SPRINGFLAKES – Slice #12 [final] — IRISH’s Tale

   SPRINGFLAKES  

  EXO`s Baekhyun & OC`s Chunhee 

   with EXO & iKON Members  

  adventure, action, fantasy, romance, life story rated by PG-17 served in chapterred length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2017 © IRISH Art & Story all rights reserved

— time slipped in spring, dream trapped in winter —

Reading list:

〉〉   Slice #1Slice #2Slice #3Slice #4Slice #5Slice #6Slice #7Slice #8Slice #9Slice #10Slice #11〈〈

 Slice #12

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Seperti ucapanku tadi, Park Chanyeol. Aku akan mengutukmu, sehingga kau tidak lagi bisa berusaha mengusikku atau mengusik orang-orang yang berada di dalam perlindunganku.”

“Rupanya… melawanku saja sudah membuatmu berubah menjadi monster, Baekhyun. Kalau kau masih selemah ini, bagaimana kau akan bisa melawan pimpinan pasukan vampire yang lainnya?”

Tawa lolos dari bibir Baekhyun. Bukan tawa khas miliknya, tapi suara tawa yang terdengar seolah bergemuruh, hendak menelan habis apapun yang ada di hadapannya. Tawa ini mengerikan.

“Kau pikir aku berubah untuk melawanmu? Aku berubah untuk membangunkannya.” kata Baekhyun, sekon berikutnya bisa Chanyeol lihat bagaimana tubuh Chunhee melayang ke udara, dibalut kabut hitam mengerikan yang dia kenali sebagai kabut serupa milik Baekhyun.

Bukan, bukan hanya milik Baekhyun tetapi juga milik vampire berdarah murni lainnya. Yang mereka tunjukkan saat akan memberi kutukan kepada vampire lain. Tetapi, mengapa Baekhyun justru menggunakan kabut kutukan itu pada Chunhee?

“Kau akan membangunkannya?” ulang Chanyeol, segera dia teringat pada hal yang pernah dilakukannya pada si gadis yang merenggut perasaan Baekhyun dan mengubahnya menjadi seorang yang tidak bisa menunjukkan perasaannya seperti ini.

“Ya, dengan cara yang sama seperti caramu membangunkan dia.” Baekhyun mengedikkan dagunya ke arah gadis yang berdiri dengan tatapan kosong di belakang Chanyeol. Well, Baekhyun sudah berniat untuk benar-benar mengakhiri kehidupan gadis itu juga, tentu saja.

SRASH!

Terkejutnya Chanyeol saat dia lihat bagaimana kabut hitam di sekitar tubuh Chunhee sekarang bergerak dengan kasar mencabik tubuh si gadis, mengundang pekikan sarat akan kesakitan yang lolos dari bibir Chunhee.

“Dia juga akan mati, Chanyeol.” kata Baekhyun begitu dia alihkan pandangnya dari tubuh Chunhee, seolah teriakan kesakitan gadis itu sekarang sama sekali tidak mengusik pendengarannya.

Kemudian Baekhyun melangkah dengan tenang, dia biarkan kabut hitam itu sekarang melingkupi tubuh gadis berpandangan kosong di belakang Chanyeol. Suara berkemeretak patah yang menyapa rungu Chanyeol segera membuat pemuda bermarga Park itu tahu apa yang terjadi.

Dia bahkan tidak perlu membalikkan tubuhnya untuk melihat bagaimana keadaan si gadis. “Kau tidak bisa menggunakan masa lalu untuk melawanku. Karena aku tidak hidup di bawah kungkungan masa lalu.” kalimat itu kemudian masuk ke dalam pendengaran Chanyeol. Terdengar seolah berusaha menamparnya.

“Sebenarnya, kau terlalu lemah untuk melawan masa lalumu sendiri. Sehingga kau memutuskan untuk berlari darinya dan bersikap seolah kau baik-baik saja.” sahut Chanyeol ringan, tengah berusaha bermain-main dengan emosi Baekhyun lagi, rupanya.

“Tutup mulutmu, Park Chanyeol. Kau tahu kau tidak pantas untuk bicara seperti itu padaku.” kata Baekhyun kemudian membungkam Chanyeol. Memang, dia tahu benar kalau dia sekarang tidak berada dalam situasi di mana dia bisa bebas bicara.

Pasukannya sudah ia kerahkan ke singgasana Baekhyun. Melihat tidak adanya satu orang pun yang kembali, bisa Chanyeol katakan kalau dia sekarang sudah kalah telak. Satu-satunya pilihan adalah mengalah, tetapi tidak ada kata kalah di dalam kamus seorang Park Chanyeol.

“Mengapa tidak kau lawan aku secara fisik saja? Daripada bermain dengan kutukan.” Chanyeol menguarkan sebuah tantangan. Yang kemudian disahuti Baekhyun dengan senyum simpul.

“Kau pikir aku takut menghadapimu? Sudah kukatakan aku tidak hidup di bawah kungkungan masa lalu, Chanyeol. Jangan meremehkanku.” kata Baekhyun, dia kemudian menggerakkan tangannya, menarik sepasang pedang Chunhee yang tergeletak di tanah untuk menyatu dengan telapak tangannya.

Terpana, Chanyeol akui dia cukup terkejut saat mendapati bagaimana Baekhyun telah mampu menggenggam pedang perak tanpa harus terluka. Pemuda itu belum sempat mempersiapkan diri saat Baekhyun dengan cepat melesat ke arahnya, menyerangnya dengan gerakan gesit dan tidak terduga.

Ya, Chanyeol tidak bisa menduga strategi penyerangan Baekhyun karena dia sendiri tidak pernah berhadapan langsung dengan pemuda itu.

SRAT!

Sebuah luka menganga Baekhyun ciptakan di lengan Chanyeol.

“Kau yakin kau ingin hidupmu berakhir begitu saja di tanganku?” tanya Baekhyun, dia menyisakan jarak antara dirinya dengan Chanyeol. Seolah memberi Chanyeol ruang untuk melarikan diri padahal Chanyeol tahu dia hanya akan menerima ejekan jika dia berlari.

“Kalau begitu bunuh saja aku.” kata Chanyeol, tegas, tanpa ada terselip rasa takut sedikit pun dalam suaranya meski dia tahu, mati karena serangan pedang perak bisa mencipta rasa sakit luar biasa di tubuhnya.

Baekhyun kini berdiri tegap, menatap Chanyeol dengan tatapan nyalang yang penuh akan kemarahan. Tetapi Baekhyun tidak membenci. Tidak, dia tentu tidak berhak membenci seseorang, meski dia ingin.

“Begitu, ya… Karena kau sudah menyerahkan diri. Jadi sekarang bisa kukatakan kalau ini adalah giliranmu, Park Chanyeol.” vokal Baekhyun kemudian mengudara. Dia hempaskan kedua pedang di tangannya, seolah dia sama sekali tak butuh kedua benda itu untuk mengalahkan Chanyeol.

“Silakan saja. Aku memang sudah menanti-nanti kematian yang akan kau berikan kepadaku. Entah itu kutukan, atau kematian karena pedang perak yang tadi kau pamerkan padaku.” kata Chanyeol dengan nada menantang. Tapi bukannya merasa marah karena kesombongan yang Chanyeol pamerkan, Baekhyun justru tersenyum.

“Memangnya kau pikir aku akan memberi kutukan berupa kematian padamu?” dia bertanya pada Chanyeol. Seolah tersadar, seringai yang sempat ada di wajah Chanyeol kini tenggelam. Bergantikan dengan ekspresi kaku yang bisa Baekhyun duga apa maksudnya.

“Tidak. Kau tidak sedang berencana—”

“—Oh, ya. Aku memang tengah berencana menjatuhkan kutukan yang ada di dalam benakmu sekarang, Park Chanyeol.” ujar Baekhyun memotong dengan tenang.

Bukan kematian yang jadi ketakutan nomor satu seorang Park Chanyeol. Yang ada, kematian justru menjadi angannya. Dia sudah hidup cukup lama di tengah kehidupan monoton yang tidak berujung ini. Kematian akan jadi hal yang Chanyeol impikan saat ini.

Tetapi, Baekhyun justru sadar kalau memberi Chanyeol kutukan dalam bentuk apapun tidak akan membuatnya jera. Jadi, Baekhyun sudah memikirkan cara lain untuk membuat Chanyeol jera.

“Kau tahu, membiarkanku hidup lebih lama hanya akan menambah kekacauan di dunia ini, Byun Baekhyun.” Chanyeol berkata, tahu benar kalau Baekhyun pasti hendak mengutuknya untuk hidup lebih lama lagi.

“Tentu aku tidak hanya memikirkan itu. Aku sangat berbaik hati padamu, Park Chanyeol.” ujar Baekhyun santai. Dia kemudian melangkah mendekati Chanyeol, membiarkan pemuda bermarga Park itu dikelilingi oleh kabut hitam kutukannya.

“Itulah mengapa… aku akan menjatuhkan kutukan yang lebih mengerikan atas perbuatanmu, Park Chanyeol. Hiduplah setidaknya seribu tahun lagi, hiduplah sebagai seorang vampire yang tidak berdaya, tidak punya kuasa, tidak punya kemampuan untuk berkuasa.

“Hiduplah selama seribu tahun itu dalam penderitaan. Berbaurlah dengan manusia sebab kau tak akan bisa hidup di tengah-tengah para vampire. Selama seribu tahun itu… kau bisa menghilangkah kutukan itu jika kau menemukan hati nuranimu.”

Usai menyelesaikan kalimatnya, Chanyeol lantas mengerang kesakitan. Tubuhnya seolah mengelupas, padahal tidak terjadi apapun pada tubuh pemuda itu, tentu saja. Hanya, seluruh bagian dari dirinya yang dulu memiliki kuasa atas para vampire sekarang seolah ditarik dengan paksa.

Yang tersisa, hanya sosok tidak berdaya.

“Kuharap kau bisa benar-benar jera kali ini, Chanyeol.” kata Baekhyun saat dilihatnya tubuh Chanyeol tergeletak tidak berdaya. Dia tahu apa yang akan terjadi pada Chanyeol setelah ini, atau bertahun kemudian.

Tapi Baekhyun juga tidak egois. Dia bukannya memberi kutukan tiada akhir pada Chanyeol. Dia tahu pemuda itu akan bisa menghilangkan kutukannya ketika dia sudah benar-benar jera, ketika dia sudah memiliki hati nurani.

Entah, di tahun keberapa Chanyeol akan menemukannya, itu yang tidak Baekhyun tahu dengan pasti. Hal lain yang sekarang setidaknya Baekhyun ketahui dengan pasti adalah apa yang akan terjadi kepadanya, juga Chunhee.

Ah, segera Baekhyun teringat pada Chunhee, gadis itu masih melolong kesakitan, benaknya dipaksa untuk mengingat kembali semua memori yang sudah terhapus dalam waktu beberapa hari ketika dia berubah menjadi separuh dari diri Baekhyun.

Jadi, untuk mengurangi rasa sakit di tubuh Chunhee sekarang, Baekhyun segera menarik gadis itu ke dalam rengkuhannya. Dia bawa Chunhee melangkah melintasi rerumputan hangus yang ada di sana, meninggalkan sisa-sisa kehancuran yang ada.

“Maaf, ini satu-satunya jalan agar kau kembali menjadi dirimu sendiri.” Baekhyun bergumam, berharap kalimatnya akan bisa didengar Chunhee meski hanya samar-samar. Sebab Baekhyun tahu benar kalau kesakitan yang Chunhee rasa sekarang masih akan berlangsung cukup lama.

Setidaknya selama beberapa pekan sampai semua pribadi lama Chunhee benar-benar kembali. Sekarang, tinggallah Baekhyun yang memandang ke arah tempat tinggalnya dengan sebuah senyum bangga.

Dia sudah berhasil menghentikan satu serangan bangsanya. Masih ada belasan serangan lainnya menunggu di luar sana. Tapi Baekhyun bisa menunggu. Ya, dia sekarang punya rekan yang akan menghabiskan waktu lama dengannya, bukan?

“Sekarang waktunya kita pulang, Chunhee-ah.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

EPILOGUE

In Chunhee’s Eyes…

Senja menyambut sejauh aku memandang. Nyala jingganya menyapu jajaran bukit hijau di bawah sana, seolah tengah menyelimutinya sebelum malam yang dingin tiba. Aku sendiri berdiri di ujung terjauh dari jajaran bukit hijau tersebut, bersama Baekhyun, tentu saja.

“Tidak terasa, sudah empat puluh tahun berlalu.” vokal Baekhyun segera terdengar begitu aku memikirkan namanya. Tentu saja, dia sekarang sudah punya kuasa ‘lebih’ terhadap kehidupanku.

“Aku harus berterima kasih? Atau malah menyesal?” tanyaku disahuti Baekhyun dengan sebuah senyum muram. “Menyesal, kurasa.” ia menyahuti. Tapi aku kemudian menggeleng.

“Aku justru berterima kasih.” kataku.

“Mengapa?” ia bertanya.

Aku memandang Baekhyun sejenak. Tidak yakin apa dia baru saja bertanya untuk sekedar memastikan pemikiranku atau dia benar-benar tidak tahu.

“Tentu saja, karenamu aku jadi punya waktu lebih panjang untuk melindungi manusia. Justru, aku yang seharusnya mengira kalau kau menyesal karena sudah membagi kehidupanmu denganku.” mendengar penuturanku, Baekhyun justru tertawa.

Bukan meledek, tawanya sekarang terdengar penuh empati.

“Untuk apa hidup berlama-lama di dunia ini, Chunhee-ah? Yang aku inginkan hanya melihat bagaimana bangsamu dan bangsaku bisa hidup berdampingan dengan damai.” kata Baekhyun.

“Kau tahu benar hal seperti itu tidak akan terjadi.”

“Ya, karena aku tahu, jadi kupikir hidup lebih lama di dunia ini juga akan sangat membosankan. Bukankah nanti kita berdua akan mati bersama?” Baekhyun melirikku. Memang benar ucapannya, kehidupan Baekhyun telah terbagi separuhnya padaku.

Itu artinya, kami juga akan mati bersama. Dan sama-sama tidak menua. Ah, aku rindu melihat Hanbin, berlari bersamanya, berlatih bersamanya. Tetapi sekarang yang bisa kulakukan hanyalah berlatih dengan putra Hanbin.

Sebab Hanbin sendiri sudah jadi seorang manusia renta di atas kursi kayu. Sementara aku tidak menua, seperti Baekhyun. Aku memang masih membutuhkan hal-hal ‘manusia’ seperti dulu, tetapi aku tidak menua dan tidak mudah dilukai.

Hal itu juga yang memudahkanku membantu Baekhyun. Oh, kekuasaan Baekhyun sekarang juga sudah begitu luas. Separuh dari koloni vampirenya sudah takluk, untuk saat ini tentu saja. Kami sama-sama tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi saat Baekhyun dan aku nanti sama-sama tidak ada di dunia.

Tapi kupikir aku tidak seharusnya membayangkan apa yang masih akan terjadi berpuluh tahun kemudian, bukan?

“Akhir-akhir ini aku jadi semakin sering mendengar pemikiranmu.” gumam Baekhyun.

“Ah, maaf, aku sungguh tidak tahu kalau kebersamaan kita akan berefek seperti ini.” ujarku dijawab Baekhyun dengan senyum simpul. “Tidak masalah, rasanya menyenangkan. Mendengar pemikiran seseorang yang memiliki pemikiran serupa denganku.”

“Aku rasa cara berpikirku berubah karenamu juga.” aku mengedikkan bahu acuh, lantas aku kemudian berdiri menyejajari Baekhyun—oh, tidak benar-benar menyejajarinya tentu saja.

Aku berdiri dua langkah di belakangnya, sebab bagaimanapun dia tetap berstatus sebagai seorang Pangeran yang dihormati di sini.

“Lama tidak mendengarmu menyebutku begitu.” Baekhyun bergumam, kemudian dia melangkah mundur, menyejajari diriku. “…, Kau tahu kita tidak lagi ada dalam batasan yang sama bukan?” sambungnya sambil memandangku.

“Kau sudah jadi bagian dari diriku, Chunhee. Kau satu-satunya orang yang kupercaya. Jadi… bisakah kau lupakan batas yang membedakan kita?” tanya Baekhyun.

Sejenak aku termenung dalam lamunan. Bagaimana mungkin aku bisa menganggap diriku sama sepertinya? Sementara aku sendiri hanya seorang manusia yang secara kebetulan terlibat dengannya, lalu berujung mendapatkan separuh kehidupannya.

Akan sangat tidak tahu diri jika aku menganggap diriku berada di posisi yang setara dengannya, bukan?

“Aku tidak berpikir begitu.” Baekhyun menyernyit saat mendengar pemikiranku. Dipandangnya aku dengan sepasang manik kelam—entah mengapa beberapa waktu terakhir dia begitu sering memiliki warna mata yang kelam seperti manusia—miliknya yang sarat akan misteri.

“Lalu apa yang kau pikirkan?” tanyaku akhirnya.

“Kau adalah bagian dariku, semua orang tahu itu, Chunhee. Dan semua orang memandangmu sebagai aku yang lain.” lagi-lagi Baekhyun menekankan opininya mengenai aku yang menjadi bagian dari dirinya.

“Jadi kau ingin aku menganggap diriku sama sepertimu, begitu?”

“Ya.” Baekhyun mengangguk mantap.

Tidak menanggapi perkataannya lagi, aku justru menemukan diriku terjebak dalam perasaan haru yang tidak wajar. Sejak awal, Baekhyun memang tidak pernah memperlakukanku dengan buruk.

Dan aku tidak bisa mengira kalau semua vampire begitu, karena ada beberapa vampire yang justru menganggap manusia sebagai sampah. Tetapi Baekhyun tidak memandang manusia dengan cara yang rendah.

Bisakah, Baekhyun kusebut sebagai analogi dari kesempurnaan? Karena dia tidak punya kekurangan apapun.

“Oh, aku punya kekurangan, ingat? Aku tidak pandai beradu pedang.” kata Baekhyun menjawab opini dalam benakku.

“Kau sudah sangat mahir sekarang, karena kau sering berlatih.” kilahku. Fakta bahwa dia dulu tidak bisa bertarung tidaklah bisa kujadikan sebagai kelemahannya sekarang. Karena setelah berlatih selama puluhan tahun, Baekhyun justru berbalik sering mempermainkanku saat kami berlatih.

Dia sudah menghancurkan kelemahannya sendiri.

“Itu semua karena kau juga.” aku mengangguk mengiyakan perkataan Baekhyun. “Setidaknya ada hal baik yang kusarankan padamu. Jadi kau tidak harus selalu mengingatku sebagai pembuat onar yang seringkali mengutamakan emosi.”

Lucu juga kalau diingat-ingat, karena belasan tahun terakhir, aku justru semakin kesulitan mengontrol emosiku. Baekhyun lah yang menjadi penenangku, menahanku setiap kali aku hendak menggila dan menyerang musuh tanpa strategi.

Entah, apa ini karena aku membawa serta emosi yang ada di dalam diri Baekhyun sebelumnya? Bisa jadi begitu, karena aku justru tidak melihat kemarahan berlebihan pernah Baekhyun pamerkan.

“Hubungan macam apa yang kita jalani sekarang, Chunhee?”

“Apa?” aku terkesiap saat mendengar pertanyaan Baekhyun.

“Kau dan aku. Kita hidup bersama, melakukan segalanya bersama, bahkan hampir seluruh waktu dalam satu hari selalu kita habiskan bersama. Aku membutuhkanmu, dan kau pun membutuhkanku.

“Kau tidak ingin kehilangan aku, dan aku pun begitu. Kita bahkan sudah sama-sama merencanakan di mana tubuh kita akan sama-sama dibuang ketika mati nanti. Menurutmu, hubungan macam apa yang sedang kita jalani ini?”

Bukan cinta, tentu saja. Karena perasaan cinta sudah jadi perasaan nomor satu yang aku rasakan pada Baekhyun. Dia mencintaiku karena aku adalah bagian dari dirinya, dan aku mencintai Baekhyun karena dia adalah bagian dari diriku.

Tapi bukan cinta selayaknya kisah romansa yang sekarang kami rasakan. Hanya—

“Hubungan seperti ini.”

—benar. Yang kami jalani, hanya hubungan seperti ini. Sampai sisa waktu kami habis bersama-sama.

*

*

*

Aku dan Baekhyun, kami saling memercayai dan memiliki satu sama lain. Bukan dalam ikatan percintaan, bukan juga dalam ikatan penuh keterpaksaan. Sejak empat dekade yang lalu, kami telah sama-sama melebur menjadi satu. Sekarang, tak ada lagi kata aku dan dia di antara kami.

Aku adalah dia, dan dia adalah aku. Aku adalah bagian dari Baekhyun, begitu juga sebaliknya. Kami saling melengkapi, saling melindungi, saling membutuhkan, dan saling memercayai.

Hubungan kami ini… aku dan Baekhyun pun tidak tahu bagaimana harus menyebut hubungan yang ada di antara kami. Biarlah, masing-masing orang menafsirkannya sesuka hati. Karena toh, apapun yang mereka pikirkan tentang kami, tidak akan mengubah apa yang telah terjadi.

( Lee Chun-Hee )

the end

12 tanggapan untuk “SPRINGFLAKES – Slice #12 [final] — IRISH’s Tale”

  1. Kak rish tau gak, ini tuh ending nya adem ayem kek di kulkas wkwk/abaikan/
    Eh tapi serius loh aku suka banget sama kisah nya mereka…. Saling melindungi, saling melengkapi, saling ngebutuhin satu sama lain… Dan mereka itu satu jiwa dan saling terikat satu sama lain di tubuh yang berbeda… Entahlah pokoknya ini keren bgt ampe bingung mau ngomong apa wkwk…. Intinya irish ter the best lah di hati akoehh😂

  2. Kenapa aku terhura hura ending nyaaaa unchhh pke bgt #alay mode on
    Ff kaporit/favorit akhirnya end. Ada rasa nyesek” nya gegara happy ending, kalo sad ending nyesek juga sih.. Omooo ff kesayangan udah end aja. Tinggal nunggu ff yang lain kelar :”)
    Gidaryeo kak :v
    Aku selalu menunggu mu dan akhir” ini aku jarang muncul di kolom komentar acu merasa bersalah.. Ingin rasa nya muncul terus kadang kuota menghambat keinginan ku unyuk menarikan jari ini ini kolom komentar mu :v

  3. Hm, hanbin nkh sm sp?
    Bkn’ny hanbin-chunhee ada rasa 1 sm lain? Chanwoo pie kbr nya?
    백 bijak bgt ksh curse bwt 찬 nya, such a prince charming 👑
    Hub 백-chunhee 1 jiwa dlm 2 tubuh, soulmate with no romance in it, ‘adem’ ky yg dibilang Alvi 😊
    Ini ff new flavour lg dr irish 😀

  4. Duh kak Irish ending nya adem bngt dah suer tekewer kewer… Seneng bngt pokoknya baca endingnya menenangkan hati bngt, baekhyun dan chunhee saling memahami dan membutuhkan satu sama lain, dan definisi dari hubungan mereka tuh beda dari yg kita anggap selama ini, kak Irish jjang…. Jjang… The Best lah pokoknya 👍👍👍👍👍👍👏👏👏👏👏👏👏 makasih bnyak kak udah bikin endingnya… Masih penasaran juga sama kehidupan chanyeol setelah menerima kutukan itu, jujur aja kasian ama si caplang ya tpi mau gimana lg dia jahat sih di cerita ini (tpi diriku ttp cinta kok) 😁😁😁😁😁
    Sukses ya kak… Ditunggu karya lainnya, pengennya ada sequel tpi gk maksa juga kok kak
    Hwaiting….. 😄😄😀😀🙋🙋🙋💪💪💪👏👏👏👏👏

  5. Endingnya ane suka.. thanks udah buat ff yg berkualitas (walaupunastral😂) buat nemenin waktu luang readers kak irisheu..
    Ane tunggu karya selanjutnya. Karena kita punya genre favorit yang sama, apapun ff kak Irish pasti ane baca. Fighting!!

  6. Irish..ne ending terkejam buat cabe…mana cabe lg diserang sma antis..sampe cabe syedih n minta maaf…huaaaa..kok jadi baper bgt yaaa gegara ending yg ini juga hiks hiks…tapi alhamdulillah kelar satu..biar hatiku ga brcabang banyak2 gegara dirimu hahahahahahah
    Mereka jadi satu tapi beda tubuh..perasaan yg sama tapi dua manusia eh vampir yang berbeda..ahh irish..selalu bisa membolak balikan hati readers…jjang!!!!

  7. udah end beneran ini???
    ya gk ada cinta”an mlah bagus…
    hubungan tak kasat mata ini namanya.. wkwkwkwk
    makasih irish, sekali lagi udah membuat cerita yg menarik banget utk aku…
    gk pernah bosen sma cerita irish yg sudah ditebak..
    kamu bner” udah bekerja keras buat cerita ini… aku salut banget sma kamu
    ppprooookkkkkkk pppprrroookkkkkkkk ppproooookkkkkkk

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s