2ND GRADE [Chapter 32] by l18hee

2ndgradee

2ND GRADE

─by l18hee

.

Now Playing ► Chapter 32 [Hari-hari]

Dari memojokkan kawan yang terus menjaga rahasia, sampai bertemu mantar si pacar yang dilihat selayang pandang pun terkesan tebar pesona.

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Sehun, Baekhyun | [BTS] Jungkook | Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Family | Friendship | Romance

.for

Teen

.

Previous Part:

Prologue |  01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19  | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25| 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31

.

.

Baekhyun pernah berkata jika hubungan Sehun dan Runa sesungguhnya tak terlalu terlihat. Terlalu sukar ditebak dan terkesan berjalan di balik layar. Paling-paling yang sering melihat mereka seperti orang berkencan hanya kalangan terdekat saja. Maka, wajar saja jika bahkan Chanyeol-pun tak mengetahui walau kini ujian semester makin mendekat. Jika dilihat-lihat pun memang intensitas pertemuan Runa dan Sehun makin menurun berkat kesibukan menghadapi ujian semester. Runa dengan segala jenis kelas tambahan yang diminta sang ayah, dan Sehun yang mau tak mau pasrah.

Permintaan untuk tak mengedarkan berita atau omongan apa pun di media sosial rupanya benar-benar dituruti Sehun. Sebenarnya Sehun tidak begitu keberatan, toh di sisi lain ia sudah jarang menggunakan media sosial selain untuk berkirim pesan. Namun entah kenapa justru Baekhyun yang melontar tanya, tepat di depan sang karib dan si kekasih, kala ia dan keduanya tengah berkumpul di Toko Roti Kwon.

“Sebenarnya, kalian backstreet dari siapa, sih?” tuturan Baekhyun menghentikan Sehun yang baru akan mencekik Runa karena mengganggu permainan ponselnya.

“Kami?” Sehun menanggapi sembari menunjuk dirinya dan Runa, lalu menggeleng, “Sepertinya tidak ada.”

“Lantas kenapa tidak terang-terangan saja? Ya, bukan bermaksud pamer. Maksudku setidaknya menunjukkan kalau kalian sudah terikat dalam satu hubungan, agar … tidak ada salah paham dengan, istilahnya, orang luar.” Mengatakan mantan saja Baekhyun kesulitan. Namun tentunya Sehun dan Runa sudah paham apa yang ingin Baekhyun sampaikan. Tak ingin jadi pertama yang menanggapi, Sehun mengedik bahu dan menunjuk Runa, seolah berkata ‘tanyakan padanya’.

Jujur, dalam hati Runa tidak suka seseorang mencampuri urusan pribadi semacam cara pacarannya. Tapi mungkin ini waktunya untuk ia belajar menerima saran. Lagi pula, bukan sebuah permasalahan besar jika ada suatu simbol kepemilikan diluncurkan ke publik. Toh, benar kata Baekhyun, semua itu barangkali akan menghindarkan salah paham di kemudian hari. Kemudian gadis tersebut melirik Sehun sekilas, sebelum menatap Baekhyun, “Ada benarnya, Baek. Thanks.” Lagi-lagi ia beralih pada Sehun, “Jangan ge-er, aku hanya akan memasang inisial nama saja di Line.”

Sejemang Sehun mencoba meresapi apa yang baru Runa katakan. Sedetik ia merasa senang, namun di detik berikutnya alisnya mengerut heran, “Kenapa cuma di Line?”

“Masih syukur aku mau!”

“Instagram!”

“Apaan, sih!”

“Setidaknya kalau di Instagram semua bisa lihat dengan jelas.”

“Tukang pamer.”

“Memang! Agar semua yang mau mendekatiku tahu kalau aku sudah punya pacar, bukan masalah kan?” ucapan super narsis ini membuat Runa diam, kesal. “Katanya waktu itu setuju tidak pamer di Instagram,” gadis itu merendahkan suara, malah fokus pada ponsel pintarnya. Mau tak mau Sehun menghela napas, diam sejenak, dan bicara lebih pelan, “Kalau boleh sebentar masuk sesi romantis, katakanlah intinya bukankah akan lebih baik jika orang tahu status kita? Dengan begitu mereka tahu bahwa kau dan aku, sudah ada dalam sebuah hubungan yang jelas, dan orang lain akan tahu batasannya.”

Runa menghabiskan setengah menit untuk diam, pada akhirnya embusan napas terdengar juga. “Bagian mana yang romantis, cih.” Sedang Sehun terkekeh kecil, melirik Baekhyun yang memasang tampang pahwalan-seolah-olah dialah yang paing berperan di sini.

“Jadi …” Sehun suka sekali menggantung kalimat, “ayo unggah satu foto di Instagram.”

“Sekarang?”

“Jangan berlagak bodoh,” ujar Sehun, sudah sibuk dengan ponselnya. Tadinya Runa ingin protes, tapi mungkin memang seharusnya begini. “Tapi jangan terlalu sering mengumbar hubungan. Tidak baik.” Persepsinya masih sama.

“Oke.”

Perlu beberapa menit sampai akhirnya umpan di Instagram Baekhyun bertambah oleh unggahan terbaru Sehun dan Runa.

17882982_2263942053830906_1526150675115802624_n.jpg

oohsehunn Lubang hidungnya sudah kelihatan?

.

Baekhyun tergelak, sedang Runa menghujani Sehun dengan pukulan kecil. Sementara satu tangannya melindungi kepala, Sehun menggunakan tangan yang lain untuk memegang ponsel.

.

myhome_320.jpg

kwonruu oh, hai!

.

“Kenapa kepalaku kau potong?” Giliran Runa yang menjauhkan diri dari Sehun yang mencoba merebut ponselnya. “Yang penting aku sudah mengunggah fotomu.”

“Kau bahkan menonaktifkan kolom komentar. Tidak menandaiku pula.”

“Kenapa sih, banyak maunya! Hapus tag di fotomu, sana.” Runa mendekap ponselnya erat-erat, tak acuh pada Sehun yang terlihat merajuk. “Lagian semua juga tahu itu kau. Sudah mending aku mau.”

“Iya, iya, iya.” Menyerah, Sehun mengembus napas panjang. Setidaknya Runa sudah mau menurutinya. Selanjutnya ketiganya mengobrol ringan sambil menikmati pesanan.

“Tuan Kwon sudah bekerja keras membangun toko ini. Siapa yang akan melanjutkannya jika kau jadi pengacara, Run?” tanya milik Baekhyun mengundang mendung di wajah Runa. Gadis ini tidak begitu menyukai masalah masa depannya menjadi pengacara. “Tidak tahu. Omong-omong aku masih belum yakin nantinya akan jadi pengacara, Byun Baekhyun, jangan bahas itu lagi.” suaranya merendah dan penuh penekanan, membuat Baekhyun nyengir kecil.

“Omong-omong yang lain,” suara Sehun membelah suasana, “kurasa kau harus cepat move on dari Seunghee, Baek.” Dia mencoba mengalih topik, dan berhasil. Baekhyun langsung mendelikkan mata ke Runa, mengira si gadis telah membocorkannya. Namun ucapan Sehun menepisnya, “Seunghee sendiri yang bercerita padaku, bukan Runa.”

“Memangnya aku kau, apa-apa ember,” cericip Runa. Tanpa mengidahkan hal tersebut, Baekhyun beralih pada Sehun, “Dia cerita banyak?”

“Tidak juga, sih. Hanya alasan kenapa dia menolakmu.” Kemudian Sehun membicarakan apa yang baru saja ia terima dari Seunghee waktu itu. di akhir cerita, Baekhyun menanggapi dengan hela napas super panjang. “Beberapa hal memang harusnya tetap stagnan.”

“Kecewa?”

“Aku normal, jadi aku kecewa.” Hanya beberapa detik hening, karena Baekhyun cepat-cepat menanggapi, “Aneh tidak, kalau aku merasa ada apa-apa dengan Seunghee dan Jungkook?”

“Kalau Seunghee punya alasan untuk menolakmu karena ingin mempertahankan tali pertemanan, misalnya dia menyukai Jungkook pun ending-nya bakal sama seperti hubunganmu dengannya,” tanggap Runa. “Ditambah lagi, aku masih kurang pandai membaca gelagat Jungkook.”

Sehun justru diam, memilih tersenyum tipis tanpa menguar tanggapan. Apa yang ia tahu, sebaiknya tetap tersembunyi.

“Oh, sudah hampir waktunya tutup. Kalian mau menungguku membereskan ini atau mau lebih dulu pulang?” Usai mendapat jawaban bahwa Baekhyun dan Sehun akan menunggu, Runa bergegas membereskan meja dan menghambur ke dalam. Sosok gadis itu hilang, lalu Baekhyun membuka konversasi antar lelaki.

“Kurasa Runa hapir mati keracunan les tambahan, padahal ini baru tingkat dua. Aku dengar dia akan dimasukkan ke tempat les juga waktu liburan.”

“Aku agak sukar bicara. Ini menyangkut ayahnya.” Diam-diam begini Sehun juga tak tega melihat Runa yang hanya punya waktu minim selain belajar dan istirahat. “Tapi kurasa memang kami harus bicara lagi.”

“Baiklah.” Satu kali tepuk  tangan dan Baekhyun beranjak dari duduknya, “Bicara lebih cepat lebih baik, Sehun. Aku duluan.” Sebelum Sehun menanggapi, Baekhyun lebih dulu menyela, “Oh ya, tentang adikmu dan aku, jangan khawatir. Aku tipikal orang yang cepat move on, kok.”

Untuk saat ini Sehun belum memutuskan akan percaya atau tidak pada ucapan Baekhyun perihal move on. Ia menunggu hingga Runa selesai berpamitan. Kala gadis tersebut menghambur keluar toko dengan langkah yang nyaris seperti lari, Sehun mencebik, “Biasa saja, dong.”

“Berhenti mencibir segala yang kulakukan, Sehun.” Manik Runa melebar, tidak pura-pura kesal. Kadang lelaki yang tengah melangkah di sampingnya memang manis, dan sisanya menyebalkan. “Warna rambut aslimu sudah kelihatan,” komentar mendadak ini membuat Sehun menyugar beberapa kali surainya ke belakang. “Untunglah tetap tampan,” imbuhnya sepihak. Langsung Runa meniru ucapan tersebut dengaan mimik yang sengaja dibuat jelek, memancing Sehun mencekik leher belakang gadis itu.

“Bagaimana rasanya keracunan materi?” tanya Sehun selepas Runa berhasil mendorong tangannya menjauh. Yang ditanya menanggapi sekali tebas, “Yang namanya keracunan biasanya berakhir mati. Gunakan bahasa yang bagus.” Sehun hanya mengusap kepala belakang gadisnya, nyengir lebar.

“Tidak ada rencana mengobrol dengan ayahmu?”

“Tentang masalah pengacara atau les? Kurasa belum.” Runa menjawab seraya memainkan tali tasnya, tahu ke mana arah pembicaraan Sehun. “Aku akan bicara secepatnya,” imbuhnya menandingi kecepatan suara yang baru akan Sehun keluarkan, “kali ini serius.”

Tak ada yang dapat Sehun lakukan selain mengusap kembali surai Runa, dan menarik gadis itu lebih dekat, “Jangan korbankan mimpimu. Ini hidupmu dan kau yang menjalani, sekadar mengingatkan saja.”

Kemudian, Runa rasa ia harus benar-benar membulatkan tekadnya. Pengecut memang karena terlalu banyak menunda. Kadang ia merutuki diri karena terlalu menjadi seorang pemikir dan sukar membuat keputusan. Maka, dengan segala kenekatan yang dipunya, Runa pun berhasil duduk di sofa yang sama dengan sang ayah. Jarum jam baru saja perlahan meninggalkan angka 10. Ditemani cokelat hangat yang semoga bisa menenangkan suasana, Runa mencoba membuat obrolan ringan. Ia bercerita banyak hal tentang sekolah dan hobinya. Tuan Kwon bukan orang yang kaku, walau keras kepala, jadi sesekali tersenyum bukan sebuah hal yang mengherankan. Hingga kala pembicaraan sampai menyentuh kata pengacara, lelaki paruh baya tersebut menaikkan satu alisnya.

“Tidak perlu merasa terbebani, kau pasti bisa.” Malah dikiranya, sang putri pesimis pada dunia. Selembut yang dibisa, Runa menyusun kata, “Bukan merasa terbebani, Ayah.” Senyumnya terlihat ditulus-tuluskan, efek dari tegang yang tak biasa, “Bukan pengacara yang kubayangkan akan menjadi pengisi waktu kerjaku di masa depan. Aku lebih berpikir masuk bidang fotografi atau desain.”

Hening dalam waktu yang lama. Sungguh Runa benci begini. Bahkan detak jam terasa menggema di kepalanya. Ingin meraih cangkir untuk menumpahkan isinya ke tenggorokan pun rasanya ia tak pantas.

“Kau sedang ujian?”

“Beberapa hari lagi baru dimulai.” Runa memaksakan senyum, jemarinya bermain satu sama lain. Lalu, sederet kalimat dari ayahnya sukses menutup pembicaraan malam ini.

“Selesaikan dulu ujianmu.”

Barangkali, Tuan Kwon perlu berpikir.

.

Sudah Runa duga, kendati ia telah tuntas mencuci muka dan kaki serta menggosok gigi sebelum tidur, dirinya tak kunjung pindah ke alam mimpi. Kelopak matanya terbuka, napasnya dibuang panjang. Dia bergerak meraih ponsel dan earphone, mencoba menghubungi Sehun. lalu ia memutar posisi tubuhnya, mengangkat kedua kaki dan menyandarkannya ke tembok, merentangkan tangan lebar-lebar untuk lebih rileks.

“Belum tidur?” Bunyi monoton berganti dengan suara Sehun. Runa tahu gelengannya tidak akan terlihat di ujung sana, maka ia menjawab, “Belum. Susah rasanya.”

“Ada sesuatu yang kau pikirkan?”

“Aku baru bicara pada ayah. Sepertinya tidak ada keputusan apa-apa sampai ujian semester selesai.” Runa tidak dapat menggolongkan resahnya di kadar yang mana, dia bergerak tak nyaman, kini menyamping dan memandang kosong ke arah meja belajar. “Aku tidak suka perasaan ini. Aku ingin tidur.” Air matanya sudah menggenang.

“Oke. Itu artinya kau harus mendengarkan si pendongeng ulung ini.” Sehun berhasil mengeluarkan suaranya setelah beberapa detik diam. “Aku akan memberi cerita pengantar tidur. Kau harus bangga menjadi orang pertama yang tahu debutku sebagai pendongeng.”

“Dari mana kau tahu kau ulung jika debut pun belum,” cebik Runa pelan. Walau begitu Sehun tetap melanjutkan niatannya. Dia mengawali cerita dengan suara yang diberat-beratkan khas narator. Namun kemudian mengaku terang-terangan bahwa itu melelahkan―yang mana ditanggapi Runa dengan ejek tawa. Jadi ia menggunakan suara biasa, bercerita tentang beberapa hal yang menurutnya lucu. Beberapa cerita tidak begitu berbobot, tapi syukurlah ada suara kekeh tawa di sela-sela kisah.

“Sudah mengantuk?” tanya Sehun pada akhirnya.

“Kau memberi cerita komedi, bagaimana aku mengantuk?” Begitu juga Runa tersenyum. Dia sudah menurunkan kaki dan bergelung ke posisinya semula. “Tapi sudah lebih baik, thakns.”

“Kwon,” suara Sehun menggantung. Jelas, Runa tahu apa yang si lelaki pikirkan, “Kau bisa memelukku lain kali. Jangan merasa menyesal tidak bersamaku di sini.”

“Padahal aku mau bilang jika aku ingin ke kamar mandi, kok ge-er?”

“Sialan,” umpat Runa gemas. Sehun sudah tergelak di ujung sana, kemudian menanggapi, “Bercanda. Aku hanya kesal kau bisa membaca pikiranku sebelum aku mengucapkannya dengan kata-kata yang … setidaknya manis.”

“Kau akan membuatku geli.”

“Dan makin menyukai Oh Sehun ini,” sambung Sehun seenak jidat. Lantas Runa terkekeh kecil, “Berhenti membual.” Membayangkan Sehun mengatakannya sambil mengedik bahu sok tampan saja sudah membuatnya geli.

“Tapi serius, Kwon, aku ingin memelukmu.”

Sehun tahu Runa tengah menyuguh senyum di seberang sana, sama dengannya.

Ah, dasar remaja mabuk cinta.

.

.

.

-0-

.

.

.

Hujan. Sejak sore titik-titik air dari langit masih belum berhenti, hingga kini Runa sudah berdiri di lorong sekolah paling ujung. Ada Jungkook juga. Baekhyun, Seunghee, dan Chen sudah lebih dulu pulang dengan menumpang mobil jemputan Wendy. Jungkook dan Runa menolak pulang bersama mereka karena di samping sadar mobil jenis sedan tersebut tidak muat dijejali manusia lagi, pun jangkauan destinasi mereka lebih dekat daripada yang lain. Jungkook mau ke minimarket dan Runa ke tempat les.

Jungkook sudah siap dengan hoodie-nya. Namun Runa mencegah, “Tunggu hujannya mereda sebentar lagi. Sedang musim ujian, kalau sakit bisa fatal.”

“Tidak bawa jaket?” Jungkook bertanya setelah menuruti Runa, ia sudah menarik langkah dan menyejajarkan diri dengan sang teman.

“Kenapa? Kau akan meminjamkan milikmu?”

“Tidak. Hanya mau membodoh-bodohi saja.”

“Memang seharusnya aku tak perlu melontar canda.” Runa berdecih, namun mendadak teringat sesuatu, “Ada jaket di lokerku. Ayo ambil.” Dia menarik lengan Jungkook yang malah menyatukan alis, “Ambil sendiri.”

“Kau akan menembus hujan sendiri jika aku pergi. Janji deh, nanti kita lakukan jika hujannya tidak reda-reda. Aku tidak mau sendirian di koridor,” tutur Runa seraya memastikan bahwa ia tak main-main. Ia sungguhan tidak mau pergi sendiri ke koridor sekolah saat hujan; lampunya remang dan gemerisik hujan terdengar mengganggu. Sumpah itu seribu persen menakutkan.

Untungnya Jungkook masih termasuk dalam daftar lelaki yang memiliki rasa kemanusiaan―walau kadang kadarnya di bawah rata-rata. Kemudian mereka kembali menyusuri lorong dan tangga, lalu berhenti di kelas. Cepat-cepat Runa membuka loker, mendapati jaket marun milik Sehun yang belum sempat ia kembalikan sejak lama―lama sekali, terus terang saja, salahkan kerak lupa pada otaknya akan hal itu.

Dan satu lagi benda penting yang terlupakan. Runa sadar ia tidak terlalu memikirkan sekitar akhir-akhir ini karena sibuk belajar. Ditariknya sebuah payung lipat yang semula tersembunyi di bawah jaket, lantas ditunjukkan pada Jungkook yang berdiri di ambang pintu.

“Kejutan, hehe.”

Jungkook tahu benar Runa baru sadar ada payung nganggur di loker, jadi ia mencibir kecil, “Bodoh.”

Dengan adanya payung maka mereka kini berjalan bersisian menerobos hujan. Bukan sebuah hujan lebat, tapi sudah cukup membuat sebagian baju keduanya basah. Jungkook mengibas-ibaskan jaket, lalu menunjuk ujung jalan dengan dagu, “Busnya baru pergi.” Artinya ia harus menunggu bus rute yang sama selanjutnya.

“Oh, oke,” karena hanya perlu ditempuh dengan berjalan kaki, Runa tidak ikut naik bus, “aku temani sampai dapat. Sekalian menunggu hujannya lebih reda.”

Jeda sekitar tiga menit, kemudian mendadak saja Jungkook melontar kata, “Kudengar, Baekhyun sedang patah hati.” Dia melirik sejenak, menunggu reaksi Runa. Tapi berhubung yang ditunjukkan gadis itu hanya gelagat bingung, Jungkook menambahi, “Aku bukan orang yang begitu peduli bagaimana pendapat orang lain terhadapku, tapi bisa tolong sampaikan sesuatu? Oh Seunghee dan aku hanya teman.” Runa mendongak, menatap Jungkook penuh selidik. Merasa tak dipercayai, si lelaki mendengus, “Kalian yang sejak awal berpikiran begitu, menyimpulkan sendiri.”

“Rasanya memang kalian ada apa-apa, kok!” sergah Runa tak terima argumennya diinjak habis-habisan dengan satu kalimat. Dan Jungkook tersenyum mengejek, “Kau tidak suka dijodoh-jodohkan, kemudian sekarang kau melakukannya sendiri.”

Sial, dia benar.

“Oke, maaf.” Gantian Runa yang mendengus, “Habisnya, perlakuanmu pada Seunghee sedikit berbeda―dan sebaliknya. Tatapan kalian penuh rahasia.”

“Bodoh, mana ada yang seperti itu.”

“Ini serius! Bahkan ketika kau mengelak seperti tadi, yang kuyakini masih saja seputar ‘Jungkook dan Seunghee ada apa-apa’ atau sejenis itu,” tutur Runa yang masih saja setia pada pemikirannya sejak awal. Lantas Jungkook menanggapi usai mengedik bahu, “Katakanlah aku menyukai Seunghee dan akan menyatakan perasaan padanya. Kau pikir Seunghee akan menerimaku?”

Dengan mengingat alasan Seunghee menolak Baekhyun dan dipadukan sifat yang si gadis miliki, bagaimanapun juga Runa sangsi gadis tersebut akan menerima perasaan Jungkook. Lalu tak ada cara lain untuk berkilah dari kalah debat. Runa mendengus lagi, “Dia akan melepaskanmu.” Bisa saja Seunghee menyambut pernyataan Jungkook, tapi gadis itu tak punya cukup rasa tega pada Baekhyun. Pilihan terbaik yang akan diambil Seunghee adalah melepas keduanya.

Puas karena pendapatnya berada di atas milik Runa, Jungkook menyedekapkan tangan, “Anggap saja tidak ada yang menyimpan perasaan antara aku, Seunghee, dan Baekhyun.”

“Jadi, siapa yang kau sukai jika bukan Seunghee?”

Mendapat pertanyaan tiba-tiba, Jungkook memicingkan mata. Tak habis pikir kenapa gadis ini terus bicara. “Cerewet.”

“Laki-laki 18 tahun tidak mungkin tak punya seseorang yang disuka. Atau kau baru patah hati?” lanjutan kalimat Runa memancing Jungkook melirik, lalu membuang pandangan. Sebal.

“Nah! Benar, kan! Kau baru patah hati. Dengan Oh Seunghee!”

“Kenapa membahas Oh Seunghee lagi, sih?” Lama-lama Jungkook makin kesal saja. Tindakan berlama-lama di dekat Runa tidak akan ia lakukan lagi jika bukan karena hal terdesak. Telinga Jungkook jadi super panas dan tak tenang akibatnya. Begitu melihat Runa akan membalas lagi, si lelaki cepat-cepat menambahi, “Bukan dengan Oh Seunghee.”

“Jadi siapa?”

“Kau tidak akan kenal. Sudah, berhenti mengeluarkan suara!”

“Dari sekolah lain? Seseorang di tempat kerja?”

“Pergilah ke tempat les. Busku sudah datang.”

“Eii, jawab aku dulu.”

Jungkook memilih diam, jika ia semakin banyak membuka suara maka dirinya akan makin lelah. Hari ini dia terlalu banyak bicara, mulutnya pegal. Tak biasanya ia mengeluarkan banyak tenaga untuk mengobrol. Hingga bus datang dan gerakan menaiki bus yang berkesan terburu yang ditunjukkan Jungkook, Runa tak mendapat jawaban. Kemudian bus melaju meninggalkan halte.

“Kang Seulgi? Ah, tidak mungkin. Dia bahkan lebih cerewet ketimbang aku. Mana Jungkook tahan. Pasti gadis di tempat kerjanya yang lain.”

.

.

.

-0-

.

.

.

Masa-masa ujian semester berlalu dengan lambat, di sisi lain menimbulkan bekas lelah tentu saja. Kemudian seperti libur musim panas yang cepat berakhir, libur musim dingin datang dengan kecepatan yang sama. Sebentar lagi kota akan dipenuhi tumpukan salju dengan suhu udara yang menurun drastis. Di masa beginilah Runa suka menghabiskan waktunya di toko roti milik sang ayah. Warna yang dihasilkan roti-roti selalu memberi kesan hangat. Banyak gambar yang ia ambil dari berbagai macam jenis roti dan kue. Bukan sebuah hal yang sia-sia karena dia akan mengunggahnya di media sosial milik toko. Anggap saja Runa adalah admin, bahasa kerennya.

“Terima kasih, silakan berkunjung kembali di lain waktu. Hati-hati di jalan.” Runa menyerahkan beberapa roti yang baru dibayar pada seorang wanita paruh baya. Jika mood si gadis tengah baik ini bukanlah hal yang berat untuk dilakukan.

“Mulutmu bisa sobek jika terus tersenyum.”

Runa mendongak dan berseru kecil, “Oh Sehun! Astaga, kau menghitamkan rambutmu lagi!” Dia malah tak menghentikan senyumnya, “Ada hal bagus yang baru terjadi. Pesanlah sesuatu dan tunggu aku sebentar. Joy sedang mengecek kiriman barang, dia akan kembali beberapa menit lagi.”

Sehun menurut saja. Ia mengambil tempat duduk dan diam memandang ponsel. Sesekali melirik Runa yang berbincang kecil dengan pelanggan. Sekitar sepuluh puluh menit kemudian gadis terebut sudah menanggalkan celemek dan duduk di depan Sehun. Tidak ingin kegembiraannya tersiar begitu cepat karena suaranya yang terlalu menggelegar, Runa berbisik semangat, “Aku boleh memilih jurusan kuliahku sendiri. Ayah baru mengatakannya tadi malam.”

“Serius?” Sehun saja sampai bingung akan berkata-kata.

“Sumpah, deh, tidak bohong.”

“Jadi selama libur musim dingin kau tidak akan masuk kelas khusus?” Kemudian pertanyaan ini menarik Runa mengangguk cepat. Sehun menyantap potongan cake terakhirnya dengan semangat, “Aku punya rencana bagus, bagaima―”

Suara Sehun terhenti tepat sedetik usai sebuah suara menyapanya, “Sehun?” Begitu melihat siapa yang tengah berjalan mendekati mejanya, Sehun langsung melirik Runa sekilas. Lalu mengumpat pelan dalam hati.

“Junrim, kebetulan bisa bertemu.” Sehun tidak tahu kepada siapa ia harus marah-marah karena mendadak memunculkan Junrim di sini.

“Ah, aku kalah. Kau lebih dulu move on rupanya.” Kendati begitu rasa percaya diri Junrim masih tinggi. Dia bahkan meletakkan bokongnya di kursi kosong di meja Sehun dan Runa, kini mereka berhadapan mengitari meja. Sebelum Runa makin tenggelam dalam bingung, Junrim memperkenalkan diri, “Goo Junrim, satu sekolah dengan Oh Sehun. Mantannya, hehe.”

Cepat-cepat Runa mengenyahkan keinginan untuk mendelik kaget, ia memilih tersenyum lebar dan menyambut uluran tangan si gadis, “Kwon Runa.”

.

.

.

“Kwon,” entah kali keberapa Sehun memanggil. Dia mengikuti Runa yang bolak-balik menata roti-roti yang baru matang. Di musim dingin memang pelanggan bertambah banyak.

“Kwon Runa.”

Untunglah akhirnya Runa mau menjawab, “Aku tidak marah. Cuma agak kesal, tapi bakal reda kok. Nanti kalau sudah agak baik kutelpon.” Sehun mendengus, Runa tidak akan menelpon. Rasa gengsi yang tinggi pada kaum perempuan adalah penyebabnya.

“Sumpah, aku mengganti warna rambutku jadi hitam lagi bukan karena Junrim menyukainya. Lagi pula kami jarang bertemu di sekolah, jarak kelasnya jauh.”

“Iya, iya. Sudah kubilang aku hanya―” sadar suaranya meninggi, Runa menurunkannya dengan cepat, “kesal. Cuma itu.”

“Namanya cemburu, dasar,” suara Sehun pelan, tapi dapat didengar si lawan bicara yang langsung menanggapi. “Sudah tahu begitu ya diam!” Satu pukulan mendarat di lengan Sehun, Runa melanjutkan, “Nanti malam deh, kutelpon. Sekarang kau sebaiknya pulang.”

“Kita bahkan belum mengobrol banyak, kau bilang ingin jalan-jalan sebentar.”

“Waktuku sudah habis hampir satu jam kurang untuk mengobrol dengan mantanmu yang tidak mau pulang.”

“Astaga, Kwon Runa. Kau benar-benar seperti seorang perempuan sekarang.”

“Astaga, Oh Sehun. Kau berubah pikiran ingin memacari seorang lelaki?”

Sehun mengusap wajahnya cepat, diam beberapa detik sementara Runa mengalih pandang. “Oke. Telpon aku nanti.” Dia mengalah dan bergegas pergi. Bagaimanapun juga dia tahu dirinya akan kalah jika berdebat masalah ini.

Sementara itu Runa berjalan kembali ke meja kasir, bertemu Joy yang nampaknya memerhatikan sejak tadi. “Kau bersikap santai di depan gadis itu, begitu dia pergi kau malah kesal pada Sehun,” ujarnya. Mau tak mau Runa mendengus, “Di depan mantannya pacar harus jaga harga diri.” Dia teringat bagaimana dengan kepercayaan diri penuh Junrim menciptakan banyak obrolan―kebanyakan seputar Sehun dan dengan sengaja. Itu sangat norak, dan akan lebih norak lagi jika Runa termakan omongan Junrim. Runa percaya penuh dengan kenyataan Sehun tak lagi menaruh rasa pada gadis tersebut. Tapi yang namanya kesal memang tak dapat dibendung. Dalam hati Runa berjanji akan mencoba menghubungi Sehun jika keadaan hatinya sudah membaik.

“Aku kasian pada Sehun, mukanya setengah frustasi,” Joy terkikik geli. Sedang Runa menyuguh lirik jengah, enggan menjawab. Dia mendudukkan diri sembarang, di lantai tanpa alas tepat di balik kasir. Lalu memainkan ponsel dalam menit-menit yang terasa sangat lama.

Beberapa waktu Joy tenggelam dalam diam, namun mendadak saja ia berujar, “Ada yang bisa kubantu?” Oh, rupanya pada pelanggan. Tadinya Runa tak acuh, tapi Joy beralih padanya, “Tolong urus sebentar, aku sangat-sangat butuh ke toilet.” Tanpa persetujuan, gadis itu sudah pergi.

Mengenyahkan keinginan untuk marah, cepat-cepat Runa beranjak dari duduknya.

Dan yang ia dapati di depan meja kasir adalah sosok Sehun. Satu-satunya yang dapat membuat Runa tergelak bebas di detik selanjutnya adalah Sehun yang sengaja merubah tatanan rambut, modelnya kucir dua tepat di kanan dan kiri. Oh, di mana lelaki ini mendapatkan kucir rambut selucu itu? Runa masih saja terbahak.

“Sudah selesai kesalnya?” Gurat malu terlihat di wajah Sehun, mungkin karena beberapa orang memerhatikannya sejak tadi. “Katakan kalau sudah tidak kesal, aku harus melepas benda ini.”

Runa tak peduli, dia asyik menertawakan si lelaki. “Idiot, siapa yang mengajarimu?”

Kemudian, dihitung semenit setelahnya mereka sudah duduk di salah satu meja. Sehun agak menundukkan kepala saat Runa melepas ikatan di rambutnya. “Yang pelan, astaga. Ini perih!” cericip sang lelaki segera. Sementara itu Runa masih saja tersenyum, “Kau mengikatnya terlalu kencang.”

“Iya, rasanya jadi pusing.”

“Bodoh.” Runa sudah selesai melepas aksesori rambut dari surai Sehun. Dia mengacak pelan dua sisi kepala si lelaki untuk menghilangkan bekas ikatan. “Eh, mau hoddeuk?”

“Apa kau sedang mengajakku jalan-jalan?”

“Jawab saja. Jangan melempar pertanyaan yang lain.”

“Kau benar-benar perempuan. Sedikit-sedikit kesal, tau-tau senang.” Langsung saja Sehun menghindar dari tangan Runa, terkekeh puas. “Ayo, lekas. Besok aku mau futsal jadi tidak bisa main denganmu,” imbuhnya.

Tadinya Runa ingin menimpali, sayangnya getar ponsel mencegah. “Sebentar, Baekhyun menelpon.” Si gadis menerima panggilan, meninggalkan kekasihnya menyandar pada meja dan melayang tatap jahil. “Ada apa, Baek?”

“Dengarkan ceritaku.” Tak membiarkan Runa menyahut sebal, Baekhyun lebih dulu berujar, “Awalnya aku berencana membangun sesi keakraban dengan Jeon Jungkook dengan mengunjunginya di tempat kerjanya, lebih tepatnya di kafe yang pernah kau ceritakan. Ternyata Jungkook tidak datang, dan kau harus dengar apa jawaban yang diberikan pegawai lain di sana saat aku bertanya.”

“Katakan dengan cepat, Baekhyun. Jangan menggantung kalimat.” Runa berujar, satu tangannya yang tidak memegang ponsel sibuk menyingkirkan tangan Sehun jauh-jauh―karena lelaki itu mencoba menyumpal hidungnya dengan ikat rambut, yang jelas tidak cukup. Sementara Runa melayang pukulan-pukulan kesal dan Sehun terkikik-kikik tak berdosa, Baekhyun melanjutkan cerita, “Katanya Jungkook berhenti. Kalau tidak salah, katanya―lagi―dia mau pindah ke Gwangju.”

“Serius? Demi―Astaga Oh Sehun! Enyahkan itu!” Kembali Runa mendorong Sehun menjauh, yang didorong tergelak bebas.

“Besok. Kata bosnya dia berangkat besok, tapi aku tidak tahu jam berapa.”

Runa mengembus napas panjang.

.

.

.

.to be continue

kondisi kolom komentar di foto unggahan Sehun, tujuh jam penuh kemudian:

♥280 likes

oohsehunn Lubang hidungnya sudah kelihatan?

15 coments

byunbaekh HAHA nista @kwonruu

kimtaeeeee go public HAHA

baechu diamuk Runa, pasti

parkjim.in dapet ya?

gojunrimie wah

.

Park Chanyeol sukses melihatnya berkat tag yang Sehun sambungkan ke akun Runa.

.


Sebenernya Jungkook ke Gwangju mau lamaran sama aku /dibejek/ /gak deng aing sama Canyol ae /dibejek lagi.

Btw akhirnya Junrim ada fungsinya juga dan gak sekedar lewat nama /nid.

Btw lagi, siapa yang salah sangka ngira mantan yang dimaksud di awal chapter itu Canyeol? wkwk ketipu lu /terus nida dibakar/ /gak deng, canda beb. Tenang ajah, Canyol akan muncul pada waktunya wkwk Entar munculnya sama aku, di pelaminan /G.

THANKSEUUU GENGS YANG MASIH KUAT BACA ❤ kalok aing punya duit mah udah bagi-bagi pulsa wkwk

.nida

Gengs, tolong bantuin vote dong, buat proyek baru habis ni ff. Masih bingung saya. Langsung cus pilih di sini yak. Ada empat rencana, tolong pilih satuu. Makasih banyak ❤

27 tanggapan untuk “2ND GRADE [Chapter 32] by l18hee”

  1. lah, ko ga da jejak dr ku ya
    ykn udah bc ini, mian..
    brhrp jg ‘mantan’ yg di mksd tu si chan trnyt bkn
    kyny oh siblings tau sp yg bikin jungkook broken hearted
    /tp runa’ny ga peka
    gmn ya klo eventually runa tau
    (klo my assumption bhw jungkook sk dy tu)

  2. kok aku mengendus sesuatu yang mencurigakan ya semacem jungkook patah hati sama si runa. buat si baek semoga cepet dapet pengganti seunghee ya orang baik macem dia harusnya ada gebeta😂😂😂
    yah kok Jungkook pindah ke gwangju sih jangan lahhhh😭😭😭
    model cewek kek runa emang boleh dah buat dijadiin panutan hahaha

    1. wkwkwkwkwkkwkw
      iya moga baek dapet ganti yg lebi baek/nid
      iya gebetannya kan aku /lalu hening/ /ditimpuk
      wakakak ya gimana yak, jungkuk aslinya pindah buat nemenin aku /ini apalagisi :(( lelh dd :((/
      makasih istrinya jaemin udah mampir ihiw, salam buat jaemin /nid

  3. IM STILL WAITING KAAA😭😭😭😭😭😭
    UDAH KELEWAT KANGEN SAMA RUNA😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

    1. GAUSAH KEPSLOK AKU NANTI TERJUNGQALE/g /lu juga keps bege nid wkwk

      TUNGGU AKU YAK 😦 PLIS 😦 AKU USAHAIN KEMBALI SECEPATNYA, AKU RINDU :(( (demi apa aing kangen berat :(()

    1. iya haha ngakak sendiri aku kalok ngebayangin dia kek gitu dinginnya wkwk soalnya aslinya bisa cute banget /nid
      makasih looooh udah baca terus sampe sekarang ❤ sayang ngets ❤

  4. Aduh anjir banget …
    Udah seneng diawal ngira Chanyeol bakal muncul malah junrim…
    Aku masih menunggu Chanyeol jeles Ama Sehun atu….mba author😥😥
    Btw itu si Jungkook gk patah hati sama runa kan??? Aduh jangan deh jadi ribet ni😐😏

    1. wakakak ketipuu nii wkwk (seneng banget aing bisa nipu/g)
      jangan jeles, berat jelas mah 😦 /nid
      aduh aduh aduh tida ada yang tau jungkuk gimanaa. aslinya dia udah punya hati yg baru kok, hatiku hehe /dibejek
      makasih yaa udah ngikutin ff ini ❤ sarangek ❤ ❤ ❤

    1. samaaa :((( gak rela mau ngelarin ini, tapi ff ini sudah terlalu lama wakakak
      iya manis dong, kek yang bikin /terus habis itu nida dibakar/ /gakdeng, canda
      makasih loooh udah ngikutin terus dari duluuu, sayang bangeet ❤

  5. kenapa makin kesini aku makin gemes sama sehun ya.. cius, gak tau pengen aja ngarungin dia gitu bawa pulang terus di jadiin bantal guling idup kan enak *eeh 😀

    1. iyaaaaaaa, samaaaaaaa, pingin ngarungin bawa pulang gituu. habis itu dijadiin guling, kok rasanya enak bener yah idup wakakak makasih yaa udah baca teruus ❤

  6. Ini Sehun kok manis banget yah 😍
    Suka dengan gaya pacaran mereka
    Runa juga kelihatan dewasanya walaupun tetap cerewet
    Apa? Jongkook mau pergi? Ke mana?
    Lanjutin ka
    Semangat 💪

    1. iya, jadi pingin ngantongin 😦
      wakaka iyaa, jungkuki mau pergi, pergi ke hatiku /nid paan sih/ /canda deng
      makasih yaa udah ngikutin terus, makasih pokkoknyaa ❤ semangat juga buat kamuu

    1. iyaaak, ucul gituuu, aku gemes sendiri soalnya jomblo /ini malah bahas apaan
      entar kebuka yaa di eps selanjutnyaa 😉 makasih yaa udah baca teruss ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s