[Vignette] Night Talks by ShanShoo

8d714eb2efa1a8cf2932fb9fc27268f9

ShanShoo’s present

Jongin with Chanyeol

Peringatan : fanfiksi ini nonbaku, mengandung bahasa kasar dan juga unsur lainnya yang tidak layak dibaca untuk pembaca di bawah umur 17 tahun! Jadi, yang ngerasa masih di bawah umur, tinggalkan cerita ini, kaiii? 😉

—oOo—

WordPress : ShanShoo || Wattpad : @Ikhsaniaty

—oOo—

Jongin baru saja menyelesaikan tugas akhir yang selalu dipertanyakan oleh dosen pembimbingnya akhir-akhir ini. Kalau bukan karena dia yang terlampau malas untuk pergi berkonsultasi dengan dosen pembimbingnya itu kapan pun dia memiliki waktu luang, mungkin isinya tidak akan selalu terhenti di bab dua, bab di mana dia harus mencari berbagai sumber atau artikel atau apa saja yang bisa dijadikan sebagai acuan materi yang diangkatnya sebagai bahan tugas akhir.

Jadi, ketika Jongin sudah memasukkan semua sumber materi dari buku hasil pinjaman yang dilakukan oleh adik tingkatnya (iya, Jongin terlalu malas pula melangkah ke perpustakaan hanya untuk meminjam buku) dan melirik jam yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari, ia segera beranjak dari kursi belajarnya menuju tempat tidur, andai seseorang di luar pintu apartemen yang ia sewa (Jongin memang seorang mahasiswa akhir semester, tetapi karena ia termasuk orang yang berada, ia bisa menyewa apartemen cukup mewah itu) tidak menekan belnya berkali-kali hingga membuat Jongin mengerang frustrasi di tengah rasa kantuknya yang luar biasa.

Awalnya Jongin mencoba mengabaikan seseorang di luar sana, tetapi orang itu malah semakin gencar menekan belnya dan tindakannya itu memancing emosi yang perlahan terkubur akibat kantuknya yang tidak tertahankan. Maka, dengan langkah setengah diseret, Jongin menekan tombol interkom di dinding ruang tengah apartemennya dan bertanya galak, “Siapa sih, yang bertamu di jam segini? Nggak lihat apa, sekarang udah jam berapa?!”

Sosok di luar sana terkekeh singkat sebelum menyahut, “Lagak lo ambekan kayak cewek PMS. Bukain pintunya cepet!”

Jongin membuka mata sepenuhnya kala ia mendengar suara familier itu. Diiringi desahan tak rela, Jongin menekan tombol buka dan otomatis, pintu apartemennya tak lagi dikunci. Langsung saja sosok itu membuka pintu dengan semangat (seakan waktu bukanlah penghalang semangatnya) dan berderap cepat menghampiri Jongin yang masih berdiri di depan mesin interkom.

“Ah setan, gue mau tidur, tapi lo malah dateng! Ada apaan sih?!” Walaupun Jongin membiarkan sosok itu masuk, ia tetap merasa kesal bukan main, tetapi memilih ikut duduk di sofa samping karibnya yang sibuk mengeluarkan berkaleng-kaleng bir dari kantung plastik berlogo minimarket yang mungkin disambanginya tadi di dekat gedung apartemen.

“Gue nggak lupa ya, Jong. Tadi di kelas lo enak tidur sampai pak Seno nyaris nimpukin lo pake spidolnya. Nah, berhubung lo kelihatannya sekarang kuyu banget, mending lo nemenin gue minum bir sambil nonton teve. Ada tayangan ulang Conjuring di channel kesukaan gue.” Chanyeol, mahasiswa yang sama-sama duduk di kursi kelas departemen teknik mesin itu menyambar remote teve di atas meja kopi, lalu menyalakannya sembari menggenggam sekaleng bir yang sudah ia buka.

Layar teve menyala. Chanyeol kemudian menekan nomor channel dan kebetulan, iklan komersil sedang tampil saat ini. Jadi, Chanyeol memanfaatkannya untuk menoleh pada Jongin yang duduk menyandarkan kepalanya ke badan sofa. “Woy, Tem! Lo nggak denger tadi gue ngomong apaan?”

“Apaan?” sahut Jongin, setengah menggumam.

Chanyeol mendesah keras, menggeleng, lalu mengambil kaleng bir lain dan membukanya sebelum disodorkan ke tangan Jongin. “Nih, minum. Biar seger.”

Jongin mengangkat kepalanya, memerhatikan kaleng bir di tangannya dan berkata, “Lo nggak ada kasihan-kasihannya ya, sama gue? Dari tadi gue ngerjain TA dan baru nyampe bab dua. Dan sekarang gue butuh banget tidur.”

“Biasanya juga tidur di kelas,” sahut Chanyeol tak acuh.

“Gue pengin maki lo, tapi sekarang mulut gue lagi baik,” kata Jongin setengah mendesis. “Lagian, lo ngapain dateng ke sini, hah? Keran di apartemen lo rusak lagi? Pindah, udah. Apartemen bobrok gitu ditempatin,” dia melanjutkan dengan nada sarkastik, namun lagi-lagi Chanyeol tak mengindahkannya.

Yah, meskipun ucapan Jongin ada benarnya (tentang apartemen bobrok itu). Chanyeol seharusnya memilih pindah dan cari apartemen lain yang lebih layak, seperti yang dihuni Jongin (tetapi yang ini lebih mewah, melewati harapan Chanyeol), andai dia tidak terlanjur nyaman dengan tempat tinggalnya itu.

“Wah, sayang sekali, Bos. Kali ini masalahnya bukan dari keran air.” Chanyeol mulai fokus ke layar teve yang menayangkan film Conjuring yang sempat tertunda karena iklan tadi, meski ia tidak terlalu memerhatikannya seperti yang diinginkan. Pikirannya sedang terganggu, itulah sebabnya mengapa ia datang kemari dan membeli berkaleng-kaleng minuman bir untuknya (dan Jongin, kalau dia mau).

“Ya terus apa?” Jongin hanya bisa mendesah pasrah. Ikut menyesap bir di tangannya yang awalnya terasa pahit di lidah.

Untuk sesaat, keheningan mengambil ali. Membiarkan suara-suara menyeramkan di film itu menjadi latar belakang suasana mereka. Tidak ada dari mereka yang takut, tentu. Mereka sudah terlalu sering menonton film horor sedari dulu.

“Ini tentang… Hyerin,” kata Chanyeol, beberapa saat setelah ia mengembuskan napas panjang. “Kayaknya… dia mau minta putus sama gue gara-gara gue nggak bisa menuhin segala keinginan dia.”

“Dasar bucin,” komentar pedas itu terlontar dari bibir Jongin secepat kilat. “Si Hyerin kasih pelet apa sih, sama lo? Bisa-bisanya seorang Chanyeol yang terkenal akan kebiadabannya tiba-tiba lemah di depan cewek iblis itu?” katanya lagi, lebih pedas dari sebelumnya.

Semua ucapan Jongin benar-benar tepat sasaran. Maka dari itu, ia tidak memakinya. Dan ia hanya berkata, “Iya, kayaknya gue beneran kena pelet Hyerin, nggak tahu dari kapan.” Wajahnya setengah melamun kala berbicara seperti itu.

Jongin menyesap lagi birnya, sementara Chanyeol menggenggam erat kaleng birnya di tangan kiri. Matanya memang terpaku pada teve, tetapi tidak dengan pikirannya. “Lo bisa dapetin cewek yang lebih dari Hyerin. Yah, bukan yang lebih iblis, maksudnya, tapi yang lebih nurut sama lo. Yang lebih diem mulutnya dibandingkan dia. Yang lebih…”

“Gue tahu itu, Jong, tapi tetep, gue nggak bisa semudah itu berpaling dari dia. Bagi gue, dia itu semacam oase di gurun. Dia ada buat gue itu udah semacam keajaiban yang datang buat kehidupan gue.”

“Budak cinta ya yang kayak lo, nih.” Ucapan sarkastik itu kembali terlontar. “Musnah sana lo.”

Chanyeol tersenyum muram mendengar ocehan kasar Jongin. Untungnya ia tidak terlalu diambil hati. “Mungkin, lo juga harus cepet-cepet ada di posisi gue, supaya lo bisa ngerasain, gimana rasanya jadi gue.”

“Ogah banget.” Jongin berdecak kesal. Chanyeol tidak perlu memastikan dua kali dengan kenyataan Jongin yang membenci Hyerin setengah hidup. Jongin itu sama sepertinya, memainkan hati perempuan sampai puas dan meninggalkan mereka ketika dia sudah mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi Jongin sangat pintar dalam mencari perempuan yang kriterianya tidak sama dengan yang dimiliki Hyerin. Bagi Jongin, Hyerin terlalu egois, mengekang dan terlalu menyebalkan untuk dijadikan sebagai pasangan sesaatnya.

Begitu kaleng minumannya habis, Jongin meletakkannya dengan kasar di atas meja, lalu beralih menatap Chanyeol, memicing. “Gini ya, Yeol, kalau niat lo datang kemari cuma buat curhat nggak mutu macem cewek puber kebelet pacaran, mendingan lo balik aja ke tempat asal lo. Gue nggak menampung segala macam curhatan yang berhubungan sama tuh cewek.”

Jongin baru bangkit dari sofa dan suara Chanyeol menghentikan pergerakannya, “Gue datang kemari bukan cuma buat ngomongin tentang Hyerin.”

Jongin menatapnya serius dan memutuskan untuk menghempaskan lagi bokongnya di sofa. “Terus?” tanyanya malas. Sungguh, ia ingin segera pergi tidur untuk menghilangkan lelah di tubuhnya.

“Seperti apa yang lo bilang tadi, gue pengin bisa cepet-cepet lupain Hyerin ketika dia minta putus ke gue,” Chanyeol berkata sambil menatap mata Jongin penuh keseriusan, sama seperti mata Jongin. Dan setelah ucapan itu terlontar, Chanyeol bisa melihat adanya seringai penuh kemenangan di bibir tebal karibnya itu.

“Lo mungkin tadi kesurupan setan Conjuring, ya, sampai-sampai lo belagak melow-melow nggak jelas gitu?” tanya Jongin tanpa menanggalkan nada sarkasnya.

“Setan Conjuring mana ada melownya, Jong? Serem yang ada,” Chanyeol berusaha bergurau di tengah sakit hati yang secara perlahan menggerogotinya (sakit yang sudah hadir bahkan sebelum ia dan Hyerin memutuskan hubungan).

Jongin tertawa sebentar, meluapkan bahagia karena karibnya telah kembali seperti dulu. “Oke, oke. Gue ngerti. Akhirnya lo sadar juga. Yah, meskipun sadarnya baru segede upil.”

“Bacot,” tukas Chanyeol. “Kalau dipikir-pikir sih, cewek macem Hyerin emang nggak bakalan sehat buat gue, buat ke depannya juga. Ah, dodol emang.”

“Yang dodol siapa, ya, kalau boleh tahu?”

“Gue. Puas lo?”

Jongin kini tertawa mengejek. “Lo ngomong begitu pasti karena lo udah ada stok cewek baru, kan?”

Chanyeol mengangguk membenarkan. “Gue udah punya persiapan kali.”

“Siapa, btw?”

Film horor itu rupanya tidak lagi menjadi objek perhatian keduanya (apalagi Jongin yang memang sedang tidak ingin menonton apa-apa).

“Reyna,” jawab Chanyeol mantap.

“Wanjir!” Jongin melonjak kaget di atas sofa. Ia bahkan sampai memegang dada kirinya dan melotot pada Chanyeol. “Reyna adiknya si Aing-Maneh itu. Baekhyun?”

Yep.” Chanyeol melebarkan senyuman, yang tampak seram di mata Jongin.

“Wah… wah…” Jongin menggeleng tidak percaya. “Apa-apaan? Kenapa Reyna? Kenapa harus adek tingkat itu? Nggak ada yang lain apa? Ntar kalau lo ketahuan mainin doi, lu bisa disambit pake golok punya dia.”

“Emang dia punya golok?”

“Punya. Dia bilang kan, tuh golok dipake buat nebang pohon pisang di kebun emaknya.”

“Anjir! Ngakak dulu bentar!”

“Lo… seriusan, Yeol?” Jongin bukan tipikal laki-laki yang peduli tentang hal-hal seperti ini, sebenarnya. Hanya saja, ketika nama Reyna terlontar dan rupanya gadis itu adalah adik dari Baekhyun (laki-laki yang mungkin tidak segan melemparkan golok miliknya ke leher siapa pun yang berusaha mengganggunya), membuat Jongin perlu mewanti-wanti Chanyeol dan menyadarkannya agar Chanyeol tidak salah pilih dan semakin memperpanjang masalah ke depannya.

“Serius. Lagian, tuh cewek juga katanya suka sama gue. Bukan dia sih, yang ngomong. Temennya,” jelas Chanyeol, membuka kaleng bir lainnya.

“Ah, mabok kali lo mau deketin si Reyna,” sahut Jongin, masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar. “Udah, cewek yang lain aja. Jangan dia. Jangan mau berurusan sama abangnya.”

“Justru itu letak ketertarikan gue.” Chanyeol menunjukkan senyuman lebar itu lagi. “Gue jadi merasa tertantang punya hubungan sama cewek yang abangnya macem Baekhyun.”

“Lo digolok gue kagak bakal nolongin, ya,” kata Jongin, memberitahunya lebih dulu sebelum kejadian yang ditakutkannya itu sungguh terjadi.

“Santai. Gue nggak mungkin digolok Baekhyun,” jawab Chanyeol penuh keyakinan. “Nyogokin dia sepuluh kilo jengkol aja, udah, dia bakal ngerestuin hubungan gue sama adeknya. Ya… itu pun kalau emang gue ketahuan pacaran sama doi.”

“Anjay lah! Lo emang cowok teraneh yang berteman sama gue selama ini.” Pada akhirnya, Jongin mengambil kaleng bir lain yang masih baru dan membukanya. “Salut gue sama lo.”

Suasana tidak terlalu tegang dibanding sebelumnya.

“Nah, sekarang, biarin gue ngabisin sisa kaleng bir lainnya di sini sampe gue rada mabok buat ngelupain Hyerin, sebelum gue fokus ngejar cewek baru nanti,” Chanyeol mengumumkan dengan nada sok penting, tetapi Jongin meresponsnya dengan anggukan pengertian.

Yah, adakalanya, seseorang yang masih memiliki hati seperti Chanyeol perlu melampiaskan segala masalahnya dengan cara seperti ini. Berbeda dengan Jongin yang tidak terlalu ambil pusing dan memilih untuk bersenang-senang setelah ia berpisah dengan salah satu pasangannya. Setidaknya, Jongin bersyukur, Chanyeol tidak seberengsek dirinya.

Dan, entahlah, Jongin tiba-tiba mempunyai sebuah keinginan; semoga Chanyeol tidak mempermainkan Reyna, karena gadis itu terlampau lugu dan baik untuk disakiti.

-end.

Maaf kalau nggak jelas :”D

Oh iya, fanfiksi ini diposting di hari ulang tahun aku yang ke-21 /yeaay/ /tiup lilin/ /hbd for my self/ kkkk

Makasih udah bacaa 🙂

Komentarnya ditunggu banget x))

Salam sayang,

ShanShoo (Isan)♥

8 tanggapan untuk “[Vignette] Night Talks by ShanShoo”

    1. Mantap kan tuh disogokin jengkol😂😂😂😂😂😂
      Aku juga tahun lalu gitu, kayak jongin, tapi nggak males2 bgt wkwkwk
      Makasih kak sudah mampir ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s