[EXOFFI FREELANCE] MONSIEUR KIM (Chapter 1)

1504413406011.jpg

Monseur Kim #1

|A story by Angestita Adhikara|

Marriage Life || Comfort || Drama || Romance

PG – 15 || Chaptered

Kim Jun Myeon (Suho EXO) || Cha Hae Ji (OC) || Cha Eun Woo (Astro)

~Cerita ini ditulis untuk menghibur dan tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan asli para tokoh. Alur, tema, dan karakter dalam cerita hasil dari imaginasi penulis. Apabila ada kesamaan tokoh, alur, maupun karakter itu hanya kebetulan.~

  • ●●

151442472149115144246239531514424686314

Ini adalah hari paling berharga bagi gadis biasa seperti Cha Hae Ji. Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Kim Jun Myeon, pemilik Kookmin Bank. Hidupnya akan berubah 180° mulai hari itu. Tidak ada lagi si yatim piatu yang disiksa hidupnya. Tidak ada lagi si tiri yang sering di bully saudara-saudaranya. Tidak ada lagi gadis manis yang akan memberikan kue-kue cantik setiap natal pada pedagang Gurita di Pasar Dongnum, Jeju. Cha Hae Ji, gadis cinderella itu akan hidup serba kecukupan setelah menikah dengan Jun Myeon.

Setelah pernikahannya dengan Jun Myeon yang di selenggarakan di Gereja Yoido Full Gospel wanita bermarga ‘Cha’ itu akan tinggal di Gangnam-gu. Pernikahan yang sayangnya tidak di izinkan media untuk meliput itu berjalan khidmat. Sepasang pengantin berdiri dengan penuh keyakinan di altar sembari bergantian mengucapkan janji pernikahan.

“I Kim Jun Myeon take you Cha Hae Ji, to be my wedded wife. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in health, to love and to cherish ’till death do us part. And hereto I pledge you my faithfulness.”

“I, Cha Hae Ji, take you Kim Jun Myeon, to be my wedded husband. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in health, to love and to cherish ’till death do us part. And hereto I pledge you my faithfulness.”

BMW M6 Coupe milik Jun Myeon melintas di jalanan Gangnam yang padat. Gemerlap lampu bangunan yang mereka lewati dan lampu jalan terlihat indah. Hal itu lah yang membuat Hae Ji sedari tadi tersenyum. Pemandangan ini jarang dia temui di kota tempat dia lahir dan besar.

“Cantik,” bisiknya tanpa dia sadari.

Jun Myeon yang sedari tadi memejamkan mata di sisi Hae Ji terlihat mulai membuka kelopak matanya. Merasa tertarik dengan celetukan wanita cantik yang kini tengah duduk dengan tenang di sisinya. Dia merasa tak perlu menegur tindakan wanita itu dan membiarkan wanita itu bertindak sesuka hatinya. Jun Myeon memilih untuk mengamati Hae Ji secara diam-diam.

“Wah, indahnya.” Celetuknya pelan. Sangat pelan malah. Namun masih mampu di dengar dengan baik oleh telinga Jun Myeon. Tanpa sadar Jun Myeon tersenyum kecil. Terpesona dengan sikap polos Hae Ji. “Senang bisa berada di sini.” Walaupun di ucapkan dengan nada bersyukur ada kesedihan yang tersirat dalam perkataan wanita itu.

“Aku senang mendengarnya.” Kata Jun Myeon tiba-tiba.

Hae Ji menoleh dengan terkejut dia sama sekali tidak menyadari kalau laki-laki itu sudah bangun. Wajah cantiknya menyiratkan rasa bersalah. “Maaf mengganggumu.” Bisiknya menyesal.

Jun Myeon tersenyum dengan lembut, tangan kanannya bergerak untuk mengusap pipi wanita di depannya. “Tidak masalah,” tuturnya lembut. “Menikmati perjalanannya, Nyonya Kim?” tanya Jun Myeon sembari menatap lekat ke dua bola mata milik Hae Ji yang berwarna hitam bening.

Hae Ji mengangguk dengan polos. Bibirnya melengkung dengan sempurna. Terlihat kalau dia sangat menikmati perjalanan pulang ini. “Aku sangat menikmati perjalanan pulang ini.”

Mendengar jawaban itu Jun Myeon tertawa puas. “Kamu akan merasakannya setiap hari.” Tuturnya dengan penuh keyakinan. “Kebahagiaan. Kamu akan merasakan kebahagiaan setiap hari. Aku janji.”

Hae Ji tersenyum mendengar ucapan Jun Myeon, hatinya di lingkupi perasaan suka cita. “Terimakasih.” Ucap wanita itu penuh rasa syukur.

Jun Myeon mengangguk singkat, dia senang melihat binar kebahagiaan terpancar dari mata wanita di depannya. Dia merasa kesepiannya selama lima belas tahun ini perlahan mulai terhapus.

Cha Hae Ji adalah kebahagian yang Tuhan kirimkan pada Jun Myeon.

Hae Ji di buat terperangah ketika melihat rumah megah milik suaminya itu. Rumah bercat gelap itu terlihat sangat indah seperti istana. Jendelanya besar-besar jadi dapat melihat pemandangan di luar secara penuh. Di halaman depannya ada kolam dengan air yang jernih. Pohon-pohon rimbun berjejer melingkari rumah seolah melindungi bangunan itu. Ah, Hae Ji merasa sedang bermimpi.

“I-ni…?”

“Istana kita.”

“Be-be-nar-kah?”

Melihat expresi terpesona Hae Ji, Jun Myeon terkekeh pelan. “Kau akan tinggal di sini mulai sekarang.” Tutur pria itu sembari merangkul bahu Hae Ji sayang.

“Ta-pi, i-ni apakah tidak terlalu berlebihan? Maksudku kita kan hanya tinggal bertiga. Kenapa rumahnya besar sekali?”

“Hae Ji, mulai sekarang kita akan tinggal dengan sebelas orang pembantu. Semua orang itu adalah orang kepercayaan keluarga aku dari dulu dan mereka adalah keluargaku satu-satunya.”

Hae Ji menatap suaminya dengan tatapan bersalah, “Maaf membuatmu tak nyaman.” Bisiknya sembari memeluk tubuh lelaki itu. “Kita akan bahagia bersama-sama di rumah ini. Aku janji.”

Jun Myeon tertawa, “Aku pegang janjimu Nyonya Kim.”

Jun Myeon segera masuk ke dalam kamar mandi setelah Hae Ji selesai mandi. Sementara itu wanita berambut panjang itu terlihat sibuk memandangi kamar tidurnya. Eh, bukan kamar tidurnya saja tetapi kamar tidur mereka. Tempat di mana dia dan Jun Myeon akan tidur bersama mulai malam ini. Mungkin tidak hanya tidur bersama namun bisa lebih dari itu. Ah, mengingat hal itu membuat jantungnya berdebar kencang dan warna pipinya menjadi merah jambu.

Seharusnya dia nggak memikirkan hal itu. Dia kan perempuan. Perempuan kan hanya menerima perlakuan laki-laki. Seharusnya Jun Myeon yang sedang gelisah saat ini. Tapi sebagian dari dirinya terasa gelisah. Maklumlah ini adalah yang pertama baginya. Pertama untuk semua hal berbau sentuhan antara laki-laki dan perempuan.

Terlalu sibuk dengan pikirannya membuat Hae Ji tidak menyadari kedatangan Jun Myeon. Oleh karena itu ketika Jun Myeon menyentuh bahunya, Hae Ji terlonjak kaget.

“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya cowok itu dengan penasaran.

Mendapati pertanyaan tak terduga itu, mulut Hae Ji kelu, mana mungkin dia mengatakan yang sebenarnya kan?

“Aa-it-tu…”

Jun Myeon melihat wanita di depannya dengan pandangan menyelidik, membuat wanita itu salah tingkah dan merona. Melihat reaksi tak terduga itu Jun Myeon dapat menyimpulkan apa yang sedang di pikirkan Hae Jinya.

Laki-laki itu berdehem pelan sebelum memulai pembicaraan. “Hae Ji, jangan takut.” Tutur laki-laki itu dengan suara berat akan gairah. “Aku akan melakukannya pelan-pelan.”

“Ya?!”

“Bercinta. Aku akan melakukannya pelan-pelan.”

Setelah mengatakan itu Jun Myeon segera melahap dengan lembut bibir tipis milik istrinya. Ini mungkin bukan yang pertama untuk laki-laki itu tapi ini adalah yang pertama kali baginya melakukan itu setelah lima belas tahun berlalu.

“May I?”

“Silahkan Mr. Kim.”

Jun Myeon sedang menikmati secangkir teh hangat di ruang keluarga sembari membaca koran yang setiap hari datang ke rumahnya. Kantung matanya sedikit terlihat menandakan bahwa semalam di tidak tidur. Setelah aktivitas malam yang melelahkan itu kantuknya tak bisa membawanya terlelap. Pikirannya melayang-layang memikirkan seseorang.

Sementara itu di luar rumah sebuah mobil Audi R8 V10 berwarna merah terparkir di depan gerbang. Seorang pemuda dengan  kemeja over size yang dibuka semua kancingnya dan celana jean biru, keluar dari pintu kemudi dari wajahnya yang kusut terlihat sekali jika cowok itu tidak dalam kondisi yang baik.

“Dari mana aja kamu?!” tanya sebuah suara ketika cowok itu sedang berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai atas.

“Papa.” Panggil cowok itu cuwek.

“Papa tanya dari mana aja kamu?!” Jun Myeon bertanya sekali lagi. Tapi kali ini nadanya terdengar lebih tegas.

Belum cowok itu membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Papanya, Jun Myeon sudah bertanya lagi. “Mobil siapa yang kamu bawa?!” bentaknya. Jun Myeon menatap anaknya dengan pandangan menyelidik.

Tidak kunjung mendapat jawaban dari putranya Jun Myeon semakin naik pitam. “Denxel, jawab Papa!” kali ini cowok berpiama abu-abu itu sudah tak bisa lagi mengontrol suaranya. Membuat Hae Ji yang baru saja terbangun bergegas keluar kamar.

“Aku habis dari rumah Mama. Nggak ada yang salahkan dari anak yang tidur di rumah Mamanya sendiri?”

“Kamu harusnya bilang sama Papa.” Jun Myeon berkata dengan nada yang sedikit lembut dari tadi. “Terus mobil siapa yang kamu pakek?”

“Papa Sehun belikan mobil itu buat aku kemarin.”

Jun Myeon mendengus pelan, “Kamu yang minta kan?” dari nada yang dia pakai sudah terlihat jelas jika laki-laki satu anak itu mencoba bersabar.

“Ya aku yang minta soalnya papa nggak mampu beliin mobil itu buat aku.” Ada nada mengejek yang jelas sekali terlontar dari ucapan cowok itu.

Jun Myeon menghela nafas, berusaha untuk tidak terpancing dengan ejekan anaknya. “Papa bukannya nggak bisa belikan ke kamu. Tapi papa mau kamu ada usaha buat dapetin apa yang kamu inginkan. Kan papa udah janjikan kalau kamu bisa masuk kampus favorite papa akan belikan mobil itu.” Kata Jun Myeon lembut.

Denxel tertawa mengejek, “Bilang aja papa nggak mampu. Toh aku nggak akan nertawain papa kok. Aku tahu papa lebih ngutamain kebutuhan dia dari pada aku.”

“Denxel!” bentak Jun Myeon.

“Denxel, kamu lebih baik mandi terus sarapan. Aku tahu kamu capek.” Entah keberanian dari mana Hae Ji berkata demikian kepada anak tirinya itu.

Merasa namanya terpanggil cowok itu menoleh ke sumber suara. Dia menatap Hae Ji dengan tatapan seolah-olah Hae Ji adalah pelacur dan berkata dengan manis, “Selamat atas kenaikan status anda. Tenang saja papaku punya simpanan uang yang banyak.” Setelah berkata demikian Denxel segera meninggalkan ruang keluarga menuju kamar tidurnya yang berada di lantai atas.

 

Satu komentar pada “[EXOFFI FREELANCE] MONSIEUR KIM (Chapter 1)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s