Throne – Shuu

6615d89c871e75ab8a08c84850fb3801

Throne

Cast: Park Chanyeol, Jennie Kim BLACKPINK | Genre: Historical |

Length: Oneshoot |Rating: PG-15

Maaf apabila terjadi kesalahan dalam penulisan serta kurangnya pengetahuan tentang EBI. Terimakasih telah membaca cerita ini, sertakan komentar dan like sebagai apresiasi anda untuk cerita ini. Terimakasih.

.
Shuu’s Present

.
2017

Suara sepatu kuda yang beradu dengan tanah terdengar lebih jelas saat memasuki kawasan di sekitar pasar. Semua orang menjerit ketakutan saat seorang lelaki terus memacu kudanya. Meminta si kuda untuk lebih cepat. Para wanita berteriak ketakutan, salah satu dari mereka melindungi putrinya. Para lelaki menyumpah pada orang tersebut. Mereka berfikir bangsawan memang seperti itu –seenaknya sendiri.

Tak lama kemudian, segerombol polisi kerajaan terlihat mengejar laki-laki berkuda tersebut. Mereka juga memacu kudanya dengan sangat cepat. Orang-orang kini merasa bingung dengan apa yang terjadi. Tetapi mereka tampak tak begitu khawatir, karena itu bukan urusan mereka.

Lelaki itu bersembunyi di balik semak-semak. Ia sudah menyembunyikan kudanya di suatu tepat yang sekiranya tidak ketahuan orang lain. Ia terkikik geli saat segerombolan pengawal istana memacu kudanya ke hutan. mereka pasti mengira dirinya kabur ke hutan.

“Mereka sangat bodoh,” gumamnya sambil menggaruk tengkuk. Masih dengan terkikik ia membalikkan tubuhnya matanya membulat saat melihat seorang gadis bercelemek lusuh menatapnya dengan mata bulat milik si gadis. Lelaki itu terlihat tergagap untuk sesaat sebelum mengalihkan pandangnya ke arah lain.

“Permisi, apa yang sedang Anda lakukan?” Lelaki itu terlihat bingung, tetapi dalam beberapa detik ia sudah berdiri sambil menggaruk tengkuknya. Tak tahu harus bilang apa ia hanya tersenyum kagok.

“Melarikan diri dari belajar ilmu politik?” katanya menimbang.

Mata gadis berbinar, sepertinya ia tertarik. “Kau seorang cendikiawan?” ucapnya hampir memekik.

“Apa kau pernah membaca ilmu astronomi? Pengobatan tradisional china? Katanya orang china sangat hebat dalam meramu obat tradisional.”

“Tu-tunggu nona. Kau tidak bisa menanyaiku semua pertanyaan sekaligus.”

“Oh maafkan aku, tak seharusnya rakyat jelata sepertiku berbicara lancang.” Gadis itu tertunduk, kedua tangannya tertaut sambil memegangi sebuah keranjang berisi berbagai jenis tanaman.

“Tidak apa. Aku malah senang melihat gadis sepertimu tertarik untuk belajar.” Lelaki itu mencoba mengamati sekitar. Ia begitu takjub akan padang ilalang disekitarnya. Sebelumnya ia tak pernah keluar dari istana barang sedikitpun.

“Sayangnya aku belum pernah membaca buku tentang ilmu pengobatan China. Tetapi aku bisa saja membacanya jika aku mau,” ucapnya kemudian berjalan sambil memandangi hamparan padang ilalang.

“Pasti menyenangkan sekali,” gumam gadis itu.

“Apa para cendikiawan tidak membagi ilmunya pada orang-orang?” tanya lelaki tersebut kemudian berbalik memandang si gadis yang masih tertunduk dengan sebuah keranjang berada di tanagnnya.

“Beberapa dari mereka berbagi ilmu dnegan rakyat sepertiku. Tetapi sebagian dari mereka enyimpannya untuk mereka sendiri. Padahal lebih berguna jika membagikannya kepada orang bukan?” ucapnya datar.

“Kurasa juga begitu.”

“Oh ya aku harus pergi. aku belum menimba air!” kata gadis bercelemek lusuh tersebut sambil berlari kecil melompati semak belukar yang mulai meninggi.

“Boleh aku ikut denganmu? Aku ingin berkeliling!” ucapnya sedikit berteriak karena jarak mereka yang menjauh.

“Terserah padamu Tuan!” ucapnya sambil berbalik sedikit.

Gadis itu terlihat menoleh sedikit. Mengamati lelaki dibelakangnya yang bersiul sambil menautkan tangan dibelakang tubuhnya. Ia berpikir kenapa ia bertemu orang aneh hari ini. Entah mengapa juga orang seperti itu dengan senang hati menawarkan untuk membawa keranjangnya.

Keranjang itu berisi tanaman obat-obatan yang ia pelajari belum lama ini. Ia harus mengeringkannya dahulu sebelum diolah menjadi obat.

Ia kemudian menimba air disumur tersebut. Ia tuangkan di sebuah ember. Perlu mengisinya beberapa kali untuk membuatnya penuh.

“Nona, kau tertarik dengan belajar?” tanya lelaki tersebut sambil memainkan beberapa tanaman di keranjang. Gadis itu mengangguk kecil masih terus meimba air.

“Apa saja yang kau pelajari?”

Gadis itu berhenti sejenak kemudian menatap manik mata si lelaki. “Aku sudah lancar memabaca dan menulis, membaca sedikit buku filsafat mungkin?”

Lelaki itu hanya meng-o perkataan si gadis. Ia terlihat memiringkan kepalanya sebelum kembali berucap, “Ehmmm… nona. Apa pendapatmu tentang pangeran? Maksudku begini… apa pendapatmu tentang putra mahkota yang tidak ingin naik takhta? Euhhmmm… pangeran adalah teman baikku kau tahu? Dia sama sepertiku tidak tertarik dengan belajar politik.”

Si gadis selesai mengisi penuh embernya. Ia kemudian menimbang apa yang harus ia jawab. “Pendapatku?” sambil menunjuk dirinya sendiri. Ia melirik sebuah ember yang telah penuh dnegan air kemudian menjawab,“Kau tahu? Menurutku Raja itu seperti air.” Si lelaki hanya terdiam, seolah bingung apa yang dimaksud.

“Begini, Air mengalir ke tempat tinggi ke rendah. Sama halnya dengan raja yang harus mengayomi masyarakat dibawahnya. Air diciptakan oleh Tuhan dan takdirnya dalah menghidupi manusia bukan? Sama halnya dengan Raja. Dia ditakdirkan untuk memimpin masyarakatnya melindungi mereka dengan hukum bukan menghukum mereka dengan hukum. Dia tak bisa menyalahi takdir Tuhan, karena dia seseorang yang ditunjuk Tuhan untuk melindungi umat-Nya.”

Gadis itu kemudian berlalu sambil membawa embernya yang sudah penuh dengan susah payah. Sedangkan lelaki itu masih terdiam memandang kosong ke arah sumur. Lelaki itu tertegun dengan apa yang dikatakan gadis itu. Ia sadar, menghindar dari kewajibannya bukanlah sesuatu yang patut untuk dilakukan. Ia merenungi kesalahannya. “Air,” gumamnya tak jelas.

“Hei, Tuan?” gadis itu menengok kebelakang menyadari lelaki disebelahnya tertinggal. Lelaki itu  kemudian sadar dengan lamunnya, ia tersenyum lebar ke arah gadis tersebut dan berlari kecil sambil menenteng keranjang.

Wajah gadis itu terlihat memerah di kedua pipinya yang bulat. Saat lelaki itu sudah ada di sampingnya, gadis tersebut menunduk melihat ke arah sepatunya yang lusuh.

“Hei, bisa kau menukar keranjangmu dengan ember air itu? Kelihatannya itu lebih berat,” ucap lelaki itu. Tak ada jawaban, lelaki itu menukar sendiri keranjangnya dengan ember tersebut.

“Siapa namamu?” tanya lelaki itu.

“Jeni, Kim Jeni,”

“Baiklah, aku akan mengingat namamu. Aku Park Chanyeol,” ucapnya sambil tersenyum lebar lagi. Membuat gadis tersebut tersenyum kali ini. Sudah terbukti, senyuman Park Chanyeol memang menular.

Mereka berjalan beriringan, lelaki itu mengoceh tentang apa saja. Tetapi gadis disebelahnya hanya menaggapi seadanya dengan menundukkan wajahnya. Pesona Park Chanyeol ternyata sangat baik, hanya dengan sneyumannya saja sudah membuat gadis itu tersipu malu.

Mereka terus berjalan mengikuti jalan setapak yang ada sampai mereka hilang diujung belokan jalan. Hari ini Park Chanyeol mendapat pelajaran yang berharga dari orang yang tak terduga. Dari orang yang berkasta rendah. ia kali ini percaya orang berkasta rendah memiliki sudut pandang yang berbeda dari apa orang dari kasta lebih tinggi. Mereka melihat dunia dengan sederhana, mengumpamakan sesuatu dengan sesautu yang sederhana mereka pun juga makhluk yang sederhana bukan?

END

Sudah lebih dari enam bulan tidak menyapa kalian karena Shuu masih menyesuaikan diri dengan suasana SMA yang ternyata super sibuk. Kalaupun ada waktu luang diri ini lebih memilih untuk memberikan me time kepada diri sendiri.Terimakasih udah memberikan waktu luang kalian untuk membaca cerita ini, baca juga cerita dari author yang lain. karena FF reborn kali ini pendek-pendek 🙂 Happy new year and Marry Christmas (untuk yang merayakan.)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s