[D.O BIRTHDAY PROJECT] – You, me, and distance (SHIN TAMA production)

SHIN TAMA

production

You, me, and distance

Do Kyung Soo (D.O) x Han Min Yul (OC)

Ficlet/ Romance/ T

Min Yul

Malam tahun baru. Keadaan di luar rumah tampak lebih ramai. Banyak bangunan-bangunan yang memasang lampu warna-warni di bagian depannya, entah itu rumah, kantor, ataupun toko. Semuanya tampak indah di malam hari. Aku menikmati pemandangan ini seraya melangkahkan kakiku menuju minimarket dekat rumahku. Ada beberapa bahan yang belum di beli untuk pesta barbecue malam ini.

Aku melewati depan sebuah cafe. Di kursi dekat jendela ada sepasang kekasih yang sedang mengobrol seraya menikmati kopi hangat yang asapnya masih mengepul dari cangkir mereka. Sepertinya obrolan mereka sangat menyenangkan. Terlihat dari cara mereka melempar senyum dan tawa yang lepas. Ah, andai aku dan Dio bisa seperti itu. Saling bertatap muka dan mengobrol tanpa perantara. Lalu, bergandengan tangan sepanjang jalan menuju rumah. Aku sangat menantikan saat-saat itu.

Tinggal menghitung menit menuju malam pergantian tahun. Aku memisahkan diri dari keluargaku yang sedang pesta babercue. Lalu duduk di sofa dekat jendela kamarku. Aku menunggunya menghubungiku, via panggilan suara ataupun via panggilan video.

02.00 KST

Aku mengecek ponselku untuk yang kesekian kalinya sejak jam 24.00. Dia tidak menghubungiku. Pesan singkat juga tidak ada. 3 kali tahun baru berlalu. Dia adalah orang pertama yang mengucapakan selamat tahun baru. Tapi di kali ke-4 ini tidak begitu. Asa ku tiba-tiba mengendur ketika dia tidak ada kabar seperti ini. Sedang apa? Bersama siapa? Aku tidak dapat menebaknya. Apa aku salah? Jika mulai meragukan LDR yang ku jalani ini.

 

D.O

Taxi yang tumpangi berhenti di depan rumah Min Yul. Aku tidak peduli dengan waktu yang menunjukkan pukul 3 dini hari. Dalam prediksiku, seharusnya aku tiba pukul 12 tepat tengah malam, ketika pergantian tahun. Namun karena pesawatku delay di bandara transit, aku tiba 2 setengah jam lebih lambat. Rencana kejutan untuk Min Yul jadi gagal total. Mungkin gadis itu sangat marah padaku karena tidak menghubunginya.

“Dio,,,kau kah itu?” Suara Min Yul terdengar samar-samar.

Gadis itu melangkah menuju gerbang untuk memastikan pertanyaanya. Lalu ia membuka gerbang dan menemukan diriku berdiri di depan rumahnya.

“Iya, ini aku. Boposhipoyo.” Aku melangkah cepat ke arahnya, lalu memeluknya.

“Bukankah kuliah mu selesai pada pertengahan tahun depan? Kenapa kau sudah pulang?” tanya Min Yul yang masih dalam dekapanku. Suara lembut Min Yul sangat jelas masuk melalui gendang telingaku. Aku juga dapat merasakan hembusan napas nya yang hangat menyapu leherku.

“Aku belajar seperti orang gila, tidak kenal waktu, lupa tidur, lupa makan, bermainpun tidak terfikirkan olehku. Karena itu aku bisa lulus lebih cepat. Karena itu juga aku bisa lebih cepat melihatmu. Aku sangat merindukanmu Mun Yul-ah.” Aku mempererat lingkaran lenganku di tubuh Min Yul. Kerinduanku selama hampir 4 tahun sepertinya belum mengalir sepenuhnya.

***

Ini pertama kalinya aku berjalan menyusuri trotoar sambil menggandeng tangan Min Yul pada jam 3 dini hari. Mungkin masih ada hari esok, tapi aku selalu beranggapan tidak ada hari esok jika sedang bersama Min Yul. Maka dari itu aku selalu menghargai setiap detik kebersamaan kami. Aku ingin membuatnya selalu tersenyum.

“Kita mau kemana?” Tanya Min Yul penuh garis penasaran di wajahnya.

“Lihat saja nanti. Oia, tadi bagaimana kau bisa tau jika aku ada di depan rumahmu? Aku bahkan belum memberi kabar ataupun mengetuk pintu.” Aku balik bertanya mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Aku belum tidur. Mendengar ada suara mesin mobil di depan rumah, aku mengintip lewat jendela. Ada seseorang turun dari taxi, dilihat dari postur tubuhnya seperti dirimu. Lalu aku keluar saja untuk memastikan. Dan ternyata benar itu kau.”

***

“Sudah sampai.” Ucap ku dan berhenti melangkah. Min Yul berdiri mematung memandangi bangunan dihadapannya yang terdapat papan nama bertuliskan ‘Whate Cafe’. Sebelumnya gadis itu selalu menggerutu di telfon karena kehabisan meja di kafe ini. Min Yul sangat ingin mencicipi cake madu yang orang-orang bilang sangat enak. Namun setiap ia datang, cake nya selalu sold out.

“Kajja.” Aku meraih tangan Min Yul, lalu menuntunnya memasuki kafe.

“Apa kabar Dio? Ku kira kau tidak jadi datang.” Chen menyambutku.

“Maaf aku terlambat, ada masalah dalam penerbangannya. Kenalkan ini pacarku, Min Yul. Min Yul, dia temanku semasa SMA, namanya Chen.” Aku saling mengenalkan mereka berdua.

“Khusus hari ini kafe ku buka 24 jam.”

“Terimakasih banyak Chen.” Balasku.

“Demi temanku dan pacarnya yang manis. Selamat menikmati hidangan yang paling enak di kafe ini.” Ucap Chen, lalu pergi menuju dapur. Meninggalkan kami berdua dengan satu loyang cake madu lengkap dengan minuman hangat tersedia di meja.

Aku menyalakan lilin-lilin yang berdiri di atas cake. Kami membuat harapan dalam hati masing-masing lalu meniup lilin-lilin itu secara bersamaan.

“Selamat tahun baru, Min Yul-ah.”

“Selamat tahun baru, Dio-ah.”

“apa harapanmu di tahun ini?” tanyaku.

“Jangan buat aku khawatir.”

“apa yang kau khawatirkan, aku ada disini.”

“Pokoknya jangan lepas dari pandanganku.”

“Gadis ini manja sekali.” Aku terkekeh seraya mengelus pucuk kepalanya.

Min Yul tetap menungguku sampai detik ini, itu adalah harapanku yang telah terkabul. Aku tidak ingin menjadi orang yang serakah yang meminta lebih dari itu. Maka di tahun ini aku tidak membuat harapan apapun.

 

~FIN~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s