Jangan Paksakan Genggamanmu — Len K

Siapa yang akan terluka? Junmyeon atau Yifan? Atau keduanya?

JANGAN PAKSAKAN GENGGAMANMU

Storyline © Len K. Standard disclaimer applied. No profit taken from this fiction

 

Starring: Kim Junmyeon – Suho EXO, Kris Wu | Genre : Drama, Brotherhood, Bromance, Song-fiction, Angst(?) | Rate : T

 

WARNING!!

Canon!AU, possibly OOC, typo(s), OT12 just because, kata-kata umpatan dan makian (not that much but still, it does exist), unbeta-ed as usual

 

Terinspirasi dari lagu Pamit milik Tulus (silahkan putar sebagai musik latar)

Credit poster : to the owner as watermarked on it


 

 

Tubuh saling bersandar

Ke arah mata angin berbeda

 

Junmyeon pikir tingkah Yifan adalah suatu hal lumrah. Mereka baru saja debut di bawah agensi besar yang menaungi artis-artis terkenal yang dijadikan standar, patokan bagi industri dunia hiburan di Negeri Ginseng. Tentu ada beban tersendiri yang mereka pikul. Ekspektasi publik yang besar terletak di pundak mereka, menambah beban berat pada apa yang jadi mimpi mereka. Belum soal cibiran-cibiran yang tertuju pada grup mereka. Grup gagal, begitu kata sebagian orang.

Jadi Junmyeon tidak banyak bicara ketika ia melihat Yifan yang lebih sering membuang pandang ke arah luar jendela kala van yang mereka tumpangi melaju di jalanan. Atau ketika Yifan lebih sibuk dengan ponselnya. Mungkin Yifan lelah, mungkin Yifan merindukan keluarganya, mungkin Yifan memikirkan segala komentar buruk soal dirinya—soal grup mereka.

Tapi tidak pernah sekalipun terbersit dalam benak Junmyeon; mungkin Yifan mulai jengah dengan ini semua, mungkin Yifan mulai bertanya-tanya apakah ini semua berarti atau tidak, mungkin Yifan mulai mempertanyakan apa yang sebenarnya ia lakukan saat ini.

Junmyeon selalu melihat ke depan. Sementara Yifan terlalu banyak melihat ke segala arah.

 

 

 

Kau menunggu datangnya malam

Saat kumenanti fajar

 

Mungkin Junmyeon bukan manifestasi mentari seperti Baekhyun, atau mood-maker seperti Chanyeol. Tapi Junmyeon adalah sosok yang—cukup—optimis dalam memandang semua hal. Mendekam selama kurang lebih tujuh tahun di perusahaan dengan status ‘trainee’ yang mengajarkannya soal optimisme.

Maka dari itu Junmyeon sungguh optimis mengenai nasib grupnya, grup mereka. Tak peduli cibiran apa saja yang orang-orang lontarkan, mereka akan terus maju. Karena pada akhirnya mereka tidak bisa begitu saja menghilangkan semua komentar buruk itu kan? Maka dari itu Junmyeon selalu optimis menanti pagi tiba. Ia akan menunjukkan pada semua orang bahwa grup mereka bukanlah suatu kegagalan, bahwa grup mereka akan jadi besar, bahwa grup mereka akan mencapai sukses dengan cara mereka sendiri tanpa bayang-bayang para senior mereka.

Sedikit yang Junmyeon ketahui bahwa Yifan adalah kebalikan darinya.

Yifan tidak pernah menantikan yang namanya pagi hari. Yifan selalu menantikan malam tiba. Saat van mereka melaju di jalanan yang tidak begitu padat bahkan sepi. Saat mereka bisa merasakan tidur barang satu atau dua jam. Saat pikiran-pikiran yang berbau filosofis dapat dengan cepat hinggap dan menyita atensi mereka. Saat rindu semakin menyesakkan dada. Saat semua kenapa semakin gencar meracuni pikir.

 

 

 

Izinkan aku pergi dulu

Yang berubah hanya tak lagi milikmu

 

Ketika itu Junmyeon sudah terlambat menyadari semuanya.

Semuanya bermula saat kemewahan tidur lebih dari tiga jam itu mereka dapatkan. Yifan tiba-tiba saja mengiriminya pesan secara pribadi. Memintanya untuk keluar sejenak untuk mencari makan dan udara segar. Permintaan Yifan sebenarnya cukup beresiko. Pertama, ini sudah hampir tengah malam dan jadwal mereka masih padat untuk keesokan hari. Kedua, jika manajer mereka tahu mereka makan, mereka pasti akan dimarahi. Jadwal comeback sama saja dengan membatasi semua yang masuk ke mulut mereka. Tapi anehnya Junmyeon mengiyakan saja.

Setelah penyamaran yang terdiri dari mantel panjang, topi, dan masker, kedua leader itu menuju ke restoran cina yang letaknya cukup jauh dari dorm mereka. Butuh sekitar lima belas menit untuk tiba ke sana menggunakan kendaraan umum, dan kali ini keduanya memilih untuk naik taksi. Tidak banyak konversasi terjadi selama lima belas menit itu. Hanya pembicaraan mengenai pekerjaan mereka. Pun saat waktu makan tiba.

Yifan memang tidak banyak bicara. Tapi kali ini Yifan lebih diam dari biasanya. Dan bagi Junmyeon hal itu tidak biasa. Ada yang mengganjal. Namun belum sempat Junmyeon bertanya, ia sudah dihadapkan oleh apa yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya.

“Aku ingin meninggalkan EXO.” Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong yang menyambar Junmyeon.

Kemudian hening selama beberapa saat. Sebelum akhirnya bibir Junmyeon yang bergetar menanyakan satu “kenapa”.

Yifan menggeleng pelan. “Aku tidak bisa. Semua ini … aku tidak bisa melanjutkannya.”

Satu “kenapa” lagi dan jawaban yang sama kembali Junmyeon dapatkan lalu hening kembali menyelimuti mereka.

“Apa ini karena semua komentar buruk itu?” tanya Junmyeon.

Lagi, Yifan menggeleng. “Tidak. Tapi yah, kurasa mereka ada benarnya. Aku adalah lubang hitam dalam grup. Aku tidak ahli dalam menari, suaraku payah untuk jadi vokalis, bahkan rap-ku juga biasa saja. Visual tanpa kapabilitas,” Yifan tersenyum miris. “Tapi sungguh, bukan karena itu,” lanjut Yifan dengan bersungguh-sungguh.

“Lalu kenapa?”

“Seperti yang kukatakan tadi Jun, aku tidak bisa melanjutkan ini semua.”

“Lalu bagaimana dengan grup?”

“Mereka akan baik-baik saja. Masih ada kau.”

Seketika melankoli yang menggelanyuti Junmyeon berubah menjadi amarah. Dua tangan Junmyeon segera mencengkram kerah jaket pria bermarga Wu itu dan melemparkannya ke lantai. Beruntung restoran dalam keadaan sepi. Hanya ada bibi penjual dan dua pelayan yang melihat penuh keingintahuan ke arah mereka tapi tidak berani untuk melerai.

“Keparat kau, Yifan!”

Kemudian urgensi untuk menghajar Yifan menjalar di tubuh Junmyeon. Namun nampaknya sedikit akal sehat Junmyeon masih bertahan. Ia tidak bisa menghajar Yifan di tempat terbuka, mereka masih dalam masa promosi. Jadi kemudian Junmyeon menghajar kawannya itu, tepat saat Yifan hendak bangkit, berkali-kali.

“Beraninya kau berkata seperti itu! Dasar bajingan!”

Amarah sudah menguasai Junmyeon. Cukup satu kalimat untuk memicunya. Mereka akan baik-baik saja. Masih ada kau. Apa Yifan lupa jika ia sendiri adalah leader?

“Dimana tanggung jawabmu?! Keparat!” Junmyeon masih setia menghajar Yifan dengan kakinya.

“Seenaknya menimpakan semuanya padaku! Bajingan kau!”

Junmyeon terus menghajar kawannya sampai emosinya menguras semua energinya yang tersisa. Dan Yifan hanya diam menerima itu semua.

 

 

 

Sudah coba berbagai cara

Agar kita tetap bersama

Yang tersisa dari kisah ini

Hanya kau takut kuhilang

 

Saat Yifan lagi-lagi absen dari kegiatan grup dan memilih untuk terbang ke Kanada untuk yang kesekian kalinya, Junmyeon hanya diam. Bukan urusanku, itu adalah apa yang lisannya katakana. Tapi lain di hati. Junmyeon sengaja membiarkan Yifan untuk pergi ke Kanada. Junmyeon tahu Yifan rindu akan rumahnya, akan keluarganya. Junmyeon juga tahu rindu itu berat. Jadi Junmyeon membiarkan Yifan melepaskan semua rindu itu.

Dengan harapan Yifan akan tetap bertahan dalam grup mereka.

Setelah malam dimana ia menghajar Yifan, perilaku Junmyeon juga berubah menjadi lebih perhatian, lebih lunak. Seakan-akan semua emosinya sudah terluap pada malam itu juga. Padahal kenyataannya belum. Junmyeon hanya menekan emosinya dengan logikanya. Junmyeon takut jika emosinya meledak, maka Yifan akan langsung pergi begitu saja.

Maka Junmyeon memulai dengan perhatian-perhatian kecil. Baik itu verbal maupun sentuhan fisik kecil sebagai tanda bahwa ia mendukung Yifan; tepukan di bahu, genggaman tangan, sejenisnya.

Bagaimana harimu?

                Apa kau sudah makan? Ayo makan bersama!

                Semangat!

                Jadwalmu sudah selesai?

                Apa yang ingin kau lakukan di waktu luang besok?

                Kantung matamu membesar, kau tidak cukup tidur?

                Kudengar kau menulis lirik, sudikah kau berbagi denganku?

                Hei, kerja bagus hari ini!

 

Junmyeon tidak ingin mengakui kenyataannya. Kenyataan bahwa sebenarnya, dirinyalah yang takut jika Yifan pergi. Kenyataan bahwa dirinya takut kehilangan tempat untuk bersandar. Kenyataan bahwa ia takut kehilangan penopangnya.

 

 

 

Perdebatan apapun menuju kata pisah

 

Sepertinya usaha Junmyeon sia-sia. Ini bukan karena Junmyeon tidak cukup keras berusaha. Bukan. Tapi memang karena keputusan Yifan sudah bulat. Ketika di sela-sela jadwal mereka Junmyeon bertanya mengenai keinginan Yifan untuk meninggalkan grup—berharap jawaban Yifan akan berbeda dari tempo hari—jawaban Yifan tetap sama.

“Aku akan tetap meninggalkan grup, Jun.”

Dan itu adalah permulaan dari rentetan perselisihan mereka. Permulaan dari suatu siklus sama yang mereka alami, yang berakhir dengan akhir dan jawaban yang sama.

 

 

Jangan paksakan genggamanmu

 

“Biarkan aku pergi, Jun.”

Kalimat itu meluncur dari mulut Yifan. Mati-matian yang lebih tua itu menahan gejolak emosi yang dirasakannya. Agar air matanya tidak keluar, agar suaranya tidak bergetar, agar raut wajahnya tidak menunjukkan setitik emosi apapun.

Junmyeon kontan menggeleng. Ia tidak rela. Ia tidak bisa. Ia tidak sanggup.

“Junmyeon.” Yifan memanggil setelah ia menata diri agar sanggup menatap Junmyeon. Tapi Junmyeon langsung membuang muka.

 

 

 

Kau masih bisa melihatku

Kau harus percaya

Kutetap teman baikmu

 

Tangan besar Yifan terulur pada Junmyeon malam itu.

“Untuk apa?” Junmyeon bertanya.

“Untuk semua,” jawab Yifan. “Untuk jadi teman baikku, rekan yang hebat, senior yang baik—karena masa training-mu yang lebih lama, singkatnya … untuk semua.”

Junmyeon tersenyum miris. Apakah ini yang namanya sakit tapi tidak berdarah?

“Pada akhirnya … tidak peduli sekeras apapun aku berusaha mencegahmu, kau tetap akan pergi, kan?” Junmyeon berusaha agar tidak runtuh di hadapan Yifan. Tidak kali ini.

Dan entah apa Junmyeon harus merasa senang atau semakin sedih kala ia melihat sorot rasa bersalah di mata Yifan.

“Ya,” balas Yifan singkat. Suaranya parau dan ia berusaha menghindari kontak mata.

“Kapan?”

“Apa?”

“Kapan kau akan pergi?” susah payah Junmyeon melontarkan pertanyaan itu.

“Besok.”

“Kau akan kembali ke Kanada? Atau Tiongkok?”

“Mungkin Tiongkok. Atau aku akan langsung ke Praha. Sudah ada proyek di sana.”

“Oh.” Junmyeon mengangguk. “Semoga beruntung.”

“Ya. Terima kasih.”

Setetes air mata keluar dari mata Junmyeon tanpa pria itu inginkan. Dan rasa bersalah yang menghujam Yifan tidak mampu meluluhkan niatannya untuk pergi.

“Ayolah Jun, aku tidak pergi ke dimensi lain atau ke galaksi lain,” Yifan berusaha melucu meski getir adalah rasa ia cecap saat ini. “Aku masih temanmu.”

Saat itu Junmyeon ingin mempercayai apa yang Yifan katakan. Tapi pada kenyataannya ia mulai meragukan perkataan Yifan saat Yifan tidak pernah menghubunginya lagi.

 

FIN

 

A/N        :

Hampir tengah malam dan masih dalam keadaan flu. Seharusnya ane tidur sebelum bangun pagi-pagi besoknya (karena HARUS bangun pagi—astagakenapaharus). Tapi apa daya … meski KrisHo sudah karam, tapi perasaan ane akan KrisHo akan tetap berlayar.

Berkat twit sederhana kak Ronzy Kevin di twitter, dimana dia posting gambar Kris meluk Baekhyun di era Growl, tiba-tiba aja ane kembali merindukan masa-masa EXOT12 dan lagu Pamit punya Tulus secara otomatis terputar sebagai musik latar kala itu. Dan pikiran ane yang melanglangbuana sampai ke KrisHo menghantarkan ane untuk melahirkan fanfiksi ini.

Ingin rasanya mengumpat dan berkata kasar. SAMPAI KAPAN ANE BAKAL BERHENTI JADI MASOKIS AKAN EXOT12?! KAAAAPPPAAAAAAAAAAAAANNNN?! /mojok/

 

Adios! Ane butuh tidur sebelum flu ini makin parah, heuheuheuheu

 

 

PS           :

Kayaknya proyek ane bakal telat mengudara

Astaga, hutang fanfiksi pula

Tunggu

Biarkan ane bernafas

 

5 tanggapan untuk “Jangan Paksakan Genggamanmu — Len K”

  1. aren’t we all are masochist… Aing juga heran, ada couple pair suho lain, tapi gak bisa berpaling dari krisho/jadi inget yunjae shipper kek gini juga kali yak nyesek/
    Rasanya masih kek baru pertama kali ngeship mereka, huehue walaupun asupannya cuman fanfic/semakin dikit/ tapi tak apalah…
    Kadang kalo baju samaan atau konsep makan samaan/maksa/ suka ngehalu dan baper wkwkw hadoooh
    Krisho moodboard bikin semriwing mata ama hati yeth…
    Kalo suho ama kris ketemu di publik bakalan kena masalah besar nggak ya?

    1. We are INDEED MASOCHIST for that damn wrecked ship (•̩̩̩̩_•̩̩̩̩)
      Sama woyyy, mau hunho, chanho, dan lain-lain, rasanya tuh tetep krisho yang jadi juaranya
      Kalo yunjae mah legend tuh couple. Udah ga ada interaksi berabad-abad, shippernya masih banyak dan setia. Mana kemarin-kemarin pas mereka wamil sempet ketemu kan.
      Nah kalo krisho? Ketemu dimanaaaa? 😭😭😭 Di bawah langit di atas tanah yang sama aja belom tentu ketemu 😭😭
      Coba maen ke ao3, banyak tuh ff krisho. But in english if you don’t mind
      Tenang, kau tak sendiri /pukpuk/
      Yg ada chaos kalo mereka ketemu 😅😅

  2. Sebenernya aku sdh mulai lupa sama Kris..gk pernah cari tau ttng dia lgi hanya fokus ke EXO…tpi ttp aja klo baca yg Kya gini nangis😭😭😭😭😭
    Miss U Laxy😭

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s