Seperti yang ku pikirkan mereka memang sangat tampan,” Arin mengatakannya dengan mata berbinar.

Melihat reaksi sahabatnya dengan spontan Jihye mengambil pensil dan mendaratkan pensil itu di atas kepala Arin. “Kau mau selingkuh?” ucap Jihye kesal.

Arin sedikit meringis kemudian tertawa. “Kenapa kau berpikir jauh sekali?” ucap Arin terkekeh. “Mana mungkin aku punya pikiran seburuk itu,” ucap Arin lagi.

“Ya, siapa tahu? Matamu kan suka jajan kemana mana,” kata Jihye sambil menangkat bahunya.

Arin lantas balik memukul kepala Jihye dengan pensil tadi. “Jangan bicara macam-macam,” katanya telak.

Jihye meringis, kemudian mengambil pensil itu dan membuangnya menjauh. “Jadi, apa yang membuatmu menjadi gila?” tanya Jihye kembali ke topik awal.

Arin kemudian melipat tangannya, “Ji, menurutmu apakah di dunia ini ada orang yang memiliki wajah mirip, suara yang mirip, dan kepribadian yang mirip?” tanya Arin serius.

Jihye mengangkat kedua bahunya, “Entahlah, mungkin saja ada. Kenapa?”.

“Hm… ada seseorang yang bilang bahwa aku mirip dengan seseorang. Wajahku, suaraku, kepribadianku, katanya semuanya begitu mirip, tapi…”.

“Tapi?”

“Tapi, katanya ada beberapa hal vital yang membuat orang itu ragu,”

“Mungkin, kau bukan orang yang dia maksud. Bisa saja ini hanya kebetulan,” kata Jihye sambil mengalihkan matanya ke jendela.

“Aku tahu. Tapi, entah mengapa hal ini mengganggu pikiranku,” ucap Arin sambil menaruh dagunya di atas telapak tangannya.

Jihye kemudian mendengus lalu menatap kembali sahabatnya, “Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan,”.

Arin kemudian menangguk, “Sepertinya aku memang harus melupakannya,” ucap Arin akhirnya.

“Bagaimana jika kita membeli eskrim? Aku yang traktir!” ucap Jihye sambil menarik tangan sahabatnya pergi.

“Ada angin apa kau ingin mentraktirku eskrim?” tanya Arin heran.

Gadis itu tertawa, “Ayo, mumpung aku lagi baik!”.

“Astaga, jangan bilang kau mau traktir aku di cafenya Dongho,” kata Arin penuh selidik.

Tawa Jihye makin keras, “Ya tentu saja!”.

Arin mendengus, “Kalau begitu bukan traktir dong namanya,” ucapnya cemberut.

“Sudah, ikut saja kenapa sih?”, Jihye menarik sahabatnya keluar.

***

Mereka berdua duduk di sebuah cafe yang di miliki oleh kekasih Jihye, Dongho. Jihye, Dongho, dan Arin merupakan teman satu sekolah saat dulu mereka masih di Buncheon. Mereka bertiga pergi bersama-sama ke seoul untuk mengejar mimpi mereka masing masing.

Sejak lulus SMA, Arin memang memiliki mimpi menjadi Desaigner, jadi ia pergi ke seoul untuk melanjutkan kuliahnya. Tak lama setelah ia lulus kuliah, ia membuka brand-nya sendiri dengan nama ‘SR’. SR sendiri merupakan singkatan dari namanya yaitu Sung Rin, Alasannya mengapa memilih nama itu adalah ia ingin orang lain tahu nama aslinya, karena selama ini orang-orang selalu memanggilnya dengan sebutan Arin. Arin sendiri tidak tahu mengapa semua lebih senang memanggilnya dengan sebutan itu.

Tak butuh waktu lama memang brand yang ia ciptakan menjadi brand yang patut di perhitungkan. Kemampuan Arin dalam mengloah warna dan gaya memang tidak bisa di ragukan. Ditambah paras menawan dan tubuh proposional serta kepribadian baik menjadikan Arin bukan hanya dikenal sebagai desaigner berbakat. Ia juga di percaya dapat menarik sebagian besar kaum adam untuk menganggumi kecantikan paras dan kebaikan yang dimilikinya, sehingga meskipun pekerjaan Arin hanya menjadi desaigner, Arin memiliki fanclub yang berjumlah tidak sedikit dan didominasi oleh kaum adam, meskipun Arin sendiri tidak membuat karya untuk mereka. Julukan yang diberikan oleh para netizen untuk Arin adalah “Dewi perancang”.

Berbeda dengan Arin, Jihye sendiri tidak memiliki minat di bidang fashion, bahkan Jihye sering kedapatan hanya mengenakan kaus dan celana jeans kebesaran untuk pergi keluar bersama Arin si dewi perancang dengan semua style-nya. Jihye sendiri juga bekerja dibidang yang sangat digemarinya. Jihye adalah seorang dancer. Jihye bekerja sebagai pelatih dance dan back up dancer di salah satu agensi besar di korea, “YG entertainment”. Tidak salah memang terkadang gaya Jihye terkesan terlalu swag untuk wajahnya yang sebenarnya cukup imut.

Jika Arin dan Jihye bekerja di dunia seni, berbeda halnya dengan Dongho, kekasih Jihye sekaligus sahabat Arin. Dongho lebih tertarik pada urusan bisnis. Bagi Arin dan Jihye, otak dagang yang di miliki Dongho memang tidak ada tandingannya. Lelaki itu begitu cerdik dalam menjalankan bisnisnya, sehingga tidak sampai 2 tahun café yang dimiliki dongho sudah membuka cabang di lima kota.

Selain café, dongho juga pemilik dari dua buah tempat karoke, satu buah restoran baberque, dan satu buah toko kue. Tidak hanya itu, Dongho juga merupakan vendor untuk memproduksi baju-baju rancangan dari Arin. Tetapi, meskipun Dongho memiliki otak dagang yang kental, Dongho juga memiliki kemampuan menari yang tidak kalah baik dari Jihye.

Arin memang terkadang heran dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa kedua sahabatnya bisa suka menari, sedangkan dirinya enggan untuk melakukan hal itu. Seingatnya menari adalah hal yang sangat buruk untuk di lakukan.

“Jadi kau sudah bertemu dengan member EXO yang lain?” tanya Dongho sambil memberikan kedua wanita di hadapannya semangkuk eskrim dan dua gelas kopi hangat.

Arin menangguk sambil menyuap eskrim vanilla dihadapannya. “Bisa dibilang begitu karena aku belum bertemu dengan lay,” ucap Arin.

Dongho kemudian melirik Jihye yang hanya mengaduk kopinya, “Lalu, apa yang menanggu pikiranmu?” tanya Dongho kembali sambil menyikut Jihye, wanita itu kemudian gelagapan berusaha ikut masuk dalam pembicaraan.

“Aku heran, bagaimana bisa ada orang yang begitu mirip di dunia ini? Saking miripnya aku dengan orang yang ia maksud, ia bahkan tiba-tiba memelukku di hadapan kekasihku sendiri,” ucap Arin sambil menyeruput kopinya.

Dongho menangguk, “Siapa dia?” tanyanya kemudian.

“Baekhyun. Byun Bekhyun. Orang itu benar-benar mengusik pikiranku,” ucap Arin frustasi. Ia tidak tahu mengapa orang itu begitu mengusik pikirannya.

“Ada yang ia katakan lagi selain hal itu?” tanya Dongho menyelidik.

Arin berpikir sebentar, memang ada… hal itu memang mengusik pikirannya.

“Ia bertanya padaku, apakah aku bisa menari atau tidak,” ucap Arin kemudian.

Uhuk…

Jihye terbatuk, entah kenapa wanita itu tiba-tiba saja bertindak ceroboh saat meminum kopinya. Untung kopi itu bukan kopi panas, jika iya mungkin leher wanita itu sudah terbakar.

Dongho dengan cekatan menepuk punggung Jihye, sedangkan Rin segera menyodorkan tisu untuk wanita itu. Setelah beberapa tepukan, Jihye mengangkat tangannya untuk meminta Dongho menghentikan tepukannya.

“Kau kenapa?” tanya Arin penasaran.

Jihye menggeleng, “Tidak apa-apa, hanya sedikit ceroboh,” jawab wanita itu, menghidari tatapan penasaran Arin.

Arin memandang Jihye dengan tatapan selidik. Ia tahu benar Jihye, ia bukan orang yang ceroboh.

“Jadi, apa yang kau jawab?” Dongho tiba-tiba mengalihkan suasana.

Arin menyelesaikan tatapannya ada Jihye, kemudian menyendok eskrim vanilannya kembali. “Tentu saja tidak, kalian juga tahu’kan aku tidak pernah tertarik untuk menari,” jawab Arin santai.

Dongho terdiam sebentar, “Hm… iya juga,” ucap lelaki itu kemudian.

Jihye mengangguk kemudian menyeruput lagi kopinya.

“Ngomong-ngomong kau jadi ingin melakukan fashion show?” tanya Jihye basa-basi.

Arin mengangangkat bahunya, “Entahlah…” ucapnya sedih.

“Maksudmu?” tanya Jihye heran.

Arin menaruh sendok eskrimnya, “Rasanya acara itu belum bisa dilaksanakan tahun ini. Ada banyak sekali hal yang harus diurus. Rancangan musim dingin saja masih berantakan,” ucap Arin sedih.

Jihye mengusap bahu sahabatnya itu, “Memang ada apa dengan rancangan musim dingin kali ini?”.

Gadis itu menghembuskan nafasnya, teringat setumpuk deadline yang menunggu di meja kerjanya. “Tiga rancangan baju laki-laki dan dua lagi rancangan baju perempuan. Aku masih menunggak pekerjaan begitu banyak,”.

“Astaga, bagaimana bisa, Rin? Bukankah awal bulan depan kau sudah harus mengirimkannya padaku?” Dongho ikut dalam pembicaraan itu.

Arin terdiam, Dongho benar, ia memang sudah harus mengirimkan rancangan-rancangan itu awal bulan depan. “Aku tahu… tapi aku belum mendapatkan ide. Rasanya semua begitu berantakan,” keluh Arin kemudian membenamkan kepalanya diantara lipatan lengannya.

“Ku rasa kau memang butuh liburan,” ucap Dongho kasihan.

“Ya, benar. Aku juga sudah lupa kapan terakhir kau mengambil libur,” kata Jihye membenarkan.

Arin mengangkat kepalanya, “Aku bisa dibunuh Jung eonni jika mengambil libur ditengah deadline yang menumpuk,” ucap Arin sarkastik.

“Yang bosnya Jung eonni atau kau sih?” Jihye memutar bola matanya tidak suka.

Dongho memukul kepala kekasihnya sayang, tapi tetap menimbulkan pekikan dari wanita itu.

“Bosnya memang Arin, dan Jung noona hanya menjalankan tugasnya. Bayangkan saja jika Arin sibuk liburan dan melalaikan tugasnya, ia bisa rugi banyak,” jelas Dongho pada kekasihnya.

Jihye menggerutu, “Yang benar saja, liburan satu minggu tidak akan merusak kok. Toh sama saja jika Arin tetap disini, ia tidak akan bisa merancang. Ia juga butuh liburan. Butuh inspirasi,” kata Jihye menggebu-gebu.

“Kalian berdua benar… aku tidak bisa seenaknya mengambil libur apalagi tanggal pelirisan sudah ditentukan, tapi aku memang tidak bisa terus menerus kurang inspirasi sepertinini,” keluh Arin lelah.

Sahabat lelaki Arin terdiam, sepertinya lelaki itu sedang mencari solusi. Sedangkan Jihye, wanita itu hanya mengaduk kopinya sambil sedikit menggerutu.

Tak beberapa lama lelaki itu tersenyum, kemudian menarik kekasihnya mendekat. Mereka membisikan sesuatu, mata Jihye terlihat sedikit berbinar dengan anggukan yang berlangsung konstan sebagai pengganti kata yang menyiratkan kesetujuan gadis itu kepada kekasihnya.

“Kalian membicarakan apa’sih?” ucap Arin penasarah.

Dongho dan Jihye tersenyum berbarengan, membuat bulu Arin yang tadinya betah untuk tertidur tiba-tiba meremang.

“Kalian kenapa sih? Bikin ngeri aja,” ucap Arin sambil menggeliatkan badannya, berharap bulu yang meremang itu kembali tertidur.

Dua sejoli itu tertawa dan tawa itu sukses membuat Arin heran.

“Kita punya ide,” ucap Dongho sumbringah.

Arin menatap laki-laki itu, “Mwo?” ucap gadis itu pelan. Sangat pelan malah.

“Bagaimana jika kita berlibur sambil bekerja. Ah… tidak bukan kita tapi dirimu,” kata Jihye sumbringah sambil menepuk bahu Arin.

Arin terdiam. Memang bukan ide yang buruk, dan sekretaris Jung juga tidak akan masalah jika ia bisa menyelesaikan pekerjaannya. Tapi, ada satu masalah…

“Kau tidak setuju?” tanya Dongho sambil menggoyangkan bahu Arin.

Arin tersentak, kemudian tersenyum, “Tidak… itu ide yang bagus malah. Tapi…”, Arin menghentikan kata-katanya, terlihat sedikit berpikir dengan kata yang harus ia ucapkan selanjutnya.

“Tapi?”, Jihye mengakat sedikit alisnya, menunggu dengan tidak sabar apa yang akan dikatakan sahabatnya.

Arin menggigit bibir bawahnya, kemudian sedikit mendengus. “Aku tidak tahu harus kemana,” ucap gadis itu polos, membuat kedua sahabatnya yang menunggu dengan penasaran harus menahan diri mereka untuk tidak memukuli Arin.

“Kau’kan bisa pulang Arin. Semenjak lulus kuliah kau baru pulang ke rumah sekali,” ucap Jihye sedikit kesal.

Dongho menangguk, “Lagipula Buncheon kan daerah gunung, kau pasti dapat udara segar disana,”.

Arin menangguk, untuk kesekian kalinya kata-kata sahabatnya tidak salah. Arin menyuap kembali es krim vanilanya semangat, sebelum akhirnya dia berseru akan pergi ke Buncheon.

Dongho dan Jihye tersenyum melihat sahabatnya itu bersemangat.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s