[EXOFFI FREELANCE] Take You Home [Third]

TAKE YOU HOME (Third)

Sháo Xī

Chaptered

Romance, Married life, Drama, Angst

PG-15

Byun Baekhyun [EXO] x Go A Young [OC]

Park Chanyeol [EXO]

©

Summary:

Tujuanku bersamanya hanya ada satu: Demi wanita nomor satu dalam hidupku

Disclaimer:

Cerita ini murni karya saya sendiri. Beberapa adegan mungkin terinspirasi dari buku maupun film yang pernah saya baca dan tonton. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan kehidupan asli tokoh. Tinggalkan jejak karena jejak adalah vitamin penulis ☺

©

.

.

.

Apakah benang merah di kelingkingku terhubung dengan kelingkingnya?

.

.

    .

Layar laptop itu sama sekali tak berubah. Hanya menampilkan gerakan monoton sebuah kursor dengan latar belakang putih yang menyertainya. Nyatanya, sang empunya hanya diam memandangi laptopnya. Pandangannya mungkin tampak serius seperti mengamati tugas fisika, namun percayalah bahwa ia hanya melamun.

Dia Go A Young, seorang editor junior yang baru masuk setahun yang lalu setelah sempat bekerja di stasiun televisi―mengetikkan naskah yang harus dibaca reporter―setelah akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia fiksi yang selalu membuatnya terbuai. A Young memangku dagunya dengan sebelah tangan, sementara tangannya yang lain mengetuk-ngetuk meja dengan nada monoton yang sama seperti sepuluh menit yang lalu. Tiba-tiba, gadis itu menghela nafas lalu menggelengkan kepalanya sedikit sebelum kembali ke mode semulanya.

“Tidak mungkin,” gumam A Young pelan. “Setelah sebelas tahun… itu sama sekali tak mungkin. Tak mungkin kalau itu Baekhyun Sunbae,”

Ah, ternyata itu yang sedari tadi ia pikirkan. Tentang perjodohan yang dikatakan orang tuanya―sang calon yang merupakan CEO sebuah perusahaan―tapi nyatanya adalah sang kakak kelas. A Young tak habis pikir bahwa ternyata hal ini ada, ketika kau memiliki seorang kenalan dan lama tak berjumpa dengannya lalu kembali dipertemukan dalam sebuah perjodohan―seperti di novel yang sering ia baca. Tapi ia sama sekali tak punya ide bahwa itu Baekhyun Sunbae.

Baiklah, apa itu masalah?

Tentu saja masalah ketika kau tahu fakta bahwa laki-laki yang tampak mungil itu adalah cinta pertama Go A Young. Gadis itu menyukainya sejak pertemuan pertama mereka di lapangan, ketika sang kakak kelas mengusir semua anak yang mengganggu A Young. Entah karena ia kakak kelas atau karena ia pintar sehingga disegani, semua anak nakal itu langsung menuruti Baekhyun ketika semua perkataannya keluar. Dan saat laki-laki itu bertanya “apa kau baik-baik saja” lalu tersenyum dengan sinar matanya yang menakjubkan, A Young langsung menetapkan bahwa kakak kelasnya itu adalah cinta pertamanya yang masih berlaku sampai sekarang.

Dan ketika sebelas tahun lamanya ia tak pernah mendengar kabar tentangnya, mereka dipertemukan dalam sebuah perjodohan. Apa itu masuk akal? Bukankah hal seperti ini hanya terjadi di dalam novel saja? Yang paling membuat A Young bingung adalah fakta bahwa orang tua mereka saling mengenal. Bukan, bukan, perjodohan ini bukan seperti “membeli kucing dalam karung”. Orang tua mereka memang saling mengenal dan A Young baru tahu akan hal itu. Hhh… dunia ini memang sempit, bukan?

A Young melepas topangannya lalu melirik sedikit jam bentuk jagung di meja kerjanya. Saat menyadari jarum di sana menunjuk angka berapa, mata bulatnya membesar.

“Astaga, sudah jam segini?!”

A Young langsung membereskan semua pekerjaannya lalu menyandang tasnya dengan terburu-buru. Di setiap langkahnya, ia menunduk memberi salam pada semua seniornya lalu berlari turun ke loby. Ini sudah jam sebelas dan ia baru ingat jika Sunbae nya itu meminta mereka untuk bertemu. Ah… Go A Young, bagaimana bisa kau lupa?

.

.

“Kau mau ke mana?”

Kepala Baekhyun berputar saat ia mendengar suara berat bernada bertanya di belakangnya. Saat menyadari siapa di belakangnya, Baekhyun mendecakkan lidah lalu kembali mengancingkan kemejanya.

“Bisa tidak bunyikan belnya sebelum kau masuk?” tanya Baekhyun kesal.

Orang itu―Park Chanyeol―terkekeh. Ia merajut langkahnya makin dalam lalu memposisikan duduknya di atas meja kaca berisikan jam, pin, dan koleksi dasi milik Baekhyun. “Aku sudah membunyikannya dua kali tapi tak ada jawaban dari sana. Dan salahmu sendiri membuat kode yang terlalu gampang.”

“0000 itu bukanlah kode yang gampang,” kilah Baekhyun yang membuat Chanyeol mau tak mau tertawa. Si hacker saat ia zaman SMA itu tak habis pikir dengan cara pikir saudaranya itu.

“Kau mau kemana? Aku mencarimu tadi di kantor tapi kau tak ada. Ada hal yang harus aku bicarakan denganmu,” kata Chanyeol sambil menatap serius Baekhyun.

Baekhyun melirik sedikit lalu kembali fokus pada dasinya. “Mau membicarakan apa? Tumben-tumbennya. Biasanya kalau kau datang ke sini, kau hanya menghabiskan isi kulkasku.”

Chanyeol mengibaskan tangannya. “Sudah kulakukan tadi. Tapi… sepertinya kau sibuk, ya?”

“Aku hanya ingin bertemu seseorang.”

Alis Chanyeol melejit naik. “Siapa?”

Baekhyun menghela nafas sedikit. “Orang yang dijodohkan denganku.”

Ada jeda sebentar sebelum Chanyeol menyahut dan terperangah. “Waw,” ia menggelengkan kepalanya sedikit. “Jadi kau sudah menerima takdirmu?”

Baekhyun menatap pantulan dirinya yang sekarang sudah terbalut jas biru dongker. Ia menaikkan sudut bibirnya sedikit lalu berpaling menatap Chanyeol. “Kita lihat sejauh mana aku dan dia bertahan.”

.

.

A Young menatap kedua tangannya yang menggenggam segelas kopi hangat dan merasakan panas yang menjalari tangannya sampai ke kedua pipinya. Ia menyeruput sejenak kopinya sebelum memindahkan atensinya ke arah orang yang baru saja duduk di hadapannya. Baekhyun balas menatapnya sebelum akhirnya mendorong sepiring strawberry cheese cake ke hadapan A Young. Gadis itu mengangkat alisnya yang disambut senyum simpul sempurna milik Baekhyun.

“Kudengar kau suka itu,” kata Baekhyun, seolah-olah menjawab rasa penasaran A Young.

“Ah, Sunbae, kau tak perlu repot-repot untuk―”

“Sama sekali tak repot,” potong Baekhyun.

A Young diam sejenak sebelum akhirnya menunduk sedikit. “Terima kasih banyak, Sunbae.”

Keheningan kembali mengambil alih. Untuk menghilangkan rasa canggungnya, A Young memilih untuk meminum kembali kopinya sembari menatap sedikit Sunbae nya itu. Baekhyun sendiri juga memilih untuk meminum kopinya dan melempar atensinya ke pemandangan di luar. Diam-diam, A Young mengulum senyum. Walau sudah sebelas tahun berlalu, entah kenapa lelaki bermarga Byun dengan rambut sehitam arang itu masih tetap menarik hatinya. A Young bisa melihat laki-laki itu tumbuh dengan baik, terbukti dari dirinya yang tampak makin berkharisma dan menawan. Meskipun ia memiliki tubuh yang sedikit mungil dan jari-jari indah yang panjang, tapi sinar mata, senyuman, dan tawanya sungguh menakjubkan. Tak terhitung berapa kali A Young sesak nafas sesaat ketika diam-diam dulu ia mengamati laki-laki ini dari kejauhan hanya karena mendengar tawanya. Sekarang anak jenius itu sudah menjadi seorang pengusaha yang membuat A Young bersyukur bahwa selama ini, laki-laki itu baik-baik saja.

Saat ini, mereka berdua tengah berada di dalam sebuah kafe kecil hangat, tak jauh dari apartemen A Young. Tidak, tidak, mereka bukan janjian di sini. Tadi, mereka bertemu di depan sebuah rumah sakit. Awalnya A Young pikir mereka akan makan di sebuah restoran yang baru buka di depan rumah sakit. Namun, ketika laki-laki itu memilih merajut langkahnya ke dalam rumah sakit, A Young sedikit bingung. Untuk apa mereka kemari? Apa ingin menemui teman kakak kelasnya itu? Namun ternyata, orang yang ditemui bukanlah orang yang akan ada dalam pikiran A Young. Dia adalah ibunya Baekhyun dan A Young merasa bodoh saat itu, apalagi ia tak mengenali nama yang dipajang di depan pintu. Tapi di luar dugaan, sambutan wanita itu sungguhlah ramah meskipun A Young bisa melihat betapa banyak tenaga yang harus wanita itu keluarkan bahkan hanya untuk tersenyum.

“Sunbae,” panggil A Young.

Merasa dipanggil, Baekhyun melempar pandangannya dari orang-orang yang berlalu lalang di luar ke wajah ragu-ragu A Young. “Ada apa?”

A Young menggigit bibirnya sedikit sambil meremas kedua tangannya yang saling menggenggam cangkir kopi. “Aku minta maaf karena tak bisa tahu nama Ibu Sunbae dari awal.”

Baekhyun mengangkat sedikit alisnya lalu tersenyum menenangkan. “Sudah kukatakan padamu bahwa itu sama sekali bukan masalah. Jangan merasa terbebani karena itu.”

A Young mengangguk sedikit sambil menampilkan senyumnya. “Terima kasih karena Sunbae mau mengajakku ke sana.”

“Akan lebih baik jika kau kenal ibuku lebih dulu,” jawab Baekhyun. Ia diam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan. “Kapan-kapan, pertemukan aku dengan orang tuamu.”

Mata bulat A Young sedikit membesar. Tunggu, apa katanya tadi? Pertemukan dengan orang tuanya? “A… apa?”

“Aku juga perlu mengenal orang tuamu, kan? Katakan saja padaku kapan mereka bisa meluangkan waktunya maka aku akan datang, oke?”

A Young meneliti wajah laki-laki di hadapannya, berusaha mencari tahu apakah nantinya wajah ini akan tertawa lalu berkata bercanda atau… entahlah, A Young bahkan tak tahu harus berpikir apa.

“Sunbae… kau serius tentang ini?”

“Serius tentang apa?”

A Young menelan salivanya gugup. “Perjodohan ini… pernikahan… kau serius? Maksudku, jika kau mau menolak―”

“Kau tak ingin menikah denganku, A Young-ssi?”

“Bukan! Bukan seperti itu! Aku…” A Young menggigit bibirnya saat maniknya menatap wajah terkejut sang kakak kelas. Demi apapun, bisakah A Young berteriak bahwa menikah dengan laki-laki di hadapannya ini adalah harapan yang sedari dulu selalu ia panjatkan ketika mau tidur sejak sebelas tahun yang lalu? “Aku… aku rasa, Sunbae bisa mendapatkan orang yang lebih baik dari aku, makanya―”

“Aku percaya ibuku,” potong Baekhyun. “Jadi aku percaya saat ia menjodohkanku denganmu. Aku tahu kita baru resmi berkenalan kemarin, bahkan kita masih buta tentang satu sama lain, tapi…” Baekhyun menatap iris gelap gadis di depannya dengan serius lalu mengangkat sudut bibirnya, menggambarkan senyum tipis menenangkan. “Cinta ada karena biasa, kan?”

.

.

Baekhyun melambaikan tangannya untuk yang terakhir kali pada gadis yang sudah hilang di depannya. Ia masih bertahan di tempat sampai ia bisa melihat ruangan yang awalnya gelap menjadi terang―tak lain tak bukan adalah apartemen A Young. Baekhyun bahkan bisa melihat bayangan gadis itu yang lewat lalu menghilang ke dalam sebuah ruangan―ditandai dengan hidupnya lampu ruangan itu. Lelaki bermarga Byun itu menghela nafas sedikit, namun masih enggan untuk berpindah posisi, setidaknya ke dalam mobilnya yang lebih hangat.

Baekhyun baru saja mengantarkan A Young pulang, setelah sang gadis bersikukuh tak ingin diantar pulang karena apartemennya sungguh dekat dari restoran tempat mereka menghindari dingin sesaat. Namun sebagai laki-laki yang baik, terutama karena ia yang meminta gadis itu untuk bertemu, Baekhyun juga bersikukuh untuk mengantarnya yang akhirnya dimenangkan oleh Baekhyun.

Laki-laki dengan manik gelap itu memandangi sepatunya, sedikit teringat akan berbagai ekspresi yang gadis itu tunjukkan. Dari penilaiannya, ia bisa mengambil kesimpulan bahwa Go A Young adalah orang yang baik. Terlihat dari sinar matanya yang selalu berbinar, dirinya yang senang mengucapkan terima kasih dan maaf, juga dia yang… bisa membuat ibunya tertawa bahagia. Tadi, saat di rumah sakit, Baekhyun yang awalnya izin keluar malah diam-diam memperhatikan sang gadis dengan ibunya. Mereka bicara sesuatu lalu ibunya tertawa lebar. Tawa yang selama ini jarang Baekhyun nikmati, bahkan ia sudah lupa betapa cantik ibunya ketika dia tertawa. Gadis itu bercerita dengan ekspresif, menggerakkan tangannya untuk menggambarkan apa yang ia katakan, sementara sang Ibu tetap tertawa dengan rajutan di tangan. Baekhyun tahu apabila ia menuruti apa yang dikatakan ibunya, ia yakin ibunya akan bahagia. Namun… bisakah kau memaksakan sesuatu padahal hatimu menolak?

Lagi, Baekhyun menghela nafasnya, menimbulkan uap putih yang keluar lalu hilang kemudian. Ia menaikkan sudut bibirnya sedikit, menertawakan dalam hati segala ucapan yang ia lontarkan pada gadis manis tadi.

“Cinta ada karena biasa?” gumamnya sendiri lalu tertawa pelan, menyadari kebodohannya. “Bicara apa kau, Byun Baekhyun.”

.

.

To be continue

14 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Take You Home [Third]”

  1. Baek, aing ga mau tau ya. Kalo sampe lu menyakiti wanita aing pesen santet online juga nih. Hahahaha. Buat author semangat ya lanjutin ceritanya. Tapi…. jangan bikin ceweknya sedih dong..kan aing juga jadi ikut merasakan (lho? ) wkwkwkw

    1. Waduhhh si baek jd sasaran santet online nih wkwkwk jgn jahat jahat dong sama baebaek 😂😂 makasih atas semangatnya yaaa dan thanks banget udah mau mampir di sini 😚😚😚

  2. Pengen banget baca sampe chapter2 selanjutnya. Tapi pengingat penulisnya suka bikin f angst dan ini juga genre angs aku merasa tidak siap huhu 😭😭. Aku ga tega sama tokoh utama ceweknya dan aku ga siap liat baek nyakitin karakter ceweknya kayak di khayalan chapter 2 😣😣. Galau mode on wkwkwk

    1. Waduh, bingung nih mau jawab apa wkwkwk. Tapi… aku senang karena kamu mau mampir ke sini, apalagi udah ninggalin jejak. Thanks so so much 😚😚😚

  3. Iyaaa bicara apa km be???dasar cabe internasional mw geser predikat jadi cabe playboy internasionalkah?ckckckckckckckckck
    Cabe yg sekarang bukan cabe yang dulu hahahahhahahha *ngomongapasihaku*
    Ahh aku selaluuuuu bahgiaaaaaaa kalo main castny baekie tercintaaaa..apalagi klo kena karakter yg kayak begini makin jatuh cintaaaaaaaaaaaaaaa 😍😍
    Fighting thor!!!ditunggu next chapternyaaaa 😉

    1. Waduh, predikat baru nih si baebaek. Jadi bingung mau kasih selamat apa ga 😂😂😂 makasih kamu udah mau mampir dan tbx banget semangatnya 😆😆😆

Tinggalkan Balasan ke Lizzie asylum Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s