[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 8)

Poster Secret Wife Season 2

Tittle    : Secret Wife Season 2

Author    : Dwi Lestari

Genre     : Romance, Friendship, Marriage Life

Length     : Chaptered

Rating    : PG 15

Main Cast :
Park Chanyeol, Kim Soah (Aiko)

Support Cast :

Oh Sehun, Min Aera, Kim Nara, all member EXO and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Soah terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan artis papan atas Park Chanyeol, demi menghindari kutukan keluarganya. Meski sebenarnya dia tak pernah percaya jika kutukan itu masih berlaku.

Disclaimer    : Cerita ini murni buatan saya. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note    : Sekedar mengingatkan, jika ini berbeda dengan SECRET WIFE yang pertama. Ini bukan kelanjutannya. Cerita ini berdiri sendiri. Tapi akan ada beberapa hal yang sama. Dijamin tidak kalah seru. Maaf jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komentarnya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 8

(Still Love You)

Di ruang kosong ini, aku menemukan diriku telah hancur

Bersama kenangan indah cinta kita

Pagi itu, seperti biasa Soah sibuk menyiapkan sarapan untuk pria yang sudah mengikatnya dalam sebuah pernikahan. Dia mengangguk senang saat makanan yang dicicipinya sesuai dengan selera lidahnya.

“Soah-ya. Kau melihat kunci mobilku?”, teriak seseorang dari kamarnya.

“Tidak. Memang kau bawa mobil”, ucap Soah juga sedikit berteriak. Dia mengangkat pancinya, dan menaruhnya di meja makan.

“Iya, aku pinjam mobilnya Suho hyung. Mobilku dipinjam Sehun”, teriaknya kembali.

“Kenapa tak mencarinya di depan TV. Bukankah semalam kau bermain game disana”, ucap Soah kembali.

Dia menata mangkuk nasi, sumpit dan juga sendok di meja makannya. Mengambil gelas dan menuangkan air putih disana. Sarapannya sudah siap. Dia tersenyum senang melihat hasil kerja kerasnya.

“Chanyeol-ssi. Sarapannya sudah siap. Mari makan dulu”, ucapnya cukup lantang.

Dengan penampilan yang cukup rapi, pria itu berjalan mendekati meja makan. Dia duduk di salah satu kursi. Menatap lapar makanan di hadapannya.

“Belum ketemu kunci mobilnya?”, tanya Soah sambil memberikan semangkuk sup untuk pria itu.

“Sudah, terselinap di bawah bantal”, jelas pria itu.

Ting tong. Terdengar suara bel pintu apartemennya. Soah mendongakkan kepalanya menatap ke arah pintu itu.

“Siapa pagi-pagi seperti ini berkunjung?”, tanya pria yang kini sudah memasukan sesendok nasi ke mulutnya.

Soah mengangkat bahunya seolah berkata jika dia tak tahu. “Aku akan membukanya, kau lanjutkan saja makanmu”, ucapnya kemudian.

Dengan masih memakai celemek di tubuhnya Soah berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang tengah berkunjung ke apartemennya. Dia menatap layar tablet di dindingnya sebelum meneruskan langkahnya membuka pintu. Senyumnya mengembang kala melihat seorang gadis membawa kotak makanan. Tangannya terulur menyentuh knop pintu.

Gadis itu membungkuk memberi salam, setelah pintu itu terbuka. Soah membalas salam gadis itu sebelum mempersilahkannya masuk.

“Kenapa eonni sampai repot membunyikan bel terlebih dulu? Padahal aku tidak mengganti password apartemenku. Biasanya juga kau langsung masuk”, seru Soah.

“Sekarang keadaannya berbeda. Kau sudah tak tinggal sendiri lagi. Dan lagi, aku tak mau melihat kejadian yang seharusnya tak ku lihat. Seperti waktu”, jelas gadis itu.

Soah teringat kejadian yang dimaksud gadis itu. Ya, dia juga cukup malu waktu itu. Bagaimana tidak, gadis itu menemukan dirinya tengah ditindih oleh pria yang kini menjadi suaminya. Meski sebenarnya itu kejadian yang tak disengaja. Kala itu dia sedang berdebat kecil perihal perjodohan mereka, entah sebab apa mereka terjatuh bersama dengan posisi seperti itu. Dan tepat setelahnya pintu kamarnya dibuka oleh gadis yang menjadi sekretarisnya. Itu kejadian yang cukup memalukan untuknya.

Gadis itu meneliti penampilan bosnya. Netranya menelisik mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ini adalah penampilan langka yang dilihatnya. Bosnya tengah memakai pakaian rumah dengan celemek yang masih melekat di tubuhnya. Rambut panjangnya digulung ke atas memperlihatkan leher jenjangnya. Masih terlihat natural, karena memang belum memakai make up. Beberapa anak keringat juga masih terlihat di keningnya. Khas orang yang baru selesai memasak. “Kau sudah terlihat seperti seorang istri ya”, ucapnya kemudian.

“Aku memang seorang istri kan”, jawab Soah santai.

Gadis itu mengangguk membenarkan.

“Ayo masuk!”, ajak Soah. Mereka berjalan beriringan.

“Dia disini?”, tanya gadis itu dengan menekankan kata dia.

Soah mengangguk sebagai jawaban.

Gadis itu menghentikan langkahnya. Dia terdiam. Perasaannya jadi tak menentu. Entah sebab apa. Tapi yang pasti, dia masih merasa canggung jika harus berdekatan dengan pria itu.

“Kenapa berhenti?”, tanya Soah.

“Aku tidak mengganggu kan?”, tanyanya ragu.

“Tentu saja tidak”, Soah tersenyum sebagai penguat jawabannya. Tangannya terulur menarik lengan sekretarisnya. “Ayo”, ajaknya lagi. Dia membawa gadis itu ke meja makan dimana disana sudah duduk pria yang dimaksud gadis tadi. Dia mempersilahkannya duduk dan mengambil kotak makanan yang dipegangnya.

“Aku akan mengambil nasi untukmu. Eonni belum sarapan kan?”, tanya Soah kembali.

“Tidak perlu. Aku sudah sar……”, belum sempat dia melanjutkan kalimatnya perutnya sudah berbunyi. Gadis itu mengalihkan pandangannya, merasa sedikit malu karena ketahuan bahkan sebelum kalimat bohongnya terselesaikan.

Soah tersenyum. “Akan aku ambilkan nasi”. Soah beralih menuju dapur yang letaknya memang bersebelahan dengan meja makan. Dia juga membuka kotak makanan tersebut.

“Chanyeol-ssi, kau mau japchae?”, tanya Soah. Tangannya sibuk mengambil kotak makanan dari tas kain yang membungkusnya.

“Boleh juga”, jawab pria yang dipanggil Chanyeol tersebut.

Soah menata piring yang berisi japchae di meja. Dia juga memberikan nasi, sumpit dan sendok pada sekretarisnya. Duduk setelah mengambilkan semangkuk sup pada gadis itu. Celemek memasaknya sudah hilang dari tubuhnya. “Selamat makan”, ucap Soah kemudian. Tangannya terulur mengambil sumpit. Menyuapkan nasi kemudian.

“Kau yang memasak ini semua!”, tanya sekretarsinya. Dia memandang tak percaya makanan yang tersaji di depannya.

“Emmh”, jawab Soah.

“Aku terkejut”, jawabnya. Gadis itu mengambil sendok. Menyuapkan kuah sup ke mulutnya. “Tidak buruk juga untuk seorang amatiran”, ucapnya kemudian.

“Amatiran?”, Chanyeol mengulang kata yang terdengar aneh ditelinganya. Dia tak pernah menduga hal itu. Selama ini dia fikir jika gadis yang sudah menjadi istrinya itu memang pandai memasak. Karena masakan yang selalu dimakannya memang terasa enak, seperti seorang yang sudah berpengalaman dalam bidang itu.

“Iya”, sekretaris Soah mengangguk. “Soah bukan tipe gadis yang mau repot berkutat dengan panci dan wajan bahkan untuk dirinya sendiri”, jelasnya lagi.

Chanyeol mengangkat alisnya. Menatap ke arah Soah seolah minta penjelasan dari ucapan sekretarisnya.

“Habiskan saja makananmu”, jawab Soah yang mendapat tatapan aneh dari suaminya.

Chanyeol tak mau ambil pusing. Dia melanjutkan makannya. Mengambil japchae yang tadi disajikan istrinya. “Kau yang memasak ini?”, tanya Chanyeol sambil mengangkat sumpitnya. Pertanyaan itu dimaksudkan untuk gadis yang duduk di depannya.

Sekretaris Min menoleh, menatap sebentar pria yang bertanya padanya. “Eoh”, jawabnnya singkat.

Mashita”, ucap Chanyeol dengan singkat pula. Dia kembali melanjutkan makannya.

“Masakan Aera eonni memang enak”, tambah Soah.

“Sejak kapan kau bisa memasak?”, ucap Chanyeol. Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Ya, dia masih samar mengingat jika gadis di hadapannya tidak bisa memasak.

“Aku maksudmu?”, Aera menunjuk dirinya sendiri. Dia sedikit ragu dengan ucapannya. Ya, dia tidak yakin pertanyaan itu untuk dirinya tau untuk gadis yang duduk di samping pria itu.

Chanyeol mengangguk pelan. Dia kembali memasukan makanan ke mulutnya.

“Memang sudah berapa lama kita tak bertemu?”, Aera tak menjawab, tapi dia memilih mengajukan pertanyaan lain.

Chanyeol tampak berfikir. Dia sedang mengingat kapan terakhir kali dia bertemu wanita itu. “Mungkin sekitar tujuh tahun”, jawabnya ragu.

Aera memilih diam. Dia kembali memakan makanannya.

Chanyeol masih memandang gadis di depannya menanti jawaban dari pertanyaan yang diajukannya. Sesekali dia memasukan makanan ke mulutnya.

Soah juga memilih diam. Dia masih belum paham dengan apa yang kedua orang di sampingnya bicarakan.

“Aku belajar semua hal yang tak ku bisa. Aku hanya ingin membuktikan jika gadis feminim itu juga tidak buruk”, jawab Aera karena merasa risih dengan tatapan pria di depannya.

Chanyeol terdiam. Pandangannya masih tertuju pada gadis dihadapannya. Namun dia tak benar-benar menatap gadis itu. Dia teringat dengan kejadian beberapa tahun lalu.

Soah merasa cukup aneh dengan obrolah yang tercipta dari dua orang di sampingnya. Seolah merasa jika di menjadi orang asing jika berdekatan dengan mereka. Mereka terlihat begitu dekat, terbukti dari bahasa percakapan yang mereka gunakan. Ya, dia tahu jika mereka seumuran. Tapi aneh rasanya jika itu untuk orang yang baru saja saling mengenal. Kecuali mereka memang sudah saling kenal dimasa lalu. Tungggu! Dia bisa melihatnya, perasaan canggung mereka. Seperti seseorang yang bertemu dengan mantan kekasihnya. Jangan jangan…

“Kalian sudah saling mengenal?”, Soah akhirnya bersuara. Dia ingin membuang rasa penasarannya.

“Iya. Kami satu SMA dulu”, jawab Chanyeol. Pria itu sudah beralih menatap Soah.

Soah mengangkat alisnya. Dia masih belum terima dengan jawaban suaminya.

“Hanya teman SMA?”, tanya Soah kembali.

Chanyeol menelan kasar salivanya. Bingung harus menjawab apa. Salahkan mulutnya yang tak dapat dikendalikannya tadi. Apa dia harus jujur saja jika mereka memang pernah berkencan dulu?

“Iya. Memang kau fikir apa lagi?”, kini Aera yang bersuara.

Soah mengalihkan pandangannya pada gadis itu. Juga masih tak terima dengan ucapannya. “Ku fikir kalian memiliki hubungan yang lebih dari itu”, ucapnya kemudian.

“Maksudmu?”, tanya Aera yang tak paham.

“Kalian masih terlihat canggung. Ku fikir karena baru saling mengenal. Tapi ternyata bukan itu. Bukan juga karena teman lama yang baru bertemu. Tapi lebih tepat seperti seseorang yang baru bertemu dengan mantan kekasihnya?”, terdengar nada ragu diakhir kalimat yang diucapkan Soah.

Mereka semua terdiam. Gadis itu bisa menebaknya dengan tepat. Apa sebegitu ketaranya sikap mereka?

Soah masih mengunyah makanannya. Menatap kedua orang itu bergantian. Menanti setiap kata yang akan dia dengar. Kenapa mereka berdua menjadi diam. “Jangan bilang jika kalian memang pernah berkencan dulu”, Soah kembali membuka suara. Tak tahan dengan kebisuan yang tercipta diantara mereka.

Eoh”, jawab Chanyeol singkat. Dia memilih jujur. Dia tak ingin menyimpan rahasia lagi pada gadis yang sudah resmi menjadi istrinya.

“Uhuk uhuk”, Soah tersedak. Dia tak pernah menyangka jika asumsinya benar.

Chanyeol menyodorkan minuman untu Soah. “Pelan-pelan makannya”. Dia juga pengusap pelan punggung gadis itu, berharap jika gadis itu akan menjadi lebih baik. “Kau baik-baik”.

Soah meminum minuman yang disodorkan suaminya. Merasa sedikit lebih baik setelahnya. Ini akibat keterkejutannya mendengar pengakuan suaminya. “Emmmh”. Dia mengangguk untuk meyakinkan.

Chanyeol masih mengusap pelan punggung Soah. Berhenti setelah yakin jika gadis itu baik-baik saja.

Tak ada percakapan setelah itu. Mereka kembali makan dalam keadaan diam. Sibuk dengan pemikiran masing-masing. Soah yang masih sedikit terkejut. Chanyeol juga nampak terdiam, merasa sedikit bersalah karena pengakuannya. Dan juga Aera yang terlihat enggan berkomentar.

-o0o-

Soah berjalan lemas memasuki area kantornya. Dia memilih berangkat lebih dulu, untuk memberi mereka waktu menyelesaikan masalahnya. Ya, kedua orang yang tadi sarapan bersamanya masih memiliki kesalahpahaman yang perlu diluruskan. Untuk itulah dia memilih pergi, tak ingin mengganggu pembicaraan mereka.

Dia tak pernah menyangka jika pria yang sekretarisnya maksud adalah Chanyeol. Gadis itu pernah menceritakan kisah masa lalunya itu. Bagaimana hubungan mereka sebelumnya. Dia bahkan tahu jika sebenarnya gadis yang tak lain adalah sekretarisnya masih memiliki perasaan untuk pria itu. Meski dia mengatakan jika membencinya, tapi Soah bisa melihat dari sorot matanya.  Perasaan cinta masih ada disana.

Kenapa dari semua pria yang ada di kota itu harus pria yang sudah menjadi suaminya. Dia kini seperti gadis yang ketahuan merebut kekasih sahabatnya. Ya, meski mereka sudah tak memiliki hubungan. Tapi tetap saja, mereka berpisah karena keadaan. Rasa bersalah datang begitu saja menghampirinya. Perasaan tak nyaman juga tengah melandanya. Dia membuang nafas panjangnya, mencoba membiarkannya. Tetap saja rasa tak nyaman itu ada.

Dia berbelok ke ruang pemotretan kala melihat para pegawainya berlalu lalang di depan ruang tersebut. Ruang itu sudah dipenuhi dengan peralatan keperluan pemotretan. Sepertinya semua sudah siap. Tinggal menungggu jam pelaksanaan.

Soah tersenyum kala melihat punggung pria yang kini tengah asyik mengobrol dengan para krunya. Ya, pria itu adalah ketua tim yang dia tunjuk sebagai penanggung jawab untuk pemotretan ini. Kinerjanya cukup bagus. Karena itu dia berharap kali ini juga akan berhasil.

Pria itu menoleh kala salah satu krunya berbisik padanya. “Daepyonim. Anda sudah datang”, ucap pria itu. Dia berjalan mendekat ke arah Soah. Menunduk hormat setelahnya. ID pegawai yang mengalung indah di lehernya bertuliskan Yoon Jaewoon.

Soah menganguk. “Bagaimana persiapan pemotretannya, timjangnim?”, tanya Soah.

Ready”, jawab pria itu. Ibu jari dan jari telunjuknya disatukan membentuk huruf o. Senyum menawan juga ia tunjukan. “Semuanya sudah siap. Hanya satu yang kurang, menunggu jam pelaksanaan”, jelasnya lagi.

Senyum itu mengingatkan Soah pada seseorang, mantan kekasihnya. Sial, inilah mengapa dia merasa sedikit canggung bila berdekatan dengan pria itu. Ditambah lagi mereka lahir di tahun yang sama. Perawakan dan juga tingginya juga hampir sama. Double sial.

Soah merogoh kantung coatnya kala ada yang bergetar disana. Dia meminta izin untuk mengangkat telfonnya. Berjalan sedikit menjauhi pria itu. “Yeobseyo”, jawab Soah membuka pembicaraan.

Dia hanya mengangguk mendengarkan lawan bicaranya. “Sudah selesai, secepatnya aku akan mengirim berkasnya untukmu”, ucap Soah.

“Sekarang!”, dia kembali menjawab lawan bicaranya.

“Iya, baiklah”, ucapnya lagi mengakhiri panggilannya.

Soah memasukan kembali ponselnya. Berjalan mendekati pria yang kini kembali mengobrol dengan rekannya. “Timjangnim, aku harus pergi sebentar. Jika nanti jam pemotretan tiba dan aku belum datang, tolong minta sekretaris Min memulai tanpa aku”, jelasnya.

“Apa terjadi sesuatu, daepyonim?”.

“Tidak. Ada urusan yang harus aku selesaikan. Mungkin sedikit lama”, ucap Soah sedikit ragu. Senyum canggung juga ia tunjukan. “Aku pergi dulu”.

-o0o-

“Kenapa kau memberitahunya?”, tanya Aera. Dia masih berada di apartemen Soah. Sesuai permintaan gadis itu, dia akan meluruskan kesalahpahaman dengan pria dihadapannya.

“Tentu saja aku harus. Aku tidak ingin dia salah paham”, jelas Chanyeol.

Aera menghela nafas beratnya. Benar yang dikatakan pria itu, tapi tetap saja ini menyangkut Soah. Dia cukup hafal bagaimana watak gadis itu. Meski baru enam bulan mengenalnya, tetap saja tak merubah fakta jika dia cukup paham watak gadis bermarga Kim tersebut. “Dia pasti akan merasa tak nyaman setelah ini”, jelasnya kembali.

“Maksudmu!”.

“Dia tipe gadis yang tidak suka berkencan dengan mantan sahabatnya. Apalagi sampai menikah. Itulah kenapa aku tidak memberitahunya saat dia dijodohkan denganmu”.

“Meski kau tak memberitahunya, tapi dia tetap menolak perjodohan ini”.

“Ada alasan tersendiri kenapa dia menolaknya”.

“Apa itu?”.

“Bukan hakku memberitahumu. Kau bisa menayakan sendiri padanya. Tapi ku rasa dia tak akan semudah itu bercerita. Mungkin jika kau mau menunjukan alasan sebenarnya kau menerima perjodohan ini, dia akan memberitahumu”. Gadis itu terlihat menghela nafas sejenak.

Mereka terdiam untuk beberapa saat. Sibuk dengan pemikiran masing-masing.

“Apa Soah, gadis yang kau maksud?”, Aera kembali bersuara.

Chanyeol menoleh, menatap gadis yang sedang berbicara padanya. Dia mengangguk membenarkan. “Iya”.

Gadis itu membuang nafas pasrahnya. “Aku mengerti. Mulai sekarang kau harus menjaganya. Dia terlihat kuat di luar, tapi sebenarnya dia begitu rapuh”.

“Apa ada orang yang dia cintai atau mungkin dia sukai?”.

Aera mengangguk.

“Siapa?”.

“Aku tak menganalnya. Tapi yang pasti dia sangat mencintainya”.

Chanyeol tersenyum aneh. Dia kini tahu kenapa gadis itu selalu berusaha keras untuk menolak perjodohan mereka. “Mereka masih memiliki hubungan?”.

“Mereka putus meskipun tidak ingin”.

“Maksudnya?”.

“Seharusnya mereka menikah musim semi ini. Tapi bibinya tidak merestui hubungan mereka. Itulah mengapa mereka berpisah meski tidak ingin. Mereka bisa saja kawin lari. Tapi itu bukan gayanya”, Aera kembali membuang pasrah nafasnya. Dia ikut merasakan sakit saat menceritakannya. Seolah merasakan hal yang dialami oleh bosnya.

Chanyeol terdiam. Dia masih berusaha mencerna apa yang baru saja di dengarnya.

“Aku juga tak tahu pasti rincian ceritanya. Soah tak pernah benar-benar mau mengungkapnya. Dia selalu mengalihkan pembicaraan jika aku tanya perihal tersebut”, imbuh Aera kembali.

Chanyeol masih terdiam. Dia memilih mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut gadis di depannya.

“Dia sangat menghormati bibinya. Itulah mengapa, dia mau pulang ke Korea meski dia tahu itu hanya cara yang digunakan bibinya untuk memisahkannya”.

Aera kembali menghela nafas.  “Hanya itu yang bisa aku ceritakan”. Aera membuang muka. Tak ada yang bersuara setelah itu.

“Aku sudah tak marah denganmu. Aku akan marah jika kau membuat Soah menangis. Jaga dia baik-baik. Kau bilang kita teman kan. Mulai sekarang bersikaplah layaknya teman. Kau tak perlu merasa tak enak padaku”.

-o0o-

“Yoon timjangnim”, sapa sekretarsi Min kala dia tak menemukan orang yang dicarinya.

“Iya”, pria yang sebelumnya sibuk mengarahkan bawahannya kini menoleh.

“Apa daepyonim belum datang?”.

“Sudah, tapi dia pergi lagi. Katanya ada urusan. Dia berpesan, jika jam pemotretannya tiba dan dia belum datang. Anda diminta memulai tanpa beliau”.

“Terima kasih. Selamat bekerja kembali”.

Sekretaris Min berjalan menjauh. Dia mengitari ruang pemotretan itu. Meneliti setiap persiapan yang dilakukan para penanggung jawabnya.

“Apa dia marah?”, ucapnya pada dirinya sendiri. Dia merogoh tasnya, mencari keberadaan ponselnya. Menekan tombol cepat satu dalam ponselnya. Mendekatkannya ke arah telinga.

Lama dia menunggu panggilan itu terjawab, namun tak membuahkan hasil. Suara operator yang menjawabnya. Dia kembali menghubunginya, namun lagi-lagi suara opertaor yang menjawabnya. “Sebenarnya kau pergi kemana daepyonim”, ucapnya lagi.

Dia melirik arlojinya sebentar. Pemotretannya akan segera dimulai, tapi bosnya belum juga datang. Sepertinya dia memang harus memulai tanpa gadis itu.

Ruang itu kini dipenungi dengan kilatan cahaya dari kamera penggambil gambar. Ya, sekretaris Min memulai pemotretan itu tanpa bosnya, seperti yang dipesankannya tadi. Semua orang tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Model untuk pemotretan itu sebagian sudah siap, sebagian lagi masih di ruang ganti. Mengganti pakaian yang akan digunakannya untuk pemotretan.

Sekretaris Min masuk ke ruang tersebut, letaknya memang bersebelahan dengan ruang pemotretan. Semua orang juga tampak sibuk dengan pekerjaannya.

“Sekretaris Min, bagaimana cara memakai ini? Aku sudah mencobanya, tapi terlihat tidak pas di mata”, ucap salah seorang. Dia adalah penanggung jawab untuk busana-busana yang akan digunakan dalam pemotretan.

Sekretaris Min berjalan mendekat. Dia menatap sebentar model pakaian itu. “Ini adalah produk terakhir yang selesai. Aku belum memeriksanya. Sebentar akan aku coba”, jelasnya. Dia mencoba mengancingkan pakaian itu pada salah satu model untuk pemotretan.

“Bukan seperti itu?”, terdengar suara yang mengintrupsikan kegiatan sekretaris Min.

Sekretaris Min menoleh untuk melihat si pemilik suara. “Daepyonim”. Dia melepaskan tangannya dari pakaian itu.

“Kau harus mengikatnya dulu seperti ini”, jelas gadis itu. Tangannya dengan terampil mempraktekan setiap kata yang keluar dari bibirnya. “Lalu arahkan ke kiri. Kancingkan dulu, baru arahkan ke kanan. Kancingkan lagi. Yang terakhir, ikatkan sabuk pinggangnya”.

“Ah, ternyata seperti itu”, ucap salah satu karyawannya. ID pegawai yang dipakainya bertuliskan Lee Hyejin.

“Ini memang sedikit rumit desainnya”, ucap Soah kembali.

“Terima kasih daepyonim”, wanita itu menunduk hormat pada Soah.

Sekretaris Min menarik lengan Soah menjauh. Membawanya ke tempat yang lumayan sepi. “Anda marah?’, tanyanya hati-hati.

“Tidak, kenapa aku harus marah?”, jawab Soah.

“Lalu, pergi kemana anda tadi? Aku sudah menghubungimu, tapi tak dijawab”, jelas Sekretaris Min kembali.

“Ada pokoknya, tidak semua urusanku harus aku ceritakan kan”.

Daepyonim, anda harus lihat ini”, salah seorang karyawannya memanggilnya.

“Mari lanjutkan pekerjaan”, ajak Soah. Dia berjalan meninggalakn Sekretaris Min.

Soah diajak melihat hasil pemotretan yang telah usai. Suara blizt kamera masih menggema di ruang itu. Pemotretannya memang masih berjalan.

Sementara itu seorang pemuda yang sedang menunggu antria pemotretan menatap lekat ke arah Soah. Dia termangu melihat gerak-gerik gadis itu.

Hyung, kau sedang apa?”, tanya salah satu rekannya.

“Kau lihat Kai”, pemuda itu menunjuk ke arah pandangannya. “Kim daepyo benar-benar anggun dengan semua kegiatannya. Tak salah jika dia menjadi seorang CEO”, lanjutnya.

Pemuda berkulit tan itu tersenyum mengejek. “Ini bukan berarti kau menyukainya kan, Baekhyun hyung”, ucapnya.

Pemuda yang dipanggil Baekhyun itu tersenyum. “Bagaimana ya!”, ucapnya terdengar ragu.

“Kau bukan tipenya”, ucap salah seorang yang bekulit paling putih. Dia berjalan mendekati mereka. Kedua orang yang tengah asyik mengobrol itu menoleh.

“Benarkah!”, tanya Baekhyun. “Memang seperti apa tipe pria idamannya?”.

“Setidaknya kau harus seperti DO hyung”, jelas pria berkulit albino itu. Dia menunjuk ke arah pria yang tengah menjalani pemotretan.

“DO”, ulang Baekhyun.

“Apa yang sedang kalian bicarakan?”, pria jakung itu berjalan mendekat.

“Bagaimana dengan Chanyeol?”, tanya Baekhyun kembali.

“Aku. Kenapa denganku?”, tanya pria jakung itu tak paham.

Pemuda berkulit albino itu menelisik dari atas hingga bawah pria jakung tersebut. Dia menggeleng. “Hanya satu kekurangannya, tidak bisa memasak”, jelasnya kemudian.

“Jadi tipe idealnya pria yang bisa memasak”, ucap Baekhyun.

Pria berkulit albino itu mengangguk.

“Sebenarnya siapa yang sedang kalian bicarakan?”, tanya pria jakung itu kembali.

“Kim daepyo”, jawab Kai.

-o0o-

“Aiko”, suara itu terdengar menggema di ruang yang masih dipenuhi cahaya blizt kamera. Seorang pria jakung bediri dengan gagah disana.

Sebagian di ruang itu menoleh. Ya, hampir semua orang disitu tahu jika nama yang tadi disebutkan adalah nama atasan mereka.

Soah yang terlihat sibuk melihat hasil pemotretan menoleh. Tak ada sepatah kata yang bisa diucapkannya. Dia melihat pria itu tengah tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Ya, pria itu. Pria yang sudah lama tak dia dengar kabarnya.

Tanpa pikir panjang kakinya menuntunnya mendekat. Tubuhnya seolah berjalan tanpa perintahnya. Dia hampir menumpahkan air mata, namun sebisa mungkin dia menahannya. Nafasnya memburu. Rasa sesak datang begitu saja. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat dan cepat. waktu seolah berhenti di sekitarnya.

Kakinya berhenti tepat di depan pria itu. Dia menatap sendu pria didepannya.

Long time no see Little Bee”, sapa pria itu.

Soah masih termangu. Menatap tak percaya objek di depannya. Ini seperti mimpi. Pria itu ada di hadapannya. Pria yang selama ini dia rindukan. Bahkan dia masih menggunakan nama sayangnya untuknya. Tangannya mengepal kuat. Tubuhnya bergetar.

“Jack”. Tepat setelah menyebutkan nama pria itu, dia menghambur memeluknya. Dia tidak perduli dengan apapun disekitarnya. Dia bahkan lupa fakta jika dia sudah menjadi istri orang sekarang.

Pria itu membalas pelukan Soah. Dia mengusap pelan surai panjang gadis itu. “I miss you, Little Bee”, ucap pria itu kembali.

Soah masih terdiam. Dia masih menikmati pelukannya. Dia teramat merindukan pria itu. Aroma parfum yang dipakainya masih sama dengan yang terakhir diingatnya.

“Ada banyak hal yang ingin aku katakan padamu”, ucap Soah setelah melepas pelukannya. “Tapi tidak disini. Ayo mencari tempat yang lebih nyaman”, ajaknya.

Pria itu mengangguk.

“Aku akan mengambil tasku”.

Soah benar-benar pergi setelah mengambil tasnya. Tanpa pamit, tanpa sepatah katapun, bahkan untuk sekretarisnya. Dia berjalan meninggalkan ruang dengan menggandeng lengan pria itu. Tanpa memperdulikan pria yang kini menatap aneh kepergiannya.

to be continue……..

Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.

28 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 8)”

    1. Dilanjut saja ya…. Hihihi…. 😁😁😁
      Bisa jadi benar bisa jadi salah tebakkannya…….

      Makin banyak konflik kan makin seru…..

  1. Jack?? siapakah jack? mungkinkah itu kekasihnya Soah?
    soah memeluk laki2 lain di depan suaminya.
    waahhh.. kasian tuh chanyeol. cemburu…
    tetap semangat nulis ya eonn….

    1. Iya, sengaja bikin new cast….. Biar tambah seru …
      Jangan khawatir, bang Chan tetap prioritas utama kok… 😁😁😁

  2. percakapan itu, pria albino pasti sehun, pria jakung pasti chanyeol…
    pengen tahu visual jack.. orang luar atau campuran korea jg??

  3. kirain sama sehun,,ternyata sama lelaki lain…sianny chanie….ditinggalkan begitu saja tanpa kata2….ne jadinya kisah cintanya segi brapa sih thor?

    1. Sehun kan sahabat….
      Biarkanlan dulu…. Nanti bang Chan juga seneng kok…….
      Cinta segi banyak pokoknya…… 😁😁😁

Tinggalkan Balasan ke feb2797 Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s