Behind The Scenes_Nidhyun

Behind The Scenes
Written by Nidhyun (@nidariahs)

***

Ini adalah adegan terakhir. Luhan berusaha melemahkan seluruh tenaga pada otot-ototnya, mencoba melawan bagian naskah, dan membiarkan perempuan bersurai panjang dengan paras yang selalu dipuja bak dewi di hadapannya terus memojokkannya, mendorongnya, hingga ia terkunci pada sebuah tembok yang hanya sebatas pinggang. Luhan memiringkan wajahnya, menarik seulas senyum kecil yang ia harap dapat memberikan ketenangan pada sang gadis. Sekali lagi, ini adalah adegan terakhir, dan sesulit juga sesakit apapun, adegan ini harus berakhir sempurna, terlepas dari uraian air mata yang mulai membubuhi rasa keraguan di mata si gadis.
“Lakukan, Ariel!” dengan susah payah Luhan mengeluarkan suaranya yang hampir terputus. Cengkraman dari tangan si gadis bernama Ariel itu semakin kuat bahkan tanpa gadis itu minta, sangat berhasil untuk membuat Luhan semakin sulit untuk mengeluarkan suaranya.
“Ariel…kumohon…”
Ariel justru berusaha menarik tangannya dan menjadi histeris. Gadis itu sama sekali tidak menyukai adegan terakhir ini. Ia sama sekali ingin mengakhiri adegan terakhir ini dengan baik, bukan dengan sebuah kematian tragis bagi Luhan dan kegilaan yang akan terus terjadi secara berkesinambungan bagi Ariel. Walaupun Ariel dan Luhan mungkin akan dihidupkan kembali dengan cara yang berbeda, plot yang berbeda, dan tentu akhir yang berbeda…, tapi ini adalah akhir cerita paling menyakitkan yang pernah Ariel alami.
“Dia gila, Luhan!” Ariel masih melawan dorongan di tangannya yang terus saja menekan urat-urat leher Luhan, membuat wajah pemuda itu berubah pucat. Ariel terus menjerit histeris. Penciptanya tak pernah membuat adegan semengerikan ini sebelumnya, “LUHAN!!!” Ariel semakin menggila dalam jeritannya tatkala ketika kedua tungkainya bergerak maju, membuat tubuh Luhan semakin terdorong ke belakang.
“Biarkan semua ini menjadi bagian akhirnya, Ariel…” bola mata Luhan mendelik, menahan rasa sakit yang menekan seluruh tubuhnya. Seluruh tubuh Ariel mengeluarkan tenaga untuk membuat adegan ini sama persis seperti keinginan pencipta mereka, setiap liukan dalam adegan gila ini benar-benar persis seperti liukan goresan tinta yang dibuat oleh pencipta mereka, Ilana Kim.
Ariel justru semakin memberontak –meskipun ia tahu semua usahanya yang memang akan berakhir sia-sia justru akan semakin menyakiti Luhan. Tapi ia tidak bisa membiarkan adegan mengerikan ini menjadi akhir dari puing-puing romantisme yang meliukkan hati Ariel dan Luhan di awal cerita. Toh, baik dirinya maupun Luhan tidak akan pernah mati…kecuali jika Ilana telah memutuskan untuk mengganti dirinya juga Luhan dalam seluruh fantasinya, juga sebagai jelmaan yang menggantikan pecahan kesakitan yang tak pernah bisa sembuh dari hatinya.
Ilana bukan tuhannya. Tapi tiap-tiap garis yang dibuat dari tinta pena di tangannya adalah nasib dari seluruh yang ada pada dirinya, jiwa dan raganya adalah milik Ilana.
“ARIEL!” kali ini Luhan yang berteriak ketika Ariel berusaha menarik tangannya dari leher Luhan. Ia bisa merasakan jemari gadis itu melonggar dan membuat setiap nadi di lehernya kembali bekerja.
Ariel amat keras kepala dan amat membenci Ilana. Itu sebabnya, meskipun ia akan hidup lagi dan lagi di bawah ukiran huruf dari tinta milik Ilana, Ariel tetap akan membenci Ilana sepenuh hatinya. Ia akan mengeluarkan seluruh serapah yang hanya akan menjadi luka yang berbalik dan mencabiknya lebih jauh –karena Ariel terus melawan garis tinta milik Ilana.
“Kau akan menyakiti Ilana jika kau mengubah adegan ini Ariel…” Luhan tidak tahu bujukan apalagi yang bisa meruntuhkan keinginan besar Ariel untuk mundur menjadi tokoh buatan Ilana. Mereka hanya tokoh fiksi, jiwa dan fisik mereka hanyalah buatan dari goresan tinta Ilana. Ini bukan Luhantang betapa adil atau tidak adilnya tiap akhir cerita yang Ilana buat untuk mereka, ini jelas kesalahan mereka berdua untuk mengetahui jati diri mereka.
“Bisakah kau berhenti membicarakan manusia laknat itu? Dia akan terus membunuhmu! Dia terus mempermainkan kita selama sepuluh tahun! Dia terobsesi pada Luhan si artis kesukaannya! Dan dengan brengseknya dia malah memasukan karakter mantan kekasihnya juga kisah merananya ke dalam dirimu! Dan kau pikir aku sudi menerima karakternya dalam diriku?”
Luhan tahu, mungkin mulai saat ini Ilana bukan hanya akan sering membuatnya terbunuh dengan cara yang sama. Mungkin ia akan menjadikan Luhan seorang penyihir, manusia serigala, ataupun seorang hantu yang mencari cinta sejatinya. Ilana yang dikenalnya bukan lagi Ilana yang selalu menulis kisah cinta manis seperti romansa picisan lainnya, Ilana telah tumbuh dan berubah. Termasuk tiap ide dan juga diksi yang dibuatnya –tak terkecuali karakter yang ia inginkan walaupun hanya sebatas fiksi buah tangan seorang fangirl dari pria bernama Luhan.
“Tapi dia tidak tahu dia telah menciptakan kita, Ariel…. Satu-satunya kesalahan adalah keberadaan kita adalah nyata. Ilana bukan gadis brengsek seperti yang kau bicarakan.”
Ariel baru saja akan kembali membalas ucapan Luhan yang amat tidak adil baginya. Ini juga bukan keinginannya untuk mengetahui jati dirinya. Ia juga tidak pernah mengemis pada penciptanya agar diberikan jiwa dan perasaan yang malah menjadi hidup. Tapi belum sempat ia mengeluarkan kembali kalimat protes pada Luhan, lelaki itu terlanjur melepas tangan Ariel dan mendorong dirinya sendiri ke dalam kematian.
Sial.
Ariel ingin menjerit histeris dan memanggil nama Luhan. Untuk apa lelaki itu repot-repot membela Ilana dan membahas masalah adegan terakhir dan semacamnya jika pada akhirnya dia sendiri melawan garis tinta milik Ilana dan malah tetap membunuh dirinya sendiri? Tapi ia justru mendapati bibirnya menyemburkan tawa mengerikan. Ini karena plot yang dibuat Ilana. Semuanya. Beserta kesakitan penyesalan yang menjadi akhir paling gila yang pernah ia rasakan.
Ini tahun kesepuluhnya dimana ia dipasangkan bersama Luhan….
Dan, di tahun kesepuluh ini pula ia menyadari bahwa perasaannya terhadap Luhan benar-benar hidup. Ia mencintai Luhan. Sama seperti Luhan…mencintai si gadis gila yang memutuskan untuk menjadi psiko dalam tulisannya sendiri, Ilana.

***
Ilana mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia pun menarik penanya dan kembali mengamati deret kalimat yang tertulis pada buku draft-nya. Aneh. Ini bukan plot yang direncanakannya. Ia sudah merencanakan cerita ini berakhir dengan Luhan –si tokoh utama dalam ceritanya—dibunuh oleh Ariel yang memiliki dendam pada Luhan. Tapi….
Ilana pun mendengus pelan dan meletakan kembali penanya. Sepertinya, membiarkan Luhan untuk mendorong dirinya sendiri dari lantai lima apartemennya bukan ide yang buruk. Terlebih dalam adegan ini, ia menaruh poin penting tentang Ariel yang akhirnya menyesali juga mensyukuri keputusannya.
Ini memang ide gila. Bisikan pelan di otaknya justru membentuk senyum datar di wajah Ilana. Ia telah bergelut dengan bidang menulis selama sepuluh tahun, dan belakangan ini ia berpikir untuk mengubah genre menulisnya. Semua juniornya telah mendalami tentang surealisme, dan dirinya malah tetap terjerembab pada genre klasik : romance. Ia tidak pernah yakin apakah keputusannya ini cukup tepat atau tidak, terlebih ia bukan tipikal penulis yang bisa menyesuaikan diri dengan ide dan konsep baru. Bayangkan saja, bagaimana bisa ia menaruh pesan moral dari kisah bunuh diri tragis yang dilakukan oleh gadis depresi? Bagaimana bisa ia membuat nyawa manusia begitu murah dalam tulisannya hanya demi membuat kisah psikopat yang suka sekali menjilati darah korbannya pada pisau tumpul di tangannya?
Tapi, kisah cintanya juga telah lama padam. Gairahnya pada kisah klasik berdebu itu juga tak semembara dulu.
Ilana pun mendengus pelan. Oh yeah, di saat seperti itu pun ia masih bisa mengingat lelaki yang pernah menjadi pusat perasaannya. Pusat dari segala cinta, rindu, cemburu, dan patah hati. Nyawa dari setiap bait puisi yang ia tulis. Warna dari setiap fiksi yang ia urai di balik plot-plot manis yang…, entahlah, ia tidak tahu sejak kapan menganggap semua itu cukup menggelikan, bahkan menjijikan.
Tapi, nyatanya tak ada yang lebih menggelikan dari fakta bahwa ia tidak pernah bisa menanggalkan posisi mantan lelakinya pada orang lain, bahkan meskipun ialah yang memberinya kesakitan begitu dalam. Membuatnya terjebak pada penjara di dalam jiwanya ketika ia kekeringan karena tak menemukan satupun nyawa ataupun warna untuk tiap kata pada tulisannya.
Jatuh cinta tidak semudah itu. Dan menyembuhkan hatinya dari kobaran luka karena harapan kosongnya pada pria itu juga tidak lebih mudah. Ah, ada satu lagi yang lebih sulit : memadamkan rindu yang mencekiknya.
Ilana pun menutup bukunya dan menyeret kakinya menuju jendela kamar. Ia tak memiliki kamar mewah dan hanya menyewa kamar studio sederhana di tengah-tegngah Seoul –ini bukan tempat mewah seperti yang sering ditemui pada drama-drama TV, hanya tempat tinggal yang sedikit kumuh namun masih layak ditempati. Poin plus-nya, pemandangan dari jendela kamarnya cukup membuat otak penatnya mampu untuk beristirahat.
Dan, disaat seperti ini, ia selalu menyalahkan dirinya sendiri : bagaimana bisa ia tetap merindukan pria itu bahkan ketika ia hanya melihat satu buah bintang redup mencoba untuk menyeruak di balik langit yang gelap?
Ah, ia masih memiliki solusi.
Ilana kemudian kembali menyeret kakinya menuju meja kerjanya, kemudian dengan cepat ia menuliskan sebuah ide sederhana tentang kerinduannya terhadap si pria melalui bintang redup yang patut untuk besar kepala karena mampu bersinar sendirian. Dengan catatan di bawahnya, ia akan kembali menggunakan tokoh Ariel dan Luhan.
Ariel…. Tokoh fiktifnya yang namanya ia ambil dari salah satu film anime tua –yang bahkan tidak lagi ia ingat judulnya. Tokoh yang dijadikan sebagai pelampiasan segala perasaan obsesifnya terhadap si pria yang sudah meninggalkannya. Ia mencintai Ariel sebesar ia mencintai dirinya sendiri.
Dan, ia pun kembali duduk di depan mejanya dan mulai kembali membuat draft singkat kisah cinta tak berujungnya –dan semoga ia dapat bertemu dengan happy ending-nya, dan kembali dapat bergairah dengan segala obsesinya pada tulisan. Seperti sekarang.

=end=OK


 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s