[EXOFFI FREELANCE] Cruel (BAB 4: Jangan Menghilang Dariku)

CRUEL

BAB 4: Jangan Menghilang Dariku

Written by: Audrey_co

Genre: Melodrama-Romantic

Length: Chapter

Rate: Teen

Starring by: Xi Luhan and Shin Yeeun

Summary: Sebuah misteri tentang Iblis bernama Fogoh begitu menggemparkan masyarakat Korea Selatan, khususnya di distrik Gwangju. Para anak-anak yang mengalami kejadian buruk dalam hidupnya memilih untuk menjadi Iblis di tangan seorang penyihir tua. Namun berbeda dengan Luhan, ia harus menjadi Fogoh karena alasan yang berbeda. Setelah bertahun-tahun ia larut dalam kesedihan karena menjadi Iblis, tiba-tiba tuannya membawa pulang seorang gadis muda bernama Byun Sungrin. Gadis itu benar-benar membawa perubahan bagi hidup Luhan. Tapi, apakah manusia dan Iblis bisa bersatu? Apa bisa perasaan cinta ada di antara dua makhluk berbeda in?

Disclaimer: Seluruh cast milik Tuhan Yang Maha Esa, saya hanya meminjam nama mereka. Isi cerita murni hasil pemikiran saya. Seluruh adrgan dalam cerita hanya fiksi belaka demi hiburan semata. NO PLAGIAT dan silahkan komentar jika menurut kalian cerita ini perlu dikomentari.

BAB 1: Fogoh | BAB 2: Rusa Pemikat Hati | BAB 3: Penjelasan Yang Mengejutkan

※Cruel※

 

“Sebelum kau pergi, aku ingin menagih janjimu. Sekarang katakan, cara apa yang tepat agar aku bisa bermain di bawah guyuran hujan di luar sana,”

 

Astaga, aku hampir melupakannya. Sebenarnya, aku sudah menyerah untuk berpikir bagaimana caranya agar dia bisa keluar. Mataku bergerak liar menatap objek lain yang terlihat menarik—asal jangan Luhan saja. Kediamanku ini berarti satu hal baginya; aku tidak tahu caranya. Tubuhku yang kaku kemudian menjadi rileks hingga kepalaku dengan mudah mendongak sekadar menatap iris matanya yang selalu sukses membuatku candu.

 

“Luhan. Kau tahu, aku tak bisa mendapatkan jalan keluarnya—”

 

“Kalau begitu, ayo keluar!”

 

Aku terbelalak saat tangan lembutnya kini menarikku kasar. Memberontak, itu yang terus ku lakukan sampai akhirnya aku berhasil lepas dari genggamannya. Untungnya, ia berhenti dan berbalik ke arahku dengan pandangan kesal.

 

“Kau gila?! Kau ingin melanggar peraturan, ha?!” Bentakku kasar. Yeah, aku membentaknya karena terkejut dengan perubahan drastis sikapnya. Kekanakan dan memaksa! Aku benci dua hal itu dan dia melakukannya sekarang.

 

Tak sengaja aku melirik tangannya yang terkepal. Kami saling melempar tatapan amarah.

 

“Kau mau tahu apa yang akan terjadi jika aku keluar?” Dia berujar dengan nafas tersengal, tanda bahwa sebuah tekanan menahan amarahnya.

 

“Setelah aku keluar dan terkena air hujan, tubuhku akan berubah menjadi rusa. Dan jika tidak cepat-cepat di bawa ke dalam rumah, aku akan menjadi rusa selamanya. Bahkan kemungkinan terburuknya, aku bisa mati saat itu juga.”

 

Petir di luar berbunyi bersahutan, seakan mengejek ketakutanku juga suasana tegang ini dalam satu waktu. Perkataan Luhan membuat tubuhku mendadak kaku disertai hatiku yang berdenyut sakit. Mendengar kalimatnya, aku yakin ini bukan pertama kali ia mencoba untuk keluar. Mana ada Fogoh yang tahu pantangannya? Mungkin baru Luhan.

 

“K-Kalau begitu… jangan…” ujarku gugup. Perasaan yang meluap-luap membuat tubuhku gemetar tak karuan. “Aku tak ingin kehilanganmu,”

 

“Tak ada gunanya aku hidup menjadi seorang Fogoh. Lagi pula, kau nantinya akan pergi dan tak kembali. Jadi, jangan pedulikan aku dan turuti saja perkataanku ini.”

 

“Luhan!” Baiklah, emosiku semakin tersulut. Pria ini keras kepala sekali! Aku melihat pergerakannya terhenti, ia sama sekali tak menoleh.

 

“Aku menyukaimu!”

 

“…”

 

Ini gila!

 

Bukan, maksudku aku yang gila. Dua kata yang sejak dulu terpendam dalam batin kini keluar tanpa permisi dari bibirku. Astaga, mana waktunya tidak pas pula! Terkutuklah bibir laknat ini!

 

Pria itu berbalik dan menatapku dingin, “Lalu, jika kau menyukaiku, apa yang akan terjadi? Aku pikir kau paham kalau kita ini berbeda,” Suara Luhan terdengar ketus, membuatku tertohok setengah mati karenanya. Padahal dia yang selalu melupakan adanya perbedaan, tapi kenapa sekarang dia malah mengungkitnya?

 

“Lalu, kenapa kau beranggapan bahwa aku adalah mate-mu?” Tanyaku penasaran. Jujur, aku tak tahu apa yang dipikirkannya saat pertama kali bertemu denganku dan berkata bahwa kita menjadi mate.

 

“Kau memilihku sejak awal, bukan?”

 

Rupanya begitu. Aku yang memunculkan semua masalah ini dengan semua kebohongan juga ketololanku dalam menanggapi setiap perlakuan Luhan padaku. Sigh, aku yang salah di sini. Aku yang menyeret Luhan dalam sebuah masalah yang aku ciptakan hingga muncul sebuah perasaan gila yang sungguh tak masuk di akal cetekku. Rumit. Terlalu rumit bagiku gadis pemula.

 

Ceklek

 

Suara pintu yang terbuka menyadarkanku dari lamunan sesaat ini. Tak ada sosok pria kalem itu dalam pandanganku hingga kepanikan melanda jiwa ini. Perasaanku berkecamuk hingga rasanya sesak. Dengan cepat aku berlari keluar guna mencari sosok keberadaan Luhan. Pada saat itu, aku bisa bernapas lega—meski hanya sesaat—karena ia masih berdiri di sana tanpa menyentuh air basa itu.

 

“Ini masih belum terlambat, ayo masuk—”

 

“Tidak. Ini pilihanku, Sung! Kau tahu, sangat tidak enak menjadi Fogoh!”

 

“Dan kau tahu, betapa tidak enaknya saat terjebak dalam takdir ini? Aku harus menyukai makhluk sepertimu dari sekian banyak manusia yang kutemui, makhluk yang sungguh egois dan pesimis! Makhluk yang tak mengerti aku yang juga menderita karena semua ini!”

 

Kami lagi-lagi terjebak dalam perdebatan. Ia yang membelakangiku hanya diam, membiarkan derasnya air hujan menyapu indera pendengaran kami. Semoga saja Luhan mau mengerti. Bukan hanya dirinya yang tersiksa, aku juga. Tapi ia sangat keras kepala dan egois, pria macam apa itu? Seketika sosok kalem dan penyayang hilang dari karakteristiknya. Ia bukan Luhan yang ku kenal, dia lebih mirip Iblis.

 

Terkesan tiba-tiba, ia berbalik dan berjalan ke arahku yang masih setia bertengger di depan pintu. Wajahnya terlihat ceria. Otaknya tergeser atau apa? Kenapa sejak tadi ia terus-terusan membuatku terkejut dengan perubahan sikapnya?

 

“Kau percaya lah padaku, Wonsungi. Aku tidak akan lama, aku janji.” Luhan memegang tanganku erat—salah satu hal yang selalu ia lakukan untuk meyakinkanku. Kami beradu pandang, ia berusaha menyampaikan sesuatu dengan pandangan menenangkan itu.

 

“Apa pun yang terjadi, jangan dekati aku kecuali aku yang mendekatimu. Setelah kita berada di sana, aku mau kau tutup matamu dan dengarkan saja perkataanku. Mengerti?” Lanjutnya kemudian.

 

Tak ada waktu bagiku untuk menyela. Ia lagi-lagi menarikku tanpa ragu ke bawah guyuran air hujan. Satu sisi aku suka, namun sisi lainnya membuatku ingin melompat ke palung laut terdalam. Sesuatu seperti pedang menusuk hatiku berkali-kali.

 

Ia menikmati setiap bulir air yang turun membasahi tubuhnya, aku malah sebaliknya. Gerak-gerik Luhan terlihat seperti anak kecil berumur 5 tahun yang terlalu gembira hingga merentangkan tangannya lebar-lebar seraya memejamkan mata rusanya. Senyum lebar ia tampilkan padaku, namun aku tak memberikan balasan apapun. Meski palsu, aku tetap tak bisa mengulas senyumku padanya.

 

“Sekarang, tutup matamu.” Titah Luhan padaku. Membangkang tak berguna karena otak dan hatiku tak sinkron lagi.

 

Dalam diam aku menutup mataku dan mencoba ikut menikmati hujan bersamanya. Tapi tidak bisa! Tubuhku bergetar samar seiring rasa takutku yang semakin menjadi juga hawa dingin yang menusuk kulit. Kami sudah membuang waktu banyak berada di sini, kekhawatiranku yang berdasar ini menghantuiku. Detik kemudian seseorang mendekapku erat. Siapa lagi kalau bukan Luhan? Pria itu tak menangis dan malah terkekeh pelan. Sial! Dia mengejekku atau apa?

 

“Kau takut aku meninggalkanmu, hm?” Seakan membaca pikiranku, Luhan berujar dengan santainya. Kepalaku mengangguk sebagai pembenaran atas pertanyaan pria itu.

 

“Astaga, Wonsungi-ku rupanya penakut. “Aku membenamkan wajahku dalam pelukannya. Sesak, semua ini membuat dadaku sesak. Andai kau tahu itu, Luhan. Mungkin kau tidak akan tertawa keras seperti sekarang. “Dasar, rusa liar!” Gumamku pelan.

 

“Aku akan mencarimu, kau tenang saja.” Lanjutnya penuh keyakinan suatu saat kami akan bertemu lagi.

 

“Kau tahu, aku tak suka pria pengumbar janji.” Celetukku dengan suara meredam. Kepalaku tenggelam dalam dadanya, kehangatan di tengah rasa takutku sedikit demi sedikit membuatku semakin gila. Apa ini pelukan perpisahan? Ia tak pernah memelukku sebelumnya—asal kau tahu.

 

Sudah cukup! Jadilah tegar, Byun Sungrin!

 

“Aku akan mengingat ini. Rambutmu, wajahmu, senyumanmu, juga suaramu aka selalu aku ingat. Kau terlalu manis untuk dilupakan, Sung.”

 

“Aku tahu.”

 

“Aku menyayangimu, Wonsungi-ku.”

 

“Aku juga tahu itu, rusa liar!”

 

Pria itu kemudian terkekeh pelan. “Kau masih menutup matamu, bukan?” Kembali aku mengangguk.

 

Luhan melepas dekapannya tiba-tiba, membuat dahiku berkerut ria. Erangan tertahan berasal darinya. Semakin lama semakin pelan suaranya, membuatku kembali khawatir. Tanganku menutup seluruh permukaan kulit wajahku. Aku berniat membuka mata, tapi seseorang menarikku paksa ke bawah sebuah pohon besar—aku bisa merasakannya—yang ada di dalam halaman rumah itu.

 

“Kau diam di sini!” Itu suara pria dewasa yang lama tak terdengar. Langkah kakinya perlahan menjauh dariku.

 

Apa sekarang, aku bisa membuka mata?

 

Sayangnya, itu adalah pilihan yang salah.

 

Aku bisa melihat dengan jelas mata Luhan yang berwarna merah darah, juga tubuhnya yang mulai berubah menjadi rusa yang mengerikan. Tanduk runcing yang siap menusuk siapa saja, juga taring tajam yang begitu langka untuk hewan herbivora. Keterkejutanku seakan menyadarkan raga ini; aku bersalah. Tanganku menutup mulutku, suara isak tangis yang tertahan mulai terdengar. Mengerikan. Dia bukan Luhan yang aku kenal. Dia Iblis!

 

Kedua lututku terasa lemas hingga tubuhku terduduk di atas tanah yang basah. Pria dewasa itu segera membawa Luhan ke dalam. Di sana aku bisa melihat para Fogoh lain yang sudah bergerombol di depan pintu. Mereka semua menatapku dengan tatapan sedih. Aku sadar, tak ada yang bisa mereka lakukan untuk membantuku. Tak ada juga yang perlu aku sesali. Semuanya sudah terjadi. Mau tak mau, suka tidak suka, semuanya harus diterima dengan lapang dada. Aku mencoba menguatkan diri yang hampir sepenuhnya hancur karena kejadian ini. Luhan, semua ini salahku.

 

Hujan senantiasa menemaniku dalam kepedihan ini. Tampaklah si pria dewasa itu menghampiriku, mengangkat tubuhku tinggi dengan bersandar pada batang pohon. Aku merintih kesakitan, aku butuh banyak pasokan oksigen lebih demi mereda rasa sesak di dadaku yang semakin menggila. Matanya berkilat setan. Menakutkan, satu kata untuk pria itu saat ini

 

“Kau telah melanggar peraturan!” Teriaknya marah. Petir kemudian terdengar, hujan turun semakin deras. Aku yang masih terisak tak tahu lagi harus berkata apa.

 

Pria itu kemudian menjatuhkanku, lalu mendengus kesal. “Kau membuatku marah! Haruskah aku membuatmu menjadi Fogoh juga?!” Spontan aku menggeleng keras.

 

“Tidak! A-Aku tidak mau jadi Iblis seperti kalian! Aku tidak mau… maafkan aku, Ahjussi…” tanganku menangkup di hadapannya, memohon pengampunan dari pria itu.

 

“Cih, ternyata kau sudah tahu semuanya. Baiklah, aku tidak akan membuatmu menjadi Fogoh. Tapi, sebagai gantinya aku ingin seluruh ingatanmu tentang kami.”

 

Tanganya kini berada di pucuk kepalaku, melafalkan sederet mantra yang tak seorang pun tahu, dan tersenyum licik setelahnya. Aku hanya pasrah. Mungkin ini lebih baik. Kehilangan memori tentang mereka harusnya menjadi jalan keluar yang paling baik.

 

“Jangan temui kami lagi!”

 

Seketika semuanya menjadi gelap, seperti seseorang yang sengaja mematikan lampu saat aku berada di sebuah ruangan sempit yang kosonh. Tak ada lagi pria itu di hadapanku dengan senyum liciknya, tak ada lagi hujan yang seenaknya menjamah tubuhku, tak ada lagi air mata yang mengucur deras layaknya air terjun Niagara. Aku terdiam sesaat setelah membuka mataku yang terasa berat, menatap halte bus yang terlihat sepi. Hujan masih setia menemani, namun tak berani untuk membasahi sedikit pun baju seragamku. Kebingungan yang melanda membuatku berpikir apa aku baru saja berkhayal atau sejenisnya. Aku tidak ingat.

 

“Apa itu tadi?” Tanyaku lebih kepada diriku sendiri.

 

“Hey, Nak! Kau tidak naik?” Suara supir bus menginterupsi acara lamunanku. Netraku menatap bus yang berhenti tepat di depanku. Gelagatku yang terkesan gugup membuatnya menggeleng maklum.

 

“A-Ah! Maafkan aku, Ahjussi.” Dengan langkah terburu, kaki jenjangku membawa tubuhku menaiki bus yang terlihat senggang. Hanya aku, supir bus, juga para murid sekolah lainnya. Aku merasa sesuatu telah hilang. Kuperhatikan tanganku lamat-lamat, diary-ku di mana?

 

“Kurasa aku meminggalkannya di sekolah,” gumamku lebih menenangkan diriku yang mulai panik. Seketika memori tentang hari ini berputar di kepalaku. Kurasa kali ini Ayah akan memakanku hidup-hidup karena telah menampar anak koleganya.

 

TBC

 

Apa cuma gue yang gak paham pikiran haters yang nyari kesalahan EXO? Habis Baekhyun, Kai lagi? Itu haters apa dispatch? ‘-‘

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Cruel (BAB 4: Jangan Menghilang Dariku)”

  1. ahjussi itu kejm bgt ya.
    jdi kyk mn la sungrin ma luhan nntiny.
    sungrin kn dh gk ingt apa2.
    smoga luhn ma sungrin bsa bersatu apapun crany.
    gomawo thor.
    ditunggu next chapaterny

  2. tenanggg..mereka mah sebenarny ng fans,,tapi masih malu ngakuin,,makany smp segituny nyari berita biar dilirik sma uri exo..yang waras ngalah anggap aja anak kecil yang lagi minta permen tapi ga dikasih terus nangis nagmuk2 haahahahahaha
    aahhhh pantesan lulu bilang ida bakal nyariin..mungkin karena dia tahu bakal terhapus dar memori sungrin??ahh molla…akyu nunggu apdetannya aja ah biar lebih pasti hahahahahaha

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s