[EXOFFI FREELANCE] Young Alan (Chapter 1)

Young Alan Sehun (EXO), Kim Laura (OC), Kris, Kai (EXO), Krystal (Fx) Romance, Sad, Drama, Knowledge PG Chapter By : Devboomer

Disclaimer : Tolong tinggalkan jejak 

“Every creature needs love. You doesn’t have to find a great love. But find a great one.”

 

 

Dia yang berkutat sendirian di meja kerjanya kini telah menumpuk lembar-lembar kertas yang berisikan desain yang ia kerjakan lebih dari 2 pekan.  Kemudian ia menggulung kertas-kertas itu dan bangkit dari kursi. Ia berjalan ke arah pintu, mematikan saklar lampu yang ada dinding dan keluar dari kamarnya. Dari sana ia menuruni anak tangga dan menyapa beberapa mahasiswa penyewa Akomodasi yang juga ia tempati.

Akomodasi privat merupakan tempat mahasiswa-mahasiswa yang memilih untuk tidak tinggal bersama keluarga, atau mereka yang datang dari luar kota maupun mahasiswa mancanegara. Ada juga yang menyebutnya sebagai Lodge ataupun House. Akomodasi yang laki-laki itu tempati bukan Akomodasi yang disediakan oleh Universitas karena ia bukan lagi mahasiswa tahun pertama. Jadi mereka yang ada di atas tahun pertama harus menyewa Akomodasi di luar Universitas.

Jam yang melingkar di tangan laki-laki itu menunjukan pukul 11:05 siang. Hanya butuh 5 menit untuk sampai ke kampusnya jika menggunakan sepeda motor. Gulungan kertas tadi ia masukkan ke dalam tas nya meskipun bagian ujung gulungan tersebut tidak dapat masuk. Kemudian ia menyalakan sepeda motornya dan mulai berkendara menuju kampus.

 

Christ Church College

Mesin sepeda motor itu mati dengan sempurna ketika ia sudah sampai di halaman parkir. Memang dari Lodge kemari hanya butuh 5 menit, tapi untuk sampai ke kelasnya dari halaman parkir masih butuh 5 menit lagi. Karena ia merasa ditunggu oleh seseorang, ia pun berlari menyusuri koridor, mendaki beberapa anak tangga bersama mantelnya coklat nya yang berayun.

“Hey! You missed the class again, Sehun!” Kata seorang mahasiswa yang menjadi orang terakhir keluar dari ruang kelas itu. Sengaja atau tidak sengaja, laki-laki dengan gulungan yang bernama Sehun itu memang sudah beberapakali melewatkan mata kuliah.

“You looking for Profesor Donovan? He is on the way to his room.”

“Thank you, Albert.”

Sekarang ia  memutar arah dari kelasnya. Ia masih berlari di koridor lantai 2 menuju ke ruang dosen yang ada di lantai bawah. Saat ia mendekati ruang dosen, ia mengambil gulungan dari tasnya dan kemudian menarik gagang pintu. Sehun berjalan masuk sembari melihat-lihat keberadaan Prof. Donovan. Dilihatnya sosok itu sedang berada di depan jendela, melihat ke arah luar dan mengaduk cangkir kopi porselen biru yang antik.

“Profesor Donovan”

“Kau absen mata kuliah lagi? Sangat lucu melihat kau ambisius dengan proyek itu, tapi justru kau mengabaikan kelasku.” Pria dengan cangkir kopinya itu membalikkan badan dan menarik kursinya. Ditaruhnya cangkir itu dan memasang kacamata di ujung hidungnya. “Kalau sampai begini, sebaiknya hasil kerjamu bagus, Sehun.”

Gulungan tersebut Sehun berikan sebagai hasil selama 2 minggu terakhirnya. Pekan yang ia habiskan dengan melawatkan beberapa mata kuliah demi proyek satu ini. “Aku masih belum bisa me-memberi desain final, tapi seti-setidaknya sudah cukup untuk seleksi Selasa besok.”

Profesor Donovan menunjuk dan menggerakkan telunjuknya mengikuti pola mesin yang ada. Beberapa kali Sehun merasa cemas ketika garis-garis kerutan tercipta di dahi laki-laki yang sudah beruban itu. Ia merasa seperti seorang perampok bank yang tengah diselidiki riwayat hidupnya oleh seorang Deputi beruban.

Pria beruban itu sudah selesai menunjuk-nunjukan jarinya yang mengambang di atas kertas. Sedangkan kerutan di dahinya yang keriput itu masih bertengger di sana. “Sehun Egerton. Kau masih kuat dengan pendapatamu itu? Bukannya maksudku tidak bagus, tapi mungkin kau bisa beralih ke proyek yang lain kalau kau tidak bisa menuntaskan rumus ini.”

“Ya, memang ada sedikit masalah untuk ma-material hardware dan Desain trainingnya. Tapi Profesor, aku janji kalau kau b-beri aku waktu sampai Selasa nanti, semuanya akan baik-baik saja.”

“Urus saja dulu gagapmu itu. Apa suatu saat kau akan presentasi seperti itu? Sehun, sekarang hanya tersisa 10 minggu 3 hari menuju olimpiade. Kalau sampai hari Selasa proyek  itu belum sampai desain final, maka jangan harap aku akan berbaik hati untuk menambahkan nilai tambahan agar kau bisa lulus seleksi.”

Profesor Donovan sudah selesai dengan gulungan biru berisi desain mesin yang belum rampung itu dan kembali menyesap kopinya. Si pemilik gulungan pun mengambil kembali gulungan itu dan menjauh dari si pria penikmat kopi. Sehun keluar dari ruangan, bersama kenyataan bahwa hasil kerjanya belum juga mampu membuat pria klasik beruban itu bangga pada hasil keringatnya.

Kemudian ia berjalan melewati koridor, masih sebuah koridor yang sama seperti koridor tempat ia berlari dari pelataran sampai ke dalam gedung ini. Dari koridor itu ia sampai di college lobby, dan kemudian ia menapaki 4 anak tangga menuju pelataran. Di anak tangga terakhir ia berhenti dan melihat ada beberapa bangku taman yang kosong. Istirahat. Itulah kalimat yang benar-benar Sehun butuhkan kali ini. Sebuah pemikiran terlintas ketika ia duduk di bangku taman yang ada di dekat anak tangga tadi. “Tersisa 3 bulan lagi dan aku harus bersaing dengan perwakilan College lain di Oxford. Sedangkan untuk mengerjakan Desain training saja tidak bisa? Memang payah.”

Pikirannya itu tak bisa tenang apabila ia kembali mengingat ekspresi tak menyenangkan―yang terpampang jelas di wajah laki-laki klasik itu. Beberapakali ia menyumpahi dirinya sendiri dan mengecam kalau dirinya tak akan pernah bisa menjadi sepeti Alan Turing. Lamunannya tiba-tiba terpecah ketika ada seseorang yang menduduki bangku yang sama dengannya. Kemudian ia memerhatikan sekitar, melihat ada 2 bangku taman kosong yang tidak jauh dari sini. Sehun masih tidak mengerti kenapa pilihan orang itu adalah duduk di sini sedangkan ada bangku taman kosong yang berada di bawah pohon.

“You don’t mind?”

Hanya bisa menggelengkan kepala. Sehun belum terbiasa berbicara dengan orang asing seperti sekarang ini. Meskipun kalau dilihat ia cukup menarik―seorang gadis dengan rambut buntut kuda yang sedang berkutat dengan laptopnya. Sehun masih mau diam, sampai akhirnya ia melihat apa yang tertera di layar itu. Sebuah essay yang persis seperti yang Sehun buat semester lalu.

Dilihatnya gadis itu mengerutkan dahinya berulang kali. Gadis itu mengusap wajahnya dan memijit-mijit dahinya yang seperti ditarik paksa kebelakang. Kadang layar itu beralih ke situs web yang berisikan berbagai teori kuantum. Air mukanya masih saja tak berubah meskipun sudah menjelajahi situs yang lain.

“Maybe it should be the fo-formula of the wavelength spectrum. I’m Sehun Egerton, Computer Science, third year.”

“Ohh Yes, thanks. I’m Laura Kim, Science Engineering, third year.”

Gadis itu baru saja menyebutkan sesuatu yang membuat Sehun tak percaya. Sesuatu yang sederhana tapi cukup untuk menjelaskaan identitas serta asalnya. “Dari Korea rupanya.”

“Apa kau juga? Kalau dari wajah tidak seperti orang Korea. Bahkan aksen yang kau punya juga sangat kental.”

“Ibuku dari Korea.”

Bagi gadis itu cukup menyenangkan bila bertemu dengan orang yang satu identitas dengannnya. Karena setidaknya ada topik yang bisa mereka bahas. Seperti bagaimana rasanya bisa pindah ke Inggris, apa saja yang berubah di Korea dan semacamnya.

“Bagaimana dengan Korea? K-kau tidak rindu dengan boyband di sana? Aku dengar ada yang bernama BTS.”

“Astaga, aku bukan gadis seperti itu. Oh, aku harus masuk kelas. Terimakasih untuk tumpangan bangkunya.”

Tumpangan bangku. Mungkin kalau gadis itu tidak duduk di bangku itu, Sehun tidak akan bertemu dengan orang Korea lagi selain Kai teman satu Lodge nya. Seorang laki-laki berkulit agak coklat yang hidupnya ia dedikasikan hanya untuk membaca komik. Silahkan sebutkan semua judul komik Marvel dan ia pasti akan bilang sudah membaca semua. Untuk apa kau jauh-jauh kuliah di Oxford kalau memilih membolos untuk memuaskan hasrat komik?

Setelah itu—dari bangku taman, Sehun melihat punggung gadis tadi dengan rambut buntut kudanya yang dihembus semilir angin. Gadis yang menyandang nama Kim itu sudah semakin jauh dari tempat pertemuan mereka di hari Rabu ini. Sampai semakin jauh ia melangkah dan kemudian sosok rampingnya itu hilang terhalang oleh tembok gedung. Sosok gadis buntut kuda yang telah hilang itu membuat Sehun ikut memeriksa pukul berapa yang tertera—di jam yang melingkar di pergelangannya.

Bagus sekali, sekarang waktunya untuk kelas Profesor York.

 

– ÷ –

 

Suasana di kelas itu tidak terlalu ramai sebenarnya. Sehun masih bisa mendengar jelas apa yang Profesor York sampaikan. Sekumpulan materi Algoritma yang sebenarnya sudah pernah ia baca di perpustakaan. “..Yang ketiga adalah efisiensi dari algoritma, efisiensi ini dapat dilihat dari 2 konteks, yaitu kapasitas memori dan waktu.” Kalimat itu terucap di dalam batin Sehun bersamaan dengan yang Profesor York sebutkan. Kalau sekedar teori saja, Sehun mampu menguasainya. Seperti Kai yang hapal semua karakter komik, Sehun paham betul dan memang buku-buku ilmu matematika adalah santapan besarnya.

Tak lama setelah Profesor York selesai dengan materinya, wanita paruh baya itu akhirnya membagikan 3 artikel kepada setiap mahasiswa. Artikel-artikel yang memang biasa dibagikan itu bertujuan agar para pelajar mendapat tambahan materi. Karena mahasiswa di sini dituntut untuk dapat menjadi seorang yang proaktif tanpa bergantung pada materi yang dosen sampaikan saja.

“Bagaimana olimpiade nanti? Sudah ada kemajuan?” Ketika wanita dengan jas abu-abu itu membagikan artikel kepada Sehun, ia menyinggung masalah olimpiade yang akan datang bulan Januari nanti.

“Untuk desain mesinnya sudah ada, ta-tapi masih ada rumus dan material yang kurang, Prof. York.”

“Yaa, usahakan kau tidak kekurangan jam tidur, Sehun.”

Ruangan kelas berwarna putih itu sudah mulai kosong. Baik mahasiswa maupun Profesor York sudah pergi meninggalkan ruangan. Tumpukan artikel, buku catatan maupun buku pinjaman perpustakaan itu dimasukkan ke dalam tas sembari menuruni tangga yang mebuat meja-meja di sini bertingkat. Ketika Sehun sudah sampai di dekat proyektor, seseorang menegurnya­—dengan suara khas—yang merambat dari tingkat meja paling atas.

“Jadi masih belum siap untuk olimpiade? Katakan saja padaku apa yang kurang, tuan Egerton?”

“Kau bicara apa? Proyek seperti ini bisa dituntaskan secara individu.”

Telapak sepatu dari laki-laki di tangga itu menimbulkan suara derap langkah ketika ia berjalan turun kebawah. Kadang kakinya yang panjang membuat ia dapat menuruni 2 anak tangga sekaligus. Ketika laki-laki itu berjalan menembus cahaya dari jendela, sebuah siluet wajahnya terbentuk dan menghalangi cahaya yang hendak menjalar ke wajah Sehun. Sosoknya terlihat tinggi, masih lebih tinggi meskipun Sehun sudah termask yang tinggi di sini. Sorot matanya masih sama, sorot mata yang Sehun tidak suka bahkan enggan untuk melihatnya.

“Sudahlah Kris. Kau itu hanya senang mengganggu.”

“Apa? Aku bahkan belum mengganggumu hari ini. Atau kau memang sudah terbiasa sampai kau tahu aku akan mengganggu, ya? Hei Sehun, kau lupa sesuatu..”

Sehun tak pernah ingin menghiraukan satu kalimatpun yang ia dengar dari rivalnya itu. Yang barusan pun juga tak ia hiraukan. Jadi ia akan selalu pergi setiap kali laki-laki yang lebih tinggi itu sedang berbicara. Cukup untuk membuat Kris kesal karena sudah puluhan kali kalimatnya tak dihiraukan bahkan ia sampai harus berteriak untuk menyampaikan kalimat ketika Sehun sudah tak ada di hadapannya.

“Dasar tuan gagap.  Barangnya saja tidak dipedulikan.”

 

– ÷ –

 

Capital Gate Lodge

 

Suara sepeda motor itu semakin terdengar kencang bersama lampu sorot motor yang menembus jendela rumah. Suaranya meredam perlahan sampai benar-benar hilang. Dan dari dalam kau bisa mendengar langkah kakinya akan berjalan memasuki ruang TV.

“Hei, coba lihat siapa yang pulang cepat, Chester! Si tuan sabun sudah pulang.”

“Bolos mata kuliah lagi?”

“Siapa yang bilang aku bolos? Ini hari Rabu, Sehun. Itu artinya tidak ada mata kuliah untukku. Oh ya, kalau ada paket datang, tolong kau tandatangani ya. Aku mau mandi.”

“Paket komik lagi? Tidak bisa, aku mau mandi juga, Kai.”

“Heii, tidak tidak tidak. Memangnya kau mau mandi bersamaku? Hmmm? Kalau begitu biar aku yang mandi dulu. Kau tahu aku pemandi tercepat di Lodge ini, Sehun.”

Cepat yang ia maksud adalah hal yang justru bertolak belakang dengan apa yang seharusnya. Memang benar, ada 5 laki-laki penyewa di rumah ini dan Kai adalah pemandi yang super lambat di antaranya. Bukan hanya Sehun yang sering mendengar temannya itu bermain drama di tengah ritual mandinya. Seluruh penghuni rumah ini sudah terbiasa memukul pintu kamar mandi kalau sudah Kai yang ada di dalam. Seperti bencana nasional akan datang kalau sampai Kai yang mandi terlebih dahulu. Eric si jago catur, Jeff si tampan, Samuel si akuntan, terakhir adalah Sehun si sabun. Itu semua selalu menjadi julukan yang akan terus Kai ucapkan.

Memang alangkah baiknya Sehun yang mandi terlebih dahulu. Tapi apa boleh buat? Pintu kamar mandi berwarna kayu itu sudah terturup rapat, kenop pintunya sudah terkunci dengan sempurna. Dan ini berarti penantian Sehun akan dimulai. Memang hanya Kai, hanya ia yang bisa dan hanya ia yang berani untuk sesembronok ini kepada laki-laki yang tak punya ekspresi itu. Mungkin itu karena Sehun sudah tak ingin ataupun sudah lelah memasang sifat arogannya kepada temannya itu. Teman yang suatu saat nanti ia harap akan bekerja sebagai sutradara Marvel.

“Hei, jangan menatapku begitu. Yang aneh itu bukan aku, tapi si hitam itu. Apa? He-hei.. jangan! Kita sudah pernah buat perjanjian kan? Peraturan Chester-tidak-boleh-menyentuh-Sehun masih berlaku.”

Beralih dari ruang TV, Sehun memilih untuk membuat kopi sembari menunggu si hitam mandi. Ia membuka laci dan mengambil bubuk kopi yang kemudian ia sesuaikan komposisinya dengan gula. Tidak pakai creamer, itu yang selalu Sehun sampaikan kepada ibunya. Karena menurutnya, kafein dari kopi hitam akan jauh lebih membantu kebiasaan begadangnya daripada ditambahkan creamer. Dari jendela ruang makan ia melihat suasana langit kota yang sudah menjadi hamparan oranye. Setiap ia menyesap kopi, ini selalu menjadi tempat favoritnya. Melihat transisi pergantian warna langit senja ke petang dengan interval yang singkat selalu membuatnya tertarik.

“Hello Chester! Do you miss me already?”

Itu Eric si jago catur. Dan yang barusan ia ucapkan, itulah kebiasaannya. Entah berapa lama—bahkan 1 jam saja ia keluar Lodge—ia akan selalu menggendong dan mengusap kucingnya itu. “One of a beauty evening, right? Apa kau tidak mau jadi pelukis saja?Kau itu kan lumayan bisa menggambar, Sehun.”

Satu lagi kalimat yang tak mendapat balasan. Kalau Kai terkenal sebagai pemandi terlama, maka Sehun terkenal sebagai si hemat bicara. Bukan hanya penghuni rumah ini saja. Hampir sepertiga manusia di college tau kalau dia jarang bicara. Lebih tepatnya malas bicara. Kalau bukan karena butuh, ia tak mau mengeluarkan suara.

– – – – – – –

1 Year Ago

Dari dalam University Halls, Sehun—laki-laki berkacamata itu berjalan bersama barang-barangnya yang ia bopong. Ia berjalan menelusuri halaman parkir dengan langkah yang berat dan tergesa. Satu persatu barang pribadinya ia masukan paksa ke bagasi motornya. Ada juga yang ia taruh di jok belakang dengan tali yang mengikat. 1 tahun pertama di Oxford University telah usai. Ini berarti mahasiswa tahun kedua harus pindah mencari Akomodasi di luar universitas.

Ia sudah mengendara cukup lama untuk mencari Lodge yang sudah ia sewa melalui situs. Di situs tertera kalau jarak Christ Church College ke Lodge itu hanya sekitar 800 meter. Harusnya memang tidak lebih dari 5 menit menggunakan sepeda motor, tapi Sehun tidak tahu letak pastinya. Sampai ia sudah mengelilingi seluruh College di Oxford dan melewati jalan yang tadi sudah ia lewati. Akhirnya di ujung jalan ia melihat sebuah rumah yang dindingnya terbuat dari bata merah dengan frame jendela berwarna putih. Ya, itu dia Lodge nya. Rumah yang masih bertemakan perumahan Inggris, sedangkan Lodge lain sudah mulai bernuansa kontemporer.

Akhirnya mesin motornya mati, dan ia parkirkan di samping sepeda yang ada di sana. Kalau dilihat sudah ada beberapa orang yang sampai lebih dulu. Lodge ini berkapasitas 5 orang dan 2 diantaranya harus berbagi kamar. Tentu saja bukan Sehun yang akan berbagi kamar, karena ia yang membayar paling awal dan paling mahal di antara mereka. Yang ia harapkan adalah kamar yang terluas di Lodge ini. Bukan karena ia ingin, melainkan karena ia harus memiliki kamar yang cukup untuk menuruh seluruh barang riset ilmiahnya.

“Good afteenoon, My name is Jeff Bennett, Film Aesthetics, second year.”

“Oh, Sehun.” Datang seorang pria berambut pirang yang langsung menyambut kedatangan Sehun. Ia hendak berkenalan rupanya. Tapi, seperti biasa Sehun sedang malas bicara.

“Sehun? Top 10 mahasiswa Computer Science Oxford?” Datang lagi seorang laki-laki yang ternyatajuga memakai kacamata sepertinya. Laki-laki itu jelas-jelas mengenal siapa yang baru datang itu. “kenalkan aku Eric Butler, Computer Science Balliol College, third year. Asataga! Kau itu sangat keren bisa masuk Top 10 bersama mereka yang rata-rata tahun ke empat.”

“Ya, sudah pasti.”

Setelah apa yang diucapkan laki-laki bernama Eric itu, Sehun hanya menjabat tangannya dan tak perlu menyebutkan namanya lagi. Bukan hanya Eric yang menganggap Sehun luar biasa, sebenarnya tidak perlu mengagung-agungkan si laki-laki kacamata itu, karena pada dasarnya Sehun sudah bangga dengan dirinya yang luar biasa. Singkatnya, hari sudah semakin siang dan matahari sudah berada di titik kebanggaannya. Titik dimana ia bisa melihat dan membakar seluruh manusia karena panasnya. Para penyewa juga sudah memasukan barang mereka ke kamar masing-masing.

Sehun sudah menyusun barang ke kamarnya yang ada di lantai 2. Buku-buku pinjaman dari perpustakaan All Souls College kembali ia baca. Dulu ia sempat berpikir kalau seharusnya ia memilih Collge itu karena perpustkaannya memiliki jutaan buku kuno—yang berlapis sampul kulit. Tapi ia memilih Christ Church College karena Great Hall nya yang merupakan tempat syuting Harry Potter—satu-satunya film yang semua serinya sudah dituntaskan olehnya.

“Hei, Sehun. Kami mau cari makan siang.”

“…”

“Sehun? Kami lapar, kami mau ke restauran cina untuk makan siang.”

“….”

Tak ada sedikit suara pun yang terdengar darinya. Sehun yang diajak bicara oleh para penyewa masih terlihat diam dan tak bersuara. Justru larik matanya itu masih terlihat bergulir kesana kemari di balik kacamata coklat tua. Ia masih tetap membalik lembar-lembar buku dan menganalisanya lekat-lekat. “Hei, ada apa denganmu, hah? Samuel sedang mengajakmu bicara, apa kau tidak bisa membalasnya?”

“Apa? Balas apa? Dia Cuma bilang m-mau makan, aku harus bilang apa? Oh ya, Hati-hati menempuh perjalanan 5 menit kalian.”

Jujur saja, tak ada satu pun yang menyangka kalau Sehun sehemat ini. Mungkin dari hemat bicaranya itu, ia bisa mengumpulkan uang yang banyak sehingga bisa mendapatkan kamar serta ruang kerja di lantai bawah.

“Maksdunya, kami mau makan siang, apa kau mau ikut?”

“Tidak terimakasih. Kalau tidak belikan aku ayam goreng saja.” Kini ia sudah bangkit dari bangkunya dan berjalan kearah para penyewa yang ada di belakang pintu. “Nah, sekarang kalian bisa pe-pergi. Ayo sana keluar dari kamarku. Terimakasih, lain kali ketuk pintu, oke? Yaak, oke.”

Bukannya ikut ke restauran cina, Sehun justru bangkit dari kursinya dan mendorong mereka keluar dari kamar. Ia malah memandangi para penyewa yang sedang menuruni tangga dan mengutuk mereka karena tidak mengetuk pintu. Ya, harap saja nantinya mereka akan terbiasa dengan beberapa peraturan dan terbiasa dengan tuan mari-ketuk-pintu itu.

– – – – – – –

“Dari dulu kau tidak pernah berubah. Apa kalau bersama Profesor Donovan kau juga begitu? Hemat bicara?”

“Kau itu masih tidak ada apa-apanya dengan Jeff. Dia banyak sekali bicara, lebih dari Kai.”

Jeff yang satu itu, dia memang banyak bicara karena ia adalah penulis naskah di team Film Aesthetics. Kadang ia akan berpuisi, bernarasi, apa saja yang memiliki sajak akan ia ucapkan. Dan teman satu teamnya itu, Kai, kalau sudah malam mereka berdua akan bergaduh di kamar mereka.

Bubuk kopi yang sudah ditaruh ke dalam laci oleh Sehun itu diambil lagi oleh Eric. Ia menuangkan beberapa sendok kopi Robusta ke dalam cangkirnya. Kemudian si jago catur itu, ia menatap Sehun yang menyenderkan tubuhnya ke lemari. Eric menggerakkan tangannya ke arah kanan seakan meminta Sehun untuk bergeser karena ia ingin mengambil creamer. “Jeff, Kai. Mereka seperti kembar siam. Jadi bagaimana? Desainmu itu dinilai bagus?”

“Desain? Kacau. Dia bilang..”

Sehun terhenti di situ. Ia tak lagi berkalimat. Ia tak lagi menyesap dan mengaduk cangkir kopinya. Seperti di tengah ucapannya ia ingat sesuatu. Oh, tidak. Bukan ingat tapi lupa sesuatu. Tidak juga. Yang ia ingat adalah ia melupakan sesuatu. “Apa? Apa katanya?”

Otaknya itu ia paksa untuk mencari-cari apa ada yang salah. Cangkir kopi yang tersisa itu ia letakkan di atas kulkas. Kemudian ia berjalan dari dapur ke ruang TV. Ia berputar-putar di sana. Bertanya pada dirinya ‘Apa yang aku lupa?’ Kemudian yang ia lihat adalah Chester yang berjalan di depannya. Melewatinya dan melompat ke sofa abu-abu. Yang ia lihat di atas sofa adalah seekor kucing mainecoon, dan tasnya. Ada yang berbeda dari tasnya saat ia berangkat tadi. Tidak ada benda yang menyembul keluar di sana. Kemudian ia dengar suara Kris yang berteriak tadi sore.

‘Kau lupa sesuatu..’

“Astaga. Terimakasih, Eric.”

Gulungan kertasnya. Itu yang ia lupa.

 

– ÷ –

 

Aku melihatnya tergesa-gesa. Ia menancap gas yang cukup kencang dari gerbang sampai akhirnya ia berhenti di halaman parkir. Laki-laki itu berlari dari halaman parkir. Sama seperti yang tadi siang aku lihat. Semakin lama ia berlari semakin dekat ke arahku. Tapi aku tahu, bukan aku yang ia tuju. Tak lama ia berlari melewatiku sambil berkata, “Hello, Laura.”

Sebenarnya aku tau apa yang dicarinya dan ingin berkata, “Gulungan itu ada di sini.” Tapi ia berlari terlalu cepat dan momentumnya tidak pas. Jadi aku biarkan saja ia panik dulu ketika ia sampai di kelas tadi. Aku tahu kalau dia akan berlari menuruni dan menaiki tingkatan meja di kelas. Padahal apa yang ia cari ada di sini.

Ia cukup lama ada di dalam sampai langit kota berubah menjadi gelap sempurna.  Kemudian dari pintu utama gedung aku melihat sosoknya keluar. Ia tak lagi berlari. Ia terlihat putus asa. Oh astaga, apa aku keterlaluan?

“Halo lagi, Laura.. Sampai besok.”

“Yaa, sampai besok.”

Aku masih diam ditempatku. Sedangkan laki-laki itu sudah melewatiku untuk yang kedua. Bedanya ia  tak lagi berlari seperti anak ayam. Ia berjalan seperti anak babi sekarang. Kepalanya itu menunduk memandangi aspal sambil berjalan ke arah halaman parkir. Aku heran kenapa ia tak curiga melihat gulungan yang ada di tanganku. Aku masih belum mau memanggilnya, biar saja ia yang menyadarinya.

Tak lama, belum jauh dari tempatku berdiri, anak babi itu berhenti. Ia mengangkat kepalanya dan memutar badannya. Ya, pada akhirnya, ia sadar. “Laura, a-apa kau lihat gulungan berwarna biru? Gu-gulungannya agak besar, mirip dengan yang ada padamu.”

“Apa kau mau lihat?”

Sekarang gulungan itu sudah berpindah tangan. Gulungan itu ia buka. Sepasang matanya langsung bergerak ke arah sudut kanan bawah. Memastikan kalau ada namanya tertera di sana. Sehun Egerton, itu yang ingin ia lihat. Dan memang namanya sudah pasti ada di sana.

“Ahh, jadi kau menemukannya. Di kelas?”

“Ya, tadi mata kuliahku memakai kelas yang sama denganmu.”

Aku melihatnya menggaruk tengkuknya. Ia berbicara canggung seperti sedang disidang. Memangnya aku ini terlihat seperti jaksa? Seseram itukah aku? Kalau dilihat-lihat College sudah tidak seramai tadi siang. Sekarang hanya ada mahasiswa yang mengambil jam malam. Ini kesempatan. Biasanya kalau sudah gelap seperti sekarang, setiap tokoh laki-laki yang ada di film dan drama akan menawarkan seorang gadis untuk pulang bersama.

“Alright. Well, it’s already night. Aku harus kembali ke Lodge. Permisi.”

Oh, ternyata dia bukan laki-laki yang ada di drama. Sehun sudah mengendarai motornya dan keluar dari gerbang. Aku lihat ia belok ke kanan. Setiap pulang aku juga belok kanan. Kalian tahu apa yang aku harapkan? Aku kira ia akan mengantarku pulang atau setidaknya mengucapkan ‘terimakasih’. Tapi tak ada tindakan berterimakasih ataupun balas budi darinya.

Terdengar egois sebenarnya. Tapi seperti satu kampus sudah tahu sifatnya itu.

 

– ÷ –

 

Chapter Aldgate Lodge

Sang surya sudah meradarkan cahayanya sejak ia terbit 2 jam yang lalu. Sinarnya sudah menerobos jendela-jendela rumah dan mengisi ruangannya. Tapi ada satu kamar—yang tidak bisa ditembus oleh cahaya surya. Jendelanya masih tertutup oleh gorden tebal—yang terbuat dari wol berwarna kelabu. Di dalam sana, di kasur yang ada di samping meja kerja, ada Puteri Tidur bersama tubuhnya yang masih menyatu bersama kasur kesayangannya. Sedangkan satu lagi Puteri di kasur yang berbeda, ia sudah terbangun dan sudah meregangkan sendinya sejak 2 jam lalu.

“Hey, Laura. Come on, you can’t sleep anymore.”

Temannya itu sudah bangkit dan membuka gorden kelabu yang mengahalangi jalannya sinar matahari. Sekarang cahayanya sudah menjalar bebas di dalam kamar mereka. Tapi Puteri tidur itu masih mau menjabat predikatnya. Kelopaknya masih tak terbuka. Seperti kasur suternya itu merapalkan mantra agar gadis itu tak cepat bangun. Semua yang diucapkan temannya itu, ia mendengarnya. Ia juga mendengar suara kartun pagi yang berasal dari Televisi.

“Alright, you wont wake up. Aku akan membiarkanmu sampai Mrs. Hopkins menggentayangi mimpimu itu.”

“Aku bangun! Aku.. bangun.”

Mrs. Poppy Hopkins. Bisa dibilang ia adalah salah satu mimpi terburuk gadis itu. Dosen Killer, kira-kira itu sebutan yang cocok untuknya. Seorang wanita usia 50-an, dengan setelan era The Beatles dan sebuah Laser Pointer yang ia bawa selagi presentasi. Kira-kira begitu bayangannya.

Mendengar nama itu membuat gadis itu membuka paksa kelopak matanya. Segera ia bangkit dari kasurnya, beranjak ke kamar mandi sebagai antisipasi agar ia tidak jatuh lagi ke jurang tidurnya. Ia memutar keran, menundukkan kepalanya dan meminum airnya. Ketika kepalanya terangkat, dari cermin ia melihat pantulan wajahnya. “Apa setiap hari aku sejelek ini?”

Gadis itu memandangi lekat-lekat wajahnya sendiri. Seorang gadis bersurai coklat dengan iris mata berwarna olive. Bibirnya memang tidak berwarna merah muda, tapi lebih mirip warna coral. Ia terlihat manis sesungguhnya. Hanya saja kantung mata akibat kebiasaan lemburnya membuat ia tak percaya bahwa ia adalah gadis yang manis.

“Hei, Krystal. Aku ini tidak menarik ya?”

“Apa kau bilang? Hei, hampir seperempat laki-laki di College itu pernah meminta nomor telfonmu, kan? Kau kira karena apa?”

“Lantas, kenapa sampai sekarang belum ada yang menjadi kekasihku? Coba lihat dirimu, sudah cantik, punya kekasih pula. Siapa namanya? Mahsiswa film itu? Kei? Kai?”

Krystal, gadis itu memberikan senyum simpul ketika sebuah nama disebut oleh Laura. Sekarang ia beranjak dari kasurnya dan membuat sarapan. Ia membuka kulkas, melihat-lihat apakah ada yang bisa ia masak untuk kali ini. Ternyata nihil, hanya ada sebotol susu besar dan beberapa camilan. Jadi, mau tidak mau hanya ada Oatmeal untuk sarapan kali ini.

“Yaa, itu semua masalah apa ada yang cocok denganmu. Kalau bisa dibilang, kau itu kan agak garang untuk ukuran perempuan. Kau tahu Kris? Asal kau tahu, dia pernah meminta nomormu.”

“Kris? Astaga, dia terlalu berlebihan untukku. Aku tidak bisa menangani laki-laki yang sangat dominan sepertinya.. Aku lebih suka, yang agak misterius.”

“Kalau begitu, kenapa tidak dekati Profesor Donovan saja? Masih kurang misterius apa dia?”

– drrtt –

Gadis bermata olive itu meihat ada yang begetar di atas meja lampu tidurnya. Getaran itu berasal dari kotak berwarna hitam yang sekarang disebut sebagai smartphone. Entah ada yang menghubunginya atau alarm nya sudah menyala, tidak ada bedanya, Laura tidak memasang Ringtone untuk panggilannya dan tidak memasang Alarmtone untuk alarmnya. Saat ia melihat apa yang tertera di layar smartphonenya, ternyata orang yang mereka bicarakan berumur panjang, bukan Kai, Kris ataupun yang lain. Melainkan nama Prof. Donovan yang ada.

“Good morning, Profesor Donovan.”

“Yes, hello, Ms.Kim. I just want to make sure. Have you finished your essay? Karena nanti saya harus pergi jadi kalau bisa kumpulkan sekarang juga.”

“Alright, Profesor. I’ll be right there in a minute.”

Ini bagaikan bencana untuknya. Essay  yang ia buat masih dalam tahap revisi final, dan seharusnya deadline nya adalah besok. Lantas kenapa harus hari ini dan sekarang juga ia mengumpulkannya? Ditambah ini hari Kamis, seharusnya Laura bisa tidak datang kuliah  dan melaksanakan Quality time bersama kasurnya hari ini. Ya, mau bagaimana? Tapi kalau dibandingkan dengan Profesor sudah memanggil, seperti segala urusan bisa dibatalkan.

“Panjang umur sekali Profesor itu. Sudah sana, kau harus wangi hari ini. Mau bertemu calon kekasihmu kan?”

 

– ÷ –

 

Christ Church College

Dari gerbang utama, datang seseorang yang berlari terburu-buru. Lain dengan yang kemarin, yang kini berlari bukanlah laki-laki yang mantelnya berayun kesana kemari. Melainkan seorang gadis dengan surai coklatnya yang tertiup angin pagi. Itu dia si gadis yang spesial dihubungi oleh dosennya untuk mengumpulkan essay. Ia menjajakkan kakinya ke penjuru College. Mulai dari kelas, ruang dosen, taman, sampai ke Great Hall ia tidak melihat ada sosok yang ia cari.

Kemudian ia sampai di lantai atas. Laura menyambangi koridor dan yakin kalau yang ia cari bisa ia temukan di balik pintu itu. Kali ini ia sampai di sana. Christ Church yang sesungguhnya. Sebuah gereja yang membuat College ini memiliki paduan suara terbaik di Oxford Universty. Saat ia masuk, ia lihat atap yang tinggi menjulang. Dengan jejeran bangku coklat yang ada di depannya. Itu dia, Profesor itu ada di barisan ke 3 dari belakang. Tapi, sepertinya ia tak sendiri. Ada satu lagi yang duduk di sampingnya. Sosok yang sepertinya ia kenal.

“Profesor Donovan.”

“Ahh, kau sudah sampai, Laura.”

“Ya, maaf kalau terlalu lama menunggu. Ini hardisk nya, Profesor.”

“Oh, tidak. Justru aku yang hausnya minta maaf. Aku terpaksa memintamu mengumpulkan sekarang karena akan pergi selama beberapa hari.”

“Apa aku sudah bisa pergi, Profesor?” Laki-laki itu, laki-laki berkacamata yang duduk di samping Prof. Donovan mulai bersuara. Laura, ia tahu betul siapa dia. Dia adalah laki-laki yang berlari seperti anak ayam mencari gulungannya kemarin petang. Laura pikir, ‘Kenapa Sehun bisa ada di sini? Apa ia juga dipanggil untuk mengumpulkan Essay?’

“Silahkan saja. Tapi.. tunggu dulu, Tuan Egerton. Kau janji Selasa depan desainmu dan segala rumusanmu itu sudah rampung?

“Sepertinya bisa lewat dari hari Selasa, Profesor. Aku belum bisa menentukan Limitnya.”

Sudah tidak ada suara lagi yang terdengar dari mereka bertiga. Yang ada sekarang hanya dahi Pria paruh baya yang berkerut. Kadang ia memandang Sehun dan kembali ke Laura. Kadang ia menunjuk ke arah Laura dan kembali ke Sehun. Seperti pak tua itu sedang menyocokkan sesuatu.

“Laura, berapa nilai Machine Learning mu di tahun ajaran ke 2?”

“Aku? Saat semester ke 4? Oh, aku dapat predikat Distinction, Profesor.”

“Yaa, baiklah. Sudah kuputuskan dan sudah sangat pasti, sekarang kalian menjadi satu tim.”

Kalimat itu berhenti disana dan membuat Sehun membulatkan matanya sempurna, bersama dengan rahangnya yang seakan jatuh ke bawah. Tentu saja, ia tak bisa terima. Sehun adalah individu yang independen. Entah akan sebesar apa masalahnya, akan sesulit apa kendalanya, batinnya itu tak pernah berkata kalau ia akan meminta bantuan.

“Tapi, Profesor. Ini bahkan belum sampai hari Selasa.”

“Memang, tapi jangan kira aku tidak tahu kalau hari Selasa rumusanmu tidak akan selesai. Jadi, kau satu tim dengannya, atau dia akan kupasangkan dengan Kris? Dan menggantikanmu.” Pria tua itu bangkit dari bangkunya dan melewati kedua pemuda dibelakangnya. Sehun yang masih menganga, ia tak tahu harus bilang apa. Entah dia harus memberikan orasi perlawanan atau sebaiknya bungkam saja.

“Semuanya tergantung padamu, kalau kau tidak mau satu tim dengan Nona Kim, itu artinya kau memutuskan untuk keluar dari olimpiade. Sekarang, sampai bertemu hari Selasa.”

Itulah kira-kira kalimat serta keputusan terakhir dari Prof. Donovan. Sesuatu yang membuat Sehun terpaksa untuk merubah status proyek perorangan ini menjadi milik tim. Kemudian ia menoleh kebelakang, melihat ada seorang gadis di sana. Terlihat polos, masih sama seperti hari Rabu kemarin saat mereka duduk berdua di bangku taman.

Sehun tak tahu harus bagaimana. Semuanya ada di luar kehendaknya. Berada bersama gadis bermata olive itu, juga di luar kendalinya.

“Sebaiknya kau bisa membantu. Kita bertemu nanti sore.”

 

˹ T · B · C ˼

– Ө –

Hai, hai..

Gimana? Kalo aneh mohom maklum ya, karena sebagai Author yg biasanya bikin FF fantasy, sekarang malah bikin FF yang perlu riset segudang kayak gini..

Oke, kalo ada yang punya saran tentang tempat tempat sekitaran oxford, silahkan komen ya..

– SEE YOU –

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Young Alan (Chapter 1)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s