GAME OVER – Lv. 42 [The New Hero] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — [ Level 1Level 10 ] — Tacenda CornerEden’s Nirvana — [ Level 11Level 20 ] — Royal Thrope — [ Level 21Level ??Level 30 ] — Spotlight Effect —  [ Level 31Level 40 ] — My Dimension, My Rules — Level 41 — [PLAYING] Level 42

Destroy them all today

Catatan penulis: level 40 dan seterusnya, merupakan cerita lanjutan dari kesinambungan antara cerita yang ada di level 1 s/d 29 dan flashback yang ada di level 30 s/d 39. Jika Anda mengalami gagal paham selama membaca cerita, sangat disarankan untuk menekan close tab yang ada di perangkat elektronik Anda. Salam sehangat kulit ayam, Irish.

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 42 — The New Hero

In Author’s Eyes…

Liv tidak pernah merasa sebersalah ini lantaran membohongi seseorang. Sungguh, dia merasa biasa saja saat harus membohongi Seungwan tentang bagaimana Baekhyun masuk ke dalam WorldWare secara ilegal. Tetapi, mengapa melihat kehancuran seorang manusia karena perasaan yang tak mungkin terbalas dari sebuah program ciptaan manusia justru membuat Liv memahami rasa sakit?

“Kau sebegitu menyukainya, ya?” tanpa sadar bibir Liv berucap, padahal tadi keeksisannya dipertanyakan oleh sang lawan bicara. Hampir saja keberadaan Liv dalam karakter Red Hair Witch diketahui oleh Jiho, kalau saja Liv tidak asal bicara soal kebebasan berpikir mereka di dalam WorldWare.

Beruntung, gadis yang sekarang berstatus sebagai player dengan rank tinggi yang masih bertahan di survival mode itu tengah dirundung duka. Jadi dia tidak terlalu mempermasalahkan bualan Liv yang sebenarnya terdengar begitu kentara.

“Aku tidak tahu, menurutmu masuk akal? Mempertahankan perasaan yang tidak mungkin akan terbalas.” kata Jiho membuat Liv tersenyum kecut. Dia tahu benar, bagaimana rasanya menyukai seorang manusia dan saling berbalas kasih dengan manusia tersebut.

Liv pernah mengalaminya, dan bahkan masih mengalaminya, bersama Sehun. Tapi mana mungkin Liv menceritakan hal itu pada Jiho? Berkata bahwa Jiho masih punya harapan untuk bersama dengan Invisible Black yang tidak lebih dari sebuah karakter ‘hidup’ selayaknya Liv adalah hal yang tidak masuk akal.

Lagipula, Invisible Black punya sosok asli di luar sana, Byun Baekhyun. Bagaimana jadinya kalau Jiho dipertemukan dengan dua orang itu di waktu yang sama? Membayangkannya saja sudah membuat Liv ingin bergidik ngeri.

Tapi sensor yang Red Hair Witch miliki sangatlah terbatas, sehingga untuk mengakses batasan ‘perasaan’ saja Liv sudah sangat kesulitan. Well, bagaimana pun bukan seorang Byun Baekhyun yang menciptakan Red Hair Witch, sudah pasti karakternya pun tak akan sekuat Liv eksistensinya.

“Tidak ada yang salah dengan menyimpan perasaan untuk seseorang. Meski menyakitkan, meski rasanya kau ingin melepaskan perasaan itu, kalau kau ingin bertahan maka bertahanlah. Terkadang kita perlu merasakan sakit jika ingin mempertahankan apa yang ingin kita pertahankan. Sehingga, pada akhirnya rasa sakit itu akan kalah dengan keinginan kuat kita.” akhirnya Liv hanya bisa tersenyum simpul saat kalimat panjang itu lolos dari bibirnya dengan lancar.

Bukannya membual, Liv tahu rasanya sakit serupa kematian yang dulu harus merenggut kesadarannya ketika dia harus mengorbankan diri demi kehidupan orang lain. Tapi Liv tahu akan ada timbal balik dari perbuatannya, dan setidaknya Liv merasa bangga hati sekarang; karena dia sudah memiliki apa yang ingin dimilikinya.

“Invisible Black pasti sangat senang sekarang,” gumaman Jiho kemudian terdengar. “Apa maksudmu?” tak ayal Liv merasa penasaran juga.

“Dia pasti senang karena tidak harus merindukanku sebanyak aku merindukannya. Bukan hanya cinta yang bisa bertepuk sebelah tangan, tetapi rindu juga bisa.” senyum samar kemudian muncul di paras Jiho, mengingatkan Liv tentang makna di balik senyum muram macam itu bagi manusia.

Ekspresi bahagia yang dipaksakan, sebuah kamuflase sarat akan kepalsuan dan derita. Liv tahu benar apa yang Jiho rasakan sekarang, tapi tidak juga dia bisa mengekspresikannya, apalagi membantu si gadis.

Satu-satunya bantuan yang bisa Liv beri pada Jiho adalah kebebasan dari WorldWare tanpa harus merasa terluka—itu adalah command Red Hair Witch yang Liv terima, dia diharuskan menyelamatkan semua player dari mode survival.

“Royal Thrope sepertinya ingin bicara denganmu, Jiho.” kemudian Liv berucap ketika dilihatnya bagaimana seorang player bertubuh jangkung dan seorang gadis berparas menawan melangkah ke arah mereka.

Salah satunya adalah NPC, Liv tahu itu.

“Johnny? Somi? Ada apa?” tanya Jiho, dihapusnya sisa kesedihan dari wajahnya dalam hitungan detik, membuat Liv tanpa sadar tersenyum, diam-diam dia mencintai dunia yang terdiri dari commandcommand dan barisan sistem ini karena di dalam dunia ini, keadaan seseorang bisa berubah dengan sangat cepat.

Kesedihan yang Jiho pasang sejak tadi dalam profilenya pun berubah menjadi sebuah semangat bertarung begitu dilihatnya Johnny datang dengan sepasang archery di tangan, juga Somi dengan twin-swordnya.

Batlle dengan Black Radiant, kau ikut?” tanya Johnny tanpa basa-basi. Well, dia memang bicara pada Jiho, tapi jangan tanya kemana sekarang maniknya bersarang: Red Hair Witch. Dalam hal ini, Liv yang sementara waktu ada dalam tubuh Red Hair Witch pun merasa bingung.

Apa Red Hair Witch punya hubungan dengan player rank tinggi ini?

“Salah satu strategi, sebenarnya. Aku lihat, tinggal segelintir player yang masih bertahan di sini. Masa bodoh dengan aturan NG Soft mengenai kita yang harus bertahan sampai hari akhir, Jiho. Lebih cepat game over akan jadi jalan yang lebih baik bagi kita.” kata Johnny.

Lantas, Jiho tersadar. Beberapa orang player dari WhiteTown dan House of Zeus sudah game over pagi tadi, dan Jiho tidak bisa mengakses konversasi dengan NPC lain untuk bicara mengenai apa yang terjadi pada playerplayer tersebut sebab selain Wendy, Jiho tidak ingin bicara dengan NPC lainnya.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Menyerahkan diri pada game over begitu batlle berlangsung?” terdengar Somi ikut angkat bicara. Oh, Jiho mungkin belum mengetahui status Somi yang merupakan seorang NPC juga di sini. Hanya Liv yang tahu, karena Liv mengakses benak salah seorang NPC secara otomatis dia juga mengetahui siapa saja NPC yang ada di dalam permainan ini.

“Bukannya menyerah begitu saja, kita melakukan perlawanan tentu saja, karena melawan mereka itu sangat menyenangkan.” sekarang Johnny tertawa keras, sementara beberapa orang yang perlahan melangkah di belakangnya—menyusul Johnny, pasti—tampak sedikit terkejut karena tawa keras yang Johnny pamerkan.

“Abaikan tawa mengerikannya, Jiho. Dia hanya kesal karena Invisible Black terbunuh. Kau tahu sendiri, dia belum dapat banyak informasi dari pairmu.” ujar Taeil sampai ke pendengaran Jiho dengan cukup jelas.

“Kita sama-sama tidak tahu apa yang akan terjadi. Selain ideku barusan, tidak ada strategi lainnya, bukan?” Johnny dengan bangga berkata, lantas dia edarkan pandangannya sejenak sebelum melanjutkan. “Aku tidak yakin apa aku akan melanjutkan permainan ini setelah kita berhasil keluar. Tempat ini sudah jadi tidak seramah yang dibicarakan saat promosi.” ucapan Johnny sekarang malah berhasil membuat tawa Taeil meledak.

“Dia bicara seolah dia bukan bagian dari WorldWare saja.” komentar Taeil mengingatkan Johnny kalau dia sendiri juga bagian dari orang-orang yang sudah menciptakan ‘dunia’ virtual yang begitu hidup ini.

“Terserah,” Johnny mengangkat bahunya acuh. “…, yang jelas sekarang satu-satunya cara untuk mengakhiri permainan ini sebelum batas akhir waktu hanya dengan menghadapi masalah yang sesungguhnya. Bagaimana, Jiho?” Jiho sendiri menyernyit begitu Johnny menyarangkan pandangan pada dirinya.

“Apa maksudmu? Bagaimana denganku?” ulang Jiho tidak mengerti.

“Ya,” Johnny mengangguk intens, “Terakhir kali, kuperhatikan kau masih ingin berduka sepeninggal pairmu. Jadi aku menawarkan pilihan, mau bergabung sekarang, atau nanti saat kami sudah game over?”

Sejenak Jiho terdiam setelah mendengar kalimat yang lolos dari bibir Johnny. Terpikir olehnya untuk berdiam diri saja dan menunggu, tapi apa yang sekarang ditunggunya? Invisible Black sudah tidak ada, begitu pula dengan Taehyung maupun Ashley.

Jiho sudah sendirian—ralat, dia sendiri yang berpikir bahwa dia sendirian.

“Aku ikut, tentu saja.” kata Jiho akhirnya setelah dia terdiam selama beberapa saat. Johnny kemudian mengangguk puas mendengarnya, lantas tatapan Johnny kini bersarang pada sang NPC berambut merah menyala.

“Kau ikut dengan kami atau mau bergabung dengan rekan-rekanmu yang lain?” tanya Johnny dijawab satu anggukan pasti oleh Liv—well, Liv yang ada di dalam benak Red Hair Witch, bukan?

“Aku ikut dengan kalian.” putusnya.

Kelompok kecil itu pun mulai melangkah menyusuri jalan setapak menuju Hall. Tidak peduli bahwa beberapa jam yang lalu mereka baru saja dihadapkan pada sebuah batlle yang berujung akhir dramatis bagi salah satu rekan, mereka justru kembali ingin mencari masalah baru.

Jiho berjalan menyejajari Taeil dan Herin, mereka bertukar cerita-cerita kecil, tentang apa yang belum Taeil ketahui, dan apa yang terjadi selama rentang beberapa jam yang Jiho lalui dengan menyendiri.

Liv sendiri memutuskan untuk melangkah paling depan, di belakangnya ada Johnny dan Somi. Tapi tentu saja Liv tahu kalau hubungan Red Hair Witch dan Royal Thrope dalam WorldWare tidak sekedar PC-NPC saja. Liv punya insting yang kuat, dan melihat bagaimana Johnny tiba-tiba saja berjalan menyusul langkahnya sekarang Liv tahu, pemuda itu hendak bicara.

Jadi dengan sengaja Liv memelankan langkah, memberi ruang bagi Johnny untuk menyusulnya dan lantas bicara. Benar saja, begitu keduanya melangkah sejajar Liv bisa mendengar dehaman pelan lolos dari bibir Johnny.

“Ada pembicaraan yang belum selesai di antara kita, Red Hair Witch—oh, atau perlukah kau kupanggil Wendy sekarang?” Liv tentu tidak terkejut saat tiba-tiba saja Johnny mengajaknya bicara.

Masalahnya, Liv cukup yakin dia sudah mengenal semua memori yang ada dalam diri Red Hair Witch saat dia memutuskan untuk masuk ke dalam karakter dengan proteksi selemah itu. Tapi pembicaraan yang sekarang Johnny bicarakan seolah tak ada di dalam memori Red Hair Witch.

“Aku tidak menciptakanmu untuk sekedar memuaskan hasrat saja.” tatapan Liv membulat saat didengarnya kalimat vulgar itu lolos dari bibir Johnny dengan santainya. Mendengar kata ‘menciptakan’ langsung saja memori Liv terbang pada salah satu ingatan Red Hair Witch, tentang sosok programmer yang menciptakannya.

“Ah, Johnny…” tanpa sadar bibir Liv menggumam.

“Ya? Apa katamu?” ulang Johnny menyadarkan Liv kalau sosok yang berpenampilan acak-acakan ini adalah orang yang sama dengan yang menciptakannya dan ada di dalam ingatan beta Red Hair Witch, Seo Johnny.

“Tidak, aku tidak mengatakan apapun. Kau tadi hendak bicara apa?” ulang Liv, pelan-pelan dia mulai bisa menguasai situasi, sehingga Johnny tidak harus menanyakan pertanyaan serupa dengan yang Jiho utarakan tadi.

Hening sejenak, Johnny tampak menatap serius ke jalanan kosong di depannya, sementara Jiho dan beberapa orang player lain mengekor di belakang.

“Aku katakan, aku tidak menciptakanmu hanya untuk sekedar memuaskan hasrat saja. Memang, kau kuciptakan serupa dengan gadis menarik perhatianku—dan katamu kemarin, ingatan mengenai bagaimana memori betamu merekam semua yang aku katakan saat itu—tapi bukan berarti aku ini seorang gila yang menjadikan karakter game sebagai pelampiasan hasrat.”

Liv mengangguk-angguk paham. Tentu, dia paham konsep pembicaraan mereka saat ini. Johnny adalah creator Red Hair Witch, dan sepertinya mereka kemarin terlibat pembicaraan cukup serius mengenai eksistensi Red Hair Witch dan sosok yang mendasari penciptaannya.

“Dan jangan anggap aku sebagai seorang programmer yang egois, sungguh, aku menciptakanmu sebagai miniatur dari karakternya, itu saja.” lagi-lagi Johnny menambahkan.

Kembali, pembicaraan ini membawa Liv pada satu pemikiran serupa dengan keadaan Jiho yang tadi dihadapinya begitu dia masuk ke dalam sistem WorldWare. Tapi kali ini, keadaan Johnny sepertinya tidak begitu buruk.

“Dia gadis yang menarik perhatianmu, atau kau sudah menaruh perasaan padanya?” pertanyaan Liv sekarang berhasil membuat Johnny tertawa renyah. “Keduanya, mungkin. Aku tidak egois, aku paham kalau dia sudah punya seseorang.” Liv tersenyum miring menanggapi ucapan Johnny.

Mana ada manusia yang punya keegoisan minimal dan rela melepas apa yang mereka inginkan begitu saja? Johnny tidak perlu menekankan berulang kali tentang bagaimana dia tidak egois. Liv tahu keegoisan adalah hal paling mendasar dari manusia.

“Lalu mengapa kau terus mempertahankan perasaanmu?” tanya Liv.

“Aku bukannya bertahan dari cinta bertepuk sebelah tangan ini dengan senang hati. Tapi aku menikmatinya sebagai bagian dari kebahagiaan kecil yang hidup berikan padaku dalam bentuk rasa sakit. Karena, bisa mencintai seseorang saja rasanya sudah terlampau menyenangkan.”

Langkah Liv kini memelan tanpa sadar. Dia ingat, dia telah mengatakan hal yang serupa pada Jiho, tapi mana dia duga kalau sekarang Johnny malah membalik kalimat itu kepadanya? Lantas, Liv melempar pandang ke arah genangan air yang ada di daratan lumpur tidak jauh dari jalan setapak yang sejak tadi mereka lalui.

Perlahan, Liv bawa langkahnya menuju tanah berair tersebut. Terkejutnya Liv begitu didapatinya sebuah figur familiar terpantul di atas permukaan air tersebut, begitu Liv kenal wajah tersebut sebagai seseorang yang diketahuinya di kehidupan nyata.

Son Seungwan.

“Ada apa, Wendy?” tanya itu masuk ke dalam pendengaran Liv saat dia sadari keberadaan Johnny di sebelahnya.

“Kau benar, kau tidak boleh menaruh perasaan pada gadis yang kau jadikan inspirasi saat menciptakan karakter ini.” lagi-lagi, Liv bergumam tanpa sadar. Semenjak hidup dalam tubuh manusia dan melalui banyak hal yang berbau manusiawi, Liv sepertinya mulai lupa tentang batas sadar-tak sadar yang seharusnya dia miliki.

Tawa pelan yang lolos dari bibir Johnny kemudian menyadarkan Liv dari lamunannya. Kini, ditatapnya paras Seo Johnny yang sama sekali tidak terlihat marah ataupun tersinggung karena ucapannya barusan.

Yang ada, pemuda itu justru menyunggingkan sebuah senyum, diikuti kalimat yang lantas membuat Liv berkeinginan untuk mempertimbangkan keinginan kuat Johnny untuk tidak dianggap sebagai manusia yang egois.

“Aku tahu, sudah kukatakan kalau aku tahu cintaku ini bertepuk sebelah tangan, bukan? Aku melihat bagaimana cincin pertunangan melingkar di jemari gadis itu. Tapi tenang saja, aku tidak egois, jadi aku tidak mungkin melakukan hal-hal buruk untuk mendapatkannya.”

Mungkin, sekarang Liv harus benar-benar mempertimbangkan soal keberadaan manusia dengan ego mimimal. Seo Johnny ini, contohnya.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Terjebak di Hall dalam kungkungan barier plasma tidak lagi jadi hal yang baru bagi seorang Song Jiho, dia bahkan pernah menjadikan Hall sebagai salah satu tempat favoritnya di dalam WorldWare.

Tetapi sekarang Jiho rasa dia sudah mulai memasang benteng permusuhan pada Hall, terutama… pada sosok yang sekarang berdiri tidak jauh darinya. Sosok berpakaian gelap yang menatap dengan kedua manik menyipit sinis tersebut, Black Radiant.

“Tidak aku sangka kalian punya keberanian untuk berhadapan denganku lagi—oh, lihat siapa yang bersembunyi di sudut terbelakang pasukan kalian? Kau sudah punya nyali untuk melihatku setelah apa yang terjadi, HongJoo?” nada sinis sarat akan sindiran itu masuk dengan begitu tajam ke dalam rungu Jiho.

Lagi, Jiho merasa seolah batinnya teriris, hanya saja rasa sakit itu begitu samar dan tidak nyata. Meski Jiho sendiri tidak yakin apa dia bisa dengan lantang mengatakan bahwa dia tidak merasa sakit sama sekali begitu mereka semua terbangun di dalam survival tube nanti.

“Berhadapan denganmu justru akan membuat keberanianku makin besar.” sahutan singkat Jiho berikan, bukan menantang tapi memperingati. Black Radiant sendiri hanya menyunggingkan sebuah senyum kecil.

Well, well, karena kalian semua sudah berkumpul di dalam barierku, jadi aku rasa kita semua tidak perlu berpura-pura lagi, bukan?” kata Black Radiant, dia kemudian menjentikkan jemarinya, membuat dua orang di barisan player tiba-tiba saja melangkah meninggalkan kelompok kecil yang menantang Black Radiant tersebut, malah beralih berdiri menyejajari Black Radiant.

“Mereka adalah sebagian kecil dari kami yang sudah hidup bersama kalian. Teman-teman, aku rasa kita harus menghancurkan mereka semua hari ini.” Black Radiant menyunggingkan sebuah senyum sinis, lantas dia melanjutkan. “Apa perlu kupanggil mereka semua?” tanyanya.

Jiho kemudian mengerjap cepat, terkejut bukan main. Tatapannya sontak tertuju pada Red Hair Witch yang ada di sebelahnya. Jiho cekal erat-erat lengan Red Hair Witch, membuat Liv yang ada dalam tubuh si penyihir, terkejut.

“Ada apa, Jiho?” tanya Liv.

“Jangan sampai dia mengendalikanmu lagi, Wendy.” kata Jiho tanpa memandang si penyihir. Gadis itu masih melemparkan pandangan penuh kebencian pada Black Radiant di depan sana.

Liv sendiri baru saja akan buka mulut dan bicara saat dia rasakan seseorag melepaskan cekalan Jiho dengan paksa dari lengannya, berangsur-angsur menarik Jiho keluar dari kerumunan. Liv kenali sosok itu sebagai satu dari sekian banyak NPC yang ada di dalam barier saat ini, tetapi Liv tidak tahu apa tujuan NPC itu menarik Jiho pergi.

Sama halnya dengan Jiho sendiri, ketika ditarik dengan paksa dari barisannya, seharusnya dia memberontak dan menolak. Tapi yang Jiho lakukan malah pasrah, mengikuti sosok pemuda yang sekarang terlihat tergesa-gesa membawanya menjauh.

“H—Hey! Lepaskan aku!” akhirnya seruan itu berhasil lolos dari bibir Jiho.

Langkah si pemuda pun terhenti, dia kemudian berbalik—menatap Jiho dari atas sampai bawah dengan sebuah senyum terpasang di wajah, bukan senyum sinis atau senyum tidak sopan. Pemuda itu justru tersenyum dengan begitu tulus.

Manik keduanya kemudian bertemu, sesaat kemudian, dia buka mulut.

“Namaku Nakamoto Yuta.” Jiho mengerjap cepat—tak mengerti—begitu player yang tadi menariknya membabi buta itu tiba-tiba saja memperkenalkan diri.

“A—Ah, ya. Senang bertemu denganmu, Yuta.” kata Jiho berusaha terdengar ramah, padahal dalam diam dia sudah siap untuk menyerang, kalau saja tiba-tiba Yuta ini bertindak menyerangnya.

“Tidak, seharusnya kau tidak merasa senang karena menemuiku.” ucapan Yuta sontak membuat Jiho menarik diri, mengikis jarak dalam batas serang selagi maniknya mengawasi Yuta dalam diam.

“Apa maksud ucapanmu?” tanya Jiho, ada rasa curiga yang kental dalam vokalnya, tapi ada juga rasa ingin tahu. Bertahun-tahun dia ada di WorldWare, Jiho tahu benar player satu ini hidup seperti dirinya: tidak aktif dalam kelompok sosial, tidak juga senang terlibat dalam hal-hal konyol.

“Invisible Black.” tatapan Jiho membola saat mendengar nama itu lolos dari bibir Yuta. “…, Sebelum Black Radiant merebut kuasa atas kesadaranku, aku perlu bicara denganmu tentang Invisible Black.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Wah, memang kemampuanmu tidak boleh diremehkan.”

Baekhyun mendengus saat didengarnya sosok dalam tabung hologram itu berkata. “Kau pikir bagaimana aku menciptakanmu? Sekarang aku sudah berhasil mengakses permainan ini, apa lagi yang kau inginkan?” tanya Baekhyun.

Bicara soal perdebatan mereka tadi, Baekhyun pada akhirnya mengaku kalah. Konyol juga kalau dia berkeras ingin menang atas miniatur dari benaknya sendiri. Tentu Baekhyun tidak lupa kalau dia adalah pribadi yang keras kepala, dan sudah pasti miniatur dari benaknya—Invisible Black—punya karakter sama kerasnya.

“Black Radiant.” ujar Invisible Black tiba-tiba, sontak fokus Baekhyun bersarang pada sosok NPC berpakaian gelap—yang sekilas dalam pandang Baekhyun terlihat serupa dengan Invisible Black—yang ada di layar monitornya, tengah dikepung oleh beberapa orang player dalam sebuah batlle.

Villain itu? Apa yang kau ingin aku lakukan padanya?” tanya Baekhyun, dipandanginya Invisible Black seolah sosok hologram dalam bentuk fisik persis seperti dirinya itu adalah kolega sekarang.

“Hancurkan dia.” dua kata itu lolos dengan tegas dari bibir Invisible Black, namun penuh penekanan. Melihat ekspresi serius yang sekarang dipamerkan Invisible Black, entah mengapa Baekhyun luluh juga.

“Baiklah, menghancurkannya tidaklah sulit.” gumam Baekhyun, kemudian dia berbalik menatap ke arah monitornya, jemari Baekhyun lantas menari di atas keyboardnya, memindahkan commandcommand familiar dalam ingatannya dalam layar yang sekarang berada dalam pengawasan Invisible Black tersebut.

“Aku sudah masuk ke dalam salah satu karakter yang ada di sana. Katamu, aku hanya perlu menghancurkan Black Radiant ini dan kau akan menunjukkan semua memorimu selama empat tahun ini bukan?” sekali lagi Baekhyun memastikan perjanjiannya dengan sang karakter fiktif.

Baekhyun mungkin jenius, tapi lawannya sekarang adalah cerminan dari dirinya, yang artinya juga sama jeniusnya dalam anggapan Baekhyun. Sehingga, dia tentu tidak mau dirugikan oleh lawan sekaligus kawannya tersebut.

“Ya,” sahutan singkat Invisible Black membuat Baekhyun menyernyit. “Hanya ‘ya’ saja? Apa yang bisa kau berikan sebagai jaminan kalau kau tidak akan menipuku?” tanya Baekhyun menyudutkan.

Sekarang, Invisible Black malah tersenyum penuh kemenangan. Dengan santai dia menyandarkan tubuh sembari melipat kedua tangan di depan dada selagi maniknya mengawasi tatapan sarat akan kecurigaan yang Baekhyun berikan padanya.

“Mencurigaiku sebagai ‘penipu’ bukannya berarti bahwa kau menuduh dirimu sendiri, Byun?” pertanyaan yang terlontar dari bibir Invisible Black sontak membungkam Baekhyun.

“Jangan menyebutku ‘Byun’ seolah kita dekat.” ujar Baekhyun saat kemudian dia kembali berbalik, pandangannya sekarang bersarang pada seorang karakter NPC wanita rupawan yang sudah berhasil dia kendalikan.

“Karena seseorang memanggilku dengan nama Baekhyun selama beberapa waktu terakhir, rasanya sangat canggung jika aku harus memanggilmu dengan nama yang sama.” kalimat sahutan itu Invisible Black berikan pada Baekhyun, tapi toh Baekhyun tidak memberikan reaksi apapun juga.

“Fokus saja pada permainan ini, sebentar lagi kau akan kehilangan memorimu, omong-omong.” Baekhyun bergumam sembari jemarinya dengan lincah bergerak di atas keyboardnya, menggerakkan karakter dalam permainan tersebut tanpa harus repot-repot masuk ke dalam mode survival yang sama.

Dalam diam, Invisible Black justru mengulum senyum. Tatapannya sekarang tertuju pada salah seorang karakter di monitor, mengenakan pakaian dengan nuansa biru gelap yang sangat dikenalnya.

“Kau bicara seolah kau bisa menerima semua memoriku saja,” kata Invisible Black kemudian. Baekhyun hanya menyahuti dengan sebuah tawa meremehkan. “Kita lihat saja, siapa yang akan menang di sini. Kau atau aku? Tapi untuk saat ini, sepertinya menciptakan seorang pahlawan baru dalam WorldWare tidak jadi ide yang buruk.”

Invisible Black segera mengalihkan pandang, satu sisi dirinya ingin terus menyaksikan batlle yang sekarang tengah berlangsung, tapi satu sisi lain dirinya justru tak ingin menonton. Dia sungguh benci dunia virtual yang sekarang dilihatnya. Seolah mengingatkan Invisible Black pada eksistensi tidak nyata yang mendasari keberadaannya.

“Kau pasti tidak tahu, kalau aku jadi begitu ‘hidup’ karena memori yang kubawa selama empat tahun ini, Byun.”

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Halo!

Enggak berjumpa dan bertegur sapa sama kalian selama hampir dua minggu (belum dua minggu ya kayaknya) entah kenapa udah bikin kangen. Iya, tangan aku tuh gatel aja bawaannya kalo enggak ngetik Game Over, dan karena minggu kemarin Game Over terpaksa absen akibat ultah Kyungsoo dan Kai, jadi Jum’at ini aku baru bisa menyapa kalian.

Enggak apa-apa, yang penting kita udah saling menyapa /cieh/.

Omong-omong soal duet Baek-Black di sini entah kenapa aku jadi mulai enggak tega kalo harus ngebunuh salah satunya dan ngebiarin satu yang lain buat idup /enggak, jangan tuduh aku ngebunuh mereka dulu karena keputusanku masih belum pasti wkwk/ tapi yang jelas mereka ini nanti pada akhirnya akan jadi rekan atau rival sih, itu aja, wkwkwkwk.

Ah, belum lagi salah satu kapalku sudah karam… Johnny… haruskah kamu aku biarin jadi jomblo di sini karena aku enggak tega buat misahin Baekhyun-Wendy? Atau haruskah aku jadiin kamu pho di hubungan mereka? Sesungguhnya kamu harus tunjukin ke semua orang kalo jadi pho itu menyenangkan, John… /DAN TOLONG PLIS TOLONG JUSEYO, ITU NCT NIGHT SUDAH MELAHIRKAN HARAPANKU ATAS DATINGNYA JOHNNY-SEUNGWAN LOH AKU BAHAGIA SEKALI/

ENTAH… Johnny-Seungwan yang memang jodoh atau aku yang bisa meramalkan pasangan-pasangan ‘hot’ dari SM wkwk yang jelas aku super duper bahagia karena akhirnya bisa koleksi foto-foto Johnny-Seungwan yang sesungguhnya dan bukannya editan /padahal yha, fanfiksi Johnny-Seungwan itu terbatas… shipnya juga kayaknya baru aku yang lahirin… liat aja ntar lama-lama banyak juga bertebaran fanfiksi mereka, huh/.

Ah sudahlah kalo aku heboh Johnny-Seungwan nanti keinginan aku buat bikin Baekhyun-Seungwan putus di fanfiksi ini jadi semakin bulat kayak tahu, padahal aku ‘kan kepengen ngebuat Invisible Black ngerasain patah hati… maklum, dia ‘kan belum pernah patah hati tapi udah matahin hati anak orang /re: Jiho/.

Jadi sebelum kalian menyambut hari Jum’at yang berat /buat aku berat, karena tanggal 19 ini deadline semua laporan awal tahun T.T/ aku undur diri dulu. Terima kasih karena udah meluangkan waktu kalian untuk membaca Game Over maupun membaca celotehanku. Sampai ketemu hari Minggu. Salam, Irish.

kontak saya  Instagram  Wattpad  WordPress

Iklan

35 respons untuk ‘GAME OVER – Lv. 42 [The New Hero] — IRISH

  1. Ini aku kok malah galau banget mikirin nasib mbak jiho seorang? Cuma mbak jiho seorang. Dia patah hati di dunia game,tapi nanti dia juga harus patah hati di dunia nyata karena byun baekhyun udah tunangan ama aka wendy..itu hati mabk jiho apa kabar kak irish…

    Ini kalau black radiant game over,berarti jongdae bakal bangun dari koma berarti?

  2. “Aku katakan, aku tidak menciptakanmu hanya untuk sekedar memuaskan hasrat saja. Memang, kau kuciptakan serupa dengan gadis menarik perhatianku—dan katamu kemarin, ingatan mengenai bagaimana memori betamu merekam semua yang aku katakan saat itu—tapi bukan berarti aku ini seorang gila yang menjadikan karakter game sebagai pelampiasan hasrat.”
    Sungguh mbarish aku gagal paham sama konversasi yang satu ini ㅠ.ㅠ tapi untuk keseluruhannya aku ngerti sih.. Wkwkwk udah aku gamau banyak ngomong masih banyak yang harus aku baca. Sekian wassalam..

  3. Yahh haha tebakan pertama salah, ternyata yg di dalam benak red hair witch itu liv. Tebakan kedua ga sepenuhnya salah sih, karena emang red hair witch punya proteksi yg lemah makanya liv bisa nguasain benaknya red hair witch. Hohoo
    Aku tebak lagi pasti abis ini black radiant kalah, dibantuin baek juga sih selain di worldware…

  4. Yahh haha tebakan pertama salah, ternyata yg di dalam benak red hair witch itu liv. Tebakan kedua ga sepenuhnya salah sih, karena emang red hair witch punya proteksi yg lemah makanya liv bisa nguasain benaknya red hair witch. Hohoo

    Aku tebak lagi pasti abis ini black radiant kalah, dibantuin baek juga sih selain di worldware…

  5. Kok lucu ya liat invisible black sma Baekhyun adu mulut😂
    Aku emang berharap invisible black ngasih memorynya ke baek trus akhirnya sma jiho😂
    Susah move on klo gini…

  6. Gapapa jadiin aja joni pho aku malah seneng banget kak biar baek-jiho bisa bersatu/? :v
    Baek-IB debat kok aku malah gemes ya liatnya, berasa kaya anak kembar lagi rebutan permen :v

  7. setuju aja si abwang johnny jadi PHO, gak masalah wkwkw
    cocok kok cocok sama mb seunghwan nya kak irish.kesian kan ? masa cogan mo jadi jomblo ya gak apdol,harus ada pasangannya 😀

    btw baekhyun sama invisable black bakal jdi rival ? kutunggu kak kutunggu momenr itu 😀

  8. Otak ku lgi tumpul gk bisa nginget2…jdi bingung itu kog Wendy jadi Liv!! /Aahhhh/

    Dan ak selalu telat baca/maafkan/
    Semangat ka rish!!!
    Btw ak selalu buka snapgram ka rish sampe ak ss karena kata2 bijaknya😂😂😂😚

  9. Akhirnya bisa baca juga,hp ku rusak huhuhu:'( btw kok aku ngerasa ini pendek y? hehe
    kira2 baekhyun bakal dpt n bs nerima memorinya lg gak y?

  10. Akhirnya identitas liv di wordware terungkap. Gimana ya jadinya kalau baekhyun dapat ingatannya invusible black? Nasibnya jiho nanti gimana?

  11. Kak Irish aku bingung mau komen apa huhu..
    Liiivvvv.. Ohmygod.. Ternyata bener dia nyasar ke wendy.. Nyariin sehun yaa? Sehunnya malah apa kabar nih..
    Baek-Black.. Mereka kiyeowo sekali, udah kayak anak kembar.. Dah lah jadiin manusia kayak Liv aja itu si Black 😂😂
    Johnny-seungwan.. Duhh ini berdua bikin gemes ae.. Bang Johnny ayolahh aku dukung kamu jadi pho hahaha, biarin noh si Baekhyun yg jomblo soalnya aku maunya Jiho sama Invisible Black yg jadi manusia wkwkwk..
    Black Radiant.. Kamu ini maunya gimana bang? Mau dimatiin Baekhyun yaa 🤔🤔🤔
    Kak Irish fighting yaa.. See you sunday..
    Saranghaeyo😘😘

  12. Haduh ngga ngebayangin kalo aku jadi baekhun…ibaratnya lagi ngomong sama cermin…semua kata2 baekhyun bisa di kembaliin sama si invisible black….skak mat jafi diem ga bisa nhebales omongannya si invisible black

  13. Cieeee yang kangennn… udah biada mah kak dikangenin 🙂 ahhh eee lahhh sok kpedean aku nya.

    yg terakhir itu spoiler kah kak?? Angin amginnya baekhyun-seunghwan mw putus ya???

    Ohhh ya, aku gak notif sama sekali klw Liv masuk ke Wendy. Itu uhaww bnget, serasa tertipu akunya.

    Ya udah deh panjang banget. Keep Ur spirit kak. See u soon♡♡

  14. Oohh tidak!!! Lebih baik hidupkan invisible black kemudian jadiin rekan kerjanya baekhyun. Jgn buat invisble black patah hati. Sakit banget tahu patah hati tu. Oohh njiirrr aku comment yg gz jelas baget. Maklum aja lh. Semangat kak lanjutin ff ini. Di tunggu hari minggu.

  15. Gemes sama debatnya baek-black
    Dan johnny kasian lah ya cintanya bertepuk sebelah tangan. Udah mah baek udah sadar lagi
    Trus itu jiho harus menang lah ya biar keluar dari WW
    Jadikan jiho bahagia dong kasian

  16. Baekhyun harus bisa dong ngebunuh Black Radiant. Gatega kalo harus baca si Jiho terbangun dengan potongan2 tubuh terpisah ‘lagi’. Kasian😭

    Itu Invisible ama Baekhyun jadiin kembaran ajalah, keknya seru😂 Tapi suka Couple Jiho-Baekhyun atau Jiho-Invisible, dua2nya suka. Yang penting Jiho dapet salah satunya. Tapi jangan ada yang tewas yak diantara mereka bertiga, please😅

  17. OMG liv..nyariin sehun..sehunnya dah game over. wkwk…
    btw…plisssss pake banget si seungwan sama johny aja..ya..ya..ya..
    trus baek-black itu bakalan gimana ya ya..lucu kali ya berdebat sama bayangan sendiri..haha..
    penasaran siapa new hero yg baekhyun buat tadi…
    hmmm si genius byun mah bisa ngebuat apa aja ya…
    ok deh aku tunggu next levelnya ya…
    minggu kan ya update lagi…
    semangat buatmu.. dan semoga deadline mu cepet kelar semua..biar one and only bisa lanjut juga..hihihi..
    bye irish…

  18. Perdebatan Baek-Black itu kog menggemaskan sih..😂😂 aku bayanginnya senyum-senyum sendiri /kiyowo😃

    Nah loh gmna ceritanya tuh si Liv tiba-tiba masuk di benak wendi…???

  19. Gak tau kenapa aku bayangin si Invisible waktu songong ke baekhyun tu keren banget. Seakan dia berkata “lo emang yang nyiptain gue. Tp disini gue yg berkuasa” #gak
    Iiih apaan sih. Aku mulai nglantur kak, bayangin2 cara mereka ngomong 😂😂😂😂
    Udah kak johny sama seunghwan aja biar jiho bisa sama baekhyun 😆😁😁😁
    Horeeee

  20. Aku suka duet nya baek-black disini mereka debat aku yg baca malah senyum senyum 😁
    “Oh, Jiho mungkin belum mengetahui status Somi yang merupakan seorang NPC juga di sini. Hanya Liv yang tahu, karena Liv mengakses benak salah seorang NPC secara otomatis dia juga mengetahui siapa saja NPC yang ada di dalam permainan ini.”
    Bukannya sebelum level flashback udah ketauan ya somi itu npc bareng sama invisible black 🤔 apa liv yg blm bisa baca semua yg ada di wendy,,, ehh tapi yuta juga bukannya udah ketemu sama jiho di eden nirvana waktu dia sadar setelah game over terus di kerubunin sama para NPC? Apa jiho lupa saking sedih nya black pergi? 😏

  21. Irishkuuuu cintakuuu sayangkuuuuu ‘plak’
    Kamu tahu gaaaaa gmna aku bgn tgh malam krn mmpi bruk n brakhir buka hp n trnyataaaaa drimu apdet???? Seketika q bersyukur a mmpi buruk wkakakakakakakka
    Oh no…jgn bunuh black plisss…ga cm black yg ptah hti aku jugaaaa huaaaaaaaa..hatiq brasa diremas2 baca dr awal smp akhir..bgian black snyum seolah ikhlas klo ntr dia dead pas memoriny d ambl cabe yg plg meremat hati jiwa ragaaa huaaaaaa…..hiks hiks…
    Gpp rish ship aja mereka brdua aku dukung kok..jd klo black mati msh ada cabe bahahahahahahahaha..
    Ahhhh rish…neo….jjang!!!!!!!!!!:*
    Tak sabar pang nunggu mingguuuuu

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s