[EXOFFI FREELANCE] My Behind

Processed with VSCO with b1 preset

My Behind

 Author: WhiteBLove

Cast: Oh Se Hun. Jung Jae Mi. Kim Jun myeon.

Genre: Crime. Hurt.

Summary: “Kau salah satu dari mereka?” -Sehun

Ket : This story pure from my Imagination! –Insp from RED Movie

https://whiteblove.wordpress.com/

***

Rumah sederhana ini terlihat begitu tentram saat tak ada satupun suara yang terdengar dari dalam sana. Namun siapa sangka, didepan halaman rumah bergaya minimalis ini tengah penuh dengan orang-orang berseragam serba hitam serta senjata ditangan mereka yang sudah mengarah pada bindikan –dalam rumah ini.

Mobil-mobil hitam para aparat kepolisian ini terparkir dengan sembarang untuk mengepung pergerakan penjahat yang sejak lama menjadi incaran di negara ini.

Para pencuri barang-barang penting milik negara yang lihai melarikan diri keberbagai sudut kota terpencil di negara ini tengah berada didalam. Mereka tau apa yang membuat mereka dikepung habis-habisan seperti sekarang ini, sebuah Microchips. Siapa sangka, chips kecil yang terlihat tak berguna ini menjadi barang rebutan antara mereka dan para aparat negara.

Sebagian dari para pencuri ini memang tak tau apa isi dari Chips kecil yang berhasil mereka curi. Namun yang mereka tau, harga dari Chips ini sangat mahal dibanding dengan harga Chips kosong yang biasa dijual ditoko. Ya, mereka berniat untuk menjual Chips ini ke negara sebrang. Tak apa jika mereka akan disebut sebagai penghianat negara, mereka ingin bersikap egois, mereka ingin hidup dengan harta melimpah dari sebuah Chips kecil yang berhasil mereka curi.

Sebuah mobil baru saja sampai tujuan. Sang pengemudi yang memakai kemeja putih dengan tas pistol bahu di badannya ini baru saja keluar dari dalam mobil. Sebagian aparat yang menjadi anak buahnya ini langsung menghampiri pria dengan tubuh proporsional yang tengah berdiri menilik setiap sudut rumah yang tengah terkepung dihadapannya ini.

“Ku rasa tadi didalam ada sekitar lima orang, sepertinya beberapa dari mereka telah melarikan diri.. namun ada satu orang yang tetap tinggal didalam sana!” ucap seorang pria yang berperan sebagai asisten kapten bermarga Oh ini.

“Hanya satu?”

“Ya, sepertinya begitu.. aku telah menyuruh sebagian anak buahmu tuk mengepung akses agar mereka tak bisa melarikan diri.. jadi satu-satunya yang bisa kita santap hanya orang didalam” Sehun terfokus pada sebuah jendela kecil yang memperlihatkan keadaan dalam rumah saat Junmyeon terus menjelaskan hasil olah TKP-nya.

“Kau yakin hanya satu, Jun?”

“Aku yakin, Sehun! Pergerakan orang didalam sangat minim! Jadi ku pikir hanya ada satu!”

“Baiklah, lalu kenapa tak segera kau sergap?!”

“Komandan Choi belum memberikan perintah untuk menyergap!” Sehun sedikit menghebuskan nafasnya kasar saat mendengar alasan payah dari mulut Junmyeon.

“Hah! Dia itu besar kepala! Bagaimana kalau santapan kita yang satu ini megikuti jejak teman-temannya untuk melarikan diri?!”

“Hei! Aku juga berpikir sama sepertimu.. tapi kita bisa berbuat apa?!”

Ada sedikit jeda yang Sehun ciptakan saat matanya masih asik menilik rumah kecil ini, ternyata ia sedang mencoba berpikir agar orang didalam sana tidak dapat melarikan diri lagi.

“Awasi pergerakannya.. aku akan coba masuk kedalam!” ucap Sehun yang langsung memakai rompi anti peluru untuk melindungi tubuhnya dari segala kemungkinan yang akan terjadi didalam sana.

“Kau tak boleh bersikap gegabah!” ucap Junmyeon.

“Aku muak jika kita gagal menyergap mereka lagi!! Apapun yang terjadi, jangan menembak jika tak ku berikan aba-aba!”

Setelah menyelesaikan ucapannya, Sehun melangkah dengan entengnya menginjakan kakinya melewati garis polisi yang sudah terpasang.

Sebuah pistol di tangan kanannya bersiap menembak jika tiba-tiba orang didalam rumah ini memulai untuk berperang. Jika memang didalam rumah ini hanya ada satu orang, mungkin ini akan lebih mudah untuk Sehun lumpuhkan.

Langkah pria ini terlihat begitu santai namun tetap siaga. Tangan kirinya memutar knop pintu rumah hening ini. Setelah dirasa aman, ia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah dengan tetap menodongkan pistol kesetiap arah yang ia lihat.

Rumah ini terbilang bersih dan rapih untuk dikatakan sebagai markas pencuri besar. Sehun menilik setiap sudut, ia terus berjalan dengan siaga. Terlebih saat terdengar pergerakan-pergerakan yang mencurigakan dari sebuah sudut pintu dapur yang terlihat sedikit berantakan.

“Kau ada disana?” ucap Sehun saat menyadari bayangan seseorang pada lantai kayu yang tak jauh dari tempat ia berdiri.

Dari yang bisa Sehun simpulkan, sepertinya orang ini tengah bersembunyi dicelah sebuah konter dengan keadaan duduk dilantai.

Apa yang kau lakukan? Mengapa tak melawanku?, ucap Sehun dalam hati.

Biasanya seorang penjahat yang berhasil terkepung akan membela dirinya dengan langsung menyerang. Namun berbeda dengan penjahat yang satu ini, jarak Sehun dengannya mungkin hanya beberapa langkah. Namun setiap Sehun melangkahkan kakinya semakin dekat, semakin tak ada pergerakan lagi yang penjahat ini tunjukan.

“Mau bernegoisasi denganku?” ucapnya semakin mendekatkan dirinya dengan seseorang dibalik konter.

“Bagaimana jika kita membuat kesepakatan?” ucap Sehun seraya terus menodongkan pistolnya.

“Baiklah.. Mari kit..-“ ucapan Sehun terhenti saat tiba-tiba si penjahat dengan beraninya berdiri berhadapan dengan dirinya.

Sehun langsung menodongkan pistolnya ke arah penjahat yang kini ada didepannya. Ternyata penjahat ini juga mempersenjatai dirinya dengan sebuah pistol yang berada ditangannya. Mereka saling menodongkan pistol masing-masih, menjaga diri mereka agar tak habis ditangan lawan.

Sejenak Sehun terdiam. Ternyata lawan dihadapannya adalah seorang gadis, seorang gadis yang bisa ia kenali meskipun dengan rambutnya yang terurai berantakan dan sebuah topi hitam yang menutupi sebagian wajahnya.

“Jae Mi?” ucap Sehun memastikan.

Gadis dihadapannya ini tetap terdiam, tak bicara sepatah katapun. Namun tetap menodongkan pistolnya kerah Sehun.

“Kau kah itu?” Kali ini Sehun yakin. Seseorang dihadapannya ini adalah gadisnya, gadis yang belum juga ia kunjungi selama satu minggu ini.

Sehun menurunkan senjatanya. Ia tak mau jika tangannya berhasil melukai gadisnya dengan benda berpelatuk ini.

“Apa yang kau lakukan disini?” Sehun berusaha menilik wajah yang ia yakini milik gadisnya.

Jae Mi, gadis ini tengah terdiam, tak menjawab satupun pertanyaan Sehun. Nafasnya berderu, keringat dingin mengalir dibalik wajahnya yang tertutup. Sial, ia tertangkap basah oleh kekasihnya sendiri. Baiklah, jika saja tadi Jae Mi tak ceroboh dengan membiarkan teman-temannya pergi terlebih dahulu, mungkin Jae Mi tak akan berhadapan dengan Sehun dalam keadaan seperti ini.

“Kau salah satu dari mereka?”

Sehun sepertinya sudah tau jawaban apa yang ia dapatkan meskipun gadisnya tak menjawab pertanyaan yang ia lontarkan.

“Bukankah seharusnya kau tak ada disini? Bukankah seharusnya kau menjaga ibumu yang tengah sakit?”

“Diamlah! Kau tak perlu banyak bertanya!” Jae Mi begitu memperlihatkan emosinya saat Sehun terus meruntuki dirinya dengan berbagai pertanyaan yang tak bisa ia jawab.

Benar, Sehun diam. Ia hanya berani menatap gadisnya lekat.

Pertengkaran mereka minggu lalu mungkin telah merubah sikap Jae Mi. Namun apakah harus seperti ini?

“Aku harus bekerja, Sehun! Aku tak mungkin terus mengandalkan uang pemberianmu! Itu uangmu, hasil kerja kerasmu sebagai polisi, kau harus menikmatinya! Bukan malah terus kau berikan padaku!”

“Jae Mi, Ibu mu tengah sakit! Dia membutuhkanmu. Kau hanya cukup merawatnya dengan baik! Setelah ibumu sembuh kau baru boleh bekerja! Semua biaya perawatan ibumu biar aku yang selesaikan!”

Mereka sama-sama terdiam. Bagaikan ada sebuah radar yang menghubungkan pikiran mereka berdua, pertengkaran minggu lalu teringat kembali.

Sehun masih menatap kakasihnya seakan tak percaya dengan apa yang terjadi. Kekasihnya, menghianatinya, meski dalam hal pekerjaan.

Sehun melangkahkan kakinya untuk menyalakan kompor, lalu menaruh sebuah wajan diatasnya. Jika disaat seperti ini kau berpikir Sehun akan memasak. Sepertinya kau benar.

“Pegilah!” ucap Sehun seraya melepaskan beberapa peluru dari dalam pistolnya.

“Apa? Kau tengah memberikanku kesempatan untuk melarikan diri?” Jae Mi sedikit merendahkan pistolnya saat melihat Sehun mengeluarkan semua peluru dan kini malah terlihat sibuk dengan kegiatannya.

“Larilah lewat garasi samping, penjagaan disana sedikit lengah!!”

Sehun meletakan beberapa butir peluru keatas wajan. Ia langsung menatap gadisnya yang masih menodongkan pistol kearahnya.

“ Jika kau tertangkap, katakan bahwa kau tawanan mereka!”

Otak Jae Mi berputar. Sepertinya ia memang harus menggunakan kartu As yang diberikan Sehun untuk melarikan diri. Gadis ini tetap menodongkan pistolnya kearah Sehun, namun kini kakinya melangkah mundur menuju sebuah pintu keluar. Sejenak Jae Mi terdiam saat Sehun terus menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ia pahami.

“Lalu.. bagaimana denganmu?” Jae Mi kini benar-benar menurunkan pistol ditangannya, ia memilih memperhatikan Sehun yang tengah memperjuangkan nasibnya agar tak tertangkap oleh polisi lain.

“Itu urusanku! Aku ini Kapten, apapun yang aku katakan pasti akan dipercaya oleh anak buahku!”

Peluru diatas wajan sudah memerah, Menandakan bahwa sebentar lagi peluru yang Sehun panggang akan segera matang.

“Larilah cepat!!” ucap Sehun dengan sedikit tajam melihat Jae Mi yang masih juga terdiam.

DORR!!

DORR!!

DORR!!

DORR!!

Junmyeon yang sedari tadi mengawasi pergerakan dari luar tercengang saat mendengar begitu banyak suara tembakan yang berasal dari dalam rumah meskipun ia sudah menebak bahwa hanya ada seorang penjahat dan sahabatnya, Sehun.

“Sisir area!! Jangan sampai tembakan kalian salah sasaran!” teriak Junmyeon yang kini terlihat panik menyuruh anak buahnya untuk segera berbegas ke dalam rumah.

Baru saja ia akan melangkahkan kakinya melewati garis polisi untuk memastikan keadaan Sehun didalam, terlihat seorang pria keluar dari dalam rumah dengan tangan kanan yang dipenuhi darah segar serta keadaannya yang basah seperti orang yang baru saja terkena hujan lebat.

“Hei! Kau tak apa?” tanya Junmyeon saat pria jangkung itu berjalan lesu ke arahnya.

“Dia melarikan diri lewat pintu bawah tanah.. periksa cabang jalurnya! Pastikan tak ada yang berhasil kabur!” ucap Sehun dengan cukup tegas.

Apa yang terjadi?

Tidak, tidak ada apapun. Suara tembakan bukan berasal dari pintol yang Jae Mi pegang. Melainkan ledakan dari peluru yang berhasil Sehun panggang diatas wajan. Saat peluru sudah panas dan memerah, peluru akan memantul ke udara dan mengeluarkan suara seperti suara tembakan.

Lantas kenapa tangan Sehun berdarah?

Ia menembak dirinya sendiri dengan sisa peluru yang ada dipistolnya, tangan kanannya lah yang menjadi korban. Tidak ada niat untuk melukai dirinya, ia hanya ingin terlihat dramatis agar orang-orang beranggapan bahwa ia dan sang penjahat itu telah saling baku tembak.

Lalu kenapa tubuh Sehun basah?

Apa yang akan kau lakukan untuk menghilangkan sidik jari dari berbagai benda yang mungkin dipegang oleh kekasihmu? Sehun tengah melindungi kekasihnya, ia menendang kran air hingga membuat seisi dapur basah. Air, itulah satu-satunya benda yang bisa menghapus sidik jari. Ia tak ingin sidik jari Jae Mi ditemukan dan membuatnya perlahan menjadi target sasaran kepolisian.

-FIN

 

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] My Behind”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s