[EXOFFI FREELANCE] Promise (Chapter 14)

Poster Promise (약속)3

Tittle        : PROMISE (약속)
Author        : Dwi Lestari
Genre        : Romance, Friendship

Length        : Multi Chapter

Rating        : PG 17+

Main Cast    : Han Sae Ra (Elena), Park Chan Yeol (Chanyeol)

Support Cast    : Byun Baek Hyun (Baekhyun), Oh Sehun (Sehun), Kim Jong Dae and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Park Chanyeol adalah pewaris tunggal S&C Group yang baru saja kembali ke Korea setelah sekian lama tinggal di Amerika untuk mengelola perusahaannya, dan juga dalam rangka mencari teman kecilnya Minnie karena janji yang telah dibuatnya sewaktu kecil. Akankah dia dapat menemukannya dan menepati janjinya?

Disclaimer    : Alur dan ceritanya murni buatan saya. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note    : Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa komennya. No kopas, no plagiat. Sorry for typo. Happy reading.

Chapter 14 – Dinner

Eomma. Apa Lee Nami adalah nama asliku? Kenapa aku memimpikan hal itu?”, ucap Saera. Tangannya menggenggam erat tangan ibunya yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Setitik air mata jatuh begitu saja melewati pipinya. Rasa sesak tiba-tiba datang menghampirinya. Begitu sakit setiap mengingat kenyataan itu. Kenyataan jika dia bukanlah putri kandung wanita dihadapannya.

Pintu ruang inap itu terbuka. Buru-buru Saera menghapus air matanya. Dia menoleh kemudian, melihat siapa gerangan yang tengah datang.

“Saera kau disini”, ucap orang yang baru datang tersebut.

Saera tersenyum. Mengangguk kemudian. Pandangannya ia alihkan kembali pada ibunya. “Kau baru datang?”, tanyanya.

“Aku mau pulang malahan”, jelas Baekhyun. Dia ikut duduk di samping Saera.

“Kau tugas malam kemarin?”, tanya Saera kembali.

Baekhyun mengangguk diselingi senyum manisnya. Senyum yang mampu membuat Saera lupa sejenak dengan masalahnya. Senyum yang mampu membuat hatinya menghangat. Kenapa dia baru menyadarinya jika senyum pria itu mampu menenangkan hatinya.

“Kenapa menatapku seperti itu?”, tanya Baekhyun yang mendapat tatapan aneh Saera. “Aku memang belum mandi. Jadi tidak usah memandangku seolah aku ini makhluk paling menjijikan di bumi”, lanjutnya.

Saera tersenyum. Dia tak pernah bermaksud memandangnya seperti itu, tapi pria itu salah mengartikannya. “Kau sudah sarapan?”, tanya Saera yang mengalihkan pertanyaan. Dia tahu jika pria itu sedang berniat melucu, hanya saja dia sedang tak ingin menanggapinya.

Baekhyun menggeleng. “Aku baru selesai memeriksa pasienku. Jadi belum sempat mencari makanan”, jelasnya.

“Jika aku tahu kau jaga malam, aku akan membawa sarapan untukmu. Maaf ya, aku lupa”, terdengar nada menyesal disetiap ucapannya.

“Aku sudah tahu”. Baekhyun mendorong pelan kening Saera dengan jari telunjuknya. “Dasar gadis pelupa!”, umpatnya kemudian.

Saera hanya tersenyum menanggapinya. Entah mengapa dia tak berminat membalasnya. Biasanya dia akan memukul kepala pria itu jika pria itu melakukan hal tadi. Tapi kali ini berbeda, hanya senyum yang dapat dia lakukan. Meski itu sebenarnya senyum yang dipaksakan.

“Kau tak seperti biasanya Saera. Apa kau punya masalah? Atau kepalamu masih pusing?”, tanya Baekhyun dengan nada khawatirnya.

Saera menggeleng. Dia juga mencoba tersenyum. Senyum yang kembali ia paksakan.

“Kau tak bisa membohongiku Saera”, ucap Baekhyun tak mau kalah. Dia tahu betul jika sahabatnya itu tengah memendam sesuatu. Dia juga bisa melihat senyum gadis itu bukanlah senyum tulus melainkan senyum yang dipaksakan.

Saera masih terdiam. Tangannya terulur kemudian. Menarik pinggang pria itu ke dalam pelukannya. Dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu.

Baekhyun sempat kaget, namun dia akhirnya membalas pelukan gadis tersebut. Dia juga mengusap pelan punggungnya. “Kau baik-baik saja?”, tanyanya dengan lembut.

Saera hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia masih nyaman dengan posisinya sekarang. Pelukan itu membuatnya sedikit merasa lebih tenang. Meski tak sepenuhnya hilang, tapi dia bersyukur bisa mengurangi beban fikirannya.

“Jika kau memang punya masalah, kau bisa mengatakannya Saera. Kau tak perlu memendamnya”, ucap Baekhyun.

Saera masih enggan menjawab. Dia masih diam seribu bahasa. Dia juga masih terlihat nyaman dengan posisinya.

Baekhyun merasa tak enak. Ini kali pertama gadis itu enggan menceritakan masalahnya. Apa sebegitu sakitnya hingga ia enggan mengungkapkannya? Atau memang ini belum waktunya? Baekhyun menghela nafasnya sejenak, mencoba berfikir positif tentang gadis yang tengah memeluknya.

“Aku belum mandi Saera. Sampai kapan kau akan memelukku seperti ini? Apa kau tak mencium bau tak sedap dari tubuhku”, ucap Baekhyun sedikit melucu.

“Sebentar saja Baekhyun”, ucap Saera cukup lirih, namun masih bisa didengar oleh Baekhyun.

Baekhyun membuang pasrah nafasnya. Dia membiarkan gadis itu memeluknya. Dia kini beralih mengusap pelan surai panjangnya. Dia juga diam, menikmati setiap momen yang tercipta diantara mereka.

“Kau tahu siapa orang yang menebusku?”, tanya Saera cukup lirih. Dia berbicara setelah lama terdiam.

Baekhyun samar mendengarnya, tapi masih membekas dalam ingatannya. “Bagaimana aku bisa tahu? Meski aku bertanya pada Kim Dongman, dia tak akan pernah memberitahukannya”, jawabnya. Tangannya masih mengusap pelan surai panjang sahabatnya.

“Park Chanyeol-ssi”, ucap Saera kembali.

“Kenapa dengannya?”, itu adalah jawaban refleks Baekhyun. Dia membulatkan mata kala mengerti maksud dari sahabatnya menyebutkan nama tersebut. Dia segera melepaskan pelukannya. Menatap tajam mata sahabatnya. “Benarkah!”, tanyanya penuh selidik.

Saera mengangguk lemas.

“Darimana kau tahu?”, tanya Baekhyun yang masih penasaran.

“Kim ahjussi yang memberitahuku. Aku juga memastikan sendiri dengan bertanya padanya. Dan dia mengiyakannya”.

Baekhyun tampak berfikir keras. Dia teringat dengan kalung itu. Jadi benar yang diduganya selama ini, Saera adalah teman kecil pria itu. Apa yang harus dilakukannya? Apa dia harus memberitahukannnya jika sebenarnya pria itu mencari pemilik kalung tersebut? Tidak. Tidak sekarang. Dia harus memastikan dulu apa pria itu layak menjaga sahabatnya itu.

Baekhyun mencoba tersenyum. Sekarang perasaannya tak menentu. Ada rasa bersalah karena telah membohongi sahabatnya itu. Ada juga rasa sesak yang tak ia ketahui penyebabnya. Rasa khawatir juga menyelimutinya.

“Kenapa kau tampak sedih. Bukankah seharusnya kau senang, karena kau sudah tahu siapa yang sudah membebaskanmu”, ucap Baekhyun. Dia menangkup wajah Saera yang tampak sedih.

“Seharusnya aku memang senang. Tapi, entah mengapa aku merasa bersalah setiap kali melihatnya. Seolah aku tak menepati janji dengannya”, Saera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Aku sungguh tak tahu perasaan apa ini?”, lanjutnya.

Baekhyun bahkan ikut bingung dibuatnya. Dia tak tahu harus berbuat apa untuk gadis di depannya. Perasaannya masih tak menentu. Sepertinya dia harus jujur. Ya, hanya itu satu-satunya cara untuk membuat perasaannya normal kembali.

“Saera, aku ingin mengatakan sesuatu”, ucapnya kemudian. Dia juga melepas tangan Saera dari wajah gadis itu.

Saera mencoba menatap dalam mata pria yang duduk di hadapannya. Dia memilih diam, menanti setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya.

“Maafkan aku sebelumnya”, ucap Baekhyun. Ada jeda lama sebelum dia melanjutkan kalimatnya.

Saera masih terdiam. Dia tak ingin mengganggu konsentrasi pria di depannya.

“Kau ingatkan jika Park Chanyeol pernah datang menemuiku”, ucap Baekhyun.

Saera mengangguk, membenarkan ucapan pria itu.

“Sebenarnya, dia bukan hanya bertanya perihal ibumu”, Baekhyun terdiam beberapa saat. Dia seolah tak sanggup mengatakan kata selanjutnya. Mungkin akan menyakitkan, tapi dia harus tetap mengatakannya sebelum terlambat.

“Aku bertanya soal kalungmu padanya. Dia bilang jika dia yang memberikan kalung itu untuk temannya. Bahkan, dia juga yang mendesainnya. Tapi dengan bodohnya aku mengatakan jika itu milik Sora”, jelas Baekhyun.

Saera masih terdiam. Dia masih mencoba mencerna kata demi kata yang pria itu ucapkan. Dunia seolah berhenti berputar di sekitarnya. Dia tak tahu apa yang dirasakannya kali ini. Lebih dari sekedar kaget.

Apa yang dikhawatirkannya terjadi. Jika dia dan pria yang mereka bicarakan memiliki hubungan di masa lalu. Pantas saja pria itu bertanya perihal kalung tersebut. Jadi mimpi yang dialaminya selama ini nyata. Bagaimana dengan mimpi yang dialami terakhir kalinya? Mungkinkah itu juga kepingan dari masa lalu yang tak diingatnya?

“Saera”, Baekhyun mencoba menyadarkan sahabatnya yang nampak syok. Dia menepuk pelan pundaknya.

Saera mencoba membangun kesadarannya. Dia memejamkan matanya berkali-kali.

“Maaf karena tak memberitahumu lebih awal. Dan maaf karena sudah membohongimu”, Baekhyun menundukkan kepalanya.

Saera menggeleng. Dia tahu maksud Baekhyun baik. Begitu banyak masalah yang dialaminya, karena itu Baekhyun memilih merahasiakannya. “Tidak. Kau tidak salah Baekhyun. Aku mengerti maksudmu”, jawab Saera kemudian.

“Terima kasih Saera”, Baekhyun menggenggam erat tangan Saera.

Saera tersenyum. Dia juga menganggukkan kepalanya. Tangannya terulur mengusap punggung tangan pria itu yang menggenggam tangannya yang lain.

“Sebenarnya aku bermimpi aneh kemarin. Rasanya terlalu nyata untuk disebut sebagai mimpi”, ucap Saera setelah lama mereka saling terdiam.

“Mungkin itu kepingan ingatan masa lalumu. Bagaimana mimpi itu?”, ucap Baekhyun yang disertai pertanyaan.

“Gadis kecil itu bernama Lee Nami. Dia diadopsi oleh keluarga yang mempunya marga Go. Mereka mengalami kecelakaan ketika akan pindah ke Seoul. Hanya itu, karena itu cukup samar tapi terasa nyata. Seolah gadis yang bernama Lee Nami itu aku”, jelas Saera.

“Kau ingat tempat gadis itu tinggal sebelumnya?”, Baekhyun kembali memberinya pertanyaan.

“Cukup samar. Tapi sepertinya tidak asing”, Saera mencoba mengingat dimana dia pernah melihat tempat tersebut.

“Love House”, Baekhyun kembali bersuara.

“Kurasa iya”, jawab Saera secara refleks. Ya, tempat itu memang di Love House. “Bagaimana kau bisa menebaknya?”.

“Park Chanyeol pernah berkata jika dia pernah tinggal di tempat itu. Jadi kurasa mungkin kau juga berasal dari sana”, jawab Baekhyun.

“Mungkin saja”.

“Besok aku akan ke sana. Kau mungkin mau ikut! Sekalian memastikan apakah mimpimu benar atau tidak”, ucap Baekhyun.

Saera mengangguk. “Sepertinya aku memang harus memastikannya”, ucapnya kemudian.

***

“Haruskah aku mengajaknya?”, tanya Chanyeol entah pada siapa. Dia bingung harus mengajak siapa untuk dia sewa menjadi kekasihnya, setidaknya untuk malam ini. Makan malam yang diminta kakeknya. Seperti kata ibunya, dia harus membawa seorang gadis jika tak ingin dijodohkan dengan dokter yang merawat kakeknya.

Masalahnya dia tak memiliki teman gadis sekarang. Dia mengacak pelan rambutnya sebagai ungkapan rasa frustasinya. Hanya satu orang yang terlintas difikirannya. Ya, gadis itu. Gadis yag memberinya nomor ponsel kemarin. Han Saera.

Tapi apa gadis itu mau? Chanyeol tampak berfikir. Dia tersenyum kala mengingat kata-kata gadis itu kemarin. Anggap saja sekarang dia sedang butuh bantuan. Baiklah! Mungkin dia harus mencobanya.

Dia mencari dimana dia meletakkan kartu nama gadis itu. Mengetikan beberapa nomornya. Rasanya tidak sopan jika memintanya melalui telfon. Dia memilih menyimpan nomor tersebut. Berdiri kemudian, mengambil jas serta kunci mobilnya. Ya, dia harus menemui gadis itu untuk menjelaskan masalahnya sekarang.

***

“Terima kasih banyak dokter Han. Berkat anda sekarang saya merasa lebih baik. Belum sepenuhnya, tapi aku harap dengan rajin konsultasi dengan anda saya akan bisa sembuh”, jelas seorang gadis yang berusia sekitar awal duapuluh tahunan.

Saera tersenyum. Senyum manis khasnya. “Iya. Datanglah minggu depan di hari dan jam yang sama. Semoga hari anda menyenangkan, Jung Hera-ssi”, jawab Saera.

Gadis itu membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruang Saera.

Saera menyandarkan punggungnya di kusinya setelah pintu ruangannya tertutup kembali. Banyak sekali pasien yang ditanganinya hari ini. Dia merasa sedikit lelah. Jam makan siang sudah berjalan sepuluh menit yang lalu.

Pintu ruangannya diketuk. Terbuka kemudian setelah dia mempersilahkannya masuk. “Perawat Kim ada apa?”, tanya Saera setelah melihat wanita itu masuk.

“Ada yang harus anda tandatangani dokter Han”, perawat Kim menyerahkan berkasnya.

Saera mengambil penanya. Menandatangani berkas yang perawat itu sodorkan. Dia mengembalikannya setelah selesai.

“Aku sudah tidak ada janji setelah ini kan?”, tanya Saera.

“Iya”, jawab perawat Kim. Dia menunduk hormat sebelum meninggalkan meja Saera. Baru sekitar dua langkah dia kembali berbalik.

“Kenapa Perawat Kim? Apa ada masalah?”, tanya Saera yang melihatnya.

“Ada yang ingin bertemu dengan anda. Tapi dia belum memiliki janji. Katanya dia teman anda”, ucap perawat Kim sedikit ragu.

“Siapa?”, tanya Saera yang sedikit penasaran.

“Dia laki-laki, tingginya sekitar 185 cm. Siapa tadi namanya?”, perawat Kim tampak berfikir, mengingat nama pria yang dimaksudnya. “Park Chanyeol, kalau tidak salah”, lanjutnya.

“Park Chanyeol”, ulang Saera mencoba memastikan jika dia tak salah dengar.

“Iya”, perawat Kim mengangguk. “Apa anda mengenalnya?”, tanyanya kembali.

“Iya, aku mengenalnya. Suruh saja dia masuk”, jawab Saera.

Perawat Kim mengangguk. Dia kembali menunduk hormat sebelum meninggalkan ruangan Saera.

Tak lama setelahnya muncullah sosok yang mereka bicarakan tadi. Pria itu menunduk hormat pada Saera.

Saera membalas salam pria itu. “Silahkan duduk!”, ucapnya dengan sopan.

Pria itu duduk seperti yang disarankan Saera. “Apa aku mengganggu waktu anda dokter Han?”, tanya pria itu dengan sopan.

“Sebenarnya iya. Bukankah ini sudah jam makan siang?”, jawab Saera.

Raut wajah pria itu sedikit berubah. Sepertinya dia merasa tak enak mendengar ucapan Saera. “Mianhaeyo”, ucapnya cukup lirih, namun masih dapat Saera dengar. Pria itu juga mengusap tengkuknya. Ini suasana tercanggung yang pernah di alaminya dengan gadis itu.

Saera tersenyum. Dia berhasil mengerjai pria itu. “Aku hanya bercanda Park Chanyeol-ssi”, ucapnya kemudian.

“Jadi, apa yang membawa anda datang kemari? Apa anda ingin berkonsultasi?”, tebak Saera.

Ya, dia mencoba menebak apa yang menjadi alasan pria itu sampai repot datang ke tempat kerjanya. Jika hanya memerlukan bantuan, pria itu cukup menghubunginya. Tak perlu sampai datang mengunjunginya.

“Sebenarnya, aku membutuhkan bantuanmu”, ucap pria itu sedikit ragu.

“Bantuan apa? Jika memang bisa, aku pasti akan melakukannnya”, jawab Saera.

Dengan masih ragu pria itu menceritakan perihal masalahnya. Saera mendengarkannya dengan seksama. Kadang dia mengangguk tanda paham dengan apa yang dikatakan pria itu. Di akhir cerita, Saera tertawa karena merasa sedikit lucu dengan masalah yang dialami pria itu.

“Jadi pada intinya anda membutuhkan saya untuk menggagalkan perjodohan itu?”, ucap Saera setelah menghentikan tawanya.

Pria itu menggangguk. “Aku tidak punya teman wanita disini. Dan hanya anda yang saya kenal”, jawab pria itu.

Saera terlihat masih berfikir. Permintaannya sedikit aneh. Bagaimana tidak, dia diminta menjadi pacar sewaan. Tak enak rasanya menolak. Dia sudah terlanjur bilang jika dia mau melakukannya. Baiklah, mungkin tidak ada salahnya membantu pria itu. Hitung-hitung membalas budi pada pria itu. Meski itu tak sebanding dengan apa yang pria itu lakukan untuknya.

“Baiklah! Kapan makan malamnya?”, ucap Saera menyetujui.

“Malam ini”.

“Hah”, ucap Saera sedikit kaget. Dia sudah punya janji. Bagaimana ini?

“Kenapa? Apa anda sudah punya janji?”, tanya pria itu yang melihat raut kaget di wajah Saera.

Saera mengangguk. “Aku sudah punya janji makan malam dengan keluarga mantan pasienku. Maafkan aku Park Chanyeol-ssi”, ada nada bersalah disetiap ucapannya.

Pria itu membuang pasrah nafasnya. Dia gagal mencari pacar sewaan. Sepertinya nanti dia harus berusaha keras supaya kakeknya tak benar-benar melakukan niatnya. “Mau bagaimana lagi, janji diawal harus diutamakan bukan”, ucapnya terlihat pasrah.

“Iya, anda memang benar”, Saera juga mendesah pasrah. “Apa anda sudah makan siang?”.

“Belum”.

“Apa anda mau makan siang bersama? Di depan rumah sakit ada rumah makan enak. Anggap saja sebagai permintaan maafku”, ucap Saera sedikit ragu. Dia takut jika pria itu akan menolaknya.

“Boleh”, jawab pria itu disertai anggukan.

***

Saera memandang lekat foto keluarga yang terpajang indah dinding. Dia kini berada di rumah mantan pasiennya. Sebenarnya dia sudah dipersilahkan masuk sejak tadi, entah mengapa melihat foto itu membuat langkahnya terhenti. Foto yang terlihat sudah lama diambil. Bagaimana tidak, pasien yang dipanggil harabeoji olehnya masih terlihat cukup muda.

Foto itu terdiri dari 7 orang. Yang duduk di tengah adalah mantan pasiennya beserta istrinya. Di belakangnya berdiri empat orang, dua perempuan dan dua laki-laki. Pasti anaknya berserta suami maupun istrinya. Karena memang kakek itu memiliki dua anak, perempuan dan laki-laki. Masih ada satu orang, anak kecil yang duduk dipangkuan istri dari kakek tersebut.

Saera memfokuskan pandangannya pada anak kecil tersebut. Sepertinya dia pernah melihatnya. Ya, benar. Wajah itu sangat familiar di ingatannya. Tapi siapa? Sebuah kejadian kecil terlintas begitu saja di kepalanya.

Flashback

“Siapa namamu?”, tanya gadis kecil itu.

Pria kecil yang duduk menyendiri itu, mendongakkan kepalanya. Dia melihat seorang gadis kecil tengah tersenyum padanya.

“Aku Lee Nami”, ucap gadis kecil itu kembali.

Pria kecil itu hanya diam. Dia membuang muka kala gadis kecil itu duduk di sampingnya.

“Kau baru datang hari inikan?”, gadis kecil itu masih setia memberikan pertanyaan pada pria kecil yang masih enggan mengeluarkan suara.

Pria kecil itu masih terdiam. Dia masih belum terbiasa dengan orang asing di sampingnya.

“Apa kau juga tak memiliki orang tua?”, untuk kesekian kalinya gadis kecil itu memberikan pertanyaannya. Dia menghela nafas, karena pria kecil itu masih enggan berbicara dengannya. Pandangannya lurus ke depan. “Aku juga tak memiliki orang tua. Kata Kim ahjumma, orang tuaku tewas karena kecelakaan. Aku lalu dititipkan disini oleh orang yang menyelamatkanku”.

Gadis kecil itu berdiri. “Karena kau hanya diam saja, aku akan pergi. Aku tahu kau pasti masih asing dengan tempat ini”, ucapnya sebelum melangkahkan kakinya.

Pria itu mengulurkan tangannya. Menarik lengan gadis kecil itu kemudian.

Gadis kecil itu tersenyum kecil sebelum membalikkan tubuhnya. “Ada apa?”, tanyanya kemudian.

“Namaku Chanyeol. Park Chanyeol”, ucap pria kecil itu akhirnya bersuara.

Flashback end

Saera menggenggam erat ujung dressnya. Nafasnya sedikit memburu. Dia memejamkan matanya beberapa kali. Ingatan kecil itu membuatnya sedikit tak nyaman. Dia menarik nafas panjang, mengeluarkannya perlahan. Diulangnya beberapa kali hingga merasa dirinya nyaman. Matanya masih ia pejamkan.

“Saera-ssi”. Terdengar suara dari arah lain.

Saera membuka matanya. Dia menarik nafas dalam sebelum menoleh. Senyum mengembang begitu saja melihat orang yang memanggilnya. Dia menunduk hormat memberi salam pada orang tersebut. “Annyeong haseyo Park Chanyeol-ssi”, ucapnya kemudian.

“Apa yang anda anda lakukan disini? Anda bilang jika anda punya janji makan malam dengan mantan pasien anda”, ucap Chanyeol.

Saera tersenyum. Sekarang dia tahu siapa cucu dari kakek yang dirawatnya dulu. Kenapa dia baru menyadarinya? Seharusnya dia sudah tahu lebih awal. Dia lupa fakta jika kakek tersebut adalah pemilik S&C Corporation.

“Jangan bilang jika anda merasa tak enak padaku, karena menolak permintaanku”, ucap Chanyeol sedikit ragu.

Hanya senyum yang dapat Saera berikan.

“Anda tak perlu melakukannya. Aku meminta bantuan, jika memang anda tak memiliki janji”, ucap Chanyeol merasa sedikit tak enak.

Saera kembali tersenyum. Dia melihat sosok lain saat pria itu merasa bersalah. “Siapa bilang aku datang karena anda?”, ucap Saera kemudian.

Ye…”, jawab Chanyeol yang tak paham.

“Aku datang bukan karena permintaan anda. Tapi karena permintaan mantan pasienku”, ucap Saera.

“Hah”, Chanyeol tampak terkejut. Dia tersenyum miring. Jadi, dokter yang merawat kakeknya dulu adalah gadis yang berdiri di depannya.

“Dokter Han”, terdengar suara dari arah lain.

Mereka berdua menoleh melihat siapa yang tengah memanggil Saera.

“Mari masuk. Makanannya sudah siap”, ucap orang itu sambil berjalan mendekat. Pandangannya masih terfokus pada Saera. Dia sedikit terkejut melihat pria jakung di samping Saera. Senyum tulus terlihat jelas di wajahnya saat mengenalinya. Dia menunduk hormat pada pria jakung tersebut.

“Anda sudah datang Tuan muda. Mari, mereka sudah menunggu”, ajak orang itu.

to be continue…..

Hai, saya kembali setelah sekian lama.

Terima kasih sudah membaca.

Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya…….

10 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Promise (Chapter 14)”

  1. Wah cy senyum kemenangan tenyata yg dijodohkan teman nya masa kecilnya dlu thour buat mereka bersatu nya jangan lama-lama
    Semangat thour nulisnya

  2. Akhirny apdet lagi…sampe lupa critany trus balik baca lg dari awal tauuuu hahahhahahaha
    Ksenengan ceye mah klo gni caranyaaa ga susah2 deketin udh d deketin sma org rmah hahahabab
    Fighting thor!!!

    1. Memang sudah lama..
      Maaf baru bisa update….
      Iya, nasib baik buat banh CY…..
      Terima kasih ya….
      Fighthing….

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s