[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 6)

Poster Secret Wife Season 2

Tittle                : Secret Wife Season 2

Author            : Dwi Lestari

Genre              : Romance, Friendship, Marriage Life

Length            : Chaptered

Rating             : PG 15

Main Cast :
Park Chanyeol, Kim Soah (Aiko)

Support Cast :

Oh Sehun, Min Aera, Kim Nara, all member EXO and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

 

Summary:

Soah terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan artis papan atas Park Chanyeol, demi menghindari kutukan keluarganya. Meski sebenarnya dia tak pernah percaya jika kutukan itu masih berlaku.

Disclaimer                  : Cerita ini murni buatan saya. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note           : Sekedar mengingatkan, jika ini berbeda dengan SECRET WIFE yang pertama. Ini bukan kelanjutannya. Cerita ini berdiri sendiri. Tapi akan ada beberapa hal yang sama. Dijamin tidak kalah seru. Maaf jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komentarnya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

 

Chapter 6

(Sehun’s Birthday)

Seperti tetes hujan yang jatuh di kepalaku
Aku tak bisa menghindari perasaan ini

Pagi itu Soah menyibukan diri dengan memasak. Ini adalah kegiatan yang tak begitu disukainya. Karena memang biasanya, sekretarisnyalah yang selalu memasak untuknya. Atau jika bukan gadis itu, bibinyalah yang akan selalu mengiriminya makanan. Tapi sekarang keadaannya berbeda, dia sudah memiliki suami. Jadi, mau tidak mau dia harus mengurusnya meski dengan setengah hati.

Berbagai makanan hasil masakannya sudah tertata rapi di meja. Masih ada satu masakan yang belum matang, sup pereda mabuk. Dia sengaja membuatnya, mengingat betapa banyak alkohol yang pria itu minum semalam. Dia mengaduk sebentar sup itu yang masih menganggrang di atas kompor. Mencicipinya sedikit sebelum menambah garam sebagai sentuhan akhir. Mematikan kompor kemudian.

Dia melihat pria itu tengah berjalan ke arahnya. Penampilannya sungguh acak-acakan, khas orang baru bangun tidur. Dia bahkan menguap lebar sambil berjalan. Mengucek matanya beberapa kali untuk mengumpulkan kesadaran. Berjalan semakin cepat setelah mencium bau masakan Soah. “Baunya enak. Kau masak apa?”, tanyanya kemudian.

“Apapun, yang penting bisa dimakan”, jawab Soah. Dia meletakkan semangkuk penuh sup di meja. Dia mengambil air putih dari kulkas. Menuangkannya dalam gelas dan menatanya kembali di meja.

Pria itu duduk. Menatap setiap masakan yang tertata rapi di meja. Tangannya tergerak mengambil salah satu masakan yang paling menggodanya. Namun belum sempat tangannya menyentuh makanan itu, sebuah sendok berhasil melayang ke tangannya.

“Kau belum mencuci tangan Chanyeol-ssi”, ucap Soah setelah memukul tangan pria itu dengan sendok. “Pakai ini”. Dia memberikan sumpit pada pria itu. “Kau bahkan belum mencuci mukamu. Ck, ck”, ucap Soah lagi. Dia menggelengkan kepalanya beberapa kali sebagai ungkapan tak sukanya.

Pria itu menerima sumpitnya dengan senang hati. Dia tak memperdulikah ocehan Soah. Dia menyuapkan masakan yang tadi ingin diambilnya. Mengunyahnya dengan cepat sebelum menelannya. Dia mengangguk kepalanya kala merasa masakan itu cocok di lidahnya. Dia mengambil masakan yang lain. Menganggukkan kepalanya kembali kala merasa masakan itu enak. Mengulang hal itu beberapa kali sampai masakan yang dimasak istrinya berhasil ia cicipi semua.

Soah menggelengkan kepalanya kembali melihat tingkah pria itu. Dia meneguk susunya kembali. Mengambil selembar roti dan mengoles selai di atasnya.

“Bukankah ini sup pereda mabuk?”, tanya pria itu.

“Emmh”, jawan Soah. “Kau minum terlalu banyak semalam”.

Pria itu mengambil sendoknya. Menyuapkan sesendok kuah sup ke mulutnya. Dia terdiam setelah menelan sup itu. Entah karena rasana yang tak enak atau karena hal lain.

Soah yang melihatnya bertanya, “Kenapa? Apa tidak enak?”.

Pria itu terdiam. Dia masih memandang Soah lekat. Dia seolah ingin mengatakan sesuatu, namun seperti tertahan begitu saja. Dia tersenyum kemudian. “Rasanya seperti buatan eomma”.

Soah terdiam. Dia mengalihkan pandangannya dengan menyuapkan salad ke mulutnya. Sebenanya ini pertama kalinya dia membuat sup itu. Dia menggunakan resep ibunya dulu. Ibunya selalu membuat sup itu untuk ayahnya ketika mabuk dulu. Ingatan itu masih membekas dalam ingatannya. Dan siapa yang tahu jika itu sama dengan apa yang ibu pria itu buat.

Pria itu masih menatap Soah lekat. Senyum manis juga masih tepampang di wajah tampannya. “Terima kasih”, ucapnya masih dengan senyum manis khasnya. Dia kembali memakan makanannya dalam diam.

Soah memakan rotinya. Pandangannya tak lepas dari pria itu yang begitu lahap memakan masakannya. Dia tersenyum mengingat fakta itu. Ya, semalam pria itu tidak makan apapun. Dia hanya minum bersama sepupunya.

“Pelan-pelan. Tidak akan ada yang merebut makananmu Chanyeol-ssi”, ucap Soah kemudian. Dia tak tahan melihat tingkah pria itu ketika makan.

Pria itu mengangkat wajahnya. Hanya senyum yang dia berikan sebagai jawaban. Mulutnya penuh dengan makanan. Bahkan dia terlihat kesulitan mengunyah saking penuhnya.

Soah kembali menggelengkan kepalanya. Dia kembali menyuapkan salad ke mulutnya.

“Kau tidak ikut makan?”, tanya pria itu kembali setelah bersusah payah menelan semua makanan di mulutnya.

“Kau tidak lihat aku sedang makan?”, jawab Soah. Dia kembali mengunyah makanannya.

“Dari tadi kau hanya makan roti dan salad”, jawab pria itu. “Kau juga harus makan ini”, pria itu menyodorkan makanan ke arah Soah. “Buka mulutmu”.

Soah menggeleng. Dia masih mengunyah makanannya.

“Ayo. Tidak mungkin kan aku menghabiskan semua ini”, ucap pria itu masih dengan menyodorkan makanan pada Soah.

Soah masih menggeleng. Dia sebisa mungkin menghindarinya. Menjauhkan wajahnya dari sodoran pria itu. “Aku tidak mau. Kau makan saja semuanya”, jelas Soah kemudian.

Pria itu menaruh kembali makanan yang disodorkannya. Dia juga meletakkan sumpitnya di meja. Berdiri, menggeser kursi dan berjalan meninggalkan meja makan.

“Kau mau kemana? Kau belum menghabiskan makananmu Chanyeol-ssi”, ucap Soah.

“Untuk apa? Lagipula kau juga tak akan ikut makan”, jawabnya sambil berlalu.

“Iya, iya. Aku akan ikut makan”, jelas Soah. Dia mengambil sumpitnya. Memasukan beberapa makanan ke mulutnya.

Pria itu tersenyum kecil sebelum membalikkan tubuhnya. Sepertinya rencananya berhasil. Dia mendudukan dirinya kembali ke kursi. Dia tersenyum melihat gadis itu makan. Dia kembali mengambil sumpitnya. Mengambil sepotong daging dan menyodorkannya pada Soah.

Soah awalnya menolak. Namun karena pria itu terus menatap tajam padanya, dengan terpaksa dia memasukkan potongan daging itu ke mulutnya.

“Mulai sekarang kau harus banyak makan. Lihatlah betapa kurusnya dirimu”, jelas pria itu.

Soah hanya terdiam mendengarnya. Dia menatap aneh pria itu sambil mengunyah makanannya.

“Cha”, pria itu kembali menyodorkan makanan untuk Soah.

Soah hanya diam menerima suapan makanan pria itu.

“Aku tidak ingin istriku terlihat kurus”, jelas pria itu kembali. Dia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.

Soah hanya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia diam. Mulutnya masih sibuk mengunyah makanannya.

-o0o-

Sehun masih memandang lekat foto yang terlihat usang. Foto masa kecilnya bersama sahabatnya. Jika dilihat sekilas, sahabatnya itu terlihat seperti seorang pria. Tapi sebenarnya temannya itu adalah seorang gadis yang memiliki potongan rambut seperti anak laki-laki. Dia mengusap pelan foto itu.

“Bagaimana kabarmu Ai-chan? Aku harap kau baik-baik saja disana. Jika waktu bisa diulang, aku pasti tak akan membiarkanmu pergi kala itu”, ucapnya. Setitik air mata jatuh begitu saja melewati pipinya.

Pintu kamarnya tiba-tiba saja terbuka. Dengan cepat dia menghapus air matanya dan menyembunyikan foto itu di bawah bantalnya.

“Saengil chukkae hamnida. Saengil chukkae hamnida. Saengil chukkae Sehun-ie. Saengil chukkae hamnida”.

Lagu selamat ulang tahun itu terdengar begitu saja di telinganya. Sehun menoleh untuk melihatnya. Para personil EXO tengah membawakan kue ulang tahun untuknya. Ya, ini memang hari ulang tahunnya.

Seulas senyum mengembang begitu saja di wajah tampannya. Dia berjalan mendekat ke arah kerumunan. Menatap takjub kue yang mereka bawa. Dia ingin mengatakan sesuatu, namun mulutnya terasa berat untuk dibuka. Hanya raut bersyukur yang terpampang di wajahnya.

“Sebutkan permintaanmu sebelum meniup lilin”, ucap salah seorang dari mereka.

Sehun memejamkan matanya. Mengucap keinginannya dalam hati.

‘Meski hanya sekali, aku harap bisa bertemu denganmu Ai-chan’.

Dia meniup lilin ulang tahun setelahnya. Suara tepukan terdengar menggema di ruang itu.

-o0o-

“Chanyeol-ssi, please. Eoh, eoh”, dengan nada memelasnya Soah kembali meminta suaminya memenuhi keinginannya. Dia bahkan menahan lengan pria itu saat akan pergi.

“Sudah ku bilang aku tidak mau”, ucap Chanyeol dengan nada sedikit tinggi. Dia terlihat kesal dengan tingkah istrinya itu. Sebenarnya permintaannya cukup mudah. Hanya membawa masakan istrinya untuk diberikan pada Sehun yang sedang berulang tahun. Tapi dia tak ingin melakukannya. Itu akan melukai harga dirinya. Bagaimana mungkin dia membawakan masakan istrinya untuk pria lain?

Ya, meski dia tahu sebenarnya mereka adalah teman baik.  Tapi tetap saja, rasanya tidak rela melihatnya. Apalagi, dia belum tahu pasti seperti apa perasaan gadis yang sudah resmi menjadi istrinya itu padanya.

Soah akhirnya menyerah. Dia melepaskan genggaman tangannya pada lengan suaminya. Dia mendudukan dirinya ke sofa. Mendesah pasrah kemudian.

“Ya sudah. Pergi sana!”, ucapnya membuang muka.

Chanyeol tersenyum. Betapa lucunya melihat tingkah istrinya yang sedang merajuk. Dia ikut duduk di sebelahnya. Gadis itu segera menggeser dirinya menjauhinya.

“Kau marah!”, tanya Chanyeol.

Gadis itu masih terdiam. Dia juga masih membuang mukanya. Masih enggan menatap wajah suaminya.

“Bukannya aku tidak mau Soah. Hanya saja, nanti akan sulit untukku mencari alasan darimana aku membawa makanan itu. Meski aku bilang itu dari eomma, mereka tak akan percaya. Karena rasanya pasti berbeda”, jelas Chanyeol.

Gadis itu kembali menghela nafas.

“Kenapa kau tak ikut saja. Kau bisa memberikan sendiri padanya”, ucap Chanyeol kembali.

“Justru malah aneh jika aku yang datang sendiri”, ucap Soah. Dia kembali membuang pasrah nafasnya. “Ya sudahlah. Biarkan saja!”. Dia berdiri bermaksud meninggalkan pria itu.

Chanyeol manarik lengan Soah. Hanya menarik, tidak keras. Karena gadis itu masih tegak berdiri.

Soah menoleh. “Apa?”, tanyanya malas.

“Ayo! Ikutlah denganku”, pinta Chanyeol. Dia tersenyum aneh pada Soah. “Anggap saja kau sedang mengantarku. Aku butuh tumpangan”, lanjutnya.

Soah memutar malas bola matanya. “Kau bisa memakai mobilku”, jawab Soah. “Lepas. Aku harus berangkat ke kantor”.

Bukannya melepaskannya, Chanyeol justru menggenggamnya semakin erat. “Ayo!”, ajaknya kembali.

“Chanyeol-ssi”, ucap Soah sambil berusaha melepas genggaman pria itu.

“Soah-ya”, kini giliran Chanyeol yang merengek pada Soah.

Soah menghela nafas berat. Perdebatan itu tak akan ada ujungnya jika tak ada salah seorang yang mengalah. “Baiklah! Aku ikut. Aku ganti baju dulu”, ucapnya pasrah.

-o0o-

“Untuk apa kotak besar itu?”, tanya Chanyeol yang kini fokus menyetir. Dia melihat istrinya meletakan kotak besar di jok belakang mobilnya tadi.

“Hadiah”, jawab Soah singkat. Pandangannya masih ia fokuskan pada tablet yang dipegangnya.

“Untuk Sehun”, tanya Chanyeol kembali.

Soah mengangguk.

“Sebesar itu?”.

Soah kembali mengangguk.

“Aku iri”, ucap Chanyeol lirih.

Soah bisa mendengarnya. Tapi dia memilih mengabaikannya. Dia memasukan tabletnya ke dalam tasnya. “Itu hadiah yang ingin aku berikan pada Sehun selama sembilan tahun terakhir setelah kami berpisah. Setiap kali ulang tahunnya, aku selalu menyiapkan kado untuknya. Aku tak bisa mengirimkannya, karena itu aku menyimpannya. Jika suatu nanti aku bertemu dengannya, aku akan memberikannya. Dan yah, baru kali ini ada kesempatan. Jadi aku akan memberikannya”, jelas Soah panjang lebar.

“Tapi bagaimana mungkin dia tak mengingatmu?”.

“Aku juga tak tahu. Mungkin karena aku memanjangkan rambutku?”, jawab Soah asal.

“Aku tidak setuju. Buktinya aku masih mengenalimu”, bantah Chanyeol.

“Entahlah!”, desah Soah pasrah. Dia mengalihkan pandangannya. Menatap jalanan yang mereka lewati. Pemandangan bunga sakura mekar, menghiasi sepanjang jalan yang dilewatinya. Bukan hanya bunga itu, jalanan juga tampak berwarna-warni oleh bunga yang sedang mekar. Ya, musim semi itu begitu indah. Namun tak seindah hatinya yang tengah gundah.

Dia masih merasa resah, entah karena apa. Mungkin kenyataan karena dia harus menikah dengan pria yang kini tengah fokur menyetir. Dia tak memiliki perasaan apapun pada pria itu. Benarkah! Entahlah! Dia sendiri bahkan bingung. Dia masih belum mengerti, kemana hatinya tengah berlabuh.

Tak ada pembicaraan setelah itu. Tahu tahu, pria itu sudah membelokkan mobilnya di area parkir gedung dimana para persobil EXO itu tinggal. Ya, Soah sedikit melamun tadi.

“Kita sudah sampai”, ucap pria itu setelah mematikan mesin mobilnya. Dia melepas sabuk pengamannya.

“Apa aku benar-benar harus ikut?”, ucap Soah penuh keraguan.

Pria itu mengangguk. “Kau sudah setengah jalan. Hanya tinggal naik, dan menyapanya”, ucap pria itu lagi.

“Tapi!”, Soah masih ragu dengan pilihannya.

“Kalau kau memang tak ingin menemuinya, ya sudah. Aku akan turun. Terima kasih sudah mengantarku”, ucap pria itu diselingi senyuman. Dia mengacak pelan puncak kepala Soah sebelum membuka pintu mobil.

Soah membuang nafas pasrah kala melihat pria itu turun dan pergi meninggalkannya. Haruskah dia menyusulnya? Soah menggeleng pelan. Dia masih berdebat dengan pemikirannya. Menyusul atau tidak. Jika dia tak melakukannya, belum tentu ada kesempatan lagi. Tapi jika dia menyusulnya, akan aneh nantinya.

Baiklah, sepertinya dia harus memilih pilihan pertama, menyusulnya. Anggap saja ini usaha terakhir untuk membuat pria yang bernama Sehun itu ingat padanya. Ya, dia harus melakukannya. Masalah hasil, serahkan saja nanti. Yang penting dia sudah berusaha.

Soah mengangguk mantap. Dia melepaskan sabuk pengamannya. Mengambil kotak besar dan kotak makanan sebelum melangkah pergi menyusul pria itu.

-o0o-

“Apa aku terlambat?”, ucap Chanyeol dari balik pintu. Hanya kepalanya saja yang kelihatan.

Para personil EXO yang lai menoleh. Menatap ke arah pintu dimana pria itu berada. “Chanyeol-ah, kau baru datang?”, ucap salah seorang dari mereka.

Chanyeol tersenyum, memasukan dirinya kemudian. Ditangannya membawa kotak makanan yang dibuat oleh istrinya tadi.

“Apa itu?”, tanya pria yang biasa dipanggil Baekhyun olehnya.

Chanyeol mengaangkat kotak makanannya. “Aku juga tak tahu apa isinya”, jawabnya bohong. Ya, sebenarnya dia tahu apa saja isi kotak makanan itu. Tapi dia harus melakukannya, berpura-pura tak tahu.

“Kau yang membawanya, bagaimana mungkin tak tahu isinya?”, protes pria yang bernama Suho.

“Kim daepyo yang memberikannya padaku”, jawab Chanyeol.

“Kim daepyo”, ulang mereka serentak. Tidak semua, hanya beberapa. Karena DO terdiam, begitu juga dengan Sehun.

“Pemilik Hera Fashion”, imbuh Suho.

Chanyeol mengangguk. Dia berjalan mendekat. Mendudukan dirinya di sofa sebelah Sehun. Karena memang tempat itulah yang paling dekat dengannya. Dia menaruh kotaknya di meja yang sudah penuh camilan dan kue ulang tahun. “Dia ada di luar”, ucapnya kemudian.

“Kenapa kau tak menyuruhnya masuk?”, ucap Suho.

“Dia tidak mau. Katanya, dia ingin bertemu Sehun”, jelas Chanyeol kembali.

Sehun mendongakkan kepalanya. Dia menatap tajam Chanyeol. “Kenapa dia ingin bertemu denganku?”, tanya Sehun.

Chanyeol mengangkat bahunya. Seolah berkata jika dia tak tahu.

“Sudah sana, temui dia. Kasihan kan dia di luar sendirian”, ucap Suho.

Sehun kini beralih menatap sang leader.

“Iya, kasihan kan. Kalau perlu ajak dia masuk. Kau sudah tak punya dendam dengannya kan?”, Baekhyun kini yang bersuara.

“Iya, pergi sana”, Kai yang duduk disebelahnya mendorongnya pelan.

Sehun medesah pasrah sebelum berdiri. Meletakkan topi kerucut yang dipakainya. Berjalan pelan meninggalkan mereka.

“Menurutmu, apa isi kotak itu?”, Baekhyun kembali berucap setelah Sehun menghilang.

“Sudah pasti itu makanan. Itu kan kotak makan”, DO yang sedari tadi diam kini bersuara.

“Aku buka ya!”, tanya Baekhyun. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling menatap mereka satu persatu minta persetujuan.

“Itu untuk Sehun”, ucap Chanyeol.

DO berdiri. Dia mengambil kotak makanan tersebut. Pergi meninggalkan kerumunan mereka.

Yak DO. Kau mau membawanya kemana?”, protes Baekhyun. Tangannya terulur mengikuti arah pergi DO.

“Aku akan menatanya. Sehun tak akan marah hanya karena makananya dibuka”, jelas DO.

Baekhyun juga berdiri. Dia mengikuti DO menuju dapur. Dia tak ingin kalah saing melihat makanan itu. Dia yang ingin membukanya, kenapa jadi pria itu yang membawanya? Protesnya dalam hati. Dia merasa cukup kesal.

“Kenapa kau mengikutiku, hyung”, tanya DO yang melihat Bekhyun di belakangnya.

“Aku ingin melihat apa isinya? Aku yang penasaran kenapa juga kau yang membukanya?”, protes Baekhyun.

DO membuka kain penutup kotak makanan terlebih dulu. Membuka tutupnya. Mengambil satu per satu susunan kotaknya.

“Salad”, ucap Baekhyun saat DO meletakan kotak pertamanya.

“Bulgogi”, ucap Baekhyun saat DO meletakan kotak kedua.

“Ayam pedas”, ucap Baekhyun saat DO meletakan kotak ketiga.

“Sup rumput laut”, ucap Baekhyun melihat isi kotak terakhir.

“Kelihatannya enak”, ucap Baekhyun kembali sambil mendekat ke arah sup yang masih mengeluarkan sedikit asap.

“Dia menambahkan kerang abalone”, ucap DO saat melihat sup rumput laut.

“Kerang abalone”, ulang Baekhyun. “Bukankah itu yang Sehun suka untuk sup rumput lautnya?”, lanjutnya.

Mereka berdua saling melirik. Saling membulatkan mata. Seolah berbicara lewat tatapan itu.

-o0o-

Sehun mengedarkan pandangannya setelah menutup pintu. Dia melihat seorang gadis tengah menyandarkan punggungnya pada dinding dengan membawa kotak besar. Kakinya diketukan beberapa kali ke lantai, seolah merasa bosan dengan apa yang dilakukannya. Gadis itu juga terlihat menghela nafas beberapa kali.

“Kim daepyo”, sapa Sehun. Dia berjalan mendekati gadis itu.

Merasa namanya dipanggil, Soah menoleh. Dia tersenyum pada orang yang memanggilnya.

“Kata Chanyeol hyung, anda ingin bertemu denganku. Ada apa?”, tanya Sehun.

Soah kembali tersenyum, namun terlihat kikuk kali ini. “Sebenarnya…..”. Dia tak sempat melanjutkannya, karena lelaki itu sudah menyelanya.

“Mari masuk”, ajak Sehun.

Soah menggeleng. Menolak ajakan pria itu. “Tidak perlu. Aku hanya sebentar”, ucap Soah. Dia memberikan kotak besar itu pada Sehun. “Ini untukmu”.

“Apa ini?”, tanya Sehun penasaran. Dia menerima kotak besar tersebut.

“Hadiah”, ucap Soah kembali. “Saengil chukkaeyo, Sehun-ssi”, lanjutnya.

“Terima kasih”, ucap Sehun. Dia tersenyum aneh. Ya, dia masih merasa canggung dengan gadis itu. Masih merasa seolah mereka baru pertama kali saling mengenal.

“Aku juga membuatkan sup rumput laut yang dulu menjadi kesukaanmu. Aku tak yakin apa kau masih menyukainya sampai sekarang. Tapi aku harap kau mau mencobanya”, ucap Soah terdengar ragu.

“Aa, yang dibawa Chanyeol hyung tadi?”, tanya Sehun memastikan.

Soah mengangguk. “Kalau begitu aku pergi”, Soah menunduk hormat. Dia berbalik, berjalan meninggalkan pria itu. ‘Aku harap kau mengingatku setelah membuka kotak itu, Hunnie’, ucapnya dalam hati.

-o0o-

Sehun berjalan pelan menuju kamarnya setelah pertemuannya dengan gadis tadi. Saat melewati ruang makan, dia dipanggil rekan-rekannya.

“Sehun-ah. Ayo makan”, ucap salah seorang dari mereka.

“Aku akan menaruh kotak ini sebentar”, teriaknya sambil berlalu. Dia ikut duduk di meja makan setelah menaruh kotaknya.

“Mari makan”, ucap Baekhyun antusias setelah melihat Sehun duduk. Dia yang pertama mengambil sendok. Menyuapkan kuah sup rumput laut kemudian. “Wah, mashita. Ini bahkan lebih enak dari buatan DO”, jelasnya.

Yak, kau pikir siapa yang berulang tahun. Kenapa jadi kau yang begitu antusias memakannya”, potes Chanyeol.

“Aku sudah tergoda sejak membukanya tadi”, jawabnya acuh. “Sehun-ah, kau juga harus mencobanya”, ucap Baekhyun kembali.

Dengan sedikit ragu, Sehun mengambil sendoknya. Menyuapkan kuah sup rumput laut tersebut. Rasanya begitu tak asing di lidahnya.

“Bagaimana rasanya?”.

“Mashita. Darimana kau belajar memasak?”.

“Eomma”.

“Sena ahjumma?”.

Gadis itu mengangguk.

“Jadi kemarin kau bertanya aku lebih suka kerang abalone atau landak laut karena ini?”.

Gadis itu kembali mengangguk. “Kau harus menghabiskannya”.

Ingatan kecil itu muncul begitu saja. Membuat Sehun terdiam. Dia termangu karenanya. “Ai-chan”, ucapnya kemudian.

“Ai-chan. Siapa itu?”, tanya Kai yang duduk di sebelahnya.

Sehun tak menjawab. Dia memilih berdiri. Berjalan cepat meninggalkan meja makan.

“Sehun-ah, kau mau kemana? Kau belum menghabiskan makananmu?”, ucap Chen. Pandangannya mengikuti kemana Sehun pergi.

Sehun berjalan cepat menuju kamarnya. Dia segera membuka kotak yang diberikan gadis tadi. Banyak barang yang terdapat di kotak itu. Mulai dari jam tangan, topi, kacamata dan masih ada lainnya yang tak bisa di sebutkan satu persatu. Sehun terfokus pada hodie tudung yang terlipat rapi. Dia mengambilnya, mengangkat tinggi untuk melihat desainnya.

“Apa seperti ini?”.

Sehun mengangguk. Dia mengambil buku yang digunakan temannya untuk menggambar. Meneliti setiap gambar yang temannya buat. “Kau berbakat menggambar baju ya. Kenapa kau tak menjadi desainer saja?”, ucapnya kemudian.

“Haruskah?”, tanya temannya itu.

Sehun kembali mengangguk. “Pasti kau akan menjadi desainer terkenal jika melakukannya”.

“Akan aku pikirkan nanti”, jelas temannya itu. Dia merebut kembali bukunya. “Aku akan meminta imo membuatkannya untukmu. Tunggu saja di hari ulang tahunmu”.

“Itu masih lama”.

Ingatan kecil itu kembali muncul. Sehun kembali termangu. Dia meletakan hodie itu kembali. Menggeledah isi kotak itu kembali. Dia mendapat kartu ucapan juga. Dia mengambil tumpukan kartu tersebut.

Ada foto menara eiffel di salah satu kartu ucapan itu. Dia membaliknya, membaca kalimat demi kalimat yang tertulis disana.

12 April 2010. Hunnie. Kau pasti tak akan percaya. Aku ada di Paris sekarang. Kita pernah berjanji akan kemari bersama kan. Aku harap kita bisa mewujudkannya suatu saat nanti. Saengil chukkae. Aku membeli jam tangan untukmu. Aku harap kau bisa on time setelah memakainya. Dari sahabatmu. Ai-chan.

Sehun kembali membaca kartu ucapan yang lain.

12 April 2012. Hunnie. Selamat atas debutnya dirimu. Aku membeli topi saat jalan-jalan kemarin. Semoga berguna. Saengil chukkae. Dari sahabatmu. Ai-chan.

Sehun mengambil kartu ucapan lain.

12 April 2015. Hunnie. Aku sudah melihat lagu terbarumu. Kau semakin tinggi ya. Saengil chukkae. Aku punya teman seorang desainer perhiasan. Aku memintanya membuatkan kalung untukmu. Katanya itu kalung keberuntungan. Semoga benar ya. Dari sahabatmu. Ai-chan.

Sehun termangu menatap foto itu. Foto gadis yang tadi memberinya kotak besar itu. Dia membalikknya, terdapa tulisan disana.

12 April 2017. Hunnie. Kenapa kau tak mengingatku? Apa kenangan masa kecil bersamaku tak cukup berarti untukmu? Ini aku Ai-chan. Aku memanjangkan rambutku jika kau tak tahu. Saengil chukkae.

Sehun masih tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Semua kartu ucapan itu di tulis di setiap ulang tahunnya setelah perpisahannya dengan teman lamanya. Bahkan kado-kado itu juga disiapkan untuknya sebagai hadiah ulang tahunnya.

Kenapa dia begitu bodohnya tak mengenalinya. Tapi memang gadis itu berbeda dengan apa yang difikirkannya selama ini.

“Bagaimana jika saat kau terkenal nanti, lupa denganku?”, tanya temannya.

Sehun terdiam. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. “Itu tidak mungkin. Aku pasti akan selalu mengingatmu”, jelas Sehun.

“Kalau itu terjadi?”.

“Kau bisa menendangku”.

“Seperti ini”. Temannya itu menendang kaki Sehun.

“Akh, yak”, protes Sehun. Dia mengusap pelan kakinya.

“Kau bilang aku boleh menendangmu kan”, ucap temannya tanpa dosa.

“Iya, tapi tidak sekarang juga kan”, ucap Sehun masih protes.

Ingatan-ingatan kecil itu kembali muncul di kepalanya. Jadi gadis itu menendangnya kala itu bukan tanpa alasan. Memang dialah yang memintanya.

Sehun menunduk pelan. Dia mengusap kasar wajahnya.

“Mari bertemu disini jika kita berpisah nanti”.

“Emmmh”, Sehun mengangguk mantap.

Sehun kembali mendongakkan kepalanya. Dia teringat satu tempat. Tempat dimana di berjanji bertemu bila mereka terpisah. Dia mengambil mantel, topi, serta maskernya. Memakainya dengan cepat sebelum meninggalkan kamarnya.

“Sehun, kau mau kemana?”, tanya salah seorang dari mereka saat Sehun melewati ruang makan.

“Ada urusan sebentar. Hyung, aku pinjam mobilmu”, teriak Sehun tanpa berbalik. Dia melambaikan tangan sambil memegang kunci mobil. Entah siapa yang dia maksud, dia tak menyebutkan nama.

Eoh, jangan sampai lecet”, ucap salah seorang dari mereka. Dia tersenyum miring. “Jadi dia baru ingat”, ucapnya pelan.

“Siapa?”, tanya Baekhyun yang duduk disebelahnya.

“Bukan siapa-siapa? Lanjutkan saja makanmu”, jelas Chanyeol.

 

-o0o-

Dengan kecepatan penuh Sehun mengemudikan mobilnya. Dia ingin segera sampai ke tempat dimana dia dan temannya dulu berjanji bertemu bila terpisah. “Semoga dia pergi kesana”, kalimat itu yang diucapkannya sepanjang jalan.

Dia hampir sampai. Dia bisa melihat seorang gadis tengah berdiri di taman itu. Ya, taman dimana pertama kalinya mereka bertemu sewaktu kecil. Dengan cekatan Sehun menginjak remnya. Gadis itu hampir beranjak. “Tidak, jangan pergi dulu. Aku mohon”, ucap Sehun kembali.

Dengan tergesa-gesa dia melepas sabuk pengamannya. Turun dengan cepat. Berjalan cepat menyusul gadis itu. Merasa tak puas, Sehun berlari menghampiri gadis itu.

“Ai-chan”, ucapnya sambil terengah. Dia berhasil mengejar gadis itu.

Gadis itu berbalik. Dia tersenyum melihat Sehun. “Kau mengingatku?”, tanyanya.

Senyum itu, senyum yang selama ini Sehun rindukan. Tepat seperti yang dia duga. Gadis itu adalah temannya. Teman masa kecilnya. Teman yang selalu dirindukannya. Dia berjalan cepat ke arah gadis itu. Menariknya dalam dekapannya.

“Aku merindukamu, Ai-chan”, ucapnya kemudian.

Gadis itu tersenyum kecil dalam dekapan Sehun. Rasanya masih nyaman seperti yang terakhir diingatnya.

“Maaf, karena baru mengingatmu”, ucap Sehun kembali. Dia mengusap pelan surai panjang gadis itu.

“Aku juga merindukanmu, Hunnie”, ucap gadis itu.

to be continue…..

Hai, saya kembali lagi dengan chapter 6

Gimana menurut kalian?

Jangan lupa tinggalakan jejaknya ya.

26 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 6)”

  1. Oh my god apa yang terjadi selanjutnya nih …pasti ada konflik batin yg begitu rumit antara chanyeol soah n sehun …di tunggu nexk nya ya min…

  2. Dan disinilah pertarungan dimulaaaiiiii…sbagai suami dan sebagai cinta pertama hasek huahahahahahahahaha
    Etapi member ga ada yg tahukah yeolie nikah sma kim deopyo????
    Tian deh thehun..giliran ingat pas udh jd bini orang ckckckckck
    Fighting thor!!;)

    1. Iya nih, kira-kira menang siapa ya, hayo tebak?
      Pernikahan mereka memang dirahasiakan….
      Ekhmm, bener tuh… Kacian bang Sehun…
      Terima kasih banyak ya…
      Fighthing…. 💪💪💪

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s