[EXOFFI FREELANCE] Will You be There (Chapter 3)

CYMERA_20171116_000432

Title |  Will You be There

Author|RHYK

Cast|               Rose [Blackpink]         as Ra Joona

Park Chanyeol [EXO] as Jo Chanyeol

Han Sunhwa as Han Jina

Additional Cast| Ong Seungwoo [Wanna One] as Ha Seungwoo

Length| Chapter

Rate | PG 17 (terserah kalian aja sih mau rate berapa. Baca aja. Jangan di contoh kecuali udah dihalalin *eehh)

Genre| Alternate Universe – Drama – Romance –Sad –Life –Marriage life

Disclaimer| Seluruh bagian dalam fiksi ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan dalam garis cerita, kejadian dan setting itu hanyalah kebetulan dan bukan bentuk PLAGIAT. Jika ada yang menemukan fiksi ini bukan di blog yang aku cantumkan dibawah tolong segera lapor ke penulis! Seluruh fiksi ini dilindungi oleh Hak Cipta @1005iyu.Aku mengijinkan baca tapi tidak untuk di co-paste apalagi dijadikan dokumen private. Thanks!

Keseluruhan cast hanya sebagai visualisasi, mohon untuk tidak men-judge secara negatif para pemain yang ada di fiksi penulis! Cast milik TUHAN YME, dan Ortu serta agensi masing-masing.

“Menuangkan pikiran dalam tulisan tidak semudah men-judge karya orang!So, jadilah bijak kawan.. makasih!” _RHYK, 2017

Quotes| Dalam kisah ini, akankah seseorang menantiku di sana?

Summary this Chapter| Permulaan kisah 3 insan baru saja di mulai. Ini serupa dengan takdir yang mengikuti manusia, ataukah hanya sepotong nasib yang seperti domino?

Previous Chapter| [0.1] Intro Cast >>

 [1] ] Domino >> [2] One night stand >> [3] Beautiful Nightmare

[3]

Ini seperti kau sedang bermain ke sungai dan berniat untuk membasuh wajah karena cuaca yang panas, kemudian permata yang ada di dalam air yang sungai yang jernih membuat dirimu tanpa sadar tercebur, ternyata setelah dilihat, itu hanyalah pantulan sinar mata hari pada sebuah cermin yang tercebur di sungai itu, begitu menggoda dan menyilaukan namun menipu.

∞∞∞

1 years a go..

Joona segera berlari menuju rumah paman dan bibinya yang tak jauh dari rumahnya begitu mengetahui rekening bank atas nama ayah dan ibunya telah didepositkan ke rekening pamannya dan telah dicairkan secara tunai. Setibanya di rumah paman yang nampak berantakan, Joona mengetuk pintu keras. “SAMCHEON!!”

“SAMCHEON!! BUKA PINTUNYA. INI JOONA!” gadis itu berteriak hingga level tertinggi suaranya, namun tak ada jawab dari dalam –walaupun Joona sudah tahu jawaban yang ia dapat melihat bagaimana kondisi rumah sang paman yang sudah berantakkan dari sisa sampah dan barang yang mereka tinggalkan.

“Apa anda Joona –ssi?”suara serak khas orang tua itu menghentikkan protes Joona seketika, dengan mata yang memerah menahan tangis ia menoleh ke sumber suara, ditemui seorang nenek di pintu gerbang berdiri memegang sebuah surat, Joona menjawab, “Ne..”suaranya lesu,nenek itu tersenyum sedikit dan memberikan sepucuk surat untuk Joona, “Mereka hanya meninggalkan ini.”lantas, setelah memberikan itu pada Joona, sang nenek pergi dari sana. Dengan masih menahan tangis akhirnya ia membuka surat itu dan membacanya.

[Untuk: Joona, keponakanku.

Joona, ini paman. Maaf karena pergi tanpa pamit, kami memiliki banyak hutang kepada lintah darat sehingga kami harus melunasinya dengan segera, anakku –Jihoon juga sedang sakit dan dirawat, paman meminjam uang di rekening ibumu yang ada di rumah orang tuamu. Suatu saat, pasti akan paman ganti. Aku yakin kau pasti bisa bertahan karena kau masih memiliki flat yang orang tuamu berikan, kau juga tidak punya tanggungan siapapun yang harus kau penuhi. Paman akan menghubungimu kembali nanti.]

Lantas, seusai membaca kalimat terakhir surat itu Joona menangis keras, karena merasa kesal dengan semuanya. Semuanya menyulitkan dirinya, namun ia tidak dapat marah Karena ia tahu sepupunya Jihoon memang sakit lemah jantung sehingga harus dirawat, dan biaya perawatan rumah sakit tidaklah sedikit. Dan, ia tidak dapat marah atas alasan itu.

∞∞∞

Jina kembali ke rumah sakit setelah bertengkar dengan suaminya, dan kini shiftnya sudah berakhir sejak dua jam lalu dan ia hanya duduk di emperan lorong Rumah Sakit menatap arloji di tangannya begitu jenuh. “Sudah pukul 01.20, kau tidak pulang dokter Han?”sapa seorang dokter lain dengan baju birunya yang masih ia kenakan, “Kau habis operasi, dokter Kim?”tanya Jina dibalas sebuah anggukkan singkat dokter tampan itu. “Yah, memang apa lagi yang bisa dokter bedah otak selain operasi? –kau sendiri, tidak pulang?sepertinya jam kerjamu sudah berakhir sejak tadi.”terka dokter Kim melihat wajah Jina yang muram, pasti sedang ada sesuatu dikehidupan rumah tangganya.Jina tersenyum ulas saja, ia menunduk malu karena seperti biasa orang-orang selalu dapat melihat dengan jelas suasana hatinya hanya dengan melihat sekilas mata.

“Memang sudah berakhir, dan berhenti menjadikan suasana hatiku sebagai konversasi kita. Itu membosankan, dokter Kim Junmyeon –ssi.”balas Jina setelah sempat terdiam untuk sesaat. Dokter Kim menyambut kata-kata Jina dengan tertawa renyah, “Tidak apa-apa, menyenangkan untuk menggoda seorang mantan kekasih yang kini sudah bersuami, punya hotel pula.”ledek Junmyeon yang dibalas oleh sebuah pukulan dipunggung lelaki itu, sampai lelaki itu meringis.

“Hei, hei, hentikan. Ini Rumah Sakit, dokter Han –bukan rumahmu.”katanya lagi sambil tertawa dan menahan sakit karena dipukuli oleh Jina. Memang,mereka sempat menjadi sepasang kekasih pada saat kuliah dulu, namun entah apa dan kenapa hubungan mereka merenggang dan memutuskan untuk menjadi teman baik saja. “Kalau begitu, aku pulang saja daripada harus meladeni orang sepertimu. Menyebalkan.”Jina mengakhiri percakapan mereka, lantas Junmyeon tersenyum dan berucap meski wanita itu sudah menjauh, “Kabari aku jika kau membutuhkan teman cerita.Aku siap mendengarkanmu.” Namun, Jina hanya melambaikan tangan saja dan tidak berkata apa-apa lagi.

∞∞∞

Jina menekan beberapa accurate pin dan pintu itu terbuka secara otomatis, hal pertama yang masuk ke dalam indera pengelihatannya adalah hanya ada sandal rumah di sana, itu artinya Chanyeol belum pulang, lantas ia hanya melepas sepatu heels rendahnya dan menggantinya dengan sandal rumah berbentuk kelinci. Jina menghela nafas panjang begitu hanya mendapati dapur yang rapih, ruang tv yang rapih dan juga kamar mereka yang rapih. Hanya ada banyak fotonya dengan Chanyeol saat berlibur ataupun saat mereka menikah, seperti tidak ada momen spesial di sana, sebelumnya, Jina sudah merasa puas melihat itu semua. Pertengkarannya dengan suaminya hari ini adalah sesuatu yang cukup hebat, hingga membuat mind-set wanita berlabel sempurna itu menjadi, benar –bahwa tidak mempunyai anak dalam sebuah pernikahan rasanya begitu menyiksa. Lantas,tanpa ia sadari bulir bening itu melewati sisi kulit matanya, ia hanya merebahkan matanya terpejam meski tidak jatuh langsung ke dalam tidur, walaupun istilahnya lelah sudah menjalar di seluruh tubuhnya tak terkecuali, entah itu lelah fisik karena pekerjaannya sebagai dokter anak, lelah fikiran karena memikirkan amanat Ibu mertuanya untuk mempunyai keturunan, ataupun lelah bathin karena pertengkarannya dengan Chanyeol dan lagi-lagi soal keturunan.Jina melalui malam ini dengan sepi dan bantalnya yang basah karena air mata, tanpa suaminya dan Chanyeol tak pulang malam itu.

∞∞∞

Jina terbangun oleh sebuah suara, air dan lantai yang saling bersentuhan, gemericik air yang mengalir begitu deras membuat Jina menyerah dengan keinginannya yang masih ingin tidur dan akhirnya ia membuka matanya, dan duduk –masih di atas kasur. “Chan..kau sudah pulang?”teriak Jina setengah hati, ia masih malas sebetulnya menyapa suaminya, jikalau saja –ia tidak ingat kewajibannya sebagai istri yang harus melayani suami.

“Ya.Aku melihatmu tidur sangat nyenyak, jadi aku tidak bangunkan. Kau ada perkerjaan penting pagi ini, Jina –ya?”tanya suaminya yang masih berada di toilet kamar mereka, Jina tidak menjawab dan hanya turun dari kasur, keluar dari kamar mereka lalu sebelumnya gadis itu berteriak, “Setelah selesai cepat keluar, untuk sarapan.” Jina memberikan titah yang hanya dibalas sebuah teriakan singkat, “Eo..”

Chanyeolpun keluar, sementara Jina sudah menyuap sereal gandumnya untuk yang kesekian kalinya. Ia menaruh handuk di kepalanya dengan rambut yang masih agak basah, ia duduk di hadapan Jina yang sedang membaca berita online di tablet miliknya. Chanyeol mulai mengaduk sereal miliknya dan menyuapnya, lantas mulai bicara. “Jina..”

hm..”respon Jina singkat, ia masih sibuk dengan berita yang sedang ia baca. “Maaf soal kemarin hingga aku tidak pulang semalam..” Chanyeol bersuara lagi, ia menatap Jina penuh harap, ia bahkan mengambil tablet istrinya itu yang menjadi atensi utama Jina, dan setelah itu Jina baru menatap Chanyeol meski tatapannya jenis tatapan jengah melihat suaminya sendiri. Meski tampan, bukan berarti Chanyeol dapat enak terus jika dilihat, apalagi saat suasana hatinya belum membaik seperti sekarang. “Menyebalkan memulai pagiku dengan membicarakan ini. Tapi, karena kau sadar telah bersalah atas hari kemarin, aku memaafkanmu.”

Mata Chanyeol yang tadinya penuh kecemasan tiba-tiba berubah menjadi berbinar seraya menatap Jina lagi, “Benarkah? –Ya Tuhan, beruntung sekali kau memiliki istri seperti Han Jina..”puji Chanyeol lalu mengelus rambut Jina pelan, akhirnya gadis itu tersenyum kecil, meski bukan jenis senyuman tidak marah yang biasa Jina tautkan, ia masih cukup sebal sebetulnya, namun ketika suaminya sudah mengucapkan kata maaf dan Jina masih bertanya soal yang sama –maka suaminya akan marah, dan Jina tidak mau berhadapan dengan kemarahan Chanyeol.

“Dan seharusnya kau merasa begitu, Tuan Jo.”

Setelah usai sarapan, Chanyeol segera bersiap untuk pergi ke kantor, ia bekerja sebagai direktur Hotel Venice, tempat makan siang bersama keluarga kemarin, marilah kita lewatkan karena Chanyeol merasa suasana hatinya akan memburuk jika membahas itu. Kini, setelah usai memasangkan dasi Jina memberikan jas dan tas kerja suaminya.

Lantas, Chanyeol mencium kening istrinya penuh sayang sebelum menerima jas dan tas kerjanya, Jina tersenyum sambil memejamkan matanya sejenak, lantas lelaki itu segera memakai sepatu kerjanya dan berpamitan pada istrinya, “Aku pergi, Han Jina.”kata Chanyeol tersenyum, Jina hanya diambang pintu berdiri dan melambaikan tangan, “Selamat bekerja, hati-hatilah selalu.”Jina mengingatkan, lantas, sebelum pintu tertutup kepala Chanyeol kembali menyembul, “Baiklah istriku sayang. Aku pergi.”

Dan, setelah itu pintu tertutup, tidak ada suara lagi di sana. Hanya langkah Jina yang menyeret sandal rumahnya melangkah malas menuju rak sepatu, sepatunya berantakan, -ini sangat tidak biasa untuk Jina, ia hanya menghela nafas lantas mengangkat sepatu itu dan menaruhnya di rak, bukan curiga –namun kebiasaan suaminya adalah saat suaminya tidak menaruh sepatu di rak itu artinya ia pulang dalam keadaan tidak sadar sepenuhnya atau singkatnya ia mabuk.

Jina kemudian berjalan ke toilet, pakaian kotor masih berserakan di lantai, entah apa yang membuatnya tergesa, namun ini sangat bukan Chanyeol, lelaki itu sangat rapih walaupun dalam hal baju kotor sekalipun, dan lagi, Jina yang merapihkannya namun, ia terdiam begitu mencium aroma baju suaminya yang seperti memiliki aroma lain. “Eoh..ini bukan parfum Chanyeol. Aromanya tidak sama..”gumamnya seraya mencium keseluruhan pakaian suaminya. Sebuah spekulasi muncul di kepalanya, meski Jina bukan tipe pencemburu tak berdasar, namun Jina adalah seorang yang memiliki pemikiran matang atas segala kemungkinan yang terjadi, seperti pada kasus baju Chanyeol yang memiliki aroma berbeda dari biasanya,lantas ia segera menaruh pakaian itu di mesin cuci dan mengambil ponselnya yang ada di kasur, ia menghubungi seseorang.

∞∞∞

Lelaki itu terkejut begitu mendapati nama kenalannya yang seorang dokter anak menelfonnya sepagi ini, ia baru membuka mata dan tiba-tiba saja wanita baik seperti ibu peri ini menelfonnya. Namun, ia teringat dengan pesan teks yang baru saja ia baca, akhirnya dengan ragu ia menjawab panggilan itu, dan menempelkan ponselnya di telinga.

“Halo..Eunwoo –ssi, ini aku Jina. Apa aku mengganggumu menelfon sepagi ini?” terdengar suara Jina merasa tidak enak di seberang, Eunwoo hanya terkekeh saja, “Tidak kok, Jina –ssi. Ada apa?”

“Tidak..aku hanya ingin bertanya apa suamiku ada pergi ke barmu tadi malam?”tanya Jina terdengar cemas untuk pertanyaan pertama, lantas, dengan merasa tidak enak juga akhirnya Eunwoo menjawab, “Iya, memang dia datang, aku juga tidak sempat mengobrol karena kebetulan Bar sedang ramai pada jam Chanyeol tiba. Memang kenapa, Jina –ssi?

Eunwoo berbalik tanya, barangkali saja ia bisa tahu alasan kenapa ia harus ikut dalam urusan hidup pernikahan mereka, maksudnya mengapa Chanyeol menyuruhnya untuk berbohong soal bar yang ramai dan ia tidak sempat berbincang banyak, padahal ia hanya singgah sebentar lantas pergi seperti mengejar seseorang, kenapa –ia tidak jujur pada Jina, padahal setahu Eunwoo pernikahan mereka yang keliatannya baik-baik saja dan bahagia.

Ah,begitu.. baiklah, aku hanya ingin menanyakan itu, terimakasih Eunwoo –ssi.”

Klik.

Jina mematikan sambungan via suara itu, mata wanita itu berkabut, namun dengan cepat ia menarik nafas dan menarik sebuah garis senyum di bibir tipisnya yang nampak pucat jika tidak dipakaikan pewarna bibir. “Tidak ada yang terjadi. Semuanya baik-baik saja, dan jangan mengundang fikiran buruk tentang suamimu sendiri, Jina.” Jina tersenyum pada dirinya sendiri, wanita itu memang baik, lebih dari apapun.

∞∞∞

Joona mengerang kesakitan begitu terbangun dari tidurnya, ia hanya sendiri di tempat tidurnya, orang itu tidak ada di sana. Kepalanya masih berdenyut, ia mengusap wajahnya lantas berjalan ke luar kamar dengan selimut yang menutupi tubuhnya yang masih naked. Ingatan tadi malam masih jelas memampang di kepalanya, dan membuat gadis itu tertawa sendiri. Ya Tuhan, aku tidak pernah jatuh cinta, namun aku sudah bercinta dengan seseorang yang aku kenal kurang dari sehari. Joona tidak tahu, ia terlalu bodoh atau apa karena dengan mudahnya menyerahkan kepemilikannya kepada orang yang tidak ia kenal. Lantas, ia hanya memungut baju dan hal-hal lainnya yang berserakan di lantai dan masuk ke toilet.

Lalu, inikah yang dimaksud dengan ketika seseorang sedang jatuh cinta?

Setelah 15 menit, ia keluar dari toilet dan merapihkan semuanya. “Aku akan ke sini lagi jika bertemu dengannya.”

“..Tuan Jo Chanyeol.”

Seungwoo duduk di depan pintu seraya memainkan ponselnya begitu Joona tiba di flat milik Joona. “Sedang apa kau di situ?”tanya Joona pada Seungwoo yang baru berdiri, “Aku menghubungimu, namun tidak kau jawab. Untuk itu aku kemari, aku fikir telah terjadi sesuatu.”jelas Seungwoo menatap Joona khawatir, Joona hanya tersenyum kecil, “Memang telah terjadi sesuatu yang hebat tadi malam.”sahut Joona dengan wajah cerah membuat Seungwoo ikut tersenyum, “Hal hebat apa?”tanya Seungwoo antusias, namun respon Joona hanya merangkul temannya itu dan masuk ke dalam flat. “Ada, sesuatu yang membuat anugerah dan keberuntunganku kembali.”katanya lalu melepas sepatu, diikuti dengan Seungwoo yang terlihat senang, karena Ra Joonanya yang lama telah kembali.

“Apa ini? Kau mulai jatuh cinta pada seseorang?”tanyanya terlihat ingin tahu, Joona hanya menaikkan bahu sambil tersenyum begitu ceria, “Entahlah, untuk pertama kalinya aku merasa hidup bersemangat setelah dua tahun.”seru Joona sangat bahagia, “Karena ini adalah hari dimana Ra Joona telah kembali, aku akan mentraktirmu sarapan hari ini.”

“Benarkah?Wah!ide bagus. Itu menghemat uangku, terimakasih Seungwoo –ku.” Joona tertawa girang seperti anak kecil yang baru mendapatkan hadiah yang dia inginkan. “Iya, tapi hanya jjajangmyeon.” Seungwoo tertawa, lantas Joona kembali murka, “Yak!” ia mendengus seraya memukul punggung Seungwoo hingga lelaki itu kesakitan.

∞∞∞

3 Months later…

Sebuah pagi membangunkan Joona dengan rasa mual yang tak karuan. Lantas, ia memuntahkan seluruh makanan yang tercerna di lambungnya. Dengan wajahnya yang masih kacau, ia mengangkat sebuah panggilan, “Halo?”

**

Sementara Jina dan Chanyeol harus terbangun di Kamar mewah ini lagi dalam dua minggu terakhir, ini bukanlah kamar mereka di rumah. Namun, ini adalah rumah keluarga besar Jo dimana penghuni utamanya ada Tuan Jo dan Nyonya Jo, yang tidak lain adalah orang tua Chanyeol atau ayah dan ibu mertua Jina. Mereka sendiri memiliki alasan yang tak berdasar jika difikir lagi, bagaimana bisa, alasan mereka yang tidak tinggal di Rumah besar ini yang menyebabkan keduanya belum mempunyai seorang keturunan hingga sekarang, sangat tidak masuk akal dan konyol, bukan?

“Sampai kapan kita harus tinggal di sini?”tanya Jina diawal pagi yang cerah ini, tentu masih berbaring di sisi Chanyeol, yang segera dibawa oleh suaminya ke dalam dada bidang lelaki itu. Chanyeol hanya menghela nafas panjang seraya tangannya yang mengelus punggung Jina lembut. “Tinggal di sini menekanmu ya?”tanya Chanyeol dengan suara beratnya, ia paham betul dengan pemikiran Jina, walau kadang pemikiran gadis itu kelewat polos atau memang terlalu baik? Padahal, setahu Chanyeol orang tua –bahkan satu sanak keluarga Han tidak ada yang sebaik dia. Kecuali, Sejong yang merupakan sepupu Jina yang kini masih melaksanakan pendidikannya di Austria dia adalah versi tomboy dari Jina namun tak kalah baik sama seperti Jina.

Jina hanya terdiam memutuskan tak menjawab pertanyaan suaminya, namun Jina punya sebuah jawaban dan itu adalah benar, tinggal di sini sungguh membuat frustasi. Mungkin, kalau saja Jina bukan dari orang yang berpendidikan dan terpandang pasti keluarga Jo tidak akan menerimanya sebagai seorang menantu. Dan, suara lain menyeru dari luar kamar Jina dan Chanyeol berada, “Jina, Chanyeol? Cepat bersiap, kita akan sarapan. Ada yang ingin Tuan Jo bicarakan, cepat!” itu adalah suara Nona Hwang, yang merupakan anak dari Ahjussi Hwang merupakan supir keluarga Tuan Jo.

Mendengar itu, Jina dan Chanyeol hanya saling duduk dan melempar pandang lalu memutar mata mereka masing-masing. Apalagi yang akan dipidatokan oleh orang tua itu pagi ini? Dan, mereka tahu jawabannya, hanya jika mereka sudah duduk di meja makan bersama beberapa anggota keluarga yang lain.

Dan Jina bersumpah bahwa ini sungguh mimpi buruk untuknya. Tentu, tanpa gadis itu tahu –ada sesuatu yang lebih buruk daripada pidato pagi rutin yang ia dengarkan. Dan, jika pidato mertuanya membuat hari-harinya terbalik dengan kefrustasian, maka yang lebih dari mimpi buruk ini akan membalikkan hidup seorang Han Jina, atau mungkin memusnahkan keinginan Keluarga Jo, bahkan pasangan suami –istri itu, tanpa mereka bisa menduganya.

To Be Continued..

Uda sampe chapter 5 nulisnya.. terus stak, bukan stak ide.. cuman lagi buat hold me tight versi baru wkwkwk.. ada yang mau baca?

Buka wattpad yaa dan follow akun ku di @krinvi

Maacih

11 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Will You be There (Chapter 3)”

  1. Aduhh kasihan jinaa… knapa orang sebaik dia harus di sakitiii , dasar gak memikirkan perasaan oranglain jadinya jina yang terluka.. aku rasa chap selnjutnya mungkin akan lebih menyakiti jinaa.. tapi aku harap tidakk .. makasih yaa ceritanya👍🏻

  2. Duh.
    yg jht dsini sp ya.
    kasian jina .Dia terlalu baik untuk disakiti terlebih lgi sma org yg dicintainy.
    chanyeol knp dirimu tega sich.
    Joona sudh jtuh cinta sma org yg slh. bahkn dia sudh memberikn sesuatu yg berharga pd diriny untuk chanyeol. q tkut joonany sdih bgt ktika tahu chanyeol sudh beristri. Psty dia berpikir dia itu sebagai pelakor
    Duh deg2 kn nggu chapter selanjutny.
    smangt ya thor.

  3. jangka waktunya panjang yaa buat bisa hamil.. 3 bulan…. apa selama 3bln itu mreka masih sering ketemu, chanyeol abis nglakuin langsung ditinggal pergi aja…dasarrr
    gak ninggalin memo atau no telpon mungkin… wewww

  4. Keberuntungan yang tersembunyi dibalik penderitaan…😂
    Yang sabar ya Joona…
    Terus buat Jina… Tetap kuat Yaaa…. Setiap orang memang punya takdirnya masing-masing…😁
    Ditunggu chapter selanjutnya Thor…

  5. tuu kan joona hamil .. tpi kasian juga jina nya’ dia terlalu baik buat di sakitin. 😢😢
    ra joona dia bahagia mzti nglakuin one naigh sama orang yg baru di kenal. ( aneh ..)
    tpii yaaa kalo emang udah takdir selalu aj ad jalan.
    bakal gimana jalan rumit mereka sebernya ??? susah di tebak. !! gimana bisa mereka masih saling terhubung ??? ( pusing saya ) 😁😁😁

    . aq tunggu crita lnjut joona chanyeol ka…..
    dan makasiih udah update. .. 💪💪

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s