[KAI BIRTHDAY PROJECT] PHANTOM4219 — #2: INVASION — IRISH

⁛  PHANTOM4219  ⁛

►  Kim Jongin  

►  Brothership x Crime x Dystopia x Sci-Fi  ◄

►  Series (±2000 – 3000 words) x Teenager(s)  ◄

Phantom’s Terror(s):

#1: WWW — [today] PHANTOM4219: Invasion

►  Kim Jongin as Phantom’s Analyst  ◄

Disclaimer: Keseluruhan cerita merupakan fiksi yang diimajinasikan oleh penulis. Segala bentuk kesamaan baik nama pemeran, nama tempat maupun kejadian yang ada di dalam cerita adalah kebetulan semata. Tidak disarankan untuk pembaca yang tidak menyukai kisah-kisah dengan unsur sains di dalamnya.

♫ ♪ ♫ ♪

In Author’s Eyes…

Jemari seorang Kim Jongin nyaris membeku. Dia rela menempuh perjalanan sampai dua puluh kilometer dengan berjalan kaki saat suhu di kota Seoul mencapai titik minus delapan derajat hanya demi memenuhi undangan yang diterimanya pekan lalu.

‘PHANTOM4219’—tulisan di sampul berwarna emas undangan tersebut. Isinya adalah sebuah peta dengan tinta emas, yang harus Jongin tempuh dengan berjalan kaki agar dia bisa menemukan clue-clue mengenai tepatnya lokasi undangan tersebut.

Sampailah Jongin di depan sebuah komplek pemakaman senja tadi, ditunggu oleh seorang pemuda berwajah dingin berbalut coat warna cokelat tua yang memperkenalkan diri sebagai Suho.

“Kau bisa saja mati membeku karena undangan yang kami kirimkan. Aku sungguh salut pada keinginanmu untuk bergabung dengan kami.” kata Suho. Well, sebenarnya bukan Suho yang mengirimkan undangan tersebut.

Suho hanya berperan sebagai seorang pemimpin di sana. Sedangkan undangan itu sendiri dibuat oleh seorang lain di sana yang berperan sebagai ‘pencari jejak’ mereka.

“Apa yang membuatmu ingin bergabung dengan kami?” satu tanya menyambut Jongin begitu seorang pemuda lain mengulurkan secangkir cokelat panas di meja pualam yang ada di hadapan Jongin.

Hening sejenak, bibir Jongin bergetar hendak menjawab. Dia masih merasa sangat kedinginan meski penghangat ruangan tempatnya berada telah menyala. Lantas, jemari Jongin bergerak meraih cangkir berisikan cokelat panas tersebut. Bukan untuk menyeruputnya dengan lagak tidak tahu diri, tapi Jongin ingin merasakan panas yang mungkin bisa membuatnya tidak berpikir jemarinya sekarang mati rasa.

“Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi.” Jongin kemudian memulai. Vokalnya tentu membuat tiga orang yang ada di sana segera menatap dengan alis terangkat, mereka menanti-nanti kalimat yang akan lolos dari bibir Jongin, rupanya.

“Tidak ada yang menganggapku ada. Tetapi kalian menganggapku ada.” lantas Jongin melanjutkan kalimatnya. “Benarkah begitu? Apa kau tidak tahu kalau kami merekrutmu hanya untuk memanfaatkan kemampuanmu saja?” satu pemuda lain di ruangan tersebut berkata, garis kaku di wajahnya sekarang benar-benar tidak tampak bersahabat.

Perlahan, Jongin mulai bisa menstabilkan tubuhnya. Oh, dengan bantuan beberapa pil yang ditenggaknya sebelum dia menempuh perjalanan gila siang tadi tentu saja. Tanpa pil tersebut, Jongin mungkin sudah sekarat saat ini.

“Untuk bisa bertahan di tengah kehidupan yang keras ini, kau harus punya kemampuan, meski itu artinya kemampuan itu hanya akan dimanfaatkan oleh orang lain.” kata Jongin, rupanya dia sudah tahu benar, kalau dia tidak mungkin direkrut begitu saja oleh kelompok yang sebenarnya berstatus sebagai buronan nasional ini.

“Terdengar klise, tapi aku suka alasanmu.” pemuda lain—yang tadi memberi Jongin cokelat panas—berucap, dia ukir segaris senyum di wajahnya. “…, Sudah kukatakan, Suho. Aku tidak mungkin salah memilih orang.” sambungnya membuat Jongin tersadar, kalau dia sekarang duduk di sofa empuk dengan penghangat ruangan ini karena sosok yang sekarang bicara, bukan karena Suho yang tadi Jongin pikir menunggu kedatangannya di tengah dingin.

Kehidupan Jongin juga tidak begitu menyenangkan. Kesehariannya dia habiskan untuk bekerja di laboratorium milik pemerintah yang bekerja untuk mengembangkan HSR-49 sedangkan dia hanya bisa tidur selama tiga jam dalam sehari di flat sempit pengap yang tidak terawat di pinggir tempat pembuangan sampah.

Menyedihkan. Jongin tahu benar kehidupannya memang teramat menyedihkan.

“Seberapa banyak kau tahu tentang HSR-49?” satu tanya kemudian lolos dari bibir Suho, garis tegas yang ada di wajahnya jelas membuat Jongin tahu kalau bagaimana pun keadaan yang ada di dalam kelompok gelap tempat ia sekarang mengadu nasib ini, Suho lah yang memegang kendali.

Terlihat dari caranya bicara, caranya duduk bahkan berpakaian saja, dia sudah sangat berkelas. Siapa pun akan berpikir kalau Suho ini adalah seorang pimpinan perusahaan besar yang berpengaruh di kota Seoul.

“Bagaimana aku harus menjelaskan semua yang aku ketahui, padahal aku sudah ikut mengembangkan HSR-49 sejak usiaku dua belas tahun?” Jongin balik bertanya. Well, tidak salah lagi, reaksi tanpa suara yang sekarang ditunjukkan tiga lawan bicaranya saja sudah cukup jadi respon positif bagi Jongin—yang mana dia sudah beratus kali berhadapan dengan orang-orang pelit ekspresi semacam Suho ini.

“Selamat bergabung, Jongin.” satu-satunya pemuda yang setidaknya memamerkan sedikit senyum kepada Jongin itu berkata. “…, minumlah dulu cokelat panasmu sebelum dia dingin. Namaku Do Kyungsoo, omong-omong.” kemudian dia memperkenalkan diri.

Satu senyum Jongin lemparkan sebagai respon, selagi dia menyibukkan diri dengan menyeruput cokelat panas—ralat, benda itu sekarang sudah terasa hangat, bahkan hampir dingin—yang ada dalam cangkir di tangannya.

“Suho adalah pimpinan PHANTOM4219. Kau tahu LR Corporation? Dia adalah pemegang saham terbesar di sana.” hampir saja Jongin tersedak mendengarnya. Bagaimana mungkin Jongin tidak tahu LR Corporation sedangkan dia setiap harinya mendapat makan dari perusahaan tersebut.

“A—Ah, ya. Senang bertemu dengan Anda.” sontak gaya bicara Jongin berubah formal. Hal yang kemudian membuat dua dari tiga orang di sana tertawa—bukan tertawa terbahak, tentunya.

“Santai saja. Di luar kau mungkin mengenalku sebagai Kim Junmyeon. Tetapi di sini, aku adalah Suho. Oh, karena kau sudah bergabung dengan kami, sebaiknya aku jelaskan kalau di dalam phantom, tidak ada kata ‘aku’ maupun ‘kau’, yang ada hanya kita, dan kami.” kata Suho kemudian.

“Mendengarnya membuatku bergidik.” pemuda yang sejak tadi berdiam tanpa suara di sebelah Suho berkomentar. Hampir saja Jongin lupa pada eksistensi pemuda itu di sana.

“Diamlah, Sehun, aku sedang menjelaskan cara kerja kelompok kita pada Jongin.” sahut Suho ringan, padahal diam-diam Jongin juga merasa geli pada perkataan Suho tadi. Bagaimana tidak, Suho terdengar seolah sedang berusaha untuk mengikat hubungan dengan seorang wanita, ketimbang rekan kerja.

Oh, bisakah Jongin menyebut Suho sebagai rekan kerjanya sekarang?

“Kau bisa memilih, melanjutkan pekerjaanmu sebagai analis di laboratorium dengan sisa waktu tiga jam yang bisa kau habiskan di sini, atau ‘mati’ di kehidupanmu dan memulai kehidupan baru di sini?”

Ini dilema bagi Jongin.

“Apa yang akan aku lakukan, di sini?” ragu-ragu Jongin bertanya. Khawatir juga dia kalau nyatanya dia tidak lagi bekerja dengan robotika yang jadi satu-satunya hal menyenangkan dalam hidup, bagaimana?

“Sebaiknya kita perkenalkan Jongin pada yang lainnya dulu, baru kau biarkan dia mengambil keputusan, Suho.” Kyungsoo mengambil jalan tengah, bisa Jongin lihat bagaimana Kyungsoo pasti andil sebagai salah seorang yang pendapatnya sangat berpengaruh dalam kelompok ini.

Terbukti dengan bagaimana Suho bereaksi terhadap ucapan Kyungsoo. “Baiklah.” kata Suho, dia kemudian beranjak dari kursi yang dia duduki sejak tadi. “Ikuti kami.” vokal Suho terdengar begitu dia mulai melangkah.

Okay,”

Biar Jongin ingat lagi bagaimana keadaannya sekarang. Setelah bertemu Suho di pemakaman umum tadi, Suho membawa Jongin menyusuri pemakaman tersebut, berujung pada sebuah nisan dengan tanda salib besar di atasnya. Nama sang pemilik bahkan masih Jongin ingat dengan jelas; Byun Baekhyun. Tentu Jongin ingat, sebab dia tadi jelas-jelas melihat bagaimana nisan tersebut dapat bergeser dan menjadi pintu masuk baginya.

Lantas, Jongin disambut oleh pemuda jangkung tanpa suara—tanpa ekspresi juga—yang sejak tadi tidak banyak berkomentar apalagi bicara, lalu mereka menempuh perjalanan dengan kaki selama hampir sepuluh menit sebelum dia sampai di ruang sempit di mana Kyungsoo telah ada di dalamnya.

Ruangan ini sebenarnya lebih mirip seperti persembunyian sementara ketimbang tempat pertemuan—apalagi undangan—di mata Jongin. Tapi ya sudahlah, mana bisa Jongin berkomentar sembarangan padahal dia belum sampai satu jam di tempat ini?

“Kau mungkin akan kesulitan mengingat jalan menuju markas kita, tapi tidak masalah. Yang terpenting kau hafal jalan yang harus kau tuju menuju laboratorium pribadimu nanti.” mendengar kata laboratorium pribadi, segera telinga Jongin terusik.

“Laboratorium pribadi?” ulangnya dengan nada tidak percaya.

“Kau belum menjelaskan apapun padanya, Suho?” Kyungsoo malah bertanya pada sosok di sebelahnya. “Ah, aku terlupa. Kami tadi terlalu sibuk memerhatikan jalanan yang gelap.” Suho menyahut ringan. Dia tentu tidak lupa menjelaskan, mana mungkin dia bisa lupa padahal dia ada di kelompok seperti ini?

Hanya saja, Jongin sedikit-banyak bisa memahami kalau mereka tidak sembarangan merekrut anggota. Apalagi seorang seperti Jongin yang tidak punya apa-apa selain kecerdasan. Siapapun yang berinisiatif merekrut Jongin, pasti orang itu bukan Suho.

“Katamu, kita perkenalkan dulu dia pada keluarga kita yang lain, lalu kita jelaskan tentang apa kegunaan Jongin di sini.” dengan enteng Suho berkata lagi, seolah kehadiran Jongin di sini benar-benar tidak bernilai lebih dari sekedar alat yang bisa dipergunakan.

Herannya, Jongin justru tidak merasa tersinggung. Dia malah diam-diam merasa bangga karena orang-orang lebih menilainya berdasarkan kemampuan daripada latar belakang kehidupannya yang menyedihkan.

Belum sempat konversasi lain tercipta, mereka sudah sampai di sebuah pintu kayu tua. Tanpa berpikir panjang, Suho membuka pintu tersebut dan sampailah mereka pada ruang luas dengan dominasi warna putih dan aroma logam menyengat yang sangat khas di penciuman Jongin.

Kemudian, pemandangan yang menyambut retina Jongin adalah jajaran tabung percobaan juga likuid-likuid berwarna-warni yang selalu jadi candu, diikuti dengan tiga buah bed berteknologi tinggi yang ada di tengah ruangan. Sebuah layar berbasis holoframe yang melingkar di tepi ruangan, juga beberapa peralatan canggih lainnya yang selama ini hanya bisa Jongin lihat di laboratorium VIP.

Benar, tolong ingatkan Jongin tentang di mana dia berada dalam laboratorium pemerintah tempatnya bekerja. Jongin memang seorang jenius robotika, juga kimia, dia bahkan lulus dari sekolah pharmacist saat kemudian ketertarikannya berubah menjadi robotika.

Jongin adalah wujud analis yang sesungguhnya, bukan hanya jenius dalam bidang biokimia dan biofisika, dia juga seorang ahli robotika.

“Sebagian anggota kami adalah HSR-49, Kyungsoo salah satunya.” hampir saja Jongin berjengit kaget saat mendengar penjelasan Suho barusan. Sungguh, tidak kurang-kurang ingatan Jongin mengenai HSR-49—sebuah robot genetik yang diciptakan dengan membentuk rangka robotika yang kemudian mendapatkan cangkok organ, otot bahkan transfusi darah dari manusia yang dibunuh secara paksa karena potensi yang mereka miliki.

Bukan main perihnya batin Jongin kalau mengingat teriakan-teriakan kesakitan manusia-manusia—yang oleh pemerintah, kecerdasannya tidak lagi dianggap berguna—yang organnya diambil secara paksa untuk dicangkokkan pada rangka robotika.

Tidak, pemerintah tentu tidak sembarangan memilih cangkok organ itu. Semua manusia yang organnya dijadikan organ HSR-49 adalah mereka yang memiliki tubuh sehat, fisik yang terlatih dan kuat, juga kecerdasan.

Itulah yang membuat Jongin berpikir kalau orang tanpa kemampuan tidak akan berguna di kehidupan yang keras ini. Tetapi, setidaknya mereka bisa tetap hidup karena pemerintah sudah tutup mata pada eksistensi mereka.

“Kau menatapku seperti ingin menangis saja. Memangnya proses penciptaanku sebegitu mengerikannya?” Kyungsoo bertanya pada Jongin, rupanya Jongin sudah melamun tanpa sadar tadi.

“Ah, tidak. Aku hanya teringat pada beberapa hal yang ada di laboratorium saja.” kilah Jongin, tidak sepenuhnya berbohong. Karena pencangkokkan organ HSR-49 juga dilakukan di laboratorium, bukan?

“Yang duduk di atas bed itu adalah Baekhyun, Byun Baekhyun, sniper kami. Di sebelahnya adalah Karenina, seorang paramedis sekaligus partner Baekhyun.” Suho menerangkan, entah sudah berapa banyak penjelasan Suho yang terlewat dari pendengaran Jongin karena dia melamun tadi.

Tapi tidak masalah, Jongin bisa mempelajarinya nanti. Sekarang, pandang Jongin bertemu dengan seorang pemuda yang mengukir senyum penyambutan kepadanya. Salah satu kornea pemuda itu jelas Jongin kenali sebagai milik HSR, tapi ada apa dengan kornea yang satunya? Mengapa terlihat seperti manusia?

“Dia…” tanpa sadar bibir Jongin bergumam.

“Benar, dia juga seorang HSR-49, tapi hanya separuh tubuhnya saja. Oh, kau juga sudah berkunjung ke peristirahatan terakhir separuh tubuh Baekhyun tadi, bukan?” Suho menyahut dengan nada sama ringannya seperti tadi.

Seolah dia tidak peduli kalau Jongin sekarang berdiri dengan membalut diri dalam keterkejutan. Benar! Nama Byun Baekhyun adalah nama yang tertera di nisan yang jadi pintu masuknya tadi. Sekarang, keadaan pemuda bermarga Byun itu malah membuat Jongin semakin bertanya-tanya.

“Terima kasih karena telah berkunjung ke makamku.” Baekhyun berucap—dengan nada tak kalah santai dari nada bicara Suho sedari tadi.

“Y—Ya… sama-sama.” kata Jongin, merasa kikuk juga karena harus bertukar kata terima kasih dengan seseorang yang secara harfiah sudah dianggap mati.

“Ini adalah laboratorium pribadi yang kubicarakan. Well, tempat kerjamu—kalau kau berkenan tentu saja.” Suho melanjutkan. Dia kemudian membuka satu pintu lagi di sudut laboratorium, dan sampailah mereka pada sebuah ruangan yang dipenuhi dengan perangkat komputer.

Ugh, ruangan ini sangat pengap. Kau lihat yang tenggelam di balik kursi komputer itu? Dia adalah Tao, hacker kami. Semua informasi berbasis online, semua yang terhubung ke jaringan online, bisa berpindah tangan padanya.” Suho menjelaskan, sementara pemuda yang memunggungi mereka itu hanya menyahut dengan mengangkat tangan kirinya saja.

“Senang bertemu denganmu, Kai!” serunya lantas membuat Jongin menyernyit.

“Kai?” ulangnya tak mengerti.

“Abaikan saja, menurut Tao wajahmu mengingatkannya pada wajah adiknya yang terbunuh di tengah genosida yang terjadi di Hongkong.” Suho berkata acuh. Sungguh, di mata Kai sekarang Suho mulai terlihat seperti seorang psikopat.

Suho kemudian bergerak mengetuk pintu yang terletak di sudut ruangan Tao. Tanpa izin siapapun tentu dia bisa leluasa membuka pintu tersebut, dan segera Jongin disuguhi pemandangan seorang pemuda mungil berbalut jas putih berlumur darah tengah melakukan pembedahan pada tubuh tidak bernyawa.

Augh, Luhan. Sudah kukatakan jangan lakukan kebiasaan mengerikanmu itu sebelum kami semua terlelap. Kau membuat keluarga baru kita ketakutan.” Suho berkata, pura-pura memasang nada tidak nyaman padahal bisa Jongin tangkap bagaimana nada puas ada di dalam suaranya sekarang.

Tapi tolong, Jongin sudah mual saat dihadapkan pada pemandangan seperti ini. Meski dia sering berhadapan dengan situasi macam ini, tapi menghadapinya di tempat ini entah mengapa membangkitkan trauma tersendiri.

“Dia seorang HSR juga, omong-omong.” sambung Kyungsoo malah memperburuk suasana hati Jongin sekarang. Seorang HSR, membedah tubuh mayat untuk melakukan cangkok organ lainnya pada sesama HSR? Sungguh, tidak adakah yang lebih mengerikan lagi?

“Bisa kukatakan, selain Kyungsoo dan Luhan yang sama-sama berstatus sebagai HSR legal ciptaan pemerintah, kami semua—oh, selain kau tentunya—sama-sama punya organ cangkokkan di tubuh kami.

“Bahkan ada beberapa sel robotika yang ditanamkan di tubuh kami juga.” Suho kemudian berbalik, dengan santai dia menjelaskan pada Jongin padahal mereka masih berada di depan ruangan yang menunjukkan pemandangan tak mengenakkan.

“Bagaimana bisa?” tanya Jongin akhirnya, sekuat tenaga dia berusaha menghindari bayangan mengerikan yang ada di belakang Suho sekarang.

“Karena kami semua… orang-orang yang ingin dibunuh oleh negara ini.”

Sontak Jongin terkesiap mendengar ucapan Suho sekarang. “Apa maksudmu?” tanyanya tidak mengerti. Suho hanya dapat menghela nafas panjang. Tentu dia mengerti bagaimana kebingungan Jongin sekarang.

“Kyungsoo adalah HSR-49 pertama yang berhasil diprogram sama persis dengan manusia. Karena keegoisan pihak-pihak tertentu, Kyungsoo—yang saat itu punya kode nama D.O.—hendak dihancurkan, dan dia melarikan diri, menyembunyikan diri sebagai seorang phantom sampai dia kemudian menyelamatkanku.

“Aku, yang saat itu hendak dibunuh karena kecakapanku dalam berorganisasi dan menghasilkan uang, tentu saja. Oh, kau tentu percaya ceritaku, bukan? Uang adalah kuasa di dunia ini, tahu. Seseorang bisa saja kehilangan nyawa dengan sia-sia hanya karena uang.

“Lalu kami berdua merekrut Oh Bersaudara. Karenina—dokter yang bekerja sebagai sukarelawan di kalangan bawah—dan adiknya, Oh Sehun. Ah, jangan tersinggung pada sikap Sehun omong-omong, menurut Nina dia memang tidak banyak bicara sejak bergabung dengan kami. Maklumi saja, dia harus mengemban peran penting sebagai seorang pembunuh berdarah dingin.”

Sialan, jantung Jongin sekarang rasanya ingin melompat keluar dari persinggahan. Jadi sejak tadi dia sudah berjalan beriringan dengan seorang pembunuh? Tolong, siapapun ingatkan Jongin kalau dia sekarang bukannya berada di lingkup pemerintahan di mana semuanya harus sesuai dengan aturan.

“Lalu kami menyelamatkan Baekhyun, dia adalah seorang dari militer, kau percaya? Itulah kenapa Baekhyun menjadi sniper kami sekarang. Kemampuannya, wah… sunggguh tidak main-main. Dia bisa memecahkan kepala seseorang dengan satu peluru dalam jarak beberapa kilometer.

“Kemudian Luhan, kebanyakan organnya pasti diambil secara paksa dari seorang dokter bedah dan mungkin separuh lagi dari seorang psikopat—well, dia bisa saja jadi seorang dokter bedah berbakat kalau saja dia tidak bersikap psikopat begitu. Dia sangat senang mencincang-cincang tubuh seseorang, kau percaya?”

Bukannya tidak percaya pada cerita Suho, Jongin sekarang justru berada di tahap di mana dia merasa dia sudah mulai tidak waras. Mengapa pula dia memutuskan untuk singgah bersama sekumpulan orang hilang akal begini?

Jelas-jelas tindakan mereka saja sudah ilegal, bahkan jadi buronan polisi. Tapi kenapa Jongin justru merasa tungkainya enggan beranjak dari tempat ini?

“Tao sendiri seorang hacker, yang berhasil membobol dan mengungkap identitas kami. Sehingga dia meminta untuk bergabung dan ya, untuk apa kami menolak orang-orang yang hendak menghentikan sikap tidak manusiawi pemerintah kepada rakyatnya?” Suho berkelakar dengan santai, seolah apa yang dilakukan PHANTOM4219 dan apa yang Suho bicarakan sekarang bukan merupakan cerminan tindakan tidak manusiawi.

“Kita punya seorang orang dalam di pemerintahan. Namanya Kim Minseok, profiler berbakat di kepolisian internasional. Kau pasti pernah melihatnya sekali atau dua kali. Dia cukup populer dan sering masuk televisi.” kembali Suho menjelaskan.

Hening kemudian merambat, Jongin diam-diam merasa tak nyaman sendiri. Apa memang selain Suho tidak ada lagi orang yang senang bicara dalam kelompok ini?

“Apa… Karenina satu-satunya wanita di kelompok kalian? Jangan salah paham karena pertanyaanku. Maksudku adalah, kalian sering melakukan banyak pergerakan, bahkan di tempat yang didominasi wanita sekalipun.” Jongin bertanya, sekaligus menetralisir pertanyaannya, karena seseorang mungkin saja salah paham kalau mendengar ucapannya sekarang.

“Ada Syrina, seorang journalist sekaligus public speaker kami. Lalu ada Millenia—kau bisa memanggilnya Miena—dia housekeeper di sini, biasanya datang satu atau dua kali sehari. Lagipula, Nina tidak pernah benar-benar merasa sendirian, dia punya Baekhyun dan Sehun.” Kyungsoo kali ini yang menjelaskan.

Benar juga, batin Jongin. Si gadis bernama Karenina itu tentu tidak harus merasa khawatir akan apapun, dia punya saudara di sini, dan sepertinya seorang kekasih juga.

“Lalu… bisa bicara tentang apa yang akan aku lakukan di sini?” lekas Jongin mencari bahan pembicaraan lain yang lebih menjurus. Sejak tadi Suho sepertinya keasyikan menjelaskan perihal anggota mereka daripada membahas apa tujuan Jongin ada di tempat ini.

Well, bukankah sudah jelas? Kau seorang analis, Jongin. Kau adalah pion yang tidak phantom miliki selama ini.” kata Suho, untuk pertama kalinya dia ukir senyum di wajah angkuhnya itu.

“Jadi maksudmu kau ingin aku mencangkokkan organ yang dokter itu renggut dari tubuh manusia, ke tubuh kalian?” segera Jongin terperanjat bukan main. Seumur hidup, dia tidak pernah memimpikan keadaan seperti ini—saat dia harus melakukan hal yang paling dibencinya, merenggut paksa organ orang lain untuk dijadikan sumber kehidupan bagi makhluk lain yang dianggap lebih pantas.

“Tunggu sebentar, sepertinya ada kesalah pahaman di sini.” untuk pertama kalinya, Sehun angkat bicara. Sedari tadi pemuda berwajah pucat itu sibuk menjadi pendengar.

“Kesalah pahaman?” ulang Jongin, bukan dengan nada tidak bersahabat, pemuda bermarga Kim itu sepenuhnya mempertanyakan maksud dari kata salah paham yang baru saja Sehun utarakan.

“PHANTOM4219 bukan sebuah kelompok yang bergerak untuk mendukung pemerintah dan mendukung adanya HSR-49 di dunia, Bung.” kata Sehun segera membawa Jongin kembali pada penalaran.

Jelas-jelas beberapa orang di dalam kelompok ini merupakan HSR-49 yang entah bagaimana caranya bisa ada di sini dan bukannya di bawah pantauan pemerintah. Lalu, beberapa lainnya juga punya organ hasil cangkokkan dari tubuh manusia lain. Lantas, apa lagi maksud Sehun?

“Sehun benar. Memang, ada HSR-49 di antara kami, dan kami pun punya beberapa organ yang kami dapatkan dari tubuh manusia lain. Tapi semua tindakan yang kami lakukan selama ini, bukan wujud dukungan terhadap pemerintah, Jongin.

“Sepertimu, kami juga tidak menginginkan adanya substitusi manusia secara besar-besaran dengan digantikan HSR-49. Mungkin kau akan merasa aneh karena adanya HSR-49 di antara kita, tapi mereka di sini juga dengan tujuan yang sama.

“PHANTOM4219… adalah kelompok pemberontak, penginvasi benak manusia yang masih bisa berpikir rasional. Kami adalah orang-orang yang siap mati, siap bertaruh nyawa, siap menanggung rasa sakit demi memperjuangkan hak-hak manusia lainnya yang belum berubah menjadi bagian dari rasa sakit seperti kami.

“Penciptaan HSR atau yang orang awam kenal sebagai robot pengganti manusia, hanya akan berujung pada kesengsaraan dan genosida lainnya yang tidak kentara tapi benar terjadi. Kami mungkin tercatat sebagai kriminal dan buronan, tapi bagi rakyat di bawah sana, kami adalah pahlawan.

“Bukannya kau juga memikirkan hal yang sama dengan kami? Kau ingin mengubah cara pandang manusia tentang kemajuan teknologi, tapi gagal. Jadi sekarang kau ingin menghentikan genosida yang hendak pemerintah lakukan dengan menatasnamakan kemajuan teknologi.

“Kau tak akan bisa berbuat banyak selagi kau ada di dalam genggaman pemerintah, tapi kau bisa berbuat banyak jika kau bersama dengan kami—para phantom. Aku sudah menjelaskan semuanya padamu, sekarang kau boleh memilih. Tetap di sini bersama kami dan menjadi bagian dari kami, atau kembali ke tempat asalmu?”

Suho menyelesaikan penjelasannya, jelas sudah sekarang apa tujuan Jongin ada di sana. Dia mungkin seorang analis, tapi Jongin bisa menduga dengan pasti kalau kemampuannya akan dipergunakan dengan cara yang berbeda di sini.

Bukan dengan mencangkok paksa organ orang lain, atau membunuh manusia lainnya. Dia akan mengerahkan kecerdasannya untuk menghentikan kemajuan teknologi yang sudah terlampau batas.

Pada dasarnya, manusia boleh terus berkembang, tapi tidak dengan cara berlebihan seperti ini. Menciptakan robot-robot jenius dengan mengorbankan nyawa manusia sebagai organ mereka tentu bukan bagian dari kemajuan teknologi yang Jongin harap-harapkan.

Dehaman pelan yang lolos dari bibir Suho kemudian menyadarkan Jongin dari lamunannya. Lantas, manik Jongin bersarang pada wajah angkuh Suho kembali.

Well, kalau kau memilih kembali, aku bisa pastikan kalau dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, Sehun atau Baekhyun akan menemukanmu dan ya… saat itu kau harus menyelamatkan nyawamu.”

Meski Suho tersenyum ramah dan berucap seolah sedang bermain-main sekarang—senyum ramah yang sebenarnya sangat tidak cocok untuk terpasang di wajah angkuh pemuda yang kehidupannya bergelimang harta itu—tapi entah mengapa Jongin tahu, pemuda itu tidak hanya sekedar bicara.

Mereka, sedang mengancam Jongin.

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

Okay, jadi setelah kemarin bikin dadakan bagiannya Kyungsoo (iya yang aku di fingernotesnya curhat kalau fanfiksinya itu telat bikin, wkwk) sekarang punya Kai enggak semendadak yang kemarin, hamdallah.

Tapi, aku rasa aku sekali lagi harus menekankan kalau di sini delapan member yang ulang tahun di semester awal tahun 2018 ini enggak akan jadi orang yang normal (emang kapan sih Rish member EXO jadi normal di cerita ente?) enggak apa-apa lah, memang sudah nasib mereka buat jadi enggak normal wkwk. Seriusan, di phantom ini mereka jadi bener-bener ‘enggak normal’.

They’re mentally sick… (ya Allah dosa enggak sih ngebuat perkumpulan orang sakit jiwa yang berubah jadi buronan begini? Enggak kan ya, fiksi doang soalnya sih) tapi mereka mau berjuang demi bangsanya (haseeeekk).

Di bagian kedua: invasion, ini kita diajak Jongin untuk kenalan sama member-member phantom lainnya. Nanti tiap series punya sub-judul yang berbeda kok tenang aja aku sudah kumpulin kosakata-kosakata sulit buat kalian wkwk, dan arti dari sub-judul pun tersirat ya bukan tersurat (disambit part dua).

Sedikit banyak kalian mungkin udah kenal sama phantom yang lain, tapi giliran mereka nanti tunggu ulang tahunnya dulu ya. Beberapa OC alias original character juga aku perkenalkan di sini, karena mereka semua adalah karakter-karakter baru yang aku ciptakan dan aku cap sebagai hak milik pribadi aku (baru Nina juga yang muncul sih). Dan siapa aja pasangan member EXO di sini bisa kalian intip di fanfiksi pembukaan tahun baruku à Cantarella.

Nah, sebelum aku semakin jauh bicara soal PHANTOM4219 dan segala spoiler yang bisa-bisa keceplos tanpa sengaja, sebaiknya aku undur diri dari catatan penulis di bawah sini ya.

Kita kembali ke tema utama hari ini: HAPPY BIRTHDAY KIM JONGIN AKA KAI AKA ITEM-PESEK-SEKSI SATU PAKET HEMATNYA EXO. Best wishes for you deh Jongin, soalnya kalo disebutin satu-satu nanti ucapan ulang tahunnya lebih panjang daripada fanfiksinya.

Intinya kamu di sini enggak aku jadiin lelaki penggoda, atau pembunuh, atau jadi sosok-sosok ‘garang’ lain yang sering kamu perankan dalam fanfiksi ya, Kakak Jongin… di sini kamu aku pinjem buat jadi analis kalem (iya, kalem kayak mas-mas analis yang sering aku temuin di rumah sakit kalau pas ambil darah) tapi jenius.

Sedikit di ‘luar’ karakter Jongin biasanya tapi enggak apa-apa. Buat apa baca cerita yang sudah mainstream, nanti kalian semua bisa nebak dong jalan ceritanya. Percuma dong aku enggak tidur semalem suntuk demi kelarin storyline. Iya kan?

Akhirul kata, semoga kalian terhibur dengan series terbaru ini. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca ceritaku sekaligus ikut mendo’akan yang serba baik (serba buruk juga boleh, kali aja ada yang do’ain Jongin nyasar di Jawa dengan keadaan compang-camping gitu kan ya) buat Jongin seorang.

Sampai ketemu esok hari di cerita berikutnya. Salam hangat ala kulit ayam, Irish.

Ps: kalian tau enggak sih, aku mikirin judul PHANTOM4219 itu sampe dua hari satu malem, sampe kebawa mimpi, padahal cuma cari judul doang, huhu, dan anjir momentnya itu aku keliru ulang tahun… kebalik ulang tahunnya Kyungsoo sama Kai T.T

kontak saya  Instagram  Wattpad  WordPress

9 tanggapan untuk “[KAI BIRTHDAY PROJECT] PHANTOM4219 — #2: INVASION — IRISH”

  1. Waw, aku mesti nyerna beberapa kali buat ngerti sih, but i think gaada yg kepikiran storyline macam gini. Selalu ada hal baru di ff kak irish dengan gayanya.
    Aannnddd aku penasaran tubuh aslinya kyungsoo siapa ya.. Aku malah sempet mikir itu tubuhnya baekhyun tapi pikirannya kyungsoo (ps: aku kepikiran ini pas abis baca kalo baekhyun uda mati)
    Soo ternyata aku salah, hahah
    Dan btw cerita kalo mereka pemberontak yg ngga setuju sama keputusannya pemerintah mengingatkanku dengan keadaan sekarang yg yaah mirip gtu

    Okee dah panjang wkwk, trimakasih sudah membuat ff dengan segala storyline yg diluar kata mainstream dan itu emejing banget. Thanks 🙂

  2. Well.. Irish back at it again.. 👏👏👏
    Judul n sub judul yg bikin kepo, plus istilah2 yg bikin bertanya2..
    Pokoknya pasrah aja, ntar juga bakal jelas d depan.. hehe

  3. Disini karakter kai beda jauh sama karakter-karakter ff kak irish yang lain, biasanya karakter Jongin kan dingin, cool, pendiam tapi jongin jadi anak yang kalem dan agak penurut kayaknya. Disini Jongin juga gak ada pilihan lain, dia juga sudah terlanjur bergabung mau pergi atau batalin pun gak bisa karna dia bisa mati dibunuh Sehun atau Baekhyun. Btw mereka gak semuanya sadis kan kak irish kecuali Jongin ?

  4. Ampun deehh knpa jadi do yang bisa senyum n sehun yg ga bisa senyum???hahahahahha
    Kamjong..kesianny dirimu dek djadiin irish kalem gitu..tapi emg ccok sma pribadi asliny sih sok seksong dpanggung tebar2 aurat bikin anak org hamil onlen padahal asliny pemalu cyn habahahhhaaaa
    It luhan jd sadis amat sih rish..ckckckcjcj

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s