One and Only – Slice #24 — IRISH’s Tale

   ONE and ONLY  

  EXO`s Baekhyun & Red Velvet`s Yeri 

   with EXO, NCT & TWICE Members  

  dystopia, fantasy, friendship, slice of life, romance, science-fiction story rated by T served in chapterred length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved


Mencintaimu? Ya, aku mencintaimu. Walaupun kita berbeda.


Reading list:

〉〉  Prologue | Chapter 1Chapter 10 | Chapter 11Chapter 20 | Chapter 21 — Chapter 22Chapter 23 〈〈

  Spin Off: 12 — 3 — 45

  #24  

██║│█║║▌ One and Only: Previous Chapter │█║║▌║██

In Yeri’s Eyes…

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku, terdengar bodoh sebenarnya, karena jelas dalam jarak sedekat ini, dalam pencahayaan seminimal ini dan setelah semua pembicaraan yang sudah kami lakukan barusan, aku seharusnya bisa menebak dengan mudah tentang apa yang Baekhyun sedang lakukan sekarang.

“Kalau kau katakan kau bukan lagi anak kecil, maka aku tidak perlu lagi repot-repot menahan diri dan menahan keinginanku, bukan?” vokal husky Baekhyun masuk ke dalam pendengaranku dengan cara kelewat menggoda.

Aku tidak bisa. Oh, Tuhan. Aku menyesal karena sudah mengatakan hal yang seharusnya tidak aku katakan. Tapi ya, satu sisi hatiku justru berkhianat. Satu sisi hatiku teramat senang karena tindakan Baekhyun sekarang.

Sungguh lancang.

Tidak lantas menjawabku, Baekhyun justru mendekatkan dirinya ke arahku, ibu jari dan jari telunjuknya sekarang bergerak menyentuh daguku, menarik pandangku untuk beradu dengan sepasang kilatan nano di dalam maniknya yang dalam jarak sedekat ini entah mengapa makin membuat jantungku melompat tidak karuan.

Rupanya, Baekhyun juga mendengar jelas gemuruh jantungku. Sehingga dia sekarang bisa tersenyum, puas ternyata dia setelah berhasil mengetahui bagaimana keadaanku karena tindakannya.

Dengan lembut, Baekhyun bergerak mengikis jarak, membiarkan permukaan kulit kami bersentuhan dan membakarku. Tiap inci kulitku yang bersentuhan dengannya serasa terbakar. Entah sejak kapan, London yang seharusnya dingin justru terasa begitu pengap dan panas.

“Kau tahu, aku juga bisa jadi seorang Humanoid dengan libido yang tinggi, Yeri-ah.”

██║│█║║▌    One and Only  —  │█║║▌║██

  Chapter 24  

In Yeri’s Eyes…

Aku tidak bisa tidur.

Setelah apa yang Baekhyun lakukan beberapa jam yang lalu—memberiku sebuah kecupan lembut di bibir, satu tindakan yang ia banggakan sebagai wujud dari peningkatan libidonya setelah chip yang ada di dalam dirinya dilepaskan—aku justru kehilangan rasa kantuk dan lelahku.

Apa ini euforia bercinta yang sering orang-orang katakan? Tidak, aku tidak bercinta dengan Baekhyun. Yang kami lakukan hanya berciuman sekilas, sebelum Baekhyun akhirnya memintaku untuk beristirahat.

“Tidak bisa tidur dengan nyenyak, Yeri?” aku menoleh saat kudengar suara Baekhyun. Dia tengah duduk di dekat pelataran kecil yang jadi pengalas tidurku. Dengan tangan terlipat di depan dada dan sebuah senyum merekah di wajah.

“Sejak kapan kau duduk di sana?” tanyaku, aku bahkan tidak mendengar suara langkah yang Baekhyun ciptakan saat dia tadi mendekatiku.

Umm, sejak kudengar tanda vitalmu berubah tidak stabil. Aku pikir sesuatu yang salah terjadi padamu, tapi ternyata kau tidak tidur sama sekali.” tuturnya. Tidak salah memang, karena nyatanya kantukku memang hilang. Karena siapa? Tentu saja karena Baekhyun.

“Aku tidak mengantuk—maksudku, saat ini. Kalian sedang membicarakan apa di sana?” tanyaku, mengedikkan dagu ke arah api unggun kecil yang diciptakan untuk sekedar menjadi cahaya—bukan jadi penghangat tentu saja, karena Humanoidhumanoid ini tak pernah kesulitan menjaga suhu lingkungan sekitar kami.

“Ah, tentang rencana esok hari. Mau bergabung?” tawar Baekhyun.

“Tentu.” sahutku sambil kemudian bangkit dari tempatku sedari tadi membaringkan diri. Menyambutku, Baekhyun segera mengulurkan tangannya. Meski terasa kaku, tapi tetap saja ada perasaan senang dalam hatiku ketika menyambut uluran tangan Baekhyun.

“Kau tahu, pembicaraan kita tadi juga belum selesai.” Baekhyun berkelakar.

“Pembicaraan yang mana, maksudmu?” tanyaku pura-pura tidak tahu.

“Kau tahu maksudku Yeri. Tentang aku, dan apa yang terjadi padaku setelah chipku dilepaskan. Aku mungkin saja akan menunjukkan beberapa sikap yang tidak biasa di hadapanmu nanti. Aku harap—aku sungguh berharap, hal-hal kecil itu tidak akan mengubah cara pandangmu terhadapku.” Baekhyun menuturkan lembut. Tidak ada paksaan dalam suaranya, yang ada hanya usaha untuk menyampaikan kejujuran.

Johnny pernah mengatakannya, bahwa mereka akan mereka benar-benar terlihat seperti wujud asli mereka ketika chip tersebut dilepaskan dari tubuh mereka. Tapi aku tidak tahu kalau Baekhyun akan benar-benar sadar mengenai hal ini.

Maksudku, dia menyadari perubahan-perubahan yang mungkin akan terjadi padanya.

“Aku mengerti, Baekhyun, dan aku juga akan coba untuk memahami apapun yang terjadi padamu nanti.” termasuk kemungkinan terburuk, dia mungkin saja bisa tiba-tiba melupakanku, atau sejenisnya.

Tapi dia tetap seorang Baekhyun, yang membuat jantungku berdebar tidak karuan. Jadi apapun perubahannya tak akan jadi masalah besar buatku.

“Baguslah, aku lega mendengarnya.” kata Baekhyun.

“Kau bisa merasa ‘lega’ sekarang?” candaku segera membuat Baekhyun tertawa pelan, aih, tawanya saja sudah membuatku merasa seolah ada puluhan kupu-kupu berterbangan di dalam perutku, membuat perutku bergolak dalam euforia.

“Ya, aku sungguh paham makna kata lega yang sering manusia katakan.” katanya, tidak berusaha terlihat manusia, tapi tidak juga berusaha memamerkan bahwa dia berbeda.

“Kalau begitu ayo kita bergabung dengan mereka.” ujar Baekhyun saat ia akhirnya membimbing langkahku untuk mendekati diskusi kecil di dekat api unggun tersebut.

“…, Kita tidak bisa masuk bersamaan, harus ada strategi lain untuk masuk. Karena Joy tidak ada dalam jarak pantau TGC Center, kita tidak bisa mendapatkan akses untuk mengawasi semua pintu masuk.” kudengar Chanyeol berkelakar begitu aku dan Baekhyun bergabung dalam diskusi kecil mereka.

“Aku tahu seseorang yang ada di sana.” oh, Kai—ingat dia? Rekan Joy sebelum tubuh Joy diambil alih oleh Mina?—terikat di salah satu pohon besar di belakang api unggun tersebut. Menjadi pendengar rencana kami seolah dia bukan bagian dari musuh padahal caranya sekarang terikat sungguh mengingatkanku kalau dia adalah seorang tawanan.

“Aku tidak mau mendengar siapa yang kau kenal itu.” Chanyeol menyahut ringan.

“Oh ayolah, kalian tahu aku akan sangat berguna. Daripada kalian memamerkan rencana kalian di depanku bukankah lebih baik kalau kalian memperalatku sekalian?” pertanyaan Kai sekarang terdengar sedikit menggelikan dalam pendengaranku.

Apa dia sedang berusaha melemparkan jebakan? Karena caranya memancing seseorang untuk masuk ke dalam jebakannya sangatlah konyol.

“Berapa waktu yang kita punya di sana?” kemudian suara Sehun terdengar, sengaja mengabaikan Kai yang sejak tadi pasti sudah berulang kali menginterupsi konversasi mereka.

“Dua puluh menit, atau tiga puluh menit, maksimal.” Mina—ah, Joy, dia Joy sekarang—menyahut. Dia rupanya sudah sangat menguasai situasi yang Joy miliki dalam ingatannya.

Wow, tidak kusangka kita akan punya waktu sebanyak itu.” Chanyeol tertawa puas. Menurutnya tiga puluh menit itu waktu yang banyak?

“Sebenarnya kalau kita mengingat kembali apa saja yang harus kita lakukan di dalam sana, tiga puluh menit adalah waktu yang sangat singkat, Chanyeol. Pertama, kita harus merobohkan barisan pertahanan mereka—karena mereka pasti punya banyak perlindungan—kemudian kita harus menyelinap ke dalam mesin manual itu.

“Butuh waktu setidaknya lima menit untuk melakukan reset ulang di sana—jika tidak ada intruder. Kalau ada pengganggu, butuh waktu lagi. Kemudian kita harus pastikan kalau tindakan kita tidak sia-sia.

“Sekarang, kupikir-pikir lagi kita seolah tak punya waktu sama sekali.” Baekhyun kemudian angkat bicara. Meski dia tertinggal diskusi—karena menghampiriku tadi—rupanya Baekhyun tidak juga merasa kesulitan mengikuti alur pembicaraan mereka.

Hey, dengarkan aku. Sudah kukatakan aku punya kenalan di sana yang akan memberi kita akses unlimited. Mengapa kalian sama sekali tidak mendengarku?” lagi-lagi Kai menginterupsi. Dia tampak begitu ingin didengar kali ini, padahal semua orang bersikap seolah ia tidak ada di sana.

Tidak, aku tentu tidak menganggapnya tak ada di sana juga. Bagaimana pun keadaan Kai yang terikat saja sudah cukup mengganggu pandanganku—karena kupikir tidak adil baginya jika dia terus diikat begitu—dan sekarang aku merasa penasaran karena dia terus menerus berkata bahwa dia punya kenalan yang bisa membantu kami di TGC Center.

Padahal dia ada di pihak musuh.

“Baekhyun, menurutmu Kai tengah berusaha menjebak kita atau sebaliknya?” aku bertanya pada Baekhyun dengan hati-hati, berharap Kai tidak mendengarnya meski nyatanya dia tentu saja mendengar.

Terbukti dengan bagaimana dia sekarang menoleh ke arahku, melempar pandang yang tak bisa kuartikan sebelum dia kemudian tersenyum muram dan membuang pandang. Apa maksud dari tindakannya sekarang?

“Aku tidak bisa tahu dengan pasti, Yeri. Dia ada di pihak musuh.” jawab Baekhyun, tidak memerhatikan tindakan Kai tadi tentu saja.

“Tapi dia sama sepertimu, Baekhyun. Bagaimana bisa kau sampai hati melihatnya terikat seperti itu?” pertanyaanku kali ini berhasil merenggut perhatian Baekhyun. Terbukti dengan bagaimana dia akhirnya melempar pandang ke arahku, berusaha menganalisis emosi yang tergambar di wajahku sepertinya.

Kemudian Baekhyun memandang ke arah Kai yang sekarang berpura-pura tidak mendengar. Padahal baik dia maupun Baekhyun tahu kalau mayoritas Humanoid di sini mendengar apa yang kubicarakan bersama Baekhyun.

“Pelankan suaramu Yeri, mereka bisa mendengar.” Baekhyun berbisik—dengan vokal lebih rendah lagi.

“Tapi aku memang sengaja. Aku ingin mereka mendengarnya, tentu. Karena tak adil bagi satu orang Humanoid di sini jika dia terus berada dalam keadaan yang tak adil untuknya, terikat, terpenjara. Seolah ia telah berbuat salah padahal yang dia lakukan hanya menjalankan tugas yang diperintahkan untuknya. Mengapa dia harus terikat di sana padahal kalian sama-sama Humanoid?”

Dan saat itu, untuk pertama kalinya kulihat Kai tersenyum dengan begitu tulus, kepadaku. Meski kemudian senyum itu ditelannya kembali saat semua orang memandang ke arahnya dengan pandang tak senang.

Setidaknya, usahaku membuahkan kebebasan sementara bagi Kai.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Imej London dalam benakku sudah berubah sepenuhnya. Sungguh, ingatanku tentang kota London yang ada di dalam pelajaran sejarah saat aku masih bisa duduk di bangku sekolah sangat berbeda dengan apa yang sekarang aku hadapi.

Setelah apa yang terjadi kemarin—kejadian yang membuat tubuh Mina terbunuh secara fisik, well meski pada akhirnya dia mendapatkan tubuh baru yaitu Joy yang bisa dia kuasai dengan baik—tidak lagi membuatku memandang London sebagai kota yang ramah.

Hiruk-pikuk yang seharusnya ada di kota London sekarang telah berganti dengan kesibukan para Humanoid mengekori Ownernya masing-masing. Tidak, jangan bayangkan keadaan kaku yang terjadi. Satu-satunya hal kaku yang kulihat adalah kesibukan para Owner yang berkutat dengan peralatan elektronik mereka masing-masing, selagi Humanoid milik mereka membimbing langkah dan saling melempar sapa satu sama lain dengan Humanoid lain.

Situasi macam apa ini?

Bagaimana bisa robot malah terlihat lebih manusia daripada manusia itu sendiri?

“Apa yang kau lihat?” aku menoleh ketika kudengar Chanyeol bertanya. Bisa kupastikan kalau dia sedari tadi memerhatikan tingkah lakuku. “Tidak ada,” aku menjawab singkat. Berusaha untuk tidak terlibat dalam konversasi lebih jauh lagi dengannya.

“Benarkah? Kuperhatikan sejak tadi kau menghela nafas. Sesuatu mengganggumu?” tanyanya semakin terdengar mengkhawatirkanku. Mau tak mau, aku akhirnya mengalah juga. Percuma berbohong padanya, mereka bisa mendeteksi kebohongan yang manusia lakukan dengan mudah, bukan?

“Ya, bukan menggangguku secara spesifik. Tapi rasanya aneh, menyadari kalau kalian—Humanoid—bisa berinteraksi satu sama lain dengan cukup baik, sedangkan kami—manusia—seolah terkurung di balik teknologi yang kami gunakan untuk mengawasi kinerja kalian… rasanya aneh.

“Keadaan seolah berbalik. Kalian yang hidup selayaknya manusia, sedangkan kami bersikap kaku seperti robot—oh, bukan maksudku menyebut kalian sebagai robot tentu saja. Tapi tetap saja, situasi ini terlampau aneh, dalam pandanganku.”

Chanyeol tertawa pelan mendengar penuturanku. Lihat? Seseorang yang baru pertama kali melihat Humanoid mungkin saja akan berpikir kalau Chanyeol adalah seorang manusia. Selain diciptakan dengan paras terlampau sempurna—aku yakin para Servicer menghabiskan waktu begitu banyak saat menciptakan desain fisik para Humanoid—mereka juga seperti tidak memiliki kekurangan apapun.

“Manusia menciptakan kami untuk memudahkan kehidupan mereka. Sekarang, kehidupan mereka memang sudah dipermudah karena adanya kami. Meskipun, mereka harus seringkali terpaku pada teknologi yang memang harus mereka perhatikan sebagai tanda bahwa mereka memerhatikan keadaan kami, tapi tetap saja… kehidupan mereka sudah dipermudah. Apa kau masih merasa terganggu sekarang?” tanya Chanyeol lebih hati-hati.

Aku mengerti, manusia memang harus terus mengawasi kinerja Humanoid mereka. Apalagi jika Humanoid itu berperan di atas pekerjaan-pekerjaan penting mereka, tentu saja tidak ada satu manusia pun yang mungkin akan melepas atensi mereka barang satu sekon dari Humanoidnya.

Ucapan Chanyeol juga benar adanya, kehidupan mereka sudah dipermudah, sangat dipermudah, malahan. Tapi mengapa rasanya tetap saja salah?

“Entah, rasanya tetap saja aneh. Karena mereka terlalu berfokus pada kalian, mereka justru kehilangan naluri dasar mereka sebagai makhluk sosial. Apa kau tidak berpikir demikian, Chanyeol-ssi? Manusia… sekarang hanya menghabiskan waktu mereka dengan berinteraksi bersama Humanoid yang didaftarkan sebagai kepemilikan mereka saja.”

Hening sejenak menyelimuti, Chanyeol pun tampak seolah berpikir, walau aku tahu dia pasti tengah berusaha menganalisis jawaban yang tepat untuk dia utarakan tanpa harus menyakiti perasaanku karena ucapannya.

Semua Humanoid begitu, diciptakan sebagai sosok sempurna pendamping manusia. Sehingga, dalam keseharian sosialnya mereka juga tidak pernah berperangai buruk. Bukankah Baekhyun juga bersikap seperti itu kepadaku?

“Manusia memang aneh. Menginginkan kemajuan teknologi, tapi saat kemajuan itu sudah diciptakan, mereka justru mengeluh tidak puas. Ada juga yang merasa bahwa kemajuan teknologi itu membuat hubungan antar manusia semakin renggang. Ada yang berkata bahwa mereka sudah terlalu tua untuk mengikuti perkembangannya.

“Padahal, semua kemajuan teknologi itu diciptakan untuk memudahkan kehidupan mereka. Tua ataupun muda, bodoh maupun pintar, teknologi dan semua inovasinya diciptakan untuk memudahkan mereka. Lalu, apa yang membuat mereka terus mengeluh?

“Karena mereka enggan berusaha. Mempergunakan teknologi itu untuk memudahkan segala urusan mereka justru dianggap sebagai hal yang mempersulit. Senyatanya, mereka sendiri yang mempersulit semua perihal.

“Manusia ingin menikmati segala sesuatunya secara instan, mudah dan cepat, tetapi tidak mau berusaha untuk memahami cara untuk mendapatkan segala sesuatu yang mudah dan cepat itu. Sekarang, siapa yang sebenarnya menjadi masalah di sini? Manusia dan sifat malas mereka, atau teknologi?”

Aku seolah tengah disindir secara terang-terangan oleh Chanyeol. Dia jelas tidak sedang berusaha menyinggungku, tapi aku sungguh merasa tersinggung. Mau tak mau aku merasa bahwa aku adalah bagian dari mereka yang ingin semuanya dipermudah, tetapi aku sendiri pada akhirnya mengeluh.

“Coba berhenti menyalahkan semua kemajuan teknologi hanya karena kau merasa bahwa kau tidak mampu mempergunakannya. Yang perlu kau lakukan hanya mempelajari bagaimana cara untuk mempergunakan teknologi itu. Jangan hanya mengeluhkan teknologi yang semakin maju, sedangkan cara berpikirmu justru semakin mundur. Kalau sampai akhir kau merasa bahwa teknologi justru menyulitkanmu, mungkin bukan teknologi yang salah, tapi kau sendiri yang enggan membuang rasa malas.”

Kini Chanyeol menatapku, seolah menunggu respon yang akan kuberikan terhadap penuturannya barusan. Tetapi kedatangan Baekhyun segera menginterupsi konsentrasiku.

“Ah, Baekhyun.”

Kulihat bagaimana Baekhyun tersenyum saat mendengar suaraku. Kemudian kurasakan jemarinya bergerak lembut meraih jemariku. Bisa kuhirup aroma khas tubuh para Humanoid, cannabis, berbaur dengan aroma tajam jalanan London.

“Apa yang sedang kau bicarakan dengan Chanyeol?” tanyanya sembari mengurai jemariku, menyentuhnya satu persatu seolah Baekhyun tak pernah menyentuh jemariku sebelumnya.

Aih, mengapa sekarang jantungku bahkan berdegup tidak karuan hanya karena membayangkan betapa romantisnya situasi yang tengah Baekhyun ciptakan di antara kami?

“Serotonin di tubuh Yeri sudah meningkat, sebaiknya kutinggalkan kalian berdua daripada aku memperkeruh suasana.” Chanyeol terkekeh, dia pasti secara tak langsung sudah melakukan scanning terhadap tubuhku dan apa yang terjadi padaku saat berhadapan dengan Baekhyun.

“Memangnya apa yang kalian bicarakan?” tanya Baekhyun sepeninggal Chanyeol. Sekarang, kami berdua berjalan di barisan paling belakang dari kelompok kecil kami. Butuh setidaknya setengah jam perjalanan lagi untuk sampai di TGC Center.

“Tentang manusia, dan Humanoid tentu saja.” jawabku sambil merapatkan tubuh pada Baekhyun, bukan karena suhu rendah London yang mulai mencubit kulit, tetapi karena aku memang ingin berada di dekat Baekhyun.

“Mengapa dia katakan dia tidak ingin memperkeruh suasana?” tanya Baekhyun lagi, seolah dia sedang tidak bisa mengandalkan kemampuannya untuk menganalisis situasi saja. Padahal aku yakin saat Baekhyun tadi sibuk bicara dengan Johnny, dia sudah mendengar apa yang kami bicarakan.

“Kau tahu apa yang kami bicarakan, Baekhyun. Aku tidak perlu mengulangnya kembali, bukan?” tanyaku membuat Baekhyun kemudian tertawa pelan. Dia acak lembut suraiku, tidak, dia tidak mengacaknya tetapi berusaha menyentuh tiap anak rambutku seolah ia merindukannya.

“Aku tahu, tentu saja aku tahu. Aku hanya tidak ingin merusak keinginanmu saja, kalau mungkin kau ingin menceritakannya kembali kepadaku.” tutur Baekhyun. Segera aku memutar pandang, menganggap bahwa konversasiku bersama Chanyeol tadi sama sekali tidak akan jadi pembicaraan menyenangkan di antara aku dan Baekhyun, aku berusaha mencari hal lain yang bisa jadi bahan pembicaraan kami.

“Apa yang akan kita lakukan di TGC Center?” tanyaku hati-hati.

Menanggapi pertanyaanku, Baekhyun tersenyum simpul. “Kau serahkan saja pada kami, yang perlu kau lakukan hanya duduk dan menunggu, Yeri.” ujarnya. Tidak terdengar seolah kami akan melakukan hal yang mudah, tapi bisa kuketahui kalau kami mungkin akan melakukan hal yang beresiko.

“Apa berbahaya?” pertanyaanku berhasil membuat tawa Baekhyun muncul.

“Tentu saja berbahaya, memangnya… kita pernah melakukan hal tidak berbahaya selama beberapa hari terakhir?” kemudian Baekhyun merapatkan tubuhnya padaku, ia sejajarkan wajahnya dengan wajahku sebelum langkahnya memelan, Baekhyun lantas buka mulut lagi.

“Bukannya hubungan yang tengah kita jalin sekarang juga sama berbahayanya? Lalu kenapa kau terdengar begitu takut pada hal-hal berbahaya padahal kau punya aku di sisimu?” kalau saja dingin tidak mengurung tubuhku, aku yakin sekarang wajahku pasti sudah memerah seperti kepiting rebus.

Ucapan Baekhyun sungguh tidak masuk akal, terdengar sangat manusia, tapi aku sendiri tak pernah benar-benar mendengar manusia pernah mengatakan hal yang serupa dengan yang Baekhyun katakan sekarang.

Apa karena manusia memang sudah menyalurkan pemikiran yang sama pada Humanoid sehingga mereka benar-benar bisa memperlakukan manusia dari sudut pandang serupa?

“Hubungan kita tidak masuk dalam hitungan itu, Baekhyun. Kita tidak sedang berperang untuk saling mempertahankan eksistensi masing-masing.” bisikku, tak ingin konversasi kami sekarang dicuri dengar oleh orang lain padahal beberapa dari mereka—Humanoid, tentunya—pasti menangkap dengan jelas konversasi kami sekarang.

“Oh, jadi sekarang kita tidak lagi berbeda dalam pandanganmu? Aku sungguh merasa tersanjung,” Baekhyun tersenyum, dikecupnya lembut pipiku—seolah tindakannya sekarang tidak membuat jantungku berusaha untuk melompat keluar dari persinggahan dan merengkuh oknum yang membuatnya memberontak—sebelum ia lingkarkan lengannya di pinggangku, ditariknya aku untuk berjalan berhimpitan dengannya.

Rasanya sangat menyenangkan, begitu membahagiakan. Membayangkan aku dan Baekhyun bisa menghabiskan waktu semenyenangkan ini setelah semua perselisihan ini terjadi rasanya terlampau membahagiakan.

Sayang, aku tak bisa banyak berharap pada kebahagiaan yang tidak pasti itu. Sebab, setelah apa yang kami lakukan nanti, pasti akan ada efek samping yang terjadi juga. Entah itu keributan lainnya, perselisihan lain, atau bahkan… perpisahan. Hal paling buruk yang tidak kuinginkan, berpisah dengan Baekhyun.

“Tidak,” akhirnya aku berkata, karena aku tahu Baekhyun menunggu jawabanku, “…, dalam pandanganku… kita tidak berbeda. Meski kenyatannya tidak begitu, tentu saja. Kenyataan pasti lebih sering menyakiti kita daripada membiarkan kita berbahagia, bukan?” sambungku dijawab Baekhyun dengan sebuah anggukan kecil.

“Kali ini aku setuju dengan pemikiranmu.” tandasnya kemudian.

Hey, aku dan Mina—maksudku Joy, kami berdua akan masuk dari pintu belakang, bersama dengan Kai. Keberadaanku di antara mereka berdua akan tersamarkan karena memang mereka berasal dari tempat ini. Ada ide lain?” konversasiku dengan Baekhyun kembali harus dihentikan saat kudengar Sehun berucap.

Rupanya dia dan Johnny tadi sudah saling tukar kata, seperti yang Baekhyun dan Johnny bicarakan sebelumnya. Ah, sekarang aku mengerti kalau mereka tadi tengah merencanakan cara masuk ke TGC Center ini.

“Baiklah, aku dan Chanyeol akan masuk dari pintu depan.” kata Baekhyun mengiyakan. “Bagaimana denganku?” refleks aku bertanya saat tidak kutemukan namaku bersanding dengan nama Baekhyun dalam rencana ini.

“Kau akan bersama dengan Johnny, kalian masuk dari rute paling aman.” Baekhyun tersenyum menenangkanku, seolah ia—ah, tentu saja dia tahu kalau aku sekarang sedang panik. “…, aku tidak bisa membiarkanmu masuk ke tempat itu dengan rute berbahaya, Yeri. Kau dan Johnny akan masuk dari atap.”

Memangnya menurut Baekhyun atap jadi jalan terbaik untuk masuk?

“Ya, dari scanning yang Mina lakukan terhadap ingatan Joy, atap adalah jalan pintas terbaik. Karena mereka benar-benar memiliki pengawasan minimal di atap, dan satu-satunya yang bisa mengawasi kita secara langsung hanya satelit.” aku mengerjap cepat saat mendengar ucapan Sehun.

“Apa aku secara tidak sengaja mengutarakan pemikiranku barusan?” tanyaku.

Baekhyun mengangguk sebagai jawaban. “Aku yakin kau tak sengaja melakukannya, tapi penjelasan Sehun memang benar adanya. Kau dan Johnny masuk dari atap, Yeri. Tidak ada penolakan.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

Satu persatu hutang pelunasan fanfiksi ini akhirnya bisa aku realisasiin. Pertama Springflakes, habis ini One and Only, True Lies sama Gidaryeo menyusul. Nanti Game Over terakhir. Aw, masih banyak juga ternyata meski satu udah tamat, huhu.

Berhubung dari kemarin-kemarin aku berfokus sama fanfiksi sebelah, One and Only jadi agak-agak kegeser lagi dari list prioritas padahal dulu aku tjinta mati sama cerita satu ini (dasar author labil). Tapi enggak apa-apa, karena One and Only perjuangannya juga udah enggak lama lagi, jadi enggak apa lah kalau aku percepat sedikit.

Mungkin dalam minggu ini aku bisa publish satu chapter lagi, lumayan mengobati kerinduanku sendiri sama cerita ini, lol. Fyi, mood sci-fiku bener-bener balik ketika kemarin aku iseng-iseng main ke situs dan nemuin buanyak banget (syit serius ini pas ngingetnya aja aku terharu saking bahagianya) video tentang interview sama Humanoid gitu, aw, aw. Ya ampun bayanganku tentang kehidupan di masa depan bersama Humanoid pun semakin dekat pada kata realisasi (padahal aku enggak berkontribusi apa-apa tapi rasanya bahagia aja, wkwk).

Entah, apa kalian juga memandang kemajuan teknologi ini dengan cara yang sama dengan aku? Kayaknya enggak, pasti ada yang akan merasa serem juga sama kemajuan teknologi ini sih. Tapi mari kita pandang sisi positifnya dulu, kemajuan teknologi tentang AI gini tentu aja lebih berfaedah daripada kita terus-terusan mengkritik ‘kids zaman now’ yang padahal kalau dilogika sih, bukan salah mereka yang jadi generasi melek intelektual tapi memang kemampuan intelegensi mereka sudah lebih baik daripada kita saat berada di usia yang sama.

Nah, kemajuan teknologi dan semua AI yang dikembangin di dunia pun coba kita lihat sisi positifnya dulu. Jangan membiasakan diri untuk mengkritik tanpa memandang dari sudut pandang yang berbeda ya gengs, nanti kalian bisa-bisa disebut sebagai ‘lansia usia muda’ sama para anak-anak yang kalian juluki hidup di zaman now.

Sekian dulu dariku, sampai ketemu di chapter berikutnya, jangan lupa tinggalkan jejak kalau kalian cinta sama Byun Baekhyun. Salam kecup, Irish.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

14 tanggapan untuk “One and Only – Slice #24 — IRISH’s Tale”

  1. ya ampun, kai kesian bgt dianggap ga ada sm everyone xcept for yeri. romance moments nya bakery couple so fluffy ^ ^ my favorite santapan nih, lots of love, sweets.. mupeng..!!
    duh, chanyeol berpetuah pnjng lebar ttg hi-tech & human yg bnyk ngeluh/ga pandai bersyukur/kufur nikmat.
    baek sngaja muncul di tngh2 obrolan yeri-chan tu u/ ‘saving’ yeri dr kharusan u/ ngjawab argument chan spt’ny.
    moga berjalan lncr ya eksekusi rencana mrk, ht2, don’t get hurt.

  2. kau tau rish..betapa aku rindu sama baek-yeri??
    dan akhirnya dipublish setelah nunggu sekian lama..
    gomawo ya..
    chapter ini udah mulai menegangkan..
    4 chapter lagi ya endingnya?
    wah..tambahin atuh..jadi 30 chapter…
    wkwkw banyak maunya..
    btw aq berharap jiwa sci-fi mu lagi mode on ya..biar minggu bs publish chapter 25..hihi..
    anyway. semangat terus ya rish..

  3. Akhirnya yg di tunggu hadir juga ~^O^~ seneng deh liat baek yeri disini dari yg awal nya nutup perasaan, pura pura ga tau, malu malu, lari dari kenyataan /ehh sekarang malah manis manisan krenyes krenyes gitu rasanya baca penjelasan chanyeol tentang manusia dan kemajuan teknologi ini kaya tamparan keras bukan tamparan lg deh kayanya tapi kaya di jorokin gitu/halahhh
    Berhasil ga ya mereka nanti di center
    Seenggaknya di puas puasin dulu sama baek yeri yg manis semanis manisan ini sebelum nanti menghadapi akhir yg kemungkinan bakal ga sesuai sama keinginan (っ˘̩╭╮˘̩)っ

    Mangat terus thor ~

  4. Heol ;”v update juga dari sekian lamanya menunggu humanoid ku ini xD

    apa kabar ka Rish? Gimana liburannya? Jalan” kemana? Dan dpt uang jajan kah selama liburan? T^T

    Baekhyun emang slalu bisa bikin jantung Yeri mau copot, entah kenapa Baekhyun ini simple.. Tapi tiap kata yang dia ucapin itu bener” bikin si pembaca satu ini klepek” kaya ikan teri ;”

    pagi” dikasih sarapan Humanoid ❤ ❤
    semangat ka Rish ^^

  5. Irish..u know how much i love u????????
    Vangke lah s cabe kata2nya…humanoid dgn libido yg tinggi..seriously rish??km ga cm bkin yeri klepek2…disini ada 1 juga yg klepek2 pagi2 gegara 1kalimat itu…ngebayangin ada ga ya orang bisa ngmong dgn tegas romantis menarik kaya cabe disini???ohh no…imajinasiku sdh kemana2..lebih baik skrsng siap2 kantor drpda telat lgi hahahhaha
    Btw, irish u always be the best!!!!!!irish jjang!!!!!!!!!!ditunggu semua lanjutannya walaupun ga ikhlas mereka bakal pada end hiks hiks

Tinggalkan Balasan ke sujinie Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s