GAME OVER – Lv. 43 [Paranoia] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — [ Level 1Level 10 ] — Tacenda CornerEden’s Nirvana — [ Level 11Level 20 ] — Royal Thrope — [ Level 21Level ??Level 30 ] — Spotlight Effect —  [ Level 31Level 40 ] — My Dimension, My Rules — Level 41Level 42 — [PLAYING] Level 43

Where are you right now?

Catatan penulis: level 40 dan seterusnya, merupakan cerita lanjutan dari kesinambungan antara cerita yang ada di level 1 s/d 29 dan flashback yang ada di level 30 s/d 39. Jika Anda mengalami gagal paham selama membaca cerita, sangat disarankan untuk menekan close tab yang ada di perangkat elektronik Anda. Salam sehangat kulit ayam, Irish.

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 43 — Paranoia

In Author’s Eyes…

“Aku tahu, sudah kukatakan kalau aku tahu cintaku ini bertepuk sebelah tangan, bukan? Aku melihat bagaimana cincin pertunangan melingkar di jemari gadis itu. Tapi tenang saja, aku tidak egois, jadi aku tidak mungkin melakukan hal-hal buruk untuk mendapatkannya.”

Mungkin, sekarang Liv harus benar-benar mempertimbangkan soal keberadaan manusia dengan ego mimimal. Seo Johnny ini, contohnya. Sayang, konversasinya dengan Johnny harus berakhir ketika leader dari Enterprise itu memutuskan untuk melangkah meninggalkannya begitu saja, mengakhiri konversasi mereka secara sepihak.

“Apa yang kau bicarakan dengan Royal Thrope?” Liv kenali vokal Jiho begitu didengarnya gadis itu melangkah cepat menyusulnya, rupanya Jiho sudah mengawasi dua orang itu sejak tadi.

Banyak hal yang tidak Liv sadari di sini. Dan mungkin, tidak bsia diaksesnya secara penuh meski dia telah masuk ke dalam sistem salah seorang karakter yang ada di dalamnya.

“Tidak ada, kami hanya bicara soal eksistensi NPC saja.” Liv berusaha berbohong sebaik mungkin. Tapi sayang, kebohongannya justru berujung pada sebuah helaan nafas tak nyaman dari gadis yang sekarang menjadi lawan bicaranya.

“Kau membicarakannya dengan Royal Thrope, tidak?” tiba-tiba saja Jiho bertanya.

“Tentang apa?” tanya Liv.

“Apa yang akan terjadi pada NPC yang terhapus?” Liv menyernyit saat didengarnya pertanyaan cukup serius itu lolos dari bibir Jiho. Awalnya, Liv sudah hendak menyusun rencana mengenai bagaimana dia sebaiknya melepaskan diri dari ikatan command Red Hair Witch, berhubung masuk ke dalam karakter ini ternyata tidak memberinya cukup informasi.

Tapi lagi-lagi keadaan Jiho mengusiknya. Gadis itu masih tidak berhenti mempertanyakan bagaimana nasib seorang NPC yang terhapus. Liv bisa mengerti jika Jiho mungkin sudah terbawa perasaannya pada sosok Invisible Black—yang di mana isinya adalah Baekhyun—dan Liv tahu, Baekhyun memang menarik.

Ya, ini bukan Liv utarakan semata-mata karena dia diciptakan oleh si jenius bermarga Byun itu. Tetapi karena Baekhyun memang nyatanya menarik dan dengan mudah bisa memikat wanita. Bahkan Baekhyun tidak harus mengeluarkan usaha-usaha berat untuk memikat wanita yang diinginkannya. Secara fisik saja dia sudah menarik.

Wajar saja kalau Jiho terbawa perasaan. Masalahnya di sini, Jiho sudah tahu kalau Invisible Black—yang memiliki fisik seperti Baekhyun—adalah seorang NPC, dan Liv tidak bisa membiarkan Jiho tahu bahwasanya di kehidupan nyata sosok Invisible Black ini benar-benar ada dalam bentuk Baekhyun, pencipta Liv itu.

Tidak, Liv hanya tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan yang akan tercipta kalau sampai Jiho bertemu dengan Baekhyun. Apalagi Baekhyun bukannya Invisible Black yang Jiho kenal selama berada di dalam WorldWare.

“Wendy?”

“Hmm?” Liv refleks menyahut saat didengarnya Jiho kembali memanggil. “Kau juga seorang NPC, apa kau tidak bisa tahu yang terjadi pada NPC-NPC yang terhapus karena game over? Mereka… tidak bisa dihidupkan kembali?” tanya Jiho kemudian membuat Liv tanpa sadar menghela nafas panjang.

“Tidak bisa, Jiho. Mereka sudah terhapus secara otomatis dari sistem. Kecuali kalau permainan ini direstart dari awal lagi. Semua karakter-karakter yang sudah terhapus mungkin bisa dipulihkan. Meskipun… mereka juga tidak akan memiliki memori-memori yang ada di sistem permainan sebelumnya.”

Kurang lebihnya, Jiho paham pada penjelasan yang didengarnya sekarang. Hanya saja dia tidak ingin menerima dua kemungkinan yang sama buruk itu. Kehilangan Invisible Black selamanya, atau Invisible Black kembali tapi tidak mengingatnya. Keduanya sama-sama menyakitkan bagi Jiho. Sebab dia tahu dua kemungkinan itu sama-sama membawa kemungkinan berpisah baginya.

Dari awal, Jiho sudah tahu perasaannya ini terlampau konyol. Dia hanya ingin berkeras mempertahankannya, sebab Jiho sungguh berharap jika di dunianya yang sudah serba maju dalam hal teknologi ini, ada harapan baginya untuk bisa bertemu kembali dengan pairnya.

Hhh…” Jiho akhirnya menghela nafas panjang, pandangannya sekarang tertuju pada ruang kosong yang ada di hadapannya. Sejak kemarin memang keinginan Jiho untuk bertahan seolah sudah pupus, terbawa kesedihan berkepanjangannya karena kehilangan Invisible Black.

“Baekhyun… Di mana kau sekarang?” gumaman yang lolos dari bibir Jiho berhasil membuat Liv mengulum senyum kecut. Dia tahu, Jiho telah benar-benar jatuh cinta pada benak Baekhyun yang hidup dalam karakter Invisible Black. Dan Liv juga tahu, tidak ada harapan bagi Jiho untuk bisa sedikit saja mendapat tempat dalam ruang hati Baekhyun yang sesungguhnya.

Pria itu telah memiliki seorang yang dia cintai. Jelas sudah, bagaimana akhir dari cinta bertepuk sebelah tangan ini bagi Jiho.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Baekhyun menatap monitornya hampir tanpa berkedip. Selagi di sebelahnya Invisible Black duduk dengan santai, menumpukan wajah di kedua sikunya sementara dia ikut mengawasi apa yang Baekhyun awasi sekarang.

“Tidak buruk, setidaknya besok pagi mungkin akan jadi final battle mereka, bukan?” Invisible Black angkat bicara, lantaran Baekhyun lebih senang berdiam. “Iya. Dan besok juga kau harus menyerahkan benakku kembali.” sahut Baekhyun ringan.

Invisible Black hanya mengedikkan bahu acuh. “Tidak masalah. Sudah kukatakan aku tidak masalah dengan mengembalikan memorimu, tapi aku tidak yakin kau akan siap menghadapi semua memori yang sudah kumiliki.” Baekhyun sekarang menyernyit mendengarnya.

“Memori apa yang sebenarnya berusaha kau pertahankan ini? Kau terdengar seolah berusaha untuk tidak melepaskan memori tentang gadis yang kau cintai saja.” Baekhyun tergelak juga, lantaran sikap keras kepala yang sekarang Invisible Black berikan terdengar sangat familiar baginya.

Beginilah sikap Baekhyun jika dia tengah berusaha mempertahankan argumen.

“Iya, aku memang mencintai seseorang di sana.”

“Apa?” Baekhyun rasa, dia sudah jadi orang bodoh, atau pendengarannya memang jadi terganggu karena beberapa hari ini mengurung diri di ruang sempit dengan jumlah oksigen yang minimal?

“Aku jatuh cinta, seperti katamu.” Invisible Black menyahuti dengan santai.

“Tidak mungkin!” alis Invisible Black terjungkit sedikit saat mendengar ucapan Baekhyun yang tiba-tiba saja berubah bernada tinggi. “Mengapa tidak mungkin?” tanya Invisible Black dengan nada tak kalah santai.

“Kau tidak mungkin jatuh cinta. Gadis yang kucintai adalah—”

“—Son Seungwan? Ah, iya, ingatan tentang gadis itu akhir-akhir ini baru muncul dalam benakku. Selama empat tahun ini dia tidak kelihatan sama sekali.” potong Invisible Black, dia sunggingkan sebuah senyum kecil pada Baekhyun.

“Meski dia hanya muncul beberapa kali, tapi aku tetap tidak mengerti. Mengapa kau bisa mencintai seseorang seperti Seungwan—ah, tubuhnya memang indah, aku akui itu karena ingatan tentang bagaimana kalian bercinta juga masuk dalam memoriku.

“Tapi, dia tidak semenarik itu, Byun. Mungkin itu sebabnya, aku sadar kalau aku sendiri telah jatuh cinta pada seseorang yang ada di dalam permainan ini. Tapi tenang saja, kau tidak mengenal orang ini—atau mungkin mengenalnya? Karena dia juga pernah muncul dalam memorimu.

“Yang jelas… aku mengenalnya lebih baik daripada aku mengenal Seungwan.”

Kalau saja Baekhyun tidak ingat batas rasional yang membatasi dirinya dengan Invisible Black sekarang, Baekhyun sudah bisa pastikan dia pasti sudah bergerak mencekik sosok berwajah serupa dengannya itu. Atau minimal menyudutkannya sampai dia menelan kembali semua kalimat yang sudah diucapkannya barusan.

“Kau tidak boleh mencintai orang lain! Bagaimana bisa kau pergunakan benakku dengan lancang untuk mencintai orang lain selain Seungwan!?” ucapan bernada tinggi itu segera masuk ke dalam pendengaran Invisible Black.

Seolah tidak paham kalau lawan bicaranya sekarang sedang muntab, Invisible Black malah dengan santai mengusap dagunya sementara tatapannya mengelana.

“Tapi Jiho bukannya orang yang tidak baik. Dia cantik, dan dia juga sangat baik.” kenang Invisible Black, tanpa sadar ia sunggingkan sebuah senyum yang membuat tatapan Baekhyun melebar.

Iya, Baekhyun kenal ekspresi konyol itu. Seperti itulah Baekhyun terlihat ketika dia menceritakan tentang Seungwan pada Sehun dan Liv. Bagaimana bisa ekspresi itu terulang kembali padahal mereka tidak sedang bicara tentang Seungwan?

“Namanya Jiho?” tanya Baekhyun, tidak berusaha menyembunyikan nada dingin dalam vokalnya. “Song Jiho, dia umm, dua atau tiga tahun lebih tua daripada dirimu, Byun. Ah… harusnya aku membiarkanmu bertemu dengannya dulu, kau akan mengerti apa yang membuatku jatuh cinta kepadanya.” ucapan Invisible Black sekarang berhasil membuat Baekhyun menyipitkan mata, tak percaya.

“Aku tidak akan bisa mencintai wanita lain sebanyak aku mencintai Seungwan. Camkan itu. Dan berhenti berdelusi tentang kau dan player bernama Song Jiho itu. Kalian tidak akan bisa bersama. Apa kau tidak sadar? Kau hanya sebuah karakter yang kuciptakan.” dengan tajam Baekhyun memperingati Invisible Black.

“Aku tahu, mana bisa aku lupa itu? Jiho juga sudah tahu kalau aku hanya seorang karakter ciptaan manusia saja, tapi dia tetap berada di sisiku. Sungguh menyenangkan rasanya, bisa punya seseorang yang selalu ada di sisimu ketika kau berada dalam situasi terburuk sekalipun. Apa Seungwan juga seperti itu padamu, Byun?” tanya Invisible Black dengan santai.

Dalam pandangan Baekhyun sekarang, dia dan Invisible Black seolah tengah berperan sebagai sepasang teman dekat yang saling bertukar cerita tentang kekasih mereka. Padahal di dalam hatinya, Baekhyun sekarang rasanya sungguh ingin menghapus Invisible Black secara permanen setelah dia dapatkan benak karakter itu sepenuhnya.

Bagaimana mungkin Baekhyun tidak merasa marah? Karakter itu telah dengan lancang menggunakan benak Baekhyun untuk memikirkan wanita lain! Dan Baekhyun rasanya sungguh ingin menghancurkan Invisible Black saat ini juga, kalau saja dia tidak ingat apa tujuannya bicara panjang lebar dengan karakter tersebut.

“Seungwan juga begitu, dia selalu ada di sisiku. Karena akulah yang ada di bagian dirimu, aku yakini ada bagian dari perasaan dan emosiku yang juga ikut dalam dirimu.” ujar Baekhyun berspekulasi.

Masuk akal juga kalau Invisible Black jadi menaruh ketertarikan pada wanita pertama yang ditemuinya, sebab perasaan rindu Baekhyun pada Seungwan pasti telah membaur bersama karakter Invisible Black. Membuatnya dengan membabi buta bisa menyatakan diri telah jatuh cinta pada wanita lain.

“Benarkah? Kalau begitu… aku setidaknya merasa sedikit lega. Karena aku hanya sebuah karakter yang tidak bisa merasakan emosi apapun, aku sungguh tidak tahu bagaimana menyenangkannya ketika mendengar kau dirindukan.

“Jiho selalu begitu, kami baru saja berpisah beberapa jam tapi aku ingin melihatnya lagi, dan dia juga bisa dengan begitu terbuka mengatakan semua yang dirasakan dan dipikirkannya tentangku. Bagaimana rasanya ketika Seungwan mengatakan kalau dia merindukanmu, Byun? Apa menyenangkan?” pertanyaan Invisible Black kali ini justru membuat Baekhyun terhenyak.

“Dia tidak pernah mengatakannya.”

“Apa?” Invisible Black menatap Baekhyun dengan kedua alis bertaut. Sementara Baekhyun memandangnya tanpa ekspresi. “Seungwan tidak pernah mengatakan ‘aku merindukanmu’ padaku. Puas?”

Bukannya menertawai, Invisible Black justru sekarang memasang ekspresi terperangah, diikuti sikap canggung yang kentara. Lantas, dia mengangguk-angguk paham, seolah dia tahu benar bagaimana perasaan Baekhyun saat mengatakan hal itu.

“Ah, begitu. Tenang saja Byun, nanti kau akan tahu bagaimana rasanya.” Invisible Black kemudian tersenyum. “Apa maksudmu?” tanya Baekhyun tak mengerti.

“Kau akan mendapatkan memoriku selama empat tahun ini, artinya mau tak mau kau harus menelan semua ingatanku tentang Jiho—gadis yang kucintai ini. Aku sering mengulang-ulang kalimat Jiho tentang bagaimana dia merindukanku, atau dia yang ingin melihatku. Nanti, kau bisa mengekspresikan emosi yang tepat untuk menanggapinya. Aku tidak punya emosi sebanyak yang kau miliki, ingat?” meskipun sekarang Invisible Black tersenyum lebar saat berkelakar, entah mengapa Baekhyun justru tiba-tiba saja merasa takut.

Sejauh apa hubungan tak masuk akal yang Invisible Black sebut sebagai cinta ini telah dia jalani sampai-sampai dia bisa dengan begitu tenang mengatakan bahwa Baekhyun akan bisa menerimanya dengan baik?

Hey, Baekhyun tidak ingin benaknya dipenuhi gadis lain selain Son Seungwan, apa Invisible Black tidak tahu itu?

“Kurasa aku harus menyaring ulang memori yang akan kumasukkan dalam benakku.” tiba-tiba saja Baekhyun berkata. “Mengapa?” tanya Invisible Black.

“Karena aku tidak mau Song Jiho ini memenuhi benakku. Memori yang kuinginkan tentang wanita hanya tentang Seungwan seorang. Mengerti?” Baekhyun memang tidak membutuhkan respon, tapi melihat bagaimana Invisible Black sekarang bungkam dengan ekspresi kecewa yang kentara di wajahnya entah mengapa membuat Baekhyun merasa terusik juga.

“Tapi… kenapa? Bagiku, semua memori tentang Jiho sangatlah menyenangkan.” kata-kata Invisible Black malah sekarang meloloskan tawa sarkatis dari bibir Baekhyun. “Benak yang ada padamu adalah milikku. Ketika benak itu kembali padaku, maka kenangan yang kau anggap menyenangkan itu tidak lagi menyenangkan.”

Hening sejenak menyelimuti. “Kalau begitu, jangan buang memori tentangnya. Katamu kau ingin melakukan reset ulang padaku—kemarin kau mengatakannya—bagaimana kalau… kau tidak melakukan reset padaku, tapi kau biarkan saja aku nonaktif dengan membawa serta memori mengenai Jiho yang tidak kau inginkan?” sekarang Invisible Black berusaha melakukan tawar-menawar dengan Baekhyun.

Memang, tidak sulit bagi Baekhyun jika dia ingin membiarkan Invisible Black menjadi command beku dengan membawa serta memori yang hendak Baekhyun buang itu. Tapi entah mengapa rasanya Baekhyun justru ingin menjadi egois.

Dia tidak mau siapapun tahu bahwa bagian kecil dari dirinya telah dengan lancang menaruh hati dan perhatian juga memori tentang gadis lain. Baekhyun adalah seorang yang setia, dan dia tahu benar… seluruh perasaannya hanya dia berikan pada Seungwan. Membiarkan Invisible Black menjadi nonaktif dengan membawa serta memori mengenai gadis lain adalah hal yang akan tetap mengingatkan Baekhyun pada kesalahan besar itu; kesalahan karena telah membiarkan benaknya berkelana dan memandang gadis lain.

“Aku tidak bisa.” Baekhyun akhirnya menutup perdebatan mereka dengan tegas. Invisible Black sendiri tampaknya sudah kalah. Sebab setelah mendengar ucapan Baekhyun, dia memilih untuk membuang pandang, enggan menanggapi.

Baekhyun pun meneruskan aktivitasnya, memerhatikan layar monitor yang menampilkan progress survival mode WorldWare yang berhasil diretasnya dan dia kendalikan secara tidak kentara.

Hey, Byun.”

“Apa lagi?” sergah Baekhyun tak nyaman. Konversasi bersama dengan Invisible Black seharian saja sudah terlampau mengganggunya, apalagi karakter sialan yang memiliki wajah sama persis dengannya itu seringkali melontarkan komentar-komentar menyebalkan.

Sekarang, Invisible Black bahkan sepertinya sudah sangat terbiasa memanggilnya dengan sebutan ‘Byun’ yang membuat Baekhyun semakin kesal saja.

“Ada apa?” Baekhyun akhirnya melempar pandang ke arah Invisible Black karena karakter itu tidak kunjung angkat bicara. Pandang keduanya sekarang bertemu, diam-diam Baekhyun paham benar apa maksud dari tatapan muram yang dilemparkan karakter itu padanya.

Tentu saja Baekhyun mengenalinya, sebab karakter itu dia ciptakan berdasarkan dirinya sendiri. Sungguh, sepasang saudara kembar saja tidak akan serupa seperti ini. Baekhyun rasanya sedikit menyesal karena membuat klonning dirinya sendiri dalam bentuk virtual begini.

“Apa aku tidak bisa hidup?”

“Apa?” Baekhyun tiba-tiba saja merasa pendengarannya sedikit bermasalah saat dia dengar apa yang Invisible Black katakan. “Apa maksudmu?” tekannya mendesak Invisible Black untuk terus berkelakar.

“Maksudku… Meski aku telah mengembalikan ingatanmu, apa aku tidak bisa tetap hidup? Apa kau… tidak bisa memberiku kehidupan? Tidak perlu menjadi dirimu, atau serupa denganmu. Aku hanya ingin hidup, itu saja. Apa… kau tidak bisa melakukannya?”

Wah, kali ini Invisible Black rupanya bicara serius. Dan Baekhyun mau tak mau jadi ikut memasang ekspresi serius juga. Masalahnya, permintaan Invisible Black kali ini sungguh tidak masuk akal. Bagi Baekhyun, cukup satu kali dia menciptakan kelahiran ilegal atas identitas seseorang—yaitu Liv.

Sekarang, membayangkan dia harus mencari tubuh yang sekarat lagi untuk dia usahakan ditempati oleh Invisible Black, membayangkan dia harus terjaga berhari-hari demi melakukan sinkronisasi benak Invisible Black dengan tubuh sekarat tersebut… rasanya konyol.

Bukan, bukan karena Baekhyun tidak ingin melakukannya. Tapi Invisible Black itu adalah Baekhyun sendiri, bagian dari diri Baekhyun. Bukankah, dengan masuk kembali dalam benak Baekhyun saja sudah berarti hidup bagi Invisible Black?

“Kau adalah aku, Black. Bisakah kau bayangkan bagaimana jika ada dua aku yang hidup di dunia ini?” tanya Baekhyun kemudian, dia sudah mengumpulkan penalarannya selama beberapa menit ini.

“Tapi kau dan aku berbeda. Seperti yang sudah kita bicarakan tadi, perasaanmu dan perasaanku berbeda. Meski… pemikiran kita sama, milik orang yang sama. Katamu, perasaan adalah yang membuat seorang manusia menjadi manusia, bukan? Tidak bisakah aku juga berharap untuk hidup?” Baekhyun ingin sekali membantah perkataan Invisible Black sekarang, tapi dia tidak bisa.

Memang nyatanya, karakter ini tidak memiliki rasa yang sama seperti Baekhyun. Emosi mereka berbeda, cara mereka meluapkan emosi itu juga berbeda. Mungkin juga, Invisible Black adalah bagian-bagian minimal dari emosi Baekhyun selama ini. Atau bisa juga emosinya berkembang sendiri karena dia telah dibiarkan hidup melalui perantara benak Baekhyun.

“Byun,” Baekhyun mendongak saat didengarnya Invisible Black memanggil. Dia kenal benar pandang serius yang Invisible Black lemparkan padanya. Sama persis seperti yang Baekhyun lakukan ketika dia ingin memperjuangkan sesuatu yang dia anggap pantas untuk menjadi kepemilikannya.

“Gadis bernama Song Jiho ini… semenarik apa dia sampai kau bisa dengan lancang membuang perasaanku terhadap Seungwan yang seharusnya ada di dalam dirimu?” tanya Baekhyun kemudian membuat Invisible Black berjengit sedikit dari tempatnya sejak tadi duduk tenang.

“Apa dia secantik Seungwan?” cecar Baekhyun lagi, karena toh mereka sudah terlanjur bicara tentang gadis ini, mau tak mau Baekhyun jadi merasa dia harus benar-benar menyelesaikan pembicaraan mereka.

Umm, tidak. Seungwan lebih cantik—dalam perspektifmu. Tapi Jiho ini menarik dan… tidak bisa ditolak.” kata Invisible Black menjelaskan.

“Baiklah, karena dia tidak secantik Seungwan jadi aku kurangi satu poinku tentangnya. Lalu, apa saja yang sudah kau lakukan bersamanya? Berpegangan tangan?” tanya Baekhyun lagi.

“Ya,” jawab Invisible Black.

“Berpelukan?”

Eh-hm,” Invisible Black lagi-lagi mengiyakan.

“Berciuman?” kali ini ada rasa kesal tak kentara dalam kalimat Baekhyun. Meski dia berusaha menekan kekesalan itu sebab percuma saja, toh keduanya tidak melakukan semua kontak fisik itu secara nyata.

“Iya, satu kali.” jawab Invisible Black, kali ini dia mengulum senyum—yang mau tak mau membuat Baekhyun malah semakin penasaran. “Bagaimana?” tanya Baekhyun membuat Invisible Black menatapnya dengan alis terangkat.

“Mengapa aku harus menjelaskannya padamu? Itu privasiku.” sahutan Invisible Black sekarang justru membuat Baekhyun tergelak. Sama persis, sama persis dengan dirinya. Begitulah Baekhyun merespon jika dia dipaksa untuk bicara tentang sesuatu yang ingin disimpannya sendiri.

“Setidaknya aku bisa menarik kesimpulan kalau dia memang menarik dalam perspektifmu. Tapi tetap saja, aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu. Karena kau adalah bagian dari diriku, dan aku tidak bisa membiarkan keadaan kita tetap seperti ini.” Baekhyun kemudian bicara serius.

Dia sudah lelah berdebat dengan dirinya sendiri, sungguh, sikap keras kepala Invisible Black memang sama persis dengan dirinya. Dan mau tak mau Baekhyun merasa tak nyaman juga kalau harus terus berdebat dengan dirinya sendiri. Bisa saja hal itu akan memberi efek samping pada benaknya esok ketika dia sudah mendapatkan benak Invisible Black, bukan?

“Kalau begitu, tidak bisakah kau biarkan saja Jiho ada dalam benakmu? Katamu aku adalah bagian dari dirimu. Kalau kau mendapatkan memoriku, itu artinya ingatan tentang Jiho juga akan ikut.

“Aku ingin terus mengenangnya. Maksudku… dia adalah bagian dari kenangan menyenangkan bagiku, Byun. Kau juga tidak ingin kehilangan Seungwan dari benakmu, bukan? Aku juga begitu. Aku tidak ingin kehilangan gadis ini.”

Baekhyun terdiam sejenak. “Tapi tidak ada artinya, Black. Pada akhirnya kau dan aku akan menyatu menjadi satu; yaitu aku. Dan… aku takut.” Baekhyun akhirnya mengaku.

“Kau takut? Takut pada apa?” tanya Invisible Black tidak mengerti.

“Aku takut perasaanmu pada Song Jiho ini akan memengaruhi perasaanku pada Seungwan juga. Kau tentu tidak ingin, aku jatuh cinta pada gadis yang kau cintai, bukan?” kali ini giliran Invisible Black yang terkesiap.

“Tidak. Kau tidak boleh mencintainya, Byun. Hanya aku yang boleh mencintai Jiho.” Invisible Black akhirnya tertunduk muram. Ketakutan ini bukan hanya miliknya, tapi milik Baekhyun juga.

Mau tak mau keduanya harus menerima fakta bahwa meski mereka berasal dari satu orang yang sama, meski Invisible Black hanya bagian dari memori yang Baekhyun selipkan dalam sebuah karakter fiktif, tapi nyatanya kecerdasan fiktif yang Baekhyun ciptakan itu telah berevolusi.

Keduanya terjebak paranoia, sudah jelas keduanya tahu benar bahwa setelah Invisible Black menyerahkan memorinya, yang tersisa hanya kenangan milik Baekhyun seorang, yang membaur bersama dengan kenangan milik Invisible Black.

Tapi sekarang keduanya justru bersikap seolah mereka adalah dua orang berbeda yang dipaksa untuk hidup dalam satu tubuh yang sama. Baekhyun tidak siap menerima semua memori Invisible Black, terutama memori karakter itu mengenai gadis yang telah merenggut atensinya selama empat tahun ini.

Dan Invisible Black tidak siap kehilangan. Dia tidak siap melepaskan gadis yang telah memberinya hidup selama beberapa waktu terakhir. Dia tahu dia tidak bisa hidup, dan Baekhyun pun pasti akan kesulitan mengusahakan kehidupan untuknya. Tapi dia juga tidak ingin melepaskan si gadis begitu saja.

Invisible Black masih ingat dengan jelas bagaimana sakitnya kehilangan Jiho ketika gadis itu harus mengakhiri kehidupannya dengan menggunakan Wild Rose. Dan dia tidak ingin dibunuh untuk kedua kalinya dan mengetahui bagaimana kenangannya tentang Jiho akan ikut terhapus.

Dia ingin hidup, tapi dia tidak boleh hidup, sebab dia hanya meminjam kehidupan orang lain. Invisible Black ingin terus mengenang gadisnya, tapi dia tahu dia tidak pantas mencinta sebab dia hanya sebuah karakter fiktif, di mana pemilik benak yang memberinya kehidupan juga telah mencintai gadis lain.

Baekhyun sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Bukannya dia berbohong tentang bagaimana dia ketakutan karena membayangkan kemungkinan bahwa dia akan bisa merasakan hal yang Invisible Black rasakan pada gadis bernama Song Jiho itu. Bukan pula Baekhyun tidak ingin membiarkan Invisible Black hidup.

Tapi dia tidak bisa, kemampuannya belum sampai sejauh itu untuk membiarkan sebuah kecerdasan buatan bisa hidup dengan bebas dengan membawa serta bagian dari benaknya. Apa yang akan terjadi pada Baekhyun kalau dia biarkan Invisible Black terus hidup dengan menggunakan bagian dari identitas Baekhyun?

“Maaf, aku tidak bisa membantumu, Invisible Black.” akhirnya Baekhyun berkata, dia sudah menyerah, begitu pula dengan Invisible Black. Tampaknya rasionalitas telah menguasainya kali ini. Sehingga tanpa memberi perlawanan berarti dia sudah tahu di mana benteng pertahanannya harus dia serahkan.

“Aku tahu. Tapi, bisakah kau membantuku untuk terakhir kali? Aku hanya ingin menemuinya satu kali saja, sebelum kau membunuhku, Byun Baekhyun.”

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Mari siapkan tissue dahulu, ini bagian terbaper (eh baperan pas bagian ngebunuh Invisible Black sih… sama baper juga pas bagian Baekhyun ketauan NPC) tapi di level ini kok rasanya full angst gitu, tumben sekali diriku… mana ngetiknya cepet banget lagi cuma 76 menit doang udah kelar, saking seriusnya mau ngelarin bagian melodrama, wkwk.

Cuma emang di bagian ini yang diskusi sekaligus perdebatan Black-Byun ini jelas banget endingnya dibawa kemana, wkwk (ini sebenernya author’s note atau komentar sih…) DAN YES, anggeplah aku kembali bawa level baper setelah kalian keenakan aku kasih level-level yang bikin mikir.

Ini level santai kok, tapi agak-agak menguras emosi aja, dikiiit, enggak banyak-banyak karena nanti aja pas bagian kita eksekusi Invisible Black dari muka bumi ini baru deh harus siap emosi (emosi buat ngelempar aku, maksudnya).

Nah, sekian dulu dariku, aku enggak mau banyak berceloteh banyak-banyak biar kalian mood melodramanya enggak mumbul gara-gara fingernotesku. Sampai ketemu hari Jum’at! Selamat menjalani hari Senin!

Salam, Irish.

kontak saya  Instagram  Wattpad  WordPress

32 tanggapan untuk “GAME OVER – Lv. 43 [Paranoia] — IRISH”

  1. NYESEK BANGET level INI KAK IRISH…
    Apalagi pas bagian >
    “Jiho selalu begitu, kami baru saja berpisah beberapa jam tapi aku ingin melihatnya lagi, dan dia juga bisa dengan begitu terbuka mengatakan semua yang dirasakan dan dipikirkannya tentangku. Bagaimana rasanya ketika Seungwan mengatakan kalau dia merindukanmu, Byun? Apa menyenangkan?”

    Bukan karena hubungan baekhyun dan seungwan yang tak terhalang jarak,tapi karena (mungkin) rasa cinta mereka tak sebesar cinta Black-jiho..

    Sumpah ini melllloww banget kak,tapi aku sukak

    Baekhyun paham dengan pasti bahwa hatinya sangat sangat berpeluang untuk menaruh perasaan sama Jiho

    PLISSSS KAK IRISH..AKU SANGAT SANGAT MENDUKUNG BAEK-JIHO..!!!

  2. Aku nyesek banget bacanya sumpah.. Mau nangis tapi ga bisa cuma sakit aja di hati.. Takdir hidup emang kejam black.. Pengen marah rasanya tapi mau gimana lagi.. Hidup kamu bukan cuma kamu seorang black, ada baekhyun juga 😢

  3. Kasian ya black, maafkan baek yg dulu. Sudah menciptakanmu tapi harus membunuhmu T.T
    Sedih pasti sih dua duanya, yg satu karena ga bisa ngenang kenangannya, yg satu karna harus menghapus karya yg di dunia cuma ada dua dan ngga ada duanya, wesseh
    Yah yah.. semangat deh baeek, blaack jugaa

  4. “Kalau begitu, jangan buang memori tentangnya. Katamu kau ingin melakukan reset ulang padaku kemarin kau mengatakannya bagaimana kalau… kau tidak melakukan reset padaku, tapi kau biarkan saja aku nonaktif dengan membawa serta memori mengenai Jiho yang tidak kau inginkan?” aduuh kasian banget IB disini :” tapi maaf aku lebih suka kamu mati biar memori.mu ada di baek, biar baek cinta ma jiho :v /kok aku jadi jahat ya/
    Btw, ini nguras emosinya banyak loh kak -,- kayak gini aja baper apalagi pas ketemu jiho entar trus pas dia dibunuh
    Siap-siap tissue aja deh

  5. Aduhhhh duhhh duhhhh… baperrrrrr… hiks hiks… kok kasian banget sama Invisible Black nya, kak irish kok tega.. hiks hiks.. itu terkesan kayak napi yang terpidana mati gitu. miris nah kak irish…

    Terjawab sudah pertanyaan ku kak, knpa inviaible blavk gak ingat sama seunghwan. Udah kejawab kak makasih dehhh…

    See U soon ♡♡♡

  6. Aduh kacau di eps sebelumnya aku minta invisible black menyerahkan memorynya ke baek tpi kok sekarang jadi pengen dia hidup kaya manusia lain bisa merasakan emosi kaya manusia pada umumnya juga gak harus bingung-bingung nanti baek sama seungwan ato jiho
    Klo bisa baek sma seungwan trus jiho sama Invisible black yg dihidupkan😂

  7. jangan bunuh invisible black buat kedua kalinya donh rish…
    kasian di udah melas gitu..
    huhuhu..
    bener ini level melodrama..padahal kebanyakan percakapan byun-black doang..
    tapi kenapa ini rada menyakitkan yak..
    gmana nasib invisible selanjutnya..
    ah aku harus nunggu hari jum’at..
    oke deh rish…
    semangat ya buat ngejalanin aktifitasmu…
    fighting..

  8. suka kesel kalo denger baekhyun ngomong mb seunghwan serius T_T sebenere suka kok shipperin mereka bedua,tapi bukan di FF ini 😥
    jangan di bunuh lagi invisable black nya kak. aku gak tega sumpah *ngelapinggus 😭😥😒 syudah cukup sakit loh itu di tusuk pakek wile rose, ini mo di eksekusi lagi. aku kudu ottoke kak ? ya kalo gak mau ada benak mb jiho ya,buatlah invisable black kayak liv. bisa kan kak bisa ? *maksabanget 😭😭
    kalo dipikir² ini sebenere bukan baekhyun loh yang kejam,tapi author nya whehehe buat idup mamas invisable black sama mb jiho di ombang ambing dalam kesengsaraan 😅😆

  9. Kak airiseu 😭😭😭😭😭😭
    Aku baper. Sampe nangis karna si black. Segitu cinta nya dia sama jiho sampe dia minta kehidupan sama baek. 😣😣
    Baper kak. Karakter fiktif tp bisa mencinta sampai segitu nya. *aiiih
    Ini tetep campur aduk hati ku kak 😳😳

  10. Kisah black-jiho nyesek bgt,,, tpi lebih nyesel lagi sma black-byun… Aaa baek jgn musnahkan black,,, gak tau knpa aku sepemikiran sma black yg minta kehidupan kyak Liv…. Kan lucu tuh ada dua baekhyun dengan kekasih yg berbeda😂😂 pokonya byun ubah keputusanmu, biarkan black hidup. ya ya yahh…

    Itu black yg mau nemu.inn jiho kmbali keg.a potongan yg chap 29 yah… Yang jiho bertemu sma black trus nanya klau dia masih hidup??? Dan apa Black masuk ke game dgn benak baekhyun lagi??? Klau iya kan bhya,, bisa jdi black egois dan tdk membiarkan baekhyun kmbali…??? Aahhh molla,, pusing saya😑

    Hwaiting Rish

  11. Baper beudd pas invisible black meminta kehidupan😭😭 gak tega gak tegaa
    Keinginan buat PHO-in baekwan(?) jadi bulet banget kek telor 😣

  12. Ya ampun miris banget keadaannya…yang sabar ya invisible black semoga ada keajaiban yang bisa menolongmu untuk keluar dari kesedihan ini…

  13. Ya ampuuuunnn…
    Ini apaaaa??? Knp ship q dibikin timbul tenggelam bgni???
    Kasihan black deh..
    Gue baper
    Tapi makasih deh thor, udah dikasih level baper.. 😢 aku terharu
    Next level kayaknya mesti siap2 tisu deh.. gpp sih kalo mau dibikin setragis mungkin.. menyayat hati jg gpp, i love to suffering /alay/

    Percakapannya baek n black ngeri2 sedap euy.. aku jd ikut deg2an..

    Fighting thor..

  14. Mba Jiho… Sungguh malang nasibmu.. D chapter sblumnya aku tnya apa bsa invisible black ini hdup sprti Liv, dan d chapter ini trjawab sudah… Ahhh sedihnyo… 😭

    Btw suka sma tampilan blognya yg baru… 😁

  15. “kau itu aku, aku itu kau, aku bagian darimu, dirimu bagian diriku”
    Puyeng gw ya Allah…katanya bulak balik pusing ak baca😂😂😂😂😂
    Tak bisakah kau berikan Baekhyun menjadi 2???
    Eh tpi Wendy punya Johnny Deng..
    Baekhyun nya 1 aja deh..
    Tpi kog gk rela klo invisible black mati😭😭😭😭😭😭😭😭

  16. Jujur aku lebih suka karakter black disini dari pada baekhyun ya walaupun mereka itu akhirnya bakal jadi satu orang juga,,, pupus sudahh harapan black jadi hidup kaya liv 😥😥 padahal dari baca dua level kemarin itu aku berharap banget black bisa hidup kaya liv gitu,,, kehidupan jiho nanti gimana setelah keluar dari worldware?? Mupon itu kan susahnya sama kaya masukin benang ke lubang jarum yg paling kecil,, (;∀;)

  17. Demi apa rish…demi apaa…..eke hqrus sedih senang ato kecewa sih ini?gado2 perasaan eke mah rish gegara dikau…
    Jadi emang sudah fix black ga bakal ada lagi huaaaaa ga relaaaaa..a lbh suka sikap black tp suka mesumny baek cemana dong?????*digeplak laki*
    Jiho ya…i know what u feel…skit yes sling cinta tp tak bisa memilili..*baper smp minggu depan*
    Udah ah rish..jgn bkin satu indonesia baper sma tulisanmu rish..mna ini senin lgi..adakah senin yg lebih baper lg drpda ini?😭😭😭

  18. Black, sungguh malang nasibmu
    Ga tega kalo black harus mati.
    Di cerita ini banyak banget yang cinta bertepuk sebelah tangan deh. Nasib oh nasib

  19. Kenapa?! Kenapa takdir berbeda😭
    Ntar pas Invisible Black ketemu si Jiho, Baekhyun suruh ikut ajalah. Biar bertiga ketemu. Terus nyelesain urusannya masing-masing. Gausah campur tangan kak Irish😂😂😂

  20. IB benaran dimusnakan nantiny? Bagaimana dgn jiho, aduh sungguh kasihan nasibmu jiho..
    Atai jangan-jangan ada tujuam tersembunyi kak irish dgn kematian IB? Ya kannnn hehehh, masih berharap ama baek-jiho. Wkwkwk

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s