[EXOFFI FREELANCE] The Shadow in Your Eyes (Chapter 1)

18-01-11-10-29-06-123_deco.jpg

Chapter One

Today I die

Title        : The Shadow in Your Eyes

Author        : Kyokyo

Length        : Multichapter

Genre        : Romance

Rating        : PG 15+

Main cast    :

Park Chanyeol of EXO as Park Chanyeol

Kim Ji Eun as Julie Kim

Kris Wu as Kris Dawson

Suho of Exo as Kim Junmyeon

Summary    : I said today I die. I will die. And I should die.

Disclaimer    : Ide cerita murni milik author. Jika ada kesamaan tema, tokoh, dan tempat, hal itu murni ketidaksengajaan. Anyway fanfic ini juga diterbitkan di blog xoxodiary https://kyokyo2017.wordpress.com/2018/01/11/the-shadow-in-your-eyes/

Kim Ji Eun’s POV

  • Seoul, Winter, 2012 –

Hari ini salju pertama turun di Seoul. Butiran – butiran putih turun dari langit. Aku tahu semua orang pasti menanti – nantikan hari ini. Dan seharusnya begitu pula denganku. Hari ini tepat pukul 00.00, aku telah berusia 20 tahun, bertepatan dengan salju pertama yang turun di musim dingin. Aku telah menjadi orang dewasa.

Tetapi…

Aku tidak menyangka hidupku berakhir tepat ketika aku berulang tahun yang ke 20 tahun. Aku benar – benar berakhir. Jiwaku melayang seperti aliran air di westafel. Jiwaku melayang ketika dua garis di test pack itu bermunculan. Aku benar – benar mati.

(6 weeks before, Fall, 2012)

Aku membaca surat pos yang ditujukan atas namaku. Kim Ji Eun. Dan di situ tertulis Congratulation. You are accepted in Central Saint Martins. Aku bersorak kegirangan. Ini adalah impianku kuliah di sekolah fashion top one world. Keluargaku ikut bersorak bahagia. Kim Junmyeon, oppaku memelukku dengan bangga.

Kami mengadakan pesta kecil untuk merayakan keberhasilanku. Sejak kecil aku bercita – cita menjadi pakar fashion. Hal – hal memang tak pernah berjalan dengan baik terkait hobiku yang mendesign pakaian, tapi pada akhirnya aku mampu memulainya. Keluargaku juga bukan keluarga chaebol. Tapi meskipun begitu keluargaku terkenal sebagai keluarga akademik. Ayahku seorang dosen di universitas di Seoul dan ibuku seorang penulis dan full time housewife. Kakakku dulu sekolah di SMA yang sama denganku, kini ia kuliah kedokteran di SNU.

“Ada pesta kelulusan loh. Apa kau tahu?” kata oppaku. Aku menggelengkan kepalaku. Sebenarnya aku tahu hanya saja aku tidak minat untuk pergi. Aku yang memang tidak punya teman, untuk apa pergi ke tempat seperti itu. “Sudah kuduga.” kata oppa. “Ini kesempatanmu untuk membuat kenang-kenangan terakhir dengan teman – temanmu.”

“Oppa kan tahu aku tidak punya banyak teman.”

“Oppa selalu diundang setiap tahun. Tahun ini mereka menyewa vila yang mewah. Pergi saja dengan Junmyeon Oppamu ini. Nanti akan kukenalkan dengan teman – teman oppa.”

“Entahlah.”

Namun meskipun begitu, aku tetap pergi dengan Junmyeon Oppa. Dan keputusan itu akan selalu kusesali sepanjang hidupku.

***

Aku tidak begitu memahami apa yang sedang terjadi. Di sekitarku hingar bingar musik dan laki – laki dan perempuan menari dan meloncat – loncat. Kepalaku sangat pusing, dan badanku terasa lemah. Rasanya aku ingin sekali meloncat ke tempat tidur. Padahal aku hanya minum sekitar 2 atau tiga gelas kecil alkohol. Yang awalnya ku kira itu soda. Ah, entahlah, apa ini yang namanya mabuk?

Aku melangkahkan kakiku ke koridor yang agak sepi. Sungguh, berada di tempat yang bising tidak akan membuatmu lebih baik.

“Kau cantik hari ini.” Suara berat seseorang berbisik di telingaku dengan lembut, sampai – sampai membuat bulu kudukku berdiri.

Aku menoleh dan melihat pria itu berdiri sangat dekat denganku. Aku bisa mencium aroma parfumnya yang maskulin. Jantungku berdegup kencang. Aku bahkan takut dia mampu mendengar suara detak jantungku. Astaga, bahkan di kondisi yang agak mabuk begini, kesadaranku masih seperti biasanya. Aku yang selalu berdebar – debar ketika dia menatapku seperti ini.

“Apa yang kau lakukan di sini sendirian?” tanyanya.

“Emm.. aku.. agak .. pusing.” Jawabku terbata.

“Apa kau mabuk?” tanyanya lagi.

“Sedikit.” Jawabku.

Dia menatapku dalam dengan senyumannya yang mampu membuat semua wanita kehilangan akal sehatnya. Dia perlahan mendekatiku. Dan refleks aku mundur dan mendapati diriku terkunci di antara dia dan tembok. Perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan. Apa dia akan menciumku?

Tunggu. Dia tidak menyukaiku. Dia bahkan pernah menolakku di hadapan semua orang. Dan karena dia, aku harus menjalani masa kelas tigaku seperti di neraka.

“A-apa yang kau lakukan?” tanyaku terbata.

“Menurutmu apa?” balasnya menantangku. Dia semakin mendekatkan wajahnya. Hingga aku bisa merasakan desahan napasnya. “Kau cantik hari ini.”

Dia mengecup bibirku. Dan waktu terasa berhenti. Aku tidak bisa melihat wajahku sendiri. Tapi kurasa wajahku menjadi merah dan rasanya panas. Dengan sedikit tenaga, aku agak mendorong tubuhnya menjauh.

“Kenapa kau menciumku? Apa kau menyukaiku?” tanyaku.

“Ya, sepertinya.” Jawabnya singkat.

Dia kembali mencium bibirku. Seperti terhipnotis, pikiranku terasa kosong. Otakku sepertinya telah mati. Aku membalas ciumannya. Dan kami berciuman cukup lama. Dia menarik tanganku ke sebuah kamar kosong di ujung koridor. Dia mendorong tubuhku ke atas tempat tidur. Dan kami kembali berciuman. Dan kami melakukannya. Sesuatu yang seharusnya tidak kami lakukan.

***

  • Seoul, Winter, 2012 –

Aku hamil.

Aku tahu kehamilan adalah hal yang yang dinantikan setiap wanita di dunia ini. Tapi bagiku ini mimpi buruk. Hamil di usia 20 tahun dan otomatis aku harus melepaskan impianku untuk sekolah fashion. Aku harus menjadi ibu di usia dimana teman-temanku yang lain masih menikmati masa mudanya.

Aku tidak mau!

Aku tidak mau mengubur impianku!

Aku mencoba mengembalikan kesadaranku. Aku harus membuat otakku bekerja. Aku mengambil ponselku dan menekan nomor telepon yang entah kenapa sudah kuhafal di luar kepala. Terdengar beberapa kali nada sambung, dan kemudian suara berat pria itu terdengar.

“Yeoboseyo.”

“Kau dimana?” tanyaku to the point.

“Kim Ji Eun? Ada apa?”

“Ada yang harus ku katakan. Ayo bertemu.”

Entah kenapa suaranya terdengar putus – putus. Aku tidak bisa mendengar suaranya. Rasanya dia berada di tempat yang bising.

“Bisakah kau pergi ke tempat yang lebih tenang? I can’t hear your voice clearly.”

“Apa? Aku tidak bisa mendengar suaramu. Listen! Aku akan menghubungimu lagi nanti.”

Dan telepon terputus. Aku mencoba menghubunginya sekali lagi, dua kali, tiga kali, sampai puluhan kali. Tapi teleponnya mati. Dia mematikan ponselnya.

Aku mengacak rambutku. Dan air mataku berlinang dengan deras. Aku mengambil jaketku seadanya. Itu bukan jaket tebal yang harus digunakan saat musim dingin. Aku pergi keluar rumah. Ayahku bertanya – tanya saat melihatku pergi begitu saja. Kakiku tahu kemana ia harus melangkah.

Udara terasa sangat dingin menusuk tulang. Butiran salju masih turun. Aku berdiri di depan rumah dengan pagar hitam itu. Aku menghela napas dan membulatkan tekad. Aku memencet bel beberapa kali. Tapi tidak ada sahutan. Aku berdiri cukup lama di depan rumah itu sampai tubuhku terasa hampir membeku. Aku terus menunggu disini.

“Agasshi! Apa yang kau lakukan di luar dengan pakaian tipis seperti ini? Bibirmu membiru.” Seorang ahjumma yang melewatiku menegurku.

“Aku menunggu …” Aku tak melanjutkan kalimatku dan hanya menatap rumah dengan pagar hitam itu.

“Mereka sekeluarga sudah pergi ke Amerika untuk mengantar putra kedua mereka.”

“Mworagoyo?”

“Anak keduanya akan kuliah di Amerika. Mereka baru berangkat beberapa jam lalu. Sepertinya mereka baru pulang setelah christmast.”

Aku melorot ke tanah. Mataku mulai buram akan air mata yang berdesakan ingin berjatuhan. Suara ahjumma itu hanya berlalu di telingaku tanpa mampu ku dengar.  Aku bahkan tak mampu berkata – kata.

***

“Kau tidak apa – apa, Sayang?” Ibuku bertanya saat melihatku pulang dalam kondisi yang pucat.

Mataku menatap manik mata ibuku yang terlihat cemas. Aku menatap ayahku yang juga terlihat mencemaskanku. Aku benar – benar putri yang tidak berguna bagi mereka. Keberadaanku hanya menyusahkan dan mempermalukan mereka.

Aku menarik napas dan tersenyum pahit. “Aku ingin memberitahukan sesuatu pada seseorang. Tapi aku terlambat.”

“Astaga! Lihatlah kau sampai pergi keluar hanya memakai jaket tipis seperti ini!” Ibuku mengelus rambutku.

“Ji Eun – ah, istirahatlah! Wajahmu sangat pucat.” Kata ayahku. Aku mengangguk dan kemudian masuk ke kamar.

Aku bersandar di samping tempat tidurku. Sebuah pisau kugenggam dengan tangan kiriku. Aku memegang perutku, entahlah sudah berapa lama ia hidup di dalam perut ini. Namun kali ini, kita akan pergi bersama – sama. Kita berdua tidak akan mencoreng nama baik keluargaku. Kita berdua akan pergi. Aku tidak ingin menjadi ibu di usia 20.

Aku menggores pelan garis nadi tangan kananku dengan pisau. Rasanya sangat sakit tapi entah kenapa hatiku terasa lebih sakit. Dadaku terasa sesak. Aku teringat kehidupan yang kulalui sampai saat ini. Memori itu berputar seperti film hitam putih tanpa suara. Aku teringat senyuman ayah, ibu, dan kakak. Ah, kakakku pasti akan menangis kencang saat aku pergi. Dulu dia menangis ketika aku terjatuh dari tangga. Kalau aku pergi, mungkin ia akan bersedih untuk waktu yang cukup lama. Aku harap kesedihan mereka tidak berlarut – larut.

Mataku terasa buram. Pandanganku gelap, seperti aku ditarik oleh lubang kegelapan abadi yang dalam. Aku yakin aku pasti sudah mati.

Ah, dia yang membuatku seperti ini. Kau brengsek, Park Chanyeol.

 

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] The Shadow in Your Eyes (Chapter 1)”

  1. ijin baca iaa kak ..
    critanya seru’ ji en gak bakala mati kan ka ??
    ( ia egak lah’ baru jg di mulai ..)
    lanjut critanya kak’ aq tunggu. ☺☺

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s