[EXOFFI FREELANCE] ENTRE (Part 6 – My first)

new cover - ENTRE

ENTRE (Part 6 – My first)

By Shin Eun So / Nugichan (WP)

Casts :

Kwan Eunhye (OC), Oh Sehun (EXO), Park Chanyeol (EXO),

Hwang Min Hyun (Wanna One), Park Sohee (OC), Moon Reina (OC)

and Other Casts

 AU, Romance, Hurt/Comfort

Chapter – PG’17

This is only a FICTION. The plot and story originally come from my mind.

 

5 years ago

Hal yang paling berkesan dari awal musim semi bagi seorang Eunhye adalah dimana dirinya bisa melihat bunga sakura mekar untuk pertama kali. Keindahan musim semi selalu berhasil menggetarkan hati siapapun yang menyaksikannya, bahkan penduduk lokal telah menyiapkan berbagai festival cherry blossom di setiap daerahnya. Namun yang terpenting dari itu semua awal musim semi merupakan momen yang penuh makna bagi Eunhye karena bertepatan dengan peringatan kelahirannya.

Sekali lagi Eunhye menghirup udara dalam, bau khas musim semi dari pepohonan dan bunga melewati indra penciumnya, hingga berikutnya gadis itu mengalihkan pandangan pada seseorang yang saat ini tengah berjalan di sampingnya. Dirinya merasakan perbedaan dari sosok pria itu, mungkin karena mereka tak lagi mengenakan seragam sekolah dan berganti dengan pakaian non formal khas mahasiswa. Namun satu hal yang tak bisa dipungkirinya adalah aura pria itu yang semakin mempesona, tak heran banyak gadis bahkan kakak senior mereka yang memandang penuh harap pada sosoknya.

“Ayo kita makan di restoran itu lagi nanti.” Pria itu menoleh ke arah Eunhye yang dibalasnya dengan senyuman.

“Tentu, makanannya sangat enak dan harganya cocok untuk mahasiswa.” sahut Eunhye.

“Mungkin restoran tadi menjadi tempat kencan pertama kita.” Sambung Eunhye.

Pria itu menghela nafas setelah mendengar perkataan Eunhya, andai saja kata ‘kita’ yang dimaksud adalah dirinya dan gadis itu.

“Kau benar-benar tak bisa memutuskan pilihanmu?” Pria itu kembali mengulang pertanyaan yang sama dengan beberapa menit lalu. Jika dihitung, ini adalah pertanyaan kesebelas yang ia utarakan kepada sosok gadis yang selalu berhasil membuat atensinya enggan beralih.

“Kau mau mengalah?”

Pertanyaan Eunhye membuat pria itu tergelak, dengan penuh keyakinan ia menggelengkan kepala sebagai jawaban.

Keheningan kembali tercipta diantara kedua orang itu, hanya terdengar ketukan sepatu mereka dan gesekkan dedaunan yang bergerak tertiup angin musim semi. Hingga langkah mereka sampai di depan sebuah flat sederhana yang merupakan tempat tinggal Eunhye.

“Terimakasih sudah mengantarkanku. Mau mampir?” tawar Eunhye yang dibalas gelengan oleh pria itu.

“Eunhye, sebenarnya aku ada hadiah lain untukmu?”

“Lagi?” Eunhye mengernyit, ia baru saja menerima sepaket buku hultikultura sebagai hadiah ulang tahun dari pria itu.

Pria itu merogoh sesuatu dari dalam jaketnya, detik berikutnya sebuah kalung dengan dengan liontin berbentuk bunga sakura menggantung diantara jemarinya.

“Sebenarnya ini hanya kalung biasa yang aku beli di Osaka. Kuharap kau suka.”

“Ini sangat cantik, terimakasih.”  Eunhye menyambut kalung itu, dan entah mengapa ia merasa itu adalah momen yang manis. Mungkin akan lebih mendebarkan jika sang pria memasangkan kalung itu langsung di lehernya, namun Eunhye menarik imajinasinya segera.

“Kalau begitu aku masuk dulu.”

Eunhye baru saja hendak berbalik namun pria itu segera menahan tangannya. Dirinya bahkan belum sempat bertanya karena ia dikejutkan dengan tindakan pria itu yang langsung mencium bibirnya. Hanya sebuah ciuman sekilas namun berhasil membuat Eunhye gelagapan setelahnya.

“Kuharap aku yang pertama.” Pria itu berujar pelan.

Eunhye merasakan kepalanya mulai terasa pening seiring suhu tubuhnya yang meningkat. Roda otaknya seakan tersendat hingga ia tak mampu menyusun perkataan untuk menanggapi pria itu.

Satu lagi momen yang menambah cerita awal musim seminya menjadi semakin berkesan.

Flashback end

 

~

“Ini…”

Hwang Minhyun melebarkan matanya begitu melihat apa yang baru saja di serahkan Reina ke hadapannya.

“Woow, jinja gomawo, tapi tunggu…dua tiket?” Minhyun menautkan alisnya begitu jarinya tak sengaja menggeser satu kertas lagi dengan bentuk yang sama.

“Itu bonus.” Reina menyahut santai sambil kembali menyesap moccacino yang mulai mendingin. Gadis itu baru saja menepati janjinya memberikan hal yang sudah lama diimpikan Minhyun. Lebih tepatnya sebagai hadiah karena sahabatnya itu berhasil memenuhi tantangan yang diberikannya.

“Tapi siapa yang bisa ku ajak, apa aku harus mengajak Direktur Ahn lagi?”

Reina terkekeh mendengar lelucon Minhyun yang menyeret atasannya sendiri, mengingatkannya akan niat pria itu yang pernah berencana menjadikan Tuan Ahn sebagai pasangan saat pergi ke acara pertunangannya.

“Ajaklah seseorang dimana kau ingin menghabiskan waktu dengannya, lebih tepatnya seseorang yang ingin kau ketahui lebih jauh, kau paham maksudku kan?”

Minhyun mengernyit mencoba memahami maksud Reina.

“Kau ingin aku mengajak Eunhye?”

Detik itu juga Reina menjentikkan jarinya, “Majja, astaga.. kenapa proses otakmu jadi melambat Minhyun-a.”

“Ok, dengar Reina, kau tau, aku bahkan bertaruh dengan perasaan gengsi dan maluku saat memintanya menjadi partner di acara pertunanganmu, dan sekarang aku kembali mengajak gadis yang baru beberapa bulan aku kenal untuk berlibur ke Swedia? Apa yang akan Eunhye pikirkan jika aku tiba-tiba mengajaknya berlibur ke luar negeri.”

“Kau tak usah merasa canggung, alasan mengajak Eunhye bukan hanya karena dirimu, namun karena ia sahabat Chanyeol dan berarti temanku juga. Hanya saja, lebih baik kau langsung yang mengajaknya. Bagaimanapun juga, aku masih bisa melihat sosok wanita itu dalam dirimu, walau kau mengelak sudah bisa move on darinya.”

Minhyun menghela nafas.

“Sebenarnya dirimulah yang sering mengingatkanku padanya.”

Reina hanya tersenyum seraya mengangkat kedua jarinya. Tapi ia berani bertaruh jika Minhyun masih memiliki perasaan terhadap seorang wanita yang pernah menjadi kekasihnya itu.

“Kau sudah makan malam?” Reina memegang perutnya, sadar jika lambungnya membutuhkan makanan berat sekarang.

“Belum, bagaimana dengan bulgogi? kemaren aku bersama tim baru saja mengunjungi rumah makan di kawasan Yongsa dan rasanya benar-benar enak.”

Call, ayo kesana.”

          ~

“Bagaimana….. kalau kita akhiri saja hubungan ini?”

Hanya terdengar desisan dari makanan yang dimasak di dapur dan dentingan gelas sekelompok orang yang sedang bersulang di salah satu pojok rumah makan itu. Namun keheningan masih menyelimuti ketiga orang yang saat ini terbawa dalam suasana tegang.

“Aku tidak bermaksud untuk benar-benar mengakhiri hubungan diantara kita. Kita tetap berteman, aku hanya ingin mengakhiri hubungan yang kita jalani semenjak hari pengukuhan itu.”

Eunhye terdiam sejenak, maniknya menatap bergantian kedua pria di depannya yang menunjukkan ekspresi serius.

“Bagaimanapun juga, kalian telah memiliki seseorang di samping kalian, dan jika hubungan ini terus dilanjutkan, aku takut ini akan …”

“Eunhye-si.”

Perkataan Eunhye terputus, ia menoleh ke arah seorang yang memanggil namanya, Hwang Minhyun, tepat di belakangnya ada Moon Reina yang ikut menunjukkan ekspresi terkejutnya.

“Oh, kalian juga makan di sini?” Eunhye langsung sumringah setelah sebelumnya ia tenggelam dalam suasana yang serius.

“Iya, kami baru pulang dari kantor dan aku mengajak Reina untuk makan malam di sini. Kebetulan sekali bisa bertemu kalian.” Sahut Minhyun, matanya memindai sekilas ke arah Sehun dan Chanyeol.

“Kalau begitu bergabunglah bersama kami.” tawar Eunhye.

“Bolehkah?” tanya Reina.

“Kami tidak keberatan, silahkan duduk.” Sahut Sehun dengan sedikit melempar senyumnya. Kebetulan mereka memang memilih meja makan berukuran besar.

Sedangkan Chanyeol pria itu nampak menarik nafasnya dalam, menyesali acara makan malam yang sungguh jauh dari ekspektasinya.

“Sepertinya sedang ada reuni?” tanya Reina kembali setelah mengambil tempat duduk tepat di samping Eunhye.

“Ya bisa dibilang begitu, ini adalah tempat yang sering kami kunjungi saat kami menjadi mahasiswa dulu. Sekarang kami jarang kemari karena sibuk bekerja. Makanya aku mengajak mereka berdua untuk makan malam bersama di sini.”

“Aku sudah pernah ke sini, dan makanannya benar-benar lezat.” Tambah Minhyun.

“Kau benar, makanya tempat ini tidak sepi pengunjung, kalian mau makan apa? Biar aku pesankan.” Eunhye hendak berdiri namun segera dicegat Minhyun.

“Tidak biar aku saja, Reina.. seperti biasa bukan?”

Reina mengangguk menanggapi pertanyaan Minhyun yang mulai beranjak menuju salah seorang pegawai restoran yang sibuk melayani pesanan pelanggan.

“Hey, tuan Park, kenapa kau hanya diam?” Sehun menyenggol lengan Chanyeol yang tak berbicara apapun semenjak kedatangan Reina dan Minhyun. Pria itu benar-benar tidak peka jika ada tunangannya di sini.

Reina memandang ke arah Chanyeol sejenak, namun segera ia alihkan, bagaimanapun perasaan canggung masih menyelimutinya semenjak insiden di kantor Chanyeol siang tadi.

“Reina-si, apakah semenjak bertunangan denganmu sikap Chanyeol berubah?”

Pertanyaan Sehun berhasil membuat Chanyeol mendelik ke arahnya, tiba-tiba tangannya terasa gatal ingin memukul kepala anak yang tiba-tiba bersemangat bicara itu.

“Dia… masih perlu banyak belajar untuk menjadi orang dewasa.”

Chanyeol membulatkan obsidiannya, apa yang dikatakan Reina persis seperti apa yang pernah Eunhye katakan. Ia ragu apakah kedua gadis itu pernah bertemu sebelumnya.

Selanjutnya mereka tenggelam dalam pembicaraan yang lebih mengarah pada bisnis dan pekerjaan. Tak ada satupun dari Sehun maupun Chanyeol yang berniat untuk pergi, mereka bahkan kembali memesan ramen.

          ~

Volume salju semakin bertambah menutupi jalanan, terlihat beberapa mesin pembersih salju mulai dioperasikan. Iklim sedang tidak menentu, padahal ini baru awal musim dingin, namun hujan salju yang turun cukup lebat, membuat suhu udara turun beberapa derajat. Namun dinginnya udara luar berbanding terbalik dengan suasana di antara dua orang yang saat ini tengah terlibat perbincangan hangat. Kecanggungan diantara keduanya semakin terkikis seiring meningkatnya frekuensi pertemuan di antara mereka.

“Aku benar-benar tak menduga jika Tuan Ahn adalah donator tetap panti asuhan kami.”

Eunhye begitu antusias setelah topik pembicaraannya dengan Minhyun membahas mengenai direktur Ahn. Ya, saat ini ia sedang menumpang mobil Minhyun untuk pulang ke apartemennya setelah makan malam bersama. Ia hampir saja pulang bersama Sehun, namun Reina lebih dulu menawarkan agar Minhyun yang mengantarkannya karena jalur pulang yang searah.

“Direktur memang menjadi penyumbang di beberapa panti asuhan dan panti sosial, beliau benar-benar sosok dermawan. Apa kau juga mengetahui mengenai keluarganya?” Minhyun sesekali menoleh ke arah Eunhye saat berbicara, walau saat ini ia tengah fokus menyetir di jalanan yang terbilang cukup licin.

“Yang kutahu, beliau sudah lama terpisah dengan anaknya, tapi aku belum tahu banyak tentang istrinya” Eunhye memang sering mendengar cerita tentang keluarga Tuan Ahn dari suster Kim, tapi ia hampir tidak pernah mendengar mengenai sosok istrinya.

“Istrinya sudah meninggal, tepat saat dia melahirkan putri pertama mereka di awal musim dingin, sejak saat itu Tuan Ahn memutuskan untuk sendiri dan tidak menikah lagi.”

Eunhye tersentuh mendengar cerita Minhyun, ia tidak bisa membayangkan betapa kesepiannya Tuan Ahn. Tiba-tiba ia diingatkan dengan ibunya yang pernah bercerita tentang momen kelahirannya tepat di awal musim semi. Musim yang menjadi sumber kekuatan tumbuhan untuk kembali menghijau dan bunga yang bermekaran. Itulah  mengapa ia diberi nama Kwan yang berarti kekuatan, Eun yang berarti rahmat, dan Hye yang menggambarkan perempuan yang anggun dan berintelegensi. Eunhye tak memungkiri jika nama yang diberikan itu bisa mempresentasikan dirinya, walau ia sendiri masih meragukan apakah dirinya memang benar sosok kuat, mengingat rasa putus asa yang sering menghampirinya.

“Oh ya, apa rencanamu untuk menghabiskan liburan akhir tahun ini?” Minhyun kembali bersuara setelah pembicaraan mereka terjeda.

“Biasanya aku makan bersama dengan teman sekantor, kau sendiri?”

Minhyun berfikir, mencoba menyusun perkataan agar niatnya mengajak gadis itu berlibur ke Swedia dapat tersampaikan, walau ia yakin tak itu mudah.

“Sebenarnya aku mendapat tiket liburan ke Swedia.”

“Wahh… kau beruntung sekali. Pasti sangat menyenangkan bisa berlibur ke luar negeri.” Eunhye berujar iri.

“Kau mau ikut?”

Eunhye mengernyit bingung dengan pertanyaan tiba-tiba dari Minhyun.

“Maksudmu?”

“Aku…. memiliki dua tiket liburan, dan masih bingung kepada siapa ingin menyerahkannya. Mungkin kau …mau?”

Eunhye semakin menautkan alisnya, melihat ekspresi aneh gadis itu membuat Minhyun jengah, ia takut Eunhye berpikir tidak-tidak.

“Sebenarnya Reina yang memintaku mengajakmu.”

“Reina?”

“Ya, dia memberiku tiket liburan karena aku berhasil memenangkan tantangannya. Dia berencana menghabiskan liburan akhir tahun di Swedia denganku dan bersama Chanyeol tentunya. Dia memintaku mengajakmu, tapi sungguh Reinalah yang sangat mengingankanmu ikut.”

Eunhye terdiam, mencoba mencari alasan yang tepat.

“Sebenarnya aku sangat ingin pergi berlibur ke luar negeri, tapi aku tidak yakin karena saat ini aku memegang dua shift sekaligus.”

Minhyun menghela nafas kecewa, namun ia segera melengkungkan sudut bibirnya sebagai wujud pengertian, walau hatinya menyayangkan jawaban Eunhye “Ah, tak apa. Tiketnya tidak akan kuberikan kepada siapa-siapa, jika kau berubah fikiran suatu saat.”

Eunhye tersenyum, sebenarnya ia memang berniat untuk pergi keluar negeri sesekali, namun hal itu sangat sulit terwujud. Dan disaat kesempatan itu datang, ia justru menolaknya. Bukan karena tak nyaman dengan Minhyun atau pekerjaan di Botani yang ia lakoni, namun karena turut sertanya seseorang yang menjadi alasan kuat dari penolakannya.

~

Oh Sehun tengah memfokuskan perhatiannya pada dart board , matanya memicing sambil menggerakkan anak panah yang ada di tangannya, memperhitungkan dengan seksama targetnya kali ini. Dan detik berikutnya, anak panahnya meluncur mulus, bibirnya melengkung kala mendapati anak panahnya berhasil mencetak poin. Tidak buruk, pikirnya.

Sehun kemudian menarik pandanganya pada seorang gadis yang sedang duduk di sofa dekat pemanas ruangan. Gadis itu kembali menggeram kala dirinya kembali melakukan kesalahan, dengan kesal ia mengambil penghapus karet dan menghapuskannya dengan kasar pada kumpulan kertas sketsa.

Sehun kemudian mendekat dan duduk di samping gadis itu, ia melongok, melihat ke arah coretan sketsa komik yang digambar Sohee, namun tokoh wanita masih belum selesai digambarnya.

“Jika dipikir lagi, tokoh pria dalam komikmu memang benar-benar mirip denganku.”

Gadis itu Sohee, mengangkat hasil gambarannya lurus di depan matanya, memeriksa kembali hasil sketsa yang telah ia gambar seharian ini.

“Dia benar-benar berbeda denganmu oppa. Jonathan bukan tipe pria dingin, dia periang dan ramah.”

“Aku tidak bicara tentang karakter, tapi visualnya, tinggi dan berwajah tampan.”

Sohee hanya mencibir dalam diamnya, ia membenarkan jika karakter laki-laki dalam komik yang dibuatnya memang terinspirasi dari sosok Sehun.

“Oppa sudah memesankan tiket ?”

“Belum.” Sahut Sehun sambil beranjak mengambil jaketnya yang tergantung di dekat pintu.

Wae? Bukankan kita akan berangkat lusa?”

Sehun tak menyahut, sebenarnya ia dan Sohee berencana untuk menghabiskan tahun baru ke New Zealand sekaligus mengunjungi keluarganya di sana. Entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya hingga sampai sekarang ia masih belum memutuskan untuk memesan tiket penerbangan.

~

Nara datang dengan nampan yang berisi caramel mocha latte dan macchiato ditambah soufflé sebagai pelengkap. Eunhye langsung mengambil mocha latte  dan menyesapnya perlahan. Rasa manis caramel ditambah sensasi moka yang khas sangat cocok mengakhiri rutinitas pekerjaan.

Kedua sahabat itu tengah menghabiskan malam akhir pekan mereka bersama disebuah kafe. Sebenarnya ada alasan lain, yaitu karena janji Nara untuk bertemu dengan salah satu kolega perusahaan karena ada sedikit permasalahan administrasi yang harus diselesaikan.

“Apakah kakakmu sudah sehat?”

“Ya, dia bahkan membuatkanku sup rumput laut sebelum meninggalkan apartemen.” Eunhye memperhatikan gerak Nara yang mengeluarkan file map dari dalam tasnya. Bahkan di akhir pekan ia masih memiliki beban pekerjaan, membuat gadis itu tak terlihat tengah menikmati waktu liburnya.

“Benarkah? Aku jadi bingung siapa yang sebenarnya sakit?”

Eunhye terkekeh.

“Aku menangis di samping Sora eonni malam itu, aku juga meluapkan segala keluhan padanya.”

“Tentang mimpi burukmu itu?”

Eunhye menangguk, “Ya, itu benar-benar menghantuiku Nara-a, aku bahkan memutuskan untuk menemui Chanyeol dan Sehun.”

Nara hanya diam, menunggu Eunhye melanjutkan kisahnya.

“Aku meminta mereka untuk mengakhiri hubungan yang terjalin semenjak kami lulus dari sekolah menengah atas. Namun pembicaraan kami terputus karena kedatangan Reina dan Minhyun”

Nara mengernyit, ia memang pernah mendengar cerita Eunhye tentang kepergiannya bersama pria bernama Minhyun itu ke pesta pertunangan Reina.

“Langkah awal yang bagus, tapi percayalah mereka tak akan mudah mengangguk dan mengatakan iya terhadap permintaanmu.” Nara mengambil sepotong soufflé sebelum kembali berujar.

“Walau ada seseorang disisi mereka, aku yakin sosokmu masih sulit terhapus dari benak dan hati mereka.”

Batin Eunhye mengelak perkataan Nara, namun sesuatu di fikirannya membenarkan.

“Pria bernama Minhyun itu, seberapa dekat kau dengannya?” tanya Nara kembali.

“Aku baru mengenalnya beberapa bulan ini, dia pria yang cukup berani menurutku. Setelah memintaku menemaninya ke acara pertunangan Chanyeol, ia menawarkan tiket liburan gratis ke Swedia.”

Nara tersedak, ia buru-buru mengambil botol air mineral dari dalam tas dan meminumnya cepat.

“Astaga Eunhye, itu bukan cukup berani, tapi sangat.”

“Jangan berpikir aneh Nara-a, sebenarnya tiket itu dari Reina, ia meminta Minhyun untuk mengajakku pergi. Tapi, aku menolaknya.”

“Chanyeol juga ikut?”

Eunhye mengangguk.

“Kalaupun aku ikut, pasti akan sulit mendapat izin dari ketua, bahkan tahun kemarin kita hanya punya waktu libur dua hari selama tahun baru. Aku juga berencana mengambil beberapa tugas tambahan di akhir tahun ini.”

“Woahh..kau benar-benar pantas mendapat predikat pegawai teladan, Eunhye-a.” Nara membenarkan perkataan Eunhye, atasan mereka memang tipikal orang yang sangat disiplin dan gila kerja pastinya.

Pembicaraan mereka terhenti sejenak ketika sebuah notif pesan muncul dari ponsel Nara.

“Dia sudah sampai.”

“Siapa?”

“Perwakilan Ahn cooperation.” Sahut Nara seraya mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan orang yang dimaksud.

“Ahn cooperation? Siapa namanya?” tanya Eunhye penasaran.

Nara lalu mengecek kembali profil akun SNS yang mengirimkan pesan padanya.

“Manajer ..Hwang…”

“Hwang Minhyun.” Sambung Eunhye cepat begitu maniknya menangkap sosok pria yang tengah turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam kafe.

“Ya itu nama lengkapnya, a…apa, jangan-jangan.” Nara melotot, pandangannya ikut menuju pada seorang pria yang saat ini tengah berjalan ke arah mereka dengan tersenyum.

“Batalkan niatmu untuk mengambil shift tambahan.”

Eunhye memandang bingung Nara yang masih tak melepas tatapannya pada sosok Minhyun.

“Pergilah ke Swedia. Tentang izin ketua, aku yang akan mengurusnya.”

          ~

Eunhye benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilakukannya saat ini. Tangannya menarik sebuah koper besar dengan hand bag  yang menggantung di jemarinya. Diam-diam ia menggerutu dalam hati, semua karena Jung Nara. Ingatannya bahkan dapat memutar dengan jelas akting melodrama Nara demi mendapatkan izin liburan dari atasannya.

Dan disinilah sekarang dia berada, bandara internasional Inchoen. Garis bibirnya terangkat begitu maniknya melihat Minhyun yang melambaikan tangan ke arahnya, diikuti Reina yang terdengar berseru, dan jangan lupakan sosok Chanyeol yang menatapnya datar.

“Maaf, membuat kalian menunggu.” Ujar Eunhye.

“Kami juga baru tiba. Wahhh, akhirnya Minhyun berhasil mengajakmu, kupikir ia serius dengan perkataannya waktu lalu untuk mengajak direktur Ahn pergi bersamanya.” Gurauan Reina ditanggapi tawa oleh Minhyun dan Eunhye, terkecuali satu orang yang mulai menarik kopernya dan bersiap melangkah menuju gate.

“Ayo” Chanyeol baru saja hendak melangkah namun Reina menahannya.

“Masih ada waktu 10 menit sebelum keberangkatan.”

“Bukankah kita sudah lengkap? Masih ada yang kau tunggu?” tanya Chanyeol, heran.

Reina tak menjawab, ia justru sibuk mengedarkan pandangannya hingga detik kemudian ia mengarahkan jari telunjuknya ke arah pintu bandara.

“Itu mereka.” Seru Reina seraya melambaikan-lambaikan tangannya ke arah dua orang yang berjalan menuju mereka.

Chanyeol menganga begitu melihat siapa yang sebenarnya ditunggu Reina. Telinganya tidak sedang mengalami gangguan bukan, malam tadi dengan jelas ia mendengar perkataan pria yang tengah memakai jaket corak daun itu-Oh Sehun, untuk menyusul kakeknya dan menghabiskan waktu liburan di New Zealand. Dan sekarang pria yang selalu mengaku lebih tampan dari dirinya itu juga berencana berlibur ke Swedia. Ia melirik ke arah Reina yang begitu sumringah, gadis itu benar-benar penuh kejutan.

Sedangkan Eunhye memekik dalam senyumnya. Ia benar-benar tak menduga rencana Reina untuk mengajak Sehun dan Sohee ikut berlibur ke Swedia.

Mereka kemudian berjalan bersama menuju gate penerbangan. Eunhye manatap punggung kedua pria yang berjalan di depannya, ini mungkin akan jadi liburan yang sulit. Sesuatu berkecamuk dalam fikirannya, perkataan Nara di kafe waktu lalu muncul dalam benaknya. Jika sahabatnya itu mengetahui situasi yang sebenarnya terjadi, ia akan barasumsi ini adalah kesempatan yang bagus.

Namun bagaimanapun juga perasaannya masih sangsi. Apakah ia harus mengikuti rencana Nara?

 

 

 

 

Author’s Notes:

Cuman mau bilang –walau agak telat

“Happy New Year 2018”

Semoga di tahun 2018 ini akan ada lebih banyak momen mengesankan untuk kita.

 

 

6 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] ENTRE (Part 6 – My first)”

  1. omaygad eunhye ayo udah sama minhyun tapi ko ada gak rela gitu ya, apa jangan jangan eunhye gak bakal sama ketiganya? :” oke ditunggu next chapternya

  2. The hell..waaahhh ayo putuskan sudah salah satu deh.. atau dua2nya..trus sama minhyun ..
    Ini gk ada yg antagonis jdi piye ini??!!!
    Gk bisa memihak!! Putuskan Thor siapa pemeran utama sebenarnya!!!!

  3. Demi dewa cabe internasional…kenapa itu lelaki lelaki ganteng harus terjebak dengan satu wanitaaaaa..aku relaaaaaa dg siapa pun hahahahaha
    Hapoy new year too……
    Jd sbnerny hati eunhye it buat siapa???aahhh q mw jadi eunbyu biar dkelilingi lelaki tampan menggoda iman

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s