[EXOFFI FREELANCE] Stay With Me (Chapter 28)

picsart_09-19-05-49-51

STAY WITH ME

Author :

Angeline

Main Cast :

Oh Sehun (EXO)

x

Bae Joo Hyun a.k.a Irene (RV)

Additional Cast :

EXO Members |Kim Ji Yeon (LOVELYZ)|Kim Seolhyun (AOA)| Im Jung Hoo  (B.I.G)| Lee Hyo Eun (STELLAR) |Krystal Jung (FX) |Wu Yifan a.k.a Kris Bae | etc~

Rating PG-17|Length Series Fic

Genre : romance | Angst | AU |slice of life | Drama |etc~

Disclaimer :

Ff ini murni dari pemikiran author sendiri , ceritanya tiba-tiba muncul dalam otak author #ea ,dan dari pada lupa langsung dituangkan dalam bentuk FF seperti ini. Bila ada kesamaan tokoh maupun jalan cerita didalam ff ini , itu bukan merupakan bentuk plagiat #noplagiat! melainkan unsur ketidaksengajaan. Don’t judge, don’t copas.  Terimakasih sudah mau meluangkan waktu untuk membacanya  (nunduk)

Summary :

Bagaimana jika seorang Oh sehun yang berwatak dingin dan tidak pernah peduli pada orang lain terjebak bersama seorang gadis amnesia bernama Irene?. Melalui sebuah pertemuan tidak terduga hingga masalah-masalah yang datang saat keduanya tengah menjalin sebuah hubungan.

Poster bye ByunHyunji @ Poster Channel

.

.

–Chapter 28–

.

.

BRAK

Suara keras bantingan pintu dari seorang pria berahang tegas yang sedang terlihat takut dan cemas itu membuat beberapa atensi dari beberapa orang di ruang tamu itu teralihkan. Sehun. Pria yang baru saja tiba di Seoul langsung menuju rumah ketika mendengar ajhuma Han mengatakan istrinya telah di culik.

Nampak jika di rumahnya sudah berkumpul keluarga besar serta sahabat-sahabatnya. Sehun menatap ajhuma Han yang sedang menangis di dekat sofa dan nampak Hyun Joo menenangkan wanita paruh baya itu.

“Sehun-ah –“

“Siapa yang menculik istriku?” tanya Sehun dingin pada ajhuma. Lantas, wanita Han itu menatap wajah Sehun dengan sendu. Mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menjelaskannya pada Sehun.

“Ji Sung tu –tuan.” Ucap ajhuma Han dengan gemetar. Amarah Sehun langsung terbakar begitu mendengar nama bajingan itu disebutkan. Berani-beraninya pria itu mencari masalah dengannya. Apa ia benar-benar menginginkan Sehun menggali kuburannya karena sudah berani mengusik kehidupan rumah tangganya?

PRANK

Mereka semua terkejut ketika Sehun membanting guci yang terpajang di atas mejanya. Krystal yang sedang menangis di pelukan Kai langsung memeluk tubuh kekasihnya itu karena terkejut.

“Tenang Sehun.” Ucap Kris yang juga nampak khawatir. Mereka semua khawatir, tidak terkecuali. Apalagi tuan Bae yang rasanya seperti shock bukan main. Baru saja ia melihat putrinya bahagia namun sekarang, takdir merenggut kebahagiaan itu lagi. Terasa begitu sesak di dada mereka semua.

“Bajingan itu! Aku benar-benar akan membunuhnya!” geram Sehun sambil mengepalkan tangannya. Kini pandangan Sehun teralih pada dua pengawal Irene yang nampak masih duduk lesu di kursi dapur. Sehun menatap tajam keduanya hingga langkah panjang pria itu berjalan cepat menuju mereka dan langsung menarik kerah baju keduanya.

“Oh Sehun!” bentak Baekhyun namun Jongdae menahan tangan pria Byun itu dan menggeleng.

“Brengsek! Sudah kubilang untuk menjaganya!” bentak Sehun pada Jaehyun dan Taeyong yang hanya bisa menunduk lesu. Tidak berani menatap Sehun yang kecewa pada mereka.

“Sehun, sudahlah.” Kata Kris menahan pundak pria itu.

“Dia hanya sendiri dan kalian berdua! Apa yang susah dari melumpuhkan satu orang saja huh?! Sialan!” teriak Sehun lagi hingga akhirnya Kris berhasil menarik pria itu untuk duduk di sofa bersama yang lain.

Cekrek

Semua mata menatap pintu rumah Sehun yang baru saja terbuka, menampilkan beberapa polisi yang sudah hadir di sana. Sehun menghela nafasnya kasar dan segera menghampiri Suho, “Bagaimana hyung?”

“Ah, itu –sepertinya dia memalsukan identitas.”

“Maksudmu dia sudah membawa kabur Irene begitu?” Sehun melebarkan matanya serasa tidak percaya namun Suho segera menggeleng sambil tersenyum tipis, “Aku tidak bilang begitu. Hanya saja, akan susah melacaknya karena ia memakai identitas palsu saat ini. Selain itu, kami masih mencari di mana ia menyekap Irene saat ini.” Ucap Suho panjang lebar dan Sehun mengusap wajahnya kasar. Ia hampir gila rasanya memikirkan hal ini.

Mengapa semua ini harus terjadi? Apalagi istrinya sedang hamil. Ya Tuhan, Sehun bisa frustasi memikirkan dua orang yang berharga untuknya itu. Bagaimana jika Ji Sung macam-macam pada Irene dan melakukan yang buruk pada istrinya itu? Demi Tuhan, Sehun tidak akan pernah memaafkan pria bejat itu. Ia akan membunuh Ji Sung dengan tangannya sendiri.

“Ya Tuhan. Bagaimana bisa –“

“Hei, tenang Sehun. Aku akan menemukan istrimu sebelum ia membawanya pergi.” Kata Suho menjanjikan dan Sehun nampaknya bisa bernafas lega mendengar itu.

____

Gadis yang saat ini sedang berada dalam sebuah kamar dengan peneranagan minim hanya bisa menangis dalam diam. Itu semua karena mulutnya di sumpal oleh sebuah kain putih dan tangan dan kakinya diikat kuat dengan sebuah tali. Keringat itu bercucuran dan sejujurnya ia benar-benar takut setengah mati.

Irene. Gadis yang baru saja di bawa paksa beberapa jam yang lalu dari rumahnya itu kini seperti pasrah pada nasibnya. Meski ia memang masih berharap Sehun akan segera datang menolongnya dari pria jahat itu.

Cekrek

Irene yang mendengar suara pintu terbuka langsung memalingkan wajahnya ke samping. Seperti ia tahu siapa orang yang masuk ke dalam kamar itu. Irene yang tak mampu melakukan apa pun hanya bisa diam dan berdoa di dalam lubuk hatinya yang terdalam, semoga Tuhan masih sayang padanya dan bayinya.

“Sayang, ayo makan.” Ucap pria itu lembut sambil menyalakan satu lampu di kamar itu. Kini wajah pucat Irene bisa terlihat dengan jelas. Air matanya yang mengalir deras dan peluhnya yang sangat banyak bisa dilihat oleh pria Do itu. Ji Sung lantas mendesah pelan dan menaruh nampan berisi makanan itu dan mengambil sapu tangannya dari dalam kantong celana belakangnya.

Ia mendekat pada Irene dan berusaha mengusap peluh itu namun Irene menghindar sebisa mungkin. Memalingkan wajahnya setiap Ji Sung berusaha menyentuh tubuhnya. Hal itu membuat Ji Sung tertawa kecil dan meremas sapu tangan itu tanpa sadar.

“Baiklah. Kau mau aku membukakan ikatan ini kan?” tanya Ji Sung sambil menarik dagu Irene untuk menatapnya dengan kasar. Terlihat jelas jika saat ini Irene benar-benar memandang Ji Sung dengan ketakutan yang luar biasa. Ji Sung tersenyum kemudian mengusap air mata Irene yang terjatuh dari sudut matanya.

“Sayang, jangan menangis.” Bisik Sehun di depan bibir Irene membuat tubuh Irene semakin bergetar.

Ji Sung pun melepaskan kain yang menjadi sumpalan di mulut Irene. Gadis itu langsung menarik wajahnya menjauh dari Ji Sung. Isakannya terdengan menyakitkan untuk pria itu. Namun Ji Sung memilih tuli akan hal itu. Ia sudah sampai sejauh ini dan ia tidak mau membuat semuanya gagal. Tidak! Tidak untuk melepaskan Irene lagi.

“Aku mo –mohon. Le –lepaskan aku hiks.” Irene menunduk dengan suara gemetarnya yang sudah tidak mampu berucap lagi sebenarnya. Bahkan untuk mengatakan sesuatu saja, Irene seperti membutuhkan kekuatan lebih. Ia tidak mampu menatap sorot mata Ji Sung yang terlihat menyeramkan. Bahkan tidak ingin mendengar suara pria itu.

“Joo Hyun sayang. Tatap aku –“

“Tidak! Jangan sentuh aku!” teriak Irene tiba-tiba ketika Ji Sung hendak menyentuh pipinya. Gadis itu memalingkan wajahnya ke samping. Pria itu tiba-tiba saja menunjukkan raut wajah marahnya. Tangannya terkepal kuat hingga…

“AKH!” teriak Irene ketika Ji Sung menarik rambutnya kasar. Irene meringis kesakitan namun Ji Sung tidak peduli dengan tangisan dan kesakitan gadis itu. Ya, saat ini ia yang memegang kendali penuh atas nasib Irene. Bahkan jika ia mau, ia bisa saja melenyapkan Irene sekarang. Tapi tidak, ia mencintai gadis itu.

“Jangan membuatku menjadi pria jahat sayang.” Kata Ji Sung sambil berbisik di telinga Irene namun masih menjambak rambut gadis itu. Irene hanya menangis. Jujur tubuhnya sudah sangat lemah bahkan terasa tidak ada kekuatan untuk melawan. Tangannya terikat begitu pula kakinya. Apa yang bisa ia lakukan selain menangis sekarang?

“Sakit hiks.” Ucap Irene lirih sambil terus menangis. Ji Sung tertawa pelan dan menghempaskan rambut itu kasar, “Maka dari itu jangan pernah membuatku marah Joo Hyun-ah. Sekarang makan!” bentaknya dan Joo Hyun tidak berani melawan.

Kini pria itu membawa kembali nampan makanan itu dan duduk di tepian ranjang. Irene masih menangis terisak, ia menggigit bibir bawahnya. Hatinya terasa sakit dan ia merindukan Sehun. Ia memang lapar tapi ia tidak ingin makan dari tangan pria itu. Bahkan Irene takut jika Ji Sung menaruh sesuatu di makanan itu yang bisa membahayakan bayinya nanti.

“Cah, ayo buka mulutmu.” Ucap Ji Sung tersenyum manis namun tetap menjadi senyuman paling mengerikan untuk Irene lihat. Gadis itu membungkam bibirnya rapat-rapat saat sendok itu ingin memasuki mulutnya. Ji Sung lagi-lagi marah karena itu, ia meremas sendok tersebut keras sekali.

PRANK

Irene terkejut ketika Ji Sung membanting nampan itu ke bawah. Makanannya tumpah semua, dan piring juga ikut pecah. Irene hanya bisa menatap itu dengan rasa takut luar biasa. Apa yang akan Ji Sung lakukan lagi padanya setelah ini?

PLAK

Irene terkejut bukan main ketika Ji Sung menamparnya dengan sangat keras. Bibirnya robek dan seketika darah segar keluar dari sana. Irene sekali lagi hanya bisa menerima itu dengan tangisannya. Benar-benar sakit luar biasa.

SRET

“AKH!” lagi-lagi Ji Sung menarik rambutnya kasar. Irene meringis merasakan kesakitan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Bagaimana bisa pria itu sangat kasar padanya? Apakah tidak bisa ia memperlakukan Irene sedikit lebih manusiawi? Bahkan Irene seperti binatang jika dibilang. Tidak memiliki harga di matanya.

“Jalang sialan!” umpat Ji Sung keras pada Irene.

PLAK

Ji Sung menampar pipi Irene lagi dan sakitnya benar-benar luar biasa. Tenaganya seperti tidak ada lagi, semua sudah terserap habis sepertinya.

“Apa kau berharap suamimu itu datang menyelamatkanmu huh?! Dia tidak mencintaimu! Aku yang mencintaimu Joo Hyun! Aku! Ku mohon tatap aku!” Ji Sung mengguncang bahu Irene keras untuk menatapnya. Gadis itu mencoba menatap netra Ji Sung dengan kepedihan mendalam di hatinya.

“Itu –bukan cinta.” Irene menggeleng lemah. Rahang pria itu mengeras dan akhirnya ia  mendorong tubuh Irene kasar hingga terbentur pada sandaran ranjang. Irene kembali meringis. Sampai kapan pria ini terus menyiksanya tanpa henti?

“AKU MENCINTAIMU!” teriak Ji Sung frustasi sambil menghancurkan semua benda yang berada di atas meja rias itu. Hancur, berantakan dan tidak rapi seperti semula. Irene yang sudah lemah secara fisik hanya bisa melihat itu nanar. Ia tidak lagi menunjukkan wajah takutnya meski memang perasaannya masih sangat takut.

Wajahnya hanya bisa menahan sakit dan terasa sulit berbicara karena bibirnya luka. Irene diam dan hanya menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang yang keras. Ia ingin tertidur untuk waktu yang lama sepertinya. Bisakah ia berharap seperti itu? Berada di kamar ini bersama pria Ji Sung itu, sama saja dengan Irene berada di neraka.

“KAU AKAN MENJADI MILIKKU! KUPASTIKAN ITU!” teriak Ji Sung lagi kemudian keluar dari dalam kamar itu dengan membanting pintu cekap keras. Irene yang bisa sedikit bernafas lega pria itu sudah meninggalkannya, akhirnya merebahkan tubuhnya secara menyamping di ranjang besar tersebut. Tangannya terasa sakit karena ikatan yang begitu kuat, sedang bibirnya masih sangat perih.

“Sehun, kau di mana?” lirih Irene hingga matanya akhirnya tertutup karena ia begitu lelah sejujurnya. Tubuhnya terasa remuk menadapat semua perlakukan kasar Ji Sung.

____

RING

Sehun terkejut ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Sehun segera mengambil ponsel di atas nakasnya dan menatap siapa penelfon itu. Takut jika itu adalah Suho yang memberika informasi penting mengenai Irene. Namun nyatanya, dering telfon yang membangunkannya di pukul 5 sore itu adalah dari nomor tidak di kenal.

Sehun mengangkatnya dengan ragu sebenarnya. Namun tidak ada salahnya untuk mengangkatnya. Mungkinkah Irene yang menelfonnya saat ini?

Yeobeo –“

“Sehun-ah! Tolong aku hiks –Sehun!” Sehun melebarkan matanya ketika mendengar suara tangis dari gadisnya yang benar-benar ia rindukan. Tidak, Sehun tidak salah mengenali suara istrinya itu. Ya, gadis itu adalah Irene.

“Irene! Kau di mana sayang?! Yebeoseyo? Irene?!”

“Apa terlalu cepat?” Sehun terdiam sejenak ketika suara itu berubah menjadi suara seorang pria. Tanpa sadar Sehun meremas ponselnya dengan keras, seperti ia bisa meremukkan benda itu.

“Di mana istriku bajingan?! DI MANA KAU SEMBUNYIKAN DIA HUH?!”

“Tidak ku sangka kau ternyata sangat bodoh Oh Sehun!”

“DIAM! DI MANA KAU SEMBUNYIKAN ISTRIKU BRENGSEK!”

“Hm, tidak akan kuberitahu. Oh Sehun, aku menelfon hanya untuk mengabari jika wanitaku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir karena mulai saat ini dia akan bahagia bersamaku.”

“Brengsek! Jika kau menyentuhnya sedikit saja. Aku bersumpah, kau akan akan mati di tanganku!”

“Benarkah? Bagaimana jika kau terlambat?”

“DO JI SUNG! KAU –YEOBEOSEYO? YAK! YAK!”

Beep

“Sialan!” teriak Sehun frustasi.

Sehun bangun dari ranjangnya dan keluar dari kamarnya. Namun baru ingin membuka pintu, Sehun terpaku pada sebuah kertas note kecil di atas mejanya. Kertas berwarna pink yang menempel di situ. Pria Oh itu mengambilnya dan membaca tulisan istrinya itu.

“Kau lupa mengatakan ‘aku mencintaimu’ malam ini.”

Sehun menitihkan air matanya sambil meremas kertas itu. Hatinya terasa hancur dan menyesal. Bahkan ia belum bisa mengatakan jika ia adalah suami yang baik. Ia gagal melindungi Irene. Ia gagal untuk menjaga gadis itu agar tetap aman bersamanya.

Sehun pun langsung keluar dan menemukan Suho yang yang tidur di sofa ruang tamunya. Sedang, anggotanya yang lain nampak terbaring di sofa lainnya. Memang Suho mengusulkan untuk menginap di rumah Sehun jika ada sesuatu yang tiba-tiba.

Sehun pun langsung membangunkan Suho yang nampak nyaman dengan tidurnya. Namun pria Kim itu langsung membuka matanya ketika tangan Sehun mengganggunya sedikit.

Hyung –“

“Oh, ada Sehun?”

“Pria itu menelfonku.”

“Siapa? – Ji Sung?” tanya Suho melebarkan matanya dan Sehun mengangguk mantap dan memberikan nomor itu pada Suho. Lantas dengan sigap Suho menelfon kembali nomor itu dengan ponselnya namun sialnya nomor itu tidak aktif kembali.

“Argh! Dia sangat ahli! Menyabotase CCTV dan mengganti identitas. Dia benar-benar mengatur semuanya dengan sempurna.” geram Suho menggeram. Sangat gemas dengan aksi Ji Sung itu.

“Apa yang harus kita lakukan hyung? Irene-ku dalam bahaya. Aku mohon lakukan sesuatu.” Pinta Sehun membuat Suho berpikir sejenak. Jujur, ia tidak tahu apa yang harus mereka rencanakan jika tidak menemukan sebuah titik terang dalam kegelapan.

“Myungsoo –bukankah ia mengenal Ji Sung dengan baik? Kita bisa tanya padanya.” Kata Sehun cepat.

“Aku sudah menanyakannya kemarin. Ia memberikan alamat rumah Ji Sung padaku. Namun setelah aku ke sana, rumah itu sudah kosong tidak berpenghuni. Ia pasti sudah melarikan diri Sehun.” Jelas Suho dan Sehun menghela nafas kasar.

“Kecuali –“ Sehun menatap Suho dengan berharap, “Apa hyung?”

“Aku tidak yakin dengan ini. Namun, ada sebuah rumah yang belum aku periksa.” Kata Suho membuat Sehun langsung berdiri, “Kalau begitu ayo periksa rumah itu. Mungkin ia membawa Irene ke sana hyung.”

“Tapi itu rumah lama orang tuanya. Dan menurut Myungsoo, Ji Sung sangat benci dengan rumah itu. Apa mungkin ia membawa Irene ke tempat yang ia benci? Tapi firasatku berkata lain tentang ini.” Desah Suho sambil mengusap wajahnya kasar.

“Baiklah. Ayo pergi!” Suho bangkit berdiri dan membangunkan anggotanya yang lain. Nampak jika, Min Seok cs masih berharap bisa tidur lebih lama. Namun mereka harus ingat profesi apa yang sedang mereka jalani saat ini.

“Ayo pergi!” ucap Suho sambil menyiapkan senjatanya dan memakai jaketnya.

“Biarkan aku tidur sedikit lagi Suho hyung!” rengek Mingyu sambil melingkarkan kakinya pada Lay. Pria China itu langsung menggeser kaki Mingyu dengan kasar dan bangun dari tidurnya.

“Menjijikan.” Lay menggeleng sambil mengambil jaket hitamnya.

“Mingyu? Ketua Choi menelfon!” ucap Min Seok membuat Mingyu langsung membuka matanya dengan cepat, “Apa?! –akh!” teriak Mingyu ketika bokongnya menyentuh lantai rumah Sehun yang dingin.

“Sialan! Sakit!” ucapnya sambil mengusap bokongnya. Mingyu duduk dengan tegak sambil mengumpulkan kesadarannya. Sedang seniornya yang lain nampak sudah siap. Terutama Suho yang sedang memeriksa GPS di ponselnya.

“Daerah Daegu.” Gumam Suho membuat beberapa anggotanya langsung mendesah. Sepagi ini mereka harus pergi ke Daegu? Tidak bisakah di tunda sedikit lebih lama? Bahkan hanya untnuk tidur 5 menit lagi?

“Aku tidak mau menyetir!” kata Jinwoo menggeleng sambil menguap, “Lalu siapa yang menyetir? Min Seok hyung buruk dalam mengemudi. Lay hyung tidak akan mau menyetir. Dan Suho hyung adalah ketuanya, jadi –“

“Tentu saja kau!” kata Jinwoo tertawa membuat Mingyu geram dan langsung melempar pria itu dengan bantal.

“Sudah. Ayo! Kita harus bergerak cepat!” ucap Suho langsung berjalan keluar menuju mobil mereka.

____

Irene mengerjap-ngerjapkan matanya ketika dirasa sinar matahari merambat memasuki kamar besar itu dan mengusik tidur tak nyenyaknya. Irene nampak sangat pucat dan bibirnya kering. Dari kemarin ia belum makan dan minum. Bahkan iaseperti beniat bunuh diri sekarang.

“Kau sudah bangun sayang?” Irene tersentak saat ada sebuah tangan yang menyentuh lengannya. Irene meringkuk pelan menandakan sebuah penolakan di sana. Ji Sung tersenyum manis dan mengusap kaki jenjang Irene. Gadis itu berusaha menyingkirkan kakinya dari Ji Sung dengan menggerakkannya ke mana-mana.

“Jangan sentuh aku!” ucapnya dengan pelan bahkan hampir tidak terdengar karena sesungguhnya ia sudah letih untuk bersuara.

“Ayo sarapan sayang. Aku membuatkan sarapan special untukmu.” Ucap Ji Sung sambil membantu Irene untuk menyandar pada sandaran ranjang. Gadis itu menatap takut pada Ji Sung untuk kesekian kalinya. Mulutnya mengatup rapat saat Ji Sung ingin menyuapinya.

“MAKAN SIALAN! KAU BISA MATI JIKA TERUS SEPERTI INI!” teriak Ji Sung membuat Irene terkejut dan kembali menangis dalam ketakutannya. Ji Sung beanr-benar pria yang mengerikan. Di mana Sehunnya? Mengapa Sehun belum datang untuk menyelamatkannya juga? Sampai kapan ia berada dalam dekapan pria ini?

“Aku tidak lapar –“

PLAK

“JALANG SIALAN! MAKAN ATAU KU BUNUH!” teriak Ji Sung dengan suara kerasnya. Bahkan bibir Irene sudah membiru karena mendapat tamparan berkali-kali dari Ji Sung. Akhirnya, Irene pun mengikuti Ji Sung untuk makan. Meski rasanya ia enggan untuk memakannya.

Gadis itu menerima suapan Ji Sung dengan bibir bergetar. Bahkan ia masih menangis dan tidak bisa menghilangkan rasa takutnya bahkan hanya sedikit saja. Rasanya ia semakin takut pada Ji Sung setiap detiknya.

“Sekarang minum obat ini!” ucap Ji Sung ketika Irene sudah menelan setidaknya 3 sendok nasi. Irene menatap sebuah pil berwarna putih yang Ji Sung perlihatkan padanya. Irene langsung menggeleng cepat. Obat apa yang Ji Sung berikan? Ia tidak yakin dengan hal ini.

“Obat apa itu?” ucap Irene dengan bibir bergetar, “JIKA AKU BILANG MINUM YA MINUM!”

Ji Sung memaksan membuka mulut Irene dengan kasar. Menekan bibir itu agar terbuka membuat bibir luka Irene sangat sakit rasanya. Remasan di bibirnya benar-benar ingin membuat Irene berteriak sekeras-kerasnya. Irene terpaksa meminum obat itu karena Ji Sung terus memaksanya dengan kasar. Gadis itu menangis lagi dengan sedihnya.

“Gadis pintar.” Ji Sung tersenyum sambil mengusap surai Irene.

“Jangan khawatir karena malam ini kita akan berangkat sayang.” Ucap Ji Sung mencium kening Irene dengan tawa khasnya.

____

“Woah, rumahnya terlihat mengerikan.” Ucap Mingyu menggeleng pelan sambil memberhentikan mobil sedan hitamnya sedikit jauh dari gerbang rumah yang nampak sepi itu. Sehun yang berada di belakang bersama beberapa sahabatnya di dalam mobil itu ikut memperhatikan rumah besar tersebut.

Suho yang ikut berada di mobil Sehun nampak mengamati rumah itu dengan sebuah teropong mengingat jarak mereka sedikit jauh hingga tidak terlalu mudah untuk melihat rumah itu dari dekat. Sebuah rumah usang yang tidak terurus. Bahkan rumah itu nampak mencekam seperti rumah yang ada di film horor.

“Aku tidak begitu yakin.” Ucap Chanyeol menghela nafasnya sambil masih memandangi rumah itu juga.

“Tapi jika benar –“

“Kita akan memeriksanya.” Ucap Suho cepat dan mereka hanya mengangguk setelahnya.

“Apa yang lain sudah siap?” tanya Suho melalui ear spacenya pada seluruh anggota divisnya yang sudah ia persiapkan untuk misi ini. Entah mengapa, firasatnya sangat yakin jika Ji Sung bersembunyi di sini. Suho hanya berharap jika misi ini menghasilkan sesuatu.

“Ne!” seru mereka semua. Suho menghela nafasnya lagi, “Tunggu aba-abaku mengerti?”

“Cerewet sekali!” protes Mingyu membuat Suho hanya bisa menggelengkan kepalanya pada anggota divisinya yang satu ini.

“Hyung! Arah jam 9!” ucap Taemin membuat Suho langsung mengarahkan teropongnya menurut jarum jam 9. Matanya sedikit melebar ketika melihat seseorang keluar dari garasi. Membawa sebuah kantung plastik dan membuangnya di bak sampah. Sedikit menyernyit bingung karena orang itu tidak seperti pembantu. Melainkan seperti pengawal karena memakai jas lengkap.

“Baik. Semua siap pada posisi! Kita mulai bergerak!” perintah Suho kemudian turun dari mobil beserta Sehun dan sahabat Sehun yang lain. Anggota Suho pun juga sudah mengambil posisi masing-masing. Ada yang masuk dari belakang dan dari depan.

Suho menggerakkan tangannya ke atas dan menyuruh beberapa anggotanya untuk mengikutinya masuk dari pintu depan. Sedang yang lain akan masuk dari pintu belakang. Sehun mengikuti Suho untuk masuk dari depan.

“Hati-hati hyung! Aku mencurigai tempat ini.” Ucap Mingyu sambil mengawasi sekitar.

“Lay, kau berada di mana?” tanya Suho melalui ear spacenya.

“Tepat membidik di belakangmu ketua Kim!” ucap Lay tersenyum kecil dari tempatnya berada di dalam mobil bersama Min Seok untuk membidik dari sana.

“Bagus! Tetap awasi sekitar dan lindungi kami!” ucap Suho lagi.

“Aku melihatmu!” kata Min Seok menyahut.

Kriet

BUGH

BUGH

Suho yang baru saja membuka pintu itu langsung terkejut ketika ia tiba-tiba di serang. Berakhirlah mereka saling memukul. Sehun menendang perut pria berjas hitam dan yang lain juga ikut saling melumpuhkan lawan masing-masing. Dan dengan cepat, mereka bisa melumpuhkan anak buah Ji Sung tersebut.

Mereka berjalan kembali. Saat ini, Suho, Sehun cs dan Mingyu sedang berada di ruang tengah yang nampak kotor dan tidak terawat. Suho pun semakin yakin jika Ji Sung berada di sini. Tidak mungkin seseorang bisa menyerang mereka secara tiba-tiba di rumah tua ini.

“Woah. Aku seperti sedang bermain film action saja.” Ucap Baekhyun terkekeh.

“Awas hyung!” teriak Kai saat seseorang di belakang Baekhyun ingin menembaknya.

SRET

DOR

Mingyu langsung memeleh tubuh Baekhyun dan menembakkan peluru itu hingga tepat mengenai lengan kirinya membuatnya lumpuh. Mingyu menggeleng dan menendang pistol anak buah Ji Sung itu.

“Dia menjaga rumah ini dengan sangat baik dan penuh dengan kejutan.” Ucap Chanyeol sedikit terpukau mungkin.

“Di mana dia menyembunyikan Irene sebenarnya!” geram Sehun yang sudah tidak tahan mencari keberadaan wanitanya.

“Menemukan sesuatu?” tanya Suho pada anggotanya.

“Kami sedang diserang hyung!” teriak Taemin dari ear spacenya.

“Lay? Min Seok?”

“Baru menembak 5 orang.” Ucap mereka bersamaan.

Suho pun memilih berjalan lagi sedikit lebih jauh. Menaiki anakan tangga hingga sampai pada lantai atas rumah itu. Banyak sekali kamar di sana membuat mereka bingung ingin memeriksa yang mana dulu.

“Kita berpencar saja jika begini!” ucap Suho menghela nafasnya dan menatap mereka bergantian.

“Kai dan Baekhyun. Chanyeol dan Mingyu.Aku, Jongdae dan Sehun.” Ucap Suho dan mereka menyetujuinya. Semua pun berpencar menuju kamar masing-masing. Suho cs pun menuju kamar paling ujung di lantai atas itu. Suho berada di depan sedang Sehun di tengah dan Jongdae di belakang.

Cekrek

Ketika pintu itu terbuka, ketiganya pun melebarkan matanya saat melihat sosok gadis yang berada di sebuah kursi di bawah cahaya lampu sedang menangis dengan mulutnya yang di bekap. Irene menatap Sehun dengan tatapan ketakutannya dan menggeleng.

“Irene –“

“Jangan mendekatinya!” suara dingin seseorang membuat langkah Sehun terhentik ketika ingin mendekati gadis itu. Kini mereka melihat pria brengsek itu keluar dengan pistol di tangannya. Bahkan ia sedang tertawa menatap Sehun cs.

“Woah, kalian sangat pintar.” Puji Ji Sung menepuk tangan. Sehun mengepalkan tangannya dengan perasaan yang tersulut emosi. Sungguh, ia ingin menghabisi pria itu saat ini juga.

“Irene –“ Ji Sung tersenyum ketika Sehun menyebutkan nama gadis itu. Pria Do itu menatap Irene dengan tawa mengerikan dan akhirnya membuka bekapan mulut Irene. Tangisnya pun langsung memecah. Sehun yang melihat memar di bibir Irene langsung menatap tajam Ji Sung, “Kau menyakitinya?! Sialan, aku akan membunuhmu!” ucap Sehun sambil berteriak.

“Tidak. Itu belum seberapa. Bagaimana jika aku melakukan ini?”

KREK

Sehun melebarkan matanya ketika Ji Sung merobek dress Irene hingga bagian lengannya turun hingga sebatas dadanya memperlihat bra berwarna hitam milik istrinya.

“Sehun –hiks!”

“BRENGSEK!” umpat Sehun ingin melangkah maju namun Ji Sung buru-buru meletakkan pistolnya pada kepala Irene, “Maju sedikit saja maka kepalanya akan hancur. Aku jamin itu.” Ucap Ji Sung tertawa. Sehun pun memilih diam menyaksikan pemadangan paling menyakitkan yang pernah ia lihat selama hidupnya.

“Aku benar-benar akan mengirimmu ke neraka Do Ji Sung! Kau dengar?!” bentak Sehun membuat Ji Sung kembali tertawa dengan keras.

“Hm. Baiklah, bagaimana dengan yang ini?” Sehun melebarkan matanya ketika Ji Sung mencium pundak Irene dengan tangannya yang sudah mengusap bahu telanjang istrinya, “Sehun –tolong aku!” ucap Irene memohon namun sialnya ancaman Ji Sung membuatnya takut jika pria itu benar-benar akan menembak Irene. Masalahnya, Sehun agaknya tahu seperti apa sifat Ji Sung itu.

“Lay, Min Seok! Kalian lihat aku di kamar paling atas sebelah kiri?” bisik Suho pelan seperti tidak ingin terdengar oleh Ji Sung yang saat ini sedang beradu mulut dengan Sehun.

“Mau kami tembak kepalanya ketua Kim?”

“Jangan! Tembak lengannya saja!” ucap Suho cepat dan terdengar tegas.

“Selamat menyaksikan pertunjukan kalau begitu!” ucap Lay mengakhiri percakapan mereka.

“DO JI SUNG!” teriak Sehun geram saat pria itu meremas dada istrinya denga tawa menjijikan yang membuat Sehun muak mendengarnya, “Aku akan membunuhmu Ji Sung! Kau dengar?! Brengsek! Lepaskan istriku bajingan!” bentak Sehun keras.

“Sehun-ah hiks.”

“Sayang –“

DOR

DOR

DOR

“AKH!”

Tepat sudah 3 peluru tertembak dan langsung tertanam dalam lengan Ji Sung dan pria itu langsung jatuh ke bawah. Suho bergerak cepat dan memborgol tangan Ji Sung. Namun saat Suho ingin mengamankan Ji Sung, Sehun berjalan dengan cepat ke arah pria Do itu.

BUGH

BUGH

BUGH

Sehun menendang paha, menginjak perut dan memukul pipi Ji Sung seperti orang gila. Suho yang melihat itu terkejut tentu saja, namun ketika suho menahan tangan Sehun, pria Oh itu mendorong tubuh Suho kasar hingga pria Kim itu terjungkal ke belakang.

“SEHUN! BERHENTI!” teriak Jongdae namun tidak di dengar oleh pria itu.

“Irene membutuhkanmu!” ucap Baekhyun yang sudah berada di sana bersama yang lain. Sehun yang sedang sibuk memukul tubuh Ji Sung yang hampir memar semua itu langsung tersadar dan berdiri.

KRAK

Sehun menginjak tangan pria itu hingga terdengar bunyi remuk di sana. Begitu kerasnya membuat Ji Sung berteriak kesakitan. Lantas setelah itu, Sehun menuju ke tempat di mana Irene duduk. Membuka ikatan gadis itu dan membuka kemeja hitamnya hingga menyisahkan kaos berwarna putih di dalam. Memakaikan kemeja itu pada tubuh Irene dan menggendong tubuh istrinya.

“Maafkan aku sayang.” Meski hanya sedikit, Sehun bisa melihat senyuma tipis di bibir yang sudah terluka itu, “Kau pasti datang. Aku tahu.” Ucapnya lemah dan akhirnya menutup matanya dan tertidur di dada bidang  Sehun.

“Ya, aku pasti datang.”

[ To be continued ]

Weehh, panjang nih chaternya. Maapkeun aku ngaret lagi apdetnya/banget/. Tapi seneng kan Irene selamat? Panjang banget nih chapter kali ini, aku sampe pegel nulis. Moga mata kalian sehat semua :”) aku gak jago bikin adegan action jadi maaf kalau adegannya jelek banget, jangan tampar aku :”)

Sebenarnya aku mau bagi dua chapternya, jadi aslinya chapter ini Irene belum diselamati Sehun. namun aku tahu kalian gak suka menunggu 😀 jadi di bikin sekalian aja deh yah XD

Ji Sung sebenarnya mau aku bunuh karena saking keselnya. Wkwkw, kesel sama tokoh sendiri 😀 baiklah. Gimana chapter kali ini? Memuaskan tidak? maafkan kalau kalian kurang suka wkwkwk XD

Ya udah, komen langsung aja yah 🙂 jangan jadi siders, gak guna siders itu XD

Sayonara semuahhhh, ku sayang kalian -,-

11 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Stay With Me (Chapter 28)”

  1. agh akhirnya bisa bernafas lega juga saya yaloh..
    obat ap yg di mnum iren ?? aq takut ne itu buat nggugurin kandungannya. semoga bukan…
    next lanjutnya ka’ ttp semangt. mkasih udah updte. ☺☺

  2. Kretek2 mengerikan..tpi mampuss lu Do Jisung Bajingan gila sarap stress!!!!! Mati Lo mati sana!!
    .
    Finally gk ada lagi yg perlu dikhawatirkan..eh apa ada lagi😅..ada lgi jga gk pp biar panjang 😂😂
    Great job Thor.. fighting!!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s