[EXOFFI FREELANCE] In Our Lovely Destiny (Chapter 6)

In Our Lovely Destiny

.

Rhee’s present

.

Starring by : Byun Baekhyun│Han Yu Raa

Supported by : Yoona (SNSD) a.k.a Han Yoona │ Kim Jongin-Kai │ and others

.

Summary : “Ketika takdir mempermainkanku, kau hadir dan membuatku kembali percaya.”

Disclaimer : Semua Cast milik Tuhan. Ide cerita murni milik Author, jika terjadi kesamaan karakter atau ide itu murni ketidak sengajaan. Cerita ini adalah fiksi semata, tidak ada maksud untuk menjatuhkan satu karakter… SO… ENJOY READING.. ^^

∙◦∙♪♫♪~♪♫♪∙◦∙

  1. Han Yu Raa Surrender

    Sabtu biasanya menjadi hari dimana aku akan seharian berada di club dan berlatih, dan sesungguhnya aku sedikit ragu untuk bangun pagi dan berangkat kesekolah karena aku belum mempunyai kegiatan lain untuk diikuti.

    Sebenarnya Kristal mengajakku untuk ikut dalam club-nya, tapi club-nya benar-benar tidak sesuai denganku.

    Sastra?

    Ayolah.

    Yang benar saja Kristal.

    Dan yang lebih parah adalah Jin Ah yang mengajakku untuk bergabung dengan club dance yang mana ketuanya adalah si hitam berengsek itu. Tidak, bahkan aku tidak akan pernah mau menginjakkan kakiku di club-nya. Dan juga, tubuhku terlalu kaku untuk menari.

    Taeyeon mengajakku untuk masuk club music, sejujurnya aku tidak terlalu keberatan. Walau tidak bisa bernyanyi tapi aku bisa memainkan piano dan gitar, keahlian Nan Cho yang diajarkan olehnya dulu. Tapi… Yoona juga berada di club itu.

    Ini membuatku gila.

    Tidak adakah hal lain yang bisa ku lakukan selain renang?

    Aku duduk di kelas sendiri di saat yang lain sibuk dengan kegiatan di club masing-masing, hanya sedang memikirkan apa yang pantas untuk diriku. Yang pasti ketiga club itu aku coret dari daftarku, terutama sastra. Aku tidak akan mau menemui Guru Ahn terlalu sering, cukup 3 kali seminggu dan juga saat konseling. Jika ku tambah dengan seharian di dekatnya di hari Sabtu maka aku akan benar-benar menjadi gila oleh suaranya.

    “Memikirkan aku, Han Yu Raa?”

    Aku melompat kaget karena suara yang menusuk ke gendang telingaku, kudapati Guru Ahn berdiri diambang pintu dengan melipat kedua tangannya di dada.

    Bahkan hanya dengan memikirkannya, dia sudah berdiri tepat di hadapanku. Sungguh membuat bulu kuduk ku merinding. Ia lebih menakutkan dari hantu, apalagi tatapannya yang seolah berkata ‘Mati kau! Aku mendapatkanmu sekarang!’

    Aku berdiri tegap menghadapnya, ia berjalan tepat kearahku masih dengan tatapan tajamnya. “Kau pikir, kau bebas di hari Sabtu ini?” ,tanyanya dengan nada mengancam.

    “Aku sedang memikirkan club mana yang akan aku masuki.”

    “Jangan mengelak.” ,sanggahnya. “Aku begitu mengenalmu, Han Yu Raa. Ku jamin kau pasti lebih memilih untuk pulang, bukan?”

    Dia tau apa yang ada dipikiranku? Aku memang berencana untuk pulang jika aku tak kunjung mendapatkan pencerahan tentang club yang akan aku masuki.

    Kulihat ia menyeringai, “Ikuti aku.” ,perintahnya yang ku setujui dengan mengikutinya dari belakang.

    Kemana ia membawaku?

    Entahlah, aku juga tidak tau. Mungkin akan menceramahiku habis-habisan dan akhirnya aku harus masuk ke dalam club-nya. Dengan begitu selama satu semester ini akan ku pastikan bahwa aku tuli karena mendengar ocehannya terus menerus.

    “Masuk.”

    Aku mendongakan kepalaku, menatap lift yang sudah terbuka. Kemana ia akan membawaku, atap?

    Tapi untuk apa?

    Dengan ragu aku menuruti permintaannya untuk masuk kedalam lift khusus untuk guru itu. Aku menatapnya dari belakang, sudut bibirnya membentuk lengkungan bahkan sangat kentara dari samping. Apa yang di rencanakannya?

    “Kau ingin membawaku kemana?” ,tanyaku penasaran.

    “Lihat saja.” ,balasnya.

    Setelah sampai, kami berjalan menuju atap sekolah dengan lapangan basket yang sudah tidak terpakai lagi. Tempat aku dan Baekhyun kemarin berada dan berakhir dengan di hukum. Saat tepat melewati pintu, aku melihat Yoona yang sedang duduk di bangku kayu usang bersama dengan Baekhyun di sampingnya. Entah kenapa, rasanya aku tidak begitu suka melihat mereka terlalu dekat seperti itu.

    Jika ku pikirkan lagi, bukankah mereka terlalu dekat? Bukankah Yoona tidak memiliki teman? Lalu kenapa mereka selalu begitu dekat?

~ Menjengkelkan!

    Dan seorang lagi yang baru mengalihkan atensiku, si hitam berengsek – Kai. Dia berdiri dibawah ring basket yang tingginya hampir sama dengan tingginya. Wajahnya penuh dengan bekas luka.

    Tunggu dulu?

    Bekas luka?

    Aku mengalihkan pandanganku ke Baekhyun yang juga memiliki beberapa bekas luka di wajahnya, tapi sudah beberapa yang di beri plester. Ada apa ini? Apa yang aku lewatkan?

    “Kumpul.” ,suara Guru Ahn begitu lantang terdengar diantara kami. Perlahan mereka mendekat menuju kami.

    Aku melihat Guru Ahn yang sedang tersenyum puas melihat kami semua, di tangannya sudah berada sapu dan barang lainnya, yang entah untuk apa. Sejak kapan ia memegang semua itu?

    Dia menyerahkan semua itu kepada kami, masing-masing dari kami memegang sapu, sarung tangan dan plastik. Aku menatapnya dengan tanda tanya besar, ku yakin ia bisa melihatnya.

    “Nikmati hukuman kalian.” ,ujarnya selanjutnya.

    Hukuman?

    Tapi apa yang kuperbuat?

    Lalu apa yang mereka perbuat?

    Kenapa mereka hanya diam menerimanya?

    Lagi-lagi seolah mengerti isi pikiranku, Guru Ahn menjawab. “Membolos.” ,aku mengikuti tatapan tajam mata guru Ahn yang merangah kepada Yoona yang hanya menunduk. Dan selanjutnya matanya mengarah kepada Baekhyun dan Kai yang terlihat tidak acuh, “Berkelahi!” ,lanjut guru Ahn dengan penekanan.

    Mataku membulat mendengar kata berkelahi yang keluar dari mulut Guru Ahn, Baekhyun dan Kai berkelahi? Apakah itu sebabnya muka mereka seperti itu?

    “Cepat kerjakan dan selesaikan sebelum club di mulai.” ,perintahnya.

    Aku masih menganga sempurna, lalu apa salahku? Kenapa aku di hukum?

    Aku menatapnya yang mulai berjalan menjauhi kami, “Lalu apa salahku? Aku tidak melakukan sesuatu apapun?”

    Guru Ahn berbalik menatapku, “Jika ku katakan maka kau akan malu di depan mereka.”

    Jawaban apa itu? Sebenarnya kenapa dengan Guru Kejiwaan ini?

    “Kau hanya menulis satu kalimat dari sepuluh lembar surat permintaan maaf yang harus kau penuhi.” ,ujarnya, yang sontak mengundang tawa renyah dari ketiga orang dibelakangku.

~ Bagus Han Yu Raa. Seharusnya kau tidak usah bertanya. Bodoh!

    Dua jam berlalu dengan tenang.

    Maksudku, benar-benar tenang. Tidak ada perbincangan apapun antara kami. Bahkan seolah kami membagi daerah yang akan kami bersihkan sendiri, kami saling memunggungi satu sama lain. Yoona yang paling cepat membersihkan, sedangkan Baekhyun dan Kai terlihat beberapa kali menggerakkan badannya seolah sangat terlihat lelah atau karena badan mereka sakit karena berkelahi. Entahlah.

    Dan aku yang paling sering membalik badan untuk menatap mereka.

    Bukankah ini sudah terlalu kacau?

    Bukan keadaannya, tapi saat ini kami menjalani hukuman bersama. Maksudku sebenarnya hukuman ini terjadi karena satu masalah yang sama, kecuali jika Kai dan Baekhyun berkelahi karena hal lain maka mungkin itu tidak di hitung.

    Tapi kenapa mereka berkelahi? Kapan mereka berkelahi?

    Aku melihat Baekhyun kemarin sore di pemakaman. Tapi melihat bekas lukanya itu tidak mungkin terjadi pagi ini.

    Beberapa menjadi spekulasi yang berputar diotakku, tapi sungguh tidak ada yang tepat. Rasa penasaranku begitu jauh. Haruskah aku bertanya?

    Aahh… lupakan.

    Mereka mungkin akan mengabaikanku.

    “Apa yang sebenarnya terjadi?” ,tanyaku tanpa sadar. Kenyataannya aku tidak bisa mengabaikannya, kami saling berhubungan karena hal yang tidak seharusnya. Dan sejujurnya aku sedikit merasa bersalah.

    Mereka menoleh kearahku, aku membuang asal sapu dari tanganku. Mataku menatap kearah Baekhyun dan Kai. Aku tau alasan Yoona membolos adalah menghindariku, mungkin memang buruk jika bertemu denganku. Lalu apa alasan mereka berkelahi? Dan aku menuntut jawabannya.

    Baik Baekhyun dan Kai memalingkan pandangannya dariku, setidaknya Kai hanya terdiam dengan posisi yang sama, tapi si Byun itu malah kembali mengerjakan hukumannya. Dia benar-benar mengabaikanku, aku benci itu, terutama jika ia yang mengabaikanku.

    Aku menatap Yoona yang mengalihkan pandangnya juga, “Jawab.” ,kataku ketus.

    Yoona menatapku, “Mereka berkelahi. Kau dengar Guru Ahn, bukan?”

    “Aku dengar, sangat jelas. Tapi, bahkan dua ekor anjing berkelahi karena suatu alasan. Lalu apa alasannya?”

    Aku kembali menatap Kai yang melihatku dengan pandangan yang tidak bisa ku artikan. “Tidak ada alasan.” ,jawabnya singkat.

    Aku tertawa sinis, “Kalian mempermainkanku? Aku tau Guru Ahn melakukan ini karena semua ini saling berhubungan. Jangan menganggapku bodoh, karena aku tidak.”

    “Kalau begitu tanyakan padanya,” Kai melemparkan pandang kepada Baekhyun yang masih sibuk dengan kegiatannya. “Dia yang datang dan menghajarku semalam.”

    Kai berbalik dan kembali mengerjakaan hukumannya, aku menatap punggung Baekhyun yang juga tidak kunjung berbalik. Ia seolah mengabaikan dan tidak mendengar apapun.

    “Lupakanlah, apa yang kau inginkan memangnya?” ,Yoona angkat bicara dan ikut berbalik melanjutkan kegiatannya.

    Aku sungguh bosan dengan ini.

    “Yang ku inginkan?” ,seharusnya tidak kuizinkan diriku terlalu jauh. Karena ku jamin yang keluar selanjutnya adalah hal yang akan menyakiti hati Yoona, tapi… aku tidak bisa menahannya lagi.

    Yoona masih tidak bergeming, “Kau ingin tau apa yang kuinginkan?’ ,ucapku dingin.

    “Hentikan.” ,Baekhyun menginterupsiku. Dia bangkit dan menatapku, “Jika kau tau bahwa guru Ahn melakukan ini karena satu hal yang berhubungan, maka seharusnya kau yang paling tau apa itu.”

    Aku mendengarkannya, “Itu pasti karena dia yang melakukan hal bodoh tempo hari.” ,Baekhyun menunjuk kepada Kai.

    Aku tau. Pasti itu, karena hari itu.

    Tapi kenapa? Kenapa Baekhyun harus berkelahi karena hal itu?

    “Karena aku menyukai Yoona. Haruskah sejelas itu, Han Yu Raa.”

~ Maka dengan ini aku menyerah.

∙◦∙♪♫♪~♪♫♪∙◦∙

    Rasanya sangat tidak nyaman, apa yang dikatakannya begitu terlihat sungguh-sungguh. Lalu apa masalahnya? Itu juga bukan masalah untuk siapapun. Mereka memang terlihat begitu dekat untuk sekedar dikatakan sebagai teman. Tapi kenapa aku yang menjadi tidak nyaman?

    Aku mengusak rambutku sendiri, aku tidak pernah merasa begitu frustasi hanya karena ucapan seseorang. Tapi kenapa denganku yang sekarang?!

    Aku mengutuk jiwaku sendiri berkali-kali yang tidak berhentinya memikirkan perkataan Baekhyun. Itu terdengar jelas di telingaku dan rasanya sangat mengganggu.

    Sepertinya memilih berjalan-jalan pun tidak mengubah keadaanku, beralasan ingin membeli keperluan bulanan dan keluar sendiri tanpa si pengacara Cha malah membuatku semakin memikirkan perkataan Baekhyun di atap.

    ‘…aku menyukai Yoona…’

    Aku menutup telingaku, kata-kata itu selalu terngiang begitu jelas di telingaku. Setan apa yang berada disampingku sampai terus menerus membisikkannya?

    ‘Haruskah sejelas itu, Han Yu Raa.’

    Benar? Apa aku yang bodoh dengan tidak mengerti keadaan? Haruskah aku bertanya hal yang seharusnya ku biarkan saja? Lagipula kenapa memang jika mereka berkelahi?

~ Hah… bodohnya aku.

    Aku kembali berjalan dengan mengeratkan jaketku, sudah ku putuskan untuk tidak memikirkannya walau itu selalu terlintas di kepalaku. Haruskah aku pindah sekolah lagi saja?

    Tapi untuk apa? Memangnya kenapa jika Baekhyun menyukai Yoona? Apa yang salah dari itu?

    Tapi jika mereka berkencan bukankah itu hal yang mengerikan? Maksudku, Yoona dengan sifatnya tidak jauh berbeda dengan Baekhyun. Pasangan macam apa itu?

    Lalu kenapa juga aku harus memikirkan pasangan macam apa mereka? Ini juga tidak berhubungan dengan diriku.

    “Awas!”

    “Aaaa!!” ,aku terkejut bukan main ketika sesuatu jatuh tepat di depanku, aku menunduk dan memejamkan mataku seketika mendengar teriakan sebelum suara sesuatu yang menghantam jalanan terdengar begitu nyaring.

    Detik selanjutnya aku mendengar suara orang meringis, aku membuka mataku dan menemukan si hitam berengsek berada di hadapanku yang meringis kesakitan sembari memegangi sesuatu di tangannya.

~ Kucing?

    Kai – si hitam berengsek – berdiri secara perlahan dan meletakkan anak kucing yang di pegangnya di sisi jalan.

    “Lain kali hati-hati, mengerti?”

~ Apa dia gila?

    Selanjutnya dia berjalan dengan kaki tertatih menghampiriku. “Kau tidak apa?”

    Aku menatapnya tajam, “Jantungku hampir copot, bodoh.” ,makiku.

    Dia menghembuskan nafasnya lega, “Syukurlah.”

    Aku tertawa sumbang, menahan rasa kesal. Dari sekian luas tempat di Seoul kenapa orang ini yang kutemui saat hatiku sedang kacau? Melihatnya hanya membuatku ingin melempar batu ke kepalanya dan merobek mulutnya.

    Dia kembali berjalan dengan susah payah, menyeret kaki kirinya. Yang kulupakan setelah beberapa saat adalah dia yang terlihat terluka dan terus meringis memegang siku kananya. Aku menatap keatas dan terbelalak terkejut kemudian, apa dia jatuh dari pohon mapel yang tinggi di hadapanku ini?

    Aku melihat kearah anak kucing yang di pegangnya tadi, ia menyelamatkan anak kucing itu?

~ Tidak mungkin.

    Dia duduk di kursi yang tepat menempel di bawah pohon mapel dan merenggangkan kakinya, kurasa ia terkilir karena terjatuh. Wajar saja, jarak pohon dan lantai trotoar ini sangat jauh dan dia mendarat dengan badannya dulu yang menghamtam trotoar.

    Aku melihatnya yang sesekali meringis, sikunya berdarah dan ia hanya meniup-niupnya pelan. Apa dia bocah bodoh?

    Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya, “Apa kau bocah bodoh?”

    Aku menarik tangannya kasar membuatnya mengaduh karena gerakanku yang kasar, membuatku merasa tidak enak hati karena membuatnya merasa sakit. Aku meraih sapu tangan yang berada di saku celana, aku menyeka darah yang keluar dari sikunya dan melilit sapu tanganku kesikunya. Ia memperhatikan dengan diam tapi masih dengan wajah yang meringis menahan sakit.

    Wajahnya sangat banyak lebam, apakah ia tidak mengobati lukanya?

    Seketika rasa bersalah menjalari hatiku, walau Baekhyun menghajarnya karena rasa sukanya kepada Yoona, tapi yang menyebabkan masalah itu adalah aku bukan?

    Dan aku selalu merasa bahwa akulah yang benar, apakah aku begitu egois?

    Jika aku tidak bertindak yang berlebihan kepadanya mungkin hal itu tidak akan terjadi dan dengan kata lain awal mula masalah ini adalah diriku sendiri.

    “Kupikir kakimu terkilir.” ,kataku.

    “Aku tau.”

    Aku menatapnya, “Apa yang kau lakuakan sampai bisa jatuh dari pohon maple itu?”

    Dia melirikku sekilas sebelum menjawab pertanyaanku dan berdeham kemudian, “Berhenti seolah tidak mengetahui apa yang kulakukan.”

    Aku tertawa, “Kau menolong anak kucing itu?” ,detik selanjutnya adalah aku yang tertawa terbahak. Siapa yang percaya jika manusia hitam berengsek ini membantu anak kucing ketika dia suka membully anak-anak lemah? Mohon seseorang segera menghentikan lelucon ini.

    “Jangan bercanda.” ,aku berujar disela tawaku.

    Kai mendengus, setengah kesal dengan reaksiku yang menertawakannya. “Masa bodo.” ,gumamnya.

    Dia segera bangkit dari duduknya, menyeret kakinya dengan cepat untuk menjauhiku dan baru beberapa langkah ia malah tergelincir dan kembali jatuh di trotoar. Aku segera berdiri dan membantunya untuk berdiri, dia mendorongku pelan berupaya agar aku tidak membantunya lagi.

    “Kau tau apa?” ,ucapnya sinis. “Orang tua kucing itu meninggalkannya sendiri, jika aku bertemu dengan orang tua si kucing maka pasti akan ku bunuh.”

    Aku tertawa kecil, Kai masih menatapku dengan tatapan tidak senang karena ku ketawai. Tapi bukan dirinya yang begitu lucu, itu adalah sikapnya. Nan Cho pernah berkata bahwa orang sekeras batu pun mempunyai sisi lembutnya, dan Kai adalah ungkapan dari semua perkataan Nan Cho.

    Aku memandangi Kai yang masih sibuk membersihkan bajunya dari beberapa kotoran di bajunya, “Dimana rumahmu?”

    “Kenapa? Kau mau menerorku?”

    Aku memutar bola mataku malas, “Aku berencana mengantarmu pulang, kau tau? Lihat kakimu, bahkan kau berjalan dengan menyeret kakimu. Itu akan semakin membengkak jika di paksa berjalan.”

    Kai terdiam sejenak, menatapku dan kembali menatap kaki kirinya, beberapa detik kemudian dia mengalungkan tangannya di pundakku. “CeongDam Apartement. Antar aku kesana.”

    Aku masih terkejut dengan perlakuannya, menatapnya dari samping. “Aku tidak ingin memperparah pergelangan kakiku, aku ada lomba menari kurang dari satu bulan lagi. Jadi jangan terlalu percaya diri, mengerti?”

    Aku kembali tertawa sumbang dan mengumpati sikapnya yang seenaknya dan mulai berjalan menuju apartementnya. Sesekali ia protes karena aku yang berjalan terlalu cepat, rasanya membuatku ingin menendang pergelangan kakinya. Atau mungkinkah aku akan menggiling kakinya dengan ban motor?

    “Lakukan dengan benar, kau membuat kakiku tambah sakit.” ,protesnya lagi.

    “Aku akan benar-benar meninggalkanmu jika kau terus menerus mengeluh.” ,gerutuku.

    Seketika langkahnya berhenti, aku mengangkat kepala dan menatapnya, apa dia kesakitan?

    “Ada apa? Apa sakit?”

    Kai hanya diam dan semakin mengeratkan tangannya di pundakku, membawaku semakin mendekat kepadanya. Matanya menatap tajam kedepan, aku mengikuti arah pandangnya. Melihat Baekhyun dan Yoona yang berdiri tepat di depan kami, mata Baekhyun sangat tajam seperti ingin membunuh Kai saat ini juga.

    Aku melihat Baekhyun menggenggam tangan Yoona dan memasukkannya kedalam saku mantelnya.

~ Haruskah kau memperjelas kepemilikanmu?

♪♫~To Be Continued~♫♪

4 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] In Our Lovely Destiny (Chapter 6)”

  1. uannnjjeeerrrrrr cabeeeee bisa agresif juga ternyataaaa hahahahhaha
    baek sukany sama siapa eoh????apa gara2 omongan ceye kemaren makanya bela2in yoona smp mukulin kamjong???ckckckckckck
    tapi si item juga kenapa jadi agresif?jangan jngan?????

  2. Makasih udah update kak. Ini salah satu​ff yg paling aku tunggu2 updatenya. Keep writing. I’ll wait the next Story of this your ff. I hope you could update it soon and routine…
    Btw kak.. sumpah 😆 aku suka banget jalan ceritanya. Gregetan sendiri jadinya. Plissss kak cepat update. Dan pleasee buat sampe bener2 end. Banyak ff bagus tapi akhirnya stuck sebelum end. Aku ga mau ff ini juga gito. Karena ff ini bener2​ bagus dan ane suka. Great job kak

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s