DREAM — #2: A Friend ►► IRISH

⁛  DREAM  ⁛

►  Byun Baekhyun x Lee Hyerin  ◄

►  Fantasy x Slight! Mythology x Romance x School-life ◄

►  Chapterred x Teenager(s)  ◄

Vivid Dream(s):

ForewordPrologue ► Baekhyun’s SidePrologue ► Hyerin’s Side#1: Her Problem — [tonight] #2: A Friend

♫ ♪ ♫ ♪

#2 — A Friend

In Author’s Eyes…

Pagi menjelang, setelah mengabaikan pemandangan tidak nyaman yang dilihatnya malam tadi, Baekhyun mau tak mau harus berhadapan lagi dengan sosok gadis berambut merah menyala dengan kulit kelewat pucat itu ketika dia menginjakkan kaki di pelataran sekolah.

Bisa Baekhyun lihat, bagaimana si gadis bermarga Lee itu datang dengan menaiki sepeda gunung. Di mana kedua manik Baekhyun sempat dibuat kebingungan lantaran gadis itu datang dengan menutupi rambut menyalanya menggunakan topi. Belum lagi sweater tebal yang dikenakannya sekarang membuat Baekhyun hampir saja tidak mengenalinya.

“Eh? Gadis itu naik sepeda ke sekolah? Ia tidak terlihat seperti gadis tidak benar jika rambutnya tidak diwarnai seperti itu…” ucap Baekhyun, tanpa sadar tersenyum saat maniknya tidak melihat rambut berwarna merah mencolok milik Hyerin. Tapi tak lama, gadis itu melepaskan topinya, membuat senyum di wajah Baekhyun dalam sekejap hilang.

“Dia tidak lagi terlihat seperti gadis baik.” ucap Baekhyun, menggeleng pelan, dan kemudian melangkah menjauhi gadis itu.

“Bodoh…”

Langkah Baekhyun terhenti. Ia berbalik, dan memandang Hyerin yang berdiri di depan sebuah mobil. Pemuda itu menyernyit, tampak bingung karena tindakan yang dilakukan Hyerin.

“Hyerin bodoh.”

“Gadis itu aneh sekali…” gumam Baekhyun. “Menyiksa diri sendiri karena rasa bersalah. Dasar bodoh!”

“Apa ia semalam bertengkar dengan kekasihnya di jalan sepi itu?”

“Bodoh… Hyerin bodoh…”

Geurae. Kau memang bodoh…” tambah Baekhyun, menggeleng tak percaya karena sikap aneh gadis itu. “Harusnya gadis bodoh seperti mu itu mati saja…”

Baekhyun yang tadinya asyik mengangguk-angguk, langsung tersentak.

“Gadis itu gila!?” ucap Baekhyun tanpa sadar bahwa dirinya menjadi ‘pemandangan aneh’ oleh beberapa orang di sekitarnya. “Kalau kau mati… Tidak akan ada rasa bersalah seperti ini lagi…”

Mengabaikan pandangan mengganggu yang didapatnya karena baru saja bicara dengan vokal terlampau lantang, Baekhyun memandang Hyerin yang sekarang tertunduk.

“Ah… Saat seperti ini rasanya aku ingin bisa membaca pikiran seperti yang bisa Jungha lakukan…”

Baekhyun tersadar dari lamunannya saat ia melihat Hyerin berjalan ke arahnya. Gadis itu tampak sangat tenang, seolah beberapa saat yang lalu dia tidak melakukan tindakan aneh dengan mengatai dirinya sendiri di depan kaca mobil.

“Ada yang aneh dari gadis itu.” gumam Baekhyun sebelum perhatiannya berhasil di rebut oleh sosok yang melewatinya.

“Do Kyungsoo… Targetku.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Jungha’s Eyes…

Annyeong.”

Aku melontarkan satu sapaan pada Hyerin saat pagi ini aku datang dan masuk ke kelas. Hyerin mendongak, matanya terlihat memerah, membuatku yakin dia tadinya tengah tertidur pulas.

“Aku membuatmu terbangun?”

Ish, ada saja hal yang membangunkanku saat seperti ini…

“Tidak.” sahutnya ringan membuatku tersenyum tipis, mulut selalu bisa membohongi, tapi pikiran tidak. Aku seharusnya tidak repot-repot menukar kursinya dengan kursi yang tidak ada lem. Sekarang dia akan terus berisik karena bergerak di tempatnya.

“Apa kau yang menukar kursiku? Terima kasih.” ucapku membuatnya memandangku. “Aku tidak menukarnya.” dengan ketus Hyerin menyahuti, sebelum dia kembali menenggelamkan wajahnya di meja.

Bagaimana aku bisa tidur jika dia terus bicara… Ish…

Aku tersenyum tipis, kemudian dengan gerakan sepelan mungkin menggeser kursiku. Aku tahu Hyerin akan merasa terganggu jika mendengar suara kursiku, dan entah mengapa aku sedang tidak ingin membuat orang lain kesal hari ini.

Hari ini aku harus mulai mengincar targetku. Park Chanyeol. Dia adalah satu di antara beberapa manusia di sini yang punya kelebihan. Dan ia tidak seharusnya ada di sini, ia akan lebih bisa berbaur jika berada bersama kami di Akademi.

Bagaimana ini… Jika aku mengalah, aku di keluarkan, jika aku tetap bertahan, aku akan di keluarkan… Ish… Sialan…

Aku memandang Hyerin saat berhasil mencuri-dengar pikiran nya lagi. Ia tidak tidur? Kukira tadinya dia tengah tidur. Tapi, kalau aku mengalah, mungkin aku bisa bertahan beberapa bulan, kalau aku bertahan… pasti… tidak akan sampai dua hari aku akan keluar…

Apa yang sedang dia pikirkan? Sepertinya sesuatu yang sangat rumit. Tak lama, aku mendengar Hyerin berdecak pelan.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku membuatnya mendongak, ia memilih berdiam sebentar, tatapannya terarah pada meja kosong di hadapannya.

Apa aku harus cerita padanya? Tapi… Dia pasti tidak mengerti…

“Kau boleh cerita padaku Hyerin-ah, aku akan coba mengerti.” ucapku menjawab benaknya. Ia memandangku, lalu menghela nafas panjang.

Kurasa tidak ada salahnya bercerita… Tapi…

“Tidak, aku baik-baik saja.” Hyerin akhirnya memutuskan untuk tidak membuka cerita apapun padaku. Alih-alih membiarkannya berdiam, aku kemudian buka suara. “Lalu, apa aku boleh bertanya?”

“Apa?” Hyerin memandangku. “Kenapa kau berpenampilan seperti ini?” tanyaku. “Maksudmu?” Hyerin menatapku tak mengerti.

“Kau terlihat sangat melawan aturan sekolah.”

Hyerin tertawa, sangat pelan, aku hampir ragu jika dia benar-benar tertawa.

“Seseorang pernah mengatakan hal itu juga padaku,” ucapnya sama sekali tidak menjawab pertanyaanku.

“Benarkah?”

“Ya. Beberapa tahun yang lalu.”

“Lalu… kenapa? Itu artinya kau sudah begini sejak dulu kan?”

Hyerin memandangku. Tatapannya berubah, bukan tatapan dingin yang selalu ia berikan pada semua orang, aku yakin ada kesedihan dalam tatapannya sekarang.

Aku tidak ingin mengingat kejadian itu lagi…

“Kau tidak harus cerita jika kau tidak mau.” ucapku, mengalihkan pandanganku, aku yakin Hyerin tidak ingin mengingatnya jika ia bisa berpikir seperti itu.

“Ah, ya…” hanya itu yang Hyerin ucapkan.

Percakapan pendek kami berhenti saat Chanyeol masuk ke dalam kelas bersamaan dengan beberapa anak yang lain nya. Dan beberapa orang yang aku yakin sebagai oknum yang mengerjaiku kemarin.

Sial. Dia sudah datang, besok saja dikerjai lagi…

“Kurasa mereka tidak akan mengerjaimu hari ini.” aku tersentak mendengar ucapan Hyerin. “Kenapa kau berkata begitu?” tanyaku.

“Karena mereka biasanya selalu mengerjai sejak pagi hari, dengan list tertentu. Jika satu gagal, yang lainnya juga pasti gagal. Kepercayaan aneh.” Hyerin mengangkat bahunya tak peduli, dan juga, ia tampaknya seolah bicara sendiri, sangat bisa kuketahui jika dia tidak ingin anak-anak ini tahu bahwa dia bicara padaku.

Aku memandang sekali lagi ke arah mereka—dan sadar, jika Chanyeol tengah memandang ke arahku. Apa dia juga termasuk salah satu di antara mereka yang ingin mengerjaiku?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Apa yang kalian lakukan di sini?”

Aku tersentak. Terutama saat mengenali suara itu. Park Chanyeol. Aku berbalik, dan memandang Chanyeol.

“Maksudmu apa Chanyeol-ssi?” tanyaku. “Kau jelas tidak berasal dari sini. Apa tujuanmu disini?” ucapnya. “Tujuanku? Tentu saja aku seorang murid pertukaran,” aku tertawa pelan, berusaha menetralkan rasa panik yang hinggap di batinku.

“Kau jelas-jelas sedang panik sekarang. Jangan berbohong. Apa kau juga dari tempat aneh itu?” ucapnya. “Tempat aneh?” aku menyernyit.

“Sudah banyak orang yang datang dan ingin membawaku ke tempat aneh yang mereka sebut Akademi. Kau juga salah satu dari mereka?” Chanyeol menyahut.

Jadi dia sudah tahu tentang Akademi? Lalu kenapa dia masih di sini?

“Akademi? Maksudmu? Aku tidak mengerti kau bicara apa Chanyeol-ssi.” ucapku tenang. Ia menatapku lama, mengawasiku, dan aku berusaha menjaga kestabilan emosiku agar tetap tenang.

“Benarkah?” tanyanya.

“Kurasa kau salah paham Chanyeol-ssi.” kataku masih dengan nada tenang yang sama.

Ia tampak berpikir, tapi kemudian dia memandangku lagi. “Mungkin juga, ya.” ucapnya pelan sambil berbalik.

Aku berusaha menembus benteng pemikiran nya. Nihil. Aku tidak bisa mengetahui apa yang ia pikirkan. Apa itu adalah kemampuannya? Aku segera melangkah cepat, aku harus menemukan Baekhyun, apa dia juga mendapat kendala dalam menyelesaikan tugasnya?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku tidak menemukan Baekhyun dimanapun hari ini. Tidak mungkin dia membolos. Kami jelas datang bersama-sama tadi pagi. Tapi dia tidak ada dimana pun. Aku duduk diam di bawah sebuah pohon, berusaha menemukan pikiran Baekhyun, berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang buruk padanya.

Nihil.

Aku tidak menemukan pikirannya sama sekali. Apa sesuatu yang buruk terjadi padanya? Sial. Aku sangat khawatir karenanya.

Tapi, bukankah jika terjadi sesuatu yang buruk padanya… aku akan mendapat tanda? Yang membuatku bisa tahu jika dia sedang berada dalam bahaya atau terjadi sesuatu yang buruk padanya?

Tidak. Berarti dia baik-baik saja. Mungkin ia tidak sedang berada di sekolah. Mungkin dia keluar atau—

Gawat! Jika dia keluar, aku tidak bisa merasakan tanda itu.

Apa terjadi sesuatu yang buruk padanya di luar?

Ini bahaya. Akademi bisa menghabisiku jika sesuatu terjadi pada Baekhyun. Dia adalah anak pemilik Akademi. Dan bisa kukatakan kalau dia adalah orang spesial di Akademi kami. Tidak bisa kubiarkan dia terjebak dalam bahaya.

Aku melangkah dengan panik ke dalam kelas. Berniat mengambil tas dan bolos sekolah. Tapi langkahku terhenti saat melihat Hyerin ada di depan kelas, dan… bicara pada Baekhyun!

Apa yang mereka bicarakan? Sejak kapan mereka saling mengenal?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Berhenti mengikutiku.”

Baekhyun terhenti. Ia memandang ke arah Kyungsoo yang melangkah beberapa meter di depannya, dan tersenyum tipis.

“Jadi kau sudah tahu ya?” ucap Baekhyun. “Wajahmu sama persis seperti Ayahmu.”

Baekhyun tersentak. “Bagaimana kau tahu Ayahku?” ucap Baekhyun tenang.

“Karena aku melihatnya di buku Ayahku. Dulu. Sebelum Ayahku tahu jika kalian hanya memanfaatkan kekuatannya.” ucap Kyungsoo, ada nada marah dalam nada bicaranya.

“Akademi tidak memanfaatkan kekuatan Ayahmu. Ayahmu lah yang dulu mengkhianati Akademi dan bergabung dengan Mutan.” ucap Baekhyun membuat Kyungsoo berbalik, memandangnya penuh kemarahan.

“Kau berbohong.” ucap pemuda itu dingin.

“Aku tidak berbohong Do Kyungsoo. Kau bisa melihat sendiri bagaimana kejadiannya jika kau mau.” ucap Baekhyun masih dengan nada tenang di dalam suaranya.

“Aku tidak akan percaya satupun ucapan kalian.” ucap Kyungsoo.

“Kenapa? Bukankah seharusnya kita saling percaya? Kita bangsa yang sama bukan?” ucap Baekhyun, kini memberanikan dirinya melangkah mendekati Kyungsoo, membuat pemuda itu langsung bergerak mundur.

“Jangan mendekatiku.” peringat Kyungsoo.

“Kenapa? Bukankah kau mewarisi kekuatan luar biasa dari Ayahmu? Kenapa kau tidak mempergunakannya?” desak Baekhyun semakin membuat Kyungsoo memandang panik pemuda itu.

“Aku tidak akan menggunakannya. Aku tidak ingin menjadi seperti kalian.” ucap Kyungsoo membuat Baekhyun tertawa pelan.

“Tidak ingin jadi seperti kami… atau kau sebenarnya tidak tahu bagaimana cara mempergunakan kekuatanmu?” ucap Baekhyun membuat Kyungsoo terkesiap.

“Dua-duanya.” jawab pemuda itu singkat.

Baekhyun menghentikan langkahnya. “Ikutlah dengan kami Kyungsoo, di sana kau akan diajari cara untuk mengendalikan kekuatanmu.” ucap Baekhyun.

“Tidak akan.” Kyungsoo menolak dengan tegas.

“Kenapa tidak? Bukankah kekuatanmu sangat besar? Kau bisa menentukan sendiri untuk mengatakan bahwa kami memanfaatkan kekuatan Ayahmu untuk hal buruk atau tidak. Nanti, jika kau sudah di sana dan melihat kejadian yang sebenarnya sudah terjadi.” ucap Baekhyun.

Kyungsoo terdiam. Kemudian pemuda itu menggeleng pasti.

“Tidak. Aku tidak akan ikut.” ucap pemuda itu sambil melangkah pergi, tapi dengan gerakan cepat Baekhyun langsung menghadang langkah pemuda itu.

“Kurasa kau harus benar-benar melihat kejadian yang sebenarnya…”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Jungha’s Eyes…

“Baekhyun!”

Aku memanggil Baekhyun dengan cukup keras saat Hyerin sudah masuk ke dalam kelas. Ia sudah sibuk dengan headphone yang terpasang di telinganya. Dan aku tahu dia tidak akan tahu jika aku berteriak memanggil Baekhyun.

“Ada apa?”

“Harusnya aku yang bertanya ada apa padamu. Kenapa kau bicara dengannya?” ucap Jungha. “Aku bicara padanya karena dia adalah satu-satunya saksi yang bisa membuatku berhasil membawa Kyungsoo.” ucap Baekhyun membuatku menyernyit.

“Maksudmu?”

“Ada banyak view yang berbeda dan pemikiran berbeda tentang kejadian yang terjadi empat tahun lalu. Saat perang itu. Kau ingat?”

“Oh, ya, aku ingat. Lalu apa hubungannya dengan Hyerin?” tanyaku semakin bingung.

“Di hari itu, ada banyak orang yang melihat bagaimana Ayah Kyungsoo menghancurkan kota, dan membuat banyak orang tahu tentang keberadaan kita. Dari view berbeda, tindakan itu terlihat seolah Ayah Kyungsoo sepenuhnya salah. Tapi ada satu view, yang menilai hal itu sebagai hal yang bagus.”

“Dan orang itu adalah Hyerin? Begitu maksudmu?” tanyaku tak mengerti.

“Bukan Hyerin, tapi sahabatnya.”

Hah? Siapa? Memangnya dia punya teman?” ucapku tak percaya. Selama dua hari aku di sini Hyerin bahkan tak bicara pada satu orang pun. Apa dia punya sahabat?

“Itulah kenapa aku bicara padanya. Karena aku mau bertanya padanya. Sahabatnya itu… adalah orang yang di sayangi Kyungsoo, dan tahu tentang kita. Dia adalah seseorang yang menganggap keberadaan kita adalah sebuah keajaiban. Dia orang yang bisa melihat kita dari sisi yang lebih baik.” ucap Baekhyun panjang lebar.

“Lalu, darimana kau bisa tahu tentang hal itu? Tentang sahabat Hyerin? Dan bagaimana kau yakin dia adalah orang yang Kyungsoo sayangi? Itu artinya Kyungsoo dan Hyerin saling mengenal? Apa hubungan mereka?”

Baekhyun tampak terperangah karena ucapanku.

“Terlalu banyak pertanyaan Jungha. Aku sama sekali tidak tahu satupun jawabannya.” ucap Baekhyun polos

“Lalu bagaimana kau bisa—”

“Insting.”

“Apa?” bagaimana bisa ia mengandalkan insting di saat seperti ini!? “Instingku mengatakan begitu saat tadi aku melihatnya…”

“Melihat apa?”

Baekhyun menyentuh punggung tanganku, membuatku bisa melihat visualisasi pikirannya.

“Kau benar-benar jadi seperti yang dia inginkan.” ucap Kyungsoo, ada nada senang dalam suaranya, tapi juga nada sedih berkuasa tak kalah kuatnya.

“Aku harap dia di sini…” ucap Hyerin sangat pelan.

“Aku yakin dia senang sekarang Hyerin-ah, kau benar-benar jadi sahabat yang baik untuknya.” ucap Kyungsoo.

“Dan kau jadi seorang yang selalu menyayanginya tanpa dia tahu…”

“Kita selalu mengatakan hal ini berulang-ulang selama dua tahun.”

“Ya. Hampir setiap harinya dan setiap kali bertemu.” ucap Kyungsoo

“Kembalilah ke kelasmu, mereka mungkin berpikir kita aneh jika melihat kita bicara.” ucap Hyerin sambil melangkah menjauhi Kyungsoo.

“Apa kau masih mengingat kejadian di hari itu Hyerin?”

“Yang mana? Saat kita bertemu, atau saat kita berpisah?”

“Saat… kota hancur…”

“Ya. Aku mengingatnya. Tapi aku harus berpura-pura tidak mengingatnya bukan? Aku sudah lakukan selama ini.” ucap Hyerin

“Benarkah?”

“Ya.”

“Sampai bertemu lagi Hyerin-ah.”

 “Ini yang kumaksud dengan instingku tadi.” ucap Baekhyun saat aku sadar dari visualisasiku. “Ya. Mereka saling mengenal. Dan sangat dekat satu sama lain. Juga seorang lagi, yang mereka bicarakan. Ada hubungan aneh di antara mereka bertiga, dan berhubungan dengan kejadian empat tahun lalu.”

“Itu menjawab semua pertanyaanmu.” ucap Baekhyun.

Aku mengangguk-angguk paham.

“Aku akan mencari tahu di pikiran Hyerin. Tetap awasi Kyungsoo. Aku akan mencoba sebaik mungkin membantumu.”

“Lalu bagaimana denganmu? Chanyeol?”

“Sebenarnya… aku dapat sebuah masalah.” ucapku pelan. “Apa itu?” aku memandang Baekhyun. Ia tampak menungguku bicara.

“Aku tidak bisa membaca pikirannya.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Seorang gadis melangkah pelan ke persimpangan jalan, dengan menuntun sepeda gunung yang setiap hari selalu Ia naiki.

“Seolmi-ah…” ucap gadis itu pelan, memandang ke jalanan ramai di depannya.

Gadis itu duduk di bawah sebuah pohon, tempat dia selama beberapa tahun ini selalu menunggu hingga hari sore, dan datang ke sebuah rumah untuk memastikan apakah orang yang ditunggunya sudah pulang atau belum, dan kembali ke tempat yang sama, menunggu hingga larut malam, berjaga-jaga jika mungkin sosok itu akan muncul.

Gadis itu memandang kosong jalanan di depannya, tanpa sadar gadis itu menunduk, memejamkan matanya, merekam semua suara kendaraan yang lewat di dekatnya, dan kemudian membuka matanya lagi.

“Aku berharap masa-masa itu bisa terulang…” ucapnya pelan, sambil kemudian bersandar di pohon yang ada di belakangnya, memandang matahari yang mulai turun, membiarkan sebagian wajahnya merasakan hangatnya pancaran sinar matahari yang menembus dahan-dahan pohon tempat ia sekarang berlindung.

Gadis itu memasang headphone yang selama ini selalu menemaninya, dan alunan instrumen lembut terdengar samar masuk ke dalam telinga gadis itu. Membuat gadis itu tersenyum samar.

“Kau selalu memainkan musik ini Seolmi-ah…”

Baekhyun menyernyit.

“Seolmi? Apa Seolmi adalah nama gadis itu?” gumam Baekhyun pelan, memandang sosok gadis yang tengah tampak memejamkan matanya dan bersandar di bawah sebuah pohon.

“Seolmi… Seolmi… Kenapa nama itu rasanya familiar sekali…” gumam Baekhyun, sebelum perhatiannya terpecah saat melihat gadis yang tak lain adalah Hyerin itu terbangun, dan merapikan pakaiannya.

“Apa kita harus mengikutinya?” tanya Baekhyun pada sosok yang sangat mungil yang ada di telapak tangannya.

Sosok gadis mungil itu mengangguk. Ukuran gadis mungil itu hanya sebesar jari kelingking, dan punya tubuh yang memancarkan cahaya berkilau. Seorang Elf.

“Kau yakin?” tanya Baekhyun lagi

Sosok itu mengangguk. Membuat Baekhyun segera melangkah mengikuti Hyerin yang mulai mengayuh sepedanya. Tentu saja tidak sulit bagi Baekhyun untuk mengikuti Hyerin karena pemuda itu bisa berjalan dengan kecepatan di atas kemampuan normal manusia.

Langkah Baekhyun terhenti di ujung sebuah gang kecil perumahan. Tanpa harus tahu dimana Hyerin berhenti, pemuda itu bisa mendengar apa yang Hyerin bicarakan.

“Seolmi belum pulang?”

“Hyerin-ah…”

“Dia pasti belum pulang…”

“Kumohon berhentilah seperti ini… Seolmi tidak akan kembali nak…”

Baekhyun menyernyit.

“Apa gadis itu menghilang?” gumamnya.

Hiks…” pendengaran Baekhyun kembali menangkap suara tangisan pelan. “Seolmi… Harusnya aku tidak bertengkar dengan nya… Harusnya aku—”

“Tolong… tolong berhenti, Hyerin. Ahjumma tidak ingin kau menyesali kejadian itu lagi… Kau tidak salah Hyerin-ah… Kau tidak salah…”

“Tapi Seolmi… Seolmi…”

“Seolmi tidak akan kembali walaupun kau menangis seperti ini…”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Baekhyun menunggu beberapa menit di ujung gang kecil itu, sampai dia mendengar suara rantai sepeda Hyerin yang mulai familiar di pendengaran tajamnya. Dan benar saja, tak lama, Hyerin muncul dengan menuntun sepedanya.

Gadis itu tampaknya melamun, sampai tidak menyadari keberadaan Baekhyun di sana. Hyerin terus menuntun sepedanya, dan berjalan keluar dari perumahan tersebut. Dengan langkah cepat Baekhyun menyusul gadis itu.

Tapi Baekhyun tersentak saat Hyerin menghentikan langkahnya.

“Kenapa kau mengikutiku? Kau sudah mengikutiku sejak dari sekolah. Iya kan?”

“Dia tahu,” Baekhyun tersenyum tipis, segera menyembunyikan sosok yang sedari tadi ada di telapak tangannya, kemudian pemuda itu melangkah cepat mendekati Hyerin.

“Jadi kau tahu?” ucap Baekhyun tenang. Hyerin memandang pemuda itu dengan tatapan dingin yang selalu ada di matanya.

“Kenapa? Untuk apa kau mengikutiku?” tanya Hyerin.

Baekhyun tersenyum tipis. “Kau pasti sudah tahu untuk apa kan? Aku sudah mengatakan nya tadi.” ucap Baekhyun tak kalah tenang dengan sikap Hyerin sekarang.

“Karena kau bilang kau harus bertemu dengan sahabatku untuk membicarakan hal yang sangat penting dan rahasia. Aku sudah bilang padamu bahwa aku tidak punya teman.”

“Pembohong.”

“Apa yang kau bicarakan?” ucap Hyerin.

“Kau benar-benar tidak mau berkata jujur?”

Hyerin memandang pemuda itu sebentar.

“Aku bahkan tidak mengenalmu, untuk apa aku bicara?” sahut Hyerin sambil melangkah meninggalkan Baekhyun, kali ini dengan menaiki sepedanya.

Glossophsyra…”

…Dasar aneh, untuk apa mengikutiku sejauh ini hanya untuk mendapat jawaban yang sama… Dan kenapa Ia memaksa ingin tahu tentang temanku. Hah. Teman yang mana yang ia bicarakan. Apa dia itu gila? Aku bahkan tidak pernah bicara pada satupun orang, dia berpikir aku punya teman? Dasar aneh… Ahh, kakiku sakit…

Baekhyun memandang gadis yang sekarang sudah semakin menjauh dari tempatnya berdiri. Pemuda itu menyernyit, sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di pikirkan oleh gadis itu.

“Dia bahkan bisa berbohong di dalam pikirannya… Hebat sekali.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Jungha’s Eyes…

Hari ini aku datang mendahului Baekhyun. Dengan berbekal keinginan kuatku untuk tahu apa yang sebenarnya menjadi hubungan aneh antara Hyerin dan target Baekhyun yang bernama Kyungsoo itu.

Ah, harusnya aku juga berfokus pada targetku, aku bahkan tidak bisa mendengar pikiran targetku. Bagaimana bisa aku begitu tenang? Pikirkan sebuah cara Jungha… Kau harus bisa tahu apa yang targetmu pikirkan.

Langkahku terhenti saat melihat Hyerin sudah ada di tempatnya, menenggelamkan wajahnya di meja. Apa dia tidur? Tapi tatapanku juga kini tertuju pada salah satu teman sekelasku yang juga sudah ada di kelas dan tampak serius belajar.

…Bajingan Hyerin itu benar-benar meledekku…

Aku segera menajamkan pendengaranku. Apa yang gadis ini bicarakan? Hyerin meledeknya? Dengan cara apa? Apa ia tidur seperti itu bisa berarti dia sedang meledek? Pikiran manusia begitu membingungkan.

Aku sedikit menggeser kursiku, ingin tahu apakah Hyerin hanya berpura-pura tidur atau benar-benar tertidur. Tapi dia tidak bergerak. Itu artinya Hyerin benar-benar tidur. Aku tidak menyangka teman semejaku ini sangat hobi tidur di kelas.

…Lihat saja apa yang akan terjadi padanya jika Ia berani untuk mengalahkanku… Bajingan itu akan di tendang keluar dari sekolah!…

Satu lagi pikiran jahat dari teman sekelas yang… tunggu. Aku memandang nametagnya, Sunmi. Kim Sunmi.

…Dia bisa tidur seenaknya sekarang, lihat apa yang terjadi padanya nanti…

Aku tidak mengerti. Sangat jarang aku berusaha untuk peduli pada pemikiran mereka semua. Tapi karena pemikiran ini menyangkut tentang Hyerin entah kenapa aku terusik. Karena dia setidaknya ada hubungannya dengan bangsaku? Karena ia adalah satu-satunya orang yang jarang berpikir?

Mungkin.

BRAK!

Aku tersentak saat mendengar suara bantingan cukup keras di dekatku.

Sialan!

“Apa yang kau lakukan?”

Bisa kutangkap jika Hyerin sangat kaget karena suara itu, dan membuatnya terbangun. Hyerin menyarangkan tatapannya pada Sunmi yang tampak duduk tenang seolah dia tadinya tidak membuat keributan di kelas yang masih sangat sepi ini.

“Apa aku membuatmu terbangun? Maaf.”

…Rasakan, kau pasti sangat marah karena keributan ini kan?

Aku memandang Hyerin. Diaa tampak sangat kesal, terutama karena matanya masih memerah, tanda bahwa ia tadinya tengah tertidur nyenyak. Awalnya, kupikir dia akan marah seperti yang di pikirkan Sunmi. Tapi, Hyerin kembali menenggelamkan dirinya ke meja, kali ini dengan aksesoris tambahan, headphonenya.

Aku mendengar Sunmi berdecak pelan, tapi dia sepertinya sudah tidak punya akal lain untuk mengerjai Hyerin lagi, terutama karena sekarang sudah ada beberapa murid lain yang datang. Aku tidak menyebut mereka sebagai temanku. Karena nyatanya mereka tida—

Kurasa Sunmi berusaha keras untuk mengejar ketertinggalannya dari nilai Hyerin…

Aku heran, apa Hyerin mendapat kepintarannya dari tidur begitu…

Kurasa aku harus berpikir untuk menjelajahi pikiran mereka, untuk mendapatkan informasi lebih banyak soal Hyerin.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Dari apa yang aku pelajari selama beberapa hari ini, Hyerin bukanlah seseorang yang mau repot-repot memikirkan soal dirinya. Dia berpikir sangat singkat dan rasional. Saat a mendebat seseorang, ucapannya terdengar sangat pasti dan tidak terbantahkan.

Walaupun sebenarnya ada begitu banyak kalimat yang bisa digunakan untuk mendebat kalimat Hyerin, tapi nada bicara dan juga keadaan yang tercipta saat dia bicara, membuatnya menjadi sebuah pernyataan tak terbantahkan.

Beberapa kali Sunmi dan Hyerin sekarang berebut poin di kelas. Dan bagi sebagian anak di kelas, sekarang kelas mereka terasa hidup. Setelah selama dua tahun Hyerin terus menguasai semua pelajaran dan nilai tambahan.

Juga, karena rasa penasaranku pada Hyerin, setidaknya memulai pembicaran tentang Hyerin pada anak yang lain membuatku mendapatkan teman bicara, teman bicara, bukan teman. Kami hanya bicara sebentar, dan kemudian mereka sadar jika mereka bicara padaku.

Dan selama beberapa hari ini Baekhyun juga secara intens mengikuti gadis itu, berusaha mendapatkan informasi darinya. Tapi nihil. Gadis itu masih sekeras batu. Bahkan beberapa spelling sudah Baekhyun ucapkan dengan melawan aturan di dunia manusia, masih tidak bisa mematahkan rasa penasaran nya pada benak Hyerin yang begitu tersembunyi.

“…, Kau masih tidak mau memberikan gelarmu huh?! Kau mau mati!?”

Seharusnya gadis idiot itu yang berusaha untuk mengalahkanku. Bukan aku yang mengalah.”

Cih! Kau benar-benar ingin ku tendang dari sekolah ini!?”

“Akan lebih terhormat bagiku jika aku ditendang keluar dengan meninggalkan prestasi. Jika aku tetap di posisiku, aku akan dikeluarkan, jika aku menyerahkan posisiku pada gadis idiot itu, aku dikeluarkan. Apa bedanya?”

Aku tersenyum tipis. Ucapan telak Hyerin kembali membuat pemuda—yang sudah beberapa kali mengancam Hyerin itu—bungkam.

…, liihat saja! Kau akan memohon-mohon padaku agar aku tidak membuatmu dikeluarkan… Lee Hyerin… Kau akan bersujud padaku untuk memohon. Lihat saja nanti!

Aku tidak yakin jika seorang Hyerin akan melakukan hal seperti itu. Dari apa yang aku tahu selama beberapa hari ini, dia adalah gadis dengan pendirian sekeras batu karang. Sangat sulit untuk diruntuhkan. Juga, dia berpikir sangat singkat. Aku merasa seolah aku tidak bisa membaca pikirannya.

Ia banyak berpikir spontan, kurasa hidup ini begitu enteng di mata Hyerin.

Tapi aku masih heran soal kebiasaan dan penampilannya yang sangat tidak sinkron dengan prestasi Hyerin. Ia berambut merah menyala seperti itu, jelas sangat melanggar aturan, dan memakai seragam yang sangat press-body, berlipat-lipat kalinya melanggar peraturan.

Ia selalu tidur di sela-sela jam kosong. Pagi hari sebelum pelajaran di mulai, saat istirahat, saat jam kosong, saat dia sudah menyelesaikan tugas—yang Ia selesaikan dengan sangat cepat. Ia bahkan menyempatkan diri untuk tidur selama kurang lebih satu jam di kelas setelah pulang sekolah. Aku tidak pernah sekalipun melihat Hyerin keluar dari kelas untuk membeli makanan atau sekedar pergi ke toilet.

Terkadang keanehan Hyerin membuatku berpikir, apa ia bukan manusia? Apa mungkin ia sejenis seperti kami? Atau lawan kami? Tapi Baekhyun membantahku dengan mengatakan bahwa Hyerin masih punya degup jantung dan bernafas normal, juga berkedip dengan normal. Jadi ia sudah bisa dipastikan sebagai manusia.

Manusia apa yang punya kepribadian sangat buruk seperti Hyerin? Tubuh Hyerin bahkan terlihat sangat kurus. Aku heran kenapa ia sama sekali tidak merasa lapar saat di sekolah. Apa saat di rumah ia makan begitu banyak dan akhirnya mengantuk terus di sekolah? Atau punya penyakit aneh yang membuatnya dengan mudah bisa tertidur dimana pun?

Dia sangat aneh dan tidak terduga. Aku bahkan tidak pernah menemukan seseorang yang setipe dengan Hyerin di Akademi. Oh, ayolah, di Akademi kami berjuang sangat keras untuk bisa mengejar ketertinggalan. Jika mungkin Hyerin ada di sana, dia tidak akan bisa tidur dengan tenang seperti ini.

Diam-diam aku geli membayangkan sosok Hyerin yang dengan santainya bisa tidur seperti ini karena tidak ada satupun saingan di kelasnya.

Dan lagi-lagi, ini memberiku pertanyaan. Kenapa keadaan Hyerin seperti ini?

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

Sesungguhnya Jungha, keadaan Hyerin yang suka tidur di kelas tapi dapet nilai sempurna itu jadi harapan semua murid sekolah. Sayangnya Jungha, keadaan kayak gini cuma bakal kamu hadapin di fanfiksi doang (ini aku otaknya lagi enggak center jadi agak-agak sengklek gitu ngomongnya sama cast fanfiksi). Wkwkwk.

Berhubung hari Sabtu kemarin aku sibuk mengolah raga dan juga—enggak tau ini kabar buruk atau baik, tapi akhir-akhir ini lengan kanan aku di daerah bahu kalau aku terlalu lama ngetik atau nyetir sepeda motor tetiba aja kram terus susah digerakin, nyeri banget lagi—aku enggak memaksakan tanganku buat bekerja keras meski sekedar buat editing draft Dream ini.

Aku masih sayang sama tanganku :’) cuma dikasih sepasang sama Tuhan, jadi harus dijaga baik-baik dan enggak boleh disakitin berlebihan. Jadi Sabtu kemarin kegiatanku kebanyakan bermalas-malasan di atas kasur karena tangan kanan yang sakit berlebihan tapi akunya males kontrol ke dokter, LOLOL.

Sekian dulu dariku ya gengs, do’akan saja tanganku enggak apa-apa karena akunya masih ogah kalo mau ke dokter. Selama kena counterpain masih mempan mah nanti-nanti aja ke dokternya :”) sampai ketemu minggu depan ya gengs. Take care! Salam ketjup, Irish.

kontak saya  Instagram  Wattpad  WordPress

20 tanggapan untuk “DREAM — #2: A Friend ►► IRISH”

  1. Si baekhyun badung ya… ngikutin hyerin mulu
    jadi itu hyerin sama temen sekelasnya itu saingan ranking gitu ya, trs kl hyerin kalah dia dikeluarin gitu? Hhmm…. Kenapa kl kalah harus dikelurin?
    Keep writing ka….
    Fighting!

  2. Baru sempat baca Dream…😊 Irish sehat selalu, dan tangannya cepat sembuh🙏
    Aku ngak tau mau komen apa, cuma mau bilang, gemes sama elf.a Baekhyun😂😂
    Fighting Rish…😉

  3. Kak Irish ❤ maaf aku bru komen lagi T.T belakangan ini juga aku gasempet buka blog ff ;" sakin gabisa ngatur waktu T.T

    aku juga blm baca dn komen ff ka Irish yg disebelah T.T pdhl kepo bngt ;"

    Ka Irish, Hyerin itu makhluk apa? xD sumpah kepo bngt sama si cewe rambut terang ini ❤ <

    keep writing and gws ka Irish ❤ ❤

  4. My baby irish…..ojo sakiiittttttt..klo km sakit akyu syedihhhh 😭😭😭
    Kecapean itu ototny pling rish…mnt dpijet sma baek kyknya hahahahahahhaa
    Cpt smbuh ya syanggggg jgn skit2 yg lain lgi..hrus slalu sehaaattttt 😘😘😘

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s