[EXOFFI FREELANCE] More Than Beautiful (Chapter 4)

PicsArt_05-31-11.03.51

More Than Beautiful

.

Rhee’s Present

Starring by. Exo’s Baekhyun | OC’s Oh Yuri | Xi Luhan

Supported by. EXO’s Sehun | T-ara’s Lee Ji Hyun

Romance, Marriage-Life, PG-18

Tiga bulan dua belas hari cukup membuat Baekhyun mengerti tentang arti menunggu dengan sia-sia, membuat hatinya jatuh kedasar jurang dan pecah berkeping-keping. Seribu suara yang keluar dari setiap orang yang mengatakan bahwa apa yang di lakukannnya saat ini adalah hal yang salah – pergi dari rumah dan tidak kembali – hanya untuk mempertahankan gadis yang di anggap olehnya adalah hal terbaik yang di miliki olehnya. Tapi memang itu kenyataan yang di serukan oleh hati Baekhyun, bahwa hidup dengan orang yang di cintainya lebih dia pilih di banding dengan duduk di kursi kekuasaan.

Tapi, sekali lagi. Baekhyun merasa apa yang dilakukannya memanglah kesalahan besar, menunggu Lee Ji Hyun, wanita yang selama tiga tahun ini memenuhi hati dan pikirannya dan berakhir melihat wanita itu keluar dari mobil seorang pria dan juga sebuah ciuman. Dulu Baekhyun sering melakukan itu, mencium Ji Hyun – wanitanya – ketika mengantarnya pulang.

Tiga bulan dua belas hari, ternyata selama itu Ji Hyun yang menghindarinya dengan alasan bahwa keputusan konyol Baekhyun yang menyerahkan kursi kekuasaan untuk bersamanya adalah semata untuk hal seperti ini, yang saat ini di saksikan oleh Baekhyun sendiri.

Ini memang bukan kali pertamanya dia melihat Ji Hyun selingkuh, tapi… haruskah Ji Hyun mengulanginya ketika keadaan seperti ini?

Dia bahkan rela di buang oleh Neneknya demi menolak perjodohan agar dirinya bisa terus bersama Ji Hyun. Akhirnya Baekhyun mengetahui tentang apa yang Chanyeol ucapkan dua hari yang lalu, bahwa Baekhyun terlihat hanya berjuang sendiri saat ini, berjuang mempertahankan apa yang diinginkannya.

“Lee Ji Hyun.” ,Baekhyun melihat raut wanitanya yang hanya bercucuran air mata sejak Baekhyun memergokinya tiga puluh menit yang lalu dan berakhir dengan sebuah pukulan telak di rahang si pria yang Ji Hyun bilang adalah seorang CEO agensi model terkenal di Korea.

Baekhyun berbalik memandang Ji Hyun, rasanya ingin sekali Baekhyun memeluknya tapi hatinya malah enggan untuk melakukan itu. Dan sepertinya kali ini Baekhyun memilih untuk mengikuti apa yang hatinya perintahkan, “Mari kita akhiri sampai disini.” ,ucapnya dengan suara parau.

Ji Hyun terlonjak dengan mata yang membulat sempurna, Baekhyun tidak pernah seserius ini saat mengatakan bahwa mereka akan berpisah. Memang ini bukan kali pertamanya mereka melewati hari ini, tapi kali ini adalah raut wajah Baekhyun yang terlihat sedih dan sakit bukannya marah membuat Ji Hyun merasa bahwa kali ini mereka tidak akan pernah kembali bersama. Baekhyun-nya terlalu sakit hati dengan apa yang di perbuatnya, Baekhyun-nya ternyata memang sangat mencintainya. Hal yang telat disadari oleh Ji Hyun, bahwa Baekhyun-nya yang dia butuhkan bukan hanya Baekhyun dengan kekuasaan tapi diri Baekhyun itu sendiri.

Baekhyun hendak berjalan keluar ketika Ji Hyun bersujud dan memeluk lututnya dari belakang, “Baekhyun, kumohon. Jangan tinggalkan aku.” ,ujarnya histeris. “Aku salah, maafkan aku Baekhyun. Kumohon jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu.”

Diam. Pikiran Baekhyun berkelut, mungkin tidak ada salahnya untuk memberikan Ji Hyun kesempatan tapi hatinya sudah terlanjur sakit, sangat sakit. Air mata Baekhyun meluncur bebas dipipinya, air mata pertama sejak kematian orang tuanya bertahun-tahun lalu dan kini Ji Hyun yang berhasil membuatnya kembali keluar, “Aku juga mencintaimu,” ,tuturnya tanpa sadar.

Ji Hyun semakin erat memeluk lutut Baekhyun, ada harapan agar Baekhyun memaafkannya pikirnya. Tapi nyatanya itu jauh dari apa yang dikira olehnya setelah mendengar perkataan Baekhyun selanjutnya, “Tapi itu tiga puluh menit yang lalu.” ,ucapnya seraya mendorong tubuh Ji Hyun yang memeluknya.

Raung tangis Ji Hyun dan suaranya yang memanggil nama Baekhyun tidak di hiraukan dengannya lagi. Dia hanya berpikir untuk segera pergi dari sini sebelum dirinya kembali ragu seperti dulu. Baekhyun masuk kedalam mobilnya dengan bantingan pintu yang lumayan keras, dia berusaha untuk menghidupkan mesin mobilnya dan berniat menancap gas secepat angin. Tapi nyatanya tangan, kaki bahkan seluruh tubuhnya melemas setelahnya. Dia menenggelamkan kepalanya di antara kedua tangannya di atas stir mobil.

“Maafkan aku Lee Ji Hyun. Sungguh aku tidak marah padamu, hanya saja hatiku terlalu letih untuk semua ini.”

Setelah sedikit paksaan dari Ibunya akhirnya Yuri dengan sangat terpaksa menuruti permintaan Nenek Bo Yoon untuk menginap di kediamannya. Sebenarnya Yuri sedikit malas untuk berada disana, alasannya adalah Baekhyun. Dia sedikit tersingung karena sikap Baekhyun saat mereka terakhir bertemu, waktu acara makan malam tempo hari. Dia hanya bangkit dari kursinya dan mengatakan bahwa dia tidak akan pernah mau menikah dengan gadis seperti Yuri. Hell, apa dia pikir Yuri sudi untuk menerima perjodohan itu? Bahkan Yuri tidak mengenal mereka, kenapa Yuri harus menikah dengannya hanya karena perjanjian mendiang Ayahnya. Tidak masuk akal.

Tapi kehadiran Nenek Bo Yoon yang selama dua hari ini bersikeras mengajaknya menginap untuk membantu Yuri mengingat sedikit tentang memorinya dulu yang sudah dia lupakan membuat Ibu Yuri tidak tega.

Hal yang Ibu Yuri tidak duga sebenarnya karena Nenek Bo Yoon tampak sangat terkejut ketika mengatakan bahwa Yuri tidak bisa menikah dengan cucunya karena hilang ingatan yang di deritanya dan menyebabkan penyempitan pembulu darah di otak yang sering membuat kepalanya menjadi begitu sakit.

Dan disinilah Yuri berakhir, berada di taman keluarga Byun dengan wanita cantik yang anggun yang diketahui Yuri bernama Kim Sung Eun, cucu menantu Nenek Bo Yoon dan juga nenek Bo Yoon. Dia ikut menanam beberapa bunga, walau nyatanya tangannya begitu kaku dan sering melakukan kesalahan karena dia tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Ibunya lebih sering menyuruhnya mencuci piring di café atau bermain kejar-kejaran dengan Sehun saat sedang membersihkan café.

“Jangan seperti itu, masukkan tanahnya terlebih dahulu lalu masukkan bunganya, lalu masukkan pupuk baru kemudian masukkan tanahnya sampai padat.” ,Yuri mengangguk-anggukan kepala ketika penjelasan ketiga kali yang di lontarkan oleh Sung Eun.

Tapi tetap dasarnya seorang Oh Yuri bukanlah wanita pada umumnya, dia selalu bisa mengacaukan apa yang di ajarkan oleh Sung Eun dan berhasil membuat mereka geleng-geleng kepala. Seperti tangkai mawar yang patah atau tangannya yang tertusuk duri dan yang lebih parah adalah dia yang berteriak dan melompat-lompat karena seekor cacing yang berada di kakinya. Itu yang paling lucu karena baik Sung Eun dan Nenek Bo Yoon tertawa terbahak-bahak karena tingkah Yuri yang kelewat polos itu.

“Yuri, jangan injak cacingnya. Dia membantu menyuburkan tanah.” ,ujar Sung Eun ketika Yuri hampir membunuh salah satu makhluk yang menjadi ekosistem di taman ini. Yuri memberengut dan berakhir dengan berjalan mundur dan melepaskan sarung tangan.

“Aku tidak suka menanam bunga.” ,ujarnya kecewa, kembali membuat dua orang itu tertawa lagi.

Nenek Bo Yoon menghampiri Yuri kemudian, “Baiklah. Kalau begitu apa yang kau suka?”

Yuri sedikit mengetuk-ngetuk dagunya, “Nenek bisa bermain permainan papan?”

Nenek Bo Yoon mengangguk antusias, “Kalau begitu ayo bermain, Nek. Aku biasa bermain itu dengan Sehun saat luang.” ,Yuri menarik lengan Nenek Bo Yoon dan memasuki ruang tamu. Sebelum ketika manik matanya melihat Baekhyun yang berjalan masuk dari pintu, wajahnya sangat pucat dan lingkaran mata hitam serta kantung mata yang begitu kentara.

Yuri menatap wajah Nenek Bo Yoon yang berubah menjadi muram ketika Baekhyun hanya berdiri melihat Neneknya itu, tanpa berkata apapun Nenek Bo Yoon malah meninggalkan Yuri yang masih bertanya-tanya kenapa mereka. Tapi belum sempat Yuri mengutarakan pertanyaan, adalah hal mengejutkan selanjutnya yang terjadi ketika Baekhyun jatuh tersungkur kelantai dan tak sadarkan diri.

Sung Eun yang pertama menjerit dan menghampiri Baekhyun lalu disusul oleh Yuri, Nenek Bo Yoon juga tidak bisa menampik raut wajah khawatirnya saat melihat Baekhyun tergeletak dilantai. “Baekhyun.” ,panggil Sung Eun sembari menepuk-nepuk wajah Baekhyun. Kulitnya sangat dingin tapi suhu tubuhnya panas, “Kurasa Baekhyun demam, Nek.”

“Apa yang kalian lihat?! Cepat panggilkan dokter!!” ,teriak Nenek Bo Yoon kepada para pelayan yang masih mengelilingi Baekhyun.

.

Setelah diperiksa setengah jam yang lalu oleh dokter dan berkata bahwa Baekhyun kurang istirahat dan melewatkan makan serta beberapa resep obat, dokter yang bahkan tidak bisa Yuri pungkiri begitu tampan bernama Kim JunMyeon itu pamit undur diri. Diantar oleh Nenek Bo Yoon dan Sung Eun keluar, dan berakhir dengan Sung Eun yang mengamanatkan Yuri untuk menunggu Baekhyun sampai sadar membuat Yuri terjebak di kamar yang sangat luas ini.

Ini bahkan lebih luas dari kamar tamu yang akan di tempati Yuri malam ini, dia bahkan menganga ketika melihat banyaknya lukisan yang terpajang disana, bak kamar seorang raja di istana-istana yang sering Yuri lihat di film yang biasa dia dan Sehun tonton. Membuatnya terus menerus berdecak kagum, Yuri bukan pengamat seni memang tapi dia suka melihat sesuatu yang terbingkai baik itu foto maupun lukisan. Tapi satu yang menjadi objek penglihat Yuri, yaitu sebuah lukisan gunung Fuji yang memang selalu menjadi favoritnya bahkan dia bermimpi untuk mengabdikan gambar itu sendiri dengan kameranya suatu saat nanti.

Dan yang tidak disadari atau lebih tepatnya yang dilupakan oleh Yuri adalah Baekhyun yang masih berbaring diatas kasur, perlahan ia membuka matanya dan saat sinar memasuki indra penglihatannya malah membuat kepala seperti tersengat dan menyebabkan rasa sakit yang sangat luar biasa. Dia sedikit memekik ketika kedua kali mencoba dan masih seperti itu dan ketika ia mencoba ketiga kali ia berhasil membuka matanya dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Yuri yang berdiri di depannya. Baekhyun segera bergerak untuk duduk dan bersandar di papan ranjangnya, dia memandangi Yuri yang tampak masih diam di tempatnya.

“Apa yang kau lakukan disini?” ,tanya Baekhyun dengan suara parau khas orang yang baru bangun tidur.

Yuri berjalan mendekat dan duduk di kursi sebelah ranjang Baekhyun, dia memegang kening Baekhyun yang sontak membuat Baekhyun berjengit mundur tapi sayangnya tidak berhasil karena tubuhnya yang memang sudah tidak bisa mundur lagi. “Demammu sedikit reda.” ,ujar Yuri santai.

Baekhyun mencoba mencari tahu apa yang terjadi, dia yang pulang, melihat Neneknya yang terlihat kecewa dengannya dan berakhir dengannya berada dikasur saat ini, ditemani oleh Oh Yuri. “Kenapa kau bisa berada disini?” ,tanya Baekhyun kemudian.

“Sung Eun eonnie menyuruhku untuk disini menunggu kau bangun.” ,jawabnya ringan.

Kepala bagian kiri Baekhyun kembali terasa tersengat membuatnya memegangi kepalanya, “Coba bernafas dengan sebelah lubang hidungmu, tutup lubang hidung kananmu. Itu meredakan sakitnya.”

Baekhyun menatap Yuri, “Biar bagaimanapun kau tidak boleh berada di kamar seorang pria.”

“Tenang sajar aku tidak menganggapmu pria.” ,seru Yuri cepat.

Baekhyun kehilangan akalnya untuk memikirkan kenapa Yuri terlihat sangat kesal dengannya saat ini, melihatnya yang berbicara atau saat terbangun tadi. Baekhyun juga menyerah untuk sekedar bertanya dan menimbulkan perdebatan dengan Yuri karena kepalanya yang sangat sakit.

“Aku menginap.” ,ujar Yuri kemudian. Yuri tidak begitu bodoh menyadari ekspresi frustasi yang ditunjukkan Baekhyun karena sikapnya sedari tadi, “Nenek Bo Yoon mengajakku menginap.” ,tambahnya lagi.

Baekhyun hanya diam, mendengar nama Nenek Bo Yoon membuat hatinya di relungi ratusan rasa bersalah atas sikapnya selama ini, tapi dirinya juga malu meminta maaf kepadanya.

Yuri hanya melihat wajah Baekhyun yang masih lelah dan pucat, “Kau butuh sesuatu? Wajahmu sangat pucat.”

Baekhyun hanya menggeleng, “Aku memang akan seperti ini ketika ini…” ,dia menunjuk kepalanya. “berpikir terlalu banyak dan ini…” ,dia menunjuk kedada kirinya. “sakit terlalu banyak juga. Kau juga tau itu sejak dulu.”

Yuri hanya ber’Oh’ ria dengan menganggukkan kepalanya dan kembali menegdarkan pandangnya, sebenarnya dia bingung mencari topik pembicaraan lainnya makanya dia lebih memilih untuk melihat-lihat seisi kamar. “Boleh aku bertanya?” ,Baekhyun bersuara ketika terdiam beberapa saat.

Yuri kembali menatapnya, “Apa?”

“Kenapa kau berpura-pura tidak mengenaliku waktu di galeri?” ,Yuri mengerjapkan matanya berkali-kali, bingung ingin menjawab apa sebenarnya. “Kita memang seperti itu, bertengkar dan saling mengejek tapi kenapa saat makan malam itu juga kau tetap berpura-pura tidak mengenaliku?”

Apa karena itu dia bersikap seperti itu ketika Nenek Bo Yoon bicara tentang perjodohan? Karena Baekhyun yang berfikir bahwa dirinya berpura-pura tidak mengenalnya Tapi jika seperti itu, maka mungkin Yuri menyebabkan seorang pria di hadapannya ini menjadi salah paham dan mengakibatkan alasan tidak masuk akalnya untuk sakit hati atas sikap Baekhyun waktu itu.

“Kenapa tidak menjawab?”

Yuri sedikit berdeham, “Sebenarnya itu tidak pura-pura.” ,gumamnya pelan. Baekhyun mengernyitkan dahinya tidak mengerti dengan jawaban Yuri. “Aku… amnesia sejak tujuh tahun yang lalu.” ,lanjutnya maish dengan gumaman pelan.

Ucapan Yuri berhasil membuat Baekhyun seperti terpukul telak di kepalanya, “Kecelakaan tujuh tahun yang lalu menyebabkan aku tidak bisa mengingat apapun sampai saat ini. Dokter bilang bahwa itu memang sementara dan bisa sembuh tapi aku masih tidak mengingat apapun.”

Mata Baekhyun membulat sempurna mendengar ucapan Yuri, “Maaf jika kau salah paham, tapi aku memang tidak mengenalmu sebelumnya dan itu juga salahku tidak ramah kepadamu saat bertemu makan malam tempo hari.”

“Kecelakaan?” ,Yuri hanya mengangguk mendengar Baekhyun mengguman pelan yang sejujurnya bukan Baekhyun niatkan untuk bertanya kepada Yuri.

“Ibu bilang aku tertabrak mobil saat pulang sekolah.” ,jelas Yuri lagi.

Yuri terdiam, ternyata menceritakan itu kepada Baekhyun juga sama tidak baiknya seperti saat Ibunya bicara kepada Nenek Bo Yoon. Melihat wajah Baekhyun yang muram membuatnya dengan cepat mengibaskan tangannya di depan wajah Baekhyun. “Tapi itu tidak buruk, mungkin beberapa hal memang tidak harus ku ingat, lagipula juga sekarang Nenek Bo Yoon membantuku.” ,ucapnya dengan suara dibuat riang.

Tidak ada jawaban dari Baekhyun cukup membuat Yuri menjadi canggung, “Aku akan panggilkan Nenek Bo Yoon.” ,ujarnya seraya bangkit dari duduknya.

Tapi niatnya terhalang ketika Baekhyun menarik tangannya dan membuatnya kembali menghadap pria itu, “Maafkan aku.” ,Yuri menautkan alisnya tidak mengerti dengan ucapan Baekhyun yang meminta maaf, untuk apa?

“Aku akan menerima perjodohan ini.”

Tiga hari yang lalu rasanya hidup Yuri masih nyaman-nyaman saja, tapi setelah kejadian Baekhyun yang mengatakan bahwa akan menerima perjodohan membuat kepalanya serasa akan segera botak. Yuri sudah senang setengah mati karena tanpa dirinya bertindakpun dia tidak akan menikahi Baekhyun karena Baekhyun yang jelas menolaknya. Tapi sementara itu memiliki kadaluarsa yang Yuri lupakan, apa yang di sangkal Baekhyun hari itu ternyata hanya sementara berlakunya. Terutama sekarang Baekhyun sendiri yang menghadap Neneknya dan berkata akan menikahinya.

“Santai saja. Kalian dulu ‘kan akrab.” ,suara Sehun kemudian menginterupsi sejuta pemikirannya.

Kali ini berbeda, Yuri tidak ingin menimpali omongan Sehun dan sukses membuat Sehun mengerti bahwa Kakaknya saat ini berada dipuncak frustasi yang dalam. Untunglah Sehun cepat memahami situasi dan memilih diam, membiarkan kakaknya hanyut dalam pemikirannya untuk malam ini saja.

Menikah. Berarti dia tidak akan hidup sendiri lagi, artinya dia akan menajdi seorang istri dan artinya dia tidak akan tinggal disini lagi. Tidak akan sekamar dengan Sehun lagi, tidak akan bertengkar dengan Sehun lagi tiap harinya, tidak akan mendengar Ibunya berteriak membangunkan mereka setiap hari dan tidak aka nada tahuran mengenai siapa dulu yang akan mendapatkan pacar – walau untuk saat ini yang terakhir itu sudah bisa Yuri pastikan bahwa Sehun akan kalah untuk selamanya. Tapi rasanya itu begitu hampa hanya dengan memikirkannya.

Tapi kembali pemikirannya terinterupsi oleh hal lain, kali ini bukan Sehun pelakunya melainkan dering telpon dari ponselnya yang menampilkan nama seorang yang membuat Yuri jadi merasa tambah tidak enak hati. Luhan.

.

Mungkin Luhan keterlaluan dengan mengajak Yuri bertemu setelah resign dari café tanpa berkata apapun pada Yuri waktu itu. Tapi hatinya juga sakit ketika mendengar dari Sehun bahwa Yuri dijodohkan, walau dia tahu maksud Sehun adalah untuk membuat Luhan bergerak lebih cepat untuk memenangkan hati Yuri karena Luhan yang memang bercerita tentang dirinya yang menyukai Yuri. Rasa minder yang membuat Luhan mundur ketika mengetahui bahwa Yuri dijodohkan oleh seorang pria yang akan mewarisi sebuah perusahaan besar, sementara Luhan hanyalah seorang mahasiswa semester akhir yang bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dia jelas kalah.

Dan saat ini hatinya juga berkata bahwa mungkin ada kesempatan untuknya saat itu, jika Luhan mengatakan pada Yuri dengan lantang bahwa dia ingin mereka berkencan. Dan hal itulah yang membuat Luhan memutuskan menghubungi Yuri dan mengajaknya bertemu. Menjelaskannya untuk yang terakhir kali dan mengetahui bahwa Yuri juga menyukainya.

Yuri sampai di taman yang disebutkan oleh Luhan saat di sambungan telepon tadi, dia melihat Luhan yang juga sudah duduk di bangku taman. Sejujurnya Yuri gugup, entah harus berkata apa karena pertemuan terakhir mereka tidak begitu baik, dengan Luhan yang menyerahkan pengunduran diri dan tidak berbicara sepatah katapun ketika berpapasan dengan Yuri. Bahkan Yuri belum mengucapkan terima kasih atas ajakannya ke pameran waktu itu.

Langkah Yuri jadi lebih berat untuk mendekati Luhan, haruskan dia mengurungkan niatnya?

Tapi sepertinya tidak bisa lagi karena Luhan yang saat ini mendapatinya juga berdiri tidak jauh, dia tersenyum hangat seperti Luhan yang memang dikagumi oleh Yuri. Perlahan, mengumpulkan keberanian dengan tarikan nafas dan hembusan berkali-kali, langkah Yuri menjadi lebih ringan untuk mendekati Luhan.

“Maaf membuatmu datang ketempat ini saat dingin seperti ini.” ,kata Luhan ketika Yuri berada dihadapannya.

Yuri hanya menggeleng lemah, “Tidak apa.”

Mereka berdua kembali hanyut dalam pemikiran masing-masing, sebenarnya pemikiran yang sama tentang apa yang harus dikatakan. “Yuri.” ,Luhan akhirnya memilih untuk memulai.

“Ya?”

“Apa kau menyukaiku?” ,tanya Luhan to the point membuat Yuri menjadi gagu bahkan untuk menggeleng atau mengangguk.

Luhan mendesah, “Aku sakit hati karena mengetahui tentang perjodohanmu maka aku keluar dari café, tapi sekarang aku berfikir seharusnya aku bertanya tentang hal ini padamu sebelum keluar. Karena aku menyukaimu sejak pertama kali aku bekerja disana.”

Yuri masih terdiam. Dia bingung, sangat bingung, dulu Yuri tidak bingung ketika Sehun bertanya kepadanya tentang Luhan, apakah dia menyukai Luhan? Dengan lantang Yuri menjawab Iya dengan dua tanda seru. Entah sejak kapan juga dia menjadi ragu akan jawabannya sendiri.

“Kenapa?” ,alih-alih menjawab Yuri lebih memilih bertanya mengapa Luhan bisa menyukainya.

Luhan tersenyum menatap Yuri, “Kau ceria, cantik dan polos.”

“Hanya itu?”

Luhan menggeleng, “Karena itu kau, Yuri. Karena seorang yang ceria, cantik dan polos bagiku yang hanya membuatku menyukaimu itu adalah Oh Yuri, dirimu.”

Yuri benar-benar kehilangan katanya, tidak ada yang bisa di katakannya lagi. Dan Luhan seperti masih menanti jawaban darinya akan pertanyaannya, “Aku ingin membuat pengakuan.” ,ujar Luhan saat tak kunjung mendengar suara Yuri.

Yuri menatapnya, “Apa itu?”

“Tiket pameran kemarin, aku tidak mendapatkannya dari temanku. Aku memang membelinya karena Sehun bilang bahwa kau ingin sekali kesana, aku berbohong karena gugup saat ingin mengajakmu.”

Lagi. Luhan mampu membuatnya kaku karena perkataannya. Dan Luhan bukan orang bodoh yang tidak menyadari bahwa Yuri seperti bimbang dengan pemikirannya sendiri, maka dari itu Luhan berani dengan lancing menarik tubuh Yuri dan memeluknya erat. Keegoisan Luhan sekarang yang menang dengan membiarkan dirinya menjadi brengsek demi Yuri.

Sedangkan Yuri hanya menegangkan tubuhnya saat Luhan lebih erat memeluknya dengan mata yang mengerjap-ngerjap cepat.

“Hanya katakan bahwa kau menyukaiku maka akan aku pastikan bahwa diriku akan selalu bersamamu walau kau harus menikah. Karena suatu saat nanti aku akan berusaha merebutmu kembali. Kumohon.”

Hati Yuri mencelos, mencelos karena sikap Luhan yang seperti itu juga karena dirinya yang merasa bahwa dia akan mengkhianati Baekhyun kelak.

~ To Be Continue~

Halooohaaa…

Adakah yang ingat dengan ff ini? Ada ya ada ya…

Maafkan Rhee yang gak konsisten dengan janji untuk buat update ff, ini akibat kesibukan dunia perkantoran T.T

Sejak pindah kota jadi super duper sibuk deh, tapi kali ini InsyaAllah gak meleset lagi untuk update makmismal 2 minggu sekali.

Untuk readers yang masih inget ff ini (pleaasseee masih ada) makasih ya untuk kalian semua yang masih ingat dengan cerita ini…

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] More Than Beautiful (Chapter 4)”

  1. Aku baru tahuuu ff iniiiiii..jadii maaffkan daku yg baru ngasih komen disini yaaa krena tdi baca dr awal dlu biar ngerti jalan critanyaaaaa..
    Sian bgt ah si cabe d duain gt..si be sma noona be..djamin noona ga slingkuh klo km sma noona be hahqhahah 😂😂😂
    Q syukaa jalan critanyaaaa…fighting!!!!dtnggu bingitzzz next chap nyaaa ya thor 🙂
    Salam kenaaallllll 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s