[EXOFFI FREELANCE] Everything Has Changed (Chapter 13)

pixlr_20171202194320076

Title |Everything has Changed

Author|RHYK

Cast|              Oh Sehun

Xi Luhan

Kim Jisoo ‘BlackPink’ as Arial Ahn

Additional Cast| Hye Ri ‘Girls Day’

                                 DK ‘SVT’

                                 Yuju ‘G-Friend’

                                June ‘Ikon’

                                Jun ‘SVT’

Length|Chapter

Genre| AU – Romance –Sad –School life –Fluff –Friendship

Disclaimer| Seluruh bagian dalam fiksi ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan dalam garis cerita, kejadian dan setting itu hanyalah kebetulan dan bukan bentuk PLAGIAT. Jika ada yang menemukan fiksi ini bukan di blog yang aku cantumkan dibawah tolong segera lapor ke penulis! Seluruh fiksi ini dilindungi oleh Hak Cipta @1005iyu.Aku mengijinkan baca tapi tidak untuk di co-paste apalagi dijadikan dokumen private. Thanks! Keseluruhan cast hanya sebagai visualisasi, mohon untuk tidak men-judge secara negatif para pemain yang ada di fiksi penulis! Cast milik TUHAN YME, dan Ortu serta agensi masing-masing.

“Menuangkan pikiran dalam tulisan tidak semudah men-judge karya orang!So, jadilah bijak kawan.. makasih!” _RHYK, 2017

POSTER| ARIN YESSY @ INDO FANFICTION ARTS –thanks for beautiful poster!

Autor Note’s| Sebagai pembaca yang baik tolong tinggalkan jejak atau like dari kalian yaa.. karena bagiku itu adalah motivasi dan feedback paling menyenangkan thank you^^ Hope you will like it!

Quotes| Karena.. semuanya telah berubah dan tak sama lagi.

Summary this Chapter|

Previous Chapter|Unique Girl >>  Suck Feeling >> Gemintang >> Value >> Punishment >> Sick or Secret? >> The End of Us >> Lost >> Sweetest Kiss >> Wedding Dress >> She is pregnant > No more happy >> Parable [now]

-=XIII=-

“Silahkan tunggu di ruang tunggu, Agassi.”pinta seorang suster dan mengeluarkan Arial dari ruang ER –bangsal yang selalu ramai ketika tiba di Rumah Sakit. Arial memejamkan matanya, berdo’a agar Luhan baik-baik saja. Seorang dokter yang melewati Arial membicarakan Luhan, “Bagaimana keadaan Tuan Xi? Tanda vitalnya?Dimana ia pingsan?”

“Dia pingsan saat menemui tunangannya, nona Ahn, di depan minimarket di garosu –gil street, gangnam. Beliau sudah pingsan sekitar 30 menit.

Namun gadis itu tak sempat untuk bertanya karena dari apa yang dilihatnya sepertinya Luhan benar-benar dalam kondisi gawat, melihat itu membuat hati Arial sama sekali tak tenang dan, buruknya getar halus dengan interval teratur terus berulang dari ponselnya yang ada di saku tas, dan ketika dilihat ada nama hye ri yang segera dijawab oleh Arial walaupun pikirannya sedang tak baik.

“Yeobseyeo? –Arial gawat –persentasi dosen Ma harus dilakukan hari ini.”

“Benarkah!”

“Eo, cepatlah kembali banyak berkas yang harus aku bawa. –atau kita bertemu saja di halter bus depan kampus. Sudah ya, aku tutup.”

Klik.

Perbicangan usai, Arial dilema bukan main –menghubungi Sehun bukan waktu yang tepat sekarang karena mungkin saja suasana hati lelaki itu sedang memburuk. “Cheogiyeo, apa tidak apa Tuan Xi aku tinggal sebentar? –aku ada urusan mendesak dan harus pergi?”

Sang perawat bertanya pada sang dokter intern yang sedang membantu dokter utama menangani Luhan, dokter itu mengangguk dan perawat kembali menghampiri Arial. “Anda bisa pergi, Agassi. Nanti akan ada perkembangan lebih lanjut dan kami akan kabari.”

Arial menghela nafas lega, ia mengelus dadanya, ia membungkukkan badannya beberapa kali dan segera pergi dari rumah sakit. “Baiklah, terimakasih.”

:::EHC:::

Sehun side’s

Hubungan kami merenggang.Seiring berjalannya waktu yang berjalan maju, kami tidak lagi berada di kelas yang sama, tidak lagi bersama pada satu waktu, kami belajar menjadi dewasa dan mengikuti minat kami masing-masing dengan melanjutkan sekolah pada universitas yang berbeda dengan fakultas yang berbeda pula. Arial tak dapat meminjam contekkanku lagi, tidak ada lagi gadis peganggu yang selalu terobsesi pada apa yang namanya bintang. Semuanya berjalan begitu normal, dan nyaris tak ada yang salah tanpa Arial, membuatku tertawa sendiri jika mengingat hidupku sebelum hari ini pada beberapa bulan sebelumnya. Ada Arial dalam hari-hariku, beberapa hal menjadi tak sesuai keinginanku, tapi aku puas dengan itu.

Aku jarang kembali ke rumah besar sejak kami memulai perkuliahan kami, gadis itu bercerita padaku bahwa ia kini tinggal di sebuah flat bersama dengan Hyeri –katanya itu memperpendek jarak tempuh yang hanya memakan waktu 15 menit dengan bus, sedangkan aku masih tinggal di kondominium yang ibu hadiahkan padaku.

Aku fikir, semuanya berjalan dengan baik, hingga pada malam setelah pelaksanaan pesta prompt usai, aku jarang  berkomunikasi dengannya, entah itu via suara ataupun chat –seakan aku menyuruh diriku sendiri agar menyibukkan diri dengan hal yang lain dan tak memikirkan Arial, karena aku tahu, gadis itu kini menjadi sibuk dengan tugas kuliahnya yang menumpuk dan juga hubungannya dengan Luhan yang sepertinya berjalan dengan baik tanpa ada kendala.

Gadis itu sesekali menghubungiku, namun selalu kuabaikan atau ketika ia yang memulai perbincangan –aku sedang terlelap dan membaca pesan darinya pada esok harinya.

Perlahan, sedikit demi sedikit seakan kami menjauh satu sama lain –atau, mungkin saja aku yang menjauhinya. Karena untuk beberapa perbincangan pembahasan Arial selalu tentang Luhan, atau pengandaian gadis itu tentang bagaimana jadinya jika aku menjawab Luhan dengan kata ya saat ia melamarku kemarin? Yang membuatku ingin segera menemuinya dan menoyor kepalanya dan sekarang aku sama sekali tidak dapat melakukannya dan hal itu menjadi nyata. Ya, mereka akan menikah. Gadis bodoh itu dengan kaka tiriku, aku bahkan sama sekali tak ingin tahu kapan pelaksanaan acara terhormat itu, aku seakan ingin melarikan diri dari semua hal yang menyangkut keduanya.

Aku merasa terluka karena gadis itu seperti memakan omongannya sendiri. Ia tidak ingin menikah muda, tapi –ia tetap menerima lamaran Luhan, bukankah sebagai sahabat aku berhak untuk mendengar berita itu dan membicarakannya dengan Arial? Lalu, apa alasannya ia hanya menjawabku dengan senyumnya saat aku tanya jawaban apa yang ia beri untuk Luhan saat lelaki itu melamarnya? Dan, sekarang ia menyiksa dirinya sendiri dengan menunggu di kondominiumku sampai pingsan, ia sama sekali tak pernah membuatku keluar dari kesulitan.Membuatku punya kekhawatiran yang besar untuknya daripada laporan lapanganku yang belum usai karena merawat gadis itu semalaman. Aku lebih banyak termenung karena berpikir tentang Arial akhir-akhir ini, misalkan saja –apa dia sudah lebih baik dari tadi malam?atau masih sakit.

Smartphone milikku bergetar, membuatku terbangun dari renunganku dan ada nama Hui Jin di sana, dengan enggan aku menggeser layar pada tombol virtual hijau dan menempelkan ponselku ditelinga. “Oppa, ini aku Huijin.”

“Aku tahu, ada apa?” Aku segera membereskan barangku dan keluar dari perpustakaan kampus, berjalan menuju parkiran mobil untuk membawa pulang mobil ke kondominium melihat apa Arial masih berada di sana atau sudah pergi, harapanku –semoga dia sudah pergi. “Hari ini aku usai ujian, ada beberapa buku yang harus aku beli –oppa mau tidak temani aku ke toko buku? Aku meminjam milik Unni, tapi kebanyakan coretan tidak jelas. Apa oppa luang sekarang?”

 

Normal side’s

Sehun menahan gemas –entah ia gemas dengan kalimat Huijin yang terus-terusan menyebut nama Arial atau ia gemas dengan Huijin.Tapi, Sehun merasa kali ini harus ada yang dapat meluruskan kembali pikirannya, dirinya sudah terlalu kacau karena Arial dan pernikahan mereka, sekarang adalah waktu yang tepat untuk menyelesaikan semuanya, karena setau Sehun, bukankah Huijin pro pada Sehun?

“Baiklah, aku akan menjemputmu ke rumah, kau bersiaplah.”

Huijin tampak bersorak menang di sebrang telpon terdengar ia seperti berjingrak dan menyoraki bahwa hari ini adalah kemenangannya dari Arial. “Baiklah Oppa, knock~”

**

Huijin sibuk memilih buku-buku yang tertata dengan rapih di rak seller ia memang bilang pada Sehun untuk menemaninya membeli buku untuk ujian, namun begitu tiba di toko buku, justru Huijin mengajak Sehun ke bagian novel sci-fi dan thriller yang membuat Sehun hanya menyirnyir gadis itu gemas, sayang saja –jika Arial pasti sudah ia pukul kepalanya tapi tidak dengan Huijin, masalahnya –ia harus berbagi kisah dengan Huijin yang tampaknya sama sekali belum tahu berita pernikahan anak tiri Tuan Oh, yang rupanya Huijin gemari. “Oppa, jika kau marah padaku –nanti saja setelah di mobil. Aku sungguh stress dengan ujian akhir dan aku butuh refreshing karena aku tidak punya cukup banyak uang untuk pergi travelling jadi aku hanya bisa membeli beberapa novel dan membacanya.”

Sehun hanya memandang Huijin dengan tatapan aku harus menahan amarahku lagipula, memang ia tidak sepenuhnya salah –beruntung selera novelnya sedikit lebih elegan dari Arial yang hanya menyukai comedy –romansa yang Sehun pikir itu norak. “yaa, Huijin –ah, seorang teman meminta pendapatku tentang sebuah hal.”

Huijin masih sibuk membaca cover bagian belakang novel sambil menanggapi Sehun, “Benarkah? Setahuku, kau bukan orang yang senang mencampuri urusan orang lain –kau itu apatis.”

Sehun hanya tersenyum masam, ia menaruh tangannya di saku, meninggalkan Huijin ke bagian novel suspense, Sehun sebenarnya beberapa kali membaca novel suspense milik Jun yang notabenennya pria  sastra .yah, jika kau menolak uang jajan lebih tidak apa-apa..”

Huijin dengan cepat mendekat, senyumnya khas orang  yang meminta maaf karena telah salah bicara.“Ceritalah padaku, apa itu oppa?”

Sehun tengok kanan kiri sebelum bicara, memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka, karena toko buku cukup dekat dari tempat bimbel Sehun, jadi –khawatir jika ada orang yang mengenalnya akan mencari tahu lebih banyak, kenapa seorang arogan sepertinya mulai ingin tahu tentang orang lain. “Bagaimana menurutmu, jika temanku bersahabat karib dengan seorang wanita dan teman wanitanya itu akan menikah dengan orang lain, tapi, ketika tahu kabar tersebut temanku tanpa alasan justru menghindari sahabatnya itu. Apa pendapatmu tentang itu?”

Huijin tersenyum sambil mengerucutkan bibirnya, ia kenal betul dengan Sehun –ia benar-benar tipe yang individualist dan tak perduli dengan orang lain, lalu sekarang Huijin dimintai pendapat tentang teman dari Sehun, membuat Huijin sebenarnya dalam hati bertanya-tanya apa ini sungguh cerita temannnya –atau,ada sesuatu yang lain? Huijin kemudian menjawab setelah berpuas diri menerka sendiri sebenarnya Sehun bertingkah seperti itu. “umm, aku yakin sepenuhnya kalau dia menyukai sahabat wanitanya.”

Sehun tampak ragu mendengar jawaban Huijin yang kelihatannya begitu percaya diri dengan jawabannya.Membuatnya dengan segala keraguan memperlihatkan sebuah kerut pada dahinya dan kembali bertanya pada Huijin yang kembali sibuk dengan tumpukkan novel itu, “Kau yakin?”

Huijin mengangguk, sambil menatap Sehun ia berbicara, setidaknya lelaki itu harusnya sadar ia sedang bicara dengan siapa, Huijin sedang memperdalam tentang psikologi dan ingin melanjutkan minatnya pada saat kuliah nanti. Huijin memutuskan untuk berbicara lebih rinci dan menjelaskan situasi persoalan teman Sehun itu. Lagipula, jika Sehun sedang tidak bohong padanya, temannya Sehun benar-benar bertanya pada orang yang salah, pikir Huijin. “oppa, temanmu itu lelaki, dan sahabat temanmu itu wanita, tapi –wanita itu justru akan menikah dengan orang lain, karena merasa penting kabar bahagia itu diberitahukan pada temanmu dulu, karena mereka bersahabat –tanpa perlu undangan. Lalu, setelah tahu kabar bahagia wanita itu,temanmu itu malah memilih menghindari sahabatnya tanpa alasan yang jelas. Jadi, tentu saja ia suka pada temannya, ia menaruh hati pada teman wanitanya tanpa ia sadar bahwa ada batas di antara mereka.”

Huijin berbicara seolah-olah ia tahu bahwa persoalan itu tentang Sehun dan bukan temannya, dilihat dari cara menatap Huijin yang mencurigai Sehun, meski ia juga tak yakin apa itu hanya perasaannya saja yang semakin tak jelas.“Batas apa?”

Huijin akhirnya mengambil dua novel dan mengambil buku untuk ujian lalu berjalan ke kasir, sambil menunggu antrian Sehun hanya berdiri di sisi Huijin sambil memainkan ponselnya, mengetik beberapa kata yang pesannya entah untuk siapa. Huijin berbicara dengan suara pelan, “Bahwa mereka sahabat. Ah, kisah temanmu, oppa..seperti drama saja.Memang, terkadang presentase wanita dan pria yang bersahabat menyadari bahwa salah satunya punya rasa lebih dari batas teman lebih banyak wanita yang sadar, karena lelaki biasanya gengsi, sehingga merasa lebih baik menepis rasa itu jauh-jauh.”

Sehun tak menjawab, ia masih sibuk dengan ponselnya, Huijin kemudian melanjutkan, sambil membayar buku-buku itu di dengan kartu kredit  milik Sehun,“Tapi, oppa kau tahu apa yang paling menyakitkan?”

Sehun menoleh memandang Huijin tanpa ekspresi namun, ada secerca binar ingin tahu di kedua matanya, “..ketika hal seperti yang dialami temanmu itu terjadi.Pengandaian saja –bagaimana jika kau ada di tempat temanmu itu, rasanya..” Huijin terkekeh, sementara ia menerima barang belanjaannya dari petugas kasir. “yang paling kejam adalah saat kau sadar, tapi kau tak bisa memilikinya. Ditambah lagi, kau tetap harus berhubungan baik dengan dia, menurutku itu adalah bagian terkejam.”timpal Huijin,sementara Sehun hanya menyentil dahi Huijin, “ckck..kau sok tahu.”sela Sehun dan pergi meninggalkan Huijin.

**

Setelah mengantar Huijin dari toko buku, lelaki itu memutuskan untuk kembali ke rumahnya sebentar, setelah sebelumnya ia menerima chat dari sekretaris ayahnya bahwa akan ada yang didiskusikan pada saat makan malam dan Tuan Oh meminta semuanya hadir, jadi lelaki itu kini sedang berada di kamar seraya memasukkan beberapa barang untuk keperluan di kondominiumnya. Ia menaruh handuk kecil yang ada di kepalanya, kemudian mengeringkan rambutnya dengan handuk itu, setelah tak terlalu basah ia keluar dari kamar untuk mengambil sekaleng kopi instan karena ia belum tidur sejak kemarin, namun setelah kembali dari dapur lelaki itu dibuat terkejut dengan kehadiran seseorang yang berdiri di ambang batas ruang tengah dan ruang makan, ada Arial di sana.Keduanya hanya saling terdiam, dan saling menatap ditempatnya masing-masing.

Sehun side’s

Bodoh. Gadis itu mengangkat tangannya dan dengan canggung menyapaku meski tanpa suara, ia menyengir penuh kecanggungan di hadapanku yang hanya aku balas dengan berjalan ke arahnya dan melewatinya, tak jauh darinya ada Luhan di sana, aku tidak begitu perduli dengan hubungan keduanya dan menyapa lelaki itu sekedarnya. Arial yang jauh berdiri di depanku –gadis yang baru saja aku lewati itu –kini, bukan seperti orang yang aku kenal. Dia –hanyalah gadis tanpa keanehan apapun dan akan segera dipersunting oleh kaka tiriku. Lalu, sekarang aku bertanya pada diriku sendiri di depan cermin pantul di kamarku, kemana aku harus mencari gadis bodoh dengan penuh keanehan itu, Arial Ahn yang aku kenal –di mana dia sekarang?

Normal side’s

“Aku kira kau tak akan pulang dalam waktu dekat.” Luhan bersuara, sementara Sehun tiba diambang pintu kamarnya dan memegang engsel pintu yang terbuka sedikit, ia menoleh pada kedua orang yang ada jauh di belakangnya, ini rumahnya –tapi, mengapa ia seperti orang asing di rumah ini?

“Aku pulang karena mengantar Huijin habis dari toko buku, karena buku Arial sudah terisi, dia akan segera masuk tingkat akhir.”

Sehun segera masuk ke kamarnya,sementara Arial hanya termangu melihat Sehun yang lebih dingin dari biasanya. Gadis itu mendekat pada Luhan, “Oppa, apa kata dokter di Rumah Sakit? –aku benar-benar kaget saat kau tiba-tiba pingsan.”

Luhan menaruh telunjuknya dibibir Arial, lalu tersenyum “Tidak apa-apa, aku hanya kelelahan saja. Dan, biar ini jadi rahasia kita, Arial. Jangan cerita pada siapapun aku tidak ingin membuat orang khawatir tanpa alasan.” Ujarnya lalu segera menarik Arial dalam dekapannya, mengelus surai Arial lembut. Sayangnya,momen itu ada yang menontonnya, selain Sehun yang sedang mengintip dari jendela kamarnya –di salah satu anak tangga ada Huijin yang dapat melihat semua sudut termasuk Sehun yang memandang Luhan dan Arial begitu miris, gadis tingkat dua sekolah menengah itu hanya menggelengkan kepala pasrah, “Tak aku sangka akan serumit ini.”

**

“Aku senang karena malam ini, anak-anakku dapat berkumpul.”ungkap Tuan Oh dengan senyuman wibawanya, reaksi Sehun hanya menundukkan kepala singkat sementara Arial dan Luhan sama-sama mengulas senyum. Acara makan malam dimulai dengan khidmat, Sehun hanya sibuk melahap lauk-lauk yang tersedia tanpa ingin melihat dua orang dihadapannya dan juga sang ayah yang sesekali melirik anak-anaknya penuh sayang. “Seperti biasa, memperingati ulang tahun dua puteraku, aku akan mengadakan pesta yang diadakan sekitar pulau Jeju.Dan, aku sudah mendiskusikan dengan Luhan bahwa pernikahan putraku Luhan dan Arial akan dilaksanakan bersamaan dengan pesta ulang tahun mereka.Aku akan mengundang orang-orang perusahaan dan beberapa mitra dekat yang berkerja sama dengan Ohesang Grup, jadi, kau bisa mengundang teman dekatmu Arial.”

Mendengar itu, Sehun terdiam seketika, ia terlalu gugup untuk kembali melanjutkan makan malamnya, sementara rasanya dadanya terasa begitu sesak padahal makanan dimulutnya sudah tidak ada. Netra lelaki itu sama sekali tak berani terangkat dan menatap gadis yang ada di depannya, jadi ini yang akan ayahnya katakan dan tak bisa lewat telpon. Sehun memundurkan kursinya, “Aku sudah selesai makan.”

Arial side’s

Aku hanya dapat mengulas senyum canggung begitu aku bertemu tatap dengan Sehun tadi, dan kini lelaki dihadapanku sama sekali tanpa reaksi begitu mendengar mengenai kabar pernikahan kami, bukankah sebagai sahabat yang baik –Sehun wajib mengucapkan selamat padaku? Ya, tentu saja –mestinya seperti itu yang benar. Tapi, setelah abeonim usai bicara ia hanya mengatakan bahwa ia telah selesai makan dan pergi begitu saja? Heol,bukan main. Aku memang tak seharusnya mengharapkan apapun dari Sehun, jangankan ucapan selamat, bertanya tentangku yang tadi malam sempat pingsan saja dan bertanya apa aku sudah lebih baik atau belum saja juga tidak, Sehun benar-benar mengabaikanku sekarang. Dan, semuanya menjadi hambar. Antara aku dan Sehun ataupun antara Sehun dan Luhan, dan juga antara Luhan oppa dan diriku.

**

Dua Bulan kemudian..

Hyeri melarangku untuk pulang ke flat karena katanya ada ibu dan adiknya yang berkunjung sehingga flat penuh. Jadi, aku memutuskan untuk pulang ke rumah besar karena kebetulan keadaan rumah sedang kosong, karena Tuan Oh sedang dalam perjalan bisnis ke Jepang, sementara Luhan pergi Cina untuk menjemput calon ibu mertuaku karena hari pernikahan kami hampir tiba, beliau juga merupakan event organizer dari pernikahan, jadi aku ingin meminta sarannya untuk beberapa hal yang menyangkut pernikahan. Huijin sedang melakukan perjalanan wisata dari sekolah, sementara –paman dan bibi pasti ada di rumah mereka ketika perkerjaan sudah usai, jadilah aku memutuskan untuk beristirahat penuh kenyamanan di rumah tanpa ada yang menganggu.

Aku masuk dari pintu samping, karena letak kamarku yang lebih dekat dari pintu itu daripada pintu utama yang harus melewati beberapa ruangan dan baru menaiki tangga. Ketika aku tiba di anak tangga terakhir, aku melihat jendela balkon yang terbuka, membuatku berpikir siapa yang lupa menutup balkon –bagaimana jika ada maling masuk? Akupun berjalan perlahan dan menyingkap gorden, tubuhku tersentak ketika melihat seseorang berdiri di sana, mataku membulat ketika orang itu membalikkan tubuhnya, dan kini kami saling berhadapan. Aku tertawa sekedarnya menyapa lelaki itu, dengan harapan untuk kali ini, ia tidak sedingin saat terakhir kali kami berjumpa. “Sehun –ah, oraemaniya..

Normal side’s

Arial berjalan mendekat pada Sehun yang masih berdiri di balkon, langit sore tampak muram, dilihat dari cakrawala yang mendung sehingga keadaan rumah gelap karena belum ada lampu yang menyala. “Tidak perlu menyapaku, kau terlihat lelah, istirahatlah.”dengus  Sehun dan segera berjalan meninggalkan Arial, “Apa kau tak merasa bahwa banyak hal berubah setelah kita lulus?”tanya Arial dengan nada serius, suaranya agak parau, entah karena Arial yang terkena flu ataukah ia menahan sesak di dadanya.

Sehun menghentikkan langkahnya, lelaki itu menelan salivanya sendiri, ia telah salah untuk memilih pulang pada hari ini, karena Huijin yang memberi tahu dirinya bahwa hari ini rumah akan kosong, jadi, lelaki itu tak menyangka akan bertemu dengan Arial pada saat seperti ini. Ia bahkan tak mampu untuk membalikkan badannya menghadap Arial yang sedang berdiri dengan jarak beberapa langkah di belakangnya karena mendengar suara gadis itu saja membuat Sehun semakin hilang kendali akan dirinya sendiri.

“Tidakkah kau merasa bahwa kau sedang menghindariku akhir-akhir ini?Sehun –ah..aku kira, selama ini  menganggap bahwa aku yang terlalu sensitif dengan perasaanku.Tapi, sepertinya memang begitu kenyataannya.Kau menghindariku setelah tahu beberapa hal, dan beberapa alasan lainnya yang membuatmu menjauh dariku –‘

Sehun masih terdiam pada tempatnya namun kali ini ia berbalik menatap gadis itu, Arial menghela nafasnya berat, ia sudah tidak sanggup menahan semua itu dalam hati. “ –misalkan saja, seperti kataku mungkin kau akan menemui wanita cantik dan pintar, kau memang sibuk dengan tugasmu dan aku juga, tapi bukankah kau keterlaluan menghindariku seperti ini, setelah kau membuat aku menunggu di kondominiummu hanya untuk memberikan kabar bahagiaku. Aku merasa terluka, saat kau bilang pada temanmu bahwa aku adalah kekasihmu hanyalah gurauan, bukankah kita bersahabat?huh?bukankah seorang sahabat tak akan mengecewakan perasaan sahabatnya seperti ini?”

Mata Arial berkabut, ia masih menatap Sehun dengan penuh kecewa, memangnya Sehun pikir selama ini Arial tak merasa jika dirinya sedang dihindari?Apa salah Arial hingga Sehun menganggapnya menjadi orang asing.Sehun juga tak mengerti mengapa ia harus berbuat demikian, yang jelas perasaannya berantakan dari hari ke hari.Bukankah Sehun juga merasa terluka? Mengapa disini seakan-akan Sehulah orang yang mencampakkan Arial? Padahal mereka hanya bersahabat, mengapa harus jadi serumit ini?

Sehun mulai hilang pikiran, haruskah ia membawa pergi gadis itu dari tempat ini dan bilang bahwa ia kecewa dengan gadis itu, kemudian memeluknya erat dan berakhir dengan ciuman bergairah? Oh, tidak –Sehun belum segila itu dan seputus asa itu. Sebelum semua hal itu terjadi, lelaki itu memilih untuk menjauh dari Arial dan meninggalkannya, namun Arial masih melangkah dan menahan lengan Sehun, otomatis langkah lelaki itu terhenti. Arial berjalan cepat dan melingkarkan kedua tangannya di perut Sehun, memeluk Sehun dari belakang, bulir bening itu lolos dari pelupuk mata Arial, “Aku tahu ini aneh –bahkan sangat aneh..tapi, aku ingin merasakan pelukmu sebelum orang lain,bahkan..aku ingin menjadi yang pertama.”

Sehun tak membalas pelukan gadis itu, tangannya terlalu gemetar untuk melakukannya, justru ia menepis tangan Arial pelan lalu berujar “Kau milik hyung,seorang gadis yang akan menikah tidak seharusnya melibatkan perasaan atau hasrat apapun.” Dan segera pergi dari sana, sebelum ia lepas kendali dan tak dapat mencegah semuanya Sehun meninggalkan Arial, biarkan saja akhir mereka menjadi seperti itu, walau Sehun merasa telah hancur membuat gadis itu menangis.

Bersambung..

a.n

next or no?

if next please comment

if not..

just leave this story, kay?

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Everything Has Changed (Chapter 13)”

  1. Kenawhy jadi complicated banget, sih?
    Sehun mah ngalah ae terus, Hun? Kali2 kek, perjuangin Arial…

    Ditunggu next chap. Kak.. Hwaighting.. 😊😄

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s