GAME OVER – Lv. 39 [Ripped Memories] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — [ Level 1Level 10 ] — Tacenda CornerEden’s Nirvana — [ Level 11Level 20 ] — Royal Thrope — [ Level 21Level ??Level 30 ] —  Level 31 —  Level 35Level 36Level 37Level 38 — [PLAYING] Level 39

Imprisoned in the sea of hopelessness

Catatan penulis: mulai dari level 31 sampai 39 pengaturan waktu di dalam Game Over akan berputar ke masa sebelum WorldWare versi 4.2.4 dirilis. Artinya, kalian akan disuguhi cerita di balik layar WorldWare dengan tujuan menambah pengetahuan kalian tentang apa yang terjadi di dalam WorldWare.

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 39 — Ripped Memories

In Author’s Eyes…

Taeil terus mengulang kegiatan monoton sejak siang tadi. Dan Jaehyun tahu benar alasan di balik sikap Taeil ini. Kalau saja dia boleh tertawa—karena tadi Jaehyun sudah mencoba untuk tertawa dan hasilnya adalah ia mendapatkan satu pukulan keras di lengannya—saat ini dia pasti sudah tertawa terpingkal-pingkal karena ekspresi serius yang Taeil pamerkan.

Menurut Jaehyun, ekspresi semacam itu sangat tidak pantas untuk ada di wajah Taeil.

“Sudahlah Taeil, kau terima saja kedua tawaran itu. Win-win, kau tahu? Kau bisa bekerja di perusahaan yang kau inginkan sekaligus menyelesaikan dua tugasmu. Lihat sisi baiknya, kalau kau sudah menyelesaikan tugasmu kau bisa tetap ada di sana.”

Kemudian Jaehyun berusaha mengubah cara pandang Taeil. Sebab sejak tadi Taeil berpikir kalau seseorang tengah berusaha untuk menjebaknya. Walaupun kemungkinan kliennya yang bernama Suho ini berusaha menjebak Taeil sangatlah kecil, sebenarnya.

“Mudah bagimu mengatakannya, sulit untukku menjalaninya.” sahut Taeil ringan.

“Apa yang kau khawatirkan sekarang?” tanya Jaehyun kemudian.

“Bagaimana kalau identitasku terbongkar? Aku tidak mau berurusan dengan polisi, kau tahu.” Taeil kembali bersungut-sungut. Jaehyun sendiri memasang tampang sok berpikir keras. “Kau sudah jadi buronan polisi, omong-omong. Apa lagi yang kau takutkan? Ketahuan atau tidak, tergantung dari bagaimana kau menyelesaikan tugasmu ini.” jelas Jaehyun.

Jaehyun menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di sofa sebelum dia kemudian kembali buka suara. “Lagipula, bukan kau satu-satunya orang yang ada di dalam rencana ini, Taeil. Ingat kata Suho? Dia memintamu untuk membuat sebuah tim yang akan disaingkan di NG Soft. Bisa kubayangkan, akan ada beberapa orang tim di sana yang berusaha untuk mendapatkan tempat.

“Dan kita akan masuk di salah satunya. Apa sulitnya? Kalau kau merasa posisimu sudah mulai berbahaya, kau bisa menggagalkan diri sehingga timmu tidak masuk ke NG Soft. Ingat Taeil, Suho hanya memerintahkanmu untuk masuk ke NG Soft. Bukan berarti dia akan memberikan backing untukmu masuk.”

Taeil sekarang tergerak juga mendengar penjelasan cerdas yang Jaehyun utarakan sekarang. Tidak salah lagi kalau putra tunggal Jung Corporation itu memang sejak dulu dielu-elukan sebagai seorang yang berprestasi. Dia memang jenius. Sayang, dia tidak suka mengikuti garis keturunan pebisnis yang ayahnya berikan.

“Kau benar juga. Kalaupun tidak ada rencana ini, kita juga bisa tetap bebas bersaing dengan tim lain yang akan diseleksi masuk ke NG Soft, bukan?” tanya Taeil memastikan pemahamannya sekarang.

“Iya, begitu maksudku. Anggap saja kalau kita sedang benar-benar berusaha masuk ke dalam NG Soft. Kau bisa mencari anggota tim dengan bebas, dan kita berdua juga sebaiknya tidak membicarakan soal bisnis yang kau jalankan ini di depan mereka semua.

“Kita hanya perlu berpura-pura fokus pada inovasi WorldWare saja. Nanti satu persatu rencanamu juga pasti akan berhasil. Kau bisa menemukan gadis yang dicari itu, dan kau juga pasti bisa punya akses ke dalam file prototype lagi.

“Setelah kau menyelesaikan dua tugasmu secara diam-diam, kita bisa sama-sama memutuskan untuk tinggal atau pergi. Kalau memang ide kreatif kita bisa pantas untuk bersanding dengan programmer yang ada di NG Soft, anggap saja masuk ke NG Soft sebagai bonus atas usahamu selama ini.”

Sungguh, Taeil tidak pernah merasa Jaehyun sejenius ini sebelumnya. Karena Jaehyun lebih sering mempertanyakan soal cantik tidaknya perempuan, atau hal lain yang bagi Taeil tidaklah penting.

Tapi mendengar bagaimana sekarang Jaehyun menalar semua kemungkinan yang akan terjadi jika dia dan Jaehyun sama-sama bergabung di dalam satu tim yang akan diseleksi masuk ke NG Soft, entah mengapa Taeil tiba-tiba saja berubah menjadi pihak yang paling diuntungkan.

Dia memang tidak diberi jalan pintas oleh Suho untuk masuk ke NG Soft, yang Suho inginkan hanya keberadaan Taeil di dalam NG Soft—entah bagaimana caranya, sebagai apa, berapa lamanya, atau apa yang akan Taeil lakukan setelah dia masuk ke dalam NG Soft nanti. Sedangkan satu klien lagi menginginkan Taeil untuk menemukan keberadaan seorang gadis yang ada di NG Soft dan butuh diselamatkan.

Sama sekali tidak sulit, dan dia juga bisa bekerja di NG Soft kalau beruntung. Sekarang, yang jadi pertanyaan hanya satu.

“Siapa yang akan kita rekrut sebagai anggota tim?” tanya Taeil akhirnya.

Jaehyun segera tersenyum lebar. “Bagus. Ini yang aku tunggu-tunggu sejak tadi. Kemari, ikut denganku. Aku sudah membuat statistik player WorldWare berdasarkan kondisi emosional mereka saat berada di tengah battle, di tengah Townnya, dan kestabilan health bar juga human wealth mereka.

“Aku juga sudah mengaplikasikan statistik itu ke dalam konsistensi kenaikan level mereka di dalam game. Dengan program yang sudah kubuat ini, kau bisa mendapatkan playerplayer dengan performa terbaik di dalam WorldWare.”

Sekarang, Taeil bisa tertawa karena Jaehyun. Sungguh, siapapun yang mendengar penuturan Jaehyun pasti berpikir kalau pemuda bermarga Jung itu sedang sibuk menjelaskan tentang kendaraan otomotif keluaran terbaru atau sejenisnya.

Sebab di telinga Taeil sekarang, dia seolah akan disuguhi pemandangan menakjubkan di mana pemandangan tersebut adalah hasil jerih payah Jaehyun—yang tidak dimotivasi oleh siapapun.

“Lihat!” benar saja, sekarang Taeil akui dia sungguh terpana. Pasalnya di layar dua puluh inch milik Jaehyun sudah terpampang deretan playerplayer dengan semua yang Jaehyun sebutkan tadi.

“Mengapa banyak player dengan rank rendah di sini?” tanya Taeil kemudian saat dia memerhatikan satu persatu rank player yang ada dalam deretan ‘stabil’ milik Jaehyun.

“Sudah kukatakan, programku ini bukan diperuntukkan bagi rank-rank tertinggi saja. Tapi juga berdasarkan kestabilan emosional, health—”

“—Aku tahu, aku tahu.” potong Taeil cepat, kemudian dia melanjutkan. “Jadi maksudmu, aku sebaiknya berusaha merekrut playerplayer ini untuk ada di dalam timku? Memangnya mereka ada di Seoul?”

Jaehyun terdiam sebentar, rautnya berubah serius.

“Tunggu,” katanya sebelum dia menggerakkan jemarinya di atas keyboard dan menciptakan command kecil lainnya. “…, nah, selesai. Mereka semua yang berasal dari Seoul, khususnya, yang berada di area dekat dengan tempat tinggal kita sekarang.” kata Jaehyun dengan bangga.

Alis Taeil sekarang menyernyit saat maniknya menangkap player nomor satu yang ada di list Jaehyun tersebut.

“HongJoo? Player wanita andalan Enterprise itu?” kata Taeil hampir tidak percaya. Memang, dia sering mendengar tentang player satu ini—yang dikatakan sebagai player berbakat namun minim keberuntungan.

Dia berada di rank tinggi sebagai salah seorang player wanita, tapi namanya tidak banyak dikenal karena dia jarang bersosialisasi dengan player di luar Townnya.

Yap. Oh, sungguh dia favoritku. Kau tidak pernah menonton battlenya? Dia sangat pintar memainkan strategi. Tidak heran dia ada di list teratas dari programku. Sudah aku duga kalau dia memang player paling stabil.” gumam Jaehyun, awalnya hendak bicara pada Taeil tapi ujung-ujungnya dia malah bicara sendiri.

“Tapi dia juga terkenal sebagai player anti sosial.” sahut Taeil ringan.

“Buat apa juga kau punya banyak kenalan di WorldWare? Tidak menguntungkan.” Jaehyun balik menyahut dengan sama ringannya. Bagi Jaehyun, memiliki banyak koneksi di dalam game rupanya tidaklah begitu penting.

“Terserah kau saja. Kalau begitu kita bagi tugas. Anggaplah kau orang pertama yang aku rekrut. Sekarang, kau cari empat dari mereka, dan aku akan cari empat sisanya.” perintah Taeil akhirnya.

“Empat? Bukankah kita butuh setidaknya tujuh atau delapan anggota saja?” tanya Jaehyun tidak mengerti.

“Aku tahu. Tapi belum tentu semua orang yang kita tawari mau ikut bergabung, bukan? Kita harus pertimbangkan juga keadaan mereka di kehidupan nyata. Tidak hanya menimbang dari segi game seperti yang kau lakukan.” pendapat Taeil sekarang agaknya terdengar masuk akal di pendengaran Jaehyun.

Sehingga pemuda itu akhirnya bisa mengangguk-angguk.

“Baiklah. Kapan kita mulai bergerak?”

“Sekarang tentu saja, memangnya kau mau menunggu tahun depan?” sahut Taeil ketus.

Jaehyun menyahuti dengan kedikan bahu acuh. “Tidak lama lagi tahun juga berganti. Mengapa kau harus bicara seperti pria tua?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kau masih tidak bisa menemukan keberadaan Seungwan, Sehun-ah?”

Pertanyaan Liv menyadarkan Sehun, menariknya ke dalam kesadaran penuh—padahal tadinya dia amat mengantuk. Wajar saja Liv tidak tahu, bagaimana pun dia bukan manusia, tidak bisa memiliki kepekaan terhadap keadaan fisik Sehun sekarang.

“Nihil. Aku bisa menemukan Seungwan dari semua CCTV yang ada di NG Soft, tapi dia selalu menghilang saat jam kerja berakhir. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Seungwan sebenarnya. Dia bahkan tidak pernah membalas surel yang kita kirimkan.” ujar Sehun.

Liv sendiri hanya bisa menghela nafas panjang. “Tidak salah juga kalau semisal dia marah pada kita. Kau sudah merahasiakan begitu banyak hal darinya. Padahal, rencana yang kau jalankan ini menyangkut kehidupan Baekhyun juga.” tutur Liv.

Sehun kemudian teringat, kalau terakhir kali dia berjumpa dengan Seungwan adalah saat gadis itu memergoki keadaan Sehun—yang tengah mengawasi kehidupan Baekhyun sebagai Invisible Black di dalam WorldWare.

Sehun ingat mereka berdebat begitu lama malam itu, berujung pada kemarahan Seungwan dan keputusannya untuk meninggalkan Sehun dan Liv sebab dia merasa bahwa mereka tidak lagi bisa dipercaya. Kalau saja, Seungwan bisa membawa serta Baekhyun bersamanya, pasti sudah dia bawa tubuh tidak sadar pemuda Byun itu.

Tetapi Seungwan masih punya akal sehat, dia tidak mau membahayakan kondisi Baekhyun hanya karena kemarahannya seorang. Dia tahu Baekhyun pasti tahu tentang semua resiko yang mungkin terjadi, tapi tetap saja Seungwan marah.

Akhirnya, selama berbulan-bulan Sehun dan Liv kehilangan kontak Seungwan. Mereka sama-sama tidak tahu di mana Seungwan tinggal sekarang, atau apa yang dia rencanakan—karena Seungwan tidak mungkin diam saja—tapi setiap Sehun atau Liv mencoba mendekat, Seungwan pasti menghindar, berkelit dengan cara yang pintar.

“Baekhyun juga semakin terlelap di dalam sana. Kesadaran yang kau lihat selama beberapa bulan terakhir, adalah milik Invisible Black, bukan?” tanya Liv kemudian memecah lamunan Sehun.

Tadinya pemuda itu tengah terlarut dalam rasa bersalah, karena melihat Baekhyun tidak sadarkan diri selama bertahun-tahun juga bukan keinginannya, tapi dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa sebab tidak ada jawaban pasti tentang bagaimana cara membangunkan Baekhyun dari tidur panjangnya.

“Ya, pola berpikirnya, cara bicara, dan sikapnya yang lain memang serupa dengan Baekhyun. Aku tidak tahu, apa Baekhyun memang sengaja menciptakan karakter yang serupa dengan dirinya, atau memang karakter ini menyesuaikan keadaannya dengan ‘benak’ yang masuk ke dalam commandnya.

“Tapi dia bukan Baekhyun. Invisible Black serupa denganmu, Liv. Kecerdasan buatan lainnya yang kalau bisa kukatakan, lebih menyerupai manusia. Karena dia diciptakan setelah kau tercipta, dia punya beberapa kelebihan yang tidak kau miliki.

“Kesempurnaannya menganalisis emosi, contohnya. Dia bisa mengolah emosi yang manusia tunjukkan, menyimpannya dalam memori dan mengeluarkannya kembali dalam bentuk emosi yang serupa.

“Kalau saja Invisible Black dipindah ke sebuah inang, dia pasti jadi benar-benar serupa dengan manusia. Terutama dalam hal paling inti yang membedakan manusia dengan ciptaan berteknologi tinggi lainnya: memiliki perasaan.”

Terkesima, Liv hampir lupa cara membungkam mulutnya saat mendengar penjelasan Sehun. Sebenarnya seberapa banyak yang Sehun pelajari dari karakter Invisible Black—dengan benak Baekhyun yang jadi pemicu kesadarannya—ini?

“Maksudmu, meskipun dia ada di dalam tubuh manusia, dia bisa berperasaan selayaknya manusia? Dia bisa mengakses semua emosi dan bisa memicu kinerja hormon-hormon di tubuh manusia yang sampai detik ini tidak bisa aku lakukan?” tanya Liv berusaha memastikan.

Bukannya sistem Liv sedang overload, tapi dia juga butuh kepastian untuk memercayai hal tak masuk akal yang sekarang tengah terjadi. Dari yang ditangkapnya, Baekhyun telah menciptakan sebuah sistem yang bisa menyesuaikan diri dengan inangnya—dalam hal ini, benak Baekhyun adalah inang bagi program tersebut—dan bisa mengakses emosi juga bisa berperasaan selayaknya manusia.

“Ini gila, Sehun. Apa sebenarnya yang sedang Baekhyun coba ciptakan? Apa dia tidak tahu bagaimana jadinya program-program seperti Invisible Black ini jika ada di tangan manusia yang salah?” nada bicara Liv mulai meninggi.

Dia hampir tidak percaya, membayangkan seseorang bisa saja dengan mudah menghilangkan nyawa orang lain dan menggantinya dengan menginput program sejenis dengan Invisible Black saja sudah bisa membuat seseorang hidup kembali dalam keadaan yang sama.

Fisik mereka boleh saja mati, tetapi jika di dalam tubuh mereka terdapat sistem yang tetap hidup dan mengudara hanya dengan keberadaan akses nirkabel, akan jadi seperti apa dunia ini nantinya?

“Aku tahu, Liv. Aku juga memikirkan alasan Baekhyun menciptakan program Invisible Black. Apa yang mendasarinya menciptakan karakter ini, tapi aku sendiri tidak sampai pada kesimpulan masuk akal.” ucap Sehun tak kalah frustasi.

“Apa maksudmu?” desak Liv kemudian.

Sehun lantas melempar pandang ke arah tubuh Baekhyun yang terbaring tidak sadarkan diri di dalam survival tube tiruan yang diciptakannya. Memang, tubuh Baekhyun sekarang terlihat hidup. Padahal sebenarnya pemuda itu sudah tidak bernyawa. Sebab pikirannya, benaknya, bagian terpenting dari kehidupannya, telah membaur bersama sebuah program yang diciptakannya dengan identitas Invisible Black tersebut.

Dan sekarang, Baekhyun justru terjebak di dalam Invisible Black. Tidak bisa mengakses kehidupannya kembali, tidak juga bisa melepaskan diri dari belenggu tersebut.

“Hanya ada dua kemungkinan yang aku pikirkan, Liv. Baekhyun tahu dia mungkin akan mati karena apa yang dia ciptakan, sehingga dia menciptakan Invisible Black sebagai bagian dari dirinya, yang bisa membuatnya hidup kembali. Atau…” Sehun menghentikan kalimatnya sejenak, sengaja menggantungkan kalimat tersebut untuk memancing rasa penasaran Liv.

“Atau apa?” desak Liv akhirnya.

Sehun kini menatap Liv dengan pandang muram. “Baekhyun memang ingin mati. Sehingga dia putuskan untuk membaurkan dirinya ke dalam Invisible Black, sehingga dia bisa tetap hidup di dalam mahakarya ciptaannya, padahal dia sudah mati.”

Kini Liv terkesiap. Dua kemungkinan yang Sehun utarakan itu terdengar masuk akal sekaligus tidak masuk akal di saat bersamaan. Tapi, kemungkinan kedua lah yang membuat Liv merasa ketakutan.

“Tidak boleh, Sehun. Baekhyun tidak boleh mati. Tidak dengan cara seperti ini.” Liv memutuskan, dia kemudian bangkit, menatap Sehun dengan sorot nanar sebelum dia kemudian menarik dan mengembuskan nafas panjang.

“Aku harus masuk ke dalam WorldWare melalui sistem, Sehun. Kau bisa saja berusaha menyelamatkan Seungwan di dunia nyata. Tapi di dalam WorldWare, kau tahu sendiri tidak ada orang lain yang kompeten untuk menyelamatkan Baekhyun selain aku.”

Kali ini, Sehun rasa dia memang tidak bisa menolak keinginan Liv.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Whoah! Lihat cara bermainnya, dia sungguh keren!”

Atensi Seungwan—yang sejak tadi disibukkan dengan kewajiban menyiapkan kudapan-kudapan kecil untuk belasan tamu yang sekarang singgah di ruang rapat—segera beralih pada layar proyektor besar yang sekarang tengah menampilkan secara live sebuah battle di dalam WorldWare.

Tanpa bertanya pun, Seungwan sudah bisa tahu siapa gerangan yang sekarang menjadi pusat perhatian. Seorang player wanita dengan kostum didominasi warna biru, bergerak dengan lincah menyerang satu persatu player lain—player yang berasal dari ruangan sama dengan tempatnya sekarang berada—dan membunuh mereka dengan satu-dua gerakan ringan yang efisien.

“Wah, benar-benar keren…” gumam Seungwan saat dia masuk ke dalam ruang rapat, melangkah ke meja Johnny dahulu, meletakkan secangkir kopi dan sepiring kecil biskuit di meja Johnny sebelum maniknya berpaku pada proyektor tersebut.

“Dia bermain dengan baik, bukan?” Seungwan menoleh sedikit saat sadar kalau Johnny sedang bicara padanya.

“Sangat baik. Aku sering melihat orang-orang yang merekam live survival mode mereka, tetapi aku tidak pernah melihat yang sebaik ini.” sahut Seungwan kemudian.

“Dia memang selalu bermain dengan sangat baik. Beruntung sekali bisa bertemu dengannya di sini.” Seungwan menyernyit saat mendengar ucapan Johnny sekarang. Cara pemuda itu mengukir senyum tipis sungguh mencurigakan bagi Seungwan.

“Apa kau juga selama ini diam-diam bermain WorldWare? Kau terlihat seolah mengenalnya dengan baik, Manager Seo.” bisik Seungwan lebih pelan. Benar saja, bahu Johnny melejit mendengarnya, dia terkejut atas dugaan Seungwan.

Umm, ya—tapi kau jangan berisik. Identitasku tidak boleh terungkap, mengerti?” Johnny memang bicara dengan nada sedikit mengancam. Tapi tentu saja di telinga Seungwan tidak terdengar sebagai sebuah ancaman berarti.

“Jangan khawatir. Rahasiamu aman padaku.” kata Seungwan sebelum dia menyenggol pelan lengan Johnny—hal yang membuat Johnny menatap tak mengerti, sebab gadis itu jarang sekali melakukan kontak fisik kentara dengannya—dan melangkah meninggalkan Johnny untuk mengambil kudapan kecil untuk orang-orang lain yang ada di ruangan tersebut.

“Ada apa dengannya? Apa moodnya sedang baik karena tahu rahasia kecilku? Ah… bagaimana reaksinya kalau dia tahu dia sudah kusulap menjadi salah satu karakter villain di dalam WorldWare?” diam-diam Johnny menggumam sendiri, tetapi atensinya segera beralih kembali kepada layar proyektor di hadapannya.

Memang, Johnny kenal dengan baik player wanita yang sekarang tengah bermain dengan identitas berbeda tersebut. Player itu memang tidak menggunakan ID-nya, tapi Johnny bukan orang bodoh. Dia adalah jenius yang hafal benar taktik player dengan rank tinggi di dalam WorldWare.

Cara menyerang player wanita ini adalah salah satu yang dikenalnya dengan baik.

“HongJoo… Kau pasti akan sangat berguna di sini.” kata Johnny, kemudian melempar pandang ke arah satu map yang ada di mejanya. Jemari Johnny bergerak meraih map tersebut, membuka lembar demi lembar sampai dia temukan profile yang diinginkannya.

“Tim Delta, ya. Aku akan memperhatikan perkembangan kalian.” kata Johnny sebelum dia meraih spidol merah yang ada di meja dan dia lingkari nama tim delta dengan spidol tersebut.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Sehun bisa saja menjadi karakter super tenang seumur hidupnya. Kalau saja sejak beberapa waktu yang lalu, dia tidak kehilangan kontak dengan Liv—yang mengatakan bahwa dirinya masuk ke dalam sistem WorldWare, namun berujung pada absennya eksistensi Liv.

Sekarang, Sehun tidak punya pilihan lain. Dia harus menemui Seungwan, bagaimana pun caranya. Bodohnya Sehun, dia tidak menemui gadis itu di situasi yang baik. Alhasil, ketika dia mencegat Seungwan sore ini saat jam kerja akan berakhir, dia justru berakhir diikuti oleh sang agen rahasia andalan Suho: Taeil.

“Apa katamu? Liv menghilang?” tanya Seungwan mengulang, dia tadinya sibuk mengisi perut dengan waffle yang Sehun belikan, hitung-hitung dia tidak menghindar dari pemuda itu karena Seungwan lihat bagaimana kalutnya Sehun saat menunggu di depan gedung NG Soft sore tadi.

“Ya, dia katakan dia hendak masuk ke dalam sistem untuk menemukan Baekhyun, tapi hasilnya nihil. Aku justru kehilangan Liv. Sekarang kita harus bagaimana? Akhir pekan ini versi 4.2.4 akan dirilis, dan dua orang kita justru hilang.” kata Sehun, dia kalut, sungguh kalut.

Membayangkan Baekhyun tidak mendapatkan kesadarannya kembali adalah hal yang mengerikan baginya. Sekarang, membayangkan Liv juga akan menghilang tanpa jejak justru membuat ketakutan itu jadi semakin nyata bagi Sehun.

“Tenang dulu, Sehun. Coba kita pikirkan baik-baik. Kemungkinan terburuk apa yang akan terjadi? Keduanya tidak akan bisa kembali ke kehidupan ini, bukan?” tanya Seungwan kemudian.

Sekarang benaknya berkemelut, dia tidak hanya memikirkan kelanjutan kehidupan Baekhyun, tetapi ancaman kematian permanen bagi Liv juga.

“Ini tidak masuk akal, Sehun. Bagaimana bisa seorang manusia terjebak di dalam program ciptaannya sendiri? Dan sekarang program lain yang dia ciptakan juga terjebak di dalam sistem yang sama? Ini konyol.” Seungwan berkata setengah berbisik, takut juga kalau ada yang mendengarkan konversasi mereka meski sebenarnya ada dua orang yang mendengarkan.

“Aku juga tahu ini konyol, tapi apa kau akan diam saja? Kita harus bertindak, Seungwan. Setidaknya, salah satu dari mereka harus berhasil keluar dari dalam WorldWare.” tandas Sehun.

Salah satu, kata Sehun. Entah itu Baekhyun, atau Liv. Salah seorang dari mereka pasti akan menemukan jalan keluar.

“Mereka sama-sama terpenjara di tengah lautan penuh rasa putus asa. Kau mungkin sudah pergi saat aku dan Liv bicara tentang alasan Baekhyun memutuskan untuk memasukkan dirinya sendiri ke dalam WorldWare padahal dia sudah tahu resikonya.

“Tapi, kami sama-sama tahu kalau dia putus asa. Dan Liv juga sekarang sedang putus asa, dia tidak ingin penciptanya mati di dalam program. Anggap saja, aku sudah merelakan Liv—meski itu sangat tidak mungkin—sekarang, kita harus memikirkan cara untuk menarik Baekhyun keluar dari permainan itu.”

Seungwan segera memutar otak. Dia juga terjebak dilema, meski selama ini dia sudah secara diam-diam mencuri informasi dari NG Soft, bukan berarti dia sudah menguasai segalanya dengan sempurna.

“Ada satu cara.” katanya kemudian.

“Apa itu?”

“Versi 4.2.4. Aku dengar, jika seseorang game over di dalam mode itu, dia akan langsung terbangun di dalam survival tubenya. Kalau memang Baekhyun masuk ke dalam salah satu karakter yang ada di dalam versi 4.2.4, dia harus game over… agar bisa terbangun di dalam survival tube buatanmu itu.”

Sehun memang paham benar maksud ucapan Seungwan sekarang. Tapi tidak dengan dua orang yang duduk di kursi yang ada di belakang mereka. Adalah Taeil dan Jaehyun, dua pendengar gelap itu sama-sama mematung, melempar pandang tak percaya atas apa yang baru saja mereka dengar.

“Bukankah nama itu terdengar familiar?” tanya Jaehyun.

“Liv, maksudmu? Ya, nama itu yang mengirimiku surel tentang tugas yang aku bicarakan sebelumnya, mengawasi gadis berambut merah di sana.” ujar Taeil. Atensi mereka sudah tidak lagi bersarang pada dua orang itu, sebab mereka sama-sama sudah mendengar terlalu banyak informasi yang tidak seharusnya mereka dengar.

“Ini berbahaya Jaehyun, dari yang kutangkap di pembicaraan mereka, sepertinya kita tidak sedang melibatkan diri dalam masalah yang simpel.” kata Taeil menarik kesimpulan.

“Aku juga memikirkan hal yang sama. Baekhyun yang mereka ciptakan ini, siapa lagi dia? Kata mereka berdua di sana, dia menciptakan program yang menelan dirinya sendiri. Lalu mereka bicara tentang WorldWare. Apa itu artinya… Baekhyun ini yang menciptakan WorldWare?” tanya Jaehyun, sampai pada pemikiran bahwa bagaimanapun besarnya sebuah perusahaan, tetap akan ada permainan politik di dalamnya.

“Masuk akal. Itu juga yang mungkin jadi alasan prototype WorldWare diperebutkan oleh banyak pihak. Karena prototype ini belum ditetapkan atas nama seseorang. Lalu apa menurutmu yang mereka maksud dengan terjebak tadi?” tanya Taeil.

Jaehyun sendiri menggeleng tak mengerti. “Nol, aku tak bisa memikirkan kemungkinan apapun. Satu-satunya jalan adalah dengan melibatkan diri di dalam versi 4.2.4 itu, Taeil. Setidaknya salah satu dari kita harus ada di dalam sana.” kata Jaehyun.

Taeil mengangguk mengiyakan.

“Lalu apa yang harus kita lakukan… kalau ternyata WorldWare sudah berbalut tindak kriminal? Kita teruskan rencana ini?” tanya Taeil.

Jaehyun tersenyum simpul. “Mengapa bertanya padaku? Bukankah hati nuranimu sudah tahu jawabannya, Taeil?” Jaehyun balik bertanya, heran juga dia kenapa seorang sejenius Taeil bisa merasa ragu-ragu terhadap keputusan yang hendak diambilnya.

“Aku ingin menghentikannya, Jae. Aku memang terlibat, dan aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku. Tapi hal yang mereka semua lakukan sangat tidak sepadan dengan apa yang aku lakukan.

“Aku akan menyelesaikannya, mozaik mengerikan yang sudah dibuang jauh dari permukaan WorldWare ini, aku akan memungutinya satu persatu. Sehingga semuanya bisa berada di tempat yang seharusnya.” putus Taeil, mengutarakan pendapatnya yang kemudian dijawab Jaehyun dengan sebuah anggukan mantap.

“Aku percaya kau bisa melakukannya. Kau tahu siapa aku, bukan? Aku akan membantumu sebisaku, Taeil. Setidaknya, seseorang layak mendapatkan pengakuan atas apa yang telah susah payah dia ciptakan.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Argh! Hentikan! Sakit!”

Sontak, Baekhyun membuka mata, dipandanginya ruang gelap di sekeliling yang sama sekali tidak dikenalinya itu sementara ia berusaha merebut kuasa atas fungsi tiap anggota tubuhnya yang terasa begitu sakit juga ngilu.

Dia ingat jelas rasa sakit itu, terutama di punggungnya. Sesuatu pasti melukai punggungnya, Baekhyun ingat itu. Tapi dia tidak ingat apa yang telah melukainya.

“D—Dimana aku?” tak ayal bibir Baekhyun menggumam juga, ia lemparkan pandang ke arah tubuhnya yang sekarang bertelanjang dada, kebekuan di sekitar Baekhyun segera terasa menggigit kulit pucat pemuda itu, selagi dia berusaha mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya.

Begitu banyak bekas luka sekarang ada di permukaan kulitnya. Bekas sabetan benda tajam, tentunya. Dan hal itu membuat Baekhyun menyernyit bingung. Jemarinya bergerak menyentuh bekas luka tersebut, mendapati luka dalam sepanjang dada dan lehernya, bahkan di bawah rahangnya pun ada.

“Apa yang terjadi padaku?” Baekhyun baru saja bertanya pada dirinya sendiri begitu pendengarannya menangkap suara mendekati tempatnya—entah sejak kapan—terbaring.

Samar, didengarnya suara langkah ringan seorang perempuan mendekat, tapi keadaan kelewat gelap di sekitarnya membuat Baekhyun kesulitan mengenali siapa gerangan yang tengah mendatanginya.

Kemudian, dia dengar suara helaan nafas terkejut dari vokal ringan seorang perempuan. Tapi Baekhyun tidak ingat dengan baik siapa pemilik suara itu. Hal yang dia kenali hanyalah teriakan bernada tinggi milik perempuan tersebut:

“Baekhyun! Kau masih hidup!?”

“Seungwan!” seru Baekhyun, tentu dia mengenali dengan baik siapa si gadis yang sekarang mengajaknya bicara.

Dia hanya tidak bisa mengenali tempat ia sekarang terbaring.

“Apa yang terjadi padaku?” tanya Baekhyun, tapi belum sempat pemuda itu mendapatkan jawaban, dia sudah lebih dulu disambut pelukan erat dari Seungwan, juga tangisan si gadis yang segera memenuhi rungu Baekhyun.

Sungguh, Baekhyun tidak ingat apa yang telah terjadi padanya. Atau apa yang sekarang menjadi alasan tangisan Seungwan. Terakhir kali, dia ingat dia sudah mengujicobakan rencanya bersama Sehun.

“Seungwan, katakan. Apa yang terjadi padaku?” tanya Baekhyun lagi, meski dia akui dia sungguh rindu pada Seungwan—rindu tanpa alasan tentu saja karena entah mengapa, Baekhyun yakin dia hanya terlelap selama beberapa saat saja—tapi mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang ada dalam benaknya sekarang jauh lebih penting bagi Baekhyun.

“Kau baru saja terbangun dari tidur panjang, Baekhyun.”

“A—Apa? Apa maksudmu?” tanya Baekhyun makin tidak mengerti.

“WorldWare menelanmu. Membuatmu tertidur selama empat tahun lamanya. Dugaanku benar, kau terbangun karena game over di dalam WorldWare. Tapi… Liv masih terjebak di dalam WorldWare, Baekhyun.”

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Pertama-tama, biarlah aku minta maaf dahulu atas keterlambatan publish level 39 ini. Bukan, kali ini bukan alasan karena aku mau liburan atau mau tahun baruan, tapi alasan kali ini agaknya cukup manusiawi buat jadi alasan terlambat publishnya seorang author.

Well, aku lagi kesusahan. Nenek aku meninggal beberapa hari yang lalu, jadi dengan berat hati aku harus meninggalkan rutinitas dunia maya ini dan pulang kampung setelah bertahun-tahun enggak pulang kampung.

Otomatis aku enggak ada waktu untuk sekedar ngedit-edit draft, apalagi publish terjadwal. Ada sinyal handphone aja syukur alhamdulillah. Dan juga, berhubung aku masih dalam suasana duka jadi aku enggak bisa banyak berceloteh dulu, dan enggak bisa ngebuat hadiah apapun dalam rangka tahun baru.

Moodku masih begitu hancur, keinginan buat ngetik juga kayaknya tertinggal di pulau seberang. Hikseu. Mohon dimaklumi ya. Sekian dulu dariku, sampai bertemu di level 40. Salam hangat, Irish.

Ps: Selamat Tahun Baru 2018, semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik lagi di tahun 2018 ini. Mari kita sama-sama membuat resolusi untuk diri sendiri, bukannya nanyain mantan tentang resolusi 2018 mereka. Buat yang masih susah move on, yuk mari 2018 jangan diawali dengan gagal move on, masih ada 12 bulan menunggu.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

32 tanggapan untuk “GAME OVER – Lv. 39 [Ripped Memories] — IRISH”

  1. Waaw, mantaap…
    Lengkap sudah puzzle nya, knapa bisa jiho yg ditawari buat masuk tim delta. But, seingetku kok johnny ya yg ngerekrut jiho? Atau nda? Hahah itu level belasan kalo ga salah ya. Sudah lama sekali.
    Btw kak rish, yg dialog antara jaehyun sama taeil waktu mau ngerekrut orang jadi tim mereka kok kyknya kurang pas ya? Aku mikirnya emang mereka mau ngerekrut 8 orang, tapi jaehyun bilang intinya bukankah kita harus ngerekrut 8 orang saja? Nah saja di sini yg menurutku agak kurang pas. Mohon dicermati lagi kak rish, semoga saya ga salah tangkap apa mksdnya.

  2. Liv didalem WW? Dia jadi sapa disana? Ga pernah dibahas
    Selamtin liv dong baek
    Baek lupa ya? Yaah cintanya ke jiho juga lupa dong :”

  3. Turut berduka cita kak
    /sorrybaru ngucapin

    Jdi slama ini liv di dlm worldware juga? Kok aku ga ngeh? Apa emg liv engga dimunculin di lv” sblmnya?
    Ok maafkan daku pertanyaan byk bgt/plak

  4. Turut berduka cita ya ka Rish atas perginya neneknya ka Rish yg pastinya ka Irish cintai banget :”)

    demi apapun, jadi tertarik buat kepoin si Liv ini.. Siapa sebenarnya Liv ini? Bener” kepo ini tentang dia beneran dah xD jadi tebak”an ngasal ini lamalama~

    sampe ketemu di ch berikutnya.. yaudah di update juga dan blm dibaca xD otw baca kok ❤

  5. Ikut berbelasungkawa kak.. Farewell is not the end of life. But the first step how strongly we survive without them.

    Okey lah okey lah… mas taetae ku blum muncul.. T_T

    Apapun keep writing ya kk yy..

  6. turut berduka cita kak irish 😥

    lanjut kak.sumpah aku kangen moment baekho T_T serasa galo aja gak ada mereka.gak masalah satu lv lagi nanti di perjelas semuanya,makasih kak irish udah up FF yang berkualitas kayak gini 🙂
    dan btw aku masih nunggu kelanjutan FF one and only loh kak hehe gimana kabar bakkery dkk ? udah lama gak di up wkwk ku tunggu kak ku tunggu pokoknya kak irish semangat kerja plus ngetik FF nya pula 😀

  7. Turut berduka cita Rish…

    Hahaha senangnya baekhyun udah sadar, tpi dia game over waktu kapan ya,, aku lupa..😅 Taeil, jaehyun… Aaaaa aku suka peran mereka di sni,, love buat couple Tae-jae… Knpa taeil sma jaehyun gak kerja sma aja, kan seru tuh,jadi taei-jaehyun punya banyak sekutu….😂😂
    Gimna lagi nih rencana baekhyun, setelah mengetahui worldwere punya masalah dengan luka fisik nyata yg di dptkan di game… Dan buat liv, jgn bilang Rish, klau dia nanti jadi NPC….😂😂😂

    Hwaiting Rish😇

  8. Turut berduka cita kak irish.

    Wah, jd Taeil sama Jaehyun mau benerin apa yg udh mereka perbuat di Worldware. Dan Liv kejebak juga di Worldware.
    Assiikk akhirnya lv 40 kembali ke masa sekarang. Ga sabar tunggu lanjutannya 😆.

    Semangat teru buat kak Irish 💪

  9. Iam sorry to hear that kak. Semoga nenek kak Irish mendapat tempat terbaik disisi-Nya. Aamiin

    Jadiii… liv masih ketinggal di game. Terus dia jadi siapa kak. Maksutnya ID game nya. Apa jangan2 dia jadi villain yg jagain tempat buat nikah para player? 😆😆😆😆

  10. Turut berduka cita kak, semoga amal ibadah beliau diterima di sisi-Nya…
    Terima kasih banget udah sempet ngepost ini ff meski mood kak irish down.

    Hm, penasaran gimana caranya Baekhyun nemuin Liv yg ngilang entah kemana? Apa Liv jadi player atau udah menyatu dalam sistemnya worldware kah? Nggak sabar baca lanjutannya ^-^

  11. Sebelumnya turut berduka cita kak. Yg tabah ya.

    Kalau saja Invisible Black dipindah ke sebuah inang, dia pasti jadi benar-benar serupa dengan manusia. Terutama dalam hal paling inti yang membedakan manusia dengan ciptaan berteknologi tinggi lainnya: memiliki perasaan.” itu Artinya invisible blck bisa hidup kembali kaya liv donk. 😊😊 asiikkk Gx sabar nunggu kelanjutanya.

  12. innalillahi wainnailaihi rojiun, turut berduka ya kak, semoga amal ibadah nya di terima Allah,
    jadi baekhyun udah terbngun y? berarti kita tinggal nunggu rencana baekhyun selanjutnya buat nyelamatin liv, uhhh penasaran beut euyy

  13. irish..aku turut berduka cita ya..smg nenek kamu diampuni semua dosanya dan diterima disisi Tuhan ,,amin..
    aku gak mau banyak nanya berhubung kamu masih dalam masa bekabung..
    aku bakal simpen pertanyaanku buat level 40 aja ya..
    kehilangan sanak saudara itu memang berat banget..tapi kuharap kamu dan keluarga kamu diberi ketabahan..
    fighting ya..

  14. Aku turut berduka cita, kak. Semoga amal ibadah beliau diterima disisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan(Amiiin).
    Ada banyak banget pertanyaan di otakku ini, kak. Liv jadi karakter apa ya di WorldWare? Trus gimana nasipnya Hongjoo?

  15. Daku turut berduka kak rish. Semoga diterima disisi Allah SWT.
    .
    .
    What?? Baekhyun ga ingat apa-apa selama di game? Ga ingat JIHO dong 😭 n Invisible Black udah bener2​ hilang dari game kah?? Kalo gitu jiho sama siapa??

  16. Waktu liv sama sehun ngomong tentang kemungkinan kemungkinan tentang inang itu aku malah melongo ngebayangin gmn jadinya kalau hal itu bisa nyata woaahh,,, baca level ini tuh makin menguatkan opini aku kalau cerita ini itu ibaratkan perumahan tapi perumahan nya itu banyak banget gang kecil sempit panjang pendek tapi ujungnya ke situ situ juga 😵

    Turut berduka thor,, semoga amal ibadah neneknya di terima di sisi tuhan dan di tempatkan di tempat yg sebaik baik nya

  17. Turut berduka cita kak Irish.. semoga kakak sekeluarga tetap diberi ketabahan..
    Gomawo juga udah mau update Game Over..
    Happy New Year..

  18. Kalo Liv ikut masuk k dlm worldware dia akn jd siapa y kira”, dan saat Liv tiba” masuk k dalm worldware apa dia jg pny tubuh yg dia tnggalkan kyk Baek. Trus gmn kelanjutan peserta” yg msih kejebak d dlm worldware itu sndiri.. Kepooo ane…

  19. Turut berduka cita ka irish
    Semangat terus kak irish, makasih juga sudah menyempatkan waktu untuk updste ditengah keadaan sedang berduka

    Woaaaah jadi liv kejebak juga
    Daan akhirnya balik lagi ke present time

    Ku tunggu kejutan di level 40 hehehe

  20. Turut berduka cita kak irish, semoga beliau diterima disisiNya. (Amin)
    Tetap semangat kak irish

    Jdi taeil jaehyun ada di pihak baekhyun.. Mantap dong…
    Baek lupa semua dengan terjdi selama 4 thn, brarti dia ga ingat hongjoo dong, yahhhh.
    Trus sunghwan dengan jhonny uda gimana? Masih berteman kah. Heheh
    Trus liv ga mati kan?
    Moga-moga sdikit-sdikit baek bisa ingat hongjoo.

  21. Irish….km apdet dengan berita duka…hatiku terbagi antara senang km apdet n sedih nenek km meninggal…innalillahiwainnalillahirojiun…smoga amal ibadah beliau dtrima n dlapangkan kuburny..amin…
    Awalny mw sorak2 bergembira krna km apdet..tp pas baca fingernotesmu jdi sedih mendayu2…
    Happy new year…:)
    Irish fighting!!!!!

  22. Turut berduka kak Irish, semoga beliau diterima di sisi-Nya.
    Stay strong kak Irish! Terima kasih sudah sempat2in post cerita ini utk mengurangi rasa kangen kami -pembaca- terhadap Baekhyun Jiho.
    Dan juga selamat tahun baru kak Irish! Semoga thn 2018 ini membawa berkah bagi kak Irish dan keluarga.. God bless kak Irish!
    Semangat kak!! ♡♡

Tinggalkan Balasan ke Kleine Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s