[Ficlet Mix] Some Type of Love #3 – honeybutter26

Some Type of Love

Presented by honeybutter26

Chanyeol x Dasom (OC)

Ficlet mix

Songfic from Charlie Puth’s Songs

PG-19 FOR THIS CHAPTER

Prev [#1] [#2]

  1. Up All Night

“All the things that you said to me yesterday playing over in my mind.”

 

Setelah malam yang penuh khilaf, kerinduan, dan hawa panas itu berlalu, tiba-tiba saja Dasom kembali bermain petak umpet dengan Chanyeol. Pun kembali kepalanya dibuat pening oleh tingkah Dasom untuk yang ke sekian kali. Mau mengumpat rasanya tidak pantas, tidak mengumpat rasanya Chanyeol seperti mengunyah hatinya sendiri. Apalagi jika mengingat apa yang Dasom katakan padanya di pagi saat mereka bangun sambil saling mendekap di bawah lindungan selimut.

“Park, ini salah. Ya Tuhan, tidak seharusnya aku tidur dengannya.”

 

“Bagian mana yang salah, Kim? Kau sendiri yang meminta dan aku hanya bertugas untuk memenuhi. Lagipula kita dalam posisi sama-sama kosong, kau sudah putus dengan Ethan.”

 

Nyatanya jawab Chanyeol atas penyataan Dasom bak belati yang kembali memutus benang merah yang hampir kembali terjalin pada kelingking mereka berdua. Dasom pasti sudah sangat tahu bahwa dirinya seperti mantra tanpa penawar bagi Chanyeol. Sedikit saja sentuhan, maka Chanyeol bisa terbang menembus nirwana atau jatuh hingga ke inti bumi. Terjebak dalam permainan yang dimainkan oleh Dasom terkadang membuat Chanyeol nyaris kehilangan kewarasannya. Tapi apa mau dikata, sudah dikatakan bahwa Dasom itu bak mantra tanpa penawar, sihirnya membuat Chanyeol terbelenggu dalam nostalgia.

 

Bukan berarti Chanyeol tak pernah mencoba move on. Ini adalah yang ke sekian kali. Dia mengikuti ajakan Eric ke sebuah bar. Tentunya ada banyak wanita cantik dengan rambut blonde-nya yang dibuat bergelombang, pakaian-pakaian yang provokatif dan perona bibir pembangkit birahi. Chanyeol mencoba membiarkan dirinya terbawa oleh aliran musik. Hari ini The Code Blue Bar mengadakan event spesial menjelang valentine dan Kris, drummer The Bandits didapuk sebagai romantic DJ untuk membuat muda-mudi dimabuk oleh dentuman musik penuh cinta.

 

Tak perlu waktu lama bagi Chanyeol untuk menarik seorang hawa untuk tunduk di bawah mantranya. Chanyeol punya feromon yang menakjubkan, ia juga punya aliran listrik yang membuat seorang hawa lemas karena sengatannya bisa sungguh manis bukan kepalang.

 

Namun manusia tak akan pernah tahu apa rencana Tuhan. Boleh saja Chanyeol menenggak banyak Martini malam ini untuk mengenyahkan segala gundah dan gelisah yang menggerayangi jiwanya. Ia tentu sangat diperbolehkan menebar feromon kepada sekumpulan hawa dan menaklukan mereka dengan satu kali kedipan. Tapi ketika matanya menangkap sosok yang beberapa hari ini memenuhi isi kepalanya maka Chanyeol memilih membuang semuanya. Membubarkan hawa yang mengerubunginya dan meninggalkan Martininya dilumat oleh es batu.

 

“Dasom. Kim Dasom, hey wait!” Tahukah Dasom bahwa hanya dengan menggenggam tangannya saja Chanyeol seperti dimasuki Helium? Dia bisa saja lepas dari gravitasi karenanya. Apalagi Dasom dengan mini skirt hitam dan lipstik sewarna darah. Martini dan Dasom adalah perpaduan yang membuat Chanyeol mabuk kepayang.

 

“Lepas, Park,” dan smokey voicenya adalah panah cupid yang membidik mati akal sehatnya.

 

“Tidak lagi, sayang. Aku tak akan melepasmu lagi kali ini. Aku tak mau terjebak ke dalam permainanmu lagi. Aku ingin kita menyelesaikan semua ini sekarang juga.” Sekuat hati Chanyeol menjaga dirinya untuk tetap sadar. Mereka butuh untuk menyelesaikan urusan yang menggantung mereka berdua di antara jurang ketidakpastian, atau lebih tepatnya Dasom yang menggantung Chanyeol di sana. Ia harus menjaga kesadarannya, terlebih matanya yang semenja; tadi terperangkap dalam belah berpoles warna merah yang sangat ingin Chanyeol lumat hingga habis tak tersisa.

 

“Tak ada lagi yang perlu kita selesaikan, Park! Semuanya benar-benar sudah berakhir di antara aku dan kau.”

 

Aku dan kau katanya.

 

Aku.

 

Kau.

 

Tak ada kita.

 

Shit!

 

  1. Attention

“You just want attention, you don’t want my heart.”

 

“Oh, ya? Lalu kenapa kau mengendap-endap di sekitarku seperti cicak yang takut tertangkap?”

 

“Aku tidak …”

 

“Cukup, Kim! Kau selalu tahu aku bersedia menunggumu sampai kapanpun. Kau tahu itu tapi kenapa kau terus menerus mengujiku? Apa maumu sebenarnya? Apa yang kau inginkan dariku? Kau mau perhatianku? Itukah alasanmu berada di sekitarku dengan penampilan seperti ini? Lalu untuk apa, Dasom? Untuk apa kau melakukan semua ini? Apa karena kau tak suka jika mungkin saja aku telah menemukan penggantimu? Kau tak suka aku mendahuluimu tentang itu?”

 

Dasom tertunduk dalam atas semua ocehan Chanyeol. Dia masih berpikir untuk membalikkan keadaan tapi apa yang dikatakan Chanyeol adalah sebuah kebenaran yang mutlak. Ia tak bisa mengelak, jika ia mencoba maka dia yang akan jatuh ke jurang, bukan Chanyeol.

 

“Lalu kau mau apa jika itu semua benar? Apa yang akan kau lakukan padaku? Kau yang lebih dulu membuatku muak, Chanyeol. Kau yang memaksaku berbuat seperti ini.”

 

Jawaban yang diberikan Dasom membuat bara yang memercik berubah jadi api. Perkataan Dasom sukses memanaskan ubun-ubunnya. Dia memang tak butuh permintaan maaf, tapi dia tak terima jika hanya dia yang dipersalahkan. Ada seribu makian yang hampir saja ia ledakkan dengan mulutnya namun ia lebih memilih menggigit lidahnya, berharap semua kata menyakitkan itu tak pernah terlontar. Chanyeol tak ingin menambah daftar kesalahan yang akan membuat Dasom benar-benar lepas dari genggamannya.

 

“Kau benar-benar luar biasa, Kim Dasom. Kau membolak-balikkan hatiku seperti roaller coaster. Tahukah kau bahwa yang kau lakukan padaku adalah tindakan kriminal? Kau mencuri hatiku, memenjarakannya dan sekarang berniat untuk memberinya hukuman mati tanpa pembelaan? Kau pikir kau siapa bisa melakukan ini padaku, Kim?”

 

Chanyeol melangkahkan kakinya setapak demi setapak, menyudutkan Dasom pada tembok agar wanita itu tidak bisa lagi berlari. Ini adalah pertaruhan terakhir. Chanyeol sepenuhnya menyerahkan diri pada keberuntungan. Matanya tajam menatap mata Dasom yang berubah gelap, sedang mencoba menggali kemungkinan apa yang akan Chanyeol lakukan padanya. Mungkin saja Chanyeol nekat menelanjangi dirinya disini.

 

Oh shit!

 

“Menyingkir, Park!”

 

“Tidak. Sudah kubilang tidak dan kau tidak boleh kemana-mana sampai aku dan kau berubah lagi menjadi kita.”

 

Dasom dengan sangat tiba-tiba tertawa atas pernyataan Chanyeol. Baginya itu sangat lucu mendengar kata ‘kita’ dari mulut Chanyeol dengan situasi mereka sekarang ini.

 

“Kita? Tak ada lagi kita di antara aku dan kau, Park. Itu sudah sangat lama sekali berakhir sejak kau …”

 

Pernahkah Dasom berkata bahwa Chanyeol adalah manusia gila yang sayangnya sangat tampan yang sanggup melumat semua kata yang sudah siap ia lontarkan dari ujung lidahnya menjadi sebuah hal yang sia-sia ketika bibir pria itu berada tepat di atas bibirnya? Bagi Dasom, Chanyeol itu sangat egois, pria itu tak pernah membiarkan ia berpendapat karena Chanyeol selalu bisa mematahkan semua argumen kerasnya hanya dengan buaian lidah Chanyeol di dalam rongga mulutnya. Melumatnya hingga habis dan melelehkannya dengan saliva.

 

“Jika aku tidak bisa membawa pulang bersamaku malam ini, maka aku turuti keinginanmu untuk benar-benar berakhir. Tapi jika aku bisa membawamu pulang maka aku dapatkan yang kumau. Kita kembali bersama.”

 

Sudah Chanyeol katakan bahwa ia mempertaruhkan segalanya malam ini. Selama ini dia sendiri yang tersihir pada mantra tanpa penawar milik Dasom. Namun sekarang Chanyeol tak lagi mencari cara untuk merusak sihir itu. Jika Dasom tak mau memberikan penawarnya maka Chanyeol hanya perlu memberikan mantra yang sama pada Dasom. Membuat wanita itu tunduk di bawah mantranya.

 

You know? You always have my attention and my heart. Jadi jangan sungkan untuk memintanya kapan saja.”

 

Sapuan lembut jemari Chanyeol pada pipinya menghanyutkan Dasom pada aliran gairah yang meletup akibat rindu yang tak dapat lagi dibendung. Terpaan napas hangat Chanyeol pada pori wajahnya adalah sebuah kesalahan fatal yang menghanguskan akal sehatnya hingga jadi abu.

 

Say it! Say what you want.”

 

Sialan, itu mantranya. Sebuah mantra penuh janji fana yang siap membuatnya tunduk di bawah tatapan Chanyeol yang harapan akan mereka. Bagaimana caranya ia menangkis itu?

 

You. All of you.”

 

Tidak ada.

 

Tidak ada cara untuk menangkisnya. Itu adalah mantra yang sama yang ia berikan pada Chanyeol. Menangkisnya bisa saja disebut menjemput ajal.

 

Well, let’s go home, babe.”

 

FIN

 

Maafkan kalo cerita sama isi lagunya gak serasi ya.. saya cuma ngambil promptnya aja hehe.. dan maapkeun kalo ini bikin mual dan diare

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s