NOTHING – Len K

he wanted to hear a word but he got nothing

 

NOTHING

Storyline by Len K. Based on The Script song with the same title. Standard disclaimer applied. No profit taken from this fiction

 

Starring: Kim Junmyeon – Suho EXO, Choi Minrin (OC), Byun Baekhyun EXO, Kim Jongdae – Chen EXO, Kris and Luhan ex-EXO | Genre: Drama, Song-fic | Rate: T, PG-17

 

 

WARNING!!

AU, possibly OOC, typo(s)

 


 

 

“Kau akan melupakannya dengan beberapa gelas minum.”

Itu yang dikatakan Baekhyun beberapa jam yang lalu saat menyantroni Junmyeon di apartemen pria bermarga Kim itu. Baekhyun tidak datang sendiri. Ia datang bersama Luhan, Jongdae,  dan Kris, kawan karib Junmyeon. Keempat pria di rentang usia dua puluhan itu datang beramai-ramai bukan tanpa alasan. Sudah hampir seminggu ini Junmyeon mengurung diri di apartemen, mengisolasi dirinya dari dunia luar, dan mengambil cuti kerja dengan alasan sakit.

Kalau dipikir-pikir lagi, Junmyeon memang tengah sakit. Sakit karena sang kekasih memutuskan hubungan mereka yang sudah berjalan dalam hitungan tahun dalam sekejap. Baekhyun yang tidak ingin melihat sahabatnya terpuruk, mendatangi Junmyeon dan mengajaknya untuk minum di bar langganan mereka. Tentu, awalnya Junmyeon menolak dengan senyum tipis dan berkata jika ia baik-baik saja. Tapi siapa yang percaya perkataan Junmyeon jika apa yang dikatakannya sungguh bertolak belakang dengan keadaan dirinya yang kacau dan apartemennya yang seperti habis dihantam tornado?

Baekhyun bersikukuh untuk menyeret Junmyeon ke bar, sedangkan Kris terang-terangan kontra akan rencana itu, sementara Jongdae berada di pihak netral, dan Luhan tidak mau peduli kan debat yang disajikan oleh Kris dan Baekhyun. Tapi pada akhirnya, kelima pemuda itu sudah berada di bar langganan mereka dalam waktu kurang dari tiga puluh menit. Mereka lebih memilih untuk berjalan kaki. Itu usulan Baekhyun agar Junmyeon kembali merasakan apa yang dinamakan udara luar, terlebih udara malam.

“Dasar pembual kau, Byun Baekhyun!” itu yang diserukan Junmyeon sekarang.

Dirinya sudah mabuk berat. Entah sudah berapa banyak botol yang ia habiskan dan kesadarannya sudah di ambang batas. Kata Baekhyun ia bisa melupakan kekasih yang kini sudah berstatus sebagai mantan dengan beberapa gelas minuman. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Semakin Junmyeon mabuk, semakin banyak alkohol yang masuk ke dalam tubuhnya, justru Junmyeon semakin jelas mengingat sosok itu. Sosok yang sudah membuatnya jadi kekacauan belakangan ini. Dan kini Junmyeon semakin meracau, menangis tidak jelas.

“Kau lihat? Inilah kenapa aku tidak pernah setuju dengan rencanamu.” Kris melirik Baekhyun yang duduk di sampingnya.

“Oh, aku hanya ingin membantu kawanku, Tuan Tiang.” Baekhyun mencebik balik.

“Dengan membuatnya jadi semakin kacau?”

“Mana kutahu kalau alkohol membuatnya semakin sedih bukannya senang?”

“Maka dari itu sudah kukatakan sejak awal kalau ini bukan ide yang bagus.”

“Hei, setidaknya aku berusaha untuk membuat Junmyeon merasa lebih baik dan berhasil mengeluarkan Junmyeon dari penjara kecilnya. Memangnya kau punya rencana yang lebih baik? Kau ingin dia melakukan meditasi bersamamu?” balas Baekhyun cepat.

Jongdae terbahak-bahak akan perdebatan seri kedua yang terjadi.

“Sepertinya perdebatan kalian sangat seru, tapi maaf, kurasa perdebatan kalian harus berakhir di sini,” sahut Luhan.

A waaeeeee?” rengek Jongdae kecewa.

Dan ketika ia berbalik, barulah ia tahu kenapa. Junmyeon tidak mungkin minum lebih banyak lagi dengan keadaan seperti itu. Jongdae dan Kris segera pergi untuk membayar minuman mereka dan Baekhyun membantu Luhan untuk memapah Junmyeon.

“Sialan kau, Baekhyun,” maki Junmyeon.

“Baru menyadari itu, Bung?” sahut Jongdae yang berjalan bersama Kris di belakang.

“Oh, diam kau, Kim Jongdae!” bentak Baekhyun.

“Katamu aku bi-sa-me-lu-pa-kannnn Minrin, tapiiii ke-na-pa-a-ku-ti-dak-bi-sa?” racau Junmyeon dalam mabuknya.

“Itu artinya kau terlalu mencintainya dan terlampau bodoh untuk menyakitinya hingga dia memutuskanmu,” kata Luhan cepat.

“Iya, iya, aku bodoh ya?” Junmyeon mulai menangis tidak jelas.

Keempat pemuda sadar dan satu pemuda mabuk itu berjalan tanpa suara menyusuri jalanan kota Seoul yang masih cukup ramai. Hanya ada percakapan kecil di antara keempat pemuda yang sadar yang sesekali ditimpali oleh racauan dari satu pemuda mabuk. Sampai kemudian si pemuda mabuk itu mulai menunjuk seorang pejalan kaki yang melewati mereka.

“Itu Minrin?” tanyanya.

“Minrin bukanlah gadis SMA, Jun,” jawab Luhan.

“Ah … iya ya,” balas Junmyeon. “Jadi itu Minrin?” satu lagi pejalan kaki jadi korban tunjukan Junmyeon.

“Bukan Jun. Itu hanya pejalan kaki yang sama sekali tidak kau kenali.”

“Apakah itu Minrin?”

“Astaga, Kim Junmyeon. Minrin bukan seorang ahjumma!” balas Luhan kesal.

Otomatis, tawa Jongdae, Kris, dan Baekhyun meledak.

“Oh, jadi yang itu adalah Minrin?”

“Demi Tuhan, Kim Junmyeon! Itu adalah pria paruh baya!”

Tawa trio tadi semakin meledak dengan keras. Bahkan langkah mereka harus terhenti karena Baekhyun harus tertawa dahulu, menyebabkan energinya untuk memapah Junmyeon jadi hilang karena dialihkan untuk tertawa.

“Apa? Jadi Minrin adalah pria paruh baya? Jadi selama ini aku memacari pria paruh baya? Jadi karena itu dia memutuskanku? Karena dia adalah pria? Ka-kau tahu? Aku tidak masalah menjadi gay jika itu adalah Minrin.” Racauan Junmyeon mengundang tawa yang lebih besar.

Luhan bahkan mulai ikut tertawa meski sebagian dirinya kesal juga menghadapi Junmyeon yang mabuk begini.

“Bukan Jun, bukan. Minrin adalah wanita. Kau tidak perlu khawatir sampai harus mengubah orientasi seksualmu.”

“Jadi kau adalah Minrin? Minrin, Minrin, Minrin….”

“Astaga, Junmyeon! Jauhkan bibirmu dariku! Aku Baekhyun, bukan Minrin! Sadarlah!” suara Baekhyun melengking tinggi seirama dengan takut yang dirasakannya ketika Junmyeon berusaha melumat bibirnya. “Hei, hei, kau mau muntah ya?” tanya Baekhyun ketika melihat mimik wajah Junmyeon berubah.

Segera saja Baekhyun menyodorkan kantung muntah pada Junmyeon dan mendorong sahabatnya ke tepi jalan. Benar saja, Junmyeon langsung memuntahkan isi perutnya begitu ia tersungkur di tepian jalan.

“Lihat konsekuensi dari perbuatanmu, Baekhyun,” sahut Kris.

“Oh ya ampun, Ge! Jangan membuatku memulai debat kita untuk hal yang sama untuk yang ketiga kalinya!” seru Baekhyun. “Mau sampai kapan kau akan menyalahkanku? Belum puas juga kau?”

“Entah ya, sampai kapan. Aku tidak tahu,” cibir Kris.

“Apa kau tidak bisa melihat niat tulusku untuk membantu Junmyeon dibalik semua kekacauan ini, hah? Dimana logikamu? Sudah kau buang ke sungai Han? Atau kau gembok di menara Namsan?”

“Hei, jaga mulutmu.”

“Apa? Kau suruh aku apa? Kau yang harusnya menjaga mulutmu!”

“Beginikah caramu berbicara pada yang lebih tua?”

Aigo, apa-apaan ini? Membawa-bawa usia. Orang yang perlu dihormati itu tidak memandang usia. Yang harus dipandang adalah bagaimana mereka dalam berbuat sesuatu, bagaimana sikap mereka mencerminkan diri mereka.”

“Kau mau sepatuku bersarang di mulutmu?”

“Lihat bagaimana kau bicara sekarang.”

“Byun Baekhyun!”

“Ada apa, Kris-sialan-Wu?”

“Hei!”

“OKE! STOP!” Luhan segera menengahi dua sahabatnya sebelum skenario yang lebih parah terjadi. Baku hantam misalnya. “Oke, kawan-kawan, ada baiknya kita tunda saja perkelahian kalian—kalau kalian benar-benar ingin—atau dinginkan saja kepala dan hati kalian, dan alangkah baiknya jika sekarang kita mengantarkan Junmyeon agar kawan kita satu itu bisa tiba di apartemen dengan selamat. Oke?”

Baekhyun dan Kris saling lempar pandangan sengit sebelum berkata “baiklah” dalam satu sinkronisasi.

“Oke, Baekhyun, bantu aku memapah Junmyeon.” Namun baru saja berbalik, Luhan yang ganti berseru. “Astaga, dimana Junmyeon?!”

“Ini semua karena Baekhyun,” celetuk Kris.

“Hei!” Baekhyun tidak terima.

For the God’s sake, stop it, guys!” seru Luhan. “Ini salah kalian berdua, ini salahku, ini salah kita semua. Impas.” Luhan beralih pada Jongdae. “Hei Jongdae, kau lihat Junmyeon?”

Jongdae tersenyum lebar. “Tentu. Aku melihatnya dengan jelas.” Jongdae mengedikkan dagunya ke satu arah.

“Sialan kau, Kim Jongdae! Kenapa kau tidak memanggil kami sejak tadi?!” Luhan berlari kecil menghampiri Junmyeon yang kini tengah berjalan sempoyongan. Sesekali terjatuh, tapi kemudian ia bangkit lagi. Sesekali merayap pada pagar atau apapun yang ia temukan. Masih menunjuk-nunjuk pejalan kaki dan menyebut mereka sebagai Minrin. Dan kini mulai meneriakkan nama Minrin seperti orang gila.

Sementara itu Jongdae mulai berjalan menyusul Luhan diiringi tawa setan darinya. “Yah, kalian bertiga terlalu larut dalam dunia kalian dan kurasa tidak ada salahnya untuk membiarkan Junmyeon bertingkah semau dia. Menurutku akan jadi menarik. Aku bahkan sudah merekamnya.” Jongdae menggoyang-goyangkan ponselnya.

“Ingatkan aku kenapa aku bisa berteman denganmu,” kata Kris.

“Kau sungguh kejam, Kim Kedua,” sambung Baekhyun.

“Wow! Ada apa ini? Apa komet Harley baru saja lewat lebih awal? Tumben sekali kalian tidak berseberangan pendapat.” Jongdae tertawa kecil. Dan lagi, Kris dan Baekhyun melempar tatapan ‘terserah’ pada Jongdae dengan kompaknya.

“Hei, hei, Jun! Hentikan! Berhenti berteriak-teriak seperti itu kalau kau tidak ingin berakhir di dalam kantor polisi malam ini!” Luhan berusaha menenangkan Junmyeon dan memapah pria itu lagi.

Namun dengan sisa kesadaran yang masih ada, juga tenaga, Junmyeon menepis lengan Luhan. Ia juga menepis lengan Kris yang berusaha memapahnya.

“Jangan sentuh aku!” hardik Junmyeon. “Biarkan aku berjalan dengan kakiku sendiri! Aku tidak butuh bantuan dari kalian, keparat!”

“Oke Jun kalau itu maumu, oke.” Kris mengangkat kedua tangannya di atas kepala.

Keempat pemuda itu membiarkan Junmyeon berjalan sempoyongan di depan mereka. Baekhyun ingin mencegahnya karena menurutnya ini cukup berbahaya. Tapi Kris sudah mencegahnya untuk mendekati Junmyeon.

“Kau gila ya!?” tanya Baekhyun.

“Memangnya kau tidak?” sahut Jongdae.

“Oh, diam kau, Bebek! Atau besok kau akan berakhir dengan jahitan di mulutmu.” Baekhyun kembali beralih pada Kris. “Jadi kau akan membiarkan Junmyeon seperti itu? Sekarang siapa yang membuatnya jadi terlihat menyedihkan, hah?”

“Choi Minrin! Choi Minrin! CHOI MINRIN!” itu suara Junmyeon yang berteriak dengan sekuat tenaga. Dan entah sejak kapan Jongdae sudah sibuk merekam dengan ponselnya.

“Junmyeon, Junmyeon, hentikan! Apa yang kau lakukan?” Luhan mencengkram lengan Junmyeon kuat-kuat.

Junmyen menyentakkan lengannya agar cengkraman Luhan lepas, tapi ia tidak berhasil. “Apa yang kulakukan? Aku berusaha memanggil Minrin! Aku ingin kita kembali!”

“Bukan begini caranya!”

Junmyeon terdiam. Untuk beberapa saat mereka saling pandang dalam diam.

“Kau benar,” kata Junmyeon pada akhirnya. Cengkraman Luhan lepas dan Junmyeon kembali berjalan sempoyongan dalam diam. Keempat temannya mengikutinya.

Junmyeon memang sudah berhenti berteriakt-teriak. Sebagai gantinya ia kini terus menggumamkan nama Minrin layaknya ia merapal sebuah mantra.

“Bukankah jalan ini tidak asing?” gumam Baekhyun setelah mereka berjalan cukup lama tanpa tahu kemana karena mereka hanya mengikuti kemana Junmyeon pergi.

“Ya. Junmyeon memang hebat. Bahkan dalam keadaan mabukpun ia masih bisa menemukan rumah Minrin,” sahut Jongdae.

Keempat pemuda itu hanya diam, tidak melakukan apapun saat Junmyeon yang mabuk bersandar pada pintu pagar rumah Minrin dan memencet tombol interkom berulang kali.

“Sialan, kenapa ia tidak mau membuka pintunya?” rutuk Junmyeon. Kembali Junmyeon memencet tombol interkom berkali-kali. “Choi Minreeeennnnnn. Ini aku, Kim Junmyeon. Kau tidak mau membuka pintumu untukku, hah? Aku punya hal penting untuk untukmu. Heeeeiiii Choi Minrin, buka pintunya!” kini Junmyeon juga sudah mulai menggedor-gedor pintu pagar Minrin.

“Sungguh aku tidak sanggup melihat ini,” desis Luhan dan langsung menghampiri Junmyeon, berusaha untuk menyeretnya menjauh. “Ayo pulang, Jun. Minrin sudah tidak ingin bertemu denganmu lagi.”

Junmyeon terperangah menatap Luhan. “Kenapa kau tega sekali, Ge?! Kenapa kau tega berbicara seperti itu padaku?!”

“Kehidupan memang tidak selamanya manis padamu,” sahut Jongdae.

“Tapi aku punya sesuatu yang penting untuk kukatakan!” Junmyeon bersikukuh.

Pertahanan Junmyeon mulai runtuh. Air matanya perlahan mulai menetes membasahi pipinya. Dan tidak butuh waktu lama bagi Junmyeon untuk kini mulai terduduk di bawah dan terisak. Luhan dan Baekhyun langsung duduk di samping kanan dan kiri Junmyeon, menepuk pundak pria itu hanya agar merasa lebih baik meski mereka sendiri merasa percuma saja. Yang mengejutkan, Jongdae, yang selalu usil itu tiba-tiba berjongkok di depan Junmyeon dan menepuk dada Junmyeon.

“Hei, kau punya sesuatu yang penting untuk kau katakan bukan?” Jongdae memastikan. Dan meski Junmyeon tidak memberikan respon apapun, Jongdae melanjutkan ucapannya. “Kenapa kau tidak mencoba untuk menghubunginya saja?”

Junmyeon berhenti menangis sejenak. Matanya membulat menatap Jongdae.

“Iya, iya. Aku tahu aku ini jenius. Terima kasih.” Jongdae menepuk-nepuk pundak Junmyeon.

Tanpa berkata apa-apa, Junmyeon mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Minrin yang masih berada di nomor dua panggilan darurat di ponselnya. Suara nada sambung mulai terdengar, tapi belum ada tanda-tanda kalau teleponnya akan diangkat.

“Kau tahu kalau Minrin mungkin tidak akan menjawab teleponmu kan?” sahut Kris.

“Setidaknya dia sudah mencoba,” balas Jongdae.

Masih nada sambung. Dan rasa-rasanya Junmyeon jadi semakin gila karenanya. Hingga kemudian, telepon Junmyeon tersambung.

“Ha-halo. Min-Minrin, ini aku. Ini aku.”

“…”

“Halo, Minrin? Ini aku Junmyeon.”

“…”

“Kau-aku-yah … sialan…”

“…”

“Halo Minrin, kau disana?”

“…”

“Minrin, kau dengar?”

“…”

Dengan gelombang emosi yang menderanya, Junmyeon kembali menangis terisak.

“Minrin, kau tahu? Aku minta maaf. Aku minta maaf,” kata Junmyeon seraya terisak.

“…”

“Kumohon maafkan aku.”

“…”

“Minrin…”

“…”

“Minrin, kumohon … katakan sesuatu. Kumohon….”

“…”

Nafas Junmyeon terasa makin sesak dan pandangannya jadi semakin kabur.

“Minrin, kumohon … aku masih mencintaimu.”

“…”

“Katakan sesuatu, Minrin. Aku masih mencintaimu.”

“…”

“Minrin…”

Junmyeon semakin tenggelam dalam tangisnya ketika sambungan teleponnya sudah terputus.

 

FIN

 

2 tanggapan untuk “NOTHING – Len K”

  1. Apa ini Len?
    Minrin dmn?
    Pi besdeii.. Len! 🎂
    Kesian bgt junmen broken-hearted smp sgitu’ny
    Mn mmbr yg laen? /kudu ya exo tu slalu hrs lngkp b’12 klo nurutin ego pribadi diri ini 😀
    Ini bkl ada sequel’ny kah? Minrin still alive kan?
    Kris-백 debat kusir mulu 😙 itu kpn mo di posting rkmn karya 첸 starring by drunken junmen? Pasti rating’ny mlesat tajam tuh

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s