Shoes – ShanShoo

suho

ShanShoo’s story

Suho (Joonmyeon) EXO with Irene (Joohyun) Red Velvet

fluff, friendship // ficlet // teenager

disclaimer : I just own the plot!

—oOo—

 

“… Pinjamkan sepatumu. Besok akan kukembalikan.”

 

WordPress : ShanShoo || Wattpad : @Ikhsaniaty

—oOo—

Pesta ulang tahun Joonmyeon diselenggarakan malam ini. Joohyun, dengan balutan gaun berwarna krem yang membalut tubuhnya hingga sebatas lutut dan juga sepatu hak tinggi yang ia kenakan, berjalan sedikit terseok menuju kediaman sang ketua kelasnya. Gadis itu tidak sendiri. Di sampingnya ada Wendy Son yang membantunya berjalan, dan tetap setia mendengar setiap gerutuan dari bibir tipis karibnya.

“Sudah kubilang, aku tidak bisa memakai pakaian dan sepatu seperti ini!” lagi, Joohyun menggerutu, sembari merajut langkah lambat agar menghindari terjadinya hal yang paling memalukan di muka Bumi ini. Apa lagi namanya kalau bukan terjatuh? Joohyun bersumpah, jika ia sampai jatuh karena ulah sepatunya ini, ia tidak akan pernah mau menampakkan batang hidungnya di universitas. Eh, jangan dipercaya. Dia hanya terlalu sedikit berlebihan menanggapi kemungkinan-kemungkinan rumit yang mampir di kepalanya.

Wendy merespons, “Sudah kubilang, berhentilah menggerutu, Bae Joohyun. Suaramu itu terdengar oleh semua teman-teman kita. Kau tidak merasa risi?”

“Tidak.” Joohyun menyahutinya cepat, tanpa mencerna lebih dulu ucapan karibnya, atau repot-repot memendarkan pandangannya pada setiap orang yang tengah mengamatinya dalam diam. “Aku tidak peduli,” tekannya kesal.

Wendy hanya menghela napas pasrah, dan tetap berjalan di samping Joohyun. Berjaga-jaga kalau gadis bersurai hitam legam itu terkilir atau semacamnya, melihat dari bagaimana cara gadis Bae itu berjalan.

“Ya sudah, setidaknya, kau bisa menyimpan marahmu untuk saat ini, karena sekarang kita sudah ada di depan rumah Joonmyeon,” ingat Wendy. Suaranya agak memelas.

Joohyun mendengus. “Oh, terserah,” sahutnya kecut. “Andai saja laki-laki itu tidak mengundangku kemari, mungkin aku tidak akan pernah mau datang dan merelakan diri memakai pakaian terbuka begini malam-malam.”

Karibnya tak menyahuti.

Keduanya kini sampai di bagian penerima tamu. Mereka lekas memperlihatkan kartu undangan ulang tahun Joonyeom yang didesain semenarik mungkin, untuk kemudian dapat mengikuti acara tersebut sampai selesai.

Di dalam rumah Joonmyeon yang super mewah dan besar (omong-omong, Wendy dan Joohyun sudah cukup terbiasa melihat segala kemewahan dari sosok Kim Joonmyeon, jadinya mereka tidak menunjukkan ekspresi terpana yang berlebihan), Wendy langsung mencari di mana si penyelenggara acara berada. Tak sampai dua detik, Wendy menyikut rusuk Joohyun, membuat Joohyun meringis pelan.

“Kenapa?”

“Joonmyeon tampan.”

Joohyun mendengus. “Lalu?”

“Dia selalu terlihat tampan, tapi malam ini, dia berkali lipat lebih tampan.”

“Oh, Wendy…”

“Kalian sudah datang?” Seakan mampu merasakan kedatangan tamu baru, Joonmyeon melangkah menghampiri dua gadis berkulit pucat itu. Tatanan rambut hitam pendeknya yang rapi, juga dengan setelan jas formal hitam menambah aura menawan dan memesona dalam dirinya. Joohyun bahkan bisa mencium wangi aroma parfum yang Joonmyeon kenakan; maskulin dan memabukkan. “Terima kasih karena kalian berdua mau datang ke pesta ulang tahunku.”

“Hai, Joon, selamat ulang tahun!” Adalah Wendy yang berujar seraya mengulurkan tangan kanan, mengajak Joonmyeon bersalaman. “Ah, ini, kado untukmu.” Selesai berjabat tangan, Wendy menyodorkan sekotak kado berukuran sedang untuk laki-laki itu. “Yah, hadiahku memang tidak seberapa, tapi kuharap, kau bisa menerimanya.” Di akhir kata, Wendy tersenyum lebar.

Kelihatan sekali kalau Wendy naksir Joonmyeon.

“Terima kasih, Wendy.” Joonmyeon mengulas senyum tipis, namun efeknya sungguh luar biasa bagi jantung Wendy, dan juga jantung Joohyun (andai gadis itu menyadarinya). “Dan… umm… Joohyun, kau… baik-baik saja?”

Agaknya, Joonmyeon terlalu peka untuk mengetahui suasana hati seorang Bae Joohyun malam ini.

“Ya?” Joohyun mengerjap, dan merasakan lagi Wendy yang menyikut rusuknya, namun tidak terlalu keras. “Oh, eng… ya, aku baik-baik saja.” Berusaha mengulas senyum manis, Joohyun menyodorkan kotak kado berukuran lebih kecil dari Wendy dan berujar, “Selamat ulang tahun, ya.”

Joonmyeom meloloskan sebuah tawa ringan sebelum menerima hadiah dari sang gadis. “Oke, terima kasih.”

“Kalau begitu, aku pamit pulang.” Tanpa diduga, Joohyun berujar demikian. Membuat Wendy mendelikkan mata, sedangkan Joonmyeon tampak kehilangan ekspresinya.

“Hei, Joohyun, apa-apaan…?” Wendy kehilangan kata-katanya dalam sekejap.

“Pulang?” Joonmyeon ikut berbicara. “Kau tidak akan… mm… mencicipi hidangan-hidangannya dulu? Yah, siapa tahu kau suka.” Di akhir kata, Joonmyeon mengedikkan bahunya singkat.

Joohyun meringis. Baru menyadari kalau tumitnya terasa nyeri, dan pergelangan kakinya lecet. Menimbulkan perih yang perlahan mencuat. “Eng… kau tahu, Joon.” Joohyun seakan tidak menganggap kehadiran Wendy di sana, ia hanya memusatkan perhatiannya pada Joonmyeon. “Sebenarnya aku tidak baik-baik saja. Kakiku… sakit.”

Joonmyeon refleks memandangi sepasang kaki Joohyun yang mengenakan sepatu hak tingginya, lalu kembali menatap mata sang gadis. “Sakit?”

Joohyun memberinya anggukan singkat. “Masa bodoh kau akan menatapku seperti apa, tapi demi Tuhan, aku tidak tahan memakai sepatu ini lagi! Aku ingin melepasnya!” tandas Joohyun, meluapkan kekesalan yang sedari tadi bergumul di dadanya.

Lagi, Joonmyeon mengudarakan tawa ringan, tawa yang terdengar manis di telinga Joohyun dan Wendy. “Begitu, ya.” Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa di zaman sekarang masih ada perempuan yang tidak bisa mengenakan sepatu berhak tinggi seperti Bae Joohyun.

“Maafkan aku, Joon.” Joohyun meringis tak enak.

“Tidak apa-apa,” sahut Joonmyeon. “Mungkin, kau bisa meminjam sepatu punyaku?” tawarnya kemudian. Joohyun terdiam. “Saat ini, kau pasti sangat membutuhkannya, bukan?”

Tanpa ragu, Joohyun mengangguk. “Ya, tentu. Pinjamkan sepatumu. Besok akan kukembalikan.”

Sesekali, Joonmyeon menanggapi ucapan selamat ulang tahun dari teman-temannya yang baru saja datang, lalu kembali fokus pada Joohyun. “Baiklah, akan kupinjamkan sepatunya untukmu, tapi dengan satu syarat.”

“Apa?” sahut Joohyun cepat.

Joonmyeon mengukir senyum. “Jangan pulang sebelum pestanya berakhir.”

-End-

Nggak jelas gini duh :’V

Semoga fanfiksi ini bisa membuat pembaca sekalian terhibur, deh x))

Makasih udah membaca sampai akhir, apalagi menyempatkan berkomentar ♥

 

Salam sayang,

ShanShoo♥

3 tanggapan untuk “Shoes – ShanShoo”

    1. Halo dear, berhubung ini ficlet, aku nggak bisa ngetik panjang2. Dan justru ketika kamu bilang “apaan ini??? selesai gitu doang???
      panjangin tolong ak masih perlu asupan surene” ff ini bakalan kehilangan feel-nya (menurutku) kalau seandainya aku memperpanjang alurnya tanpa dipersiapkan dulu matang2.

      Boleh jujur nggak say? Biasanya aku nggak begini, tapi lihat komentar kamu rasanya nggak enak banget dan bikin mood nulis aku mendadak down. Tapi, maafin aku ya kalau cerita ini memang menurut kamu kurang ngefeel atau bahkan jelek. Iya gapapa. Aku menghargai komentar kamu di sini. Terima kasih 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s