2ND GRADE [Chapter 31] by l18hee

2ndgradee

2ND GRADE

─by l18hee

.

Now Playing ► Chapter 31 [Ada]

Ada yang perlu dipahami. Di sudut yang itu sampai di lain sisi.

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Sehun, Baekhyun | [CLC] Seunghee | [BTS] Taehyung & Jungkook | Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Family | Friendship | School Life | Romance

.for

Teen

.

Previous Part:

Prologue |  01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19  | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25| 26 | 27 | 28 | 29 | 30

.

.

Kita teman, kan, Baekhyun?

Betapa Baekhyun luar biasa membenci kata teman saat ini. Saat membuka mata, ia bahkan seperti dijejali frasa tersebut sampai perutnya melilit tak enak. Mual dan pening, tapi pada dasarnya dia baik-baik saja secara fisik. Semua yang harus dilakukan berbelok menjadi sebuah kegiatan yang malas dikerjakan. Chen membujuknya untuk sekolah. Perlu waktu yang lama bagi Baekhyun untuk mengiakannya. Dia pikir, jika tidak berangkat sekolah akan sangat kentara bahwa dirinya begitu patah hati sekarang.

Mood-nya berada di bawah titik nol, barangkali sampai minus sejuta. Namun menunjukkan ia yang sedang tidak bersemangat bukan pilihan yang bagus. Dia tidak ingin diberi pertanyaan oleh siapa pun. Makanya pagi ini di sekolah ia sudah kelihatan biasa saja bercanda dengan Chen, sampai sosok Runa datang.

“Baekhyun,” panggil si gadis. Segera Baekhyun beranjak dari duduknya, menghampiri sang gadis dan mengambil alih ranselnya.

“Oi, Runa. Kau mau mentraktirku lagi? Oke, oke, tidak perlu terburu-buru.” Baekhyun begitu saja meletakkan ransel Runa di sembarang meja dan menyeret gadis itu keluar kelas. Setelah agak jauh dari kelas, baru Baekhyun mau bicara lagi, “Aku baik, oke? Jangan bertanya apa pun di kelas.”

“Ayo beli soda.”

Kini Baekhyun malah memandang Runa dengan curiga. Refleknya mengatakan jika ia harus mengedar pandang. Dan benar saja, di ujung lorong sosok Jungkook berjalan di samping Seunghee. Keduanya tengah membicarakan sesuatu, entah apa, pokoknya Baekhyun bisa dengan jelas melihat Seunghee tersenyum saat bicara.

Tidak ada kata yang pas yang bisa Baekhyun keluarkan, umpatan paling menyedihkan sekalipun. Dia memandang Runa dan berucap, “Baik, traktir aku soda.”

Kemudian di sinilah mereka, duduk di tangga menuju atap―yang biasanya memang sepi―seraya meneguk soda. Baekhyun diam dan Runa tak berniat memecah suasana sama sekali. Kesunyian yang tercipta membuat waktu berjalan makin lambat, semua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Saling menerka dan menyimpulkan sesuatu hanya dengan satu pandangan. Hingga pada akhirnya Baekhyun tak tahan untuk mengembus napas panjang. Ditatapnya Runa yang balas menatap.

“Jelas aku ditolak.”

Tidak ada kesimpulan yang lebih pas ketimbang itu, Runa tahu. kemudian ia hanya mengangguk dan menepuk-nepuk bahu Baekhyun untuk menyalurkan empati.

“Kenapa justru saat bicara denganmu aku malah ingin menangis, sih?!” Baekhyun memberengut, mau tak mau Runa terkekeh kecil. Lelaki ini tidak pernah berubah, anehnya.

“Itu namanya lega, Baek. Benar-benar, deh.”

Nyatanya diam-diam Baekhyun tetap menahan diri. Bagaimanapun juga sudah sejak lama ia menganut prinsip lelaki pantang menangis―walau itu bukan hal yang buruk, sebenarnya. “Aku tidak tahu sikap mana yang harus aku tunjukan pada Seunghee dan Jungkook. Untuk kriteria mode biasa saja sepertinya susah.”

Dalam hati mendadak saja Runa teringat akan Sehun. Lebih tepatnya kala ia menolak uluran tangan si lelaki sebelumnya. Apa Sehun juga seperti keadaan Baekhyun saat ini?

“Ini keputusanmu, Baek. Apa yang kau inginkan? Menjauh dari Seunghee dan Jungkook, atau masih berteman seperti biasa.” Sesungguhnya berat bagi Runa mengatakannya, akan tidak baik keadaannya jika tiba-tiba saja Baekhyun menjauhkan diri dari Seunghee, bukan?

Sejemang Baekhyun membiarkan sunyi menguasai, dia tak bosan membuat Runa makin penasaran. Lantas dengan lirih ia berucap jelas, “Aku akan membiasakan diri untuk bersikap biasa. Tidak lucu sebuah pertemanan putus hanya karena masalah cinta.” Prinsip yang bagus, Byun Baekhyun.

“Kau tahu aku mendukungmu, Baek. Maaf karena meninggalkanmu jomblo sendirian.” Lalu Runa memberi kekehan sebagai penutup. Sedang Baekhyun memandangnya sok kesal.

“Kau bisa sebarkan itu ke seluruh dunia, Kwon Runa. Terserah saja.”

.

.

.

-0-

.

.

.

Baekhyun punya banyak teman. Dia terlalu mudah akrab dengan orang lain dengan pembawaan dirinya yang bebas. Walau tidak semua kenal padanya, paling tidak ia punya jaringan yang luas. Sebenarnya mudah bagi Baekhyun bergabung dengan siapa saja untuk bermain atau menghabiskan waktu bersama. Jika dipikir-pikir lebih cermat, bukankah ada banyak pula gadis yang dapat ia dekati?

“Bosan.”

Yah, Baekhyun tidak tahu kenapa justru di saat ia tahu dirinya gampang untuk berada dalam keadaan tidak sendiri, dia malahan merasa bosan. Kini lelaki ini tengah duduk di bangku yang ada di dekat gedung tempat Runa mengambil les. Tidak ada yang bisa ia lakukan dengan Chen, megingat karibnya tengah mengantar Wendy ke suatu tempat. Dia tidak bisa mengganggu Jungkook si dingin. Tidak pula mengunjungi Seunghee dengan kedok belajar bersama. Baekhyun sedang tidak ingin tertawa pura-pura di depan temannya yang lain. Jadi yang ia lakukan adalah menunggu Runa selesai les. Awalnya waktu dihabiskan dengan bermain game, namun sayangnya daya ponselnya habis. Jadilah ia duduk-duduk dan memerhatikan sekitar sedari tadi.

Membosankan dan sepi.

“Oi, Baekhyun.”

Merasa namanya dipanggil, Baekhyun menoleh dan mendapati sosok Sehun tengah berjalan ke arahnya. Surai pirang lelaki tersebut mencuat dari celah yang tidak tertutup topi.

“Kau mau menjemput Runa?”

“Apa ini artinya kita akan pulang bertiga?” Sehun menjatuhkan pantat di spasi kosong, tepat di samping Baekhyun. “Aku baru saja menyelesaikan tugas pertunjukanku.”

“Bagaimana nilainya?”

“Lumayan. Tidak jelek-jelek amat, sih, kalau diukur dari guruku yang pelit nilai. Setidaknya perjuangan tidak sia-sia, kan?” tutur Sehun, Baekhyun manggut-manggut untuk menanggapi. “Ya bagus, deh.” Cepat-cepat ia menambahi, “Eh, omong-omong, kau tidak cemburu padaku?” Kalau dipikir lebih cermat, intensitas pertemuan Runa dan Baekhyun sepertinya lebih sering, kan? Kali saja Sehun merasa sedikit terganggu mendapati karib si pacar sampai menjemput di tempat les segala.

Tanpa mengambil jeda berpikir, Sehun menjawabnya lancar, “Cemburu. Kadang aku berpikir posesif, sejujurnya.” Entah kenapa Baekhyun terkekeh. Dia tadinya ingin mendengar jawaban semacam tidak, namun rupanya jawaban Sehun barusan pun sudah cukup membuatnya senang. Agak aneh, memang.

“Aku suka itu, Oh Sehun. Berarti kau menggapku laki-laki.”

Mereka tenggelam dalam obrolan panjang. Pikir Bakehyun ini bagus, dia jadi punya teman bicara. Untuk sekelas teman yang asyik, Baekhyun rasa Sehun sudah melampauinya. Keduanya berjanji akan meluangkan waktu untuk bertanding game. Kemudian Baekhyun beranjak dan menguarkan kata pamit. Tadinya Sehun agak heran, namun ia mengucap salam perpisahan juga saat Baekhyun begitu saja melangkahkan kaki pergi.

Tak butuh waktu yang terlalu lama bagi Sehun demi mendapati sosok Runa menyapa pandangnya. “Oi, jalannya yang cepat!” Yang diteriaki mengkerut wajahnya, tapi tetap melajukan langkah.

“Bagaimana nilainya?” ujar Runa tepat saat Sehun beranjak dari duduk. Mendapat pertanyaan begitu, Sehun berdecih, “Apa-apaan, baru bertemu malah yang ditanyakan soal nilai. Kau tidak tanya apa aku sudah pulih sepenuhnya atau belum?”

“Kau masih sakit?”

“Tidak, sih.” Sehun nyengir lebar, tak gentar dengan pukulan Runa di lengan. “Eh, ada toilet di lantai satu gedung lesmu? Aku kebelet.”

Telunjuk Runa terarah pada pintu gedung, “Masuk, lalu belok kanan, ada papan petunjuknya.” Dengan segera Sehun mengangguk, “Kau di sini saja, jangan  memaksa untuk menemani.” Sementara si lelaki langsung pergi, Runa menanggapi setengah kesal, “Memangnya aku mau ikut ke toilet laki-laki? Bah.”

“Runa,” sebuah panggilan dari seorang gadis terdengar, “itu pacarmu?” Lalu saat Runa menoleh, ia mendapati beberapa kawan kursusnya tengah memasang wajah heran. Tak mau bersusah payah memikirkan maksud ekspresi tersebut, Runa cuma mengangguk dan menggumam iya. Hingga salah satu yang bernama Jo Jin Ah menanggapi, “Dari sekolah seni, ya?”

Ada hawa-hawa tak nyaman yang mulai Runa rasakan, “Iya. Dari Yeonso. Kenapa?”

“Oi, gedungnya sudah mau dikunci, katanya aku tidak boleh masuk.” Suara Sehun terdengar agak sama seiring dengan dirinya yang kembali menuju ke tempat Runa berdiri. Sementara Jin Ah cuma memberi tatapan meremehkan, “Tampan, sih, tapi … oh, aku duluan. Ada tugas yang harus aku selesaikan.” Gerombolan Jin Ah pergi sebelum Sehun sampai, untuk mengucap salam perpisahan saja Runa tahu lidahnya gatal. Jadi, apa tatapan tadi berarti gadis-gadis tadi itu meremehkan Sehun? Apa karena penampilan Sehun yang tidak serapi anak SMA biasa? Dan apa maksud mereka tadi mengatakan semua itu padanya?

“Kok, cemberut?” tanya milik Sehun menarik Runa menoleh. Gadis ini memandang si lelaki agak lama, membuat yang menjadi fokus tatapan mengerutkan alis. “Temanmu mengatakan sesuatu?” tebaknya.

“Lupakan saja. Kita mau cari toilet?”

“Ayo mampir ke minimarket paling dekat, kalau begitu.” Lengan Sehun sudah menyambar leher Runa dalam sekian detik, membawa gadis itu dalam lipakan ketiaknya. “Sehun, bisa tolong jangan kencang-kencang?” sungut Runa, ia sudah ingi melepaskan diri, namun Sehun malah makin menyeretnya. “Kalau tidak dipegangi nanti kau menyusut jadi lebih pendek lagi.”

“Mana ada yang seperti itu!”

“Ada. Kau saja yang kurang baca berita.”

“Mentang-mentang tinggi, jadi suka seenaknya.”

“Sudah pendek, cerewet pula.”

“Begini juga kau pacari.”

“Padahal aslinya seleraku semacam Miranda Kerr.”

“Dan seleraku semacam Ji Changwook.”

“Korban drama.”

“Masa bodoh. Kau sering lihat model-model seksi, ya? Apa kau juga beli majalah rated?”

“Hanya pinjam―ADUH!” Sehun mengelus pinggang yang baru saja menjadi sarang cubitan. Kemudian ia merenggangkan rangkulannya, “Tidak sering, kok, serius.”

“Tidak apa-apa, sih. Kau sudah 18 tahun lebih, lagipula.”

“Tidak apa-apa tapi mencubit.” Sehun bergumam usai berdecih sebal. Keduanya masih berdebat kecil walau sudah sampai minimarket. Seraya menunggu Sehun menuntaskan hasrat kebelet-nya, Runa memutuskan untuk membeli air mineral untuk menyegarkan kerongkongan. Gadis ini baru saja menuntaskan beberapa tegukan saat kekasihnya sudah memunculkan diri.

“Mau.” Sehun bertutur demi mendapati botol air berpindah cepat ke tangannya dalam sekian detik. Selagi meneguk air, lirikannya jatuh pada paras Runa. “Ada sesuatu?” ucapnya sesudah mengusap bibir dan mengulungkan kembali botol air mineral yang langsung diterima si gadis.

“Mau tanaya,” Runa memberi kode agar pembicaraan dilanjutkan sambil berjalan. Sehun menunggu dalam diam, seraya menyembunyikan kedua tangan di saku celana. Namun sekon-sekon selanjutnya pikiran Runa malah mengelana ke mana-mana. Lirikannya tertambat pada wajah Sehun, berpikir kembali ke hari-hari lalu. Seperti apa yang dialami Baekhyun, apakah Sehun pernah merasa tersakiti saat ditolak waktu itu? Runa masih merasa bersalah, tapi di sisi lain terharu. Hanya orang bodoh yang tidak merasa tersanjung kalau ceritanya begini.

“Kwon, kau tahu aku masih agak sensitif dengan istilah tunggu-menunggu.” Rupanya Sehun sudah lelah menerka apa yang akan gadisnya utarakan. Sebagai jawaban Runa malah menyuguh kekeh ringan. “Tidak jadi, deh,” ucapnya kemudian. Lalu Sehun memasang wajah sok kesal.

“Besok libur?”

Sebuah gelengan terpaksa Runa suguh, “Ada les tambahan. Cuma satu, kok.” Sejemang Sehun membiarkan dirinya tenggelam dalam diam, lantas menggunakan pundak Runa sebagai tumpuan lengan, “Capek?”

“Hampir ujian semester, tidak masalah.” Kenapa dalam hati pun Runa masih agak malu mengakui jika dirinya berada dalam titik super nyaman dalam dekapan Sehun? Oh, ia benci memerah tiba-tiba seperti ini, seperti gadis yang pertama kali pacaran saja.

“Jangan memaksakan diri, aku tidak ingin melihat kepalamu mengeluarkan asap,” tuturan Sehun dibalas decihan sebal dari gadis di sampingnya. Lelaki ini terkekeh dan makin mengeratkan lengannya ke leher Runa berimbuh sebuah tekanan di kepala gadis tersebut, “Santai sedikit, kalau tidak tumbuh baru tahu rasa.”

Dengan kesal Runa menyingkirkan diri dari rengkuhan Sehun, berjalan agak jauh. “Kenapa dia selalu membahas tentang tinggi sedangkan rata-rata orang Asia memang seperti ini?” gerutunya pelan, kendati begitu Sehun dapat mendengar samar-samar.

“Jalannya jangan jauh-jauh, nanti hilang.” Mendadak saja Sehun sudah meraih genggaman tangan Runa, masih berjalan biasa tanpa menunjukkan ekspresi berarti selain senyum tipis seolah mengejek.

Inginnya Runa menanggapi, namun yang ada ia malah tenggelam dalam kata-kata yang menggema dalam hatinya sendiri. Kalau bukan karena Sehun yang mempertahankan perasaannya, mungkin Runa akan berakhir mengutuk diri akibat menyesali kejadian lalu. Secara terus-menerus, catatan saja.

Gadis itu tahu Sehun makin tersenyum saat ia membubuhkan pelukan kecil di lengan si lelaki, tapi masa bodoh. Yang jelas Runa tahu ada syukur yang menggunung berkat apa yang ia dapatkan sampai detik ini.

“Takut aku yang hilang?” seloroh Sehun. Tenang, Runa tak merubah ekspresi, “Aku memegangimu agar tidak tumbuh lebih tinggi lagi.”

“Aw, jiwa kompetitifmu kentara sekali, aku jadi terharu.”

“Aku tidak mau balapan, Sehun, jangan konyol.”

“Kalau aku tidak konyol nanti siapa yang membuatmu tertawa?”

“Ada banyak, kok.”

“Tapi pacarmu, kan, aku.”

“Iya, iya.”

“Kau tidak punya niat mencari pacar kedua, bukan?”

“Sehun, berhenti mengoceh, kita harus mengejar bus.”

.

.

.

-0-

.

.

.

Sabtu pagi Sehun sudah keluar untuk mengunjungi rumah Taehyung. Bukan tanpa alasan, jelas. Motifnya adalah meminta file rekaman dari tugas drama yang dipentaskan hari yang lalu. Kalau bukan untuk pamer pada Runa, apalagi? Sehun terlalu sadar akan peluang kagum yang akan gadisnya suguh saat melihat aktingnya di drama. Yah, walau tak muncul sesering pemeran utama. Tapi tak ada salahnya, kan?

Dengan beberapa helai rambut yang masih mencuat sana-sini, Taehyung menyerahkan flashdisk berisi file yang Sehun pesan. “Aku bangun pagi dan demi memindahkannya, besok traktir aku.”

“Berhentilah perhitungan pada teman.”

“Setidaknya bahagiakan teman jomblo-mu ini, Oh Se.”

“Teruslah bersikap mengenaskan.”

Kemudian Taehyung kembali tidur dan Sehun menghabiskan setengah hari untuk main game di karpet kamar karibnya. Hal tersebut menjadikan Taehyung melempar bantal pertanda marah sebelum berseru, “Kalau pada akhirnya kau menghabiskan waktu di sini, kenapa menyuruhku memindahkan file-nya pagi-pagi?!”

“Kau ingat Jeon Jungkook?” Selain bisa menghindar dari bantal, Sehun juga bisa berlagak bebal. Taehyung menyerah, dia malas berdebat. “Ingat. Memangnya aku pikun?!”

“Menurutmu dia sedang tertarik pada seseorang?”

“Kenapa semua topik akhir-akhir ini berubah menjadi cinta, sih?!” Nada Taehyung makin tinggi, ia kesal rupanya karena belum dapat cerita cinta. “Tidak tahu. Memangnya aku memerhatikan? Kenapa? Dia suka adikmu? Atau Runa?”

Dan bantal yang tadi dilemparkan, melayang kembali pada pemiliknya, dengan pendaratan yang mulus di bagian sisi kepala. “Runa punyaku!”

“Iya, punyamu! Sana peluk erat-erat!” gemas, Taehyung sampai ingin berseru dengan seluruh vokalnya. Dia mengatur napas, membuat nadanya merendah, “Lakukan apa saja sesukamu, Sehun. Tapi tinggalkan aku hari ini, ada sesi tidur panjang yang perlu kulakukan.”

“Oke, oke. Aku akan pergi sebentar lagi.”

Tidak tahu mengapa, rasanya image keduanya sedang tertukar. Biasanya Sehun-lah yang lebih dominan marah-marah saat berkumpul.

Seperti janjinya, Sehun enyah dari kamar Taehyung sekitar sepuluh menit kemudian. Tentunya usai mendapat pesan balasan dari Seunghee. Isinya tak jauh-jauh dari dugaan Sehun bahwa si adik dan kawan kelompoknya masih bertengger di perpustakaan kota.

Bukanlah hal yang cukup sulit bagi Sehun untuk menjangkau tempat tersebut. Dari sekian banyak meja di antara rak-rak, dia menemukan gadisnya tengah fokus membolak-balik buku. Semakin Sehun mendekat, terdengarlah suara Runa.

“… masih belum ketemukan.”

Atensi sang gadis langsung berpindah pada flashdisk yang diletakkan tepat di samping tangannya. Ia mendongak dan menemukan senyum Sehun. “Kau tidak bilang akan kemari,” ujar Runa agak kaegt. Mengambil tempat duduk sebeum menjawab adalah yang lelaki itu lakukan, “Aku memang terburu-buru, tapi sayangnya bukan sedang berurusan denganmu.”

“Mau menjemput Seunghee?”

Satu jentikan jari yang Sehun tunjukkan adalah pertanda jawaban benar. Di seberang meja Seunghee hanya mendengus, “Kubilang pada Mama, aku akan pergi sendiri.”

“Mama bilang, aku harus mengantarmu,” sanggah Sehun. Baru saja akan menambahi lagi, ia sadar ada sosok lain di sebelah Runa. Jeon Jungkook.

“Oi, bagaimana kabarmu?”

Satu lirikan Jungkook suguh, “Biasa saja.” Dia meletakkan buku dan melanjutkan, “Kau bilang terburu-buru.” Tatapannya jatuh pada benda flashdisk yang keberadaannya nyaris terlupakan, lalu ia memajukan dagu sekilas. Mengerti apa yang Jungkook maksudkan, Sehun baru sadar ia belum membubuhi penjelasan pada kejutannya. Seusai meminta Seunghee bersiap, lelaki ini duduk di samping Runa dan mulai bicara.

“Karya terbaik semester ini. Calon aktor paling tampan. Pacar kebangganmu. Semua di sini. Lihat setelah di rumah.” Setiap kata berakhir titik yang diutarakan beriring dengan telunjuk Sehun yang mengetuk-ngetuk flasdisk-nya. “Kejutan. Jangan terlalu memuji, tolong.”

“Sikapmu yang begini ini yang kadang menghalangiku bangga,” ejek Runa. Kendati begitu ia tetap meraih benda pemberian Sehun dan menyimpannya. “Cepat antar adikmu.”

Acakan tak lembut dilayangkan Sehun pada sang gadis sebelum pergi. Meninggalkan Runa kesal sendiri membenarkan tatanan rambutnya. Dia tak sadar wajahnya mengerut. Dikiranya Sehun akan mencari alasan untuk tinggal lebih lama.

“Aku dapat satu buku referensi. Lho, Seunghee sudah pergi?” Mendadak saja Baekhyun muncul setelah setengah jam menghilang di antara rak-rak buku. Runa yang  masih agak sebal makin menjadi berkat melihat buku yang Baekhyun ulurkan. “Ini sudah dipakai kemarin. Cari yang  benar dan berhenti tidur bersandar di rak, Byun Baekhyun. Jangan banyak alasan.”

Jungkook melirik Runa, lalu mengedik ke arah Baekhyun yang menguar ekspresi tanya.

Sementara Baekhyun pergi, Jungkook berujar pada gadis di sampingnya, “Dia memberimu flashdisk itu sebagai hadiah. Maksudku, isinya. Berhentilah merajuk seperti gadis kecil.”

“Aku tidak merajuk.”

Jungkook mana percaya.

Di saat yang sama, Sehun sudah berjalan beriringan dengan sang adik. Mereka baru saja berdebat kecil tentang hal tak penting. Usai tenang beberapa saat, suara Seunghee adalah yang memecah hening pertama kali.

“Kenapa tidak tinggal lebih lama tadi? Lagi pula, astaga, aku hanya akan ke salon dan Mama sudah ada di sana.”

“Aku juga tidak tahu,” Sehun menggaruk tengkuknya seklias, mendesah kesal. “Tidak tahu, deh. Jangan dipikirkan.” Sejujurnya ia hanya agak malu atau grogi atau sejenis itu usai memberi hadiah. Jelas saja Seunghee yang sudah menduga cuma menahan kekeh, “Jangan terlihat seperti lama tidak pacaran, dong.”

“Ini beda, Seunghee, beda. Kwon Runa beda.” Upaya pembelaan diri terus Sehun lontar. “Coba saja kau jadi aku.” Seunghee hanya tertawa, dia tak berminat membalas debat sama sekali. Dan akhirnya Sehun membua pembicaraan lagi, “Omong-omong, apa pendapatmu tentang Jeon Jungkook. Kudengar dia menyukai seseorang.”

“Benarkah?” Seunghee berdeham, “aku kurang tahu.”

“Bagaimana dengan Baekhyun? Dia menempel terus pada Runa, itu murni karena teman, kan?” Sebenarnya tak murni berprasangka buruk, Sehun hanya ingin bertanya. Namun Seunghee mengartikannya sebagai hal lain. Dia kira Sehun benar-benar cemburu―dalam artian tidak suka dan tidak bisa memahami―pada Baekhyun. Maka otak Seunghee berpikir cepat untuk menyanggah, namun sayangnya sekaligus bodoh.

“Dia menyatakan perasaan padaku. Jangan khawatirkan hubungannya dengan Runa.”

Cukup banyak hening yang Sehun biarkan menyelimuti tubuhnya dan Seunghee. Bukan apa-apa, hanya saja lelaki ini perlu mencerna apa yang akan ia lontarkan beberapa detik ke depan. Sayangnya kesempatan memecah sunyi lebih dulu disamar Seunghee dengan kalimat: “Aku menolaknya, dengan tersirat. Jika kupikir lebih lama, lebih baik kami bersahabat saja.” Sudah terlanjur. Seunghee tidak bisa bercerita pada Runa, dan secara kebetulan kakaknya menyangkut pembicaraan mengenai hal tersebut. Masa bodoh ke depannya bagaimana, yang jelas sekarang Seunghee lega.

Dan di sisi lain merupakan sebuah déjà vu bagi Sehun.

“Kenapa kau pikir lebih baik berteman?” Dia berpikir, apa jalan pikiran Runa dahulu sama dengan apa yang diutarakan Seunghee setelah ini?

“Ini sudah kupertimbangkan baik-baik.” Sebuah tarikan napas panjang, dan Seunghee mengembuskannya cepat. Dia mengukir seulas senyum kecil. “Kebanyakan orang melihatku sebagai gadis yang sombong, tidak tahu kenapa, mungkin karena sifatku yang sebelumnya sangat tertutup. Aku akui hanya pertemanan dengan lelaki yang membuatku nyaman. Tapi beberapa kali pertemanan itu berakhir dengan sebuah pernyataan perasaan,” cepat-cepat gadis tersebut menambahi, “bukannya sombong, maaf.”

Sehun sendiri mafhum, karena dilihat dari sudut mana pun Oh Seunghee memang mempunyai visual yang menarik dengan tubuh idealnya. Batinnya masih terus bertanya, untung saja sang adik lekas melanjutkan bicara.

“Mungkin terdengar menyedihkan, tapi baru kali ini, di tingkat dua ini aku benar-benar ingat bagaimana bahagia dengan pertemanan yang kujalani. Bukan hanya dengan lelaki, tentu saja. Menurut kakak, apa aku egois karena menginginkan semua kesenangan yang kualami tetap apa adanya?”

“Dengan menolak Baekhyun dan berharap semuanya kembali seperti biasa?” Sehun menambahi usai melihat angukan lawan bicara, “Jujur, kau menyukainya atau tidak?” Tahu bahwa diam yang Seunghee suguh begitu lama, si lelaki berucap lagi, “Jawabanmu berpengaruh pada jawabanku selanjutnya.”

“Dulu sekali, dan sebentar.” Singkat namun ada gurat malu. “Sejujurnya, para gadis memang agak sukar menolak lelaki humoris. Tapi, barangkali aku sudah bosan melihat lelaki seperti tu.”

“Kau kecewa?” Firasat Sehun yang sejauh ini ia pendam makin menguat. Sementara Seunghee mendongak dan melayang tatapan tanya, lelaki itu kembali  bertutur, “kecewa karna Baekhyun yang menyatakan perasaan padamu, dan bukannya Jeon Jungkook?”

Tatapan mereka terputus. Seunghee lebih memilh memandang jalanan seraya mencoba bernapas seperti biasa, layaknya ucapan sang kakak tak memberi pengaruh apa-apa. “Kenapa jadi Jungkook? Dia bahkan punya seseorang yang disukai.”

Dan Sehun hanya menggores senyum kecil karenanya, seiring dengan konversasi yang berakhir.

“Kau egois, Oh Seunghee. Namun di sisi lain tegas pada hidupmu. Itu bukan hal buruk jika kau sudah mempertimbangkannya.”

.

.

.

Kalau boleh berterus terang dengan cara norak, Runa bisa saja langsung menghambur menuju rumah Sehun dan memberi lelaki itu pelukan gemas. Yang tentu saja tak ia lakukan mengingat kadar harga dirinya masih saja tinggi. Lagi pula jika dipikir ulang, itu adalah ide yang menggelikan.

Tapi, bagaimana bisa Runa tak berpikir demikian jika ia yang baru saja tuntas menonton video yang ada di flashdisk, nyatanya kini begitu dibelenggu rindu. Norak, kan? Biarkan saja, kabut cinta memang sukar diabaikan.

Ada dua video yang diberi. Yang pertama video pertunjukan, yang kedua video di balik layar yang semuanya berisi sosok Sehun. Sebuah video sederhana yang Runa duga dalam pembuatannya Sehun dibantu oleh Taehyung. Isinya tak lain adalah kegiatan Sehun selama persiapan drama kelas, kala bermain, di markas, di sekolah, dan di beberapa tempat lain. Terkadang diambil dengan diam-diam. Tak ada pesan apa pun, namun nyatanya Runa mengerti.

Ini yang Sehun lakukan di luar sana. Secara tak langsung membuat Runa tenang dengan membayangkan apa yang Sehun lakukan selain di depan matanya.

Secepat kilat Runa menyambungkan panggilan pada nomor sang kekasih.

“Sudah lihat?”

Runa tersenyum saat Sehun sadar apa yang ingin ia bicarakan. “Sudah,” ucapnya kecil. ia berbaring di ranjang, memainkan jemarinya yang bebas.

“Jadi …” kentara sekali Sehun tengah berdeham dengan menjauhkan ponselnya sesaat, “aku hanya ingin menunjukkan apa yang aku lakukan, maksudku kebiasaanku, yaa semacam keseharian yang… begitu, deh, bingung menjelaskannya.” Sontak tawa Runa terpancing, ia mengumpat dalam benak mengenai betapa lucunya lelaki ini kadang-kadang.

“Iya, aku paham.” Kalau tersenyum adalah sebuah dosa, Runa sudah terjadwal masuk neraka sejak tadi. “Kau tahu aku malu mengatakan ini, tapi terima kasih. Aku suka.”

“Suka videonya?” Sempat-sempatnya Sehun memancing.

“Retorik. Kau bisa menebaknya dari nada bicaraku.” Bersyukur sekali percakapan ini tak terjadi secara langsung, Runa sudah cukup malu sekarang.

“Serius, Kwon Runa, aku bisa mendatangimu sekarang lho kalau kau begini.”

Keduanya sama-sama terkekeh. Kemudian Runa menanaggapi, “Walaupun itu manis, tapi tolong jangan lakukan, aku bisa geli sampai mual.”

“Kurasa juga begitu. Lagipula aku tidak mau disemprot Mama karena membiarkan adikku pergi sendiri.”

Langsung saja Runa mendelikkan mata, “Seunghee masih bersamamu? Oh, sialan, harusnya aku tak mengatakan hal aneh. Kenapa kau tak memberitahuku?” Di seberang sambungan, Sehun masih menahan kekeh, “Kukira kau sudah tahu, sa-yang-ku.” Sengaja sekali menjahili.

“Dasar! Ya sudah antar adikmu, kututup.”

.

.

.to be continue


12568703_1564147660577728_1742684074_n.jpg

♥247 likes

0hseunghee aku tidak tahu caption bagus untuk ini selain ‘teman’, itu bukan istilah basi, itu istilah dari hati

10 comments

oohsehunn @kwonruu @wenson tolong jangan ajari adikku yang aneh-aneh, biarkan dia bergaya normal

wenson oh sehun, kau merusak suasana @oohsehunn

kwonruu enyah @oohsehunn

jisookim nomormu masih yang dulu?

.

.

Di lain sisi, Baekhyun cuma tersenyum saat mengetuk layar ponselnya dua kali.


OIII MAKASIH BANYAK MASIH BACA, AH ALHAMDULILLAH KALYAND GABOSEN (padahal aslinya ada yang bosen, ya ngehibur diri dikit lah yaw, iyain ajah) wkwk.

Aku sempet mikir, bakal kangen keknya kalok fic ini kelar haha Tapi masa gak mau dikelarin wkwk Maksih buat semua dukungannya yak (kek acara survival gitu biar hitz) /g Yah, pokoknya gitu, sayang ngets deh ❤

.nida

12 tanggapan untuk “2ND GRADE [Chapter 31] by l18hee”

  1. Aah Baek.. 😥 Kok jadi ikut sedih ya pas Baekhyun di tolak rasanya tuh jlebb banget.
    Momen Sehun-Runa sukses bikin aku senyum-senyum sendiri 🙂 Oke semangat buat chapter selanjutnya menjelang End~ Fighting 🙂

  2. Ya lord…aku tu ya klo 2nd grade up pasti langsung senyum2 sendiri ….
    Suka banget ya Allah 😚😚😚😚😚
    Jngn cpt2 end.y ka nidaa…ntar gk ada yg tak tungguin😊😁

    1. kalok aku, pas liat komenmu aku senyum2 sendiri hehe /apasih nid
      UNCH MAACIW SAYANGQUE ❤
      ahaha sabar yah, sayangnya ini mau end :') aku juga asinya gak real 😥 huhu

  3. duuh mereka manis sekali runa sehun😊😊 baek sabar yaah pasti dapat jodohnya hehehe,,jangan2 jungkok sukanya sma runa oke di tunggu lanjutannya thor😘😘

  4. Jadi jungkook suka ama siapa?? Bukan runa kan?
    Ku gk tega baek, semoga hatinaya cepat pulih ya baekk
    Kutunggu chapter selanjutnya, omong omong fanfic di wattpad dilanjut kan nid? Hehehehe

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s