2ND GRADE [Chapter 30] by l18hee

2ndgradee

2ND GRADE

─by l18hee

.

Now Playing ► Chapter 30 [Di Sisi Lain]

Di sisi lain, kadang-kadang teman itu ungkapan yang pahit.

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Sehun, Baekhyun | [CLC] Seunghee | [BTS] Taehyung & Jungkook | [RV] Irene | Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Family | Friendship | Romance

.for

Teen

.

Previous Part:

Prologue |  01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19  | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25| 26 | 27 | 28 | 29

.

.

Minggu siang datang begitu lambat bagi Runa. Dengan berbagai alasan masalah pelajaran ia datang ke rumah Keluarga Oh. Padahal tanpa alasan pun Seunghee sendiri sudah paham tujuan sebenarnya. Kini Runa tengah berjalan selepas meninggalkan halte dekat kompleks rumah Sehun dengan sejumput senyum yang disembunyikan.

Awalnya Runa pikir Sehun belum sampai rumah, namun bayangannya ditepis kuat saat melihat postur tubuh lelaki yang ia hafal sekitar sepuluh meter dari tempatnya barusan berbelok.

Oh Sehun dan―kejutan! Bersama seorang gadis. Oke, itu jelas Irene.

Dan mereka berangkulan.

Sepintas ingatan tentang Chanyeol dan Nami menggerayangi otak Runa. Akan tetapi tidak seperti dulu yang mencoba lari, kini gadis itu langsung menunjukkan vokalnya seraya berlari untuk menghampiri.

Tidak. Tidak boleh terulang lagi.

“Oh Sehun!”

Suara batinnya yang berperang tak terima seketika meredup kala mendapati wajah pucat Sehun saat lelaki itu menoleh. “Kwon?”

Sehun sakit. Bagaimana bisa Runa memberi tuduhan aneh-aneh sebelum memastikan sendiri? Mendadak ia merasa bersalah. Tanpa berucap sedikit pun, dibantunya Irene yang terlihat keletihan memapah Sehun.

“Padahal dia baik-baik saja tadi. Tiba-tiba lemas begini,” tutur Irene susah payah. Beruntungnya saja Sehun tak sampai hilang kesadaran. Bisa repot jika begitu. Dengan keadaan seperti ini sudah cukup menguras banyak waktu hingga mereka sampai di rumah Keluarga Oh.

Sang ibu langsung mengambil komperes sementara anak lelakinya dibaringkan di kamar. “Seunghee, bisa tolong belikan obat?” Si adik mengangguk sekilas dan bergegas pergi. Sementara Runa dan Irene ditinggalkan duduk terengah di karpet kamar Sehun.

.

“Dia terlalu memaksakan diri.” Yang pertama membuka konversasi setelah ibu Sehun pergi adalah Irene. Gadis ini memperhatikan pancar rasa bersalah yang sempat ia tangkap dari pandangan Runa. “Kwon Runa, Sehun belum menjelaskan padamu?”

“Hm?” Runa menoleh untuk menunjukkan kedua alisnya yang terangkat tanda tak mengerti. Sudah Irene duga Sehun belum bicara apa-apa. “Tentang aku dan Sehun, dia belum bercerita, bukan?” lanjutnya. Dia tak menunggu Runa menanggapi untuk kalimat selanjutnya. “Sebenarnya kami mantan kekasih.”

“Benarkah?” Hanya memastikan dan membuat respon yang sekiranya bagus. Sebenarnya Runa teringat pada obrolan singkatnya dengan Sehun sesaat sebelum liburan ke pantai. Dia masih ingat Sehun bercerita tentang hubungannya dengan Irene yang kini sekadar teman walau dulu pernah menjalin hubungan.

“Sudah lama sekali, sih. Sejak putus kami malah lebih nyaman sebagai teman, sampai sekarang.” Irene menyerahkan gelas air yang baru ia isi pada Runa. “Mungkin kau sudah dengar ini. Tapi kami membuat kesalahan dulu, sebelum Taehyung menyadarkan aku dan Sehun.”

Runa memilih diam dan memperhatikan dengan saksama.

“Sehun agak susah mengendalikan emosi jika itu menyangkut keluarganya. Dia pernah hampir menggunakan obat-obatan sebagai pelampiasan. Dan aku yang bingung harus bagaimana, malah memberikan diriku sendiri sebagai pelampiasanya.” Jeda beberapa detik bagi Irene untuk membuang napas. “Setiap emosi Sehun tidak stabil, dia akan menghampiriku―atau sebaliknya. Kami melakukan hal selayaknya sepasang kekasih, ah, tidak sampai menyentuh seks, kok. Hanya ciuman atau sejenisnya. Itu terjadi selagi Sehun tak stabil, selain di keadaan tersebut kami bertingkah biasa.” Dia melirik Runa yang tengah memandang Sehun. “Aku tahu semuanya salah, baik diriku atau Sehun. Seperti yang kubilang tadi, Taehyung yang menyadarkan kami. Aku kembali berhubungan nyaman dengan Junhong, dan kebetulan―kukira―Sehun sudah menemukanmu. Kau pasti pernah menemukannya dalam keadaan kacau.”

Runa ingat itu. Hari di mana pertama kalinya Sehun mengantarnya pulang. Kemudian saat berbicara masalah keluarga, Sehun terlihat tidak baik-baik saja.

“Dia sudah banyak berubah. Kutebak, pasti lebih terbuka padamu. Aku rasa kau ini―” kepala Irene ditelengkan dengan sengaja, “―punya hal yang lebih ampuh mengatasi Sehun dibanding dengan ciuman yang aku tawarkan dulu.” Dia sedang menggoda, tentu saja. Lihat bagaimana Runa mendadak salah tingkah di sana.

“Aku tidak melakukan apa pun,” aku si gadis Kwon kelabakan.

Diam-diam Irene ingin terkekeh juga. “Sebelum bertemu denganmu, Sehun tidak pernah akrab dengan Oh Seunghee,” lanjutnya. “Sedikit pun tak mau membicaraan gadis itu.”

“Bukan karena aku. Semua perubahan yang Sehun alami karena dia memang berniat ingin berubah. Aku tak seberguna kelihatannya.” Pikir Runa, ia hanya melakukan apa yang memang dipikirnya benar. Sama sekali tak menjurus pada tujuan-tujuan tertentu.

“Kau hanya tidak menyadarinya,” ujar Irene selagi jemarinya berputar-purat di tepi mulut gelas. Gadis yang notabene hampir setiap hari bertatap muka dengan Sehun ini jelas saja tahu apa yang berbeda dari si lelaki. Barangkali memang tak perlu diutarakan dengan gamblang beberapa hal tentang Sehun yang berbeda dari sebelum lelaki itu bertemu dengan Runa. “Oke,” tiba-tiba Irene melirik jam digital di kamar Sehun, “aku meminta pacarku menjemput tadi. Sepertinya dia sudah menunggu di ujung gang.” Bergegas membereskan barang adalah yang ia lakukan sebelum beranjak dari duduk, “Aku pergi dulu.”

Runa terlalu lambat menjawab hingga Irene lebih dulu menghilang di balik pintu. Usai hening sekian lama, ia mengembus napas dan memandang wajah pucat Sehun dalam diam.

.

.

Baru saja akan membangunkan sang lelaki untuk meminum obat, yang dibangunkan sudah lebih dulu menengakkan diri seraya menutup mulut. Dalam detik-detiak selanjutnya Sehun sudah berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Ia bisa merasakan lehernya dipijat pelan.

Insiden memuntahkan isi perut berlangsung agak lama, apalagi untuk kembali ke ranjang saja Sehun perlu waktu ekstra.

“Kau terlalu memaksakan diri.”

Sehun mendengarnya samar seiring dengan ia yang menyeka keringat di dahinya. Dia membuka mata sedikit, mendapati bayang yang dihafal. “Kwon?”

“Hm?”

Setelah  memastikan yang di sampingnya adalah Runa, Sehun malah terpejam kembali. Ingin beranjak dari tidur, tapi rasanya lemas. Ditambah lagi jika ia membuka mata, semua terasa makin berputar-putar. Jadi yang ia lakukan adalah memiringkan tubuh dan menggunakan telapak tangan Runa sebagai bantalan pipinya.

“Kau dingin,” bisiknya.

“Kau yang demam.” Runa mendengus pelan. Dia tahu jika ia bicara banyak pun Sehun tak bisa mencernanya dengan baik. Namun dengan kenyataan tersebut si gadis tetap ingin mengutarakan banyak hal. Lama ia diam, mungkin menunggu Sehun benar-benar terlelap.

“Maaf, ya? Aku sempat cemburu pada hubunganmu dan Irene,” ia mengambil napas. “Salahmu yang tidak pernah bercerita lengkap padaku, Oh Sehun,” lanjutnya berpura kesal. Ada jeda agak lama hingga kalimat selanjutnya terdengar, “Kau pasti senang karena aku cemburu begini. Aku bahkan yakin kalau tidak sedang sakit kau akan mengejekku mati-matian.” Dia tertawa kecil, “Tahu, tidak? Aku merasa seperti idiot karena baru sadar ternyata aku begitu menyukai lelaki tidak jelas dan sok keren macam dirimu.” Diliriknya jam di ponsel, waktunya pulang. Kedikan bahu adalah yang ia suguh detik selanjutnya, “Oh, anggap saja ini mimpi. Dari mana aku belajar berucap seperti ini?”

.

.

.

-0-

.

.

.

Berhubung menghubungi Sehun bukan ide yang bagus mengingat lelaki tersebut punya kemungkinan masih sakit, jadi yang Runa lakukan adalah bertanya pada Seunghee di hari Senin. Ternyata ada untungnya juga berpacaran dengan saudara sang karib.

“Sehun bagaimana? Masih demam?”

“Sudah lebih baik. Tapi sepertinya perlu istirahat lebih dulu.”

Runa manggut-manggut mendengarnya. Dia kembali menyantap makanan tanpa memedulikan tatapan Wendy.

“Sebentar,” mendadak Wendy menyuarakan kebingungannya. “Ini hanya perasaanku saja atau kau mulai terang-terangan memperhatikan Oh Sehun?” Tak mau lebih panjang, Baekhyun langsung menyerobot untuk memberi jawaban lugas, “Mereka sudah pacaran.”

“Sudah resmi?! Sejak kapan?!” Melihat respons Wendy yang sangat terkejut, Baekhyun justru bersemangat. Setidaknya dia bukan orang yang terakhir tahu di sini. Wajahnya terlihat mengejek, “Sekitar satu minggu, entah kurang atau lebih aku kurang paham. Chen tidak memberitahumu?”

Menyadari dirinya adalah orang terakhir yang tahu, Wendy cuma ternganga. “Kalian serius? Aku yang terakhir tahu? Dan―astaga, bahkan pacarku sendiri tidak memberitahuku?”

“Putus, sana.” Baekhyun langsung mendapat tendangan di kaki dari Chen, serta bonus cubitan di lengan oleh Wendy. Untuk menyela keributan tak penting ini, lantas Runa berucap santai, “Sebagai permintaan maaf, nanti kuberi es krim.”

“Setuju. Aku tidak marah,” ujar Wendy seraya menjentikkan jari―terlalu mudah dibujuk, bukan? Tak terima, Baekhyun mengajukan protes, “Aku juga telat diberi tahu. Ini tidak adil!”

“Astaga, baik, baik! Pulang sekolah kita ke café es krim. Tapi kalau pesan yang terlalu mahal aku tidak mau bayar.” Runa pikir sudah lama ia tidak berkumpul dengan teman-temannya di luar jam sekolah. Berhubung jam les tambahannya sudah dilakukan lebih cepat pada hari sebelumnya, ia tidak perlu repot mencari cara untuk membolos.

Berkat ajakan traktir, keenam kawan sekelas itu begitu bersemangat saat jam belajar mandiri selesai. Mereka beriringan berjalan di koridor yang ramai, sesekali tertawa karena lelucon yang ada.

“Runa,” Baekhyun yang berjalan beriringan dengan si gadis di barisan paling belakang mencoba menarik atensi. “Aku sudah memutuskan untuk menyatakan perasaanku,” bisiknya. Sebelum Runa menanggapi, sang lelaki cepat-cepat menambahi, “Tapi butuh latihan mental dulu.” Lalu ia mendapat tusukan di pinggang, berimbuh tanggapan Runa, “Benar. Kau harus terapi mental dulu jika ingin memacari Seu―” ia sadar suaranya kelewat keras, “―memacariku,” tambahnya segera (oh, pilihan yang tepat untuk tidak menyebutkan nama). Raut tegang Baekhyun langsung menghilang berganti delikan kesal.

“Bocorkan saja, Kwon Runa! Bocorkan saja! Siarkan di radio sekolah, ke stasiun tv sekalian!”

“Nanti kau boleh pesan dua menu.”

“Aku memaafkanmu teman, I love you.”

Sama sekali Runa tak habis pikir kenapa orang-orang di sekitarnya begitu mudah dibujuk dengan es krim. Yah, dia pun begitu, sih, jika masalah yang dialami bukan masuk dalam kategori berat.

Karena sudah berencana ingin ke kamar kecil terlebih dahulu, Runa ditemani Seunghee berbelok ke toilet sementara yang lain menunggu di gerbang. Runa yang pertama selesai menuntaskan hasratnya memilih mematut diri di cermin. Dia baru akan mencuci tangannya tatkala mendadak sebuah tarikan di lengan membuatnya menoleh.

Wow, Cha Yulbi.

“Kau pacaran dengannya?”

Jika mendadak mengomel, mana Runa bisa mengerti dengan jelas? “Maksudmu?” Ia berucap sambil menyingkirkan genggaman Yulbi. Jika sampai Oh Sehun dibawa-bawa, gadis itu memang cari masalah.

“Byun Baekhyun. Kau sudah tahu sejak lama tentang perasaanku pada Baekhyun, bukan?” Sepertinya Yulbi tengah dirundung emosi. Dia tak pernah sesulit ini mengontrol diri. “Kau suka menikung, ha?”

“Lihat bagaimana persepsi sepihak sudah memakanmu.” Tak habis pikir, tentu. Sudah Runa duga Yulbi salah paham di sini. “Bukan aku yang Baekhyun suka, pun sebaliknya.”

“Bohong. Di dunia ini tidak ada pertemanan antara lelaki dan perempuan tanpa perasaan suka!” Ada air mata yang menggenang di kelopak mata Yulbi. Bisa ditebak ia sudah lelah dengan segala hal yang membuatnya makin jauh dengan Baekhyun.

“Begini Cha Yulbi. Barangkali kau belum tahu jika aku dan Baekhyun sudah berteman sejak SMP, aku memang baru memberitahumu.” Runa berusaha untuk menjelasakannya secara perlahan. “Dan memang, dalam pertemanan beda jenis pasti salah satu atau bahkan keduanya pernah menyimpan rasa. Dalam kasus ini, jujur saja itu aku. Aku pernah menyukai Baekhyun―tolong jangan dipotong,” ia memperingatkan sebelum kembali meneruskan. “Aku pernah menyukai Baekhyun saat SMP. Karena beberapa hal perasaan itu hilang, kau tahu sendiri aku pacaran dengan orang lain saat SMA―tidak perlu sebut nama, bukan? Jika kupikir kembali, bagaimanapun juga aku dan Baekhyun memang lebih nyaman berteman seperti selama ini. Toh kami juga menyukai orang lain.”

“Orang lain?” Nampaknya Yulbi masih belum terlalu percaya.

“Pacarku bukan Byun Baekhyun atau anak SMA Chunkuk,” tegas Runa. “Apa pun persepsimu, kau salah paham. Belajarlah untuk―”

Mendadak Runa diam, pipinya memanas berkat satu tamparan yang Yulbi layangkan.

“Aku hanya kesal melihatmu. Balas tamparanku, Kwon Runa.”

Sementara itu Seunghee yang dari tadi memilih menguping kini sudah mendekatkan diri. “Cha Yulbi, kau sudah keterlaluan.”

Tak mengindahkan hal tersebut, Runa justru membuang napas dan tersenyum kesal pada Yulbi. “Kau pikir aku juga tidak kesal? Bahkan setelah kau mengumumkan ke semua orang tentang masalah orangtuaku aku masih bisa diam. Sekarang kau menamparku?” Nadanya tiba-tiba naik satu tingkat lebih tinggi. Lalu ia membuang napas lagi, memilih menyilakan anak rambut ke belakang telinga sebelum akhirnya bersidekap, “Salurkan kekesalanmu pada hal lain. Aku tidak akan membalas dengan tanganku. Kurasa melihatmu menyedihkan sudah cukup sebagai balasan. Tidak bermaksud kasar, sih.”

“Kau bukan apa-apa di tingkat pertama jika bukan karena berteman denganku.”

Hampir saja Runa tergelak. “Permisi, bukannya kau yang bukan apa-apa tanpaku sekarang? Pengikut Han Nami, hm?” Yulbi hampir berteriak sebal seraya menggerakkan tangan untuk meraih rambut Runa, namun Seunghee lebih cepat menangkap lengan gadis tersebut. “Sudahlah. Hentikan saja.” Dengan sekali hempasan Yulbi membebaskan diri dari tangan Seunghee. Sebelum ia pergi, tak lupa sebuah kalimat penutup dilayangkannya, “Kau sudah merasa cantik dan pintar sampai menghentikanku, ya? Menyedihkan.”

Seiring dengan menghilangnya sosok Yulbi, Runa mengembus napas kelewat panjang. Sepenuhnya tak habis pikir dengan apa yang gadis itu simpulkan.

“Oh Seunghee, kau tidak menyedihkan, kok,” ucapan Runa memancing Seunghee untuk terkekeh. “Ayolah, Kwon Runa. Kau tidak perlu menghiburku, aku sudah biasa.”

“Tapi aku serius,” tambah Runa lagi seraya menekuk alisnya. Ia lantas membasahi wajah dengan air dan menghirup napas dalam-dalam. Mungkin mencoba untuk mengatur emosi, apalagi ada bekas kemerahan yang tertinggal di pipinya. Di sisi lain, Seunghee rupanya masih mau menanggapi, “Kau tahu kenapa kita dipanggil Dream Team?”

Runa menoleh demi mendapati Seunghee tersenyum tipis. “Kau yang mendadak dijauhi temanmu dan disebut buangan. Jungkook yang kepalang tidak peduli dan dianggap menyusahkan semua orang. Dan aku, yang terus mendapatkan tuduhan-tuduhan setiap berinteraksi dengan lelaki.”

“Benarkah? Aku yang kurang mendengar gosip atau …” Runa menelengkan kepala ke samping, mencoba mencari kata yang pas. Kemudian Seunghee menambahi, “Kurasa kau hanya tidak terlalu peduli gosip. Karena jika peduli, kau tak akan mau duduk satu bangku denganku di awal semester.” Di sini Runa lebih memilih menjadi pendengar.

“Aku dianggap terlalu tebar pesona dan tukang cari muka hanya karena lebih sering bermain bersama lelaki.” Helaan napas Seunghee terdengar, “Padahal pintar sekaligus punya wajah yang lumayan bukan sebuah kesalahan, bukan? Tidak bermaksud sombong, tapi … kau tahu sendiri.” Kali ini Runa terkekeh berkat gaya sok milik Seunghee.

“Oke Nona Oh, masalah cantik dan pintar memang tidak bisa dipungkiri lagi. Baik, lanjutkan ceritamu.”

“Kau tahu kenapa aku lebih suku berteman dengan lelaki dari dulu? Itu karena terkadang mereka lebih konyol dan tidak begitu dalam jika membicarakan gosip serta bisa diandalkan. Hanya pendapat pribadi, tolong jangan tersinggung.” Sebuah kedikan lalu disuguh, “Tapi di atas hal tersebut sisi buruknya adalah pandangan orang dan hubungan yang rentan berganti haluan. Semacam mudah terbawa perasaan. Ah, omong-omong kalau sekarang aku sudah nyaman berteman denganmu atau Wendy, maksudku dalam kategori teman perempuan.”

Kemudian Runa menangkup pipinya sendiri seraya tersenyum lebar, “Aku paham kalau diriku ini memang membuat nyaman banyak orang.” Dia langsung tergelak saat Seunghee berpura memasang wajah kesal. “Aih, dasar narsis. Bagaimana pipimu? Kelihatannya masih merah.”

“Sudahlah, anggap saja kosmetik.” Candaan yang Runa layangkan adalah pertanda ia yang tak ingin mengingat lagi kejadian sekian menit yang lalu. Dia cuma malas menambah daftar hal yang kurang bisa ia maafkan. Mengerti jika sang karib tak mau membahas lagi, Seunghee cuma mengangguk dan bergumam oke. Dan keduanya berjalan bersama meninggalkan kamar mandi untuk segera menyusul yang lainnya di gerbang.

Yang menyadari bekas kemerahan samar di pipi Runa justru Chen.

“Kau terbentur sesuatu?” ujarnya membuat yang lain mengobati rasa penasaran dengan memerhatikan Runa lebih cermat. Sejemang yang menjadi pusat perhatian berukar pandang dengan Seunghee, lalu berucap bingung, “Tadi ada sedikit …”

“Cha Yulbi menamparnya,” Seunghee menambahkan di detik selanjutnya, “Jangan terpancing emosi. Aku yakin Runa akan menjelaskannya nanti sambil makan es krim.”

“Bagaimana bisa?” Baekhyun maju paling segera, memeriksa bekas tamparan sebelum menghentakkan kaki, kesal. Bersamaan dengan itu Wendy berujar, “Apa yang perempuan itu coba lakukan?”

“Kalian bertengkar di kamar mandi?” ucap Chen sedikit mengira. Mendadak bayangannya jatuh pada adegan pertengkaran gadis SMA di dalam drama.

“Apa kau menamparnya juga, Run?” Ini satu-satunya ucapan Jungkook yang membuat semua kawannya mengalihkan perhatian kepadanya. Tak mengerti, si lelaki hanya mengerutkan alis layaknya bertanya apa ada yang salah?

Semua kecuali Jungkook, punya pemikiran yang sama mengenai lelaki itu yang sudah mau memanggil dengan nama akrab.

“Jungkook, kau boleh memanggilku Wen saja.”

“Chen-a? Itu terdengar bagus, cobalah.”

“Baekhyun-ie? Kau mau mencobanya? Atau Baek-a? Hyun-a? Byun-ie?”

Lantas Seunghee terkekeh melihat Jungkook salah tingkah. Kemudian yang lainnya pun tertawa. Karena bingung bercampur lumayan malu, lantas Jungkook memutuskan untuk mengambil langkah. Dengan segera Runa menyusul dan menggandeng paksa lengan sang lelaki.

“Oke, sepertinya kita harus cepat. Kurasa Kook-ie ingin segera makan es krim.” Dia tertawa saat tangannya ditepis. “Wah, kau menahan senyum, Jeon Jungkook!”

“Mana? Mana? Aku mau lihat!”

Tidak tahu kenapa hanya karena sebuah panggil semuanya jadi heboh sendiri. Tahu begitu Jungkook diam saja dari tadi.

Usai menghabiskan banyak waktu menyantap es krim dan mengobrol, mereka berenam tentu pulang. Memangnya apalagi yang lebih menarik ketimbang bergelung dalam selimut kamar malam-malam begini? Namun ada yang sedikit aneh ketika Seunghee mengatakan ada sesuatu yang harus ia urus lebih dahulu. Tidak terlalu mencurigakan bagi Runa jika saja beberapa menit sebelumnya Baekhyun yang lebih dulu pamit pergi. Runa sama sekali tak menawarkan ingin mengantar Seunghee karena ia mengira kedua kawannya tersebut terlibat dalam perjanjian bertemu atau apalah. Bukankah Baekhyun memang berniat mengutarakan perasaannya? Barangkali begitu, pikir Runa.

Tinggalkan sejenak Runa yang malah tenggelam memikirkan pipinya yang baru saja mendapat tamparan dan lihat bagaimana Seunghee setengah berlari menyusul Baekhyun. Suara lelaki itu dapat terdengar di telinganya.

“―kau pikirkan. Cha Yulbi, intinya kau ada waktu sekarang? Kurasa―”

“Baekhyun!” Entah apa yang Seunghee pikirkan, dia begitu saja menarik lengan Baekhyun yang masih menggenggam ponsel. Membuat si lelaki mengerutkan dahi di tengah keterkejutannya.

“Apa yang―” Baekhyun sepertinya kesal, ia lantas berbicara di telpon lagi, “Nanti kita bicara. Kututup.” Usai memutus sambungan, dia menatap Seunghee. Jelas Byun Baekhyun sedang menahan sebal. “Aku tidak diam-diam berhubungan dengan Cha Yulbi, oke?” Penjelasan yang lumayan narsis, sebenarnya. Tapi sepertinya Seunghee tidak peduli dan justru mengutarakan pikirannya, “Jangan katakan apa pun pada Yulbi tentang insiden tadi. Dia hanya akan makin membenci Runa karena mengira dirinya dilaporkan padamu.”

Sejemang Baekhyun tertegun, memutuskan agak lama menatap gadis yang masih betah memegang lengannya. Pada akhirnya ia membuang napas serta mengalih pandangan. “Kau tahu, aku benar-benar akan melakukan itu, tadinya.” Yang aneh adalah ada sedikit rasa bangga yang bergelayut di sudut hati Baekhyun. Seunghee dapat menebak apa yang akan dia lakukan, bukankah itu termasuk jenis perhatian?

“Kurasa akan jadi panjang kalau lelaki ikut dalam urusan antar gadis,” lanjut Seunghee. Dia baru saja melepas genggamannya di lengan Baekhyun.

“Tapi dia bahkan menampar Runa, astaga.” Walau diucapkan dengan nada yang tak tinggi, namun ada hawa lelah di kalimat barusan. “Aku pernah dengar Yulbi menyukaiku. Dan kalau sampai apa yang Runa lalui itu gara-gara aku, bagaimana aku bisa diam saja? Bukankah sama saja salahku?”

“Bukan salahmu,” suara Seunghee melembut, ia menggeleng pelan setelahnya, “Mungkin duduk sebentar adalah ide yang bagus.” Dagunya  mengarah pada bangku di depan sebuah toko yang sudah tutup. Tanpa menunggu ia langsung melangkah menuju ke sana. Mau tak mau Baekhyun pun mengikuti.

“Ada beberapa hal yang memang seharusnya tidak dilakukan.” Seunghee sudah mulai berbicara kendati Baekhyun baru saja membanting pantatnya ke bangku. “Aku paham kau juga sakit hati saat tahu sahabatmu sendiri diperlakukan tidak adil, karena sebenarnya aku pun merasakan yang sama. Tapi, Baekhyun, penafsiran orang tidak selalu sejalan dengan kita,” lanjutnya. “Bahkan selama ini Yulbi mengira kau menyukai Runa. Itu akan sangat mudah membelokkan pemikirannya lagi ke arah yang sama seandainya kau datang dan membela Runa mati-matian. Bukankah lebih baik hukum gadis itu dengan cara yang lain? Yang lebih lembut dan tidak terlalu mencolok, misalnya.”

“Runa sama sekali tidak membalas walau dia bisa. Barangkali Yulbi menganggapnya sebagai pengecut. Tapi bagaimanapun juga aku bsa melihat jika Runa punya cara tersendiri untuk membalasnya―mungkin belajar dari yang sudah-sudah. Dia bukan tipikal orang yang mau tangannya kotor karena tak bisa mengendalikan ego, kau pasti tahu. Baekhyun, bukankah lebih baik kau mengajak Runa bicara ketimbang mengurus gadis seperti Yulbi yang belum tentu mau berubah karenamu?”

Ini bukanlah hal yang dapat dengan cepat Baekhyun tanggapi. Rasa bersalahnya masih ada, namun memikirkan bagaimana Runa akan kecewa jika ia benar-benar menemui Yulbi dan melakukan sesuatu yang salah―dalam hal ini bukan kategori fisik, rasanya membuat hatinya makin tak tega. Baekhyun memutuskan diam dan berkonsentrasi pada napasnya. Gadis di sampingnya jelas merupakan satu-satunya alasan ia dapat menahan diri sekarang.

“Seunghee,” nama ini meluncur pelan dari katup bibir Baekhyun yang malah menyandarkan punggung ke bangku, lalu menengadah untuk memamerkan wajah pada langit malam. “Apa aku terlalu kekanak-kanakan?”

“Sering, sih.” Jawaban jujur memang yang terbaik.

“Apa menurutmu aku bisa mendapatkan pacar dengan sifatku yang seperti ini?”

“Kenapa kau jadi memikirkannya? Jika memang menyukaimu, bukankah gadis itu menyukai apa yang ada dalam dirimu?” Seunghee tidak tahu kenapa topik pembicaraan kini berbelok. Ini lumayan canggung karena ia merasa sudah terlalu banyak menghabiskan waktu hanya berdua dengan Baekhyun, ditambah suasananya sedang jauh dari kata bercanda.

“Aku punya satu orang yang kusuka sejak SMA.” Kelopak mata Baekhyun tertutup, namun ia masih bicara. “Dia cantik, apalagi saat mengikat rambut. Dia pintar dan sering dapat pujian. Tapi anehnya, saat aku mengenalnya dulu, dia tidak punya teman.”

Seunghee menolehkan kepala untuk menatap lelaki di sampingnya yang masih mengeluarkan suara. “Aku penasaran, apa dia sesombong yang orang-orang katakan? Banyak sekali gosip tak sedap tentang dirinya, entah itu tentang menjilat guru, apatis, bahkan suka cari perhatian ke lelaki. Tapi anehnya, aku selalu menemukannya melewati pintu perpustakaan saat senggang. Bagaimana orang yang punya banyak gosip dalam kenyataannya lebih sering menghabiskan waktu dengan buku pelajaran?”

“Senyumnya jarang, kecuali jika ia menemukan hal yang disukai. Aku pernah melihatnya satu kali, di mall, dengan tas belanja―yang kurasa isinya buah―dan telinga tersumbat earphone. Perasaanku masih dalam kategori awal waktu itu, jadi kuputuskan untuk memerhatikannya saja dari jauh. Kau tahu, saat gadis itu tersenyum senang menatap es krim di tangannya, aku merasa ada gula-gula yang tumpah ke tenggorokanku. Luar biasa manis. Lalu aku benar-benar langsung menghampirinya dan berkata…”

Sekarang Seunghee mengerjap. Bertanya-tanya dalam hati mengapa ia bisa membayangkan adegan yang Baekhyun bicarakan dengan begitu mudah. Dan sebuah dialog begitu saja mengalir di benaknya.

Hai, aku Byun Baekhyun. Kita satu SMA loh.

“…hai, aku Byun Baekhyun. Kita satu SMA loh.” Baekhyun terkekeh pelan. “Aku bodoh, jelas saja dia langsung memandangku heran dan melangkah pergi. Tapi menurutku tak apa. Sudah melihat hal lain dalam dirinya cukup membuatku yakin aku makin tertarik padanya.”

“Bagiku, menyukai seseorang secara diam-diam adalah hal sulit. Kupikir aku sudah membuat pergerakan, tapi nyatanya ada yang lebih membuatku tercenggang. Katanya … gadis itu menyukai orang lain. Aku belum memastikannya langsung, makanya aku ingin sekali menanyakan padanya.” Kini Baekhyun membuka mata setelah mengembus napas panjang, ia menolehkan kepala untuk menumbuk pandangannya pada manik milik Seunghee. “Apa ada seseorang yang kau sukai, Oh Seunghee?”

Seunghee menatap iris teduh milik Baekhyun. Tidak ada kejenakaan yang biasanya mampir di sana. Dia bukan gadis idiot yang malah akan pura-pura tidak paham di saat begini. Penuturan Baekhyun sudah kelewat jelas barusan. Maka dengan suatu persiapan Seunghee mau bersuara.

“Kita teman, kan, Baekhyun?”

Ada satu tusukan kuat yang Baekhyun rasakan di dadanya, mungkin malah menembus sampai belakang kepala―entah bagaimana caranya. Jantungnya seperti berhenti berdetak beberapa sekon. Detik-detik kedepan ia isi dengan hening yang menyakitkan. Sampai akhirnya dia beranjak dari duduk. “Jangan dilanjutkan, apa pun itu. Aku harus pergi. Terima kasih sudah mendengarkan.”

“Baekhyun!” Sepertinya Seunghee berusaha mencegah Baekhyun melangkah terlalu jauh. Namun si lelaki hanya menjawab dengan beriring cengiran paksa di wajah, “Maaf tidak bisa mengantarmu. Ada hal yang harus kulakukan,” kemudian bergegas pergi.

.

.

.

C3O7bMJVUAAMu7T.jpg

byunbaekh All the way -> League of Legends <- all the way

Ada sesuatu yang aneh menurut Runa. Bukan masalah Baekhyun yang  bermain game, sih. Kenapa Baekhyun harus mengunggah foto dirinya sedang caption-nya adalah tentang game? Dan lelaki itu juga menonaktifkan komentar. Tidak terlalu mencurigakan juga, sih. Tapi rasanya memastikan semua tetap baik adalah hal yang bisa membuat Runa lebih lega. Maka ia memutuskan untuk menghubungi Baekhyun.

“Oi, kenapa, Run? Baekhyun sedang main game di rumahku.” Ini cuara Chen. Runa mengerutkan alis seraya menjawab, “Kau yakin dia main game? Tidak ada suara yang kudengar.” Makin aneh keadaannya saat seorang Byun Baekhyun yang biasa berteriak seperti orang gila saat main game berubah tenang. Sepertinya di ujung sana Chen pun berpikir, “Dia main game dengan tenang. Um, sedikit membuatku takut. Ada sesuatu dengannya?”

“Aku baru ingin bertanya.” Sejemang Runa diam untuk mengerutkan alis. Jika Baekhyun baru saja menyatakan perasaan pada Seunghee dan sikapnya berbah seperti ini … “Chen, biarkan dia. Mungkin esok ia tak ingin berangkat ke sekolah. Kalau bisa bujuklah dia.”

“Baiklah. Memangnya ada apa?”

“Tidak tahu,” bohong Runa, “yang jelas dia tidak sedang dalam mood yang bagus.” Usai beberapa patah kata, akhirnya sambungan tersebut diputus. Runa jadi agak tidak enak pada Baekhyun. Dia yang sudah memintanya untuk menyatakan perasaan. Mana Runa tahu semuanya jadi begini.

Lalu, omong-omong … apa ini artinya Seunghee dan Jungkook memang ada apa-apa?

.

.

.

.to be continue

Ebuset udah chapter 30 ae :’v

18 tanggapan untuk “2ND GRADE [Chapter 30] by l18hee”

  1. Trnyt 백 yg beagle itu klo urusan cinta bs lngsng jd srius, keren & sweet bgt confession’ny ☺ yah, wlw seunghee’ny ga/blm menyambut 😞 gpp skrg msh 1 sided love, mgkn nanti..
    Omo, 세훈 akuh skt 😢 udah pentas blm tu drama sklh’ny? Get well soon 😘

  2. Pernyataan cinta Baekhyun manis bangeeettt… Sama si Baek aja ya si Seunghee??? Ya ya ya ya??.. please….

    Oh iya btw gw jga punya bnyk tmn cwo Kya Seunghee dan emng bnyk digosipin but gw mah masa bodo hidup2 gw😂😂😂
    Dan mba author saya kecewa karena kurangnya moment sehun-runa😂😂😂
    Dan kpn mereka ketemu Chanyeol 😂

    Ditunggu terusss thorrr
    Fighting!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    1. alhamdulillah ada yang sadar bekyun bisa sweet jugak WKWK

      emang ya, mulut netijen di real life sama aja wkwk mangats, kata2 orang yang jelek2 dan gak membangun musnahkan aja wkwk

      wakakak sehun runa istirahat dulu, persiapan buat chap depan ahai
      canyol masih sibuks, belum bisa meluangkan jadwalnya u.u

      tengkyuuu ❤

  3. Gk papa baek… Ku selalu mendukungmuu
    Semangat baek…
    Sehun sakit gk bisa jahilin runa… Haduhh
    Kukangen sehun runa
    Kutunggu next chapternya yaaa

    1. iya dukung terus bekyun ya, kirim sms jangan lupa /dikata ajang cari bakat nid/ /g/ /receh ah, skip
      iya haha mayan tenang deh runa, tau kalo besok udah sembuh gimana kwkw
      kangen aku aja, kangen mereka berat/g

  4. Aaaaaa manisnyaaa chapter ini ttg baek…ah bhgianya akyu..td malam baek live skrg chapterny bnyakan baek..tp kesian ih anak ayam atit mlah drwat sma kwon..ckckckckckck..si chanchan apa kbarny thor?mulai menghilang jejaknyaaaa hiks

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s