[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 7)

Poster Secret Wife Season 2

Tittle    : Secret Wife Season 2

Author    : Dwi Lestari

Genre     : Romance, Friendship, Marriage Life

Length     : Chaptered

Rating    : PG 15

Main Cast :
Park Chanyeol, Kim Soah (Aiko)

Support Cast :

Oh Sehun, Min Aera, Kim Nara, all member EXO and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Soah terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan artis papan atas Park Chanyeol, demi menghindari kutukan keluarganya. Meski sebenarnya dia tak pernah percaya jika kutukan itu masih berlaku.

Disclaimer    : Cerita ini murni buatan saya. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note    : Sekedar mengingatkan, jika ini berbeda dengan SECRET WIFE yang pertama. Ini bukan kelanjutannya. Cerita ini berdiri sendiri. Tapi akan ada beberapa hal yang sama. Dijamin tidak kalah seru. Maaf jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komentarnya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 7

(Sehun’s Birthday 2)

Percayalah, semua akan baik-baik saja

Seiring berjalannya waktu

“Kenapa kau mengajakku kemari?”, tanya Soah setelah pria itu menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah.

“Aku juga tak yakin. Tapi hanya tempat ini yang terlintas difikiranku”, jelas Sehun. Dia melepas sabuk pengamannya. “Ayo masuk! Ku rasa eomma di rumah”, lanjutnya.

“Haruskah!”, jawab Soah terdengar ragu.

Sehun turun. Membukakan pintu mobil untuk Soah. “Ayo”, ajaknya lagi.

Dengan sedikit ragu Soah mengikuti pria yang telah berjalan mendahuluinya. Setelah memasukan beberapa nomor password, Sehun membuka pintu rumahnya. Dia berjalan pelan memasuki rumahnya. Soah juga mengikutinya di belakang. Mereka melewati ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dan sampai di taman belakang.

Eomma”, sapa Sehun pada wanita paruh baya yang tengah bermain dengan seekor anjing.

Wanita paruh baya itu menoleh. Tersenyum kemudian, senyum yang mirip dengan pria yang menyapanya. “Sayang, kau disini”, ucapnya. Dia berjalan mendekati Sehun yang diikuti oleh anjingnya.

“Aku membawa seseorang”, ucap Sehun kembali.

“Siapa?”, tanya ibunya yang terlihat penasaran.

Soah menunduk memberi salam. “Annyeong haseyo”, sapanya.

Ibu Sehun membalas salam Soah. Dia manatap Soah dari atas sampai bawah. Seperti pernah melihat perawakan gadis itu, pikirnya. “Sepertinya kita pernah bertemu”, ucapnya sedikit ragu.

Soah tersenyum dan juga mengangguk. “Ini aku ahjumeonim”, ucap Soah.

“Kim Soah”, ucap ibu Sehun terdengar ragu.

Soah mengangguk kembali. “Lama tak bertemu ahjumeonim. Bagaimana kabar anda?”, ucap Soah kemudian.

Ibu Sehun berjalan mendekat. Tangannya terulur memeluk Soah kemudian. “Aku baik sayang. Bagaimana denganmu?”, jawabnya. Tangannya mengusap lembut surai panjang Soah.

“Aku juga baik ahjumeonim”, ucap Soah.

“Dimana saja kau selama ini?”, ucap ibu Sehun kembali setelah melepaskan pelukannya. “Kau menghilang setelah kecelakaan keluargamu”, lanjutnya.

“Paris. Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa menerimanya”, jelas Soah.

“Kau baik-baik sajakan?”, ibu Sehun menangkup wajah Soah.

Soah mengangguk pelan sebagai jawaban. Seulas senyum juga ia tunjukan untuk membenarkan jawabannya.

“Kau bertambah cantik ya”, ucap ibu Sehun. Dia mencubit kedua pipi Soah.

Ahjumeonim”, protes Soah. Dia menggelengkan kepalanya mengikuti gerak tangan ibu Sehun.

“Ayo masuk. Ada banyak hal yang harus kau ceritakan padaku”, ucap ibu Sehun kembali setelah melepaskan cubitannya.

Mereka berdua masuk tanpa memperdulikan pria yang sedari tadi diam menatap tingkah konyol kedua orang itu. Dia berjongkok di depan anjinya. Mengusap pelan kepala anjingnya. “Kau lihatkan Vivi, mereka mengabaikanku setelah bertemu. Kau tahu, eomma sebenarnya lebih menyayangi Soah daripada aku. Mungkin karena dia tak bisa memiliki anak perempuan”, ucap Sehun. Dia menggendong anjingnya itu. Ikut berjalan memasuki rumahnya, menyusul kedua orang yang telah mendahuluinya.

-o0o-

“Kira-kira kemana perginya Sehun?”, tanya salah seorang dari mereka. Ya, para personil EXO kini tengah bersantai setelah menghabiskan makanan yang dibawa Soah. “Dia tak akan membuat masalah lagi kan?”, lanjutnya.

“Aku tak yakin, kau tahu sendirikan bagaimana dia?”, jawab salah seorang yang pandangannya fokus ke layar TV. Dia juga memakan makanan ringan yang tersedia di meja.

“Dia menemui Kim daepyo”, jawab salah seorang yang pandangannya fokus pada layar ponsel.

Mwo?”, ucap mereka hampir serentak. Mereka memandang aneh ke arah pria itu.

“Jangan konyol Park Chanyeol. Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu? Mereka tak dekat. Kau sudah tahu bagaimana hubungan mereka. Aku rasa Sehun masih sedikit membencinya. Ya, meski dia sudah minta maaf, tapi aku tak yakin rasa bencinya hilang”, jelas pria yang masih terfokus pada layar TV.

“Dia menerima kotak besar dari gadis itu. Lari setelah makan masakannya. Dan pergi setelah membuka kotaknya. Bukankah sudah jelas kalau dia akan menemui gadis itu”, jelas pria yang dipanggil Park Chanyeol itu. Pandangannya masih terfokus pada layar ponsel.

“Masuk akal juga”, sahut salah seorang dari mereka.

“Ku rasa iya. Lihat ini?”, ucap salah seorang yang baru bergabung bersama mereka. Dia menyerahkan kartu ucapan yang dia bawa dari kamar Sehun.

“Kenapa dia memanggilnya dengan sebutan Ai-chan?”, tanya salah seorang yang berkulit paling gelap diantara mereka semua setelah membaca kartu ucapan tersebut. “Bukankah namanya Kim Soah”, lanjutya.

“Dia lahir dengan nama Aiko”, jelas pria yang bernama Park Chanyeol itu. “Ai-chan. Ai dari nama depannya Aiko. Dan chan adalah semacam panggilan akrab di Jepang. Dia memang lahir di Jepang”, lanjutnya. Pandangannya masih terfokus pada layar ponsel.

Mereka semua menatap aneh kearah Chanyeol, seolah minta penjelasan dari argumen yang diucapkannya. Namun sepertinya pria itu tak tahu, dia masih sibuk dengan ponselnya. Dia mengalihkan pandangannya sambil mendesah. “Sial, aku kalah”, sepertinya dia sedang bermain game. “Waeyo?”, tanyanya ragu setelah tahu dia mendapat tatapan aneh dari rekan-rekannya.

“Darimana kau tahu?”, tanya salah seorang dari mereka.

“Kau mengenalnya, hyung?”, tanya pria yang bekulit paling gelap.

Chanyeol mengangguk. “Kalian juga mengenalnya kan. Dia pemilik Hera Fashion”, jelasnya.

“Bukan itu maksudnya. Darimana kau tahu jika dia lahir dengan nama Aiko?”, tanya pria yang tadi bertanya, namun tak diindahkan oleh Chanyeol.

“Ah itu…”, Chanyeol tak melanjutkan kalimatnya. Dia memandang satu persatu dari mereka. “Menurut kalian, bagaimana aku bisa tahu?”, bukannya melanjutkan dia justru memberikan pertanyaan balik.

Yak, bagaimana mungkin kami bisa tahu jika kau tak menjelaskannya”, jelas pria yang biasa dipanggil Baekhyun.

“Gadis itu yang memberitahumu atau kau mungkin dekat dengan keluarganya”, tebak salah seorang dari mereka.

“Kalian tidak pernah membaca artikel ya?”, ucap Chanyeol sambil menggelengkan kepala. Dia berdiri bermaksud meninggalkan ruang itu.

“Kau mau kemana? Kau belum menjelaskannya!”, protes Baekhyun. Dia juga menarik lengan Chanyeol.

“Lepas. Aku mau ke kamar mandi”, ucap Chanyeol, tangannya terulur melepas genggaman Baekhyun. Berjalan pelan meninggalkan ruang itu. Sebelum benar-benar mencapai pintu, dia kembali berbalik. Berteriak lantang untuk memberitahu rekan-rekannya. “Baca saja di wibesitenya Hera Fashion”. Dia menutup pintu setelahnya.

Salah satu dari mereka mengambil ponsel. Mengetikan beberapa kata. Mencari artikel yang dimaksud rekannya.

“Benar yang dikatakan Chanyeol hyung. Dia lahir di Jepang dengan nama Aiko. Bahkan dia lahir di tahun yang sama denganku”, ucap salah seorang yang berkulit paling hitam, Kai.

“Benarkah!”, tanya Baekhyun sedikit penasaran. Dia mengambil ponsel Kai. Membaca kata demi kata yang tertulis dalam artikel tersebut. “Daebak, dia lulusan terbaik dari ESMOD”, lanjutnya. Dia memberikan ponsel Kai kembali.

-o0o-

“Kau masih menyimpan ini”, tanya Soah. Dia mengangkat sebuah buku. Membukanya setelah mendudukan dirinya di ranjang.

Ya, setelah bercerita panjang lebar dengan wanita yang sudah dianggap seperti ibunya Soah diajak Sehun ke kamarnya. Alasannya untuk berbagi cerita. Dia ingin berbagi privasi dengan gadis itu.

Soah membuka lembar demi lembar buku yang berisi foto masa kanak-kanaknya. Dia tersenyum kala melihat pose lucu dari foto tersebut. “Bukankan ini Hana!”, tanya Soah.

Sehun yang sedari tadi sibuk membereskan beberapa barangnya mendekat. Ikut duduk di samping Soah. Dia mengangguk membenarkan perkataan Soah. “Dia pindah ke Hongkong setelah lulus SMA”, jelas Sehun.

“Hongkong!”, ulang Soah. Mencoba memastikan jika dia tak salah dengar.

“Ayahnya dipindah tugaskan disana”, ucap Sehun kembali.

“Kau masih berhubungan dengannya?”, tanya Soah kembali. Dia membuka lembar berikutnya. Meneliti sebentar sebelum membaliknya kembali.

“Kami masih bertukar kabar selama setahun. Dia tak ada kabar setelah itu”, jelas Sehun.

“Jadi kau putus dengannya?”.

“Kami tidak berkencan. Jadi tidak mungkin putus”.

“Kau tak bisa membohongiku”. Soah memandang tajam ke arah Sehun.

“Aku berkata benar. Kami tidak berkencan Ai-chan”.

“Sayang sekali. Kalian sebenarnya terlihat cocok”, ucap Soah pasrah. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke album foto yang dipegangnya. “Mulai sekarang jangan panggil aku dengan nama itu. Aku bukan lagi bocah berusia 5 tahun yang kau kenal dulu”.

Shireo”, ucap Sehun lantang.

Wae?”.

“Jika kau mau memanggilku oppa, maka aku tak akan pernah memanggilmu dengan nama itu”, jelas Sehun diselingi dengan kedipan nakalnya.

Soah memutar malas bola matanya. “Lupakan!”, ucap Soah. Dia memberikan album foto itu dengan kesal. Berdiri kemudian. Berjalan pelan meninggalkan pria itu. Sebelum mencapai pintu dia berbalik. “Terdengar menggelikan jika itu untukmu. Mimpi saja jika kau mau ku panggil seperti itu”, jelas Soah. Dia berjalan dengan cepat. Membanting pintu kamar Sehun dengan keras.

Sehun tersenyum melihat kepergian Soah. “Dia bahkan terlihat manis saat marah”, gumamnya.

Dia berdiri. Melepar album itu ke ranjang. “Ai-chan. Kau marah!”, ucapnya sambil berjalan menyusul gadis itu.

-o0o-

“Selamat makan”, ucap Soah. Dia mengambil sumpitnya. Mengulurkan tangan mengambil makanan yang tersaji di depannya. Dia menganggukan kepalanya sambil mengunyah.

Mashita. Masakan ahjumeonim memang yang terbaik”, ucapnya lagi. Ibu jarinya ia acungkan sebagai penguat apa yang baru saja diucapkannya.

“Itu karena kau sudah lama tak memakan masakanku. Sering-seringlah datang kemari”, jelas wanita paruh baya yang duduk di depannya.

Sehun yang duduk di samping Soah hanya diam. Dia memilih sibuk mengunyah makanannya.

“Aku tak bisa janji”, jelas Soah. Dia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.

“Aku pulang”, ucap seseorang dari arah pintu.

Mereka semua menoleh untuk melihat siapa yang tengah datang. Pria berjas yang menenteng tas itu berjalan pelan ke arah mereka.

“Sejoon oppa, kau baru pulang”, sapa Soah pada pria itu. “Kemarilah!”, kata Soah kembali sambil melambaikan tangannya.

“Siapa ini?”, ucap pria itu. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri untuk meneliti gadis yang tengah menyapanya.

“Ini aku”, jawab Soah sambil tersenyum.

“Sudah ku duga kau akan bertambah cantik jika memanjangkan rambutmu”, jawab pria itu. Dia melepas jasnya menyampirkannya di kursi sebelah ibunya. “Lama tak bertemu Kim Soah”, lanjutnya setelah mendudukan dirinya.

“Akan ibu ambilkan nasi untukmu”, ucap ibunya. Dia segera berlalu meninggalkan ketiga orang itu.

Soah mengangguk. “Iya. Lama tak bertemu Sejoon oppa. Aa, bagaimana dengan Joonie oppa? Bukankah itu terdengar lebih akrab”, jawab Soah diselingi dengan kedipan nakalnya.

Pria itu tersenyum, senyum yang juga terlihat mirip dengan Sehun. “Boleh juga”.

“Dulu kau suka memanggilnya hyung. Sekarang kenapa menjadi oppa? Kau bahkan menolak saat ku suruh memanggilku dengan panggilan itu”, Sehun yang sedari tadi diam kini bersuara. Lebih tepatnya dia sedang protes.

“Terserah aku. Suka-sukaku”, jawab Soah. Dia mengunyah dengan keras sambil memandang Sehun. “Bukankah begitu Joonie oppa”, pandangannya kini ia alihkan ke pria yang dipanggil oppa olehnya.

Pria itu mengangguk dengan tersenyum. Dia cukup merindukan momen ini. Makan bersama dengan dua orang adiknya. Meski Soah bukan berstatus sebagai adik kandungnya, tapi dia menyanyanginya seperti rasa sayangnya pada Sehun. Apalagi momen dimana kedua orang itu sering beradu mulut seperti sekarang. Itu menjadi kesenangan tersendiri untuknya.

Ibu Sehun datang dengan membawa semangkuk nasi untuk putra pertamanya. Tak ada percakapan setelah itu. Mereka diam menikmati hidangan yang tersaji di depannya. Hanya bunyi dentingan sendok dengan mangkuk yang mendominasi ruang makan itu.

“Soah-ya”, panggil pria bernama Sejoon itu.

Soah mendongakkan kepalanya menatap pria yang tengah memanggilnya. “Emmh”, gumamnya disela-sela mengunyahnya.

“Kau sudah punya pacar?”, tanya Sejoon. Dia melirik sebentar ke arah Sehun. Dia berniat menggoda gadis itu, untuk melihat bagaimana reaksi adiknya.

Sehun ikut mengangkat kepala mendengar pertanyaan kakaknya. Dia menatap aneh pada pria itu. Seolah berkata jangan.

“Belum”, jawab Soah dengan gelengan.

“Jangan bohong. Tidak mungkin gadis secantik kau tidak memiliki pacar”, bantahnya. Ada raut tak percaya di wajah Sejoon.

“Aku tidak punya pacar. Tapi aku punya suami”, jawab Soah acuh. Dia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.

Semua orang di ruang itu terdiam. Hening menyelimuti ketiga orang itu sejenak. Mereka juga membulatkan mata tak percaya. Menoleh ke arah gadis yang baru saja bersuara.

“Benarkah! Kau sudah menikah”, tanya Sejoon kembali.

Soah mengangguk sambil terus mengunyah makanannya.

“Dengan siapa?”.

“Chanyeol EXO”, jawab Soah enteng. Seolah apa yang dikatakannya tak berarti apapun.

“Hah”, Sehun mengangkat alisnya tak percaya. Dia benar-benar terlihat syok dengan ucapan Soah.

Ibu Sehun juga terlihat syok, namun tak sekuat Sehun.

Berbeda dengan Sejoon. Dia justru tertawa mendengar penuturan Soah. “Bwahahaha”. Dia bahkan memgang perutnya karena terlalu banyak tertawa. “Selera humormu lumayan juga”, ucapnya kemudian masih dengan menahan tawanya.

“Aku berkata benar”, jelas Soah kembali.

Tawa Sejoon bertambah keras. Dia benar-benar merasa lucu dengan apa yang gadis di depannya ucapkan.

Sehun masih diam. Masih belum paham dengan situasi yang menimpanya kali ini.

“Kau terkejut”, Soah mendorong pelan kening Sehun dengan jari telunjuknya. “Aish, kau memang tak punya selera humor”. Dia meminum airnya kemudian.

Ibu Sehun ikut tersenyum melihat tingkah Soah. Dia kini tahu apa yang sebenarnya terjadi. Anak itu memang kadang kelewat jika sudah bercanda.

“Ini tidak lucu Ai-chan”, jelas Sehun.

“Itu karena kau tak punya selera humor. Iyakan Joonie oppa”, jawab Soah.

Sejoon mengangguk membenarkan perkataan Soah. Dia sudah terlihat tenang karena sudah berhasil meredam tawanya.

Sehun masih memandang aneh pada Soah. Masih tak terima dengan ucapannya.

“Coba kau fikir. Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya, padahal kami sendiri tak dekat?”, jelas Soah. Dia kembali mengunyah makanannya.

“Iya juga sih”, ucap Sehun.

-o0o-

Soah berjalan pelan memasuki apartemennya. Di tangan kanannya memegang kotak makanan. Dia memang baru pulang dari rumah Sehun, setelah hampir seharian berbagi cerita dengan keluarga sahabatnya itu. Dia diberi kimchi, karena memang itu adalah makanan favoritnya jika yang membuat adalah ibu Sehun.

Setelah meletakkan heelsnya, tangannya terulur menyentuh saklar lampu apartemennya. Ruang yang tadinya gelap kini menjadi terang. Dia mendengus pasrah. entah apa yang dipikirkannya. Dia terdiam sejenak. Membuang kembali nafasnya. Lalu berjalan pelan menuju dapur. Memasukan kimchi yang dibawanya ke dalam kulkas.

Dia mengambil botol jus sebelum menutup pintu kulkas. Membuka tutupnya dan meminumnya sambil berjalan pelan menuju kamarnya. Wajahnya berubah murung kala melihat kamarnya masih gelap. Dia meraba dinding mencari saklar lampu kamarnya. Kembali mendengus pasrah setelah ruang itu menjadi terang.

Soah melempar asal tasnya ke ranjang. Berjalan pelan menuju balkon kamarnya. Membuka pintu penghubungnya. Hembusan angin musim semi menerpa wajah cantiknya. Pemandangan malam kota Seoul terpampang apik di depannya.

Netranya menelisik ke setiap penjuru arah yang bisa di jangkaunya. Melihat hal itu, perasaannya sedikit lega. Seulas senyum kecil juga menghiasi wajahnya. Untuk kesekian kalinya dia bersyukur masih bisa merasakan hiruk pikuk kesibukan kota Seoul. Kota dimana dia bisa memiliki kenangan indah masa kecilnya. Meski bukan kota kelahirannya, tapi itu tak merubah fakta bahwa dia berasal dari sana.

Dia kembali meminum jus yang di bawanya. Membiarkan angin musim semi menemani kesendiriannya. Pandangannya kini tertuju pada langit yang dihiasi titik-titik cahaya kecil yang biasa orang sebut dengan bintang. Bulan purnama juga tampak bersinar indah disana.

Soah merogoh kantung coatnya kala merasa ada getaran disana. Satu pesan masuk diterimanya. Dengan masih meminum jusnya, dia membuka pesan itu.

Apa yang kau lakukan sendirian di balkon kamar, Kim daepyo?”, begitulah isi pesan yang diterimanya.

Soah mengangkat alisnya mendapati nomor baru tengah mengiriminya pesan. Pandangannya ia edarkan mencari keberadaan seseorang. Ya, tak mungkin orang itu tahu jika dia tak berada di sekitarnya. Ketika dia tak mendapati siapapun di sekitarnya dia mendengus kesal. Orang itu pasti hanya asal menebak, pikirnya. Dia memilih tak membalasnya.

Dia kembali meminum jusnya. Memfokuskan pandangannya pada gedung yang memiliki iklan bergerak berupa video pendek mempromosikan produknya.

Ponselnya kembali bergetar. Satu pesan masuk kembali diterimanya.

Apa yang kau cari? Kau sedang tidak mencariku kan?”.

Soah hanya membacanya, tak ada niatan sedikitpun untuk membalasnya.

Kenapa tidak dibalas?”.

Soah kembali membaca pesan itu. Dan dia kembali memilih mengabaikannya. Memasukan ponselnya ke dalam kantung coatnya. Ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan sekali, tapi beberapa kali. Dia merasa kesal dibuatnya. Dengan cepat dia mengambil ponselnya. Tersenyum miring saat membaca pesan itu. Sama seperti sebelumnya, “Kenapa tidak dibalas?”, namun dikirim beberapa kali.

Nuguseyo?”, Soah mengetikan kata itu sebagai balasannya.

“Kau tidak menyimpan nomor ponselku?”, sebuah suara terdengar dari belakangnya.

Soah menoleh untuk melihat orang yang berbicara kepadanya. “Ck”, dia berdecak kesal kala mengetahui siapa pemilik suara itu. Dia kembali memfokuskan pandangannya ke arah iklan bergerak itu.

Pria itu merebut jus yang akan diminum oleh Soah. Dia meneguknya sampai habis.

Soah kembali mendengus kesal. Menatap tajam pria dihadapannya. “Itu punyaku, kenapa kau tak ambil sendiri di kulkas”, protesnya.

“Aku haus dan malas ke dapur”, ucapnya tanpa dosa. Dia berkedip beberapa kali dengan cepat, untuk menambah kesan memelasnya.

“Ya, ya. Terserahlah!”, jawab Soah akhirnya pasrah.

Pria itu merebut ponsel yang dipegang Soah. Kau benar-benar tak menyimpan nomor ponselku”, ucap pria itu setelah memeriksa ponsel Soah. Dia mengetikan beberapa kata untuk menyimpan nomor ponselnya sendiri. Dia mengembalikan ponsel Soah setelah selesai. “Ini, aku sudah menyimpannya untukmu”.

“Kau tidak menyimpannya dengan nama yang aneh kan?”, tanya Soah menerima ponselnya. Dia bermaksud memeriksanya, namun pria itu sudah lebih dulu merebut ponselnya. Memasukankanya ke dalam kantung coat yang dipakai Soah.

“Tidak usah dibaca”, ucap pria itu kembali.

Soah menurutinya. Toh dia bisa membacanya nanti. Mereka sama-sama terdiam setelahnya. Menikmati pemadangan kota Seoul di malam hari.

“Ngomong-ngomong, ruang apa yang ada di balik walk in closet-mu itu?”, tanya pria itu memecah keheningan.

“Kau tahu?”.

“Aku tak sengaja melihatnya tadi. Karena di password, jadi aku tak bisa membukanya”, jelas pria itu kembali.

“Itu ruang rahasiaku”, jelas Soah. “Aku capek, mau istirahat”, lanjutnya. Dia berlalu meninggalkan pria itu.

“Memangnya kau habis darimana? Aku tahu kau tidak ke kantormu hari ini?”, ucap pria itu yang mengekor di belakang Soah. Dia menutup pintu balkon kala gadis itu sudah lebih dulu memasuki kamarnya.

“Aku bermain dengan Vivi”, jelas Soah. Dia mengambil tasnya di ranjang. Berjalan pelan memasuki walk in closetnya. Menyimpan tasnya kemudian. Meletakkan coatnya di gantungan. Melepas jam tangan serta anting dan menyimpannya.

“Anjingnya Sehun maksudmu?”, tanya pria itu kembali setelah memasuki ruang yang sama dengan Soah.

Soah mengangguk pelan.

“Jadi benar dia menemuimu tadi”.

Soah kembali mengangguk. Tangannya terulur mengambil piyamanya. Dia menoleh ke arah pria yang sibuk meneliti koleksi jam tangan miliknya. “Keluarlah, Chanyeol-ssi. Aku mau ganti baju”, pinta Soah.

“Kau bukakan dulu ruang itu”, pria itu menunjuk ke arah ruang yang dimaksudnya.

“Tidak. Itu ruang rahasiaku”.

“Kalau begitu aku tak akan pergi”, ucap pria itu. Dia melipat tangannya di depan dada.

Soah kini menatap tajam pria dihadapannya. Dia cukup kesal dengan tingkahnya.

“Kenapa? Lagipula aku suamimu, jadi tak perlu malu”. Pria itu tersenyum nakal.

Soah memutar malas bola matanya. Dia berjalan cepat meninggalkan ruang itu. Lebih baik dia pergi daripada harus meladeni tingkah gila pria yang sayangnya sudah berstatus sebagai suaminya.

to be continue…

Hai, hai. Saya kembali lagi setelah sekian lama.

Maaf membuat kalian menunggu.

Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.

24 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 7)”

  1. Kenapa keluarga Sehun gapercaya sih pas Soah bilang doa udah nikah? Padahal Soah udah ngomong jujur 😣
    Huft Sepertinya proses Chanyeol deket sama Soah bakal lama ya thor?

    1. Soah ngomongnya kan terlihat gk serius, makanya kluarga Sehun gk percaya….

      Kita lihat saja di chapter-chapter selanjutnya…… 😉😉😉

    1. Gak tahu lah, kan bang Chan blum bilang… Hihihi…. 😁😁😁
      Sama aku juga, gemes deh lihat mereka berdua….

    1. Gk janji ya, lagi terserang virus malas…
      Cie, dikangenin…. 😍😍😍
      Gk ditinggal kok, kasihan kan nanti bang Chan nya….. 😢😢😢

    1. Maaf ya, lagi terserang virus malas.
      Jangan bosan menunggu…
      Terima kasih… 😘😘😘😘😘
      Fighthing…. 💪💪💪💪💪

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s