DREAM — #1: Her Problem ►► IRISH

⁛  DREAM  ⁛

►  Byun Baekhyun x Lee Hyerin  ◄

►  Fantasy x Slight! Mythology x Romance x School-life ◄

►  Chapterred x Teenager(s)  ◄

Vivid Dream(s):

ForewordPrologue ► Baekhyun’s SidePrologue ► Hyerin’s Side — [tonight] #1: Her Problem

♫ ♪ ♫ ♪

#1 — Her Problem

In Jungha’s Eyes…

“Namaku Park Jungha, pertukaran pelajar dari Seoul International School. Senang bertemu dengan kalian.”

Tempat ini tidak ramah, jadi aku juga tidak perlu memperkenalkan diriku dengan ramah seolah aku benar-benar jadi murid pindahan saja. Aku hanya akan ada di tempat ini selama beberapa hari—sungguh, kalau aku bisa menyelesaikan tugasku lebih cepat, pasti dalam hitungan hari aku dan Baekhyun, rekanku, sudah bisa kembali ke Akademi.

Gayanya sombong sekali… Begitu mengesalkan…

Aku ingin tahu apa yang mungkin anak-anak lakukan untuk mengerjainya…

Pikiran manusia, ya, aku mendengarnya. Sebagian besar orang yang ada di Akademi juga bisa mendengar pikiran manusia. Well, bukan berarti aku bukan manusia selayaknya mereka, tetapi kami sedikit berbeda.

Biarkan saja mereka berpikir sesuka hati tentangku.

“Kau bisa duduk di sana Jungha.” seorang guru dengan marga Kim berkata, menunjuk ke sudut kelas, satu-satunya kursi kosong di sana adalah kursi yang berada di sebelah seorang murid perempuan dengan rambut berwarna merah menyala.

Sungguh? Dia berpenampilan seperti itu ke sekolah? Padahal kudengar sekolah ini adalah sekolah bergengsi dengan puluhan murid berprestasi di dalamnya. Bagaimana mungkin sekolah ini mengizinkan muridnya untuk mengecat rambut dengan warna merah menyala seperti itu?

Walaupun aku akui, dia memang tampak ‘menyala’ dan menarik dengan rambut merah seperti itu, tapi rasanya keadaan seperti ini sangat tidak sinkron dengan nama yang dimiliki sekolah.

“Terima kasih, Guru Kim.” aku berucap sebelum akhirnya kubawa tungkaiku melangkah ke arah murid perempuan itu—yang bahkan tidak mengalihkan pandangnya dari jendela, tampak begitu jelas dia tidak tertarik pada apapun yang terjadi di kelas ini.

Hah. Rasakan. Kau sekarang duduk dengan Hyerin!

Aku sedikit merasa terusik oleh pikiran yang lagi-lagi kudengar. Apa murid perempuan ini bernama Hyerin? Untuk mengusiknya, dengan sengaja aku sedikit menggeret kursiku—menimbulkan bunyi berderit yang kentara—sehingga perhatiannya bisa teralihkan.

Dan benar saja, setelah mendengar suara kurskiku, dia menoleh, pandang kami bertemu dan bisa kulihat wajah pucatnya tampak begitu lelah dan bosan. Tapi kemudian dia membuang pandang lagi, rupanya kesibukan murid-murid kelas PE di lapangan sana lebih menarik buatnya.

Baguslah. Murid baru itu sombong, dan Hyerin berjuta kali lebih sombong. Mereka sangat cocok.

Melihat dari buku tugas di hadapannya yang terisi penuh dengan tulisan tertata rapi dan jawaban sempurna, dia pasti bukan salah satu murid bermasalah, atau pembuat masalah. Apa dia termasuk dalam kategori yang ‘dimusuhi’ oleh teman-teman sekelasnya? Well, semua sekolah pasti punya murid-murid yang dikucilkan seperti itu, bukan?

“Siapa namamu?” tanpa bisa menahan diri akhirnya aku mencoba membuka konversasi dengannya. “Lee Hyerin.” sahutan singkat itu dia berikan bahkan tanpa menolehkan pandang.

Detik itu juga aku sadar aku sudah melakukan hal yang tolol. Harusnya aku tidak mengajaknya bicara sama sekali. Bodoh. Sekarang aku terlihat seperti orang bodoh yang berharap ia mengajakku bicara!

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Bagaimana kelasmu?”

Aku dengar Baekhyun bertanya saat kami bertemu di kantin, satu-satunya tempat di mana kami bisa bertukar konversasi santai selayaknya murid sekolah lainnya.

“Membosankan.” sahutku enteng sambil mengambil tempat kosong di sebelah Baekhyun. “Pikiran mereka membosankan?” tanya Baekhyun sambil memelankan suaranya.

“Bukan hanya pikiran mereka. Teman semejaku malah lebih membosankan lagi.”

Baekhyun menyernyit.

“Jarang sekali kau peduli pada keadaan teman semejamu. Biasanya kau malah bilang kau sangat kesal karena teman semejamu terus bicara tanpa henti.” ucap Baekhyun, tergelak.

Aku mendengus mendengar perkataannya, selagi tungkaiku berusaha untuk mencipta ruang gerak yang lebih leluasa di antara kursi panjang kayu yang menghimpit kami di antara meja.

SRAK!

Tanpa sengaja—entah karena teringat pada teman semejaku itu atau karena aku memang membenci ruang sempit di tempat ini—aku tanpa sengaja mengeluarkan kekuatan yang berlebihan. Mencipta retakan kecil di kaki meja dan tentu saja aku dilempari sebuah tatapan tak percaya oleh Baekhyun.

“Ada apa denganmu huh?” ucapnya kaget, dia tahu benar kalau tidak biasanya aku bersikap seperti ini. “Kau tahu? Teman semejaku itu sangat sombong. Hah. Dan tadi aku mengajaknya bicara, tapi dia menyahut tanpa memandangku. Bodoh. Tindakan terbodoh yang pernah aku lakukan.” ucapku masih sangat kesal pada tindakan yang di lakukan teman semejaku itu.

Masa bodoh dengan meja yang rusak, toh aku tak perlu mengganti rugi apapun. Tapi harga diriku sudah terluka karena tindakan bodoh yang kulakukan atas inisiatifku sendiri. Sialan.

“Oh ayolah. Maksimal, hanya tiga minggu kita di tempat ini. Lalu kita akan kembali ke Akademi.” ucap Baekhyun membuatku teringat pada tujuan kami di tempat ini. Diam-diam, aku sangat ingin memanfaatkan tiga minggu itu untuk—

“—Jangan berusaha memikirkan rencana untuk mencelakainya. Kau bisa di keluarkan dari Akademi.” Baekhyun rupanya mendahului pemikiranku. Hal yang kemudian membuatku memutar bola mata—jengah. Punya kemampuan bisa melihat apa yang akan di lakukan seseorang membuat Baekhyun bisa seenaknya mencegah pemikiran buruk seseorang.

“Lagipula, bukannya lebih baik bagimu kalau teman semejamu tidak banyak bicara? Kau jadi bisa menyelesaikan tugasmu dengan cepat. Iya ‘kan?” ucap Baekhyun mengembalikanku pada rasionalitas.

Aku hanya menanggapinya dengan senyum kecut. Satu sisi pikiranku masih sangat ingin mengerjai teman semejaku itu, tapi setelah kupikir-pikir lagi, rasanya mengerjai Lee Hyerin itu tidak jadi prioritasku saat ini.

Toh tindakan angkuhnya juga tidak merugikanku. Malah ia membantu. Sangat membantu. Karena aku tidak harus repot-repot bicara padanya.

Hey, bukankah dia targetmu?” ucap Baekhyun menyadarkanku dari lamunan. “Siapa maksudmu?” aku bertanya dengan nada bodoh, menolehkan pandang ke arah yang dipandang Baekhyun dan sekarang jelas sudah kulihat seorang pemuda bertubuh jangkung tengah berjalan bersama beberapa orang temannya.

Yap, dan kebetulan sekali dia teman sekelasku.”

Baekhyun mengerang pelan. “Beruntung sekali kau. Aku harus sangat kesulitan untuk mendekati targetku.”

“Memangnya siapa? Kau sudah menemukannya?”

“Dia punya kekuatan yang besar, aku mengenalinya begitu kami bertemu pagi ini. Tapi keadaannya sangat menyedihkan.” ucapan Baekhyun sekarang membuatku menyernyit.

“Apa maksudmu?”

Dia korban bully di sekolah ini… Dan kurasa, targetmu itu adalah orang yang sangat sering menjadikannya korban… Ugh… Ini menyebalkan…

Walaupun Baekhyun menyahutiku lewat pikirannya, aku tahu ia sangat kesal karena hal ini. Kurasa targetnya adalah seseorang yang memang memiliki kelemahan dari sisi fisik, atau dia memang sengaja berperangai begitu agar tidak harus melukai manusia dengan kekuatannya. Betapa hal manusiawi semacam ini sangat mengganggu.

Apa yang sebenarnya berusaha dia lakukan?

Pikiranku sedikit terusik saat mendengar gumaman samar di dekatku. Aku tidak terusik karena ia berpikir, tapi caranya berpikir sangatlah tenang, dan hanya berupa gumaman. Maksudku, jarang sekali kutemui manusia yang menggumam dalam pikirannya dengan melontarkan kalimat sarat akan kekesalan seperti itu.

Sontak, perhatianku teralihkan oleh si pemilik pikiran tadi. Segera manikku bergerak berusaha menemukan pemiliknya, pandangku kemudian bersarang pada siswi berambut merah menyala yang terlihat sangat familiar.

“Kau mencari siapa?” tanya Baekhyun, dia sangat paham jika saat bertindak seperti ini berarti bahwa aku sedang mencari pemilik pikiran yang secara tidak sengaja kudengar.

“Bisa kau mendengarkan mereka lebih dekat?” tanyaku pada Baekhyun, aku mengedikkan dagu ke arah sosok berambut merah menyala itu. Lantas, Baekhyun melempar pandang ke arah yang sama, seperti reaksiku pagi tadi dia juga sedikit tampak terkejut dengan penampilan eksentrik siswi itu.

Tapi tanpa berkomentar apapun Baekhyun akhirnya meletakkan telapak tangannya di atas punggung tanganku—satu caranya untuk menyalurkan pendengaran tajamnya pada orang lain.

“Seharusnya kau tidak mencari masalah dengan kekasihku!”

“Kau bicara tentang siapa?”

“Lee Hyerin! Jangan main-main denganku!”

Aku menyernyit saat kudengar tawa pelan lolos dari bibir siswi berambut merah menyala tersebut. Dia memang tertawa, tapi sangat kentara kalau dia tengah berusaha meledek.

“Tidak ada gunanya bermain-main dengan orang bodoh.”

BRAK!

Kali ini, aku tidak membutuhkan pendengaran tajam Baekhyun untuk bisa menangkap suara bantingan keras yang sekarang berhasil memecahkan konsentrasi dan fokus semua orang di sekitar kami.

“Kau mau apa?”

Aku memandang ke arah Hyerin, ugh, harusnya aku punya kelebihan memandang dengan sangat rinci, jadi aku bisa meneliti ekspresi Hyerin sekarang.

“Urusan kita belum selesai! Camkan itu!”

Baekhyun mengalihkan tangannya dari punggung tanganku. Dan sekarang tatapanku tertuju pada Hyerin. Dia tampak sangat tenang seolah beberapa saat yang lalu ia tidak sedang berada di tengah-tengah keadaan mencekam karena ada seseorang yang mengancamnya.

Gadis itu memasang headphone yang tadi melingkar di lehernya, lalu ia melangkah pelan menyusuri koridor—seolah ia melangkah dengan banyak pikiran dalam benaknya. Diam-diam, aku kembali merasa penasaran. Jadi aku kembali memokuskan pendengaranku, berusaha mencuri-dengar apa yang Hyerin pikirkan.

Kelas ramai sekali, aku tidak bisa tidur.

Hanya itu? Hanya hal sepele itu yang ia pikirkan?

“Ada apa denganmu?” tanya Baekhyun.

“Tidak.” aku menggeleng pelan, masih memandang ke arah Hyerin. “Siapa dia? Kau sepertinya sedang berpikir keras.” lagi-lagi Baekhyun bertanya.

“Dia teman semeja yang aku bicarakan.”

“Siswi itu? Astaga, betapa tidak beruntungnya kau. Dari penampilannya saja sudah jelas dia pasti seorang murid bermasalah.” kudengar bagaimana Baekhyun menggerutu.

Ya. Gadis itu memang pembuat masalah. Pembuat masalah dalam pikiranku. Caranya berpikir yang begitu simpel dan kosong. Semuanya begitu mengesalkan.

“Dia memang pembuat masalah.” ucapku membenarkan.

“Sudah jangan pikirkan dia, Jungha. Kau hanya perlu bertahan selama tiga minggu.” ucap Baekhyun berusaha menenangkanku.

Benar. Hanya tiga minggu Jungha. Dan kau harus kuat menahan rasa kesal di pikiranmu karena tindakan gadis itu.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku melangkah ke dalam kelas dan memandang ke arah tempat dudukku. Hyerin tampak duduk bersandar di kursinya, headphone masih terpasang di telinganya, dan ia tengah memejamkan mata.

Aku menajamkan pendengaranku, berusaha menemukan pikiran Hyerin.

“…jangan lupa soal rumus itu Hyerin, kau harus ajarkan aku…”

Dia sedang bermimpi dan—

—SPLASH!!

Aku tersadar saat rasa dingin membasahi sekujur tubuhku.

Hahahahaha!”

Aigoo! Dasar bodoh!”

“Lihat! Pakaian dalamnya kelihatan!”

Sial! Aku tidak memperkirakan hal ini akan di lakukan teman-teman sekelasku.

Yes! Rencana berhasil!

Mati kau! Rasakan!

Aku terlalu marah untuk bisa terus mendengar pemikiran teman-teman—tidak—mereka bukan temanku, mereka musuhku sekarang. Tanpa bicara apapun atau melihat satupun reaksi mereka, aku melangkah dengan cepat keluar kelas.

Dengan kecepatan langkah yang mungkin kuperkirakan hanya akan sedikit lebih cepat dari manusia disini, dan aku segera melangkah ke ruang kesehatan sekolah.

BLAM!

Dengan kekuatan yang tidak dimiliki manusia, aku membanting pintu ruang kesehatan tersebut. Untunglah tidak ada siapapun di sini—jika ada, mungkin aku harus berpikir untuk tidak meluapkan kemarahanku padanya.

Aku segera mengambil handuk di lemari, dan menutupi tubuhku. Aku tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini dari sekolah manapun. Hah. Jika saja mereka tahu darimana aku berasal dan kekuatan seperti apa yang aku punya, mereka mungkin akan berpikir jutaan kali untuk bahkan berani melirikku.

TOK! TOK!

Aku masih terlalu sibuk untuk menenangkan diriku dari perlakuan yang baru saja kudapatkan, dan rasanya terlalu malas untuk melangkah ke pintu dan membukanya. Bisa saja emosiku membuat pintu itu hancur.

“Kau baik-baik saja?”

Aku mendongak, Hyerin sekarang tengah berdiri di ujung pintu. Bukankah tadi dia tengah sibuk berdelusi dengan mimpinya?

“Kenapa kau datang ke sini? Seharusnya kau ikut tertawa di kelas bersama mereka.” ucapku dingin, aku sudah tidak bisa menjaga emosiku lagi sekarang. Aku sangat marah.

“Aku sudah tertawa disana tadi.” sahutnya ringan sambil kemudian melangkah ke dalam ruang kesehatan dengan santai, dia hentikan langkahnya saat kami sudah berjarak tidak begitu jauh.

“Pergi.”

Hyerin mengabaikanku. Ia masih berdiri di tempat yang sama. Membuatku menghadiahinya dengan tatapan tajam. Melihatku, Hyerin segera menyernyit—dan segera saja, aku tersadar. Ia pasti melihat kilap kemerahan—yang biasa muncul pada kedua lensa mata kami saat emosi tengah begitu tinggi.

“Pergi.” ulangku.

“Aku yakin kau tidak bawa seragam lain, pakailah dulu milikku. Kurasa ukurannya tidak berbeda jauh.” ucap Hyerin sebelum ia meletakkan sebuah tas kertas kecil di hadapanku.

Pandang kami sekarang bertemu, mau tak mau hal itu membuatku berusaha menembus pikirannya lagi. Apa dia bodoh? Atau masih terlalu marah?

“Aku masih sangat marah. Pergilah.” kataku padanya.

“Ah…” hanya itu yang keluar dari mulut Hyerin, tidak disertai dengan pemikiran lagi. Ia melangkah keluar ruang kesehatan. Tapi baru beberapa langkah ia sudah kembali lagi, masuk ke dalam ruang kesehatan dan sekarang bahkan mengunci pintunya rapat-rapat.

“Apa yang kau lakukan!?” ucapku sedikit membentaknya.

Hyerin bergeming, untuk beberapa saat dia biarkan kami diselimuti kesunyian. Dan tak lama kudengar suara langkah tergopoh-gopoh di luar ruangan.

CKLEK. CKLEK.

Sial…

“Dia mengunci pintunya dari dalam!”

Harusnya aku lebih cepat kesini dan bisa memotret keadaannya!

“Sudah ayo pergi. Kita bisa mengerjainya lagi nanti.”

Musuh sekelasku.

Aku menunggu beberapa lama sampai tidak terdengar suara langkah di dekat ruangan tempatku berada sekarang.

“Ada baiknya kau pakai saja seragamku.” Hyerin berkata saat dia akhirnya membuka pintu ruang kesehatan. Apa yang gadis ini sedang pikirkan? Tadi pagi ia berpura-pura bersikap angkuh padaku dan sekarang ia berpura-pura menolongku? Yang benar saja, dia sangat tidak konsisten.

Melihat sikap diamku, Hyerin sepertinya juga merasa tidak nyaman. Jadi akhirnya tanpa bicara apapun dia melangkah keluar dari ruang kesehatan, kali ini benar-benar meninggalkanku.

Aku sendiri kemudian membuka tas kertas yang Hyerin sodorkan padaku tadi. Selain satu setel seragam, rupanya ada notes kecil berwarna pink di dalam sana.

Ada perekat di bangkumu. Jangan duduk di sebelahku—Hyerin.

Apa anak-anak di kelas mengerjaiku lagi? Sial. Tapi, kenapa Hyerin harus sok berbaik hati memberitahuku? Aku memandang ke arah pintu, sekarang tindakan Hyerin justru semakin memberiku lebih banyak pertanyaan.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku kembali ke kelas, dengan memakai seragam Hyerin. Kurasa ia benar soal penawarannya. Dan juga, aku sangat penasaran soal apa yang ia katakan, apa benar kursiku diberi perekat.

Aku melangkah mendekati kursiku, dan benar apa yang di katakan Hyerin. Ada cairan di kursiku—dan tentu saja, aku tidak akan dengan bodohnya duduk disana. Aku melangkah ke kursi lain yang kosong di bagian belakang kelasku, dan duduk di sana dengan santai.

Sial. Apa dia tahu kalau di kursinya ada jebakan lain?

Harusnya tadi semua kursi kosong di beri perekat!

Aku memandang ke arah Hyerin. Ia tampak sedang menenggelamkan dirinya di meja. Apa ia tertidur, lagi? Aku heran bagaimana dia bisa terbangun dan tidur dengan cepat di kelas yang sangat menyebalkan ini.

KRING! KRING!

Hyerin menegakkan tubuhnya saat mendengar bel berbunyi. Ia kemudian dengan cepat mengeluarkan bukunya, seolah tidak terjadi apapun dia sekarang mempersiapkan diri untuk pelajaran berikutnya.

Sementara pikiranku masih terlalu banyak terusik olehnya.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Terima kasih.”

Aku berkata pada Hyerin begitu kami berdua tersisa di kelas, murid-murid lain sudah menghambur keluar begitu bel panjang tanda pelajaran berakhir berdering beberapa menit yang lalu.

Aku tidak tahu, bagaimana Hyerin menjalani kehidupannya selama ini tapi dia tampaknya sangat senang tidur di kelas. Saat mendengar ucapanku pun dia pasti tengah terlelap, dan akhirnya aku jadi oknum yang membangunkannya.

“Tidak perlu berterima kasih.” Hyerin menyahut ringan sambil kemudian meregangkan tubuhnya. “Kau senang tidur di kelas?” ucapku berusaha menemukan sedikit bahan pembicaraan.

“Ya.” hanya itu sahutannya—oh, ayolah, aku mempermalukan diriku lagi!?

“Bagaimana menurutmu tentang kelas ini?”

Aku terkejut saat kudengar Hyerin bertanya. “Huh? Kelas ini? Menyebalkan.” ucapku bersungguh-sungguh. “Mereka selalu memperlakukan murid pertukaran pelajar seperti ini.” ucap Hyerin sambil membereskan bukunya. Dari yang kuperhatikan, dia tidak menyukai kontak mata dengan lawan bicaranya.

“Padahal murid pertukaran di sekolah kami diperlakukan dengan sangat baik.” Hyerin akhirnya menatap ke arahku saat aku bicara. “Tidak ada sekolah yang sama bukan?” ucap Hyerin saat ia sudah selesai membereskan bukunya.

“Memang benar. Tapi kenapa mereka bersikap seperti itu?” tanyaku penasaran.

“Entahlah. Mungkin karena kalian pintar. Mereka membenci orang pintar.” sahut Hyerin sambil berdiri, mengenakan tas ransel kecilnya, lalu ia memandangku. “Mereka mungkin akan mengerjaimu lagi, datanglah sedikit lebih pagi besok, Jungha-ssi.” ucap Hyerin sebelum ia melangkah keluar kelas.

Aku memandang Hyerin, heran bagaimana ia bisa punya kepribadian aneh seperti itu. Dan aku semakin heran karena alasan yang Hyerin ungkapkan. Mereka membenci murid pintar? Hah. Lucu sekali.

“Jungha!”

Aku tersentak. Bisa-bisanya aku tidak mendengar pikiran Baekhyun dan membiarkannya berteriak selantang itu—karena teriakannya menggema di dalam pikiranku juga!

“Bisakah kau tidak berteriak, sehari saja?” tanyaku pada Baekhyun begitu dia sampai di samping kelasku—kami bicara melalui jendela.

Mendengar ucapan kesalku, Baekhyun justru tersenyum.

“Sepertinya hubunganmu membaik dengan teman semejamu. Apa kau tadi bicara dengan teman semejamu itu?” ucap Baekhyun membuatku sadar bahwa ia pasti mendengar pembicaraanku tadi—atau paling tidak, melihat Hyerin yang keluar dari kelas.

“Ya. Kami bicara sedikit. Dan dia membantuku.”

“Membantumu?” tanya Baekhyun tidak mengerti. Aku kemudian menunjuk seragam yang kukenakan. “Anak-anak ini mengerjaiku.”

Baekhyun terkekeh pelan. “Benarkah? Wah, ini akan jadi berita heboh di Akademi. Sangat jarang seorang Jungha bisa diperlakukan seperti ini.” perkataan Baekhyun sekarang malah membuatku mendelik kesal.

“Itu hanya karena mereka tidak tahu siapa aku!” bentakku marah.

Baekhyun mengangkat kedua tangannya, menyerah. “Tetap saja, rasanya lucu saat akhirnya kau bisa di kerjai.” Baekhyun menahan tawa. “Teruslah bercanda.” gerutuku kesal.

“Maaf, maaf. Aku hanya bercanda. Aku tidak akan bilang apapun dia Akademi.” kata Baekhyun, dia kemudian memberi isyarat padaku untuk segera keluar dari kelas.

Aku pun kemudian melangkah keluar kelas, menyejajari langkah Baekhyun untuk sama-sama kembali ke Akademi dan beristirahat sejenak sebelum esok hari melanjutkan tugas kami lagi.

“Eh? Bukankah itu teman semejamu?” tanya Baekhyun membuatku langsung melemparkan pandanganku ke arah yang sekarang dilihat Baekhyun.

Rambut merah mencolok. Tubuh yang terlampau kurus, dia Hyerin. “Apa yang mereka bicarakan?” tanyaku pada Baekhyun. Lekas tanggap, Baekhyun langsung menyentuh punggung tanganku.

“…membuatmu merasa kau adalah penguasa sekolah?”

“Sialan! Kau berani bicara begitu padaku!?”

“Lalu? Apa alasanku untuk takut padamu? Kau bodoh, tidak pernah sekalipun mendapat nilai bagus di sekolah. Kau juga pembuat masalah. Yang kau andalkan di sekolah ini hanya kekuasan Ayahmu. Iya ‘kan?”

PLAK!

Aku tersentak saat melihat Hyerin terjatuh. Murid itu… bagaimana bisa ia bertindak sekasar itu pada seorang perempuan!?

Berhenti merebut posisi pertama jika kau masih ingin ada di sekolah ini Lee Hyerin!”

Hyerin diam. Tidak menyahut. Membuat pemuda itu akhirnya melangkah menjauhinya.

“Aku tidak akan menyerahkan posisi itu pada kekasih sialanmu itu.”

Langkah pemuda itu terhenti begitu mendengar ucapan Hyerin—dan aku pun sama terkejutnya. Hyerin sekarang terdengar seolah ia berusaha mencari masalah.

“Aku tidak akan takut pada ancamanmu.” ucap Hyerin saat ia berdiri, gadis itu mendongak, tatapannya jelas menantang masalah yang berdiri di hadapannya. “Kita lihat apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu hengkang dari sekolah ini.”

“Apa yang kira-kira mereka ributkan?” gumam Baekhyun penasaran saat murid laki-laki itu meninggalkan Hyerin sendirian di koridor.

“Masalah remaja bermental tidak stabil, kurasa. Murid laki-laki itu jelas memaksa Hyerin untuk melepaskan posisinya, entah posisi apa yang mereka bicarakan.” ucapku, berusaha terdengar tidak peduli, tapi nyatanya aku peduli.

“Sepertinya dia terluka, Jungha.”

Aku memandang Hyerin, likuid merah ada di punggung tangannya saat ia mengusap wajah. Kurasa tamparan murid laki-laki itu membuat Hyerin terluka. Tapi reaksi Hyerin tidak menunjukkan bahwa ia kesakitan atau marah karena tindakan itu.

Gadis itu begitu dingin… sangat mirip dengan—

“—Dia sepertimu, Jungha. Saat kau pertama kali datang ke Akademi.”

Aku menatap Baekhyun saat kudengar dia mendahului pemikiranku.

Inikah yang membuatku sangat penasaran pada tindakan gadis itu? Karena dia mirip denganku?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Apa dia belum pulang?”

Seorang wanita paruh baya tampak memandang gadis di depannya dengan tatapan muram. Gadis itu berdiri diam di depan rumahnya, memandang kosong ke dalam sebuah ruangan di rumah si wanita yang dibiarkan terbuka selama ini.

“Dia belum pulang, Hyerin…”

Gadis itu tersenyum samar, namun sanggup menampakkan betapa ia sangat terluka. “Aku menunggunya di persimpangan hari ini ahjumma, mungkin saja dia bersepeda lebih cepat dariku… Tapi dia tidak pernah lewat di sana…”

Wanita paruh baya itu tanpa sadar menitikkan air mata.

“Pulanglah Hyerin… Dia tidak akan pernah kembali…”

Gadis itu tersenyum lagi. “Tidak ahjumma, dia pasti pulang, aku yakin Seolmi pasti pulang…” ucap gadis itu pelan, suaranya bergetar karena menahan tangis. Wanita paruh baya itu segera membuka gerbang rumahnya, merengkuh si gadis.

“Seolmi tidak akan pernah pulang Hyerin-ah… Jangan menunggunya lagi.”

Hyerin terisak. Dan isakannya perlahan berubah menjadi tangisan yang sangat menyedihkan. “Aku menunggunya… Di halte… Di persimpangan… Tapi dia tidak juga pulang. Kenapa? Seolmi seharusnya mengikutiku di hari itu. Seharusnya… aku tidak marah padanya…”

“Sudah, Hyerin-ah… Jangan seperti ini. Seolmi tidak akan suka melihatmu menangis seperti ini.”

Hyerin masih terisak. “Ini salahku ahjumma. Seharusnya aku mendengarkan Seolmi hari itu… Pasti Seolmi akan ada disini… Pasti Seolmi akan bersekolah denganku.”

“Jangan begini Hyerin-ah. Jangan begini…”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Malam menyambut, sebelum kembali ke Akademi Baekhyun rupanya memilih untuk sejenak menghabiskan waktu di tempat yang tak pernah ditinggalinya dalam waktu lama itu. Pemuda bermarga Byun itu tengah menikmati embusan angin malam saat pandangnya bersarang pada seorang gadis yang menangis di tepi jalan.

Penampilan gadis itu entah mengapa terlihat familiar dalam pandangnya. Rambut panjang berwarna merah menyala, tubuh ringkih dengan kulit pucat yang terlihat tidak sehat.

“Bukankah dia teman semeja Jungha?” gumam Baekhyun sambil berjalan mendekati sosok si gadis. “Di mana kau? Aku sudah mengantuk menunggumu di sini…” gumaman samar yang lolos dari bibir si gadis membuat Baekhyun menyernyit.

“Apa dia menunggu seseorang?” gumam pemuda itu, berusaha mendengar lebih jelas lagi. Tanpa sadar, Baekhyun memperhatikan keadaan gadis itu. Hyerin tampak hanya mengenakan kaos tipis, dan celana jeans panjang. Gadis itu juga tampak pucat, seperti kelelahan.

Hal yang kemudian Baekhyun sadari adalah tempat si gadis sejak tadi duduk. Pinggiran jalan dengan penerangan minimal dan mungkin jarang dilewati oleh orang-orang. Sontak, Baekhyun menyernyit ngeri dan lantas melangkah mundur teratur.

“Dasar gadis tidak benar. Dia pasti mau menunggu kekasihnya untuk berbuat mesum di tempat seperti ini.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

Aku agak-agak kena amnesia saat malem ini sadar kalo hari ini adalah Sabtu, bukan cuma perkara ini malemnya jomblo tapi juga karena malem ini harusnya posting Dream, wkwk. Seperti yang aku bilang di awal, kalo cerita ini sudah pernah aku publish sebelumnya dan memang enggak akan banyak perubahan signifikan. Perubahan storyline pun agak-agak ke belakang nanti baru ada, LOLOL.

Berhubung aku lagi banyak ngumpulin referensi buat cerita lain yang masih tersimpen rapih di folder storyline (iya baru storyline doang yang selesai, satu chapter pun enggak ada wkwk) jadi aku harus berulang kali menampar diri sendiri dan nyadarin diri kalo masih ada beberapa hutang fanfiksi yang belum selesai.

Jadi tanpa banyak berceloteh aku pamit undur diri dulu, semoga malam minggu kalian varokah, apalagi tadi Sehun sempet live ig—gapenting banget—dan malem mingguku varokah karena daritadi banyak berdelusi soal Baekhyun, yah sesekali aku habisin malem minggu dengan berdelusi ya…

Sampai ketemu di malem minggu berikutnya (atau berikutnya lagi kalau Sabtu depan aku rencana untuk posting fanfiksi lain). Semoga kalian sedikit terhibur dengan adanya cerita ini, see you around! Salam, Irish.

kontak saya  Instagram  Wattpad  WordPress

24 tanggapan untuk “DREAM — #1: Her Problem ►► IRISH”

  1. Baru baca aja udh banyak tanda tanya diotak
    Yg nampar hyerin itu siapa?
    Seolmi itu siapa?
    Jadi baekhyun sama jungha itu makhluk spesies apa?

  2. “Dasar gadis tidak benar. Dia pasti mau menunggu kekasihnya untuk berbuat mesum di tempat seperti ini.”
    Lu yg mesum Baek.. pikiran lu mesum😑😑😑

  3. Awal yang buruk bagi jungha dan awalnya jungha gak suka sama hyerin jadi penasaran sama kepribadian hyerin. Disini hyerin benar-benar orang yang cuek bebek banget sama sekitarnya dan yang dipikirkan dia cuma tentang sahabatnya, aduh baek kalo gak tau apa-apa ntuh mulut dijaga ngapa yak

  4. Ohh astagaa :”v
    penasaran sama si penampar, siapakah dia? Dan siapakah kekasihnya? xD kepo nh sama yg ini nih wkwkw
    suka bngt sama sifat si Hyerin yang cuek kalem tp peduli xD
    dan buat si Baek :”v apa kata loh barusan? Nh orang mulutnya mesti dicium biar gak sembarangan ngmng x’D

    suka bngt ka Rish ❤ ❤ tapi aku baca gak di malming, tpi di hari minggu sambil ditemenin buku tugas T.T
    keep writing ka Irish ❤

  5. Pkiran baek t lho negatif bgt mentang2 suasana n tmpat mndukung hahahahahhahahahaha. Walaupun ngrasa sedih buat hyerin tp gegara baek jd ngakak..asem asem..perusak suasana mah si cabe hahahhaahahhaa
    Slalu kutunggu utangmu rish…sabar kok menanti wlupun sbnarny ga sabar tp kudu tetap harus sabar *apasih*
    Ahh weekend…yg tak berasa weekend…fighting 😉 authornim kesayangkuuu

Tinggalkan Balasan ke IRISH Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s