[EXOFFI FREELANCE] Black Enchanted (Chapter 9)

enchanted-copy

BLACK ENCHANTED CHAPTER 9  (BLACKMOON)

Author                  : Rhifaery

FB                           : Rhifa Chiripa Ayunda

IG                           : @chiripachiripi

Blog                       : rhifaeryworld.wordpress.com

Main Cast            : Airin (OC), Sehun, Kai, Chanyeol, D.O, Baekhyun and Suho

Genre                   :Fantasy, Romance

Rating                   : 17+

Author Note      : Inspired by Diabolix Lovers

Summary             : Airin yang tak pernah tahu asal-usul keluarganya, tiba-tiba dikirim pihak gereja ke sebuah rumah berisikan enam pria menawan: Sehun, Kai, Chanyeol, D.O, Baekhyun dan Suho yang ternyata masih mempunyai hubungan darah dengannya. Namun kenyataan mengatakan bahwa mereka adalah vampir yang haus akan darah manusia. Menjadi satu-satunya seorang mortal mampukah Airin membebaskan diri tanpa pernah terikat dengan pesona mereka?

Aku sarankan kalian membaca part sebelumnya biar nggak bingung sama alurnya…

Semua orang hidup untuk sebuah alasan.

                “Bunuh dia!!!” Suara itu menggelegar menghancurkan apapun yang ada di depan secepat manik mata memandang. Hentakan keras disusul dari pecahnya lampu kristal tanpa tersentuh tangan. Dalam sekejap ruangan itu hancur. Menampilkan puing-puing dari benda yang dilempar secara sengaja.  Kris tak pernah semarah ini. Dari seratus dekake tak ada yang benar-benar menyulut emosinya separah ini. Kejayaan ini miliknya. Abadi ditangannya tanpa boleh dirusak oleh gadis baru itu.

                Luhan, salah satu tetua yang lahir beberapa tahun lebih dulu darinya maju mendekat. Sebelumnya tidak ada yang seberani ini pada Kris, tidak Tao ataupun ketiga rekannya, Xiumin, Chen dan Lay yang hanya berjaga di balik dinding.

                 “Itu mustahil. Dia ada di tengah-tengah Klettern sekarang.” Ujarnya perlahan. Dalam keadaan seperti ini, Kris bisa saja hilang kendali dan membunuh siapapun yang mengubrisnya.

                “Kalau begitu bunuh mereka semua!”

                Luhan menggeleng, “Itu akan melanggar kesepakatan.”

                “Brengsek, jangan menentangku!” Tangan kekar itu tertuju langsung ke lehernya. Menghujam urat-uratnya yang bisa saja membuat leher itu patah. Namun Luhan tak bergeming. Sorot matanya menatap Kris balik. Tak peduli jika Kris membunuhnya sekarang karena keputusannya untuk mempertahankan sebuah prinsip.

                Ia tahu bahwa cepat atau lambat Kris pun akhirnya melepaskan cengkraman itu. Dia bisa membunuh semuanya namun tidak dengan Luhan. Pria itu memegang peranan penting bagi keberadaan Klan Magvetto. “Tak akan kubiarkan semua berkhir seperti ini.” Kali ini dia berkata dengan sedikit menggeram.

                “Tak ada yang benar-benar abadi di dunia ini.” Jawabnya terkesan mengesalkan untuk Kris. Bukankah seorang pengawal harusnya menyetujui apa yang dikatakan oleh tuannya. Tapi berbeda dengan Luhan. Sosok yang mengabdikan dirinya beratus-ratus tahun bahkan saat dirinya belum ada di dunia. Peran Luhan sangat penting sebagai penjaga ataupun orang kepercayaannya. Sayangnya sulit baginya untuk mengabdikan diri sepenuhnya pada Kris. Sebuah keterikatan prinsip dengan pihak Klettern yang selama ini dipegang bisa saja membinasakannya. Itulah yang paling ditakutkan Kris, sekalipun pria itu sudah berjanji beratus kali bahwa dia tak akan membunuhnya.

                Dengan satu jentikan jari, Luhan membuat puing-puing lampu kristal di lantai menyatu kembali dan bergelantung dalam plaffon. Begitu pun juga barang-barang yang dihancurkan Kriss. Well, sebuah kekuatannya memang berguna disaat seperti ini.

“You must kill them.” Sekali lagi Kris mengutarakan keinginannya pada Luhan. Membunuh Klettern. Tapi sayangnya pria itu selalu menolaknya.

“Aku tidak bisa.” Jawabnya.

“Atau aku yang akan membunuh dengan tanganku sendiri.” Ancamnya tidak main-main. “Kita sudah terlanjur mengingkari kesepakatan jadi sangat mudah jika kita melakukannya untuk yang kedua kalinya bukan?” Kali ini Kris tersenyum samar. Merasa menang atas diri Luhan yang selalu saja mempertahankan eksistensi Klan Klettern.

“Yo’re very abhorrent.” Umpat Luhan dengan pandangan menjijikkan ke arah Kris.

“I don’t care, lebih baik begitu dari pada mengalami kehancuran.” Bantahnya tak terkalahkan. Luhan berdecak lantas memalingkan wajahnya menghadap jendela. Sulit membujuk Kris dalam saat seperti ini kecuali jika dia menuruti perintahnya.

“Aku tidak akan membunuhnya, aku sudah berjanji.”

“Akan kubuat kau mengingkari janji itu.”

“Tidak untuk kali ini, Kris!” Nada bicaranya mulai meninggi.

“Apa sekarang kau jadi dipihak mereka?”

“Aku memang seharusnya di pihak mereka, kau jangan lupa!” Luhan mengingatkan. Membuat tawa kencang tiba-tiba memenuhi ruangan tersebut disusul benda-benda yang dihancurkan Kris untuk kedua kalinya. Entah kenapa pernyataan Luhan kali ini begitu menyakitkan untuknya. Dia ingin mengingkarinya tapi mengapa tiba-tiba pria sialan itu mengingatkan wujud asli jati dirinya.

Kris tentunya tidak lupa bagaimana Luhan ia rekrut. Seseorang yang sebenarnya keturunan Klettern namun terpaksa menghabiskan hidup  bersamanya. Itulah sebabnya mengapa ia begitu menyegani Luhan. Terkadang pada saat bersamaan ia bingung untuk menganggap Luhan sebagai musuh atau sekutu. Seperti yang terjadi pada saat ini. Kepercayaan untuk Luhan nyaris menghilang.

“Jadi apa yang kau inginkan sekarang? Kekuatan, kekuasaan dalam pemerintahan atau justru membunuhku?”Pertanyaan Kris terdengar tolol untuk ia utarakan. Luhan bisa mendapatkan semua itu dengan mudah, tapi kenyatan adalah bahwa pria itu menghabiskan separuh hidup bersamanya. Tak sekalipun Kris menemukan ada tanda keserakahan di matanya, justru tanda keterikatan karena pria itu tidak benar-benar mengabdi untuknya.

“Aku tidak akan membunuh siapapun…”Ucap Luhan nyaris tak terdengar. Perasan dilema menyerangnya saat itu juga. Tidak untuk Magvetto ataupun Klettern. Ia pun sendiri telah lupa dimana kali ini dia berpihak. “Tapi aku mungkin bisa melenyapkan gadis itu untukmu.”

Perkataan Luhan selanjutnya membuat mata Kris jauh lebih berbinar. Secerca senyum dia tunjukkan dengan gigi-gigi taring di setiap sisinya. Walaupun dengan Luhan justru tidak memberikan ekspresi apapun. Mereka mungkin akan melanggar kesepakatan lagi, mengungkung Kletter dalam jangka waktu lama dari kekalahan. Tapi bukankah itu lebih baik dibanding Luhan membunuh saudaranya sendiri?

“Dan izinkan aku mengurus sisanya, tuanku.” Suara Tao mengintrupsi sehingga membuat senyuman itu semakin mengembang bahkan disertai lengkingan keras. Walaupun Tao tidak lebih hebat dari Luhan, untuk urusan kekuatan dia yang utama. Kris hampir merangkul anak bua kesayangannya itu saking senangnya.

“Xiumin, ambilkan kita darah dari wanita tercantik malam ini….” Intrupsinya kepada penjaga yang langsung membawakan tiga gelas kristal berisikan cairan merah kental, sesuai dengan jumlah mereka yang berada di ruangan besar. Baik Tao ataupun Kris sama-sama bersulang merayakan kemenangan. Well, bagi Kris membujuk Luhan untuk menurutinya sudah dianggapnya sebagai keberhasilan mutlak. Pria itu tentu punya pengaruh terhadap mereka para Kletern.

Luhan tak lantas menerima minuman itu bahkan menolaknya bersulang, “akan ada pertempuran besar kalau begitu.” Ucapnya setengah bergumam. Dengan mata setengah terpejam dia membayangkan bahwa sebentar lagi sebuah kehancuran tidak akan dapat terelakkan. Entah untuk Kletrenn ataupun Magvetto. Kematian tidak akan dapat terelakkan. Bahkan yang lebih dikhawatirkan dari semua itu adalah, musnahnya makhluk vampir yang selama ini sudah dijaga dengan sedemikan baiknya oleh Sang Ayah.

“Bersiap-siaplah, kita akan mengepung kastil mereka secepatnya.”

***

                Pada sebuah ruangan, gelap dan pengap, -atau memang sengaja dibuat sedemikian itu. Sebelumnya selama 30 dekake tidak ada yang menggunakannya. Letaknya  di bawah tanah, kepemilikan Tuan Kletern yang dulunya berfungsi sebagai ruang pribadinya. Untuk pertama kalinya mereka membuka ruang yang tadinya tertutup bagi siapapun dan menggunakannya untuk sandera.

                Seseorang yang sejam tadi sudah setengah sadar. Kedua tangannya diikat menggunakan rantai besi di ujung ruangan. Bajunya terkoyak parah dan sulit dipercaya dia dalam keadaan lemah sekarang. Geraman keras muncul dari mulut dengan gigi yang bergemelatuk tajam. Matanya berubah pekat memancarkan kemarahan seolah ingin memangsa siapapun dihapadannya.

                Bahkan hewan pun akan marah jika betinanya diambil.

                Bagaimana mungkin mereka mengambil wanitanya sedangkan ia sendiri berada dalam posisi tak berdaya. Sebuah tipuan atau bahkan konspirasi tak akan bisa dia terima jika itu berhubungan dengan Airin, gadisnya. Bahkan seujung rambut pun dari milik Airin tidak akan pria itu terima. Airin miliknya. Gadis itu pun sudah semuanya untuknya, lantas mengapa dia masih tak bisa berbuat apa-apa, terlebih dengan rantai perak yang mengikat tubuhnya.

                Pintu setengah terbuka saat Kai menggeram untuk kesekian kalinya. Dilihatnya sosok berjubah hitam berangsur-angsur mendekat ke arahnya. Jika sadar kondisinya tidak seperti ini, pastilah Kai memilih mencengkram dan mencabik-cabik sosok itu. Dengan senyum menyeringai dia menyapanya seolah melecehkannya dengan segala kekuatan yang dimiliki.

                “Maaf telah membuatmu seperti ini?” Sang pentolan Klettern berujar terlalu lembut lantas duduk dihadapannya. Jubah yang dipakainya mengingatkan pada kejadian yang dilakukan turun temurun. Itu berarti sebuah ritual besar akan dilakukan dan hanya tinggal sedikit waktu yang Kai  miliki untuk membatalkannya.

                “Dimana dia?” Dengan sorot mata tajam, Kai menanyakan bagaimana keadaan Airin.

                “Di tempat seharusnya.” Jawaban Sehun memberi prespektif  baru. Apa Airin baru saja menerima syarat sekarang? Mengikuti ritual guna menyelamatkan dirinya adalah tindakan yang bodoh. Benar-benar bodoh.

                “Kau memaksanya bukan?”

                Sehun tertawa agak keras. Bertahun-tahun bersama, Sehun tidak pernah menduga bahwa pikiran Kai akan sesempit ini, “Kau tahu betul peraturannya, aku tidak bisa memaksa seorang gadis kecuali dia benar-benar melakukannya secara sukarela.”

                Benar. Berahun-tahun memang begitulah peraturannya. Dan bertahun-tahun pula mereka gagal menemukan Eve yang sejati, hingga membuat para gadis itu mati sia-sia. Kai takut. Takut sekali jika Airin akan bernasib sama dengan gadis-gadis itu. Sekalipun Kai dan mereka pun sangat yakin bahwa Airin benar Eve yang mereka cari.

                “Dia milikku, kau tahu.”

                “Tapi dia menginginkanku.”

                Jawaban polos Kai membuat Sehun tertawa pelan. “Ya, itulah masalahnya.” Dia menyentuh rantai perak itu seakan menimbang-nimbang apakah dia akan melepaskannya atau tidak. “Tapi bukankah aku telah melakukan yang terbaik dengan tidak membunuh salah satu dari kalian?”

                Kai menatap Sehun lama. Bertahun-tahun dia mengenalnya Kai pun mengetahui bahwa sosok di depannya itu tidak membunuh. Tidak bisa dan tidak akan pernah. Kalaupun Sehun benar-benar membunuh mungkin Klettern sudah menemukan kejayaannya sejak dulu. Karena Kris akan dengan cepat mereka musnahkan.

                “What do you mind?” Kai bertanya.

                “Hanya mencari-cari kelebihanmu hingga dia begitu tertarik padamu.” Padahal Sehun berkata sangat tenang. Sama sekali tidak berusaha menarik emosi pria ini. Tapi apa yang Kai rasakan justru sebaliknya. Ingin cepat-cepat menyingkir dari hadapannya dan bertemu Airin.

                “Dimana dia?” Tanyanya sekali lagi.

                “Kau akan bertemu dengannya nanti.”

                “Aku ingin sekarang!!” Kai setengah berteriak tapi dengan sangat tenang Sehun malah menyerahkan jubah untuk Kai. Jubah kebesaran Klan Kletern yang akan mereka paka di saat-saat tertentu. Kai memandang di arah jendela. Bulan bersinar sangat terang saat itu. Hampir tertutup oleh awan. Secepat inikah waktunya?

                Dan pertanyaan hatinya disambut ajakan Sehun untuk segera melepaskan ikatan yang memenuhi tubuhnya. Menyerahkan jubah untuk dia pakai. Andaikan saja keadaannya tidak segeming ini, pastinya Sehun sudah habis dihajarnya. Namun pria itu justru memilih mengikuti ke mana Sehun pergi. Melewati lorong-lorong sempit hingga akhirnya sampai di tempat terbuka layaknya tanah lapang.

                Obor-obor menyalah di sekelilingnya dengan satu tempat yang menyerupai peti mati di tengahnya. Terdapat pula Suho, Baekhyun, Chanyeol dan D.O yang berjejer menggunakan pakaian sama, seolah menunggu kehadiran Kai. Derap langkah menyita perhatiannya. Airin sedang berjalan ke arah mereka. Layaknya seorang lady, dia memakai gaun putih dengan rambut pirang yang disanggul ke atas. Senada dengan warna gaunnya, digenggamnya bunga baby breathe yang putih bersih sebagai lambang cinta tiada akhir. Begitu cantik gadisnya itu, sehingga membuat Kai tak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak berlari ke arahnya dan memeluknya erat.

                “Aku merindukanmu….” Bisik Kai tulus. Entah mengapa matanya tiba-tiba berair mengingat apa saja yang terjadi pada gadis itu selama dia tak di sampingnya. Dia memeriksa seluruh yang ada pada Airin, siapa tau mereka berlima menyiksanya atau membuatnya kesakitan.  Merasa lucu, Airin menepis pelan tangan Kai dan ganti dengan mengenggamnya. Seolah tak pernah terjadi apa-apa. Padahal perubahan besar akan terjadi setelahnya. Tak seharusnya gadis itu merasa tenang.

                “Dengar, kau tidak harus melakukannya untukku, biarkan mereka membawaku dan kau jangan pernah melakukan hal yang tak kau suka.” Kai merengkuh kedua wajahnya menatap gadis itu lekat.

                “Aku tidak pernah suka jika itu menjauhkanmu denganku, Kai.” Ucapnya dengan tangannya yang  terpaut di leher Kai. Mengelus sekilas meyakinkan diri betapa berharganya pria itu bagi kehidupannya. “Aku mencintaimu?”

                Dan Kai langsung membalasnya dengan ciuman. Disaksikan kelima pria di hadapannya, tanpa rasa risih Kai meraih tengkuk gadis itu lebih dalam. Menahan pinggangnya erat menegaskan bahwa Airin hanyalah miliknya. Bahkan Sehun hanya bisa memalingkan wajah melihat perbuatan Kai. Tidakkah kesalahan besar membiarkan mereka tetap hidup?

                “Akan ada perubahan kecil dari kita dan kuharap kau tak akan pernah menyesal, I’ll be there for you.” Ucap Kai menenangkan.

                “I know,” Airin tersenyum samar. Sangat mudah jika Kai yang mengatakannya. Karena dia percaya Kai mencintainya dan selalu ada di sampingnya. “Aku melakukannya untuk kita.”

                Lalu terdengar deheman salah satu dari mereka. Mengatakan bahwa mereka tidak memiliki banyak waktu lagi untuk tenggelam dalam romansa percintaan. Keduanya dihadapkan pada bulan yang separuhnya telah tertutup awan. Blackmoon akan segera tiba.

                “Kau tidak bisa menundanya lebih lama. Lakukanlah Kai, mungkin dia menginkan kau yang melakukannya.” Suara Suho mengintrupsi dengan nada yang setengah berbisik tapi terlampau jelas didengar oleh Airin.

                “Aku memang ingin dia yang melakukannya.” Airin setuju. Nadanya tertuju pada Sehun yang terdiam tanpa ekspresi. Seharusnya dialah yang berada diposisi itu sebagai satu-satunya darah murni Klan Klettern yang berhak melakukan perubahan seperti yang dilakukannya pada gadis-gadis sebelum Airin.

                Kai lantas mengangguk, membimbing Airin untuk segera maju ke arah lingkaran yang dikelilingi obor-obor besar. Di tengahnya terdapat singasana yang menyerupai peti mati. Karena sudah tak terhitung berapa kali pencarian ini dilakukan, tempat itu setidaknya sedikit berkarat dan tetap terkesan mewah bagi tahanan eksekusi. Beribu-ribu doa dia panjatkan semoga tempat itu membawa Airin pada kebahagian walaupun dengan kematian singkatnya.

                “Kau siap?” Kai bertanya dan disambut anggukan pelan darinya. “Aku berharap besar kali ini.  Jika bukan kau orangnya sanggupkah kau menerima segala konsekuensi terhadap apa yang kau lakukan, kau akan musnah dan  menghilang bagai kedipan mata.”

                Pertanyaan yang lebih mirip ikrar dan memang begitulah peraturannya. Sebelum menerima konsekuensi, Airin harus menyatakan ketersediaannya dulu di hadapan seluruh klan Kletern agar nantinya tidak ada pertumpahan darah.

                “Aku siap.” Ucapnya hampir tak terdengar. Dia berbaring dan melipat tangannya, seolah-olah menunjukkan bahwa dia siap mati. Matanya perlahan terpejam, disaksikan seluruh anggota Klan Keletern.

                “Kau masih berkesempatan merubah keputusanmu sayang.” Ucapnya memang tidak sesuai peraturan. Tapi bagi Kai kebahagiaan gadis itu adalah segala-galanya. Dia toh bisa membawanya kabur saat ini juga. Mumpung kekuatannya berada pada tahap normal.

                “Jangan mengubah keadaan Kai.” Mata Airin sempat terbuka dan tertutup kembali saat Kai memberikan ciuman singkatnya. Sungguh, dia tidak rela jika harus benar-benar kehilangan gadis itu. Baru saja mereka berbahagia dengan status hubungan mereka. Tidak mungkin jika harus berpisah secepat ini. “Lakukanlah….”

                Lama sekali Kai termenung dan setegang ini. Ia memandang ke arah lima saudaranya yang masing-masing memberikan anggukan kecil. Kecuali Sehun yang memilih untuk memalingkan muka. Airin sudah berada di posisi itu sejak lama, membuat keadaan seperti seolah-olah dia telah mati pun Kai belum sempat melakukan apapun. Ini adalah saat-saat tersulit melebihi kematiannya sendiri. Bahkan pria itu telah bertekat akan menyusul Airin seandainya pun gadis itu bukanlah seorang Eve.

                Tapi bukankah itu hal harus dipastikan lebih dulu?

                Begitu bulan tertutup awan secara penuh, maka itulah pertanda Blackmoon akan muncul. Kai beringsut menunduk memajukan wajahnya pada leher gadis itu.  Dipaksanya Sehun untuk mengalihkan pandangan dari keduanya karena mungkin tak sanggup membayangkannya lagi jika prediksinya keliru

                . “Kumohon, semoga Airin orangnya.

***

                Hanya dengan satu gigitan, racun itu berhasil lolos memasuki tubuhnya. Larut dalam setiap inti sel darah, membakarnya hingga menimbulkan sensasi panas membara.  Seluruh organ tubuhnya seakan lebur menjadi abu. Sakit – sakit – sakit. Airin tak henti-hentinya menggerang menghadapi rasa sakit yang teramat sangat dari pada kematiannya. Seolah nyawa dicabut secara paksa dan diletakkan kembali ke tubuhnya. Begitulah seterusnya.

                Detik berikutnya lantas membuatnya terlempar ke dasar neraka. Panas itu tak henti-hentinya membakarnya. Kaki tangannya kaku tak dapat digerakkan. Bahkan hanya untuk menjertit, Airin harus mati-matian menahan sakitnya. Sudah sampai mana pengorbanannya saat ini. Sebisa mungkin dia berusaha membuka mata, namun yang ditemukan hanyalah kekosongan. Hanya ada ruang berwarna putih.

                “Ka- Ka- Kai….- Ucapnya merintih, “tolonngg…?” Hanya itu yang mampu terucap dibibir kecilnya. Berharap orang itu benar-benar mengetahui kesakitannya walaupun dia tak bisa merasakan apapun lagi termasuk pelukannya. Jika dirinya benar seorang Eve, mengapa rasa sakit ini terus menderanya. Hal yang mungkin sama dirasakan gadis-gadis sebelumnya dalam menempuh kesia-siaan demi mereka berenam.

                Tiba-tiba saja  perasaan takut itu menyerangnya. Lebih parah dari apa yang dia rasakan sekarang. Kesakitanpun tak ada apa-apanya dibanding bayangan kesia-siaan akan pengorbanannya. Karena seberapa hancur dirinya saat ini, api yang membakarnya hingga tanpa sisa. Airin akan tetap menahannya.

                Untuk suatu alasan Airin ingin hidup lebih lama lagi.

***

                Semoga nggak bosen yah baca narasi sebanyak itu. oh iya follow wattpadku yah @rhifaery703

 

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Black Enchanted (Chapter 9)”

  1. Akhirnya up date uga..
    Waah akk penasaran apa benar airin eve..
    Waah sehunn cemburu.. karna bukan dia yg gigit airin..
    Makin penasaran kelanjutannya kak..
    Semangat kak

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s