[EXOFFI FREELANCE] Unforgettable Family (Chapter 8)

Unforgettable Family (Chapter 8)

Author: el byun

family, married life, drama, romance, with a little bit comedy

in chaptered

rate: pg-17

main role:

Byun Baekhyun (EXO), Song Hyohwa (OC)

summary:

“Menikahlah denganku! Aku ingin kau hidup bersamaku, tertawa bersamaku dan menangis bersamaku. Kita bangun keluarga kita sendiri. Hanya aku, kau dan anak kita.”

Desclaimer:

This story is my real imagination from my fiction “when i must be married”. Say no to plagiarism!

Fanfic ini juga di post di akun wattpad saya @elisabethbyun bersama karya saya yang lain.

~~~

[LOVE]

~~~

 

 

.

 

.

Hyohwa telah berusaha membantu Ny Byun untuk menyiapkan makan siang kali ini. Bahkan Ny Byun tidak akan mengira Baekhyun mau menjaga bayinya seperti yang diceritakan Hyohwa padanya. Sungguh, orang tua ini terharu sekali lagi pada sosok anaknya yang kini mulai belajar menjadi orang tua. Memiliki menantu seperti Hyohwa pun dia bahagia, namun mengingat suaminya yang sampai detik ini belum bicara apapun perihal kelanjutan hubungan mereka, hati Ny Byun sedikit was-was. Bagaimana tidak, mereka berdua sudah diijinkan tinggal di rumah ini tanpa status yang jelas. Bagaimana nanti orang luar akan menilai etika keluarga Byun? Apalagi Baekhyun adalah sosok publik figur yang begitu terkenal dan dicintai fansnya. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa mereka akan mendapat cubitan dari media tentang perilaku tidak wajar dimana keluarga tersebut membiarkan pasangan yang tidak menikah tinggal serumah dan lagi mereka adalah pasangan yang dulunya bercerai. Berbagai kewaspadaan akan peringatan itu, Ny Byun perlahan-lahan membujuk suaminya untuk segera mengijinkan mereka menikah dengan alasan apapun. Namun pria setengah abad itu terus merengek meminta sang ayah dari calon putri menantunya untuk menemuinya dan memberi pernyataan serta meminta maaf atas kesalahan yang dulunya sempat membuat hati Tn Byun sakit.

Dulu ia sangat bahagia putranya mendapat pinangan dari keluarga Song yang notabene adalah seorang anak dari pengusaha kaya. Beliau bahkan masih ingat mereka sangat antusias untuk memaksa mereka untuk memiliki momongan segera untuk mempererat tali kekerabatan mereka. Namun, belum itu terjadi ada hal lain yang membuat Tn Byun benar-benar kecewa saat mengetahui Baekhyun putranya hanya sebagai alat untuk bisnis perusahaan mereka dengan SM Entertainment, dan mereka harus bercerai karena Baekhyun bertukar tempat dengan Sehun untuk menikahi putri bungsu mereka sebagai bagian dari perjanjian antar perusahaan. Begitu miris nasib keluarga Byun saat itu. Ia bingung harus menyembunyikan muka di mana.

Malu

Kecewa

Sakit

Semua bercampur aduk dalam pikiran pria yang sudah tidak muda ini. Baekhyun adalah satu-satunya putra mereka yang masih mereka rawat dengan baik terlepas kakaknya Byun Baekboom yang sudah dulu menikah dan tinggal bersama istri dan anaknya di rumah mertuanya. Baekhyun satu-satunya anak yang masih dekat dengan mereka, tentu Tn Byun sangat menyayangkan itu.

Suara dentingan benda keramik dan stenlis sedari tadi menggaung di sudut ruangan bawah. Tepatnya di area dapur yang bersebelahan dengan ruang makan dan ruang tengah tempat biasa Tn Song membaca koran. Hyohwa dengan hati-hati mengangkat sebuah cangkir berisikan teh hijau untuk ia persembahkan pada Tn Song yang masih terduduk manis dengan genggaman tangannya pada lembaran media massa itu. Hyohwa awalnya ragu untuk memberikan service pertamanya pasca tinggal kembali di rumah ini. Sungguh jantungnya berdegub 3 kali lipat dari biasanya hanya untuk memberikan secangkir teh. Namun motivasi dan dorongan yang diberikan Ny Byun sangat membantu Hyohwa mendapatkan kepercayaan dirinya untuk terus melangkah maju bahkan dengan tangan yang masih bergetar.

“A.. abojhi, aku membuatkan teh hijau untukmu. Tolong di minum saat masih hangat. Ini bagus untuk kesehatanmu.” ucap Hyohwa dengan pita suara yang tidak stabil namun ia sudah berusaha. Toh semua ini ia lakukan untuk keluarga kecilnya juga. Setelah meletakkan cangkir itu di atas meja Hyohwa berdiri mematung di samping sofa tanpa memulai pembicaraan lagi. Lidahnya sangat kelu saat bertemu orang tua Baekhyun ini.

“Hmm.”

Tidak, Hyohwa tidak salah dengar kan? Tn Byun berdeham untuknya? Entah Hyohwa merasa senang atau bagaimana kini rasanya ia ingin melonjak saja dari posisi berdirinya. Ini reaksi pertama yang ia dapat dari Tn Byun seingatnya. Sebelumnya beliau tidak pernah mau menyapa atau menegurnya untuk hal-hal sepele seperti ini. Hyohwa harus bersyukur.

Oek.. Oek..

Tubuhnya terperanjat mendengar suara tangisan bayinya yang berasal dari lantai atas. Ia tahu Baekhyun belum pandai menjaga bayi, namun ia sudah meninggalkan apapun untuk Baekhyun lakukan bukan?

Tidak, Hyohwa kini berlarian seperti dikejar sesuatu yang menakutkan. Ia menaiki tangga dengan langkah besarnya. Ia bahkan tidak perduli bagaimana kerasnya Ny Byun memanggilnya ataupun tatapan memicing Tn Byun yang selalu membuat Hyohwa penasaran akan isi hatinya.

“Oppa, apa yang kau lakukan?” pekik Hyohwa saat melewati garis pintu dan menemukan Baekhyun tengah berusaha menjejalkan dot botol susunya pada mulut bayinya sendiri. Hyohwa berjalan dengan marah dan mengambil botol itu paksa dari tangan Baekhyun.

“Aku hanya memberinya minum.”

“Minum? Lebih tepatnya kau memaksa. Jika Baekshin tidak mau, berarti dia sudah kenyang. Kau mau perut anakmu sakit?”

Omelan Hyohwa barusan meruntuhkan nyali Baekhyun untuk membuat kata-kata lagi. Ia tidak tahu bahwa perbuatannya sedikit keliru. Well, mulut seorang ibu selalu benar. Baekhyun harus percaya itu. Ia sungguh salut pada Hyohwa yang telah belajar banyak demi merawat anak mereka. Ia pikir Hyohwa-nya akan selamanya menjadi yeoja yang manja untuknya. Namun kali ini tidak.

Sungguh Baekhyun iri pada Baekshin yang setiap saat mendapat perhatian penuh dari wanita tercintanya ini. Terkadang Baekhyun harus menelan ludahnya sendiri untuk menekan hasratnya dan membuangnya jauh-jauh. Ia pikir ayahnya sudah keterlaluan menghukum Baekhyun dengan cara halus seperti ini. Baekhyun tidak bisa menjamin sesuatu yang di luar batas mungkin akan terjadi di rumah ini jika mereka tidak segera menikah. Penyiksaannya terus datang tanpa akhir. Bolehkan Baekhyun bahagia?

“Hyo, aku minta maaf.” rengek Baekhyun sembari menggelayuti lengan Hyohwa yang tengah menggendong putra mereka sambil menidurkannya di pundak. Hyohwa bahkan masih mengelus punggung putranya agar lebih cepat bersendawa karena sejak tadi dijejali susu oleh Baekhyun.

“Aku minta maaf ne?”, rengek Baekhyun kembali. Tangannya ikut mengelus punggung putranya dengan ekspresi bersalahnya. Ia menyesal melakukan itu. “Baekshin, maafkan appa. Hun?” lanjut Baekhyun sambil memanyunkan bibirnya lucu agar segara diampuni.

Huuk..

Mendengar suara sendawa sang bayi, baik Hyohwa maupun Baekhyun saling bertatap mata terkejut dan berhenti dari aktifitas mereka untuk sekedar memperhatikan kondisi bayinya. Sungguh, kata-kata lucu Baekhyun barusan berhasil mengeluarkan gas tidak penting yang ada di dalam tenggorokan makhluk kecil itu. Entah kenapa tanpa mereka sadari mereka terkekeh bersama mendapati betapa lucunya bayi mereka. Oh, sekarang baby Byun sudah tumbuh lebih besar. Mereka harus bangga.

“Huff, kau mengantuk? Baekshin-ah, kau ingin tidur lagi, hm?” oceh Hyohwa pada putranya sambil membaringkannya lagi di atas ranjang. Baekhyun hanya mengekor, ia bahkan lebih terlihat seperti anak kecil yang memiliki seorang adik dan Hyohwa adalah ibunya.

Setelah bayi mereka benar-benar tidur, Baekhyun yang juga berbaring miring di samping putranya memandang wajah Hyohwa yang kini masih bermain-main dengan wajah lembut bayi mereka yang sangat menggemaskan. Terkadang Baekhyun tersenyum geli sendiri membayangkan betapa lucunya jika Baekshin besar nanti. Apakah seperti dirinya yang berisik dan tidak tahu malu atau seperti Hyohwa yang cerewet tapi menggemaskan di matanya? Rasanya Baekhyun ingin segera memutar cepat memori itu, ia sudah sangat penasaran.

“Hyo!” panggil Baekhyun dengan senyum chessy khas miliknya.

“Hmm?” dengan cepat Hyohwa mendongakkan wajahnya untuk membalas tatapan Baekhyun. Hyohwa ikut tersenyum. Ia tahu Baekhyun melakukan kesalahan tadi, namun entah kenapa ia tidak bisa marah pada pria ini.

“Maafkan aku!” tiba-tiba Baekhyun merubah ekspesinya. Ia ingin terlihat sebagai pihak yang tidak ingin di salahkan.

“Ssttt… Sudah aku sudah memaafkanmu. Aku yang terlalu lama meninggalkan kalian. Seharusnya aku mengecek keadaan Baekshin tadi.” sahut Hyohwa dengan suara yang lembut. Ia tidak ingin percakapan mereka mengganggu tidur Baekshin.

Baekhyun menggeleng, ia mengulurkan tangan untuk sekedar mengusap lembut surai hitam milik Hyohwa. Ia sangat merindukan wanita ini walaupun hanya semenit mereka berpisah. “Kau sudah lelah bekerja, istirahatlah! Aku akan berjaga untuk Baekshin.” ucap Baekhyun yang juga ikut melembut. Ia sangat ingin bermesraan seperti dulu ketika masalah mereka belum serumit ini.

Dalam hening mereka tidak memyadari sebuah isakan tangis dan air mata bahagia menetes dari pelupuk seorang ibu juga yang menyandang status ibu Baekhyun. Wanita paruh baya itu sedari tadi mematung di ambang pintu mendengar percakapan mereka. Tadinya ia akan memanggil mereka turun untuk makan, namun keharmonisan yang mereka ciptakan berhasil menyita seluruh atensinya.

Tn Byun hampir bisa membayangkan betapa bahagianya keluarga Baekhyun jika mereka seperti ini setiap saat. Ia bahkan bisa mendengar gelak tawa Baekshin yang nantinya akan tumbuh besar hingga menyebutnya sebagai halmeonni dan suaminya sebagai harabojhi. Jika dilihat sekilas memang wajah Baekshin lebih banyak mirip saat Baekhyun masih bayi dulu. Beliau sangat merindukan saat-saat itu.

“Aku mencintaimu!”

Ny Byun seperti mendengar timbre suara putranya. Ia mengusap buliran air mata jatuh tadi dengan jemarinya dengan kasar. Wajah yang tak muda itu sebisa mungkin dibuatnya normal kembali untuk memperingatkan mereka untuk segera turun dan makan karena mungkin makanan yang sudah ia siapkan akan semakin dingin jika dibiarkan lama-lama.

“Baek-” suara rendah Ny Byun terhenti saat ia melihat tangan Baekhyun sudah menggerilya di tubuh Hyohwa. Keberadaannya benar-benar tidak mereka sadari karena tubuh Baekhyun yang membelakangi pintu dan menghalangi jarak pandang Hyohwa yang berada di sampingnya. Ny Byun telah melihat dengan mata kepalanya sendiri Baekhyun mulai memindahkan jemarinya di belakang leher Hyohwa dan memajukan tubuh mereka masing-masing. Mereka akan berciuman.

“Aku menginginkanmu!”

Masih terdengar suara rendah Baekhyun yang begitu menggoda di telinga Ny Byun. Matanya sudah memelototi putranya dari belakang dan bersiap dengan kepalan di kedua tangannya untuk anak bandel itu.

“BAEKHYUN!” teriak Ny Byun yang untung saja tidak mengagetkan Baekshin hingga terbangun dan menangis. Baekhyun tiba-tiba terperanjat dari posisi tidurnya dan berdiri tegak seperti siswa yang sedang dihukum karena tidak mengerjakan PR.

“Jo.. josseonghamnida Eomonni!” sahut Hyohwa yang seharusnya bukan menjadi kalimat miliknya. Harusnya Baekhyun yang meminta maaf. Hyohwa juga berdiri menunduk di seberang ranjang tempat tidur. Ny Byun mendesah kesal dan menghampiri Baekhyun dengan langkah bergetar. Ia hampir saja menganggap mereka anak baik-baik jika saja Baekhyun bisa menahan sedikit hasratnya.

“Aargh! Eomma, hentikan!” rengek Baekhyun yang tengah mendapat jeweran telinga dari ibunya. Ia kini diseret menjauh dari dalam kamar mereka menuju pintu keluar.

“Eomma, sudah bilang jangan melakukan kontak intim sebelum kalian menikah! Apa peringatanku belum jelas, huh!” omel Ny Byun tak berkesudahan.

“Karena itu bujuk appa agar kami segera menikah! Memangnya kalian mau aku jadi orang gila karena terus menahannya.”

“Semakin hari kata-katamu semakin tidak bisa disaring Baekhyun. Eomma tahu itu, jadi bersabarlah sedikit!” ucap Ny Byun yang masih menyeret telinga Baekhyun menuruni tangga.

Omelan Ny Byun masing menggema bahkan saat mereka sampai di ruang tengah dan Tn Byun dapat mendengarnya sendiri. Bukannya semakin murka justru ayah Baekhyun ini hanya melepas nafas jengah lalu menutup lembaran koran itu dan disimpannya di bawah meja.

“Siapkan aku makan siang!” ucap Tn Byun dengan suara paraunya. Pria tua itu berdiri dan berjalan tertatih-tatih sambil memegangi pungung rapuhnya yang pegal karena kebanyakan duduk. Baekhyun memandang penuh arti gelagat ayahnya kini. Ia tertegun dalam lamunan setelah Ny Byun melepaskan jewerannya dan mulai mengantar suaminya duduk di kursi makan.

“Appa, apa kau sedang tidak enak badan?” ujar Baekhyun saat mendudukkan dirinya di kursi meja makan yang bersebelahan dengan ayahnya.

“Aku baik-baik saja. Jangan cerewet, makanlah!” suruh ayahnya dengan nada datarnya yang membuat rasa penasaran Baekhyun menjadi-jadi.

“Eomma akan antarkan makan untuk Hyohwa di kamar dulu.” sahut Ny Byun menyela. Ia mengangkat sebuah nampan berisi piring nasi, mangkuk sup tofu, kimchi dan gimbab untuk makan Hyohwa. Beliau benar-benar memperhatikan asupan gizi untuk ibu muda menyusui itu.

“Jadi, kapan Appa akan mengijinkan kami menikah?” ucap Baekhyun tanpa basa-basi. Pertanyaan Baekhyun barusan membuat Tn Byun meletakkan sendok yang telah ia penuhi dengan kuah sup itu kembali. Kursi Baekhyun berdecit karena gerakan tidak sabaran Baekhyun pada jawaban ayahnya. Ia bahkan tidak perduli ayahnya akan kehilangan nafsu makan setelah Baekhyun mengutarakan pertanyaan menyindir itu.

“Sampai orang tua gadis itu datang meminta maaf pada Appa.” sahut Tn Byun kemudian.

“Jadi itu alasan Appa menahan Hyohwa di rumah ini?” ucap Baekhyun yang langsung mendapat picingan tidak suka dari ayahnya. Baekhyun sungguh tidak suka menunggu lama-lama jika selama penantiannya ini hanyalah sebuah settingan ayahnya untuk mendapat empati.

“Jangan memancing emosi saat makan Baekhyun, makanlah!” ucap Tn Byun dengan suara berat. Napasnya berhembus kasar seperti menahan sesuatu, Baekhyun tahu itu.

“Aku tidak akan makan sampai aku mendengar alasan Appa menerima Hyohwa tinggal di sini.-”

Ting… Tong…

Belum Baekhyun menyelesaikan kalimatnya, seseorang datang bertamu entah siapa itu orangnya. Melihat Tn Byun terdiam Baekhyun dengan malas bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu utama rumahnya. Ia masih dirundung rasa kesal saat melakukan percakapan yang lumayan panjang dengan ayahnya.

Ceklek!

“Hoh! A.. abojhi!”

Tbc…

 

Note:

Yuhu… Maaf ya Bapak Baekhyun makin telat update nya..

Aku sempet kehilangan ide untuk ff ini, tapi untungnya sih ketemu setelah dipaksa berpikir keras. Haha..

Aku sempet hampir lupa caranya nulis fiksi versi baekhyun ini. Maaf karena masih dengan part yang pendek!

Damn, aku gk kuat sama keromantisan mereka, yg nulis ampe gemes. Lemes nih jari tangan. Wakss! /lebai abaikan

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Unforgettable Family (Chapter 8)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s