[D.O. BIRTHDAY PROJECT] PHANTOM4219 — #1: WWW — IRISH

⁛  PHANTOM4219  ⁛

►  Do Kyungsoo / D.O.  

►  Brothership x Crime x Dark-Romance x Dystopia x Sci-Fi  ◄

►  Series (±2000 – 3000 words) x Teenager(s)  ◄

Phantom’s Terror(s):

 [today] PHANTOM4219: WWW

►  Do Kyungsoo as Phantom’s Tracker  ◄

Disclaimer: Keseluruhan cerita merupakan fiksi yang diimajinasikan oleh penulis. Segala bentuk kesamaan baik nama pemeran, nama tempat maupun kejadian yang ada di dalam cerita adalah kebetulan semata. Tidak disarankan untuk pembaca yang tidak menyukai kisah-kisah dengan unsur sains di dalamnya.

♫ ♪ ♫ ♪

In Author’s Eyes…

“Temukan dia, D.O., temukan dan bunuh dia.”

“Ini perintah!”

“Kau ini robot tidak tahu diri, ya!? Sudah kukatakan, yang perlu kau lakukan hanyalah mematuhi apa yang kuperintahkan! Tidak peduli itu berurusan dengan uang, atau nyawa. Aku ini Tuanmu, mengerti!?”

“Hentikan!!!”

Teriakan keras meluncur keluar dari bibir seorang pemuda, lantas kedua maniknya terbelalak, berusaha ia terbangun dan sadar dari mimpi buruk yang baru saja dengan lancang menunjukkan diri di dalam memori Kyungsoo.

“Bermimpi lagi?” tanya sebuah suara menyambut.

“Iya,” Kyungsoo menjawab, kedua telapak tangannya segera terulur ke wajah, diusapnya permukaan kulit pucat tersebut dengan perlahan, seolah merasa lega sebab dia masih punya kuasa terhadap tubuh yang sebenarnya bukan miliknya.

“Mimpi yang sama?” suara itu lagi-lagi menginterupsi hening yang Kyungsoo pertahankan. “Sama persis, bahkan sekarang menjadi lebih jelas lagi. Menurutmu ini sesuatu yang buruk?” Kyungsoo kemudian bertanya, kali ini ditatapnya sang lawan bicara dengan kedua alis bertaut.

“Tidak tahu, ya. Aku hanya merasa heran saja, seharusnya kau ‘kan tidak bisa bermimpi. Tidur saja hanya jadi formalitas untuk menghemat energi, tapi kau bermimpi, Kyungsoo. Tidakkah kau berpikir ada yang salah dengan fisikmu?” lawan bicara Kyungsoo menyahuti, dia tampak serius menjawab pertanyaan Kyungsoo tadi, meski sekarang maniknya berfokus pada holoframe di hadapannya.

“Menurutmu begitu?” Kyungsoo bergumam, dia kemudian menyarangkan tatapan di ponsel hitam miliknya. Kerlip cahaya berwarna merah sekarang berpendar pelan dari salah satu sudut layar ponsel tersebut.

“Tidak pernah mencoba menemui Analist-mu?” gelengan pelan diberikan Kyungsoo sebagai jawaban. “Belum, lebih tepatnya, dia sudah mati. Terbunuh enam bulan lalu di tengah ledakan yang terjadi di laboratorium area-09. Apa kau tidak bisa mendapatkan informasi tentang keadaanku saat ini, Tao?” tanya Kyungsoo kemudian.

Hening sejenak, lawan bicara Kyungsoo rupanya tengah sibuk berkutat dengan holoframenya. Bukan mengutak-atik hal tidak penting, dia juga sudah menyerah menghadapi keadaan Kyungsoo saat ini.

“Nihil, aku sudah mencari segala informasi yang berhubungan dengan keadaanmu, sampai-sampai aku membobol informasi pemerintah juga. Tapi tetap saja, hasilnya nihil. Aku pikir kau perlu memeriksakan keadaanmu ke Inside House.” tutur Tao.

“Tidak, Tao. Begitu aku ke Inside House, semua orang akan mengetahui keberadaanku dan keadaanku. Bukankah kita selama ini selalu bersembunyi dengan sempurna?” kata Kyungsoo, mengingatkan Tao pada hal yang selalu mereka lakukan selama ini.

“Suho juga memberi saran serupa, kupikir kau perlu memeriksakan keadaanmu.” lagi-lagi Tao berujung pada satu pendapat yang sama, keadaan Kyungsoo sekarang sudah termasuk dalam anomali yang tidak sewajarnya terjadi.

Kembali, hening menyelimuti. Kyungsoo sendiri larut dengan pemikirannya, sementara Tao sudah menyerah, sikap keras kepala Kyungsoo lah yang paling membuatnya enggan memperpanjang konversasi. Tahu kalau konversasi itu akan berujung pada perdebatan, jadi Tao memilih untuk mengalah.

“Kupikir ada satu jalan keluar,” kata Kyungsoo.

“Apa itu?”

“Kita harus merekrut seorang analis.” sontak kedua manik Tao membuka saat mendengar ucapan Kyungsoo, padahal tadinya Tao sudah hendak beristirahat sejenak dari holoframenya.

“Kau sudah gila, Kyungsoo?” tanya Tao dengan nada rendah, tapi penuh rasa terkejut sekaligus kesal dalam vokalnya. “Tidak, aku tidak gila. Dan aku bukan satu-satunya yang mengalami keadaan seperti ini. Lagipula, keberadaan seorang analis di antara kita juga tidak akan merugikan. Kau tahu bagaimana jeniusnya para analis negara ini bukan?”

Tao memejamkan mata sejenak, dia rebahkan tubuhnya ke sandaran kursi. Sungguh, dia ingat bagaimana Kyungsoo selalu jadi satu-satunya orang yang paling berpikir logis saat semua orang mengutamakan ego. Tapi ada apa dengan Kyungsoo sekarang?

“Iya, aku tahu analis-analis itu memang jenius. Bahkan tingkat intelegensi mereka jauh di atasku. Tapi kita tidak boleh sembarangan merekrut anggota, kau harus membicarakannya dengan semua orang, Kyungsoo.

“Kau tahu sendiri bagaimana penerimaan mereka semua pada anggota-anggota baru. Kehadiranku saat itu saja sudah cukup membuat keadaan di sini menjadi runyam. Padahal aku juga bukannya tidak berguna di tempat ini.” benar juga ucapan Tao sekarang.

Mengingat mereka adalah segelintir orang yang hidup menderita dan berakhir di dasar rantai kehidupan paling mengerikan, tidak salah lagi pendapat Tao mengenai tempramen anggota mereka yang seolah tak punya titik normal.

“Benar juga, mungkin ada baiknya kalau aku mengawasi beberapa analis di laboratorium area-09. Siapa tahu, kita memang bisa menemukan seseorang yang berguna di sana.” ujar Kyungsoo mengambil keputusan. Padahal awalnya Tao pikir Kyungsoo sudah hendak menghentikan pemikiran juga rencana gilanya.

“Intinya kau tetap menginginkan keberadaan analis di sini?” tanya Tao.

“Iya,” sahut Kyungsoo ringan.

Tao terdiam sejenak. Lantas dia kembali menyarangkan pandangnya pada holoframe yang ada di hadapannya. Urung sudah niatan Tao untuk sekedar beristirahat sedikit dari benda-benda elektronik penuh radiasi tersebut.

“Jangan langsung mengawasi area dengan gegabah. Biar aku cari dulu beberapa orang analis yang mudah untuk didekati dan dipengaruhi.” putus Tao, dia tentu sudah memutuskan untuk memberi bantuan juga keterlibatan atas rencana gila Kyungsoo yang bahkan baru mereka pikirkan beberapa menit yang lalu.

Okay, aku akan menunggumu.” Kyungsoo memperbaiki posisi duduknya, sekedar mencari kenyamanan saja selagi maniknya mengawasi holoframe milik Tao. Kini benda berpendar itu menampilkan begitu banyak list analis di seluruh penjuru Korea Selatan.

“Berdasarkan apa kau mengategorikan mereka?”

“Latar belakang kehidupan mereka, tentu saja. Oh, berdasarkan prestasi mereka juga.” ujar Tao menjelaskan tindakan yang sekarang tengah dilakukannya. Kyungsoo sendiri tampak tidak ambil pusing dengan hal kecil tersebut, dia lebih berfokus pada hasilnya.

“Eveline Lee?” tiba-tiba saja Kyungsoo tersentak saat didapatinya satu nama familiar muncul di layar. “Kau mengenalnya?” tanya Tao sejurus kemudian. “Iya, teman sekelas pemilik memori yang kumiliki ini saat dia duduk di bangku sekolah dasar.” jawaban Kyungsoo sekarang sontak berhasil membuat Tao tergelak.

“Astaga, kau bahkan masih bisa mengakses memorinya? Kau sungguh butuh bantuan, Kyungsoo.” kata Tao, dia heran juga bagaimana bisa Kyungsoo hidup di tengah keberisikan yang ada di dalam kepalanya. Padahal, berulang kali pemuda itu Tao anggap mengidap gangguan jiwa karena terlalu sering berdebat dengan dirinya sendiri.

“Sangat jelas, memorinya adalah hal paling valid yang bisa kuakses. Tunggu sebentar, Eveline Lee ada di area-09?” Kyungsoo kemudian menyarangkan atensinya pada holoframe yang ada di hadapannya.

“Hmm, ya, dia memang ada di area-09—oh, dan ada seorang analis lain juga yang masuk dalam kategoriku di area-09 itu. Mau mencoba mengawasi keduanya?” tawar Tao, segera jemarinya bergerak memperbesar tampilan hasil pencarian holoframenya, dan Kyungsoo pun tampak tidak mempermasalahkan dua analis yang Tao dapatkan dari area-09 tersebut.

“Latar belakang keluarga keduanya saling bertolak belakang, tetapi mereka sama-sama sering mendapatkan peringatan karena dianggap berpihak pada pemberontakan yang terjadi di luar laboratorium. Menarik.” tanpa sadar garis bibir Kyungsoo sekarang membentuk segaris senyum.

Entah mengapa segala jenis pemberontakan terdengar begitu menarik dalam pendengaran juga sudut pandangnya.

Okay, jadi sekarang kau akan mengawasi mereka dahulu? Atau bicara pada Suho?” tanya Tao akhirnya, kembali jemari Tao menari di udara, menggerakkan holoframenya untuk menunjukkan apa yang sedang ia cari.

“Aku akan mengawasi mereka dulu.” putus Kyungsoo.

“Mengapa begitu? Padahal meski kau bicara padaku dahulu, aku akan menyetujuinya.” segera Kyungsoo terkesiap saat mendengar vokal yang sangat familiar masuk ke dalam pendengarannya.

“Tao!” lantas pandangan kesal Kyungsoo lemparkan pada pemuda bersurai acak-acakkan yang duduk di sebelahnya. “Apa? Aku tidak melakukan apa-apa. Kau seolah lupa saja kalau dia ‘mendengar’ kita.” ucap Tao enteng, menyadarkan Kyungsoo kalau sejak tadi semua konversasi yang dilakukannya dengan Tao jelas didengar oleh leader mereka, Suho.

Melihat Kyungsoo yang sekarang memasang wajah terlipat, Tao hanya bisa meloloskan kekehan geli dari bibirnya. Kemudian, Tao bergerak menekan salah satu tombol di mejanya, menampilkan wajah leader mereka di layar holoframe.

“Lama tidak melihatmu di rumah, Kyungsoo.” Suho menyapa dengan keramahan yang bengis. Kyungsoo jelas-jelas tahu kalau sekarang Suho menatapnya seolah ingin menelan pemuda itu bulat-bulat, padahal Suho sendiri tengah memamerkan senyum di wajahnya.

“Apa kau tidak salah berucap? Kau sendiri yang mencintai penyamaranmu di sana.” balas Kyungsoo dengan sindiran yang serupa. Tidak tampak ambil pusing, Suho hanya mengedikkan bahu acuh, kacamata berframe hitam yang sekarang bertengger di wajahnya memang membuat Suho terlihat bak seorang pemikir yang serius.

Padahal dia tidak jauh berbeda dari Kyungsoo, ataupun Tao.

“Aku sudah mendengarnya, penjelasan juga penalaranmu tentang analis yang memang… kalau aku pikir-pikir lagi, kita butuhkan. Berhubung aku sudah mendengar semuanya, kau tidak perlu repot-repot mempertimbangkanku sebagai pilihan pertama atas keputusan yang kau ambil secara sepihak.” Suho dengan santai berkelakar.

Lagaknya bagai seorang leader sungguhan yang sedang berusaha menengahi perdebatan antar anggotanya. Kyungsoo sendiri tahu kalau Suho diam-diam menelan kekesalan, karena Suho bukan tipe orang yang menyukai pengambil keputusan tunggal seperti Kyungsoo.

Bukan sekali-dua kali mereka berdebat selama beberapa tahun ini, tapi perdebatan yang terjadi usai begitu saja tanpa adanya masalah yang membuntuti. Jadi Kyungsoo pikir tak masalah beradu argumen dengan Suho, selama mereka kembali pada satu visi yang sama lagi.

“Kau tahu aku akan tetap mengawasi analis-analis yang Tao cari meski kau tidak mengizinkannya.” singkat, Kyungsoo menyahuti ucapan Suho.

“Siapa bilang aku tidak mengizinkannya? Aku tidak suka perselisihan, Kyungsoo. Jadi dengan senang hati aku izinkan kau untuk mengawasi analis-analis tersebut.” segera Kyungsoo menyipitkan kedua maniknya begitu mendengar ucapan Suho.

Rupanya Kyungsoo diam-diam menaruh curiga juga, jarang sekali Suho langsung mengalah tanpa perlawanan berarti lewat kata-kata. “Apa yang sudah kau rencanakan?” tanya Kyungsoo tanpa berbasa-basi.

“Apa?” Suho balik bertanya—tambahan, dia juga memasang ekspresi tidak berdosa yang membuat Kyungsoo tiba-tiba saja merasa mual. “Kalau kau menyetujui rencanaku, artinya kau sudah merencanakan hal licik, Suho-ssi.”

Mendengar Kyungsoo yang memanggilnya dengan imbuhan ‘-ssi’ tentu saja Suho tergelak. Kyungsoo tak pernah memanggil siapapun sesopan itu, sebab Kyungsoo juga bukan seorang yang gila kehormatan.

“Tidak ada, well—aku memang sudah merencanakan beberapa hal. Tapi kali ini aku benar-benar sepemikiran denganmu. Hmm, sudah berapa tahun berlalu sejak kita merekrut Oh Siblings? Tiga… atau empat tahun? Ini saatnya kita untuk kembali beraksi, Kyungsoo.”

Hening sejenak, Tao jadi orang pertama yang memberi respon.

Okay! Ini tanda kalau kita akan segera melaksanakan sebuah misi. Tunggu apa lagi, Kyungsoo? Cepat kau cari analis yang sempurna. Ini artinya PHANTOM4219 akan segera muncul kembali bukan, leader?”

Sebagai jawaban, Suho mengangguk mengiyakan. Dia kemudian menunjukkan sebuah kartu nama di depan holoframenya, menunjukkan benda mungil tersebut kepada dua rekannya.

“Kita harus ikut andil dalam peperangan ini. Oh, tentu saja sebagai langkah pertama atas kembalinya kita ke muka publik, kau harus melakukan bagianmu, Tao.” kata Suho, tak lupa dia menunjuk ke arah Tao dengan gaya didramatisir.

“WWW, maksudmu?” tanya Tao—dengan cepat dia tanggap pada apa yang Suho tengah bicarakan sekarang. “Tentu saja, tidak ada yang bisa bergerak lebih cepat dari world-wide, Tao. Orang-orang lebih mencintai sistem online daripada diri mereka sendiri.”

Tao mengangguk menyetujui ucapan Suho. “Kau benar, sangat benar. Tapi, sebaiknya dengan cara apa kita menandai kembalinya PHANTOM ke muka publik? Haruskah Oh Siblings bertindak?” tanya Tao.

Suho menyernyit mendengarnya. “Oh Siblings? Psikopat bersaudara itu? Jangan gila, bisa-bisa kita menjadi trending di list buronan, bukannya kepahlawanan. Ah… bagaimana menurutmu, Kyungsoo?”

Sedari tadi, Kyungsoo rupanya memang memilih bungkam. Rencana merekrut analis yang awalnya dia susun sebagai sebuah rencana rahasia sekarang sudah berubah menjadi pembicaraan di luar topik yang membuat Kyungsoo diam-diam merasa dongkol juga.

Suho memang orang yang sangat santai dalam menghadapi semua hal, tapi dia selalu penuh dengan kebohongan, penuh sikap berpura-pura. Jadi meski Suho sekarang terlihat seolah dia adalah seorang pimpinan yang sempurna, Kyungsoo tahu benar kalau jiwa Suho sebenarnya penuh dengan lubang hitam berbau busuk.

“Selain analis, apa kita harus merekrut seorang public speaker juga?”

“Ide sempurna! Tao, segera cari subjek-subjek yang bisa kita pengaruhi untuk menjadi public speaker kita.”

“Siap, leader!”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Langkah Kyungsoo tergesa-gesa, selain diburu waktu dia juga sedang berusaha menghilangkan konversasi konyol semalam—antara dirinya dan Tao beserta satu pendengar gelap, Suho—yang berujung pada rencana konyol lain: bukan hanya analis yang harus mereka dapatkan, tapi juga seorang public speaker.

Bukan main beratnya tugas Kyungsoo hari ini. Dia diberi waktu dua puluh empat jam oleh Suho untuk menentukan analis dan public speaker mana yang akan mereka tarik sebagai bagian dari keluarga—bukan keluarga, lebih tepatnya perkumpulan orang gila bagi Kyungsoo—mereka.

Seringkali, saat sedang berada dalam situasi kelewat serius, Kyungsoo jadi lupa diri. Beberapa bagian tubuhnya kadang suka bertingkah sendiri—mengikuti sikap yang biasa dilakukan oleh pemilik anggota tubuh itu sebelumnya, menurut Suho.

Tapi kali ini rasanya Kyungsoo sudah membawa serta kenangan seseorang kembali. Karena ketika dia mengendap-endap masuk ke dalam laboratorium di area-09 saat waktu masih menunjukkan dini hari, memori pemuda itu sontak berpaku pada seorang gadis yang dikenalnya tapi juga tidak dikenalnya.

TOK! TAK! TOK! TAK!

Hentakan sepatu fantouvel merah menyala milik si gadis berbalut jas laboratorium berwarna merah muda itu menggema dalam pendengaran Kyungsoo, membawanya kembali pada satu memori di mana si gadis saat masih belia dia lihat tengah dengan riangnya berlarian di atas lantai marmer dengan menggunakan sepatu berwarna senada.

Gadis itu memang menyukai warna merah.

“Eva?”

Sontak, langkah si gadis terhenti begitu Kyungsoo melewatinya dengan membisikkan sebuah nama panggilan yang selama bertahun ini tidak pernah didengarnya. Tidak ada yang pernah memanggil gadis itu dengan sebutan yang sama. Kecuali… satu orang yang kehidupannya telah direnggut secara paksa oleh pemerintah.

Menyadari kesalahannya, Kyungsoo juga tidak tinggal diam. Dia percepat langkahnya, meski pada akhirnya si gadis mengekori dengan langkah lebih cepat lagi karena tungkainya lebih pendek daripada tungkai Kyungsoo.

GREP!

Langkah Kyungsoo terhenti saat lengan gadis itu menarik paksa lengan pakaian yang Kyungsoo kenakan. Bersikap normal, Kyungsoo segera berbalik dan menatap si gadis dengan pandang penuh tanya.

“Ada apa, Nona?”

Ragu-ragu gadis itu memandang Kyungsoo dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kilap metalik yang ada di tengah kornea Kyungsoo jelas membawa si gadis pada satu hal pasti, pemuda itu berbeda darinya.

“Apa kau baru saja memanggilku ‘Eva’, Tuan?”

Kyungsoo bungkam. Dia tadi memang secara tidak sengaja melontarkan panggilan yang sekarang sungguh disesalinya. Entah mengapa, berhadapan dengan gadis berperawakan mungil yang memasang ekspresi angkuh itu membuat memori dari otak inang yang ditanamkan padanya bereaksi begitu berlebihan.

Mereka pasti saling mengenal dekat, pikir Kyungsoo. Tapi tidak tahu mengapa, dia tergerak untuk memanggil gadis itu juga.

“Maaf, kau mungkin sudah salah mendengar.” segera Kyungsoo menetralisir keadaan, disingkirkannya lengan putih si gadis mungil yang sejak tadi mencengkram lengan bajunya kuat-kuat, enggan melepaskan.

“D-K49… kaukah D-K49?” gumaman pelan itu kemudian lolos dari bibir si gadis, Eveline namanya. Kembali, memori Kyungsoo berputar, pada momen di mana dia bisa dengan jelas mengakses masa lalu si pemilik otak, yang dihabiskannya bersama dengan masa kecil Eveline.

“Bukankah tidak sopan bagi seorang manusia untuk menyanyai kami mengenai identitas alpha yang kami miliki?” Kyungsoo balas bertanya, sengaja dia singgung si gadis mengenai peraturan pemerintah yang memang telah menyatakan dengan tegas bahwa setiap HSR yang telah berkehidupan layak, memiliki hak untuk menyembunyikan identitas alpha—identitas mereka saat masih berada dalam masa pengawasan—mereka.

“Ah, maaf…” Eveline akhirnya menyunggingkan sebuah senyum yang dipaksakan.

“Tidak masalah.” Kyungsoo menyahuti, pemuda itu lantas membalik tubuh, dia bawa langkahnya meninggalkan si gadis meski dari penglihatan ekstra yang dia miliki, dia tahu gadis itu masih mengawasinya dalam diam dari tempat yang sama.

Diam-diam, rahang Kyungsoo sekarang terkatup rapat. Ingin mengumpat pada diri sendiri tapi dia tahu tempat ini bukan tempat di mana dia bisa bebas menunjukkan ekspresinya. Dia harus berpura-pura kaku, pura-pura lugu, agar bisa masuk ke lapisan pengawasan paling dalam dari gedung yang bertahun-tahun lalu jadi tempat Kyungsoo dilahirkan.

Akhirnya, yang bisa Kyungsoo loloskan dari bibirnya hanya sebuah gumaman samar saja.

“Sial, Do Kyungsoo, kenapa kau membiarkan benak terkutuk itu menang atas dirimu?”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

HALOOOOOOOOOO!

Baru aja series Hol(m)es selesai aku udah enggak bisa menahan diri buat enggak ngelepas series lainnya dengan tema berbeda (iyalah berbeda, ini tema psikopat, wkwk). Dan kali ini, aku ngajakin kalian untuk bermain di dunia kriminal (ini sumpah aku dapet jiwa psikopat dari mana sih bukannya bikin romens malah bikin beginian).

Tapi tenang aja, ini cuma buat delapan member aja kok (yang ulang tahunnya di rentang Januari-Mei) sebab jarak dari Mei ke September itu jauh… daaaaannnn nanti sudah ada series lain untuk September, dengan tema berbeda lagi tentu aja.

Aku lagi banyak ide, wkwk, banyak ide tapi males banget ngetiknya (kemudian disambit). Dan di PHANTOM4219 (tolong jangan dikatain alay authornya ya, itu memang cast-castnya minta nama kelompoknya dipakein kepslok, biar garang katanya) ini kita akan ketemu dengan karakter-karakter member EXO yang agak-agak aku ‘rancu’-in sedikit.

Untuk pembukaan sekaligus pemanasan, aku memang sengaja enggak ngasih banyak clue di sini. Tapi enggak jauh-jauh dari genre favorit (sci-fi plus thriller) kali ini aku bawa cerita yang sedikit lebih ringan daripada thriller, wkwk.

Enggak, ini juga bukan cerita kental politik ala Hol(m)es, tenang aja, aku lagi menguji diriku sendiri, bisa enggak sih ngebuat anak-anak EXO jadi karakter oot dikit, gitu. Meski temanya ya balik lagi ke dystopia-scifi yang agak-agak susah buat aku nomor sekiankan hohoho.

Nah pembukaannya begitu dulu, sebab inti dari fingernotes ini sebenernya adalah:

HAPPY BIRTHDAY DO KYUNGSOO AKA CIMOL KORSEL!! Ya Allah Do Kyungsoo, ketahuilah kamu itu di mata aku adalah boyfriend sekaligus friendzone materials banget /kasih emot lope/ karena keimutan sekaligus keamit-amitannya kamu itu enggak nahan. Belum lagi suaramu Kyung… kalo aja suara bisa dimakan, aku makan suara kamu dengan senang hati saking gemesinnya suara kamu… apalagi kalo itu suara tetiba kedengeran jadi muazin di langgar deket rumah. Wish you all the best ya cimol unyu!

Ps: tau enggak sih, sebenernya dari tanggal 9 udah kelar ini project Januari, cuma aku ketuker ulang tahunnya wkwk, masa fanfiksi punya Kai kelar duluan? Alhasil aku rombak lagi cerita dari awal (padahal cerita kemarin sudah dapet 3 series: 2 series Kai dan 1 series Kyungsoo) jadi baru hari ini aku ada kesempatan untuk rombak total storyline awal, huhu.

kontak saya  Instagram  Wattpad  WordPress

7 tanggapan untuk “[D.O. BIRTHDAY PROJECT] PHANTOM4219 — #1: WWW — IRISH”

  1. Yes.. another masterpiece, sumpah, aku tu ngiri sama kakak, kok bisa sih punya ide+eksekusi cerita genre begini..
    Gpp punya jiwa psikopat, yg penting disalurkan ke hal yg positif /sesat, abaikan/
    Baru baca ff kk yg ada eveline nya juga, eh muncul lg di sini..

    Senyum2 sendiri baca fingernotesnya..
    Bayangin si cimol jd muazin, aku dengerin ampe abis, gue hayatin… hihihi, keinget random post di ig, bayangin aja kalo si cimol ngaji.. walah, mungkin gue bakal meleleh g bersisa..

  2. Ada projek birhtday baru! Nunggu-nunggu game over, one and only, sama gidaryeo, eeeh….yang nongol malah si cimol korsel. Ceritanya psikopat, ya kak? Penasaran nanti si cabe internasional*pinjem istilahnya kak irish* bakal dijadiin apa. Trus bakal ada duet bareng author lain kayak di Hol(m)es gak, kak? Ditunggu loh, ff yang lain*nunjuk judul yang di atas* update.

  3. Itu kok ad nyempil world wide rish?hahahahahah
    Drydi malam ngrefresh brharap ada game over n pagi ini dkasoh yang baru lgi aahhh bisa gila akyu gegara irish ngasih asupan ff kbanyakan hahhahahahahahaah
    Cimol mah gtu singkat padat jelas yg ptg aksi bkan kata2 motto cimol korsel hahaahahahahaha
    Kuylah..akyu bkala nunggu apdetanmu rish trserah yg mana yg muncul…sabar mah aku hahhabahaha

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s