[SHIN TAMA production] – GRAFFITI [oneshoot]

SHIN TAMA

Production

Graffiti || Oh Sehun X Han Yoshie || Oneshoot

Romance || Teen

 

Jam pertama pelajaran berakhir. Murid XI.3 jurusan bahasa asing bersiap mengikuti jam pelajaran kedua, olahraga. Yoshie hanya bisa duduk dikursinya seraya melihat semua teman kelasnya meninggalkan ruangan. Sangat disayangkan melewatkan pelajaran favoritnya itu karena kondisi kaki Yoshie yang sedang terkilir.

“Kau tidak pergi?” Yoshie menoleh ke belakang kursinya dan mendapati salah satu teman sekelasnya masih berada di kursinya.

“Aku sedang mengerjakan tugas.” Sehun tak berpaling dari buku catatannya, tangannya lincah memainkan pinsil di atas kertas kosong itu.

“Heol…” dengus Yoshie yang melihat apa yang tengah dikerjakan laki-laki itu. “Ck, menggambar tulisan seperti itu kau bilang tugas.” Ucap Yoshie, lalu berpaling. Kembali ke posisinya semula.

Sehun tersenyum tipis dan sekilas melihat Yoshie yang memunggunginya. “Namanya huruf ‘Graffiti’ bukan ‘tulisan seperti itu’ “ timpal nya.

“Terserah apa namanya, aku tidak bisa tulisan aneh itu. Dan lakukan sesukamu, asalkan kau tidak mencoret-coret bagian buku pelajaranku la…” kalimat Yoshie terpotong. Ia baru sadar bahwa buku catatan bahasa Jepangnya lenyap dari mejanya. Jangan-jangan… “Yaaaak Oh Sehun! Sudah kuperingatkan jangan mencoret-coret buku catatanku lagi.” Pekik Yoshie ketika tahu, ternyata buku yang digunakan Sehun adalah buku catatannya.

“Sudah selesai. Bagus bukan? Ah tapi sayang sekali, kau tidak bisa membacanya.” Sehun beranjak dari kursinya, meletakan buku itu di meja pemiliknya, dan melengos dengan wajah tanpa dosa.

Yoshie hanya menampakkan wajahnya yang melongo, membiarkan laki-laki itu melenggang meninggalkan ruangan. Ia menyesalkan tidak cepat-cepat meraih penghapus papan tulis, lalu meleparkannya ke kepala laki-laki itu.

***

 

Mungkin ada benarnya juga kata pepatah ‘mulut lebih tajam daripada pisau’. Kalimat gadis-gadis itu membuat telinga Yoshie panas dan menyebabkan dadanya sesak. Mereka bilang uang kas itu diselewengkan lah, uang kas itu hilang hanyalah sebuah alasan lah, dan masih banyak lagi fitnah yang disebarkan. Yoshie berani sumpah demi apapun, bahwa ia sama sekali tidak pernah menyentuh sedikitpun uang kas untuk keperluan pribadi. Harus seperti ini kah menjadi seorang bendahara di sebuah organisasi sekolah?

Yoshie melekatkan pipinya di meja. Tubuhnya lemas tak bertenaga. Matanya terpejam untuk bebrapa saat. Sampai terdengar suara ketukan pintu ruang redaksi mading sekolah di ketuk. Yoshie membuka matanya, lalu mengidentifikasi orang itu.

”Kau tidak pulang?” Sehun bersuara sambil bersandar di ambang pintu.

Yang ditanya hanya diam tanpa niat menjawab pertanyaan laki-laki itu, malah membenamkan wajahnya di kedua tangan yg dilipat di atas meja. Sehun menyatukan alisnya ketika melihat respon gadis itu. Kemudian ia megambil tempat di kursi tepat samping Yoshie.

Setiap energi yang dipancarkan gadis itu seperti menular kepadanya. Ketika gadis itu ceria, ia ingin terssenyum bersamanya. Dan sebaliknya, ketika gadis itu sedang murung, ia sama sedihnya. Ingin Sehun menyentuh pucuk kepala gadis itu untuk sekedar mengatakan ‘Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja.’ Namun Sehun tidak cukup dekat untuk melakukan hal itu.

“Apa tampangku ini seperti pencuri atau koruptor.” Yoshie mengangkat wajahnya menghadap Sehun.

“Bagaimana bisa kau berfikir seperti itu?” Sehun balik bertanya.

“Uang kas organisasi kami hilang, dan mereka mencurigaiku bahwa aku yang menggunakannya. Huhh, sungguh aku tidak melakukannya.”

“Kau memang tidak melakukannya.” Respon Sehun enteng namun tanpa ragu.

Yoshie tersenyum masam. Andai mereka juga beranggapan seperti laki-laki dihadapannya ini.

***

 

Yoshie melirik jam dingding, jam 6 petang. Sangat lama ia merenung di ruangan itu. Mungkin ia satu-satunya siswa yang masih berada di gedung ini. Dengan malas ia meraih tas punggungnya lalu berjalan gontai keluar ruangan.

“Sehun.” Yoshie menggumamkan nama itu ketika melihat si pemilik nama tertidur di kursi panjang depan ruang redaksi dengan tas punggung menjadi bantalannya. “Hei Sehun-ah…” panggilnya lagi sambil menarik ujung kemeja laki-laki itu. Sehun terjaga. Ia merenggangkan tubuhnya sampai ia mendapat kesadaran seutuhnya.

“Kenapa belum pulang?”

“Aku menunggumu, Ayo pulang.” Sehun beranjak dari tempatnya, lalu mulai memimpin jalan.

Agak heran. Namun Yoshie tidak punya pilihan, selain mengekor laki-laki itu.

***

 

Awal semester ganjil dimulai. Banyak yang berubah. Ruang kelas baru, wali kelas baru, teman-teman baru, dan buku catatan baru. Yoshie membuka halaman paling belakang buku catatannya. Kosong. Kemudian ia menoleh ke belakang kursinya. Tidak ada Sehun. Tidak ada gambar aneh yang disebut Graffiti di bagian belakang buku catatannya.

“Jadi kan mengerjakan tugas dirumahku?”

“Jadi. Tunggu sampai aku selesai merapihkan lokerku.” Balas Yoshie seraya mengeluarkan hampir semua isinya, lalu memasukkannya ke dalam kotak karton. Buku-buku catatan semester lalu, dan bebrapa peralatan tulis.

“Kau suka menggambar graffiti?” tanya Nam Joong sambil membuka buku catatan milik temannya itu.

“Bukan aku yang menggambarnya, tapi Sehun. Bahkan namja itu menggambar di setiap buku catatanku. Ck, kurang kerjaan sekali anak itu.”

Nam Joong mengambil buku catatan lain dari kotak karton itu. Membaca graffit lainnya. “Dan kau sama sekali tidak tahu artinya ini?” ia mengacungkan buku catatan yang penuh dengan huruf graffiti kepada Yoshie.

“Aku memang tidak bisa membacanya.” Aku Yoshie.

“Ck, pabo.” Dengus Nam Joong.

Yoshie heran dengan sikap temannya yang mendadak menggerutu.

“Biar ku bacakan satu-persatu semua huruf graffiti di buku mu ini.” Nam Joong berkata lagi.

“Kau cantik”

“Kau imut”

“Kau Pintar”

“I miss you”

“I love you”

“Aku merindukanmu, walaupun kau ada di depanku” Nam Joong tersenyum, lalu melirik Yoshie yang mematung di tempatnya. “Bagaimana bisa kau tidak peka dengan hal seperti ini?” Nam Joong menghela napas berat.

“Nam Joong-ah, maukah kau mengajariku bagaimana cara membuat huruf graffiti?”

***

 

Tidak seperti kantin ataupun aula olahraga yang ramai. Rak-rak berisi buku berjajar rapi di setiap sudut ruangan. Tempat itu hening walaupun ada orang disana. Hanya ada dua alasan kenapa Sehun menginjakkan kaki ke perpustakaan. Yang pertama, untuk tidur di balik salah satu rak buku yang ada disana. Dan yang kedua, untuk melihat Han Yoshie. Gadis itu rutin menyambangi perpustakaan untuk mengerjakan tugas atau sekedar meminjam buku. Hari ini alasan kedua yang digunakan Sehun. Ia merindukan gadis itu. Sudah beberapa hari sejak mereka memasuki tahun ajaran baru, ia tidak melihat Yoshie. ‘Aku merindukanmu, walaupun kau ada di depanku’ kalimta yang pernah Sehun tulis di buku catatan gadis itu. Ia masih mengingatnya dan merasakannya.

Satu jam berlalu. Sehun membuka mata. Pandangan Sehun beralih keluar jendela. Warna langit mulai memudar. Menjadi lebih gelap tapi tidak hitam. Alasan kedua tidak tercapai, ia malah ketiduran. Mungkin hari ini Yoshie tidak ke perpustakaan, pikirnya.

 

Ujung mata Sehun menangkap secarik kertas di atas meja. Tidak ada kertas itu Sebelum ia duduk disana. Ia mengambilnya. Ada huruf graffiti di atasnya. ‘I love you too’ kalimat itu yang tergores di kertas. Pupil mata Sehun melebar ketika membaca rangkaian huruf nama si penulis yang berukuran kecil di bagian pojok kertas, Han Yoshie.

Sehun melangkah cepat nyaris berlari keluar perpustakaan. Tidak menemukan gadis itu. Sehun pergi ke kelas Yoshie. Dan dia juga tidak ada disana. Ia mengacak pucuk kepalanya sendiri hampir putus asa. Jantung Sehun terasa akan menerobos keluar dari rongga dadanya. Yang saat ini ia inginkan adalah melihat gadis itu.

“Kau mencariku?”

Sehun mengangkat kepala yang sedari tadi menunduk. “Yoshie” gumamnya. Gadis itu berdiri di ujung koridor dekat tangga. Dari kejauhan ia melihat senyum gadis itu. “Kau serius dengan ini?” tanya Sehun ketika ia sudah berada di hadapan gadis itu seraya menunjukkan selembar kertas bertuliskan huruf graffiti.

Yoshie membenarkan dengan anggukan.

Sehun mengulum senyum sambil mengusap belakang lehernya. Salah tingkah, itu kentara sekali.

~FIN~

Satu komentar pada “[SHIN TAMA production] – GRAFFITI [oneshoot]”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s